Tags

,

Author : Park Hani
Tittle : Evil or Angel
Cast : Dennis Park a.k.a Leeteuk Super Junior
Ardean Vey

NB : kali ini seri devil bikinan tante vhy,, dan murni milik tante vhy!!
happy reading ^^

~Dennis POV~

“Maaf karena tidak pernah bersikap baik padamu dan selalu marah-marah padamu. Maaf karena telah memukulmu tadi”
Oh, ayolah… Apa aku tidak salah dengar??? Dia, seorang serigala betina berhati es *jelek bgt tuh julukan =.=* meminta maaf?? Sepertinya ada makhluk lain yang menguasai otaknya hingga dia berubah seperti itu. Atau ini adalah sifat aslinya?? Atau dia sudah mulai terpesona dengan ketampananku?? *-______- narsis again* Aaahhh… Apa perduliku… Bukankah ini akan lebih memudahkan pekerjaanku. Aku bersorak di dalam hati. Hahahahaha….
“Tidak usah meminta maaf seperti itu. Aku sudah terbiasa dengan sikapmu yang tempramental itu, jadi aku bisa memakluminya. Lagi pula, kau sudah berbaik hati menerimaku di sini, jadi seharusnya aku berterima kasih padamu.”
Hei, dari mana aku memperoleh kata-kata menjijikkan seperti ini?? Seorang iblis sepertiku tidak seharusnya berkata sebaik itu. Semoga saja menteri cerewet itu tidak menghukumku karena ucapanku tadi.
Dia mengerjap-ngerjapkan mata bulatnya, sepertinya dia termakan dengan perkataanku barusan.
“Really?? Jadi kau mau memaafkan aku?? Oh God!!! Thank you!!! Thank you Mr. Park!!!” ucapnya sambil menggoyang-goyangkan lenganku dengan ekspresi yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Dia tersenyum, bahkan sangat lebar.
DEG!!!
Perasaan seperti tadi pagi muncul lagi.
Dia menghentikan gerakannya saat menyadari aku sedang menatap tangannya yang sedang memegang lenganku. Perlahan dia menarik tangannya dan tertunduk.
“Hei, mulai sekarang bisakan kau memanggilku Danny?? Mr. Park terdengar sangat aneh di telingaku”
“Mmm.. Baiklah..”
“Good girl” sambil mengelus rambutnya aku berdiri dan bersiap meninggalkan ruang makan. Jarang sekali dia menurut seperti itu.
“Danny!!! Bisakah kau menemaniku berbelanja bahan makanan untuk minggu ini?? Kulkas sudah kosong, kita tidak memiliki apapun lagi untuk dimakan nanti siang.” tiba-tiba dia kembali berteriak.
“Baiklah. Habiskan makananmu dan mandi, aku akan menunggumu sambil nonton TV.” ujarku sambil melanjtkan langkahku.
“OK!! 30 menit lagi aku siap.”
Sebenarnya ada apa dengannya, kenapa aku merasa sikapnya hari ini benar-benar aneh?? Aku menepiskan tanganku di udara untung menghilangkan pikiran aneh yang muncul di otakku.
>>>>
Hari ini aku kembali sendirian di rumah. Berdiam diri di rumah membuatku sangat bosan, jadi kuputuskan untuk membereskan rumah yang cukup berantakan karena Vey bangun kesiangan dan tidak sempat melakukan pekerjaan rumah. Sepertinya sikap angkuhnya kembali lagi karena sejak dia bangun sampai saat akan berangkat ke kantor, dia tidak membalas sapaanku sama sekali. Setelah menyelesaikan pekerjaanku, tiba-tiba timbul keinginan untuk masuk ke dalam kamar Vey. Aku sedikit ragu saat akan masuk ke kamarnya mengingat ancamannya di awal pertemuan kami. Lagipula ini adalah pertama kalinya aku masuk ke kamar gadis.
‘Kenapa aku harus takut padanya, yang iblis kan aku. Haaaaahhhh….’ -______-
Kamarnya sangat rapi dengan perpaduan cat berwarna putih dan biru sapphire berpola papan catur. Di rak samping tempat tidurnya terpampang foto ibunya dan sebuah agenda kurasa. Aku penasaran dan membaca isinya. Satu lagi fakta yang aku ketahui, ternayata ibunya meninggal akibat Leukimia yang dideritanya dan itulah alasan Vey bekerja di tempatnya sekarang. Dia dan teman-temannya sedang mengadakan penelitian untuk menemukan obat yang mampu menyembuhkan penyakit mematikan itu. Dia tidak ingin orang lain merasakan sakit yang dialami ibunya. Ternyata di balik sikap dinginnya, dia adalah gadis yang lembut.
>>>
~Vey POV~

Sial!! Hari ini aku bangun terlambat lagi. Kemarin aku dan Danny memutuskan mengunjungi tempat-tempat menarik yang ada di kota London sebelum membeli bahan makanan. Diantaranya adalah Katerdal St Paul, Istana Kensington dan Kebun Binatang ZSL yang terletak di Regent’s Park. Aku cukup menikmati perjalanan kami. Danny adalah orang yang sangat menarik. Dia banyak melontarkan lelucon dan bertingkah konyol untuk menarik perhatianku. Kurasa usahanya cukup berhasil, sesekali aku tersenyum menanggapi tingkahnya. Kami kembali ke rumah saat hari sudah gelap. Beruntung kami masih sempat berbelanja bahan makan dan secara kebetulan bertemu Yoon dan Marcus Cho, pria jangkung yang juga memiliki darah Korea.
Setelah memasukkan cottage pie ke dalam microwave dan menyuruh Danny makan, aku langsung masuk ke kamar. Aku benar-benar lelah. Tapi entah mengapa mataku tidak bisa terpejam?? Tiba-tiba saja aku merasa takut setelah mengingat kebersamaanku dengan Danny sepanjang hari ini. Aku takut menyukainya, meskipun harus kuakui sebenarnyaa saat ini aku mulai menyukainya. Aku juga takut bergantung padanya, takut suatu saat dia meninggalkanku di saat aku telah terbiasa dengannya. Yeah, ketakutan yang sama setiap aku dekat dengan seseorang. Aku masih belum bisa melupakan rasa sakitku saat kehilangan Dad dan Mom. Dan aku tidak ingin mengulangi rasa sakit itu, sakit saat harus kehilangan Danny. Aku masih ingat dengan jelas saat dia mengatakan hanya akan berada di sini dalam jangka waktu sebulan. Yeah, sudah kuputuskan untuk kembali menjaga jarak dengannya. Kurasa ini adalah keputusan terbaik untukku sebelum aku terlalu dekat dengannya.
Tanpa sadar aku mengangguk mantap dengan keputusanku, kemudian buru-buru masuk ke kamar mandi dan bersiap-siap ke kantor. Aku benar-benar tidak sempat melakukan apapun pagi ini. Kutinggalkan rumah yang masih berantakan, berharap Danny mau berbaik hati membersihkannya. Aku sempat berpapasan dengannya di ruang tengah, tapi aku tidak memperdulikan sapaannya.

~Author POV~

“Danny!! Where are you???” teriak Vey sambil menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tengah.
“Hei!! Bisakah kau tidak berteriak seperti ini??” Dennis keluar dari kamarnya dengan tampang lusuh.
“Ini rumahku jadi aku bebas untuk teriak-teriak” ujar Vey tajam.
“Tapi kau mengganggu pendengaranku nona pemarah!!”
“Kau boleh angkat kaki kalau tidak suka!!”
“Baiklah… Baiklah… Lagi-lagi kau menang nona pemarah. Sebenarnya yang iblis itu aku atau kamu???”
“Mana aku tau. Lagipula tidak ada iblis bodoh sepertimu. Sudahlah, aku mau makan di luar tapi kalau kau tidak mau aku akan sangat bersyukur” Vey langsung berbalik dan meninggalkan Dennis.
“Tunggu aku!! Aku juga lapar. Apa kau tega melihat kondisiku yang mengenaskan ini??”
“Ck, aku tidak percaya ada iblis yang bisa lapar dan makan banyak sepertimu??”
“Terserah apa katamu, aku sedang lapar.”
“Kau yang bayar!!!”
“Aku tidak punya uang heeiii…. Sial!!!”
“Bilang saja pelit!!”
“Aku tidak pelit!!” *Teukppa bohong*plakk!!! Abaikan*

Setelah menikmati makan malam mereka, Vey dan Danny sepakat untuk ke Bridge Tower. Saat ini mereka sedang bersandar di pagar pembatas yang ada pada jembatan gantung itu sambil menikmati suasana kota London di malam hari.
“Vey, aku boleh bertanya padamu??”
“Apa?? Katakanlah!!”
“Mengapa kau selalu bersikap dingin hampir pada setiap orang yang kau temui. Aku sangat jarang melihatmu tersenyum dan tertawa. Kau juga tidak pernah menangis. Yang paling sering kutemui hanyalah wajah datar dan ekspresi marahmu.”
“Menurutmu, apa aku harus pura-pura tersenyum atau tertawa hanya untuk menyenangkan orang lain?? Lalu, apa aku masih bisa menangis saat tidak ada lagi hal paling menyakitkan yang harus kutangisi. Air mata ini terlalu berharga jika hanya untuk menangisi sesuatu yang sepele. Bagiku, kepergian ayahku dan meninggalnya ibuku adalah hal paling menyakitkan yang pernah aku alami. Kuakui aku kurang berinteraksi dengan banyak orang, tapi itu karena aku tidak ingin terlibat dengan orang-orang munafik seperti mereka. Satu-satunya orang yang paling dekat denganku adalah Yoon. Cuma dia yang bisa memahamiku.”
“You don’t have a boyfriend??” *sejak kapan Teukppa bisa ngomong Inggris??*
“No!! Aku tidak pernah dekat dengan pria manapun. Apa yang pernah dilakukan ayahku membuatku selalu menjaga jarak dengan mereka. Lagipula aku memang tidak ingin dekat dengan siapapun. Saat kau dekat dengan seseorang, tanpa disadari kau akan terbiasa dengan orang itu bahkan mungkin bergantung padanya. Lalu apa yang akan kau lakukan jika orang itu akhirnya meninggalkanmu juga?? Aku tidak ingin kehilangan lagi Danny, itu terlalu menyakitkan. Aku tau ini pengecut.”
“Lalu, bagaimana denganku?? Apa itu juga alasanmu selalu bersikap dingin dan marah-marah padaku??”
“Tidak juga!! Bukankah kemarin kita tertawa bersama?? Aku rasa kau berbeda dari mereka. Oh, ayolah… Bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau itu iblis. Mungkin itu yang membuatmu tampak berbeda.”
“Tapi kau tidak mempercayainya dan____ aku ingin melihatmu tertawa lagi.”
“Entahlah. Aku tidak yakin masih bisa tertawa seperti kemarin. Itu pertama kalinya bagiku selain saat bersama Yoon. Mmmm… Oh ya, jika kau tidak berhasil membuatku menangis, apa kau akan tetap tinggal di sini??”
“Tidak!! Aku tetap akan kembali ke duniaku meskipun dengan membawa kegagalan. Mungkin aku akan menerima hukuman karena kegagalanku. Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu??”
“Tidak apa-apa?? Ini sudah malam dan aku harus bekerja besok, ayo kita pulang!” ujar Vey sambil melangkah meninggalkan Danny.
Sepanjang perjalanan pulang mereka hanya membisu dengan pikiran masing-masing.
>>>

 

~Dennis POV~

Sejak pembicaraan kami kemarin malam Vey tidak pernah menyapaku lagi. Meskipun begitu dia tetap menyiapkan makan untukku, membuat jus strowbery, dan mencuci pakaianku. Sebenarnya dia gadis yang baik, tapi sepertinya masa lalunyalah yang membentuk pribadinya menjadi seperti ini. Entah mengapa aku ingin melihatnya tersenyum dan tertawa. Wajah cantik itu sangat sayang jika tidak dihiasi dengan senyuman. Aku juga tiba-tiba penasaran dengan ekspresi wajahnya yang lain.
“Astaga!!! Apa yang kupikirkan?? Aku harus membuatnya menangis, bukan tersenyum ataupun yang lainnya. Aku ini iblis!!! Ayolah Danny, cari cara untuk membuatnya menangis agar kau bisa kembali dengan membawa keberhasilan!!”
Aku benar-benar seperti orang gila sekarang, berbicara pada diriku sendiri. Untung saja gadis itu tidak ada, dia bisa berfikir aku benar-benar gila jika melihatku seperti ini.

“Apa yang kau lakukan di sini??”
“Kyaaaaaa….!!! Kenapa mengagetkanku??” aku terlonjak kaget karena tiba-tiba saja Vey sudah di sampingku.
“Dasar bodoh!! Siapa yang menyuruhmu melamun malam-malam di tempat ini??” yah, saat ini aku sedang duduk di ayunan yang ada di taman.
“Aku menunggumu. Aku lapar!!”
“Kenapa tidak makan?? Bodoh!!”
“Aku tidak bisa masak!!”
“Apa perduliku!!”
“Kau harus perduli padaku!!”
Vey berbalik dan melongo melihatku. Apa aku salah bicara lagi??
“Untuk apa aku perduli padamu?? Kau bukan siapa-siapa bagiku. Kau hanyalah orang aneh yang tiba-tiba datang dalam hidupku dan mengaku sebagai iblis.”
“Aku memang iblis dan aku aneh. Apa kau puas?? Tapi aku ingin melihatmu tersenyum, mungkin itu sedikit lebih baik dari pada melihatmu menangis. Berhentilah menyiksa diri dengan masa lalumu. Kau pantas mendapatkan kebahagiaanmu, bukan dengan menjadi manusia yang memiliki hati sedingin es. Masih banyak yang hidupnya lebih buruk darimu, tapi mereka masih tetap bisa tersenyum dan menikmati kehidupan mereka.” entah apa yang baru saja aku katakan. Mulutku bekerja lebih cepat dari otakku.
“Dasar bodoh!! Jangan perdulikan aku!! Aku sangat menikmati hidupku!!” gadis itu langsung membalikkan badannya dan menghambur masuk rumah. Kurasa kali ini dia benar-benar marah.
Aku menyadari sesuatu saat ini. Aku ingin melihatnya tersenyum meskipun dengan konsekuensi aku gagal dalam ujian ini. Dia sudah cukup tertekan dengan masa lalu yang membelenggunya. Tidak masalah jika dia tidak mau menangis lagi, yang penting sekarang aku sangat ingin melihat dia tersenyum seperti beberapa hari yang lalu.

“Vey, maafkan aku.” kuketuk pintu kamarnya perlahan. Hening. Tidak ada jawaban. “Vey, buka pintunya. Aku minta maaf padamu kalau ucapanku tadi sangat kasar. Aku mohon buka pintunya.”
“Pergilah!!” Dia menyahut dari dalam kamarnya. “Aku sudah memaafkanmu. Jangan ganggu aku karena aku tidak ingin melihatmu lagi. Aku sudah terbiasa dengan kehidupanku yang seperti ini, aku menikmatinya. Terima kasih karena sudah mau perduli padaku.”
Aku hanya terdiam mendengar jawabannya. Apa dia mengusirku sekarang?? Meskipun diucapkan dengan nada yang sangat lemah, entah mengapa itu membuatku merasa benar-benar terusir jika dibanding saat dia menyuruhku pergi dengan cara yang kasar dan ini____ entah mengapa ini terasa sangat menyakitkan.
Perlahan aku membalikkan badanku meninggalkan pintu kamar Vey. Ada perasaan berat meninggalkannya dalam kondisi seperti ini. Aku benar-benar telah gagal dalam ujian ini, tapi aku tidak perduli. Aku hanya tidak ingin gadis itu terluka. Aku sudah siap menerima hukuman apapun yang akan diberikan raja iblis padaku.
Aku menatap nanar seluruh isi rumah ini. Ada banyak hal yang kutemui di sini meskipun sang pemilik rumah lebih banyak diam atau marah-marah. Sudut bibirku sedikit terangkat saat melihat meja makan. Di meja makan itulah Vey pernah memperlihatkan senyumnya padaku. Senyum yang tiba-tiba saja ingin kulihat terus menghiasi bibirnya.
Kutinggalkan rumah milik Vey malam ini juga. Meskipun waktuku masih ada beberapa hari, tapi aku sudah memutuskan untuk tidak mengganggu hidupnya lagi. ‘Maafkan aku Vey’. Aku terus melangkah meninggalkan rumah itu tanpa menoleh sedikitpun. Entah mengapa ada perasaan berat untuk pergi dari sini.
Baru beberapa langkah aku meninggalkan pagar rumah Vey, tiba-tiba angin berhembus sangat kencang. Pohon-pohon dan lampu jalan yang ada di sekitarku ikut bergerak, bahkan sebuah mobil sedan yang baru saja lewat di hadapanku terlempar sangat jauh akibat terpaan angin ini. Aku masih belum menyadari apa yang terjadi saat tiba-tiba kurasakan sesuatu yang sangat lebar dan berwarna hitam berkilau keluar dari punggungku.
Sayap!!!!!

tbc