Awalnya aku hanya berfikir bahwa hidup itu butuh realita. Bagaimanapun dirimu yang sekarang ini, kelak, tidak akan pernah ada yang tau. Seperti yang kulihat ketika awal seorang bayi lahir ke dunia. Ia akan mengalami fase-fase seperti tengkurap, merangkak, berjalan, berbicara. Lalu setelah itu apa? Belajar dengan bersekolah, bekerja. Kemudian? Pacaran, menikah, punya anak dan menjadi tua lalu mati. Hanya saja dalam fase-fase tersebut banyak pilihan langkah yang di ambil sehingga ada beberapa bagian yang tidak dilalui dengan semestinya. Namun tetap tujuan terakhir dari hidup itu adalah mati.

Dari semua itu aku menjalani hidupku dengan realita yang ada. Aku menyimpan mimpi dan khayalanku dalam tulisan-tulisan yang kubuat. Namun semakin lama aku semakin berfikir. Bahagiakah aku dengan hidupku sekarang? Tidak…
Aku telah melewati beberapa fase itu dengan baik. Dan tidak mengecewakan orang tuaku. Mereka bahagia, mungkin. Tapi tidak denganku…
Ada sesuatu yang kurang dalam hidupku dan aku tidak tau apa itu. dan tujuan akhir dari hidup yang kupikirkan, mulai goyah. Kemudian aku menyadari bahwa dalam raga yang hidup itu mempunyai jiwa. Jiwa yang dapat merasakan. Mulanya aku membentengi jiwaku agar tidak pernah terhanyut dalam perasaan. Karena itu satu-satunya cara untukku agar tidak terluka. Namun, semakin lama aku sadar, caraku itu membunuh jiwaku perlahan. Membuat hati ini menjadi beku dalam kekosongan.
Tawa dan air mata… kita membutuhkan keduanya untuk dapat melihat kebahagiaan. Tapi kapan? Dan aku mulai takut. Bagaimana jika air mata dan tawa ini habis sebelum aku melihat kebahagiaan itu?
Aku ingin membunuh diriku yang sekarang ini. aku membenci diriku yang sekarang ini. seorang gadis yang menyedihkan dan hanya mengikuti pergerakan hidup tanpa mimpi dan angan. Aku lelah, sungguh. aku ingin melepas semuanya.
Pernahkah kalian mendengar ungkapan ‘tidak ada yang tidak mungkin’? kini aku percaya ungkapan itu. semuanya bisa. Tentu saja. saat aku melihat anak-anak jalanan yang mengamen, atau pengemis yang meminta. Bahkan kisah-kisah dari pelacur yang kubaca. Membuatku berfikir. Itu adalah pilihan mereka. Dan aku yang seperti ini pun adalah pilihanku. Ada banyak jalan yang dapat mereka pilih. Anak-anak jalanan itu bisa saja belajar yang rajin untuk memperoleh beasiswa hingga dapat menyelesaikan pendidikannya dengan baik dan mendapat pekerjaan yang layak. Atau pengemis yang daripada meminta, berusaha menjadi pengusaha kecil. Bahkan pelacur pun sebenarnya dapat memilih pekerjaan lain jika ia mau berusaha. Dan aku berfikir, sepertinya mereka melupakan kisah nabi sulaiman yang lebih memilih ilmu daripada kekayaan. Dengan ilmu kita dapat mencari kekayaan. Namun dengan ilmu, kebahagiaan belum tentu bisa dirasakan.
Dalam buku eleven minutes karya Paulo Coelho yang mengisahkan tentang seorang pelacur, aku menyadari perasaanku sama dengan Maria, gadis pelacur itu. saat menjadi pelacur dia berfikir, mengapa ia menjalani profesi ini sementara tidak ada perasaan bahagia apapun yang di rasakannya sementara ia dapat bebas memilih pekerjaan lain yang lebih baik. Apa yang di carinya? Dan apa yang didapatkannya? Ia bisa saja pergi dari tempatnya bekerja. Namun mengapa tidak dilakukannya? Dan aku merasa juga begitu…
Aku bisa saja pergi meninggalkan profesiku. Mencoba hal-hal baru. Namun mengapa tidak kulakukan? Kini aku dapat memahami perasaan Maria. Tidak, lebih tepatnya aku dapat memahami perasaanku sendiri sendiri lewat Maria. Aku bukannya tidak bisa lepas dari semuanya, tapi aku yang tidak bisa melepasnya. Dan itu semua karena keputusasaan yang didominasi oleh ketakutan. Ketakutan akan hidup, ketakutan akan takdir, ketakutan untuk melangkah, ketakutan oleh luka yang didapat. Dan itu semua membuatku bertahan dalam fase ini tanpa merasakan kebahagiaan.
Akan tetap sama jika aku tidak meneruskan titik yang telah kubuat. Aku butuh bantuan. Karena aku tidak mampu melanjutkannya sendirian. Siapa yang dapat membantuku? Dan bagaimana caranya mendapatkan kebahagiaan yang hakiki? Mampukah aku menyadari dan memahami makna dari kebahagiaan itu??