Tags

,

MY EVIL HEART

– CHAPTER TWO-
author : song hyo jin
Cast :
– Kim HeeChul
– Song HyoJin/Sylvia (ini nih untungnya punya nama yg rada western hehe)

Annyeong readers… *waving hand*.. aku balik lagi bawa ff seri evil yang prolognya asli dari Vea. Kali ini castnya adalah uri Cinderella. Happy reading n mudah-mudahan ga mengecewakan…


– Keesokan harinya –

Heechul terbangun dan langsung bangkit dari tempat tidur, dia bermaksud mencari Hyojin, tapi nihil. Dia tidak menemukan keberadaan gadis itu di ruangan manapun. Akhirnya dia menghempaskan tubuhnya di sofa. Seketika dia teringat akan foto yang dilihatnya kemarin dan bergegas mengambilnya. “hmm, siapa pria ini? Kenapa dia mirip sekali denganku?” Heechul memejamkan matanya untuk menjelajahi masa lalu dari gadis itu. Kelebihan yang dia punya yaitu bisa melihat masa lalu tapi tidak bisa merubahnya (mirip yang di Harry Potter itu loh).
.
.
.
“hei, what are you doing here?” Alicia mengagetkan Hyojin yang sedang duduk di kursi taman kampusnya. Hyojin kaget dan mengelus dadanya, Alicia tertawa melihat reaksi Hyojin yang menurutnya berlebihan =_=
“sit down, I wanna ask you something” ucap Hyojin (selanjutnya aku bikin pake bahasa indonesia aja ^^) “kau percaya akan reinkarnasi?” tanya Hyojin pada Alicia
“no! orang yang sudah meninggal tidak akan bisa kembali lagi” ucap Alicia tegas.
“lalu apa yang terjadi pada orang yang sudah meninggal?” tanya Hyojin lagi
Alicia tertawa “sylvia! Aku belum merasakan yang namanya kematian, kau harus mencoba dulu, baru kau tau apa yang terjadi” Hyojin pun tersenyum “aku rasa hanya akan ada dua pilihan, Neraka atau Surga” sambung Alicia.
“Neraka atau Surga” gumam Hyojin, otaknya berfikir “Al, apa orang yang masuk neraka akan menjadi iblis??” tanyanya dengan penuh semangat
“oh God!! Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku? Kalau kau ingin menanyakan hal itu, pergilah kemanapun yang menurutmu bisa memberikan jawaban yang masuk akal. Aku hanya mengerti fashion my dear!!” kesabaran Alicia mulai menipis, Hyojin memajukan bibirnya, dia merasa belum puas dengan jawaban yang diberikan Alicia. Melihat itu Alicia sedikit iba pada Hyojin. “I think, kalau seseorang masuk neraka dia akan diberikan hukuman, bukan menjadi iblis, kecuali…..”
“kecuali apa?”
“kecuali hidupnya di dunia begitu kejam atau ada yang hilang dari bagian tubuhnya” (Author ngasal…) “oke, I’ll have to go, see ya!!” Alicia bangkit dari duduknya dan meninggalkan Hyojin yang masih berpikir
“heechul oppa tidak punya hati” gumam Hyojin sambil meremas baju depannya. “hatinya ada padaku….” Tanpa Hyojin sadari darah mengalir dari hidungnya, ia buru-buru menengadahkan kepalanya. Dan merogoh isi tas nya untuk mengambil tissu.
.
.
.
“dari mana saja kau?” tanya Heechul yang melihat Hyojin baru pulang dengan tissu yang menyumbat hidungnya. Heechul mengerutkan dahinya, tapi seketika wajahnya kembali datar… tidak tertarik dengan apa yang terjadi dengan gadis itu. Hyojin hanya diam dan melewati Heechul lalu melangkah menuju kamarnya. “yak! Aku bertanya padamu?” Heechul menarik lengan Hyojin dengan kuat untuk menghadap padanya. Hyojin terkejut, pandangan matanya mengisyaratkan kesedihan, Heechul yang melihat reaksi itupun mengendurkan genggamannya.
“kenapa kau kembali?” ucap Hyojin lirih
“apa?!!” tanya Heechul tidak mengerti
Hyojin melepaskan pegangan tangan Heechul di lengannya dan melangkah pelan menuju kamar, lantas menutup pintu kamar tersebut. Heechul memandangi pintu itu, seolah-olah dia bisa melihat sosok Hyojin dari balik pintu tersebut. Dia tau sebenarnya apa yang dimaksud Hyojin, tapi dia tidak tau harus menjawab apa karna dia pun tidak tau apa-apa. Dia tidak bisa mengingat siapa Hyojin, yang dia tau seorang namja bernama sama dengan namanya dan berwajah sangat mirip dengannya mendonorkan organ tubuhnya pada Hyojin. Heechul perlahan memegang dadanya…..
.
.
.
Hari ini Hyojin tidak ada jadwal kuliah, dia memilih mengerjakan tugasnya mendesain sebuah gaun malam. Tapi dia tidak bisa berkonsentrasi karna Heechul sedari tadi mengkrtik gambarnya.”gambarmu seperti gambar anak TK” atau “apa ini pantas disebut gaun?” atau yang lebih parah lagi “seharusnya kau mengambil jurusan seni lukis abstrak!!”. Hyojin menghempaskan tangannya ke atas meja dan itu sukses membuat Heechul kaget. “sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?!!!” bentak Hyojin.
Heechul menyandarkan tubuhnya sambil melipat tangan di depan dada.. “gampang.. aku hanya ingin kau menangis untukku”
“airmataku sudah tidak ada lagi untukmu!!” balas Hyojin dengan ketus
“untukku atau untuk pria yang memberikan hatinya padamu itu?” Heechul tertawa meremehkan Hyojin
“dari mana kau tau?” Hyojin terkejut mendengar perkataan Heechul barusan
“itu tidak penting, sekarang menangislah… aku sudah tidak betah berada di dunia manusia”
Hyojin terdiam dan kembali meneruskan kegiatannya membuat sketsa gaun malam
“yak! Kau tuli hah?!!” bentak Heechul. Hyojin menoleh pada Heechul dengan pandangan yang sulit ditebak.
“apa karena hatimu kau berikan padaku, maka kau bersikap seperti ini oppa?” tanya Hyojin datar.
“yak! Sylvia!! Apa yang kau katakan? Aku menyuruhmu menangis, maka menangislah atau…”
“atau apa?” tantang Hyojin
“aku akan bersikap kasar padamu” ancam Heechul. Hyojin lagi-lagi meneruskan pekerjaannya. Tiba-tiba Heechul memukul kepala Hyojin dengan diktat Hyojin yang sangat tebal
“Awww!!” Hyojin melotot kearah Heechul dan Heechul memandang Hyojin dengan pandangan menantang
“sakitkah? Kalau begitu ayo menangis!!” ucap Heechul
“tidak sekarang!!!” Hyojin melangkah pergi kekamar dan meninggalkan Heechul yang memandangnya dengan wajah tidak percaya.
.
.
.
.
.
Hyojin berjalan dengan langkah gontai, dia baru saja memeriksakan kesehatannya kerumah sakit. Dia hanya berfikir kalau apa yang dialaminya akhir-akhir ini hanya karna dia kelelahan, tapi dokter berkata lain, penyakitnya yang dikira sudah sembuh seratus persen ternyata belum sembuh total. Hati yang di donorkan Kim Heechul ternyata hanya cocok 85%. Ada kemungkinan kalau kanker tersebut musnah, tapi 15% kanker tersebut kembali, dan yang 15% inilah yang dialami Hyojin. Saat ini dia duduk di sebuah ayunan di taman dekat rumahnya. Dia menghela nafas panjang, lalu tersenyum lemah “sepertinya aku akan segera menyusulmu oppa” gumamnya.
.
.
Hari-hari Hyojin dilalui seperti biasa, dia tidak memberitahukan pada orangtuanya di Korea dan dia juga tidak memperdulikan Heechul yang selalu mempunyai cara untuk membuatnya menangis, mulai dari merusak baju kesayangan Hyojin, bahkan Heechul membanting foto kesayangan Hyojin tersebut. Hyojin hanya memandang Heechul tanpa berkata apa-apa. Dan itu membuat Heechul frustasi.
“aaargghh…” ia mengacak-ngacak rambutnya. “apa aku harus membakar foto ini?” Heechul melangkah ke dapur sambil membawa foto tersebut, ia bermaksud akan membakar foto itu diatas kompor =_=. Sekali lagi dia menoleh kebelakang untuk melihat reaksi Hyojin, Hyojin hanya melengos dan membuang muka tapi tiba-tiba dia terbatuk dan mengerang kesakitan. Heechul bertanya-tanya dalam hatinya apa yang terjadi pada gadis tersebut, tapi tiba-tiba Hyojin mengeluarkan darah dari mulutnya dan itu kontan membuat mata Heechul terbelalak
“apa yang terjadi padamu??” dia bergegas menghampiri Hyojin dan menjatuhkan foto tersebut sembarangan. “Sylvia!!” Heechul berteriak menyadarkan Hyojin yang pingsan, dia menepuk-nepuk pipi Hyojin dari amat pelan sampai dengan penuh tenaga alias di tampar =_= tapi Hyojin tidak juga sadar, lalu Heechul menggendong tubuh Hyojin dan memejamkan matanya, dia bergumam “Rumah Sakit” dan ketika Heechul membuka matanya dia sudah berada di depan Rumah Sakit (lebih keren dari ‘pintu kemana saja’ nya Doraemon ^^).

Heechul berlari disepanjang lobby Rumah Sakit sambil berteriak-teriak
“Yak! Tolong gadis ini cepat!!!”, tak lama kemudian seorang Dokter dan beberapa orang Perawat berlari mendekati Heechul dan mengambil alih tubuh Hyojin dan mereka bergegas masuk ke ruangan tindakan.

Heechul berjalan mondar-mandir dengan wajah khawatir “jangan sampai dia mati, dia belum menangis” gumamnya. Setelah 30 menit menunggu, dokter tersebut keluar dan menghampiri Heechul.
“Maaf, anda keluarga pasien?” tanya dokter tersebut. Heechul mengangguk
‘aku ini evil, jadi tidak apa berbohong’ ucapnya dalam hati.
“apa anda tahu kalau donor hati yang diperolehnya sudah 80% tidak berfungsi?” tanya Dokter itu lagi.
Heechul hanya memandang datar wajah Dokter tersebut ‘apa urusannya denganku?’ gumamnya dalam hati lagi. Melihat wajah Heechul yang biasa saja, justru membuat Dokter sedikit kesal.
“kau tahu tuan, nyawa nona Sylvia dalam bahaya, aku tidak yakin dia bisa melewati malam ini dalam keadaan hidup!” Dokter sedikit menekankan kata-katanya.
“APA!!!” Heechul panik dan segera menerobos masuk kedalam ruangan tempat Hyojin diperiksa.

“Sylvia bangunlah!” Heechul sedikit mengguncang tubuh Hyojin. Perlahan mata Hyojin terbuka dan tersenyum melihat Heechul.
“oppa…” suaranya terdengar lemah
“kau tidak boleh mati, kau harus menangis dulu ingat itu!”
“nama koreaku Song Hyojin.. panggilah aku dengan nama itu……..” Hyojin berjuang untuk mampu berbicara kepada Heechul. Heechul hanya diam dan menggelengkan kepalanya.
“aku tidak mau bertele-tele, cepat menangislah. Aku tidak akan membiarkan malaikat maut menjemputmu dulu sebelum kau menagis untukku!”
Hyojin tersenyum “kau memang keras kepala Kim Heechul” ucapnya
“apa maksudmu?” tanya Heechul yang tidak mengerti kenapa Hyojin memanggilnya dengan panggilan ‘Kim Heechul’
“dulu aku menyukai seorang pria, tidak…. Aku mencintainya, sangat mencintainya” Hyojin memandang langit-langit, menerawang, wajahnya terlihat sedih.
Heechul sudah tidak sabar lagi, lalu membentaknya “CEPAT MENANGIS JINNIE!!!”
Hyojin langsung mengalihkan pandangannya ke Heechul, matanya membulat dan senyum mengembang dari wajahnya “kau memanggilku dengan sebutan Jinnie, itu panggilan kesayanganmu oppa…”
Heechul terdiam, sebenarnya dia tidak sadar apa yang dikatakannya.
“oppa, mianhae.. aku tidak bisa merawat hatimu dengan baik. Tapi… salahkah aku kalau aku sengaja tidak merwatnya agar aku bisa menyusulmu? Aku sangat merindukanmu oppa. Selama ini aku berfikir hanya cukup berada di sisimu tanpa harus mengutarakan perasaan ku yang sebenarnya, tapi apa jadinya sekarang? Sejak kepergianmu, hidupku dipenuhi dengan penyesalan, menyesal karna aku tidak mau jujur padamu dan menyesal karna tidak ingin mengetahui bagaimana isi hatimu.” Heechul terdiam tetapi matanya tak lepas memandangi Hyojin yang bersusah payah untuk berbicara. “…… dan ini kesempatan terakhirku, aku tidak ingin menambah penyesalan ku lagi. Oppa… saranghae, jeongmal saranghae..” Airmata Hyojin mengalir, dan perlahan mata Hyojin tertutup.
Heechul terpaku melihat Hyojin yang sudah diam tidak bergerak lagi, dan tiba-tiba angin bertiup kencang menerbangkan benda-benda yang ada di ruangan tersebut. Sayap hitam Heechul terbentang, ia segera berlari ke jendela dan meloncat dari jendela tersebut, lalu melesat terbang kelangit malam yang kelam.

TBC