Tags

,

cast :

– kim heechul

– song hyo jin [silvia]

Paginya Hyo Jin memanggil dokter untuk memeriksa heechul. Laki-laki itu hanya mengalami demam biasa. Setelah dokter pergi, ia membuatkan bubur untuk laki-laki itu. Hari hampir siang saat laki-laki itu membuka matanya.
“Sedang apa kau?” tanyanya dengan suara parau saat Hyo Jin meletakkan bubur di meja lampu.

“Kau sudah bangun? Bagaimana perasaanmu??” tanya Hyo Jin.
“Aku sakit?”
“Ya, kau demam,”
Heechul mendengus pelan sambil tertawa pendek “Sejak aku tinggal sendiri sepuluh tahun yang lalu ini pertama kalinya aku sakit,”
“Lalu kenapa kau bisa sakit??”
“Kau pikir gara-gara siapa aku sakit??” sautnya tanpa menatap hyo jin.
Hyo Jin hanya diam saja. Ia tidak tau dan tidak berharap itu karena dirinya.
“Ini obatmu, kau bisa bangun? Bisa makan sendiri?? Aku harus pulang ke apartement dan kerja,”
“Kau di sini semalaman?”
“Begitulah,”
“Hyo Jin ah aku haus…”
“Tunggu sebentar,”
Hyo Jin mengambilkan segelas air untuk Heechul. Tapi untuk minum saja laki-laki itu masih tidak bisa. “Sepertinya aku harus tinggal di sini lebih lama,” desah Hyo Jin sambil mengelap air yang tumpah di leher dan dada laki-laki itu.
Akhirnya seharian Hyo Jin menemani Heechul. Dan laki-laki itu cukup cerewet saat sedang sakit dan selalu meminta hal-hal yang aneh.

“Hyo Jin ah, kapan kau pulang?? Apa kau sudah mempunyai kekasih??”
Hyo Jin memindahkan ponselnya ke telinga kiri dari telinga kanannya “Aniyo Eomma… Saat ini aku sedang kosentrasi pada pekerjaanku,”
“Lalu kapan kau menikah?” desah Eommanya di seberang sana “Appamu ingin mengenalkan seorang laki-laki padamu, tidak bisakah kau pulang sebentar??”
“Eomma, aku tidak ingin menikah untuk saat ini!!” kata hyo jin kesal dan langsung memutuskan teleponnya.
Gadis itu kembali melangkah sambil membawa bahan belanjaannya. Karena lemari es heechul kosong, terpaksa ia harus pergi berbelanja.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Hyo Jin saat tiba di apartement laki-laki itu.
“Aku sedang membuat teh, kau mau??”
“Sepertinya keadaanmu sudah jauh lebih baik,” Hyo Jin meletakkan belanjaannya di meja lalu menghampiri laki-laki itu dan memeriksa keningnya “demammu sudah turun, berarti aku bisa pulang ke apartementku sekarang,”
“Tunggu, aku ingin makan masakanmu. Bagaimana jika kita merayakan hari terakhirmu jadi asistenku?!”
“Lalu setelah ini kau tidak akan menggangguku?”
“Mungkin iya,”
“Baiklah…”

Malam itu Hyo Jin memasak sup ikan pedas. Heechul membawa sebotol air lalu meletakkannya di meja. Dan mulai mengambil nasi.
“Hyo Jin ah, di mana sumpitnya??”
“Oh? Tunggu sebentar!!”Hyo Jin beranjak dari duduknya dan berjalan menuju lemari dapur.
Heechul yang mengambil sup ikan itu, tidak sadar kalau menyenggol botol merica hingga terguling. Di betulkannya lagi botol itu tanpa tau bahwa sebagian isinya masuk ke dalam mangkok Hyo Jin.
Hyo Jin menyerahkan sumpit pada Heechul lalu mulai memakan supnya, tapi…
“YAA!! Kenapa pedas begini??” tanyanya panik sambil mencari-cari air. Tanpa berfikir, di sambarnya botol air di meja itu.
“Yaa itu botol so…ju…” Heechul hanya bisa menatap Hyo Jin yang menghabiskan soju itu.
“Kenapa rasanya tidak enak??” tanya hyo jin setelah meminum soju itu “Kepalaku pusing…uuughh…”
“Dasar bodoh!!” maki heechul pelan sambil meraih botol itu dari tangan Hyo Jin.
“Kim heechul kenapa kau ada di sini??” tanyanya mulai melantur “Aku tidak ingin melihatmu…” gadis itu mulai berdiri dan berjalan dengan sempoyongan.
Heechul cepat-cepat menyambar pinggang gadis itu sebelum ia jatuh menyentuh lantai. Dipapahnya gadis itu ke tempat tidur.
“Aku ingin membencimu Heechul ah… Tapi aku tidak bisa…” katanya merancau “Aku benci setiap kali memikirkanmu bersama gadis-gadis itu…”
“Kau menyukaiku?” tanya Heechul sambil menghempaskan tubuh gadis itu ke tempat tidur. Tapi lengan Hyo Jin memeluk leher heechul erat hingga laki-laki itu ikut tertarik jatuh.
Hyo Jin diam sejenak. Ia menatap heechul dengan mata merahnya “Aku menyukai mata ini…” disentuhnya mata Heechul “Hidung ini… Pipi ini… Dan bibir ini… Aku menyukai kecupan dari bibirmu…”
Heechul tersenyum “Aku senang kau masih mengingatnya. Aku juga sangat menyukainya…” lalu dikecupnya bibir gadis itu lembut.

Hyo Jin bergerak pelan dalam tidurnya. Ia mengerang saat merasakan tenggorokannya yang kering. Tubuhnya terasa pegal. Lalu ia terdiam saat menyadari ada yang aneh. Ia membuka mata dengan cepat dan melihat seseorang sedang tidur di sampingnya dengan wajah teduh. Hyo Jin tersentak dan langsung bangun. Seketika itu juga ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Ia menatap dirinya sendiri tidak percaya. Bagaimana mungkin pakaiannya berceceran di lantai? Bagaimana mungkin tubuhnya tidak memakai apapun? Dan bagaimana mungkin laki-laki itu tidur di sebelahnya dalam keadaan yang sama?
“Tidak, tidak, tidak… Ini pasti tidak benar…” Hyo Jin bergumam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya “aku tidak mungkin…”
“Kau sudah bangun jjagi??” bisikan itu terdengar lembut bersamaan dengan sebelah tangan yang melingkari perut Hyo Jin.
Hyo Jin tersentak dan langsung menarik diri sejauh mungkin, membuat laki-laki itu membuka mata dan Menatapnya bingung.
“Hyo Jin ah waeyo??” tanya Heechul sambil bangun dari tidurnya.
“Tutupi tubuhmu!!” perintah Hyo Jin.
Heechul masih menatap bingung “Waeyo?” ia mengulurkan tangan akan meraih gadis itu.
“Jangan menyentuhku!!” teriak Hyo Jin.
Laki-laki itu mengerutkan keningnya “Apa kau baik-baik saja??”
“A-apa yang kau lakukan kepadaku semalam??” tanya Hyo Jin tergelagap sambil memegang erat-erat selimut.
“Semalam kau mabuk,”
“Mwo??”
“Kau mabuk dan mengatakan bahwa aku menyukaiku, lalu…”
“ANDWAE!! Itu tidak benar!! Kau pasti bohong padaku!!” teriak Hyo Jin.
“Kau mengatakannya hyo jin ah. Kau bilang kalau kau menyukai ciumanku, lalu_”
“Kenapa kau tidak mengantarku pulang ke apartement??”
“Aku tidak tau apartementmu!!”
“Kenapa kau melakukannya terhadapku? Kita…” lidah Hyo Jin terasa kelu. Ia tidak tau harus bagaimana sekarang.
“Aku ini laki-laki normal Hyo Jin ah. Kau memelukku dan mengatakan kalau kau menyukaiku, apa kau pikir aku tidak tergoda huh?!”
“Jadi kau ingin bilang kalau aku yang menggodamu??” tanya Hyo Jin terperangah “Aku sedang mabuk Kim Heechul!! Seharusnya kau tau itu! dasar berengsek!!!” Hyo Jin mengambil bantal lalu memukul-mukulkannya pada heechul.
“YAA hentikan!!”
Hyo Jin memungut pakaiannya lalu masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa selimut itu. lima menit kemudian ia keluar dan Heechul sudah menunggunya di depan pintu.
“Kita harus bicara!!”
“Tidak ada yang perlu di bicarakan!!”
“Hyo Jin ah, kita tau kalau kita melakukannya dengan sama-sama suka. Ke_”
“Aku bukan seperti gadis-gadismu Kim Heechul!!” bentak Hyo Jin “Mungkin ini hal biasa bagimu, tapi tidak bagiku!! Jika sejak awal kau memang menginginkan tubuhku, selamat, kau sudah mendapatkannya!!” kata Hyo Jin dengan suara yang bergetar.
Gadis itu melangkah pergi begitu saja. Meninggalkan Heechul yang masih mematung di tempatnya tanpa tau kalau laki-laki itu begitu tertohok dengan kalimatnya.

Hyo Jin terus berjalan sambil menahan air matanya. Seharusnya dari awal ia tidak menerima tawaran itu. seharusnya ia tidak pernah keluar ke balkon kamarnya. Seharusnya ia tidak boleh mengenal laki-laki itu. seharusnya sejak awal ia sadar bagaimana sifat laki-laki itu.
Pintu lift terbuka dan ia segera masuk ke dalamnya. Beruntung gadis di dalam lift tadi berjalan keluar hingga hanya ada dia di dalam lift itu. ia bukan perempuan murahan yang bisa semudah itu melakukan hubungan intim. Dan ia tidak ingin menjadi perempuan murahan. Ia tidak tau harus berbuat apa. Ia membenci laki-laki itu sekarang. Namun ia tidak tau, ia membenci laki-laki itu karena telah tidur bersamanya atau karena laki-laki yang telah menidurinya adalah orang yang di sukainya. Apakah ia benar-benar menyukai laki-laki itu??
Ting…
Pintu lift terbuka. Hyo jin melangkah keluar dan tersadar bahwa ia tidak membawa apa-apa. Tasnya tertinggal di apartement laki-laki itu. ia ingin melanjutkan langkahnya dan membiarkan benda itu di sana. Tapi ponsel, dompet, dan kartu identitasnya ada di dalam tas itu. dengan menghela nafas kesal Hyo Jin kembali masuk ke dalam lift itu.
Gadis itu berjalan dengan cepat kembali ke apartement heechul. Menekan sandinya dengan cepat dan masuk ke dalam. Langkahnya terhenti bersama kakinya yang mematung.
“Hyo Jin ah,” gumam laki-laki itu sambil melepaskan pelukannya dari seorang gadis muda yang berpapasan dengannya di lift tadi.
Seperti tidak bisa berfikir, hyo jin melangkah dengan cepat ke sofa lalu mengambil tasnya dan pergi lagi tanpa memperdulikan ke dua orang itu.
“Hyo Jin ah tunggu!!” heechul menahan lengannya begitu ia keluar apartement.
“Lepaskan!!” Hyo Jin menghempaskan lengan heechul dengan kasar. Tapi tidak bisa. Laki-laki itu mencengkeram lengannya kuat.
“Dengarkan aku dulu!”
“Aku tidak mau mendengarmu!! Aku tidak mau melihatmu dan aku tidak mau mengenalmu!!” teriak Hyo Jin.
“Ayo kita me_”
“Aku muak melihatmu!!” potong Hyo Jin “Kau hanya laki-laki yang senang bermain dengan gadis-gadis! Kau tidak pernah menghargai hidup dan tidak pernah berusaha menjadi lebih baik! aku jijik padamu Kim Heechul!! Bahkan aku jijik dengan tubuhku sendiri yang sudah di sentuh olehmu!!”
Seketika cekalan tangan Heechul terlepas. Laki-laki itu tercekat. Dan Hyo Jin langsung berbalik pergi.
“Aku mencintaimu Song Hyo Jin!!”
Langkah kaki Hyo Jin terhenti. Hening sejenak. “Kau tidak mencintaiku…” saut gadis itu tanpa menoleh “Ini hanya ilusi sesaat Kim Heechul. Dan nantinya kau akan lupa… Bukan seperti ini yang di namakan cinta!!” lalu Hyo Jin melangkah lagi dan menghilang di balik lift.

“Oppa gwenchanae??” tanya gadis itu saat melihat Heechul masuk ke dalam apartement.
Laki-laki itu duduk di sofa dengan menunduk. Lalu, gadis itu berjalan dan berlutut di hadapannya, memeluknya.
“Kau mencintainya?” bisik gadis itu pelan.
“Dia bilang ini hanya ilusi Hee In,” jawab heechul dengan suara tercekat.
“Aku tau kau mencintainya…” bisik gadis itu lagi “Kau menatapnya dengan tatapan berbeda,”
“Dia membenciku hee in ah…”
“Mungkin belum saatnya kau bersamanya saat ini,”
Heechul membalas pelukan itu dengan erat. Setelah ia tenang, ditatapnya gadis yang ada di hadapannya “Bagaimana bisa adik kecilku sudah menjadi dewasa seperti ini huh?” tanyanya sambil mengacak-acak rambut Hee In.
“Oppa aniya…” gerutu Hee In sambil membenarkan rambutnya yang berantakan “Pulanglah Oppa, Appa merindukanmu… Dia sudah semakin tua. Kudengar kau akan kembali ke perusahaan? Kenapa tidak kembali ke rumah juga?”
Heechul mengalihkan pandangannya. Hatinya masih terasa tidak nyaman. tapi ia masih ingin di sini, masih ingin mendapatkan Song Hyo Jin. Gadis yang telah mengubah hidupnya perlahan.
“Tidak apa jika kau masih belum menerima Eommaku, tapi kami sungguh menginginkanmu kembali,”
“Mianhae…”
“Oppa, kau ingin pergi ke suatu tempat? Biar kutemani, bagaimana?”
“Heechul mengerutkan keningnya “Kemana?”
Hee in tersenyum “Ke makam Jung Eomma, kau tidak merindukannya huh??”
Heechul ikut tersenyum. Gadis ini tau apa yang bisa membuatnya tenang walaupun ia hanya adik tiri. Dan satu-satunya yang bisa membuat Heechul tenang adalah pergi menemui ibunya yang sudah meninggal dua puluh tahun yang lalu.

Hyo Jin memeluk lututnya sambil menatap kosong. Apa yang harus di lakukannya sekarang?? Mengapa ia harus jatuh cinta pada orang yang salah?? Ia butuh waktu untuk sendiri. Haruskah ia mengundurkan diri dari perusahaannya dan pulang ke rumah orang tuanya untuk menerima perjodohan yang di lakukan oleh appanya?!
Hyo Jin memijat pelipisnya. Kepalanya sangat pusing. Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Diliriknya benda itu yang tergeletak di sampingnya. Nama yoon hye berkedip-kedip di layarnya.
“Yeoboseo?” jawab Hyo Jin malas “Mwo? … Ada apa? Apa ada masalah? … yaa?? Yoon Hye ya??”
Hyo Jin menatap ponselnya itu lalu mendesah pelan. Ada apa lagi sekarang?! Mengapa gadis itu menyuruhnya ke kantor sekarang juga?! Walaupun malas, tapi Hyo Jin pergi juga ke sana.
Sampai di kantor ia sedang melihat yoon hye sedang menyalami beberapa staf. Hyo jin menatap heran. Di hampirinya gadis itu.
“Yaa Kim Yoon Hye ssi, ada apa kau menyuruhku kemari??”
Gadis itu berbalik dengan kaget “Oh Hyo Jin ah, coba tebak!!”
Hyo Jin mendesah pelan “Kepalaku sedang sakit Kim Yoon Hye!!”
“Kita akan berangkat ke Paris!!” seru gadis itu gembira.
“Mwo??” Hyo Jin mengerutkan keningnya tidak mengerti.
“Kita berhasil membuat wawancara eksklusif dengan pengusaha Kim Tae Hwa dan Direktur sangat menyukainya!! Jadi dia memindahkan kita ke bagian wawancara dan menyuruh kita untuk bergabung dengan tim yang ada di Paris!! Kau dengar?? Kita akan pergi ke Paris!!!”
“Tunggu dulu… apa maksudmu?? Wawancara dengan Kim Tae Hwa??”
Yoon Hye memandang bingung “Kau tidak tau?? Apa Kim Heechul tidak memberitahumu??”
Hyo Jin menggeleng pelan.
“Kemarin lusa manager Kim Tae Hwa menghubungiku dan mengatakan kalau Kim Tae Hwa bersedia di wawancarai atas permintaan Kim Heechul ssi. Tapi dia melarangku untuk berbicara kepadamu, dia bilang dia sendiri yang akan memberitahumu nanti, jadi dia belum memberitahumu??”
Hyo Jin menggeleng lagi. ia masih bingung dengan apa yang terjadi “Jadi kau berhasil mewawancarainya dan bahkan sudah membuat artikelnya??”
Yoon Hye mengangguk semangat “Ini semua karena dirimu. Kim Heechul benar-benar sangat baik… sepertinya dia menyukaimu, apa kau tidak tertarik kepadanya??” goda Yoon Hye “Akhirnya aku bisa pergi keluar negeri…”
“Kapan kita berangkat??”
“Tentu saja besok!! Karena itu aku menyuruhmu untuk berkemas sekarang juga,”
Hyo Jin termangu di tempatnya. Pikirannya kacau. Ia belum tau apa yang harus di lakukannya dan tiba-tiba saja yoon hye bilang bahwa mereka akan pergi ke Paris. Apakah itu jalan yang terbaik untuknya?? Ia tidak ingin di sini, juga tidak ingin pulang ke rumah orang tuanya. Haruskah ia pergi ke sana??
****

~5 tahun kemudian~

“Kapan kau sampai di Korea??”
Hyo Jin memindahkan ponsel ke telinga kirinya “Kemarin lusa Eomma,”
“Lalu kapan kau akan pulang??”
“Mungkin minggu depan,”
“Apakah kau sudah menemukan kekasih? Appamu tidak suka dengan pria luar negeri Hyo Jin ah,”
“Eomma, aniyoo…”
“Kalau begitu kapan kau punya kekasih?? Kau sudah dua puluh delapan tahun dan belum menikah,”
Hyo Jin mendesah pelan “Eomma, aku harus menemui atasanku, nanti kutelepon lagi, sampai jumpa!!” diputuskannya telepon itu secara sepihak.
Ia kembali melamun. Meskipun ia sudah pergi jauh dari Korea, tapi tetap saja laki-laki itu tidak pernah bisa dihilangkan dari fikirannya. Terkadang ia merasa bodoh sendiri. Tentu saja laki-laki itu tidak akan memikirkannya. Bahkan sekarang ia ragu kalau laki-laki itu mengingat dirinya.
“Song Hyo Jin ssi, kami membutuhkanmu sekarang!!” teriak Miss Cha dengan panik.
“Tiba-tiba saja Ji Eun mengalami kecelakaan. Kau, pergilah ke gedung ini. ada wawancara di sana. Dae Suk sudah menunggumu! Waktumu tidak banyak. Kau harus sampai sebelum pukul tujuh!!” Miss Cha menjejalkan secarik kertas berisi alamat gedung itu sementara Hyo Jin hanya menatapnya bingung.
“Apalagi yang kau tunggu?? Ayo cepat!!!”
Hyo Jin menyambar tasnya lalu berlari pergi. Ia menggerutu dalam hati. Apa begini caranya menyambut pegawai yang baru kembali dari luar negeri?! Oh dia lupa, dia adalah pegawai, bukan direktur!!

Hyo Jin berlari menaiki tangga dengan panik ke lantai dua. Dia mencari-cari ruangan nomor B7. Bibirnya tidak berhenti menggerutu pelan. Akhirnya ketika ruangan itu di temukannya. Ia berhenti sejenak lalu menghembuskan nafas pelan. Dibukanya pintu itu. ternyata ada acara live. Seorang laki-laki yang sedang membawa handycam memanggilnya dengan tangan tanpa suara agar Hyo Jin mendekat. Hyo Jin buru-buru menghampirinya sambil mengeluarkan notes dan bolpoint miliknya.
“Jadi Kim Heechul ssi, bagaimana anda bisa menemukan ide itu??”
Hyo Jin tersentak seketika dan mengangkat wajah. Tubuhnya mematung melihat laki-laki itu. Heechul sedang berada di sana, duduk di sofa bersama sang MC. Laki-laki itu sudah banyak berubah. Penampilannya jauh lebih rapi sekarang.
“Kudengar, anda dulu tidak berniat menjadi seorang pengusaha untuk menggantikan Ayah anda, apa yang membuat anda berubah pikiran??”
Heechul tersenyum “Karena aku patah hati…”
Jantung Hyo Jin terasa berhenti. Air matanya sudah mengambang. Tubuhnya membeku dengan mata terpatri pada sosok itu. Sosok yang tidak pernah bisa di hilangkannya dari fikirannya.
“Patah hati?? Apakah itu yang menjadi alasan bagi anda hingga saat ini belum menikah??” tanya MC lagi “Kudengar anda terkenal di kalangan gadis-gadis, dan sedikit playboy dulu,”
Heechul tersenyum lagi “Aku memang playboy dulu, aku senang berganta-ganti wanita,”
“Woow… Lalu bagaimana bisa anda patah hati? Siapa gadis itu??”
“Dia… Seorang gadis yang berbeda. Sedikit galak dan juga tidak cantik,” jawab Heechul membuat semua yang ada di studio tertawa “Dia meninggalkanku karena dia bilang aku hanyalah seorang laki-laki yang hanya senang bermain dengan gadis-gadis dan tidak pernah berusaha. Dia pergi jauh ke luar negeri dan aku tidak pernah bertemu lagi sampai sekarang. Dan yah, waktu itu aku datang padaAppa dan mulai menjadi pengusaha. Karena aku berharap mungkin saja dia akan mewawancaraiku seperti dulu ia mendapat tugas untuk mewawancarai Appa,”
Air mata Hyo Jin jatuh. Cepat-cepat ia mengusapnya. Dae Suk berdesis di sebelahnya “Dasar wanita, selalu saja mudah terbawa hal-hal yang seperti itu. Ya Hyo Jin ssi, jangan lupakan tugasmu!!”
“Jadi anda menunggunya hingga kini?? Apa dia tau kalau anda sedang menunggunya?”
“Aku tidak tau…” tatapan Heechul menerawang jauh “Aku tidak tau… Dulu dia bilang padaku bahwa perasaanku ini hanya ilusi sesaat. Dia bilang aku tidak mencintainya. Tapi… mengapa setelah dia pergi aku tidak bisa menyentuh gadis lain lagi? jika ini hanya sebuah ilusi sesaat, mengapa begitu lama perasaan ini bertahan? Jika ini bukan cinta, mengapa hanya ada dia di dalam fikiranku?? Akhirnya aku sadar kalau ini adalah cinta… Aku mencintainya, dan itu benar. Aku berharap suatu hari nanti aku bisa bertemu lagi dengannya dan memberitahunya bahwa ini adalah cinta, bukan ilusi sesaat. Bahwa aku benar-benar mencintainya dan hanya menginginkannya menjadi yang terakhir untukku…” suara Heechul melemah saat menatap sosok seorang gadis yang sedang berdiri di sudut ruangan tertutup kamera.
Untuk sejenak mereka saling berpandangan. Hyo Jin merasa tubuhnya begitu kaku.
“Ini benar-benar kisah yang romantis… Siapa nama gadis itu? Jangan-jangan dia sedang menonton tayangan ini,” tanya MC.
Hyo Jin tidak bisa menahannya. Air matanya berjatuhan. Ia membalikkan badannya akan melangkah pergi.
“Song Hyo Jin ssi!!!” seru Heechul sambil berdiri. Membuat semua yang ada di studio menatapnya bingung.
“Hyo Jin??” gumam Dae Suk bingung sambil menatap Hyo Jin yang kini membelakanginya.
Langkah gadis itu terhenti seketika begitu namanya dipanggil. Heechul berjalan ke arahnya dan berhenti tepat satu meter di belakangnya. Para kameramen tidak menyia-nyiakan hal itu. begitu juga Dae Suk dan wartawan lainnya.
“Apakah hari itu adalah hari ini?” tanya Heechul dengan suara bergetar.
Hyo Jin tidak menjawab. Ia hanya menteskan air matanya.
“ Bolehkah aku mengatakannya kepadamu bahwa ini bukan ilusi sementara? Aku mencintaimu Hyo Jin ah… Jika ini bukan cinta, bisakah kau memberitahuku ini apa??”
Lidah Hyo Jin terasa kelu. Ia tidak pernah berfikir bahwa laki-laki itu begitu serius dengan ucapannya. sementara dulu ia sudah mengatakan hal yang mungkin melukai laki-laki itu.
“Apakah kau masih marah kepadaku?” tanya Heechul lagi “Tidak mengapa. Kau boleh marah terus kepadaku asalkan kau percaya bahwa aku tidak main-main dengan perasaan_”
Belum selesai heechul berbicara, Hyo Jin sudah berlari dan memeluknya. Menumpahkan semuanya pada laki-laki itu. Gadis itu terisak dalam dekapan laki-lakinya “Mianhae…” bisiknya dengan suara serak.
“Jangan pergi lagi Hyo Jin ah, aku sudah lama menunggumu…” jawab Heechul sambil mempererat pelukan itu.
“Mianhae…” bisik Hyo Jin lagi.
Heechul melepaskan pelukannya lalu memegang wajah gadisnya yang sudah basah. Ditatapnya gadis itu dalam “Kau tau, saat kita bertengkar saat itu aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Tapi kau lebih dulu memotong ucapanku. Sekarang aku hanya akan mengatakannya sekali jadi dengarkan baik-baik. Song Hyo Jin ssi, ayo kita menikah!!”
Tangis Hyo Jin pecah lagi. dipeluknya laki-laki itu erat. Dan kisah cinta tentang seorang pengusaha Kim Heechul, menjadi topik panas selama beberapa minggu.
————-

~epilog~

Hyo Jin membuka apartement heechul dengan panik. Ia langsung terdiam begitu melihat ada seorang gadis yang bergelayut manja di lengan heechul.
“Oh, kau sudah datang?” tanya Heechul.
“Oppa, jangan bilang kalau Hyo Jin Eonni belum tau siapa aku,” kata gadis itu sambil melepaskan pelukannya “Dilihat dari tatapannya sepertinya dia belum tau,”
Heechul tertawa kecil sambil berjalan menghampiri Hyo Jin. Dipeluknya gadis itu dari belakang “Baginya yang terpenting adalah aku,” cibirnya pada gadis itu.
“Kau memang sangat kejam!!” gadis itu cemberut sambil menghempaskan diri di sofa.
“Ada apa kau memanggilku?” tanya Hyo Jin pelan.
“Tentu saja ingin mengenalkanmu pada seseorang,”
“Anyeong Eonni, Kim Hee In imnida,” saut gadis itu sambil melambaikan tangan pada Hyo Jin “Aku adik tiri Kim Heechul,”
“Adik tiri??” Hyo Jin menoleh kebelakang dengan alis terangkat.
Heechul tersenyum lalu mengecup bibir gadis itu kilat, membuat Hyo Jin mematung di tempatnya.
“YAA masih ada aku di sini, aiiish… Aku pergi kalau begitu. Eonni, nanti kita bertemu lagi tan-pa-nya, ne?!”
Hyo Jin mengangguk pelan sambil melepaskan diri dariHeechul. Setelah Hee In menghilang dibalik pintu itu, Hyo Jin kembali menatap Heechul yang menghempaskan diri di sofa.
“Kau punya adik tiri?” tanyanya.
“Seperti yang kau lihat,”
“Lalu ibumu?”
Heechul menatapnya sejenak “Wanita itulah yang masakannya ingin selalu kumakan, tapi yah… tidak bisa lagi, dia sudah pergi dua puluh tahun yang lalu,”
Hyo Jin tercenung. Apakah hal itu yang membuat Heechul dulu sedikit liar? Karena ditinggal orang yang di cintainya? Ibunya…
“Jangan menatapku seperti itu!”
Hyo Jin tersentak “Mianhae…” ucapnya sambil berjalan menuju dapur. Ia membuka lemari es dan tertegun. “Heechul ah, apa ini?” di angkatnya sebuah kaleng soda yang di gambari karakter wajah yang sedang marah.
“Oh? Kau tidak ingat? Itu soda yang kau berikan kepadaku saat kita pertama kali bertemu dulu,”
Hyo Jin menaikkan sebelah alisnya “Kau masih menyimpannya?”
“Tentu saja,”
“Dan kenapa kau beri gambar seperti ini?”
“Itu mengingatkanku pada wajah galakmu, hahah…”
“YAA!! Seperti kau tidak galak saja,” gerutu Hyo Jin “Mm Heechul ah, hari sabtu apa kau sibuk?”
“Aku ada acara, wae?”
“Oh, ani… Tidak apa-apa. Ada acara apa?”
“Aku ada acara dengan calon mertuaku,” Heechul mengedipkan sebelah matanya.
“Mwo? YAA, darimana kau tau aku akan mengajakmu menemui mereka?”
“Kemarin kau bilang akan pulang ke rumah orang tuamu, tanpa kau ajak pun aku memang berniat akan ikut! Jadi kapan? Agar kalau mereka bertanya aku bisa menjawab,”
“A-apanya yang kapan??” tanya Hyo Jin bingung.
“Pernikahan kita Song Hyo Jin ssi!! Jadi kapan kita menikah hmm?”
“I-itu… terserah kau saja,”
“Baiklah kalau begitu kita menikah setelah mengunjungi keluargamu!”
“MWO??”

FIN

Maaf semuanya. Saya nggak begitu dapat feel waktu ngetik ini u_u
maaf kalau hasilnya gak maximal tante silvi,
Yah semoga ke depannya bisa lebih baik T.T