Tags

,

 

cfmJika itu hal yang harus kulakukan setelah kau pergi aku tidak mau, Kyu. Kau ingin aku berjanji kalau aku tidak akan menangis? Aku pasti akan menangis. Kau ingin agar aku tidak ingin bersedih? Itu jelas tidak mungkin. Kau ingin aku hidup bahagia? Aku tidak tau, karena kebahagiaan itu bisa kurasakan saat bersamamu. Jadi untuk apa aku berjanji jika pada akhirnya aku tidak akan bisa menepatinya?

 

Part 4

 

 

“Sudah dua puluh hari…” desah Kyuhyun pelan.

 

Yoon Hye hanya menggigit bibirnya sambil menatap layar komputer di meja belajarnya. Entah mengapa jantungnya selalu saja berdetak cepat saat bersama laki-laki itu. dan sialnya laki-laki itu terus selalu bersamanya. Seperti saat ini ketika ia mengerjakan tugas, laki-laki itu sedang berguling-guling tidak jelas di antara buku-buku yang berserakan di ranjangnya.

 

“Yoon ah, carilah sesuatu di internet!” pinta laki-laki itu.

 

“Aku sedang mengerjakan tugasku. Baca saja buku-buku itu sampai selesai. Siapa tau kau menemukan sesuatu,” saut yoon hye tanpa menoleh.

 

Kyuhyun mendesah lagi sambil meraih salah satu buku. “Demi apa aku membaca kisah kacangan seperti ini? Romeo and Juliet? Dongeng sebelum tidur? Aiiish…”

 

Yoon Hye tergelak sambil memutar kursinya menghadap laki-laki itu “Yaa Tuan Cho, saat kau hidup kau sangat suka menonton film Romeo and Juliet,” ejeknya.

 

Kyuhyun membulatkan matanya “kau bercanda?”

 

“Aku masih ingat dengan jelas apa yang kau katakan kepadaku! Kau mau dengar?” goda Yoon Hye.

 

“Pasti itu karanganmu.”

 

“YAA aku bukan tipe gadis yang suka merangkai kata-kata menjijikkan seperti itu!”

 

“Memang apa yang kukatakan?”

 

“Kau selalu mengatakan jika kau menyukai Kim Yoon Hye dan aku pernah bilang kepadamu jika kau terus mengucapkan kata itu aku akan merubah namaku…” Yoon Hye menerawang sejenak.

 

Bayangan masa lalunya bersama laki-laki itu muncul kembali.

 

“Lalu?”

 

“Lalu… Kau bilang kepadaku ‘Apa kau ingat yang dikatakan Juliet setelah bertemu Romeo? Apalah arti sebuah nama?! Bagiku… bukan namamu Yoon ah, tapi jiwamu… hanya saja jiwa itu bernama Kim Yoon Hye saat ini… Apa kau pernah menonton film mereka, hmm?’. Itu… yang kau katakan kepadaku.”

 

Hening…

 

Suasana menjadi sunyi. Yoon Hye yang awalnya ingin mengejek laki-laki itu entah mengapa tidak seperti niat awalnya. Sementara kyuhyun sedang menatapnya dalam, membuat Yoon Hye menundukkan wajahnya. Gadis itu lalu memutar kembali kursinya menghadap komputernya.

 

“Tidakkah kau merasa kata-kata itu benar Yoon ah?” bisik Kyuhyun pelan.

 

Jantung Yoon Hye menghentak kuat. Ia memainkan mouse komputernya untuk menutupi rasa gugupnya. Bibirnya tertutup rapat pura-pura tidak mendengar.

 

Suasana begitu sunyi. Hanya terdengar suara ketikan pada keyboard. Tidak terasa jam pada ponsel Yoon Hye menunjukkan angka sebelas. Gadis itu mematikan komputernya lalu masuk ke dalam kamar mandi dan berganti piama.

 

Saat ia keluar dari kamar mandi Kyuhyun sedang membaca sebuah buku. Laki-laki itu membaca dengan serius hingga keningnya terkadang mengerut pelan. Tidak menyadari Yoon Hye yang menghampirinya.

 

“AKU TAU!!” teriaknya sambil bangun tiba-tiba. Bibirnya tersenyum senang.  “Yoon kemarilah,” ia menepuk-nepuk tempat tidur di hadapannya.

 

“Ada apa?” tanya Yoon Hye bingung masih tetap di tempatnya.

 

“Sini!!” Kyuhyun tetap menyuruhnya mendekat.

 

Yoon Hye melepas sepatu babinya lalu naik ke tempat tidur dan duduk di hadapan Kyuhyun, ”Wae?”

 

Laki-laki itu tersenyum “Kau tau kisah Snow White?”

 

Yoon Hye mengerutkan keningnya sambil mengangguk ragu.

 

“Kau tau, kutukan itu terbebas karena ciuman dari sang pangeran…” bisik Kyuhyun.

 

Yoon Hye menahan nafas. Perasaannya mulai tidak karuan. Perlahan, tangan Kyuhyun meraih kedua tangannya lalu meletakkannya pada bahu Kyuhyun. Oh dear… Tidak. Ini tidak mungkin…

 

“Mungkin…  Aku bisa hidup kembali saat kau menciumku.”

 

Well, sepertinya arwah Yoon Hye sudah lepas dari raganya saat mendengar kata dari laki-laki itu. Jantungnya berdetak kacau, dan nafasnya tidak beraturan lagi. Sudah dipastikan wajahnya merah padam saat ini.

 

“Rona pipimu cantik…” bisik Kyuhyun.

 

Yoon Hye merasa dirinya akan pingsan sebentar lagi. Demi apa laki-laki itu meminta sesuatu yang aneh?

 

“Kyu-Kyuhyun ah… Ta-tapi kau, kau bukan pangeran tidur…” kata Yoon Hye tergagap.

 

Kyuhyun menatap sambil tersenyum lembut “Tidak ada salahnya dicoba bukan?”

 

Oh God, mata coklat itu… Mengapa seolah menghipnotisnya hingga dagu Yoon Hye bergerak untuk mengangguk. Ia merasa akan gila sekarang. Bagaimana bisa laki-laki yang dulu di hindarinya sekarang meminta sebuah ciuman dan bahkan mereka duduk dalam jarak sedekat ini?

 

“Lakukanlah…” bisik laki-laki itu pelan sambil menarik pinggang Yoon Hye untuk mendekat. Perlahan ia memejamkan mata.

 

Yoon Hye mencengkeram bahu Kyuhyun erat. Tubuh gadis itu gemetar. Ini hal yang pertama untuknya. Tidak mudah untuk menenangkan detak jantungnya yang seperti ingin melompat keluar. Sejenak ia menatap wajah Kyuhyun. Ah, laki-laki itu selalu tampan. Perlahan, ia mendekat dan…

 

“Aku tidak bisa Kyuhyun ah,” Yoon Hye memalingkan wajahnya tidak berani menatap Kyuhyun.

 

Gadis itu menggigit bibir bawahnya kuat “Ini… Ini pertama kalinya untukku, aku… aku tidak bisa.”

 

Kyuhyun menatapnya sambil tersenyum lembut “Aku tau…” bisiknya “Tapi aku ingin sekali hidup, Yoon ah. Aku tidak ingin meninggalkanmu, aku masih ingin melihatmu.”

 

Ditatapnya laki-laki itu “Kenapa?”

 

“Karena aku… Karena sepertinya aku jatuh cinta kepadamu.”

 

Yoon Hye terdiam. Ia menunduk, tidak ingin melihat tatapan laki-laki itu.

 

“Bukan saat aku masih hidup, Yoon ah. Tapi saat ini, sosok yang ada di hadapanmu sekarang. Saranghae…”

 

“Pejamkan matamu,” bisik Yoon Hye lirih.

 

“Mwo?”

 

“Pejamkan matamu,” ulang Yoon Hye.

 

Kyuhyun memejamkan matanya. Sedetik kemudian, bibir mereka saling bersentuhan. Yoon Hye memangut bibir Kyuhyun dalam beberapa saat lalu melepasnya. Nafas gadis itu tersegal. Kyuhyun membuka matanya lagi “Tidak ada yang berubah,” gumamnya.

 

“Mungkin bukan dengan cara ini,” bisik Yoon Hye.

 

“Jika bukan kau yang mencium… Lalu apakah harus aku yang menciummu?”

 

“Ne?” Yoon Hye tersentak menatap Kyuhyun.

 

Kesalahan. Karena saat gadis itu menatap Kyuhyun, mata coklat hangat itu sudah mengunci tatapannya. Perlahan, Kyuhyun mendekat. Nafas Yoon Hye semakin berat. Ia memejamkan mata saat hidung itu bersentuhan. Lalu, bibir lembut itu menekan bibirnya pelan. melumatnya lembut.

 

“Tidak ada perubahan…” bisik namja itu “Lalu… haruskah kita melakukan lebih dari ini?”

 

Yoon Hye terkesiap mendengarnya. Tapi baru sedetik ia membelakkan mata, Kyuhyun sudah menyambar bibirnya lagi. Melumatnya dalam…

.

.

Laki-laki itu tampak pendiam hari ini. Yoon Hye tau karena waktu kyuhyun semakin sedikit. Sebenarnya apa yang dimaksud ketulusan oleh Ajhusi itu?! Bukankah ia sudah mencintai Kyuhyun?

 

Wajah Yoon Hye memanas setiap kali mengingat kejadian itu. Ia menghela nafas pelan sebelum memasuki kelasnya. Kyuhyun masih berdiri di belakangnya. Gadis itu mencoba mengacuhkannya dan fokus pada sekolahnya.

 

Seperti biasa, saat selesai sekolah Yoon Hye langsung menuju toko buku tempatnya bekerja. Keadaan mereka masih sama. Kyuhyun belum berbicara sepatah katapun kepadanya.

 

“Yoon ah, bisakah hari ini kau lembur? Ada buku baru yang datang. Hyo Ra tidak bisa karena harus menemani ibunya di rumah sakit.”

 

Yoon Hye tersenyum sambil mengangguk pada wanita tengah baya itu “Tentu Ajhuma,” jawabnya.

 

Hari sudah malam saat ia mendata semua buku yang baru saja datang. Ia hanya sendirian di ruangan itu. Oh tidak, karena Kyuhyun masih bersamanya meskipun laki-laki itu tidak bicara sama sekali.

 

“Kyuhyun ah,” panggil Yoon Hye memecah keheningan “Apa yang terjadi jika waktumu sudah habis?”

 

Laki-laki itu mengangkat wajah dan menatap Yoon Hye diam “Tentu saja aku akan mati,” gumamnya.

Gadis itu tercenung “Jika kau berhasil dan hidup kembali… Apakah… Apakah kau masih mengingat apa yang kita lakukan selama ini?” Yoon Hye menggigit bibir bawahnya sambil menunduk menatap buku yang di pegangnya.

 

“Aku tidak tau…” bisik Kyuhyun “Tapi… Kalau pun aku tidak mengingatnya. Aku tetap akan jatuh cinta kepadamu, Yoon.”

 

“Apa kau yakin?”

 

“Kau tau? Aku tidak pernah salah memilih.”

 

Yoon Hye terdiam. Dalam hatinya ia berdo’a semoga saja Kyuhyun benar. Jika 30 hari ini adalah pilihan yang benar, hanya ada pilihan yang akan didapatkannya saat hari itu berakhir. Kyuhyun yang hidup kembali, atau setidaknya ia harus bersyukur bisa membalas cinta dari laki-laki yang selama ini tidak pernah di anggapnya.

 

“Jangan khawatir…” tiba-tiba saja sepasang tangan menangkup kedua pipinya dan mengangkat wajahnya hingga berhadapan dengan laki-laki itu “Aku tidak akan meninggalkanmu.”

 

“Janji?”

 

“Janji…” balas Kyuhyun sambil tersenyum lembut “Kim Yoon Hye, Saranghae…”

 

“Nado saranghae…”

 

 

***

 

1:2

 

Angka itu tertera pada jam tangan Kyuhyun. Satu hari lebih dua jam adalah sisa waktunya. Laki-laki itu tengah menatap Yoon Hye yang masih tertidur pulas. Hari ini hari minggu. Ia sengaja mematikan alarm pada ponsel gadis itu. semalaman ia sudah berfikir. Dan ia tau, bahwa ia tidak akan kembali lagi. Karena itu, ia ingin bersama gadis itu hari ini sebelum semuanya berakhir.

 

Dibelainya pipi gadis itu dengan lembut sambil tersenyum sedih “Mianhae…” bisiknya pelan “Jika nanti aku pergi, jangan bersedih, Yoon ah. Aku ingin kau tetap tersenyum… Maaf tidak bisa menepati janjiku,”

 

“Ng…” gadis itu bergerak. lalu matanya terbuka perlahan. Ia mengerjap.

 

“Selamat pagi,” bisik Kyuhyun lembut.

 

“Jam berapa sekarang?” tanya Yoon Hye dengan suara serak.

 

“Jam setengah tujuh pagi.”

 

Gadis itu terkesiap “Kau mematikan alarmku lagi?” tanyanya sambil beranjak bangun.

 

“Aku ingin melihatmu saat tidur lebih lama,” jawab Kyuhyun.

 

Cuup~

 

“Morning kiss,” bisik Kyuhyun sambil tersenyum melihat wajah Yoon Hye yang kini memerah. “Jja! Cepat mandi, aku ingin mengajakmu kencan hari ini.”

 

“Kencan?” Yoon Hye menaikkan salah satu alisnya.

 

“Wae? Kau tidak mau?”

 

Gadis itu tertawa kecil “Aku berkencan dengan arwah, bagaimana kedengarannya? Apa ada buku panduan untuk itu?”

 

“Sangat lucu,” saut Kyuhyun masam.

 

“Baiklah, kita kencan hari ini. Tapi aku tidak mau ke tempat ramai, tidak lucu kalau tiba-tiba ada yang melihatku berbicara sendiri.”

 

Kyuhyun tergelak “Jadi kau ingin di tempat yang sepi eoh? Di tempat yang hanya ada kita hmm?”

 

Duaak…
Sebuah boneka tepat mengenai jidat Kyuhyun.

 

“Pervert!!” maki Yoon Hye sebal sambil turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.

 

“Apa aku salah bicara??” gumam Kyuhyun bingung.

.

.

“Baiklah, hari ini kita ke mana?” tanya Yoon Hye sambil memakan telur gulungnya untuk sarapan.

 

“Kau ingin ke mana?” Kyuhyun balik tanya.

 

Gadis itu menggeleng pelan “Selama ini aku tidak pernah pergi kemana-mana.”

 

“Hmm aku ingin pergi ke namsan tower, kau harus mengunci cinta kita dulu.”

 

Yoon Hye menaikkan sebelah alisnya sambil menatap laki-laki itu “Apa kau sudah gila? Huahahahah…” tawanya meledak.

 

Kyuhyun menatap bingung “Apa yang salah?” tanyanya sebal.

 

“Aigooo… Kau masih percaya itu huh? Menggelikan.”

 

Laki-laki itu langsung cemberut “Baiklah tidak perlu.”

 

“Kita pergi ke danau, aku ingin melihat Kura-Kura.”

 

“Terserah kau.”

 

Dan di sinilah mereka saat ini. Duduk di tepi danau dengan kaki tercelup ke dalam airnya. Yoon Hye menghirup udara yang terasa segar. Pohon-pohon yang berwarna hijau terasa menyegarkan matanya.

 

“Ini pertama kalinya aku menikmati pemandangan seperti ini…” katanya pelan.

 

“Benarkah? Lalu, selama ini apa yang kau lakukan?”

 

“Hmm… Tidak ada. Aku hanya pergi ke sekolah, bekerja di toko buku.”

 

“Saat hari libur?”

 

“Di rumah seharian membaca buku.”

 

“Pergilah sesekali untuk menyegarkan fikiran, Yoon ah.”

 

“Akan kuingat hal itu,” jawab Yoon Hye.

 

Hening…

 

Yoon Hye sedang asyik mengamati seekor kura-kura kecil yang berenang di dekat kakinya. Sementara Kyuhyun sedang mengamati wajah gadis itu.

 

“Kyu, kapan waktumu habis?” tanya Yoon Hye tanpa menatapnya.

 

Kyuhyun terdiam sejenak “Tiga hari lagi…”

 

Yoon Hye menoleh sambil mengerutkan keningnya “Benarkah?”

 

“Wae?”

 

“Jam tanganmu kemana?” tanya Yoon Hye saat melihat pergelangan laki-laki itu kosong.

 

“Mungkin tertinggal di rumah,” jawab Kyuhyun acuh.

 

“Tidak biasanya…” gumam gadis itu.

 

“Kau tidak lapar? Ini sudah siang, ayo kita makan!”

 

“Kita?” tanya gadis itu dengan salah satu alis terangkat “Kau hanya melihat Tuan Cho, aku yang makan,” ejek gadis itu.

 

“Aiiish… bisakah kau sekali saja menganggapku sebagai manusia?” tanya Kyuhyun kesal sementara Yoon Hye hanya bisa tertawa.

 

 

***

 

 

“Yoon ah, kau mau berjanji kepadaku?”

 

Yoon Hye terdiam sejenak. Ia tau apa maksud dari laki-laki itu “Aniyo… Aku tidak mau.”

 

“Jebal…” pinta laki-laki itu.

 

“Jika itu hal yang harus kulakukan setelah kau pergi aku tidak mau Kyu. Kau ingin aku berjanji kalau aku tidak akan menangis? Aku pasti akan menangis. Kau ingin agar aku tidak ingin bersedih? Itu jelas tidak mungkin. Kau ingin aku hidup bahagia? Aku tidak tau, karena kebahagiaan itu bisa kurasakan saat bersamamu. Jadi untuk apa aku berjanji jika pada akhirnya aku tidak akan bisa menepatinya?”

 

Kyuhyun terdiam mendengarnya. Gadis itu benar. “Kalau begitu, bolehkah aku meminta sesuatu darimu?”

 

“Apa?”

 

“Bisakah kau berusaha untuk tidak menagis dan sedih saat aku pergi? Bisakah kau berusaha untuk hidup bahagia?”

 

Sekarang Yoon Hye yang terdiam. Berusaha untuk tidak menangis atau bersedih. Berusaha untuk hidup bahagia. Apakah dia bisa?

 

“Kumohon…” nada itu…

 

“Aku akan berusaha,” bisik Yoon Hye pelan meskipun hatinya ragu akan hal itu.

 

Kyuhyun mempererat pelukannya sambil menaikkan selimut lebih tinggi. Kamar itu gelap karena kyuhyun mematikan lampu. Yang terlihat hanya cahaya lampu dari luar yang masuk melalui jendela kamar yang terbuka.

 

“Apa kau bahagia saat ini?” tanya kyuhyun.

 

“Mmm… Sangat bahagia.”

 

“Kenapa?”

 

“Karena aku bisa jatuh cinta kepadamu, Tuan arwah.”

 

“Sebelumnya kenapa kau tidak menerimaku?”

 

“Sebelumnya ada banyak hal yang kupikirkan Kyu. Kau tau kalau aku hidup sendiri. Aku tidak sebebas anak-anak lainnya. Lagipula… saat itu aku belum menatapmu. Kurasa, aku mulai kehilangan dirimu saat kau sudah berubah menjadi arwah. Tidak ada yang menggangguku lagi di sekolah yang mengakibatkanku harus menerima tatapan membunuh dari semua gadis di sekolah. Tidak ada lagi mawar dan boneka yang bertengger manis di bangkuku. Sedikit banyak, aku merasa kehilangan.”

 

“Aku terkejut karena semua itu barang pemberianku.”

 

“Apa yang kau lakukan, mengingatkanku pada Eommaku.”

 

“Yoon ah, bisakah kau menceritakan kepadaku tentang pertemuan kita dan apa saja yang sudah kulakukan kepadamu?”

 

“Kau ingin mendengarnya?”

 

“Ya…”

.

.

Alarm itu berdering keras. Yoon Hye bergerak pelan lalu membuka matanya. Ia terkesiap dan langsung terbangun. Dengan cepat ia turun dari ranjang dan keluar dari kamar.

 

“Kyuhyun ah?” teriaknya sambil mencari laki-laki itu di seluruh ruangan “kyu? Eoddiseo?? Kyu?”

 

“YAA, tidak perlu berteriak-teriak. Kau membuatku game over tau.”

 

Mendengar suara itu yoon Hye langsung menghentikan langkahnya. Kepalanya berputar pada ruang tengah dan ternyata laki-laki itu sedang duduk di sofa sambil main psp.

 

“Mi-mianhae…”

 

“Cepat mandi, kau harus sekolah bukan? Aku tidak ikut denganmu hari ini.”

 

“Waeyo?”

 

“Aku ingin melihat orang tuaku.”

 

“Ne, araseo.”

.

.

“Berhati-hatilah.”

 

“Mmm.”

 

“Jaga dirimu baik-baik.”

 

“Mmm.”

 

“Acuhkan saja gadis-gadis yang mengganggumu.”

 

Yoon Hye memutar bola matanya “Itu sudah kulakukan dari dulu Tuan Cho, sekarang aku pergi dulu.”

 

Cuup~

 

Yoon Hye terpana saat Kyuhyun mengecup bibirnya. Gadis itu hanya mematung saat Kyuhyun membelai pipinya lembut. Ada tatapan sedih dalam pandangannya.

 

“Pergilah.”

 

“N-ne.”

 

“Yoon ah,” panggil Kyuhyun saat gadis itu akan berbalik “Saranghae…” ucapnya tulus.

 

Yoon Hye menatapnya sejenak “Nado saranghae…” jawabnya sambil tersenyum lalu berjalan pergi.

 

 

***

 

Suasana kelasnya masih saja sama seperti sebelumnya sangat membosankan. Jung Seongsaengnim sedang menjelaskan sejarah korea di depan. Yoon Hye hanya mencoret-coret kertasnya tanpa minat.

 

“Tidak terasa bukan? Ini sudah satu bulan sejak Kyu Oppa kecelakaan.”

 

Tiba-tiba saja telinganya menangkap pembicaraan pelan itu dari belakang.

 

“Benar, hari ini tepat tiga puluh hari Kyu Oppa kecelakaan. Kapan dia akan sadar?”

 

Yoon Hye terkesiap.

 

Aku masih koma di rumah sakit dan aku hanya punya waktu tiga puluh hari untuk mencari cara agar bisa hidup.

 

kyu, kapan waktumu habis?

 

tiga hari lagi.

 

benarkah?

 

 wae?

 

jam tanganmu kemana?’

 

 mungkin tertinggal di rumah.

 

Braaak…

 

Yoon Hye duduk dari bangkunya dengan keras membuat semua mata menatap kepadanya. Ia berbalik lalu menatap gadis-gadis yang mengobrol tadi “Jam berapa… Jam berapa Kyuhyun kecelakaan?” tanyanya dengan ketakutan yang luar biasa.

 

“Yaa kau, apa yang kau lakukan?” tanya seongsaengnim.

 

“JAM BERAPA DIA KECELAKAAN???” bentak yoon hye.

 

“Sekitar… jam-jam sepuluh mungkin,” jawab gadis itu takut.

 

“Yaa kau! Kenapa membuat keributa??” bentak Seongsaengnim.

 

Yoon hye melihat jam tangannya. 09:46. Sial! Dengan cepat ia berlari keluar kelas.

 

“YAA KAU MAU KEMANA?” teriak seongsaengnim itu.

 

 

To be continue…

 

Last edited 21 Oktober 2013 ; 11.45