Tags

, ,

Hye Mi memandang langit dari jendela kamarnya itu dengan diam. Gadis itu tengah termenung saat diingatnya kembali apa yang sudah terjadi. Tiba-tiba kamarnya yang luas itu terasa begitu sempit. Membuatnya sesak.
“Oppa… “ lirihnya pelan.
Setetes air mata jatuh dari kelopak matanya yang indah. Ia masih tidak dapat memahami. Masih tidak tau apa yang harus dilakukannya. Haruskah ia menerima semua ini?

Pagi itu Jung Soo menatap heran saat melihat hye mi bersama keluarganya sedang ada di ruang tamu rumahnya bersama orang tuanya. Mungkin saja mereka sedang berbincang setelah lama tidak bertemu. Tapi mengapa gadis itu juga ada di sana?!
“Oh, Jung Soo ya, kemarilah, ada yang ingin kami bicarakan,” Eomma tersenyum lembut.
Dengan ragu Jung Soo ikut duduk bersama mereka. Ia menatap kedua orang tuanya heran.
“Ada apa Eomma?”
“Sebenarnya sudah lama kami merencanakan ini, aku dan Appa Hye Mi sepakat untuk menjodohkan kalian. Bagaimana??”
Jung Soo menatap ayahnya tidak mengerti “Menjodohkan?”
“Ya, hubunganmu dengan hye mi sangat dekat bukan? Tidak ada salahnya jika kalian bertunangan dulu. Masalah pernikahan kita pikirkan nanti,”
“Maksud Appa, aku dan Hye Mi akan bertunangan?”
“Benar, bagaimana?”
Jung Soo menoleh ke arah Hye Mi. Gadis itu sedang tersenyum manis. Tunggu dulu. Mengapa jadi seperti ini?? tunangan?? Yang benar saja. ini tidak benar. Dan kenapa sepertinya Hye Mi senang dengan rencana ini.
“Appa… “ Jung Soo tidak menuruskan kalimatnya. Ia ragu.
“Jangan khawatir, serahkan semuanya pada para wanita, hahaha… biar mereka yang mengatur, araseo?!”
“Tapi…”
“Oppa waeyo?” tanya Hye Mi pelan.
“Kau tidak bisa menolak Park Jung Soo, lagipula mana mungkin kau menolak gadis secantik Hye Mi,” kata ayahnya disambut tawa yang lainnya.

“Aku tidak menyangka akan menjadi tunanganmu,” Hye Mi tersenyum sambil menikmati jalanan kampus yang teduh.
“Apa kau yakin ingin bertunangan denganku?” tanya Jung Soo tanpa menatap gadis itu.
Hye Mi mendengus pelan “Kau tidak akan bisa menolah Jung Soo ya, cobalah kalau kau bisa,”
“Apa maksudmu Nonna?”
“Haaah… Minggu depan aku sudah akan kembali ke Amerika… Kau tau, aku sebenarnya tidak ingin kembali ke sana. Tapi juga tidak ingin terus di sini…”
Ada yang luput dari perhatian Jung Soo. Laki-laki itu terlalu sibuk dengan pikirannya hingga tidak menyadari wajah sendu Hye Mi.
“Nonna, kau setuju dengan pertunangan ini? Bukankah kau menyukai Heechul Hyung? Ada apa sebenarnya?”
Hye Mi memalingkan wajahnya “Kami sudah putus Jung Soo ya, dia lebih memilih gadis America itu. jadi untuk apa aku mengharapkannya?? Lagipula, ada kau di sini. Kau tidak akan meninggalkanku bukan?”
Jung Soo menelan ludahnya . Ia semakin bingung dengan perasaannya.

Gerimis malam itu membasahi wajah Soo Jin. Gadis itu sedang menengadahkan wajahnya ke atas sambil memejamkan mata menikmati titik-titik air yang jatuh ke wajahnya. Perlahan air matanya mulai mengalir. Ia merasa ada yang hilang saat melepas laki-laki itu. ia tidak ingin tapi ia harus. Ia tidak boleh egois dengan mengikat Jung Soo di sisinya. Sebagian dari dirinya tidak rela, namun sebagian lagi berkata itu adalah yang terbaik untuknya.
Gadis itu menghembuskan nafasnya pelan lalu mulai berjalan lagi. Tiba-tiba ia melihat seseorang yang di kenalnya. Jung In Hoo, teman Jung Soo. Soo jin menghampiri laki-laki itu, tapi dia tidak tau karena posisinya saat ini sedang membelakangi Soo Jin. Ternyata laki-laki itu sedang berbicara dengan telepon.
“Jung Soo ya, apa kau yakin?”
Soo Jin berhenti saat mendengar laki-laki itu menyebut nama Jung Soo. Ia memutuskan untuk mendengarkan meskipun tau ini tidak sopan.
“Lalu bagaimana dengan Soo Jin ssi? Apa dia tau kalau kau akan bertunangan dengan Hye Mi Nonna saat ini?”
Deg… Tubuh Soo Jin membeku. Kenapa ia harus terkejut dengan berita ini?? bukankah ia sudah melepas laki-laki itu? Tapi… Tapi saat mendengar laki-laki itu bertunangan dengan gadis itu secepat ini membuat Soo Jin merasa bahwa ia sama sekali tidak berarti bagi Jung Soo. Ada rasa kecewa yang menghampirinya. Perlahan air matanya menetes. Nafasnya tercekat.
“Kau tidak menolaknya? … Araseo, aku akan segera ke sana!!” In Hoo menutup teleponenya sambil mendesah pelan. Lalu ia berbalik dan terbelak saat melihat Soo Jin ada di sana.
“Soo Jin ssi, ka-kau ada di sini??” tanyanya gugup.
Soo Jin tidak menjawabnya. Gadis itu hanya menatapnya dengan mata basah. Tangannya menekan kuat dadanya. Nafasnya tersegal.
“Soo Jin ssi, apa kau baik-baik saja??” tanya In Hoo cemas.
Soo Jin tidak bisa menjawab. Dadanya terasa sakit. amat sangat sakit. nafasnya tersegal. Perlahan sekelilingnya berubah menjadi gelap.
“YAA Soo Jin ssi!!” In Hoo menangkap tubuh gadis itu sebelum menyentuh tanah. Dengan panik di guncangnya tubuh Soo Jin. Akhirnya di gendongnya gadis itu dan membawanya ke rumah sakit.

Jung Soo menatap pintu gelisah. Mengapa In hoo belum datang juga?? Ada yang ingin di sampaikannya pada temannya itu.
Suara tepuk tangan menyadarkannya. Ia mengerjap pelan dan melihat seseorang yang membawa cincin pertunangannya sudah berdiri di sampingnya. Ia mengambil cincin itu dan menatap Hye Mi ragu. Sejenak ia tertegun melihat gadis itu. Tidak ada senyum manis yang selama ini di perlihatkannya pada Jung Soo. Bahkan ada lingkaran hitam di matanya walaupun tertutup make up. Ada apa dengan gadis itu??
Jung soo meraih jemari Hye Mi dengan ragu. dingin sekali jari-jari gadis itu. ia bersiap memasukkan cincin itu. namun hatinya memberontak. Bukan ini yang dia mau. Bukan…
Dengan cepat di kembalikannya cincin itu pada tempatnya “Mianhae…” ucapnya sambil menatap Appanya lalu berlari pergi.
“YAA PARK JUNGSOO!!” teriak Appanya marah. Semua orang berlari mengejar Jung Soo, tapi langsung berhenti saat ada seseorang laki-laki berdiri di depan rumah Jung Soo dengan nafas tersegal.
Hye Mi tercekat. Air matanya mengalir “Heechul Oppa…” lirihnya. Tanpa sadar kakinya berlari ke arah laki-laki itu lalu memeluknya kuat-kuat dan menumpahkan segalanya.
“Mianhae… Apa aku terlambat?” bisik laki-laki itu.
“Kau hampir terlambat…” isak Hye Mi.
“Mianhae baby… Aku mencoba untuk mengabaikan. Tapi tidak bisa. Kau milikku! Hanya milikku!!”
Hye Mi melepaskan pelukannya. Menghapus air matanya lalu berbalik menatap orang tuanya.
“Eomma, Appa mianhae…  Aku dan Jung Soo sudah memiliki takdir masing-masing. Dan orang inilah yang kupilih untuk menjadi takdirku, mianhae…” ucapnya.
“Saya mencintai putri anda Tuan Kim, tolong jangan membuatnya menangis karena saya tidak akan sanggup melihat air matanya,”
Dan orang tua Hye Mi hanya bisa saling bertatapan.
Sementara itu Jung Soo terus berlari. Ia harus bertemu dengan gadis itu. harus. Ia tidak perduli lagi jika Appanya marah atau mengusirnya. Ia tidak perduli lagi dengan semuanya. Ia harus mengungkapkan sesuatu. Sesuatu yang sekarang sudah di yakininya.
TIIIIIIIINNNNNNN……..
Bunyi klakson itu membuat langkahnya terhenti. Sebuah cahaya menyilaukan menerpanya lalu, ia merasa tubuhnya dihantam begitu kuat. Hal terakhir yang di ingatnya hanyalah bayangan gadis itu, Park Soo Jin…

“Yoon ah, Soo Jin tidak ada di sini??” tanya Eomma Soo Jin yang baru saja pulang dari supermarket.
“Aniyo eomma, dia bilang akan pulang tadi,” jawab Yoon Hye.
Tiba-tiba saja telepone di meja kerja Yoon Hye berdering. Cepat-cepat di angkatnya telepone itu.
“Yeoboseo??… Ne, Lee Yoon Hye imnida,… Mwo? Benarkah?? … ah baik, terima kasih banyak,”
“Ada apa Yoon?”
“Eomma, kita mendapatkan jantung untuk Soo Jin!!”
“Mwoya?? Apakah itu benar??”
“Baru saja rumah sakit yang menelepone!! Besok kita di harus ke sana untuk chek lebih lanjut,”
“Syukurlah…”
Tiba-tiba ponsel Yoon Hye bergetar. Gadis itu cepat-cepat mengambilnya. “Oh, ini Soo Jin,” katanya saat melihat nama Soo Jin berkedip-kedip di layar ponselnya.
“Yeoboseo Soo Jin ah,” Yoon Hye mengerutkan kening “Ne, aku kakaknya… MWO?? DI RUMAH SAKIT?? Aku akan ke sana!!”
“Ada apa?”
“Eomma, Soo Jin… Soo Jin… Penyakit Soo Jin kambuh,”
“Mwoya??”

“Bagaimana dokter?”
“Dia harus dipindahkan segera!! Suster, cepat pindahkan pasien!!”
Semua orang serba bergerak cepat di ruangan itu. Soo Jin dipindahkan ke ranjang dorong dan segera di bawa ke ruangan khusus. Mereka melewati koridor itu dengan keadaan tegang. Dari arah berlawanan, terlihat beberapa orang yang juga mendorong sebuah ranjang yang di atasnya terdapat seorang laki-laki penuh darah. Park jung soo.
Tepat, saat mereka berpapasan, tangan jung soo yang terkulai penuh darah itu bersentuhan dengan tangan Soo Jin yang terkulai lemas. Akankah takdir akan berpihak kepada mereka?

FIN

*backsound astrid-tentang rasa*

#dihajar readers

Wkakakka maaf, maaf, saya nggak sekejam itu, kekeke…
yang di atas Cuma bercanda,

Okeh kita lanjut aja ceritanya,,

~3 years later~

Gereja itu penuh dengan mawar putih. Seorang gadis bergaun putih sedang sibuk merangkai bunga di tiang-tiang kursi sepanjang jalan menuju altar. Ini adalah pekerjaannya. Ia seorang perangkai bunga untuk acara-acara tertentu. Dan kakaknya juga memiliki toko bunga. Park Soo Jin.
“Agashi, apa kau yang merangkai semua bunga ini?”
Soo Jin menghentikan gerakannya saat mendengar seseorang bertanya kepadanya. Ia mengangkat wajah dan menoleh kebelakang. Jantung itu seketika terasa berhenti. Ia tidak akan pernah lupa dengan wajah gadis itu.
“Kim… Hye Mi…” lirihnya.
“Dari mana kau tau itu aku?? Apa kau yang merangkai bunga untuk pernikahanku ini?? Sangat cantik, aku sangat menyukainya…” ujar gadis itu sambil tersenyum riang.
Ada yang aneh. Jantungnya terasa sakit saat mendengar kata-kata gadis itu. mengapa terasa sakit? bukankah dulu dia sudah menjalani operasi jantung? Apakah itu karena laki-laki itu? jadi ini adalah pernikahannya? Ia sama sekali tidak menyangka.
“Sepertinya aku pernah melihatmu…” kata gadis itu lagi.
Tiba-tiba saja Soo Jin merasa menyesal telah menerima pekerjaan ini.
“Jjagi, kau sudah selesai?”  seorang pria menghampiri mereka, membuat Soo Jin mengerutkan keningnya.
“Ini calon suami anda?” tanyanya tanpa sadar.
“Benar,” jawab Hye Mi sambil tersenyum.
“Lalu… Bagaimana dengannya? Di mana Jung Soo ssi??” tanya Soo Jin dengan jantung berdebar keras.
“Ung? Jung Soo? Kau mengenalnya??” Hye Mi menatap Soo Jin bingung.
“Oh Hyung, Nonna!! di sana kau rupanya!!”
Suara itu… Soo Jin menoleh ke arah pintu gereja dan mawar putih dalam genggamannya seketika terlepas. Jantungnya berdenyut kuat. Rasa perih, lega, bercampur menjadi satu.
“Oh Jung Soo ya, kapan kau pulang dari London huh?” tanya Heechul saat laki-laki itu berjalan lambat ke arah mereka.
Nafas Soo Jin terasa tercekat saat tatapan laki-laki itu menghujam lurus kepadanya.
“Hyung, Nonna, bisakah kalian meninggalkan kami sebentar?” tanya Jung Soo.
Hye Mi dan Heechul saling berpandangan, tapi melihat ke dua orang di depannya sepertinya memang membutuhkan waktu berdua, akhirnya mereka pergi tanpa bertanya-tanya.
Soo Jin membalikkan badannya saat air matanya jatuh. Ia tidak ingin Jung Soo melihatnya.
“Agashi, kau menjatuhkan mawar-mawarmu,” kata Jung Soo sambil memunguti bunga yang berceceran itu.
Soo Jin yang sudah melangkah akan pergi, terdiam. Gadis itu menghapus air matanya lalu berbalik lagi dan mengambil mawar-mawar itu dari tangan Jung Soo.
“Tidak merindukanku huh?” tanya Jung Soo.
Soo Jin tercekat mendengarnya. Air matanya berjatuhan tanpa bisa di tahannya. Lalu ia merasakan tubuhnya ditarik ke dalam pelukan hangat.
“Maaf sudah meninggalkanmu…” bisik Jung Soo pelan “Sekarang, bolehkah aku mengambil takdirku kembali?? Saranghae Park Soo Jin… itulah hal yang ingin kukatakan kepadamu dari dulu. Tapi yah, aku tidak berhasil karena belum sampai di tempatmu, truk bodoh itu sudah menabrakku,”
Soo Jin tersentak, ia mengangkat wajah menatap laki-laki itu “Kau…” kalimatnya terhenti saat melihat bekas jahitan sepanjang sepuluh senti lebih di leher sebelah kiri laki-laki itu. Disentuhnya bekas jahitan itu “Apakah ini sakit??” bisiknya.
Tangan Jung Soo menggenggam jari-jari yang menyentuh lukanya “Tidak sebanding dengan tanpa adanya kau di sisiku,”
“Mianhae…”
“Tetaplah di sisiku dan menjadi hidupku Soo Jin ah, kumohon…”
Soo Jin menatapnya sejenak “Selama jantung ini masih berdetak Tuan Park,” jawabnya pelan.
Jung Soo menggenggam wajah itu dengan ke dua tangannya. Bibirnya tersenyum tapi matanya berkaca-kaca “Hiduplah terus untukku…” bisiknya pelan sebelum mengecup bibir itu.

FIN (beneran)

gyahahahha… akhirnyaaaaaaaa… selesai juga ni ff T.T
maaf tante devi, ni ff luamaaaaaaaaaaa banget, susah dapet feelnya sih,,
untung di sini si ajhusi nggak ku bikin melayang nyawanya wkakakka…
last word, tinkyu buat semua yang udah baca,,