Tags

,

Author : Park Hani
Tittle : Evil or Angel
Cast : Dennis Park a.k.a Leeteuk Super Junior
Ardean Vey

NB : kali ini seri devil bikinan tante vhy,, dan murni milik tante vhy!!
happy reading ^^

~Prolog~
Di suatu dunia iblis sedang diadakan perkumpulan untuk iblis muda yang belum sempurna menjadi iblis(?)

“Seperti yang kalian ketahui, untuk menjadi iblis sempurna, kalian harus membuat seorang manusia menangis!” ucap menteri kependudukan iblis(?), “oleh karena itu, kalian masing-masing akan tinggal di dunia manusia bersama sebuah keluarga manusia. Jika kalian berhasil membuat salah satu anggota keluarga tersebut menangis, maka kalian lulus. Jika tidak, kalian akan dieliminasi dari dunia iblis. Khukhukhu…
Waktu yang kalian punya hanya 1 bulan! Dan ingat baik-baik, larangan utama untuk seorang iblis adalah cinta! Jika kalian terkena yang namanya cinta, maka kalian akan gagal. Dan cinta itu ada bermacam-macam jenisnya, rasa suka itu juga termasuk. Pokoknya jika kalian merasa menyukai sesuatu dan tidak ingin menyakiti, merusak ataupun kasihan, maka kalian akan gagal dalam ujian!!”
“Yessss!!”
Bouuugh…
“Yakk, kenapa kau melempariku penghapus??” teriak namja iblis muda yang sekarang berdiri dari duduknya.
“Siapa suruh bermain PSP dan tidak mendengarkan kata-kataku?!” balas bu menteri sebal.
Sementara ibu menteri iblis dan iblis muda yang bernama Cho Kyuhyun itu adu mulut, seorang iblis muda lainnya yang tampaknya paling tua di antara mereka sedang asik memakan es krim hasil rampasannya dengan kedua tangannya. Iblis ini terkenal sangat amat pelit. Dia tidak suka membagi apapun yang menjadi miliknya dengan orang lain.
“Yaa!!! Leeteuk!! Berikan es krim yang ada di tangan kananmu padaku.” teriak Heechul, iblis yang sangat arogan sambil berusaha merampas es krim milik Leeteuk.
“Jangan harap!! Kalau kau mau, kau cari saja sendiri!” Leeteuk berusaha melindungi es krim miliknya.
“Yaa!! Hentikan!!!” teriak ibu menteri yang langsung membuat Leeteuk dan Heechul berhenti berebut es krim.
“Baiklah ke 13 devilku,” sambung ibu menteri, “jaga baik-baik diri kalian selama di dunia, bersikaplah selayaknya iblis. Kalian berhak menunjukkan identitas kalian, dan tenang saja karena kekuatan kalian tidak akan menghilang.”
“Memangnya kapan kami harus berangkat?” tanya Ryewook, devil yang memiliki wajah imut yang bisa menipu lawannya.
“Abad depan!! Tentu saja sekarang bodoh!!” sewot ibu menteri.
“Tapi aku belum berpamitan pada appa dan eomma” sahut Yesung, pemilik skill dead voice.
“Setan tidak butuh itu,” maki ibu menteri kesal, “tidak perlu member salam perpisahan juga!!” sambungnya cepat saat Sungmin akan membuka mulut.
“Wow, pembaca fikiran yang bagus,” gumam Donghae.
“Tentu saja!! Khukhukhu…” Taeyon tertawa setan.
“Oi, jadi kapan kita berangkat?? Be-Te neh dari tadi ngoceh mulu!” maki Heechul yang juga terkenal dengan hotmouthnya.
“Ah benar, aku jadi lupa. Oke semuanya, are you ready??” *ala spongsbob*
“Aya captain!!”
“I can’t hear youuuuu…”
“AYA CAPTAIN!!”
“Berangkaaaaaaatt!!!!”
Bluuuuuuusssssshhhhhhhh…………
Ke 13 devil itu langsung berubah menjadi asap dan menghilang dari pandangan.
“Bagaimana ujiannya?” Tanya seorang devil tiba-tiba.
Taeyon tersentak dan mendongak ke atas kemudian tersenyum.
“Sangat lancer yang mulia Lee Soo Man, mereka baru saja berangkat” jawab Taeyon kepada devil yang bergelantungan di atap seperti kelelawar itu.
“Kemana saja mereka??”
“Hemm… Leeteuk ke Inggris, Shindong ke Ethiopia, Sungmin ke Venezuella, Donghae ke Mesir, Hangeng ke Cina, Heechul ke Brazil, Yesung ke Jepang, Ryewook ke Thailand, Kangin ke Hongkong, Kinbum ke Amerika, Kyuhyun ke Korea dan Eunhyuk ke Indonesia.”
“Hmm… Bagus! Kalau begitu, siapkan para Lucifer untuk ujian bulan depan. Ada berapa orang??”
“5 orang! Onew, Key, Jonghyun, Minho dan Taemin.”
“Baiklah, aku mau pergi main airball dulu, OK. See you!!” raja iblis itu kemudian mengepakkan sayapnya yang hitam dan besar kemudian terbang menembus dinding.

Chapter 1

Aku memarkirkan mobilku di sisi kiri jalan di kawasan Bridge Tower, kemudian berjalan menuju ke atas tower untuk mencapai jembatan gantung yang ada di atasnya. Tower Bridge adalah tempat yang paling sering aku kunjungi di kepenatan yang kurasakan setelah bekerja seharian di salah satu laboratorium di kota London. Tower Bridge ini sendiri merupakan salah satu tempat pariwisata yang terkenal di kota London yang membentang di atas sungai Thames. Jembatan ini menggabungkan dua desain jembatan, yaitu Bascule Bridge dan Suspension Bridge. Jembatan ini juga terdiri dari dua bangunan menara yang dihubungkan di tingkat atas dengan dua koridor untuk pejalan kaki dengan ketinggian 42 meter di atas sungai Thames. Dari atas sini aku dapat melihat banyak hal yang ada di kota London, di antaranya adalah Katerdal St. Paul dan London Eyes. Cahaya lampu yang berasal dari bangunan-bangunan yang ada di sekitar sungai Thames, berpadu dengan semburat jingga yang memantul di permukaan sungai Thames. Menambah keindahan suasana kota London senja ini. Mungkin ini adalah salah satu alasan aku untuk menetap di kota ini.
Di saat aku sedang asik-asiknya menikmati keindahan yang ada, samar-samar pendengaranku terusik oleh erangan seseorang. Kuedarkan pandanganku tapi tak menemukan sumber suara itu.
“eerrrr… Help me… Please…”
Sepertinya suara itu berasal dari puncak tower. Kudongakkan kepalaku dan astaga!!! Tampak seorang pria bergelantung di salah satu pilar yang ada di puncak tower itu. Aku hanya menatapnya bingung tanpa tau harus berbuat apa.
“A-apa yang kau lakukan di atas situ??? Bagaimana bisa kau berada di atas sana???”
“Berhantilah bertanya dan bantu aku turun dari sini” teriaknya dengan susah payah.
“Bagaimana caraku melakukannya???” tanyaku, tapi pria itu tidak memperdulikan pertanyaanku.
Saat aku masih bingung memikirkan cara untuk membantunya turun, tiba-tiba dia kembali berteriak.
“Hei!!! Berdirilah tepat di bawah pilar ini”
Meskipun aku masih bingung dengan apa yang akan dilakukannya, tapi aku tetap menuruti keinginannya dan berdiri tepat di bawah pilar tempat dia tersangkut. Kembali kudongakkan kepalaku untuk melihat apa yang akan dilakukannya. Tampak dia sedang berusaha menggapai bahuku dengan kakinya… Tunggu dulu!!! Dia tidak bermaksud menginjak bahuku untuk dijadikan tumpuan bukan?!
Aku bergeser dari tempatku berdiri dan berteriak “Apa yang akan kau lakukan??? Apa kau berniat untuk menginjak bahu atau bahkan kepalaku heh???”
Dia tampak terkejut dan sepertinya baru menyadari kalau aku sudah tidak berada di tempat yang diinginkannya. “Apa yang kau lakukan?? Kembalilah ke bawah pilar. Kepalamu tidak akan hilang hanya karena kuinjak!!!”
What?? Dia bilang apa?? Huh, siapa dia seenaknya memerintahku seperti itu dan dengan bodohnya aku menuruti keinginannya. Aku merasakan sesuatu yang kasar dan berat di bahuku dan…
Hupp!!!!
“Aaaahhh…. Terima kasih sudah menolongku. Siapa namamu?? Aku Leeteuk, maksudku Dennis Park, itu nama Inggrisku!!”
Dia tersenyum sambil mengulurkan tangannya. Senyuman itu menampakkan lesung pipi di sebelah kirinya dan err… itu tampak manis kurasa meskipun wajahnya tampak bodoh. Aku menyambut tangannya dengan malas karena masih kesal dengan ulahnya barusan.
“U’r welcome. Namaku Vey… Ardean Vey!! Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Lain kali berhati-hatilah… Bye!!!”
Buru-buru aku menarik tanganku dan berbalik meninggalkannya. Aku benar-benar masih kesal. Aku ke tempat ini dengan niat untuk menghilangkan penat yang aku rasa, tapi pria itu malah membuatku makin merasa lelah saat menolongnya tadi. Apa itu bisa dikatakan menolong karena aku melakukannya dengan terpaksa?? Hah, apa perduliku?? Aku baru berjalan beberapa langkah, aku merasa ada seseorang yang mengikutiku. Tapi lagi-lagi aku tidak mau perduli. Aku memang orang yang selalu acuh dengan keadaan di sekelilingku, tapi itu bukan berarti aku tidak peduli pada orang yang membutuhkanku. Tiba-tiba aku merasakan seseorang menahan lenganku yang kuyakini adalah pria itu.
“Ada apa lagi??!!” tanyaku ketus.
“Hei, tidak bisakah kau berbicara lebih lembut?? Kau itu seorang gadis,”
“Apa pedulimu? Baiklah, kalau tidak ada urusan lagi, lepaskan tanganku karena aku harus pulang. Hari sudah malam.” ujarku dingin sambil berusaha membebaskan tanganku yang masih dicekalnya.
“Bisakah aku ikut denganmu dan tinggal di rumahmu?? Aku tidak punya tempat tinggal. Aku mohon, tolonglah aku sekali lagi,” ucapnya dengan wajah memelas.
“What??? Are you crazy?? Bagaimana mungkin aku mengizinkanmu tinggal bersamaku?? Aku gadis yang hidup sendiri jadi aku tidak mungkin membawamu ke rumahku. Kau itu seorang pria heii!!”
Aku benar-benar shock mendengar permintaannya. Dasar pria aneh!! Bagaimana bisa aku bertemu dengan pria sepertinya. Dia tiba-tiba ada di ujung pilar yang ada di puncak tower kemudian menyusahkanku saat membantunya turun. Dan apa lagi ini, dia memintaku untuk membawanya pulang ke rumah padahal aku baru saja mengenalnya. Benar-benar tidak masuk akal.
“Ayolah… Tolong aku,”
“Tidak!! Sekali tidak tetap tidak!!!”
Aku kembali berbalik dan meninggalkan pria aneh itu dan menuju mobilku yang kuparkir di bawah.

~Dennis POV~
“Tidak!! Sekali tidak tetap tidak!!!”
Meskipun diucapkan dengan pelan, tapi ada nada ketegasan dalam kalimatnya. Huftt… sepertinya akan sulit mendekatinya. Tapi bukan iblis namanya kalau aku tak berhasil meluluhkannya. Ardean Vey, sejak pertama melihatnya aku sudah yakin kalau dialah orang yang harus kubuat menangis agar aku bisa lulus ujian untuk menjadi iblis permanen(?). Sepertinya tidak akan sulit, gadis kan sangat mudah menangis. Oke, meskipun dia melarangku untuk mengikutinya , tapi aku tetap membuntutinya. Dia berjalan menuju sebuah mobil yang terparkir di sisi jalan. Sepertinya itu mobilnya. Aku tau dia menyadari kehadiranku, tapi sepertinya dia tidak mau perduli. Yeah, dengan kemampuan yang kumiliki, dapat kuketahui kalau gadis ini adalah sosok yang angkuh. Dia berjalan ke salah satu sisi mobil dan membuka pintunya, aku melakukan hal yang sama di sisi sebelahnya dan mendaratkan pantatku kursinya. Saat aku menoleh ke arahnya, dia langsung menyambutku dengan tatapan membunuh. Sebenarnya yang iblis aku atau dia, tatapannya benar-benar menakutkan. Aku hanya memamerkan cengiranku dan mengangkat jari tulunjuk dan tengahku di tangan kiriku.
Sepertinya dia sudah sangat lelah sehingga dia langsung mengemudikan mobilnya setelah mempelototiku tanpa protes sedikit pun dari mulutnya. Ah, apa perduliku, yang penting aku bisa ikut ke rumahnya. Vey melajukan mobilnya menuju pinggiran kota London. Aku mulai merasa mengantuk saat kurasakan mobil berhenti. Kuedarkan pandanganku keluar, tampak sebuah rumah mungil dengan taman yang tidak terlalu luas tapi dihiasi dengan berbagai jenis tumbuhan. Meskipun malam hari, taman itu tetap terlihat indah di bawah cahaya lampu taman yang remang-remang. Di salah satu sudut taman terdapat ayunan yang bisa diduduki dua orang.
“Ini rumahmu???” tanyaku tanpa menoleh kepadanya.
Hening… Saat aku menoleh padanya, dia sedang berusaha membuka sabuk pengamannya. Setelah berhasil membukanya, dia menoleh kepadaku dengan tatapan yang tak bisa kumengerti.
“Apa kau akan tetap di sini?? Kalau tidak, turunlah!!”
“Oh, Oke!”
Aku membebaskan diriku dari sabuk sialan yang tiba-tiba sulit dibuka itu lalu menyusul Vey yang sudah mendahuluiku. Ketika memasuki ruang tamu rumah ini, aku di sambut dengan suasana yang cukup nyaman . Di sisi kiri ruangan ini terpampang sebuah lukisan air terjun di tengah hutan yang sangat indah. Sepertinya gadis ini sangat menyukai keindahan alam, hal ini nampak dari lukisan tadi serta ornamen-ornamen lain yang terbuat dari kayu. Aku masih mengagumi ruangan ini saat Vey keluar dari kamar dengan baju yang berbeda, sepertinya dia sudah membersihkan diri. Kulihat dia berjalan menuju salah satu ruangan yang kurasa itu adalah dapur yang digabung dengan ruang makan. Karena dari tempatku sekarang, ruangan itu dapat terlihat dengan jelas. Kemudian aku menyusulnya dan duduk di salah satu kursi di meja makan sambil terus memperhatikannya yang sedang menuangkan air minum ke dalam sebuah gelas. Suasana seperti ini sangat canggung. Sepertinya aku akan sedikit kesulitan untuk bisa membuatnya menangis jika kami hanya saling diam seperti ini?? Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang aneh dari perutku. Lapar, yah rasa lapar. Bagaimana mungkin aku bisa merasa lapar, bukankah aku seorang iblis yang tidak pernah merasa lapar?? Apa ini karena aku sedang ada di dunia manusia sehingga aku juga bisa merasakan lapar seperti mereka??
“Vey, bisakah kau membuatkanku makanan?? Aku sangat lapar.”
Dia hanya melotot tanpa menjawab pertanyaanku, meskipun begitu kulihat dia mengeluarkan bahan makanan dari dalam kulkas dan mulai memasak. Aku hanya mengamatinya yang sedang membungkus kentang dengan aluminium kemudian memasukkannya ke dalam oven untuk dipanggang sambil sesekali menguap. Ah, ini sangat membosankan. Aku benar-benar ingin segera menyelesaikan tugasku lalu kembali ke duniaku. Setelah menunggu hampir setengah jam, akhirnya sekarang di hadapanku telah tersedia kentang dan steik yang dilapisi dengan saus marinade.
“Makanlah selagi masih panas” ujarnya.
Aku memakan masakan itu dengan lahap. Tapi tunggu dulu… Kenapa dia tidak makan dan hanya menatapku dengan mata melotot? Apa aku begitu mempesona sehingga dia tidak bisa mamalingkan pandangannya dariku? *bang kadir narsis ==” *
“Why?? Kenapa menatapku seperti itu??” nafsu makanku langsung menguap entah ke mana karena tatapannya itu.
“Siapa kau sebenarnya???” tiba-tiba wajahnya hanya berjarak beberapa senti dengan wajahku.
“Eh, bukannya aku sudah bilang namaku Dennis Park??” Jawabku bingung.
“Maksudku dari mana asalmu, siapa keluargamu, bagaimana bisa kau ada di puncak tower itu dan kenapa kau mengikutiku?”
“Bisakah kau bertanya satu persatu??”
“Jawab saja pertanyaanku, tidak usah banyak protes!!!” bentaknya dengan mata melotot.
Uwooo… Kenapa dia sangat galak?? Sial.. Apa aku harus memberitahukan padanya siapa aku sebenarnya?? Baiklah nona, kita liat apa kau bisa percaya kalau aku adalah seorang iblis.
“Kalau aku bilang aku seorang iblis yang sedang menjalankan ujian untuk memperoleh gelar iblis yang sebenarnya, apa kau akan percaya??”
“What??? Kau pikir aku anak kecil yang bisa percaya begitu saja pada bualanmu itu?? Mana ada iblis yang memiliki tampang BODOH sepertimu?? Lagipula kau tidak memiliki sayap serta tanduk merah yang menakutkan dan tidak seharusnya kau tersangkut di atas tower seperti itu.”
“Terserah, kau mau percaya atau tidak, tapi aku mengatakan yang sebenarnya. Dan apa perlu kau mengatakan kata bodoh dengan penekanan seperti itu??” aku benar-benar tidak suka disebut bodoh.
“Terserah aku mau bilang apa!! Lalu, apa yang kau inginkan dariku??”
“Izinkan aku tinggal bersamamu!!” Kulihat dia membelalakkan mata.
“NO!!!” bentaknya (lagi) sambil menjauhkan wajahnya dariku.
“Aku tidak akan menyusahkanmu.”
“Aku tidak percaya!! Kau sudah berkali-kali menyusahkanku!!
“Ayolah, aku benar-benar tidak akan menyusahkanmu lagi.” Aku terus membujuknya dan itu harus berhasil.
“Apa kau yakin tidak akan menyusahkanku?? Berapa lama kau akan tinggal disini??” tampaknya dia sudah mulai melunak meskipun tatapannya masih tajam.
“Sampai aku berhasil membuatmu menangis”
“Maksudmu???”
“Bukankan sudah kukatakan, aku ini adalah seorang iblis yang ditugaskan untuk membuatmu menangis agar aku bisa lulus ujian. Jadi aku akan tinggal bersamamu sampai aku bisa membuatmu menangis”
“OK!! OK!! Terserah kau saja. Ini semua benar-benar tidak masuk akal. Kau boleh tinggal di sini. Tapi kuperingatkan padamu, jangan pernah mencampuri urusanku, jangan menggangguku dan jangan menyentuh barangku tanpa izin. Mengerti!!!”
“Baiklah… Aku mengerti.”
“Bagus! Sekarang bereskan sisa makananmu, aku mau tidur. Aaa… Satu lagi, kau boleh tidur di kamar tidur tamu. Di sana ada beberapa pakain pria yang bisa kau gunakan.” ujarnya sambil meninggalkanku.
Setelah gadis itu berlalu, aku hanya menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Sepertinya dugaanku meleset, tidak ada singa berwujud manusia sepertinya yang bisa menangis dengan mudah. Aku harus mencari tau apa yang bisa membuatnya menangis. Setelah meneguk segelas air, aku kemudian membersihkan meja dan beranjak menuju kamar yang dimaksud Vey.

tbc…