Tags

,

nan-baboraseo1
Manusia itu bodoh…

Apakah itu benar?? Lalu bagaimana dengan diriku??

Kurasa aku adalah salah satunya. Apa yang bisa kau harapakan dari hal yang tidak mungkin nyata?? Dan hingga kini aku terus memikirkan hal itu.

Sendiri adalah hal biasa yang sudah menemaniku sejak dulu. Namun saat ini, aku sadar bahwa aku tidak sendiri lagi… Kenangan tentangnya akan selalu bersamaku. Mengikatku…

Salju pertama di tahun ini… turun perlahan, melayang-layang bagai kapas… ringan, dingin namun mudah hancur, sangat rapuh… Dan menurutnya itu adalah aku…

————-

“YAA pabo!! Irona!!” suara itu benar-benar merusak mimpi indahku. Walaupun suara itu sangat merdu jika sedang menyanyikan sebuah lagu tapi saat ini aku tidak ingin mendengarnya. Kurapatkan selimut dan bergelung nyaman di tempat tidur hangatku.

“Kim Yoon Hye ssi, aku tidak punya waktu untuk membangunkanmu!!”

Tidak kuperdulikan suara itu dan masih memejamkan mataku.

“Baiklah, jangan salahkan aku jika fotomu yang sedang tidur akan terpampang di mading sekolah kita nanti!!”

Seketika mataku langsung terbelak “Ige mwoya??” seruku langsung duduk, membuat kepalaku pusing. Aku mengerang pelan.

“Kau benar-benar bodoh!!” tawanya pelan.

Aku mengerucutkan bibirku sambil menatapnya kesal. Ia menghampiriku lalu berlutut di depan tempat tidurku. Tangannya memeluk pinggangku “Beri aku satu ciuman dan aku akan memaafkanmu,”

“Apa aku melakukan kesalahan??” tanyaku bingung.

Tuuuk…

“Aaww…” aku mengusap-ngusap keningku yang baru saja dijitaknya.

“Kesalahanmu pagi ini, kau terlambat memberikanku morning kiss,”

Aku semakin mengerucutkan bibirku kesal “Kau menyebalkan Cho Kyuhyun!!”

Chuu~
ia mengecup bibirku kilat, membuatku tercengang berapa saat.

“Cepatlah membuat sarapan, dan singkirkan wajah tololmu itu, hahahha…” ia tertawa setan dan saat aku sadar, ia sudah menutup pintu kamarku.

Namaku Kim Yoon Hye. Aku baru berumur 17 tahun dan masih duduk di bangku kelas dua senior highschool. Dan dia adalah Cho Kyuhyun. Usianya sama denganku tapi lebih dulu dia. Dia lahir bulan februari dan aku september.Apakah ia kekasihku? Aku tidak tau. Aku tidak ingat ia pernah mengatakan bahwa aku adalah kekasihnya.

Saat itu, aku mengalami kecelakaan bersama orang tuaku. Dua tahun yang lalu. Kedua orang tuaku meninggal saat itu dan aku tidak tau harus berbuat apa. Tidak ada saudara yang kukenal. Yang bisa kulakukan hanya menangis dan memeluk lututku di koridor rumah sakit itu.

Lalu, tiba-tiba saja ada seorang anak laki-laki yang datang kepadaku. Berdiri dihapanku sambil mengulurkan tangannya “Tinggalah bersamaku,” ucapnya saat itu. Anak laki-laki itu adalah Cho Kyuhyun.

Orang tua Kyuhyun tinggal di amerika. Ia tinggal di sini bersama kakeknya. Namun beberapa bulan sebelum Kyuhyun bertemu denganku, kakeknya meninggal. Ia tidak mau pindah ke Amerika, itu sebabnya ia tinggal sendiri di sini. Tapi aku benar-benar kagum padanya. Ia sudah mampu hidup mandiri walaupun dengan menggunakan uang dari kiriman orang tuanya.

Awalnya aku takut akan tinggal bersamanya. Tapi lama kelamaan mulai terbiasa. Dan entah sejak kapan, tanpa ada ucapan cinta, tanpa ada ucapan untuk menjadi miliknya, aku sudah terikat dalam hidupnya.

“Kyuhyun ah, kita akan terlambat,” kataku panik.

“Ini semua gara-gara kau bodoh!! Apa yang kau lamunkan tadi pagi??” ucapnya dengan nafas tersegal karena sedang mengayuh sepeda secepatnya.

“Mianhae…” desahku pelan. Aku tau itu salahku.

Tiba-tiba sepeda kami berhenti. Aku menatapnya bingung. Ia turun dari sepeda dan menghampiri kedai roti bakar.

“Makanlah!” katanya sambil menyerahkan sebungkus roti bakar kepadaku “Ayo cepat!!” katanya saat aku hanya diam.

Kuraih roti itu dari tangannya lalu ia kembali menaiki sepeda kami. “bagaimana denganmu??” tanyaku.

“Aku tidak apa-apa, makanlah!” katanya sambil mengayuh sepeda “Kau harus sarapan, perutmu tidak boleh kosong, nanti kau sakit,”

Dia menyebalkan, namun sangat baik. Dia seperti iblis sekaligus malaikatku. Meskipun sering memarahiku tapi dia tidak pernah membiarkanku sakit dan tidak pernah membiarkanku kesulitan.

“Baiklah anak-anak, kalian sudah mengerjakan PR bukan?? Kita akan membahasnya sekarang!!” kata Jung Seongsaengnim “Kim Yoon Hye ssi, bisakah kau mengerjakan nomor satu di depan??”

Aku yang sedang mengaduk-aduk tasku tersentak dan menatap terkejut. Aku belum menemukan buku PR-ku. Aku sudah mengerjakannya semalam, tapi kenapa tidak ada di tas?? Di mana dia??

“Yoon Hye ssi, kau belum mengerjakan PR??”

“Aku yakin sudah memasukkannya ke dalam tas Seongsaengnim,” jawabku dengan suara bergetar. Aku menoleh ke arah Kyuhyun dan ia hanya menatapku dengan alis terangkat. Aku tau dia tidak akan bisa menolong.

“Majulah dan berdiri di depan kelas, ingat untuk tidak mengulanginya lagi Yoon Hye ssi!!”

Dengan berat hati aku melangkah ke depan kelas dan berdiri di sudutnya. Air mataku sudah mengambang. Ini benar-benar memalukan. Kutatap kyuhyun yang duduk di bangkunya.

“Pabo!!” katanya tanpa suara ke padaku, semakin membuatku kesal.

“Mianhamnida Jung Seongsaengnim, buku PR Yoon Hye ssi ada di saya,” kata Kyuhyun tiba-tiba “saya menemukannya di koridor tadi, mungkin terjatuh.”

“Benarkah?? Baiklah, Yoon Hye ssi, ambilah bukumu dan kerjakan nomor satu,”

Aku membungkuk pelan lalu berjalan ke arah Kyuhyun dengan tatapan kesal. Dia mengerjaiku rupanya. Kusambar buku ditangannya tanpa mengucapkan apapun dan aku bersumpah melihat senyum setannya tadi.

Seisi sekolah tidak ada yang tau jika kami tinggal bersama. Kami juga tidak akrab dengan siapapun. Kami seperti memiliki dunia sendiri padahal aku tau, dia termasuk siswa populer. Banyak gadis yang menyukainya tapi harus mengurungkan niatnya karena mungkin ada aku di sebelahnya.

“Yoon Hye ssi, apa kyuhyun oppa pacarmu?? Kenapa kalian terlihat selalu bersama??”

“Benar, jika dia bukan kekasihmu tolong katakan pada kami. Kami juga ingin punya kesempatan untuk jadi kekasihnya,”

“Kau tidak boleh egois, jika kau sahabatnya kau tidak boleh menahannya,”

Aku menatap gadis-gadis ini tidak mengerti. Aku tidak tau harus menjawab apa. Dia tidak pernah mengatakan bahwa aku kekasihnya. Kami hanya merasa nyaman hidup bersama.

“Kalian menyukainya? Mmm… Kenapa tidak bilang saja kepadanya??”

“Dia tidak pernah melihat kami sedikitpun…” keluh salah satu seorang gadis.

“Apa kau tidak keberatan jika dia dekat dengan gadis lain??”

Aku memiringkan kepalaku berfikir. Rasanya aku tidak suka dengan hal itu tapi… jika kyuhyun ingin melakukan itu apa aku bisa melarangnya?? “Kalau dia mau… mungkin… aku tidak masalah,”

“YAA!!”

Teriakan itu mengagetkanku. Aku terkejut saat kyuhyun tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapanku dan… Pletak…

“Aaawww…” aku meringis kesakitan sambil mengusap keningku “Kenapa menjitakku??” bentakku.

“Aku sudah menunggumu lama dan ternyata kau malah asyik di sini, setidaknya beritahu aku supaya aku bisa pulang dan tidur!! Bukan membuang-buang waktu seperti ini!!”

“Yaa Jelek!! Mereka ini menyukaimu, kau tidak ingin berkenalan dulu??” tanyaku.

Pletak..

“YAA!!” kali ini aku memekik sambil melotot kepadanya. Tapi langsung menciut saat melihat kilatan marah di matanya.

Kyuhyun menatap gadis-gadis yang langsung tersenyum manis itu dengan malas “Maaf kami harus pergi,” katanya datar lalu menarik tanganku kasar.

Aku mengerucutkan bibir kesal dengan melipat tangan di dada sambil menyandarkan punggungku di sebuah pohon besar di pinggir danau. Sedangkan dia, dia sedang tidur di pahaku sambil memainkan belahan jiwanya itu. Pspnya!!

“Kukira tadi ada yang ingin pulang dan tidur!! Tapi malah bermeditasi di tempat ini. oh maaf, yang bermeditasi itu hanya aku,” sindirku sambil menatap danau.Ini adalah tempat favorite kami. Biasanya kami selalu kemari bila ingin menyendiri.

Ia menghentikan permainannya lalu memasukkan benda itu ke dalam saku kemeja putih sekolahnya. Ia tertawa kecil melihatku.

“Aku sedang menghukummu!!” katanya sambil beranjak bangun.

“Apa salahku??” sautku kesal.

“Dasar bodoh!! Kau banyak melakukan kesalahan hari ini!!”

Aku menyipitkan mata menatapnya “Seingatku kau yang mengerjaiku tadi Tuan Evil Cho!!”

Dia tertawa pelan lalu mengecup bibirku. Membuatku mematung setiap kali ia melakukannya.

“Ini karena kau hampir membuat kita terlambat tadi pagi,” bisiknya lalu mengecupku lagi “Ini karena gara-gara kau- aku tidak sempat sarapan,” ia mengecupku sekali lagi “Ini untuk keteledoranmu tadi, jangan sampai kau mengulanginya,” dan lagi “Ini karena kau bilang memperbolehkanku bersama gadis lain,” dan lagi “Ini karena kau mau mengenalkanku pada gadis lain,”

Astaga… rohku sepertinya sudah melayang jauh. Apakah jantungku masih berdetak??

“Apa aku perlu melemparmu ke danau untuk menyadarkanmu??” bisiknya di telingaku.

Aku mengerjap pelan. Sekali, dua kali lalu tersentak “kau ingin membunuhku huh??”

Ia tertawa renyah. Tawa yang hanya bisa kulihat. Tawa yang muncul saat bersamaku. Dan tawa yang keluar hanya karena aku.

“Berikan aku satu ciuman dan aku akan memaafkanmu,”

“Yaa, kau sudah menciumku berkali-kali tadi,”

“Itu aku, bukan kau!!”

Aku memutar bola mataku lalu medekat ke arahnya sambil menenangkan detak jantungku lalu mengecup bibirnya. Memangutnya sedikit lama lalu melepasnya. Dan ia tersenyum lembut sambil mengacak-acak rambutku. “Gadisku yang bodoh,” bisiknya.

Aku sudah terbiasa melakukan hal itu. Begitu juga dirinya. Setiap membuat kesalahan, ciuman menjadi penebusnya. Hanya kecupan, bukan ciuman liar penuh nafsu.

“Tapi Kyu… Kenapa kau marah saat aku bilang gadis-gadis itu ingin mengenalmu??” tanyaku sambil menyenderkan kepala ke bahunya.

“Aku marah karena kau tidak marah,”

“Mwo??” aku mengerutkan keningku bingung “Kenapa aku harus marah? Bukankah aku… Aku bukan kekasihmu?” tanyaku pelan.

“Kau memang bodoh, lalu kau pikir kita ini apa?”

“Kita hanya tinggal bersama dan aku merasa nyaman, tapi kau tidak pernah mengatakan kalau aku kekasihmu,”

“Kau kekasihku!! Apa aku harus mengulanginya?!” tanyanya dingin.

Aku menjadi gugup saat menatapnya. Tatapan mata itu sangat tajam. Baru kali ini aku melihatnya. Kutundukkan kepalaku menatap ujung rokku.

“Apakah ada hal lain yang harus kuucapkan lagi??” tanyanya kembali.

Aku menggeleng pelan masih menundukkan kepala. Kalau ini pernyataan cinta, apakah ada yang seperti ini??

“Angkat wajahmu dan lihat aku Yoon ah,”

Dengan gugup aku mengangkat wajahku, tapi tidak berani menatapnya.

“Kau milikku dan aku milikmu! Kau harus marah jika aku dekat dengan gadis lain dan aku juga akan marah jika kau dekat dengan laki-laki lain, araseo??”

Aku mengangguk pelan.

“Berikan aku satu ciuman lagi dan aku akan memaafkanmu,”

Aku menatapnya lalu tersenyum. Kuraih wajahnya yang halus lalu kukecup bibirnya lagi. Tapi tangannya menahan tengkukku dan bibirnya membalas kecupanku yang akhirnya berubah menjadi lumatan-lumatan lembut. My frenchkiss for the first…

——————–

Aku tidak pernah waktu berjalan secepat ini. ketika aku berada di sisinya, waktu seolah-olah terabaikan. Dan berjalan sangat lambat bila ia tidak ada di sisiku. Seperti saat ini. aku sedang memindah chanel tv berkali-kali dengan bosan. Kyuhyun sedang pergi meminjam kaset game pada Changmin, temannya di lain kelas. Dan aku berani bertaruh, dia pasti sudah asyik bermain di sana. Setan itu terkadang lupa daratan jika sudah bertemu dengan game.

Aku ingin menelphonenya tapi sudahlah, dia juga perlu bermain dengan temannya. Akhirnya aku mematikan tv itu kemudian beranjak menuju kamar Kyuhyun. Kamar itu tertata rapi dan minimalis. Berbeda dengan kamarku yang dipenuhi boneka dan warna-warni. Aku memang suka menempel sesuatu di dinding. Entah itu aksesoris ataupun foto-foto.

Aku naik ke atas tempat tidurnya dan menarik selimut. Kupejamkan mataku dan menghirup aromanya yang melekat di tempat tidurnya. Wangi yang kusuka. Seperti bunga lavender yang

bercampur dengan aroma air hujan. Aroma yang lembut.

Aku bergerak pelan dalam tidurku. Gelap… Masih kucium aroma kyuhyun, itu artinya aku masih berada di kamarnya. Tapi kali ini aroma itu lebih kuat. Dan selimutku lebih hangat. Tunggu dulu… Aku mendengar suara nafas seseorang. Dan baru kusadari, ada yang memelukku dari belakang.

“Kenapa bangun??” bisiknya di dekat telingaku.

“Kenapa tidak memindahkanku?” tanyaku balik. Biasanya Kyuhyun akan memindahkanku ke kamarku sendiri jika aku tertidur di kamarnya atau di sofa.

Ia mempererat pelukannya “Biarkan begini…”

“Ada apa?” tanyaku pelan. Tidak biasanya ia begini.

“Yoon…”

“Mmm?”

“Aku akan pergi ke Amerika,”

“Mwo??”

“Hanya tiga hari!!”

Kata-kata itu menenangkanku. Kupikir ia akan pindah ke sana dan meninggalkanku “Ada apa?” tanyaku lagi.

“Eomma menyuruhku mengunjungi mereka, aku tidak akan lama…”

“Pergilah…”

“Kau tidak apa-apa?”

“Gwenchanae… lagipula sudah lama kau tidak bertemu dengan orang tuamu, kapan kau berangkat??”

“Tadi aku sudah meminta ijin pada seongsaengnim, besok aku akan berangkat,”

“Besok??” tanyaku sedikit terkejut.

“Kupikir akan lebih baik memberitahukanmu tiba-tiba. Jadi kau tidak perlu memikirkan hal ini,”

“Mm, baiklah…”

“Mianhae,”

Aku berbalik dan menatap sosoknya dalam gelap “Kalau begitu berikan aku satu ciuman dan aku akan memaafkanmu,”

Ia tersenyum lalu memangut bibirku lembut, sedikit lama.

“Yoon…”

“Mm?”

“Bisakah kau berjanji padaku?”

“Apa?”

“Jika nanti aku menyakitimu, jangan keluarkan air matamu untukku. Aku tidak pantas mendapatkannya,”

“Kau ingin menyakitiku??”

“Tentu saja tidak… Tapi ada saatnya dimana nanti aku akan berbuat salah dan menyakitimu. Jika kubilang karena aku hanya manusia biasa apa kau mengerti??”

“Aku mengerti…”

“Sekarang tidurlah…” bisiknya pelan.

Aku berbalik lagi dan dia mendekapku dari belakang. Membenamkan wajahnya ke dalam leherku. Rasanya hangat… Ini pertama kalinya aku tidur berdua dengannya…

“Kau tidak perlu mengantarku ke bandara. Aku tidak ingin melihatmu menangis di sana!!”

“Yaa!!” aku yang sedang menyiapkan sarapannya berteriak kesal “Aku harus ke sekolah, apa kau lupa itu??”

“Naiklah bus, aku tidak ingin kau jatuh saat naik sepeda,”

“Ne,” jawabku sambil meletakkan semangkok Jjajangmyeon di depannya.

Setelah makan, ia mengantarku pergi ke halte bus “Baiklah, kau pulanglah. Telp aku jika sudah sampai,”

“Mmm,” ia mengangguk pelan “Jaga dirimu untukku, berjanjilah,”

“Ini hanya tiga hari Tuan Cho,”

“Aku tidak perduli, kau harus berjanji untuk menjaga diri!!”

“Baiklah, aku berjanji!!”

Ia tersenyum lalu mengecup bibirku kilat “Saranghae…” bisiknya.

Aku terpana menatapnya. Ini pertama kalinya kata-kata itu terucap dari bibirnya untukku.

“Busnya sudah datang bodoh!!” tawanya sambil berjalan pergi.

Aku mengerjap pelan lalu cepat-cepat naik ke dalam bus. Kukeluarkan ponselku lalu mengetik sebuah pesan.

‘Nado saranghae…’

Send to Kyuhyun. Delievered.

Saat aku pulang dari sekolah, rumah terlihat sepi. Tentu saja, mungkin dia sudah terbang jauh ke sana. Aku masuk ke dalam kamarnya dan menemukan ponselnya. Dasar bodoh. Dia lupa membawa ponselnya. Aku menjatuhkan diriku di ranjangnya sambil melihat-lihat ponselnya.

Aku tersenyum saat melihat foto kami saat natal tahun kemarin menjadi layar wallpapernya. Saat itu salju sedang turun dan baginya aku seperti sebutir salju. Indah, namun mudah hancur. Karena itu ia akan selalu menjagaku agar aku tidak hancur. Kubuka kontak teleponnya dan hanya mendapati tiga nomor. Nomer ke dua orang tuanya dan nomorku. Saat ku buka inboxnya, isinya hanya pesan dariku. Bahkan pesan dari tahun kemarin belum ia hapus. Aku memeluk bantalnya lalu memejamkan mata. Menghirup lagi aromanya.

Aku terbangun saat hari sudah gelap. Kunyalakan semua lampu rumah lalu membuat semangkok ramyeon. Setelah makan, aku membuat segelas capucino lalu membawanya ke ruang tengah. Kuambil remot lalu kunyalakan tv.

“…kecelakaan pesawat di duga karena ada kabel yang terbakar. Sampai saat ini korban luka masih di evakuasi. Korban tewas yang dapat di temukan baru enam orang. Berikut adalah daftarnya…”

PRAAANG…

Gelas yang kupegang jatuh begitu saja. Mataku terpaku pada layar tv itu di mana nama Kyuhyun ada diurutan ke enam. Dan duniaku menggelap seketika.

—————-

Sendiri. Kata itu benar-benar ku alami kini. Perasaan kosong dan hampa. Aku tidak tau apa yang terjadi belakangan ini. aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Saat air mataku mengalir, tidak ada lagi orang yang mengataiku bodoh. Aku salah… dia tidak pergi untuk beberapa hari, tapi untuk selamanya. Dia tidak akan pernah memberiku kabar ketika sudah sampai di sana. Lalu mendadak semua yang kulakukan bersamanya menjadi saat yang terakhir.

‘Saranghae…’ kalimat itu adalah kalimat termanis sekaligus kalimat terakhir untukku. Dan aku tidak pernah punya kesempatan untuk membalas kata-katanya secara langsung. Tidak pernah…

‘Yoon ah, ayo cepat bangun!! Aku tidak punya waktu untuk membangunkanmu, aku tidak bisa membangunkanmu lagi kini!! Kau bisa terlambat, ayo bangun!!’

Aku tersentak dan langsung terbangun dalam tidurku. Kutatap ruangan itu. kamarnya masih sama. Aku termangu sesaat dengan air mata mengambang. Kutatap seragamnya yang sedang tergantung rapi di handle lemari. Sudah seminggu lebih sejak kejadian itu. dan aku belum masuk sekolah sama sekali.Aku turun dari ranjangnya dan melangkah menuju kamar mandi. Sudah saatnya aku kembali ke sekolah.

‘Kau harus sarapan!! Perutmu tidak boleh kosong, nanti kau sakit…’

Langkahku berhenti mendadak saat melewati dapur. Suara itu sehalus bisikan angin. Aku menatap sekelilingku yang kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana. Lalu kubelokkan kakiku menuju dapur dan membuat jajjangmyeon.

Kutatap semangkok jajjangmyeon di depanku. Makanan favoritenya. Ah bukan, apapun yang kumasak akan menjadi makanan favoritenya karena baginya yang terpenting adalah aku yang membuatnya. Aku mengerjap pelan. Menahan air mataku agar tidak jatuh lalu mulai memakan makanan itu meskipun saat ini, tidak ada rasanya bagiku.

‘Naiklah bus, aku tidak ingin kau jatuh saat naik sepeda,’

Aku termangu menatap sepeda itu. dia tidak pernah mengijinkanku naik sepeda sendirian tanpanya. Kuhampiri sepeda itu lalu kuambil. “Kau tidak menepati janjimu untuk kembali Kyuhyun ah, jadi untuk apa aku menepati janjiku?” bisikku dengan suara bergetar.

Kukayuh benda itu secepatnya. Saat angin berhembus menerpa wajahku, saat itu juga aku sadar bahwa kini aku sendiri.

‘Fokus Yoon ah, jangan menangis! lihat ke depan, jangan sampai jatuh…’

Lagi-lagi bisikan itu sepelan angin. Aku mencoba mengabaikannya. Aku tau dia tidak akan pernah kembali. Dia sudah pergi.

“Yoon Hye ssi,”

Seseorang memanggilku saat aku berjalan menuju kelasku. Kulihat ia sedang berlari menghampiriku. Lee Hyuk Jae.

“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya cemas.

Aku mengangguk pelan.

“Beberapa hari ini aku mencarimu,” katanya sambil menggosok tengkuknya “Mm… nanti, bolehkah aku mengantarmu pulang??”

‘kau milikku dan aku milikmu! Kau harus marah jika aku dekat dengan gadis lain dan aku juga akan marah jika kau dekat dengan laki-laki lain…’

Aku mematung mendengar suara bisikan itu.Hidungku terasa perih lagi. Kukerjapkan mataku pelan “Maaf Hyuk Jae ssi, aku sudah punya kekasih,” jawabku pelan kemudian berlalu tanpa membiarkannya berbicara lagi.

“Yoon Hye ssi, kau tidak mengerjakan PR??”

Aku menatap Seongsaengnim bingung. Aku tidak tau kalau ada PR, seminggu lebih aku tidak masuk sekolah.

“Majulah ke depan dan berdiri di sana,”

Aku menoleh ke arah Kyuhyun tapi kosong… Bangku itu terlihat kosong. Air mataku mengambang lagi. tidak akan ada yang membantuku lagi.  Aku beranjak dari dudukku lalu berdiri di sudut kelas. Kutatap bangku itu dan melihatnya ada di sana.

“Pabo!!” katanya tanpa suara dan air mataku jatuh begitu saja tanpa bisa kutahan lagi.

Aku terisak hebat tidak perduli ini di mana. Kenapa dia pergi meninggalkanku??

‘jika nanti aku menyakitimu, jangan keluarkan air matamu untukku. Aku tidak pantas mendapatkannya. Jaga dirimu untukku, berjanjilah…’

“Bagaimana bisa aku tidak menangis??” isakku dengan suara bergetar “Bagaimana bisa Cho Kyuhyun?? Kau benar-benar bodoh, dengan apa kau bisa menebus kesalahanmu? Seribu ciumanmu pun tidak akan pernah bisa menebusnya…” air mataku terus berjatuhan dan lagi-lagi aku sadar, dia sudah pergi…

———————

 

Aku menghapus air mataku di pipi. Bayangannya, kenangannya, tidak pernah pergi dari hidupku…

Sudah sepuluh tahun berlalu, namun aku masih menganggapmu ada. Apakah aku bodoh? Ya, tentu saja. Karena dia tidak akan memanggilku bodoh jika aku ini pintar. Tapi entah kenapa, aku menyukai kebodohan itu. Aku sadar. Bukan aku yang tidak bisa terlepas darinya, tapi aku yang tidak ingin melepasnya. Aku ingin mendekap sosoknya dan mengikat kenangannya di hidupku selamanya. Kenapa? Karena aku gadisnya yang bodoh…

 

FIN