Tags

,

 

cfm“Aku tidak menyangka jika aku begitu mencintaimu…”

 

Part 3

Hari ini Kyuhyun hanya diam saja mengikuti gadis itu ke sekolah. Ia masih penasaran apa benar ia menyukai gadis di sampingnya ini? Apa yang membuatnya menyukai gadis ini? Dari pengamatannya, gadis ini tidak mempunyai teman sama sekali di sekolah. Mengapa?

Braak…

Kyuhyun mengerjap kaget saat menyadari buku-buku gadis itu terjatuh. Seseorang telah menabrak Yoon Hye.

“YAA, kau jalan menggunakan mata atau tidak?!” bentak gadis itu.

“Maaf, apa aku punya salah padamu? Kau sengaja menabrakku,” balas Yoon Hye.

Gadis itu menatap sinis “Satu-satunya kesalahanmu adalah menyukai Kyuhyun Oppa.”

Kyuhyun membulatkan matanya mendengar namanya di sebut.

“Apa aku terlihat seperti menyukainya?” balas Yoon Hye.

“Suka atau tidak suka yang jelas kami tidak setuju Kyu Oppa bersama gadis sepertimu! Bagaimana mungkin dia bisa tertarik padamu?”

“Jadi kau merasa iri karena Kyuhyun ssi selalu mengejarku?”

“Mwo? Yaa jaga bicaramu! Aku iri terhadap gadis sepertimu? Yang benar saja…”

“Lalu apa masalahmu?” tantang yoon hye.

“Dia kecelakaan itu semua gara-gara kau!”

Yoon Hye mendengus kesal “Aku tidak ada hubungannya dengan itu.”

“Jangan pura-pura tidak tau. Dia menolak untuk belajar ke Amerika itu karena dirimu. Saat itu dia bertengkar dengan orang tuanya lalu dia pergi dan akhirnya kecelakaan,” dengus gadis itu lalu berlalu dan dengan sengaja menabrakkan bahunya pada bahu Yoon Hye.

Kyuhyun melihat gadis itu terpaku di tempatnya. Ia sendiri merasa tidak percaya “Apa begitu besar cintaku kepadamu Yoon ah?”

Yoon Hye tersentak lalu menoleh menatap Kyuhyun “A-aku tidak mengerti… Aku tidak tau Kyuhyun ssi…” ucapnya dengan suara bergetar.

“Ini bukan salahmu Yoon ah,” ucap Kyuhyun. Entah mengapa ia tidak ingin gadis itu bersedih. Ia tidak ingin membebani gadis itu.

“Bagaimana kau tau ini bukan karena aku? Bukankah kau bilang kau tidak ingat apapun? Aku… Aku hanya tidak ingin membebani orang lain. Aku terlalu lelah, aku tidak ingin membuat masalah untuk orang lain. Aku_”

Kalimat Yoon Hye terputus karena Kyuhyun sudah menariknya ke dalam dekapan, “Aku menyukaimu itu urusanku, Yoon ah. Aku menolak sekolah itu juga urusanku. Aku kecelakaan itu juga urusanku..Tidak ada kau di dalam masalah itu. Jangan dengarkan orang lain, cukup dengarkan aku saja, apa kau bisa?”

“Tapi…”

“Jangan bicara lagi. Sudah waktunya kau masuk kelas,” Kyuhyun melepaskan pelukan itu lalu membalikkan tubuh gadis itu dan mendorong bahunya pelan untuk berjalan menuju kelas.

.

.

“Aku tau apa yang harus ku lakukan,” gumam Kyuhyun.

Yoon Hye yang sedang merapikan buku-buku di rak toko buku, menatapnya sejenak “Apa?”

“Yoon ah, apa kau tau di mana rumahku?” tanya Kyuhyun.

Gadis itu menggeleng pelan, “Aku tidak tau apapun tentangmu.”

“Lalu, apa kau bisa mencari tau di mana rumahku? Setidaknya aku bisa menemukan sesuatu di sana. Ini sudah seminggu lebih dan aku belum menemukan apa pun,” jawab Kyuhyun sendu.

“Akan kucoba besok,” saut Yoon Hye sambil tersenyum.

Kyuhyun tertegun. Itu pertama kalinya gadis itu tersenyum kepadanya. Ada sesuatu yang kuat di dalamnya dan rasanya aneh. Kyuhyun tidak dapat mengerti apa itu.

***

“Aku sudah mendapatkannya dari staf tata usaha tadi, kau mau pergi ke rumahmu?” tanya Yoon Hye sambil membereskan peralatan tulisnya.

Ruang kelas itu sudah kosong. bell pulang sudah berbunyi dari tadi. Memang Yoon Hye selalu pulang belakangan. Ia malas jika harus bersama murid-murid lain yang pasti selalu mengerjainya.

“Kau yang harus pergi ke rumahku, bukan aku.”

Gadis itu menatap kyuhyun “Kenapa aku?”

“Apa kau lupa aku tidak bisa menyentuh benda? Bagaimana bisa aku masuk ke sana tanpa membuka pintu?” dengus Kyuhyun.

Yoon Hye terdiam. Apa yang harus di lakukannya? Laki-laki itu benar, tapi membayangkan dirinya akan pergi ke rumah Kyuhyun dan mungkin saja bertemu orangtua laki-laki itu membuatnya sedikit takut. Kata-kata gadis itu kembali memenuhi fikirannya bahwa jika karena dirinyalah Kyuhyun bertengkar dengan orang tuanya hingga kecelakaan.

“Apa yang kau lamunkan?” bisik Kyuhyun.

Yoon Hye mengerjap kaget saat tiba-tiba saja melihat wajah laki-laki itu ada di hadapannya. Ia menggeleng pelan sambil meneruskan kegiatannya.

“Jangan takut, aku bersamamu.”

Hanya sepatah kata, namun mampu meredam semua rasa takutnya. Mengapa bisa begitu??

.

.

Rumah itu tampak besar dengan pagar besi dan tembok yang menglilinginya. Perlahan Yoon Hye membuka pintu gerbangnya.

“Apa kau yakin?” bisiknya pada Kyuhyun.

“Kalau tidak di coba tidak akan tau.”

Yoon Hye memencet bell rumah itu dengan ragu. Tidak lama kemudian pintu terbuka di ikuti seorang wanita yang masih terlihat cantik di usia lanjutnya. Yoon Hye membungkukkan badannya memberi salam.

“A-anyeong haseo…” ucap gadis itu gugup.

“Nuguseo?” tanya wanita itu.

“Kim Yoon Hye imnida. Sa-saya teman Kyuhyun ssi, omonim…” balas Yoon Hye sedikit gugup.

Wanita itu tampak sedikit terkejut “Kau Kim Yoon Hye?”

“Be-benar. Saya… Ada barang milik saya yang di bawa oleh Kyuhyun ssi, bolehkah saya mengambilnya?”

“Masuklah, tapi sebelumnya aku ingin berbicara denganmu dulu.”

.

.

Wanita itu menuangkan teh untuk Yoon Hye. Dilihat dari penampilannya, dia wanita yang sederhana.

“Ada banyak gadis-gadis yang datang ke rumah sakit untuk melihat Kyuhyun, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang bernama Kim Yoon Hye. Kau tau? Aku ingin bertemu denganmu sejak dulu.”

Yoon Hye menatap gugup. Kyuhyun ada di sampingnya, memegang bahu gadis itu. Memberi ketenangan.

“Sejak kecil, Kyuhyun memang selalu menyendiri. Dia jarang bermain bersama teman-teman sebayanya. Yang dilakukannya hanya bermain game di kamarnya. Dia juga tidak perduli dengan sekelilingnya. Apa yang harus di lakukannya, akan dikerjakannya seolah semua itu hal yang biasa baginya. Tapi sejak mengenalmu, dia menjadi berbeda. Wajahnya terlihat selalu bersemangat setiap hari. Walaupun dia tidak pernah bercerita kepadaku, tapi aku tau apa yang sedang dirasakannya. Selama ini dia selalu menuruti semua keinginan Appanya. Tapi kemarin, untuk pertama kalinya ia menolak apa yang diinginkan oleh Appanya.”

Tangan Yoon Hye terkepal mendengarnya. Ia merasa sangat takut sekarang. Tiba-tiba saja tangan Kyuhyun terulur, menggenggam jemarinya. Ia seorang arwah, tapi mengapa tangannya terasa hangat?

“Appanya ingin agar ia bersekolah di luar negeri seperti Ahra, Nonnanya. Tapi dia menolak dengan tegas bahwa dia masih ingin tinggal di sini. Dia bilang, ada yang harus di jaganya di sini. Tanpa disebutkannya pun aku mengerti itu adalah dirimu.”

“Jeoseonghamnida…”

“Ini bukan salahmu. Tapi, ada yang ingin kutanyakan kepadamu. Itu… Apa-apa kau mempunyai perasaan yang sama dengan putraku?”

Yoon Hye tersentak. Ia menatap wanita itu ragu. Haruskah ia mengatakannya sementara Kyuhyun ada di sebelahnya? Apa yang harus dikatakannya?

“Saya… Saya tidak mengerti dengan perasaan saya sendiri Ajhuma. Kyuhyun ssi orang yang baik. Tapi… Ada beberapa hal yang harus saya pikirkan.”

“Aku mengerti… Aku hanya tidak ingin apa yang dilakukan Kyuhyun menjadi sia-sia,” ujar wanita itu lembut “Baiklah, kamar Kyuhyun ada di lantai atas sebelah kiri. Kau bisa mencari barangmu di sana sendiri, aku harus membereskan dapur dulu. Pergilah.”

Yoon Hye menundukkan kepalanya dengan gugup lalu melangkah menuju tangga. Ia sedikit heran mengapa begitu mudahnya wanita itu mengijinkannya masuk ke dalam kamar putranya.

“Kurasa itu kamarku,” gumam Kyuhyun pelan.

Yoon Hye menatap kamar yang dimaksud Kyuhyun. Ia menghampiri pintu kamar itu lalu membukanya. Pemandangan di hadapannya seketika membuatnya tertegun. Seperti kamar seorang laki-laki pada umumnya, didominasi oleh warna putih dan hitam. Di sudut kamar itu ada sebuah ranjang putih yang cukup besar. Di depannya ada seperangkat televisi lengkap dengan audionya. Di sebelah kiri, sebuah rak penuh dengan kaset game. Yang membuat Yoon Hye tertegun adalah meja belajar yang ada di samping ranjang Kyuhyun. Di atas seperangkat alat komputer itu, lebih tepatnya di dindingnya, begitu banyak tertempel foto-foto Yoon Hye yang bahkan gadis itu tidak tau kapan Kyuhyun mengambilnya.

Tanpa sadar, gadis itu melangkah mendekat. Mengambil selembar foto dan menatapnya. Di foto itu dirinya sedang membaca sebuah novel yang diingatnya betul itu adalah novel karya Laurant Kate dengan judul ‘Fallen’. Lalu dibaliknya foto itu dan mendapati sederet tulisan.

‘Hal yang dapat mengalihkan dunianya… Novel. Dan aku ingin menjadi novel itu…’

 

Tanpa sadar, bibir Yoon Hye tertarik membentuk sebuah senyuman. Laki-laki itu benar. Novel dapat mengalihkan duniannya. Karena saat ia tenggelam dalam buku itu, ia tidak akan sadar jika ada bom yang meledak di sebelahnya sekalipun.

“Aku tidak menyangka jika aku begitu mencintaimu…”

Bisikan itu membuat Yoon Hye tersentak dan langsung menoleh ke belakang. Ia lupa jika laki-laki itu berada di sini juga. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak kacau. Laki-laki itu masih menatap foto-foto hasil karyanya sendiri lekat-lekat. Lalu, ia menoleh menatap Yoon Hye “Mengapa wajahmu terlihat sama di foto-foto ini?”

Yoon Hye mengerjap kaget dan memandang Kyuhyun bingung sejenak. Laki-laki itu menatap foto-foto itu lagi. Jarinya terangkat menyusuri potongan-potongan kertas di dinding itu. “Ekspresimu selalu sama… Oh, tunggu… Kau terlihat tertawa di foto ini…”

Yoon Hye kembali menatap foto-foto dirinya. Kyuhyun benar. Dari semua foto yang menampilkan ekspresi sama di wajahnya, di satu foto itu dia terlihat sedang membaca di bawah pohon halaman belakang sekolah sambil tertawa. Rambut panjangnya yang hitam tampak tergerai tertiup angin.

“Kurasa aku sudah menemukan jawabannya…” Kyuhyun berbisik pelan.

Yoon Hye menoleh, menatap laki-laki itu. Kyuhyun balas memandangnya.

“Apakah aku menyukaimu? Ya, benar. Aku menyukaimu. Foto-foto itu sudah cukup jelas,” suara Kyuhyun seperti bisikan angin di telinga Yoon Hye. Apakah laki-laki itu benar-benar mengucapkan kata-kata itu? atau hanya ilusinya saja?

“Mengapa aku bisa menyukaimu? Itu karena kau. Aku menyukaimu karena kau Kim Yoon Hye,” lanjut Kyuhyun.

Kini Yoon Hye merasa nafasnya tercekat. Jantungnya semakin berdetak keras. Mata itu seperti mengikat tubuhnya hingga ia tidak bisa bergerak. Tidak bisa memalingkan wajah dari tatapan laki-laki itu.

“Dan mengapa aku tidak ingin pergi meninggalkanmu? Karena aku… ingin melihat senyummu. Aku ingin mengubah ekspresi datar itu. Aku ingin melihat ekspresimu saat marah, menangis, sedih, kecewa, senang, bahagia juga saat malu. Aku ingin melihat semuanya…”

Oh shit, Yoon Hye benar-benar menahan nafas sekarang. Tubuhnya terasa kaku. Ini berbeda… Dulu saat Kyuhyun belum menjadi arwah laki-laki itu juga mengatakan hal-hal semacam itu. Tapi Yoon Hye tidak pernah menanggapinya. Tapi saat ini, di depannya juga berdiri seorang Cho Kyuhyun yang masih sama. Namun mengapa ia merasa berbeda? Atau mungkinkah dirinya sekarang sudah mulai menatap laki-laki itu?

“Yoon ah, apa kau sudah menemukan barang yang kau cari?”

Kedua makhluk itu tersentak kaget dan langsung menoleh ke arah pintu. Ibu kyuhyun sedang tersenyum menatapnya. Menatap gadis itu karena jelas Kyuhyun tidak akan terlihat.

“Sa-saya…” Yoon Hye menggeleng pelan.

“Kulihat sepertinya kau menemukan sesuatu yang lain,” wanita itu kembali tersenyum sambil menghampiri Yoon Hye “Apa yang kau temukan ini tidak lebih penting dari sesuatu yang kau cari?”

Yoon Hye tertegun sejenak. Ia menatap selembar foto yang masih di pegangnya “Ini… Lebih dari apa yang akan saya cari. Ajhuma, kamsahamnida…”

.

.

Yoon hye menghempaskan tubuhnya di sofa sementara Kyuhyun sedang mondar-mandir di hadapannya.

“Yaa, berhentilah bergerak. aku pusing melihatmu!” keluh Yoon Hye sambil melipat tangan di depan dada.

Kyuhyun berhenti bergerak, ia menoleh dan menatap Yoon Hye lalu mendesah pelan. “Apa yang harus kulakukan Yoon ah?”

“Apa lagi??”

“Aku sudah menemukan orang yang kusukai. Dia sudah ada dihadapanku sekarang, lalu apa yang harus kulakukan agar aku bisa kembali hidup?”

Yoon Hye terdiam sejenak “Aku lapar…” desahnya sambil beranjak dari duduknya.

“YAA kupikir kau tadi sedang berfikir!” protes namja itu sebal.

“Aku tidak bisa berfikir dengan perut kosong,” saut Yoon Hye tanpa melihat Kyuhyun.

“Ah benar juga, aku lupa kalau kau butuh makan,” gumam Kyuhyun.

Gadis itu hanya mendengus pelan sambil mulai memasak sementara Kyuhyun duduk di kursi makan mengamatinya. Hingga Yoon Hye duduk di hadapannya, ia masih mengamati yeoja itu.

“Kenapa kau menatapku terus?” tanya Yoon Hye sambil menuang air mineral ke sebuah gelas “Kau bisa jatuh cinta kepadaku Tuan Cho.”

“Aku memang mencintaimu…”

Yoon Hye menghentikan gerakannya dan tertegun. Ditatapnya laki-laki itu dengan jantung yang berdebar “A-apa kau bilang?” tanyanya gugup.

Untuk sesaat Kyuhyun hanya menatapnya tapi kemudian laki-laki itu mengerjap pelan “Apa?” tanyanya balik. Sepertinya ia baru tersadar dari lamunannya.

Yoon Hye meneruskan kegiatannya menuang air dengan gugup sementara Kyuhyun mencoba untuk tidak menatap gadis itu. Aiiish… Itu tadi pasti sangat memalukan. Namun mengapa bibirnya mengucapkan kata-kata itu begitu saja? Seolah tidak ada keraguan di dalamnya. Seolah kata-kata itu memang harus di ucapkannya. Entah mengapa ia menjadi gugup. Jika ia bukan arwah, mungkin jantungnya sekarang berdegup kencang.

“Kau tidak lapar?” tanya Yoon Hye tiba-tiba.

Kyuhyun mendengus “Kalau saja aku bisa makan,” jawabnya sebal “Aku tidak bisa merasakan apapun…” desahnya.

“Kau tidak merasa lelah, juga tidak merasa lapar. Sebenarnya itu juga ada untungnya.” gumam Yoon Hye sambil menjepit telur gulung dengan sumpitnya lalu memasukkan ke dalam mulutnya.

“Apa yang kau makan?” tanya Kyuhyun.

“Uum? Ini hanya Telur gulung dan Kimchi pedas.”

Kyuhyun mendesah keras “Aku benar-benar ingin makan saat ini… Itu terlihat enaak…”

“Ahahah…” Yoon Hye tertawa geli melihat laki-laki itu sedang mengerucutkan bibirnya “Lihatlah wajahmu…Ahahah…”

Kyuhyun tertegun. Tawa itu… Entah mengapa bisa membuat hatinya terasa hangat seketika. Ia merasa begitu merindukan tawa itu.

“Mmm… Kyuhyun ssi, kau bilang kau bisa hidup lagi jika mendapat ketulusan dari gadis yang kau cintai. Jika memang orang itu adalah aku, apa yang harus kulakukan untukmu?”

Kyuhyun mengerjap kaget sejenak. Ia melihat Yoon Hye sedang menatapnya, menunggu jawaban. Laki-laki itu menggaruk-garuk kepalanya bingung. “Aku tidak tau… Ketulusan yang bagaimana yang dimaksud Ajhusi itu aku tidak tau.”

“Ajhusi?”

“Ne, dia menyebut dirinya sebagai malaikat maut. Kalau tidak salah wajahnya mirip sekali dengan aktor Jung Il Woo, kau tau?”

Yoon hye menggeleng pelan “Jadi, aku harus memberimu ketulusan? Tapi dalam bentuk apa?”

Kyuhyun terdiam sesaat “Yoon ah… Kau sering membaca fairy tail? Aku banyak mendengar kalau cinta yang tulus dapat mengalahkan segalanya (sumpah vea pingin muntah ngetiknya, hahah…). Jadi… Bisakah kau mencintaiku dengan hatimu?”

Tatapan itu… Oh dear…

To be continue…

Last edited 21 Oktober 2013 ; 11.45