Tags

, , , ,

Tittle : Different Heart
Cast:
– Lee Eunhyuk
– Lee Hyuk Jae
– Min Seo Rin (Saya)
– Kim Yoon Hye (Sudah pasti saya juga)
– Hyo Yeon
– Cho kyuhyun + Lee Hyo Ra (jelas ini juga saya, wkwkwk maruk!)


“Kau sudah bertemu dengannya??” tanya wanita itu penuh harap.
Eunhyuk mengangguk pelan sambil mengunyah daging asapnya.
“Bagaimana keadaannya?”
Laki-laki itu mengambil air kemudian meminumnya sebelum menjawab pertanyaan wanita itu. “Dia baik-baik saja Eomma… Tapi Appa memaksanya untuk bekerja di perusahaan menjadi seorang produser.”
Wanita itu mendesah pelan “Dia tidak akan senang… Dari kecil dia senang sekali bernyanyi dan bermain musik,”
“Eomma benar, dia bahkan memintaku untuk bertukar tempat dengannya,”
“Seharusnya Jae Suk mengenalinya lebih dalam, Hyuki tidak akan menurut begitu saja. Dia tipe anak pemberontak,”
Eunhyuk tersenyum lembut sambil menggenggam tangan Soo Eun, ibunya. “Bahkan kau mengenalnya dengan sangat baik Eomma,”
“Aku sangat merindukannya Hyuk ah,” tatapan Soo Eun menerawang. Ingatannya kembali pada saat ia harus berpisah dengan salah satu putranya. “Apakah dia merindukanku juga??” lirih Soo Eun pelan.
Eunhyuk hanya diam. Ia tidak tau harus menjawab apa karena ia memang tidak tau.
“Dia pasti marah padaku…” bisik Soo Eun pelan.
“Dia akan mengerti eomma,” jawab Eunhyuk menenangkan.
Soo Eun tersenyum sambil mempererat genggaman itu “Kau akan menginap malam ini?”
Laki-laki itu mengangguk pelan.
***

SREEET…
Selimut itu terhempas ke lantai begitu saja. seorang pria separuh baya menatap masam pada seseorang yang tengah memeluk gulingnya dengan nyaman.
“Lee Hyuk Jae bangun kau!!”
Tidak ada sautan.
Pria itu mendecak kesal. Ia tau bahwa tidak ada gunanya membangunkan laki-laki itu. Diambilnya ponsel sambil berjalan keluar kamar.
“Yeoboseo Nona Kim, … ini aku Direktur Lee. Aku minta bantuanmu sekarang juga!”
.
.
Yoon Hye mendecak kesal sambil menatap rumah itu. Tadi pagi-pagi Direktur Lee meneleponnya untuk meminta bantuan. Sepertinya sekarang selain menjadi seorang editor, ia juga menjadi pembantu dari Lee Hyuk Jae. Bukan hanya menjadi asistannya di kantor tetapi ia juga harus membangunkan laki-laki itu dan menyeretnya (jika diperlukan) ke kantor. Dan ia sudah di beri wewenang penuh untuk bertindak apapun. Termasuk menyiramnya dengan air jika laki-laki itu tidak mau bangun. Well, sangat menarik bukan?!
Ia memencet bell rumah itu. tidak lama kemudian seorang pelayan wanita membukakan pintu.
“Anyeong haseo, Kim Yoon Hye imnida. Saya mau menemui Direktur Lee,”
Belum sempat pelayan itu menjawab, terdengar suara seorang pria dari ujung tangga.
“Oh kau sudah datang rupanya,”
Yoon Hye membungkukkan badannya pada Direktur Lee yang sedang menuruni tangga “Aku ada meeting pagi ini jadi aku meminta bantuanmu. Dan untuk seterusnya tolong kau urusi dia, aku sudah malas dengannya. Kau mencekiknyapun aku tidak keberatan!!”
Yoon Hye hanya bisa membungkukkan badan pada pria itu. ia menghela nafas pelan setelah pria itu menghilang dari balik pintu. Kemudian ia menatap pelayan yang masih di sana “Maaf, bisakah anda mengantar saya ke kamar Lee Hyuk Jae ssi?”
“Mari Nona,”
Yoon Hye berjalan menaiki tangga mengikuti pelayan itu. Kemudian mereka berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna putih.
“Ini kamar Tuan Muda Nona, silahkan,”
“Kamsahamnida,” ucap Yoon Hye pelan.
Yoon Hye menatap pintu itu dengan ragu setelah pelayan itu pergi meninggalkannya. Laki-laki itu benar-benar membuatnya susah. Perlahan diketuknya pintu itu.
“Lee Hyuk Jae ssi??”
Tidak ada sahutan.
“PDnim, anda di dalam??”
Sunyi.
Perlahan, Yoon Hye meraih handle pintu lalu membukannya. Ia masuk dengan sangat hati-hati. Laki-laki itu masih memeluk gulingnya dengan nyaman. Dihampirinya selimut yang tergeletak di lantai lalu dipungutnya, diletakkannya kembali di atas tempat tidur.
“Lee Hyuk Jae ssi, kita harus ke kantor!!” kata Yoon Hye.
Laki-laki itu tidak merespon sama sekali.
“Lee Hyuk Jae ssi,” panggil Yoon Hye lagi. Di sentuhnya bahu itu lalu digoyangnya pelan “Lee Hyuk Jae ssi, bangunlah,”
“Ng… Eomma, sebentar…”
DEG
Yoon Hye tertegun mendengarnya. Nada suara itu terdengar sangat manja, seperti anak kecil. “Lee Hyuk Jae ssi,” panggil Yoon Hye lagi sambil menggoyangkankan bahu Hyuk Jae lebih keras.
“Uummm…” laki-laki itu berbalik masih memejamkan mata sambil menarik tangan Yoon Hye, memeluknya.
“YAA!!” pekik Yoon Hye seketika sambil menarik tangannya membuat laki-laki itu membuka matanya dan langsung terbangun.
“YAA sedang apa kau di sini??” tanya Lee Hyuk Jae terkejut.
“Cepat bangun, kita harus ke kantor sekarang!!”
“Sedang apa kau di sini??” ulang Hyuk Jae dingin.
“Direktur Lee yang memintaku kemari untuk membangunkanmu hari ini dan selanjutnya!!”
Hyuk Jae mendecak kesal sambil berbaling lagi memeluk guling “Pergilah!”
“Lee Hyuk Jae ssi, kau harus bangun!” kata Yoon Hye.
Tidak ada sahutan. Yoon Hye mendesah kesal. “Lee Hyuk Jae ssi!!”
Laki-laki itu masih melanjutkan kegiatannya. Yoon Hye berfikir sejenak kemudian melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Well, sepertinya laki-laki itu memang harus dibantu untuk mencuci muka. Diambilnya air dengan baskom kecil tempat air hangat untuk merendam kaki kemudian menghampiri laki-laki itu lagi.
BYUUURR…
“YAA!!”
“AAAARRGH…”
BRUUUK….
Tepat ketika air itu mengguyur kepala Hyuk Jae, laki-laki itu tersentak. Tangannya menyambar tangan yoon hye. Menarik gadis itu hingga jatuh menimpanya lalu ia membalikkan badan hingga kini Yoon Hye yang berada di bawahnya. Tertindih tubuhnya.
Tubuh Yoon Hye menjadi kaku. Matanya terbelak menatap mata laki-laki itu. Air dari kepala dan rambut Hyuk Jae menetes-netes membasahi wajah, leher dan bajunya. Untuk sesaat keduanya saling menatap.
“Ck,” Hyuk Jae berdecak kesal sambil beranjak dari atas tubuh Yoon Hye. Laki-laki itu berjalan ke kamar mandi tanpa berkata apapun lagi sementara Yoon Hye menghela nafas sambil mengeluh pelan.
***

“Apa? Hye Sun ssi tidak bisa hadir karena cedera??” tanya Hyuk Jae.
“Kita harus mencari penggantinya secepatnya,” gumam Sutradara Shin.
“Apa tidak bisa memakai orang lain Hyung Nim?” tanya Eunhyuk “Peran Hye Sun ssi hanya sebagai asistan dosen saja bukan? Lagipula dia tidak punya dialog sama sekali, hanya bertugas memberikan lembar tugas pada siswa,”
“Kau benar, dia memang hanya menjadi cameo. Tapi siapa yang akan melakukannya??”
Semua terdiam dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba saja Eunhyuk melangkah menghampiri seorang gadis lalu menarik tangannya.
“Yaa, apa yang kau lakukan?” pekik gadis itu terkejut.
Eunhyuk menyeretnya ke depan hairstyle “Nonna, tolong kau permak dia untuk menggantikan Hye Sun ssi,”
“Ige mwoya??”
“Hyuk ah, kau memakai Seo Rin ssi sebagai pengganti Hye Sun??” tanya Sutradara Shin.
“Apa tidak ada yang lebih baik dari dia?” tanya Hyuk Jae lalu menatap Yoon Hye.
“A-apa?” tanya Yoon Hye gugup.
“Kita lihat saja nanti!!” jawab Eunhyuk.
“Baiklah semua bersiaap!!” teriak Sutradara Shin.
Hari ini syuting di mulai. Setting tempat yang di gunakan adalah sebuah universitas di Korea.Setelah pengambilan beberapa skrip berhasil, mereka istirahat selama sepuluh menit.
“Sebentar lagi Seo Rin harus keluar, tanyakan apakah dia sudah selesai atau belum!” perintah Sutradara Shin.
“Heiishh… Apa dia sehancur itu sehingga memerlukan waktu yang lama untuk mengubahnya menjadi Cinderlella?!” gumam Hyuk Jae.
“Akan kupanggil dia,” saut Eunhyuk tidak perduli.
“Dia sudah siap,” kata hairstyle itu tiba-tiba.
Semua terdiam menatapnya. Gadis yang berdiri di sebelah hairstyle itu berdiri dengan canggung. Rambut gadis itu tertata rapi dengan dijepit sedikit dibagian belakangnya. Dahinya di beri poni hingga terlihat lebih muda dan cute. Kaca matanya sudah berganti lensa kontak. Ia mengenakan pakaian putih berkerah V dengan lengan melebihi siku, rok lebar berujung lancip-lancip selutut berwarna cream garis-garis dan hingheels bertali berwarna putih. Ditambah dngan aksesories yang memebuatnya lebih feminim dan anggun.
“Apa aku tidak salah lihat??” tanya Sutradara Shin.
“Hyung, sepertinya kau harus menyesal sudah mencampakannya,” kata Eunhyuk.
Hyuk Jae hanya menatap tajam dengan tangan dilipat di depan dada.
“Eunhyuk ssi, kenapa harus aku??” bisik Seo Rin cemas.
“Ayo kita lanjut syutingnya!!”
.
.
“CUT!!” teriak sutradara “Seo Rin ssi, kau terlalu gugup. Cobalah lebih rileks! Ini sudah yang ke empat kali, mau diulangi sampai kapan??”
“Mi-mianhae…” ucapSeo Rin sambil membungkuk berkali-kali. Dalam hati ia mendesis kesal pada oknum yang telah membuatnya jadi seperti ini.
“Meskipun dia sudah berubah menjadi angsa tetap saja tingkahnya seperti bebek,” dengus Hyuk Jae.
“Dia gadis yang menarik,” saut Yoon Hye.
“Tau apa kau?!”
“Meskipun dia mantan kekasihmu aku lebih mengenalnya Tuan Lee,”
“Aku bahkan tidak rela disebut sebagai mantan kekasihnya.”
“Dia juga tidak! Kelihatannya Eunhyuk ssi tertarik kepadanya,”
Kepala Hyuk Jae berputar dengan cepat ke arah Yoon Hye yang berdiri di sebelahnya. Ia menatap tajam gadis itu meskipun tau bahwa Yoon Hye lebih memperhatikan map-map yang dipegangnya.
Akhirnya syuting selesai saat hari sudah malam. Semua staf sedang berkemas-kemas.
“Eunhyuk ah, kau mau pulang? Bolehkah aku ikut? Aku ingin bertemu Ajhuma,” pinta Hyo Yeon pada Eunhyuk yang tengah membereskan alat-alat.
“Ada apa?” tanya Eunhyuk tanpa menoleh.
“Yeon ah, kuantar kau pulang ne? sekalian kita makan bersama,” Hyuk Jae tiba-tiba saja muncul.
“Hyuk Jae ya, mianhae… Tapi aku ingin bertemu dengan Ajhuma. Kau mau ikut??”
“Ani!” jawab Hyuk Jae dingin.
“Hyung, Eomma merindukanmu,” kata Eunhyuk.
“Aku tidak punya Eomma,” saut Hyuk Jae kemudian berlalu begitu saja.
Sementara Yoon Hye yang berada tidak jauh dari mereka, hanya bisa tertegun. Bukankah tadi pagi laki-laki itu memanggil Eommanya?!
“Yoon Hye ssi, kau perlu bantuan?” tanya Seo Rin yang sudah memakai pakaiannya lagi. Tapi riasan rambutnya masih sama.
Yoon Hye menggeleng pelan sambil tersenyum “Aku sudah selesai. Kau bisa pulang,”
“Baiklah, kita bertemu lagi besok,”
“Tentu, dan hari ini kau cantik sekali. Cobalah berdandan, tidak perlu seperti tadi, cukup perhatikan riasan dan pakaianmu, kau sebenarnya sangat manis,”
“Benarkah? Kurasa aku akan belajar mulai sekarang,”
Mereka tertawa kecil saat seseorang berjalan mendekat ke arah mereka. “Seo Rin ssi, bisa kita bicara sebentar?” tanya Hyuk Jae datar.
“A-ada apa??”
.
.
“Apa hubunganmu dengan Eunhyuk??” tanya Hyuk Jae sambil menatap lurus ke depan. Jalan di sepanjang sungai han itu terlihat legang.
“Tidak ada. Kami hanya kebetulan bertemu dan tidak menyangka bahwa dia adalah kembaranmu yang juga bekerja di perusahaan,”
“Kuberitahu kau, aku benar-benar tidak suka orang lain tau bahwa aku pernah berhubungan denganmu. Bukankah sudah kubilang bahwa aku sedang mengikuti taruhan saat itu?!”
“Aku juga tidak mau. Itu hanya kecelakaan!!”
“Apa kau menyukai Eunhyuk??”
“Mwoya? Eunhyuk ssi?? Kau pikir aku ini apa?? Bahkan jika disuruh memilih diantara kalian aku tidak akan mau!! Kalian sama-sama brengsek!”
“Jika Eunhyuk sampai menyukaimu, kau harus kembali kepadaku!!”
“Apa?”
“Jika Eunyuk menyukaimu, kau harus jadi pacarku lagi!!”
“A-apa kau sudah gila??
“Aku tidak pernah main-main dengan kata-kataku!!” jawab Hyuk Jae sambil mulai menjalankan mobilnya lagi.
.
.
Kamar itu terlihat gelap. Hanya ada sinar dari lampu di luar yang masuk melalui jendela kamar itu. seorang gadis sedang duduk bersandar di dinding. Ia menekuk lututnya. Ditangannya ada sebuah pigora kecil yang membingkai sebuah foto. Foto sebuah keluarga.

‘Eomma, aku tidak ingin tinggal di asrama,’
‘Yoon bisa pulang tiap bulan bukan?’
‘Tapi Yoon ingin tinggal di rumah,’
‘Jangan begitu sayang, berilah contoh yang baik untuk adikmu, ne?’
‘Tapi,’
‘Yoon sayang Yeon bukan?’
‘Ne,’
‘Gadis pintar,’

‘Eomma, aku ingin ikut ke Jepang…’
‘Bukankah Yoon ada lomba besok?’
‘Tapi…’
‘Menangkan lomba itu untuk eomma dan appa ne?’
‘Baiklah,’
‘Anak pintar…’

‘Aku membencimu Eonni!!’
‘Wae? Apa salahku yeon?’
‘Kenapa Eomma, Appa selalu menyuruhku sepertimu? Aku memang tidak sepintar kau, mengapa Eomma dan Appa selalu membandingkanku denganmu? Aku tidak ingin punya Eonni! Aku membencimu!!’

Isakan itu terlalu pelan. dalam kegelapan yang tidak ada seorangpun bisa melihat, Yoon Hye mengeluarkan semuanya. Rasa perih yang mendera hatinya. Pada akhirnya ia tetap sendirian. Dari kecil ia harus tinggal di asrama. Ia harus belajar untuk memberi contoh yang baik untuk adiknya. Dan semakin lama ia semakin lelah. Ia ingin sekali hidup seperti Hyo Yeon yang bebas. Yang dapat bermain dengan teman-temannya, yang dapat pergi kemana pun yang ia suka. Tapi Yoon Hye? Bahkan untuk berkumpul dengan keluarganya pun dia tidak bisa. Dia harus mempertahankan prestasinya supaya orang tuanya tidak kecewa. Tapi ia lelah berpura-pura. Dan pernyataan Hyo Yeon membuatnya mengambil satu keputusan. Pergi dari rumah.Ia tidak ingin lagi berpura-pura. Ia ingin bebas. Tapi pada kenyataannya ia tetap sendiri.
***

“Apa kau baik-baik saja??” tanya Hyo Ra saat melihat Seo Rin meletakkan sumpitnya. Ia tau betul Seo Rin tidak akan menyisakan makanan bahkan dalam keadaan kesal nafsu makannya dapat naik berkali-kali lipat.
“Mmm,” gadis itu mengangguk pelan.
“Aku senang kau sedikit merubah penampilanmu, tapi tingkahmu jadi terlihat aneh. Yaa, apa ada sesuatu yang terjadi??”
“Hyo Ra ya, apa menurutmu aku tidak perlu datang ke lokasi syuting itu?? Tugasku menulis sudah selesai bukan?”
“Tentu saja, untuk apa kau ke sana?”
“Sutradara Shin terkadang memintaku untuk melihat,”
“Tapi tidak perlu harus setiap syuting bukan?”
“Kau benar…”
“Ada apa?”
“Mwo?”
“Ya Min Seo Rin, tingkahmu sangat aneh!! Kau menyembunyikan sesuatu dariku huh??” Hyo Ra menyipitkan matanya menatap curiga.
Seo Rin menatap gugup “A-aniyo…”
“Seo Rin ah, kau tau akibatnya jika tidak memberitahuku bukan??” tatap Hyo Ra tajam “Cepat katakan padaku sekarang juga!!!” bentaknya.
.
.
“Lee Hyuk Jae ssi, anda harus ke lokasi syuting sekarang, ada beberapa wartawan yang ingin melakukan wawancara,” Yoon Hye mengikuti laki-laki itu dengan kesal. “Lee Hyuk Jae ssi!!”
“Aku bosan!!” saut Hyuk Jae sambil terus berjalan keluar dari gedung kantor.
“Tapi kau seorang Produser yang harus bertanggung jawab!!”
“Dari awal aku tidak ingin menjadi produser!!”
Yoon Hye menghentikan langkahnya. Dirinya tercenung. Mengapa laki-laki itu begitu mudah lari dari tanggung jawabnya?? Bukankah mereka sama saja? Sama-sama melarikan diri?
Hyuk Jae yang menyadari suasana menjadi hening berhenti melangkah lalu berbalik menatap heran Yoon Hye yang kini tengah berdiri sambil melamun. Ingatannya melayang saat ia mengetahui bahwa Kim Yoon Hye dan Kim Hyo Yeon adalah bersaudara. Ia tidak menyangka bahwa Yoon Hye adalah Eonni yang diceritakan oleh Hyo Yeon itu. tapi ada sesuatu yang membuat Hyuk Jae menjadi ragu. Hyo Yeon pernah mengatakan kalau Yoon Hye kabur dari rumahnya, mengapa?
Mengapa ia jadi memikirkan hal itu? itu bukan urusannya. Hyuk Jae mendengus pelan kemudian membalikkan badan lagi.
Bruuuk…
Tubuhnya tanpa sengaja menabrak seorang Ajhuma. Belanjaan yang dibawa Ajhuma itu jatuh berantakan.
“Hyuki…”
Hyuki membelakkan mata menatap Ajhuma itu. Di dunia ini hanya satu orang yang memanggilnya seperti itu.
“Eomma…”
Wanita itu terlihat hampir menangis menatap putra yang bertahun-tahun tidak di lihatnya itu “Kau Hyukiku…” bisiknya lirih.
Hyuk Jae tercekat. Pikirannya berkecamuk “Maaf, saya tidak sengaja,” katanya parau lalu cepat-cepat pergi.
“Hyuki!!! Tunggu!! Hyuki ya!!” teriak wanita itu di sela tangisnya.

Tbc…