Tags

, , , , ,

Tittle : Different Heart
Cast:
– Lee Eunhyuk
– Lee Hyuk Jae
– Min Seo Rin (Saya)
– Kim Yoon Hye (Sudah pasti saya juga)
– Hyo Yeon
– Cho kyuhyun + Lee Hyo Ra (jelas ini juga saya, wkwkwk maruk!)


NB : mungkin sudah ada yang pernah baca ini, ini hanya pengulangan setelah saya revisi. Saya jadikan satu part biar enak bacanya jadi nggak pendek-pendek kayak dulu,,
Happy reading ^^
————–

Part 3

Seorang gadis yg memakai kaca mata hitam, terlihat sedang berjalan sambil menarik kopernya. Salah satu tangannya terangkat menempelkan ponsel warna putih itu ke telinganya.
“Ya, aku akan langsung pulang setelah ini. . .” katanya pada ponsel itu “Ye? Oh aniyo, aku ingin istirahat dulu untuk beberapa hari. . . Itu bagus, kau tidak perlu khawatir, tidak ada yg tau aku pulang ke Korea hari ini. . . Baiklah, kita bertemu lagi besok!!” gadis itu menutup teleponnya kemudian tersenyum lebar kepada seseorang. Dilambaikan tangannya yg masih memegang ponsel itu.
Seorang laki-laki menghampirinya sambil tersenyum “Senang bertemu denganmu,” katanya sambil memeluk gadis itu dengan satu lengan.
“Hyuk Jae ya, bagaimana kabarmu??” tanya gadis itu.
“Aku baik. Ayo kuantar kau pulang,” Hyuk Jae mengambil alih koper itu kemudian mereka berdua berjalan bersama keluar dari bandara.
“Bagaimana Korea saat ini?” tanya gadis itu.
“Masih sama seperti yang dulu! Dan aku sudah melihat film perdanamu, aktingmu bagus!”
Gadis itu tersenyum “Tapi itu bukan apa-apa, aku masih jauh dari sukses!!”
Mereka berdua sampai di mobil Hyuk Jae. Laki-laki itu memasukkan koper ke bagasi kemudian membukakan pintu untuk gadis itu lalu masuk ke mobil.
“Kau mau langsung pulang? Tidak ingin makan dulu?!” tanya Hyuk Jae saat mobil itu mulai berjalan.
“Aku langsung pulang saja, lagi pula nenek sudah menungguku!”
“Baiklah,” balas Hyuk Jae “Hyo Yeon ah, apa yang akan kau lakukan besok?”
Hyo Yeon terdiam sejenak “Besok aku harus menemui managerku untuk mengurus agency tempatku pindah,”
“Kau akan pindah agency?”
“Ya, aku sudah memutuskan untuk menetap di Korea,”
“Benarkah? Aku senang mendengarnya,”
Hyo Yeon tersenyum “Bagaimana kabar Eunhyuk?” tanyanya kemudian.
Wajah Hyuk Jae berubah saat mendengar nama itu “Sepertinya dia baik!” jawabnya datar.
Hyo Yeon menghela nafas pelan “Aku rindu saat-saat masa sekolah kita dulu,”
“Hyo Yeon ah, mungkin kau belum tau, tapi orang tua kami bercerai setelah kau pindah ke Paris. Aku ikut Appa dan dia ikut Eomma,”
Hyo Yeon menoleh kaget “Benarkah?”
“Ya. Saat itu aku baru kelas 3 junior highschool. Saat senior highschool, kami bersekolah di tempat yang berbeda dan kembali satu universtitas tetapi lain jurusan. Kemudian kudengar dia melanjutkan pendidikannya di luar negeri,”
“Hyuk Jae ya, aku. . .”
“Tidak perlu sedih, aku baik-baik saja. dan beberapa hari yang lalu aku bertemu lagi dengannya. Ternyata dia menjadi asistant sutradara sekarang,”
“Ya. . . Aku tau dia menyukai film. Dan kau? Apa yang kau lakukan sekarang?”
“Percaya atau tidak, saat ini aku adalah seorang produser film!”
“Produser?? Tapi bukankah dulu kau bilang padaku ingin sekolah musik dan menjadi penyanyi??”
Hyuk Jae tersenyum pahit “Appa orang yang tidak bisa ditentang,”
Hyo Yeon terdiam mendengarnya.
“Maaf aku menanyakan ini, tapi bagaimana hubunganmu dengan kakakmu?”
Hyo Yeon mendesah pelan “Sudah dua tahun aku tidak bertemu dengannya. Dia pergi tanpa memberi tau Appa dan Eomma,”
“Benarkah?”
“Ya, aku tidak tau mengapa dia pergi begitu saja padahal Appa dan Eomma lebih menyayanginya dibandingkan aku. kau tau, dia menjadi kebanggaan Appa meskipun dia bukan putri kandung Appa. Kemampuannya berfikir membuatku iri, ia selalu mendapatkan apa pun yang diinginkannya. Apalagi setelah aku keluar dari universitas dan memilih sekolah teater, Appa dan Eomma semakin membanding-bandingkannya denganku, dan aku benci itu!”
“Kau harus bisa menunjukkan kepada mereka bahwa kau mampu!”
“Aku masih berusaha untuk itu,”
“Jangan lupa, aku akan selalu mendukungmu,”
Hyo Yeon tertawa kecil “Kau tidak berubah Hyuk Jae ya, gomawo,”
Hyuk Jae hanya tersenyum.
***

Hyuk Jae sedang menatap sebuah kalung berbandul jam yang bila dibuka bisa mengeluarkan nada. Ingatannya melayang pada kejadian dulu.

~flashback~
Hyuk Jae sedang menyobek-nyobek kertas dengan kesal. Ia baru saja mendapat nilai c untuk pelajaran matematikanya.
“Yaa! Berhenti mengotori rumput!” teriak seorang gadis tiba-tiba.
Hyuk Jae menoleh dan melihat seorang gadis yang berbeda sekolah dengannya, sedang berlari kecil menghampirinya sambil membawa pot bunga. Gadis itu langsung berjongkok dan memunguti kertas-kertas yang mengotori rumput “Apa ini kertas ujianmu? Apa kau mendapat nilai jelek? Seharusnya kau tidak melakukan hal ini, kertas ini dapat membantumu untuk berusaha belajar lebih giat!” celoteh gadis itu.
Tapi Hyuk Jae yang sedang dalam suasana hati buruk karena habis dimarahi oleh Appanya dan dibanding-bandingkan dengan Eunhyuk, semakin kesal mendengarnya. Ditendangnya pot bunga yang diletakkan gadis itu di tanah “Apa pedulimu??” bentaknya kesal.
“Yaa!! Kenapa kau menendangnya?? Bunga ini juga makhluk hidup!!” balas gadis itu.
Hyuk Jae semakin kesal ditendangnya pot bunga itu berulang kali.
“Hentikan!!!” teriak gadis itu sambil mendorong Hyuk Jae hingga jatuh.
“Kalau kau membiarkan amarah menguasaimu, kau tidak akan pernah menang!” kata gadis itu sambil memungut pot bunganya kemudian berlari pergi sementara hyuk Jae hanya bisa diam menatapnya.
Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu berkilau di atas rumput itu, sebuah kalung perak berbandul jam. . .
~flashback end~

Hyuk Jae tersentak saat mendengar pintu diketuk, cepat-cepat ia memasukkan kalung itu ke saku jasnya. “Masuk!!” teriaknya keras.
Yoon Hye muncul dari balik pintu sambil membawa beberapa map.
“Ini data-data artis yang disarankan oleh Sutradara Shin, silahkan anda periksa,” ditaruhnya tumpukan map itu di depan Hyuk Jae, “Setelah ini saya ada janji dengan nona seo rin, jika anda butuh sesuatu hubungi saja saya,” kata gadis itu kemudian pergi.
Hyuk Jae menatap map itu sejenak kemudian mengeluarkan ponselnya.

Kim Hyo Yeon, gadis itu sedang berbicara dengan seorang wanita berumur tiga puluh lima tahunan. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ketika melihat nama pemanggilnya, ia berkata singkat kepada wanita itu kemudian berjalan menjauh untuk menerima telepone.
“Hyuk Jae ya ada apa??. . . Aku sedang bersama managerku. . . Ya, benar. . . Hmm, aku ingat. Baiklah, nanti aku ke sana. . . Anyeong,”
Hyo Yeon menutup ponselnya, kemudian kembali ke tempatnya tadi.

“Bagaimana jika bagian ini diubah?? Kita munculkan saja sosok Sukkie, kurasa konfliknya akan lebih terasa,” Yoon Hye menyesap kopinya sambil menatap layar laptopnya.
“Kau benar, itu sangat bagus. Aku setuju!” saut Seo Rin semangat.
“Baiklah, kita bertemu lagi besok, aku harus kembali ke kantor.”
“Ya, akan kuselesaikan malam ini. Kamsahamnida,”
Yoon Hye tersenyum sambil membereskan laptopnya “Sampai jumpa besok,”
“Sampai jumpa,”
***

“Eunhyuk ah, kau sudah mempelajari skrip pertama? Kita harus mencari lokasi yang tepat besok!”
“Ya, aku mengerti. Tadi aku sudah mengecek semua perlengkapan,”
“Bagus,” balas Sutradara Shin “Tidak ada masalah bukan?”
“Sejauh ini tidak ada,”
“Baiklah kalau begitu, kita bertemu lagi besok,”
“Baik, sampai jumpa,” Eunhyuk membungkuk sedikit kemudian keluar dari studio Sutradara Shin. Ia ingin pergi ke butik ibunya hari ini.
“Yaa Lee Eunhyuk!! Sedang apa kau di sini??”
Eunhyuk langsung menoleh begitu mendengar namanya dipanggil. Belum sempat ia menghindar, gadis itu sudah menghampirinya.
“Apa yg kau lakukan di sini?!” tanya Eunhyuk.
“Aku bekerja di sini sebagai penulis,”
Eunhyuk mengerutkan keningnya “Min Seo Rin ssi, jangan bilang drama Teardrops In The Rain itu kau yang menulisnya,”
Seo Rin melebarkan matanya “Ba-bagaimana kau tau??”
Eunhyuk mendecak kesal “Kenapa kau selalu berkeliaran di sekitarku?! Aiish. . .”
“Maksudmu kau juga bekerja di sini?? Waaa ini kebetulan sekali bukan?!” seru Seo Rin senang.
Eunhyuk tidak menjawab, ia hanya tersenyum masam. Tiba-tiba dilihatnya gadis itu bersikap aneh. “Ada apa denganmu??” tanya Eunhyuk. Tiba-tiba saja tangan Seo Rin mencengkeram lengan Eunhyuk “Yaa! Apa yg kau lakukan??”
“Eunhyuk ssi, aku. . .” Seo Rin tidak meneruskan kalimatnya tapi malah menyodorkan tasnya kepada Eunhyuk “Ini-tolong kau bawa sebentar, aku-mau ke toilet!” kata Seo Rin kemudian langsung berlari sambil memegangi perutnya.
“YAA! kenapa aku harus membawa ini??” teriak Eunhyuk tapi kemudian cepat-cepat mengikuti Seo Rin. Pergi dari tempat itu karena beberapa orang tengah menatapnya.

Hyo Yeon sedang berdiri menatap gedung yang hampir tidak dikenalnya itu. Gedung milik Ayah Hyuk Jae. Kemudian gadis itu berjalan pelan masuk ke dalamnya. Tiba-tiba tanpa sengaja seseorang menyenggolnya dan menyipratkan minuman soda yang dibawanya.
“Ah maaf agashi, aku tidak sengaja. Maafkan aku, aku tidak melihatmu tadi,” gadis itu membungkuk-bungkuk meminta maaf.
“Gwenchanae, aku tau. bisakah kau memberi tauku di mana toiletnya?”
“Ah itu silahkan anda lurus kemudian belok kanan,”
“Baiklah, terima kasih,”
“Terima kasih, sekali lagi maafkan aku!” ucap gadis itu.
“Tidak perlu cemas,”
Hyo Yeon pergi ke toilet sebentar. Dibersihkannya bajunya tadi kemudian ia kembali lagi. Tapi langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat Hyuk Jae sedang berdiri di dekat pot bunga samping tangga. Ia tersenyum kemudian menghampiri laki-laki itu “Hyuk Jae ya, sedang apa kau di sini??”

Eunhyuk mengerjap kaget saat melihat seorang gadis sedang tersenyum menatapnya. Ia kenal gadis ini “Kim. . . Hyo Yeon??” panggilnya ragu.
“Apa kau sedang menungguku? Bagaimana kau tau aku dari toilet?!”
“Mwo?”
“Oh ya, kenapa kau menyuruhku kemari?? Ada yang ingin kau katakan?? Ayo kita ke ruanganmu saja!” Hyo Yeon menggandeng tangan Eunhyuk, menariknya pergi sementara Eunhyuk masih menatap bingung.
“YAA!! Lee Eunhyuk ssi!! Mau kau bawa ke mana tasku??” teriak Seo Rin.
Kedua orang itu otomatis menoleh ke belakang. Seo Rin menghampiri Eunhyuk kemudian mengambil tasnya “Terima kasih sudah membawakannya,” gadis itu membungkuk sedikit.
“Wanita macam apa kau? Begitu mudahnya memberikan barang berharga kepada orang lain?!” bentak Eunhyuk.
“Eunhyuk. . .? Kau Lee Eunhyuk??”
Eunhyuk dan Seo Rin langsung menoleh pada Hyo Yeon.
“Eunhyuk ah, ini dirimu??” tanya Hyo Yeon lalu tiba-tiba memeluk Eunhyuk. Membuat laki-laki itu terkejut. “Bogoshipoyo. . .”
Hyo Yeon melepaskan pelukkannya “Ah, aku masih saja tidak bisa membedakan kalian. Tidak kusangka aku bertemu denganmu di sini!” celoteh gadis itu riang “Baiklah, karena kita sudah bertemu jadi kau harus mengajakku jalan-jalan. Aku baru tiba dari Paris kemarin, ayo!!” tanpa memperdulikan Seo Rin, Hyo Yeon menarik Eunhyuk pergi.
“Huh, laki-laki di mana-mana sama! Begitu bertemu gadis cantik mereka akan lupa diri!” gerutu Seo Rin sambil cemberut.
***

“Jadi, siapa yang anda pilih untuk menjadi pemeran utama?” tanya Yoon Hye.
Hyuk Jae yang sedang memainkan game di laptopnya menoleh kaget. Ia melirik jam tangannya. sudah hampir tengah hari, kenapa gadis itu belum datang?? Diambilnya ponsel di samping laptopnya kemudian menghubungi seseorang.
“Oh Hyuk Jae ya, mianhae,” ucap gadis itu setelah telepone tersambung.
“Apa kau baik-baik saja? Urusanmu belum selesai?”
“Aniyo. . . Aku tidak apa-apa, semuanya sudah selesai. Hanya saja aku bertemu Eunhyuk tadi, jadi aku mengajaknya pergi, mianhae. . .Kau tidak apa-apa bukan? Apa ada masalah penting?”
Hyuk Jae terdiam beberapa saat “Gwenchanae. . .” jawabnya datar.
“Aku sedang berada di butik Ajhuma sekarang, nanti kuhubungi kau lagi,”
Telepone terputus, Hyuk Jae masih termangu di tempatnya.
“Maaf Sangjangnim, saya masih menunggu jawaban anda!” kata Yoon Hye kesal karena diabaikan.
BRAAAK. . .
Yoon Hye terlonjak kaget saat laki-laki itu membuang tumpukan map di mejanya. Untuk sesaat ia hanya mematung sambil menatap map-map yang berserakan di lantai itu. kemudian ia menarik nafas pelan. Tempramental laki-laki itu benar-benar buruk.
Yoon Hye berjalan menghampiri map-map itu kemudian berjongkok untuk membereskannya. Tapi baru saja tangannya menyentuh kertas-kertas itu, sebuah tangan menahannya. Laki-laki itu menarik lengannya hingga ia berdiri lalu menyeretnya keluar ruangan dengan kasar.
“Lee Hyuk Jae ssi, lepaskan!!” Yoon Hye berusaha melepaskan cekalan tangan laki-laki itu.
Hyuk Jae tidak menggubrisnya. Ia terus menarik Yoon Hye sambil berjalan dengan cepat melewati koridor dan menuruni tangga. Beberapa orang yang mereka lewati menatap heran, namun Hyuk Jae tetap tidak mau melepaskan cekalan tangannya. membuat Yoon Hye meringis kesakitan.
“Lee Hyuk Jae ssi, kita mau kemana??” tanya Yoon Hye saat Hyuk Jae menyeretnya melewati loby keluar dari gedung dan menuju tempat parkir.
Hyuk Jae tidak menjawab. Ia hanya diam sambil fokus ke depan. Bahkan ia tidak menoleh ke arah Yoon Hye sama sekali.

Yoon Hye mengusap-usap pergelangan tangannya sambil menatap penuh kekesalan pada laki-laki yang duduk di depannya itu. kalau ia tidak punya malu, ia pasti akan menggebrak meja dan menendang-nendang kursi yang ada. Akhirnya ia hanya bisa menghela nafas panjang menatap laki-laki yang sedang melahap semangkuk ice cream itu dengan nikmat.
“Kau tidak mau memakannya?” tanya laki-laki itu tiba-tiba.
“Tidak!” jawabnya dingin.
“Boleh untukku?” tanyanya seperti berharap.
Yoon Hye tertawa pendek “Hoho. . . Kukira kau tidak perlu bertanya seperti itu, bukankah kau selalu bertindak semaumu sendiri?!” sindirnya.
“Kau benar,” gumam Hyuk Jae sambil mengambil semangkuk ice cream dari hadapan Yoon Hye dan membawanya kehadapannya kemudian mulai memakannya.
“Hhh. . . Aku tidak percaya dengan ini. . .” Yoon Hye mengerang sambil mendesah berlebihan “Apa semua gadis-gadis itu tidak mempunyai otak?! Lihat cara makannya!”
Hyuk Jae menghentikan gerakannya kemudian mengangkat wajah dan menatap Yoon Hye “Apa yang kau maksud itu aku?”
Yoon Hye mendengus “Apa kau merasa seperti itu? Ada cream di bibirmu!”
Reflek, Hyuk Jae mengusap bibirnya dengan tangan.
“Aigooo . . . Pakai lap! Kau bukan balita lagi tuan lee!!” omel Yoon Hye sambil melemparkan lap ke depan Hyuk Jae.
“Bukankah seharusnya kau yang melakukannya?” tanya Hyuk Jae sambil meraih lap itu.
“Mwo?” Yoon Hye mendelik “Ige mwoya?”
Hyuki mendesah keras “Aku ragu, kau ini sebenarnya benar-benar seorang gadis atau bukan? Biasanya gadis-gadis akan membantu membersihkan cream yang tertinggal di bibirku dengan lap atau malah dengan jarinya sendiri,”
Tawa Yoon Hye meledak. Gadis itu sampai harus memegangi perutnya, “Lee Hyuk Jae ssi, kau benar-benar lucu,”
“Apa aku salah?”
“Kuberi tahu kau, di dunia ini gadis itu ada dua golongan,” kata Yoon Hye di sela-sela tawanya “Pertama, gadis-gadis yang mempunyai otak. Kedua, gadis-gadis yang tidak mempunyai otak! Menurutmu aku termasuk golongan gadis yang mana?”
Hyuk Jae berfikir sejenak “Kau ingin jawaban jujur atau palsu?”
“Jangan berbelit-belit, jawab saja!”
“Baiklah. . . Ini kemauanmu. Menurutku. . . Kau golongan gadis yang terakhir!”
Yoon Hye melebarkan matanya tanpa bisa berkata apapun “Maksudmu. . . Aku tidak punya otak?” desisnya tidak percaya.
“Kau tau, hanya gadis bodoh yang bisa menolak laki-laki setampan diriku,”
Begitu shocknya, Yoon Hye tidak tau harus berkata apa. Ia hanya bisa menatap Hyuk Jae dengan mulut ternganga.
“Tidak ada satu pun gadis yang bisa menolak pesonaku, kau mau bukti?”
Yoon Hye meneguk air putih banyak-banyak untuk mengurangi rasa shocknya “Buktikan!” pintanya dengan tatapan menantang.
“Kau lihat gadis yang duduk di sana?” tanyanya.
Yoon Hye mengikuti arah pandangan hyuki dan melihat dua orang gadis yang sepertinya masih kuliah sedang asyik menikmati ice cream. Kedua gadis itu sama-sama memiliki wajah yang cute.
“Jika aku bisa mendapatkan nomor ponsel dari salah satunya, bagaimana jika kau yang membayar ice cream ini?”
Yoon Hye melipat tangannya di depan dada sambil mengamati kedua gadis itu “Baiklah. . . Kita lihat, sepintar apa mereka!”
Hyuk Jae tersenyum setan “Kau akan kalah Nona Kim,” bisiknya sambil beranjak dari kursi, menghampiri kedua gadis itu.
Yoon Hye tetap duduk di tempatnya. Sesekali mengamati Hyuk Jae dari jauh. Ketiga orang itu terlihat sedang mengobrol dengan akrab dan terkadang tertawa. Sial, apa memang Hyuk Jae memiliki pesona yang kuat?! Sebenarnya apa yang dilihat gadis-gadis itu darinya? Sebelum Yoon Hye diangkat menjadi editor, ia sering melihat laki-laki itu membawa gadis-gadis yang berbeda.
Yoon Hye menghela nafas kemudian meneguk minumannya lagi. Ketika ia menoleh kembali ke arah mereka, Hyuk Jae sudah berjalan menuju dirinya. Laki-laki itu meletakkan secarik nota di meja, di hadapan Yoon Hye sambil tersenyum.
“Kau kalah Nona Kim,” katanya sambil mengedipkan sebelah matanya kemudian berjalan keluar.
Yoon Hye melihat deretan nomor ponsel itu dengan kesal kemudian mengeluarkan lembaran uang dan menaruhnya di meja. Ia melirik gadis-gadis itu sekilas “Dasar gadis bodoh!!” gerutunya sambil cepat-cepat menyusul Hyuk Jae.
“Lee Hyuk Jae ssi, kita harus kembali ke kantor!!” teriak Yoon Hye sambil berusaha menyusul laki-laki itu.
Hyuk Jae tidak menggubrisnya sama sekali, ia malah menghampiri kedai yang menjual tempura.
“Lee Hyuk Jae ssi, kau belum memutuskan artis siapa yang akan bermain dalam drama itu. Kau harus memutuskan dengan cepat,”
“Diamlah dan makan ini!”
Yoon Hye menatap tempura itu kemudian menggeleng pelan “Kau saja!”
“Cobalah, ini enak sekali, benar bukan Ajhuma?”
“Tentu saja, itu terbuat dari ikan tempura segar. Suamiku sendiri yang memancingnya semalam,” saut Ajhuma pemilik kedai.
“Wooa. . . suamimu hebat sekali Ajhuma,” puji Hyuk Jae.
“Ah, itu sudah menjadi pekerjaannya,” jawab Ajhuma itu malu-malu “Ayo, cobalah Nona,”
Yoon Hye menghela nafas pelan sambil mengambil satu tusuk tempura itu dari tangan Hyuk Jae dan mencobanya “Mm, ini memang enak,” katanya pelan.
“Tentu saja, ayo silahkan tambah,”
“Ah, ini saja sudah cukup Ajhuma,” jawab Hyuk Jae.
“baiklah, jadi semuanya sembilan ribu woon,” kata Ajhuma.
Ajhuma penjual terus menatap mereka. Yoon Hye menghentikan makannya kemudian menatap Hyuk Jae. Merasa ada yang menatapnya, Hyuk Jae menoleh ke arah Yoon Hye “A-apa?” tanyanya.
“Sembilan ribu won!!” saut yoon hye garang.
“Aku tidak bawa uang, jadi kau dulu yang membayarnya, araseo?!” sautnya sambil melegang pergi.
“YAA LEE HYUK JAE!!! Aiiish . . . Bos macam apa dia,” gerutu Yoon Hye sambil memberikan uang kepada Ajhuma penjual tempura, menundukkan kepalanya sejenak kemudian menyusul laki-laki itu.
“YAA berhenti kau!! Kita harus kembali ke kantor!!” teriak Yoon Hye “LEE HYUK JAE SSI, KAU BOS YANG SANGAT PAYAH!!”
Hyuk Jae menghentikan langkahnya kemudian berbalik menghampiri Yoon Hye “APA MAKSUDMU DENGAN MENGATAIKU DI DEPAN UMUM??” teriak Hyuk Jae.
“KAU YANG MEMULAINYA!!”
“KAU ITU HANYA BAWAHAN, TIDAK SEHARUSNYA KAU BERSIKAP SEPERTI INI!!” bentak Hyuk Jae tepat di depan wajah Yoon Hye.
“MWO? JADI KARENA KAU SEORANG BOS JADI KAU BISA SEENAKNYA MELAKUKAN APAPUN KEPADAKU?? MENYURUHKU MEMBAYAR ICE CREAM DAN MAKANAN YANG KAU MAKAN??”
Kini banyak orang yang berhenti untuk melihat mereka berdua. Pertengkaran di tengah jalan sangat menarik perhatian mereka.
Wajah Hyuki terlihat merah “KAU DIPECAT!!” bentaknya.
“Kau tidak bisa memecatku Tuan Lee, bukan kau yang menerimaku bekerja dan menggajiku!!”
“Ka__u. . .”
“Apa? Apa yang ingin kau lakukan? Aku hanya menjalankan tugasku dari Appamu yang menyuruhku untuk mengawasimu. Jika beliau tau hal ini aku tidak tau apa yang akan terjadi kepadamu. Jangan merasa kau adalah atasanku jadi kau bisa memperlakukan__”
“……”
Kalimat itu langsung terputus bersamaan dengan tubuh Yoon Hye yang membeku. Laki-laki itu menghentikan bibirnya yang berbicara dengan cara yang tidak pernah diduganya. Bibir laki-laki itu sudah melumat bibirnya. Menekannya dalam hingga ia tidak mampu berbicara lagi.
“Aku tidak akan segan melakukan ini jika kau mengomel lagi Nona Kim,” bisiknya tajam kemudian pergi begitu saja.
Hening. . . Yoon Hye masih membeku di tempatnya. Matanya memandang kosong. Jantungnya masih terasa berhenti.
“Agashi, apa kau baik-baik saja?” tanya seorang Ajhuma sambil menatap Yoon Hye.
“A-aku. . .”
“Waaa. . . romantis sekali. . .” seru seseorang.
“Benar, seperti dalam drama-drama. . .” saut yang lainnya.
Wajah Yoon Hye terasa panas seketika. Ia membungkuk dalam-dalam kemudian segera berlari pergi dari situ. Aigoo. . . Ia benar-benar ingin menghilang dari bumi ini.

Tbc…