Gaun Pengantin Terakhir…

Aku menatap cermin di hadapanku ini dalam diam. Tampak sosok perempuan dalam balutan gaun putih polos sederhana dengan riasannya. Hari ini, aku, Asvia Anggraini, akan menikah dengan seorang laki-laki berumur dua puluh delapan tahun. Andreas Rangga Nugroho. Laki-laki yang telah menjadi temanku sejak kami masih kecil. Dia adalah teman sekaligus sahabatku. Dan sebentar lagi, akan menjadi suamiku.
Seharusnya aku bahagia. Memiliki calon suami yang sangat memahami diriku. Namun ada seseorang yang mungkin untuk saat ini, namanya tidak pantas untuk disebutkan oleh perempuan yang sebentar lagi akan menikah. Dimas Tinus Prasetyo. Dia adalah kakak sepupu dari Rangga yang tinggal di Bandung.
Saat pertama kali Dimas datang ke kota Jakarta ini untuk membantu Rangga mengurus café, aku sama sekali tidak menganggapnya. Tapi sikapnya yang begitu ramah dan humoris, membuatku sedikit demi sedikit menatapnya. Ada sesuatu yang berbeda pada dirinya dan aku tidak tau itu. Hingga saat aku berdiri di sini dalam balutan gaun pengantin, aku belum menemukan apa yang kucari.
Ada perasaan sesak yang mendera ketika aku mengingat sosoknya. Dan tidak seharusnya aku memikirkannya di saat aku akan menikah. Aku harus menerima bahwa dia telah mempunyai kekasih. Masih teringat jelas hari-hari yang kulalui bersamanya. Mungkin saat ini, aku dapat menganggapnya sebagai kenangan terindah dalam hidupku.
Aku pertama kali bertemu dengan Dimas saat Rangga mengenalkannya kepadaku di café miliknya tiga bulan lalu. Saat itu, aku sedang mengantarkan kue bolu buatan ibuku untuk dibagi pada keluarga Rangga. Awal bertemu, aku tidak bicara banyak dengannya. Bahkan terkesan dingin. Aku memang bukan perempuan yang mudah bergaul. Satu-satunya sahabat yang kumiliki hanyalah Rangga. Dan di hari-hari selanjutnya, dia sering membuatku kesal karena selalu menggodaku.
Semakin lama aku mengenalnya, semakin aku tertarik kepadanya. Dia adalah pribadi yang hangat. Ada saatnya aku melihat dia sedang bermain bersama anak-anak kecil. Di lain waktu aku melihatnya sedang bermain dengan kucing milik Rangga. Saat dia membantu Rangga mengurus café, dia selalu membagi senyumnya untuk semua orang. Membuat suasana menjadi lebih ceria. Dia juga suka membaca dan melukis. Aku menyukai sinar matanya yang ceria. Aku menyukai senyumnya yang tulus. Hingga lambat laun, aku menyadari bahwa hanya dia yang terlihat di mataku. Hanya dia sosok yang selalu kucari.
Aku masih ingat dengan jelas hal yang membuat hati ini tergores. Dan untuk pertama kalinya, aku sadar. Hidup, tidak sesederhana yang kita bayangkan. Semua mimpi-mimpi yang sudah terancang untuk sebuah kehidupan yang akan datang, berantakan oleh keputusan takdir.
Malam itu, Rangga mengajakku untuk makan di salah satu Resto favoritenya. Kami pernah ke Resto ini sebelumnya dan memang ayam panggang di sini terkenal enak.
“Tumben kamu ngajak aku ke sini Ngga,” candaku saat selesai makan.
Rangga tersenyum sambil mengelap tangannya “Ada yang mau aku bilang sama kamu Vi,”
Aku mengerutkan kening. Apa yang ingin dikatakannya hingga dia harus mengajakku makan di sini? Tidak biasanya Rangga seperti ini. “Oh ya? Apa?” tanyaku saat itu.
“Kemarin lusa, Ibu tanya sama aku. Kapan aku akan menikah?”
Kerutan keningku semakin bertambah “Lalu? Apa hubungannya denganku?” tanyaku bingung.
Rangga menghela nafas sejenak kemudian tersenyum “Kalau kamu yang jadi mempelai perempuannya, kamu mau Vi?”
Aku terdiam menatapnya. Apa dia bercanda? Tapi dia tidak pernah bercanda seperti ini. Apa ada yang salah dengan ayam yang dia makan tadi hingga kata-katanya jadi melantur seperti ini?
“Aku tau kamu pasti kaget,” lanjutnya saat aku hanya diam “Aku tidak bercanda Vi, aku serius. Kamu sudah kenal aku, dan aku juga sudah kenal kamu. Selama ini kita selalu bersama. Jadi aku pikir, kamu gadis yang paling tepat untuk mendampingi hidupku. Selain itu, dari dulu aku sudah menyukaimu…”
Saat itu mendadak aku seperti orang bodoh yang tidak bisa berfikir. Satu hal yang melintas di kepalaku hanyalah sosok Dimas.
“Saat aku bicara dengan Ibu, Ibu langsung setuju kalau kamu yang jadi istriku Vi. Aku sudah tidak mau main-main lagi sama perempuan-perempuan tidak jelas yang pernah menjadi pacarku dulu.” tambah Rangga.
“Aku… Butuh waktu Ngga,” hanya itu yang keluar dari bibirku saat itu. Aku tidak ingin memutuskan sesuatu yang menyangkut hidupku dengan tergesa-gesa. Menikah, bukanlah soal sepele.
Setelah hari itu, aku menjadi semakin pendiam. Hatiku bimbang. Memang benar aku sudah mengenal baik seperti apa sosok Rangga. Dia laki-laki yang cukup bertanggung jawab dan sudah mapan. Tapi bukan hanya itu yang kupikirkan. Ini tentang hati…
Mendapatkan Rangga sebagai suami adalah suatu keberuntungan untuk seorang gadis. Namun mengapa hatiku ini tidak rela? Kenapa? Apa karena aku menyukai seorang Dimas yang hingga saat ini aku belum tau bagaimana perasaannya terhadapku. Haruskah aku bertanya sendiri kepadanya?
Dengan ragu kuketik sebuah sms untuk Dimas. Mengajaknya bertemu di sebuah taman yang tidak jauh dari rumahku. Aku ingin memastikan sesuatu agar menjadi jelas. Selama ini sikap yang ditujukan Dimas kepadaku sedikit berbeda dari yang lainnya. Apa itu artinya dia juga menyukaiku?
Hari sudah sore saat aku menunggunya di taman itu. Langit sedikit mendung, membuat udara menjadi dingin. Kurapatkan jaket yang kupakai saat kulihat sosoknya sedang berlari-lari kecil menghampiriku.
“Sudah lama?” tanyanya dengan nafas sedikit tersegal, namun tidak mengurangi senyum di bibirnya.
“Baru saja,” jawabku sambil bergeser dari tempatku duduk. Memberi tempat untuknya.
“Ada apa?” tanyanya sambil duduk di sebelahku.
“Kamu dari mana?” tanyaku basa-basi, sedikit mengulur waktu untuk menetralkan detak jantungku yang menghentak kuat.
“Dari rumah saja, habis baca buku. Nih bukunya sampai kubawa,” jawabnya sambil tertawa kecil.
Aku tersenyum melihatnya “Buku apa?” tanyaku sedikit tertarik. Aku memang suka membaca. Apalagi novel-novel klasik.
“Mau lihat? Nih,” dia mengulurkan buku yang dipegangnya kepadaku.
Aku menerimanya sedikit ragu. “Pendosa. . .?” aku menatapnya penuh tanya saat membaca judul buku itu “Kamu suka baca novel seperti ini?”
“Ada beberapa hal yang bisa diambil dari kisah itu,” jawabnya sambil tersenyum.
Aku membalas senyumnya kemudian menunduk. Memperhatikan lagi buku yang kupegang itu. Lalu kubuka lembaran-lembarannya untuk melihat-lihat. Gerakan tanganku terhenti saat mendapati sebuah foto diantara lembaran-lembaran itu. kuambil foto itu dan kulihat, foto seorang gadis…
“Cantik bukan?”
Aku tersentak dan langsung menoleh ke arah Dimas. Menatapnya penuh tanya “Siapa?” tanyaku.
Dimas tersenyum lembut “Dia, Gadisku…”
Satu kalimat pendek itu langsung mematahkan semua harapanku. Menutup semua mimpi sekaligus menggores hati. ‘Dia, Gadisku…’ arti dari kalimat itu bahkan sangat jelas. Orang bodoh sekalipun pasti akan paham apa arti dari kalimat itu.
Dengan menahan sesak di dada yang tiba-tiba menyerangku, kukembalikan foto itu ke tempatnya semula dan mengembalikan buku itu lagi pada Dimas.
“Jadi, apa yang ingin kamu bilang sama aku?” tanyanya.
Aku menghirup udara teramat pelan lewat mulutku. Berhati-hati agar air mata yang siap keluar dari mata ini tidak menetes. Udara yang dingin seolah-olah semakin mengikat tubuhku.
“Kemarin… Rangga melamarku…” kataku pelan hampir tidak terdengar. Aku ingin pergi dari hadapannya dan menumpahkan air mataku. Tapi tubuh ini terasa kaku untuk digerakkan.
“Dia melamarmu??” tanyanya terkejut.
Aku mengangguk pelan tanpa berani menatapnya “Tapi aku belum memberikan jawaban…”
“Kenapa?” tanyanya langsung. Ada nada kecewa dalam suaranya.
“Aku masih bingung…” jawabku dengan susah payah. Berusaha agar suaraku tidak bergetar. “Menurutmu, apa aku harus menerimanya?”
“Tentu saja, kenapa tidak?! Rangga orang yang baik. Jarang sekali ada laki-laki seperti dia. Kamu beruntung Vi. Apa kamu tidak menyukainya? Bukankah kalian sudah lama berteman? Kurasa kamu juga sudah mengenal baik dia dan keluarganya, jadi apa yang membuatmu ragu?”
KAMU!! Jeritku dalam hati. Kamu yang membuatku ragu Dim!! Karena aku suka kamu!!
Ingin kuteriakkan kata-kata itu di hadapannya sekeras mungkin. Tapi aku hanyalah seorang perempuan yang bagaimana pun, ego selalu menahannya. Hingga akhirnya kata-kata itu hanya tersangkut di batinku dan membuat dadaku semakin sesak.
Mendung semakin gelap. Titik-titik air hujan mulai berjatuhan. Udara dingin semakin mencekam. Membekukan perih di hatiku.
“Aku tau kalau dia orang yang baik, aku hanya meminta pendapatmu,” jawabku pelan “Kalau kamu senang dengan hal ini, aku juga senang…”
“Vi…”
Aku menghela nafas dalam-dalam kemudian berdiri dari dudukku dan memaksakan diri untuk tersenyum kepadanya “Sudah hampir malam, aku harus pergi. Nanti keburu hujan deras,” ucapku senormal mungkin.
“Mau aku antar?” tawarnya sambil ikut berdiri dari duduknya.
Aku menggeleng pelan. “Biar aku naik taksi saja, sampai jumpa!” pamitku kemudian langsung melangkah pergi tanpa menunggu jawabannya.
Aku tidak menoleh ke belakang lagi. Karena hanya itu satu-satunya cara agar dia tidak melihat air mataku yang sudah mengalir. Kurasakan gerimis semakin lebat. Apa ini artinya langit bisa merasakan kesedihanku? Kuhentikan taksi pertama yang lewat dan langsung masuk ke dalamnya.
Tangisku pecah begitu pintu taksi itu tertutup. Kenapa aku tidak pernah berfikir sebelumnya bahwa ada gadis lain yang telah mengisi ruang hatinya? Mengapa aku sangat bodoh memikirkan bahwa dia memiliki perasaan yang sama denganku?
Taksi yang kutumpangi berhenti tepat di depan Café milik Rangga saat hujan turun semakin deras. Aku turun dari taksi itu tanpa menggunakan payung. Membiarkan hujan mengguyur tubuhku. Berharap air hujan itu dapat menghapus sedikit rasa sesak yang menderaku. Kuhentikan langkahku di halaman Café itu. Tidak sanggup untuk masuk ke dalam. Kulihat Rangga sedang berlari keluar dari Café untuk menghampiriku dengan membawa sebuah payung.
“Kamu kenapa hujan-hujanan seperti ini?” tanyanya saat dia sudah berada tepat di hadapanku, membagi payungnya untukku.
Aku hanya menatapnya sambil menggigil. Tubuh ini seperti mati rasa. Perlahan, dengan menahan perih di hatiku, kubuka bibirku “Aku bersedia Ngga. . . “
“Apa?” tanya Rangga tidak mengerti.
“Aku bersedia jadi istrimu. . .” lirihku di antara kerasnya suara air hujan.
Payung yang dipegang Rangga jatuh begitu saja. Dia menatapku tidak percaya. “Kamu serius Vi?”
Aku mengangguk pelan dan sedetik kemudian, tangan itu merengkuh tubuhku ke dalam dekapannya. Hangat peluknya pada tubuh yang beku ini terasa nyaman sekaligus menyakitkan.
“Makasi Vi. . .” bisiknya dan aku hanya bisa terisak dalam diam. Membiarkan air mata ini bercampur oleh air hujan. Menyerahkan hidupku selanjutnya pada takdir.
***
Aku berbalik, mengalihkan pandanganku dari cermin itu dan menghapus kenangan yang seharusnya tidak kuingat. Aku tidak boleh merusak hari ini dan mengecewakan seluruh keluargaku dan keluarga Rangga dengan air mataku. Aku mengerjap pelan, menghilangkan air mata itu sambil menghirup udara dalam-dalam agar dadaku tidak terasa sesak.
Gaun yang kupakai ini begitu cantik dan sangat pas di tubuhku. Aku tidak tau dari mana Rangga mendapatkannya. Dia tidak mengijinkanku untuk melihat gaun yang lainnya dan hanya memberiku gaun pilihannya ini. Tapi secantik apapun gaun ini, tetap yang berdiri bersamaku di depan altar bukanlah dia…
“Ayo vi, kamu sudah siap?”
Aku menoleh dan mendapati Ayahku sedang berdiri di ambang pintu. Segera kuhampiri beliau dan mengikutinya. Kami harus pergi ke gereja karena acara akan dimulai.
Seandainya dapat, aku berharap waktu tidak pernah berjalan. Perjalanan yang sebelumnya terasa jauh untukku, kini terasa pendek. Hingga tanpa sadar, mobil yang mengantar kami sudah berhenti tepat di depan gereja.
Aku masih tercenung saat Ayahku mengulurkan tangannya untuk membantuku turun dari mobil. Dengan gamang, kusambut uluran tangannya itu. Kutatap gereja besar itu dengan sedikit menggigil. Mengapa hatiku terasa dingin? Seorang anak kecil menyodorkan sebuket bunga mawar merah kepadaku. Aku menerimanya kemudian menggandeng lengan Ayah dan mulai berjalan pelan memasuki gereja.
Fikirku tidak lagi fokus saat pintu gereja itu terbuka. Aku tidak bisa merasakan alunan piano yang mengiringi langkahku, atau senyuman Rangga yang menantiku di depan altar sana. Dengan gelisah mataku mencoba menatap ke seluruh ruangan. Hingga sampai aku tiba di hadapan Rangga, dia tidak terlihat di mataku.
Ayah memberikan jemariku yang digenggamnya pada Rangga. Rangga menerimanya, kemudian menuntunku untuk menghadap Pendeta. Dan terucaplah sumpah itu. Sumpah yang akan mengikatku dalam pernikahan ini selamanya.
Air mataku menetes saat merasakan bibir Rangga yang mengecup keningku disertai tepuk tangan undangan. Aku tidak tau apakah ini air mata bahagia, atau penyesalan. Namun saat Rangga menuntunku untuk keluar gereja, aku melihatnya ada di sana. Berdiri di depan pintu gereja sambil memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana. Ada senyum tipis yang menghias bibirnya saat menatapku lekat. Dan sesak itu kembali menderaku.
Kami berhenti tepat di hadapannya. “Selamat ya Ngga,” ucapnya saat memeluk Rangga. Kemudian tatapannya beralih kepadaku. Dia tersenyum lembut “Kamu cantik sekali Vi… “ ucapnya pelan dengan senyum hangatnya.
“Ayo, saatnya lempar bunga,” kata Ibu yang sudah berdiri di sebelahku entah sejak kapan.
“Tidak perlu kulempar Bu,” jawabku tanpa mengalihkan pandanganku darinya “Bunga ini khusus kuberikan kepada seseorang agar dia bisa bahagia juga,” lanjutku pelan kemudian maju satu langkah dan mengulurkan bunga itu kepadanya.
Dimas terdiam sambil menerima bunga itu. “Untukmu Dim… Semoga kau juga cepat menemukan pengantinmu…” ucapku lirih.
Entah itu hanya ilusiku atau bayanganku, bibirnya tersenyum tapi aku melihat ada tetes air mata yang jatuh dari bola matanya dan sedetik kemudian tubuhnya limbung, terjatuh tepat di hadapanku, membuatku menjerit keras.
***
Mataku terasa panas dan berat. Namun air mata ini tetap saja terus mengalir. Entah berapa lama aku duduk di sofa yang ada di balkon kamarku ini. Aku tidak pernah siap dengan keadaan saat ini. Mengapa begitu cepat dia pergi? Mengapa tidak pernah memberitahu tentang penyakit kanker hatinya? Mengapa bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa?
Setelah dia jatuh tepat di depanku saat hari pernikahanku, dia mengalami koma selama empat hari. Dia sempat sadar dan bahkan berpesan kepadaku untuk tidak menangis sebelum akhirnya dia memejamkan mata untuk selamanya. Bagaimana bisa dia memintaku untuk melakukan hal itu? Bagaimana bisa dia memintaku untuk tidak menangis?
“Vi…” kudengar suara Rangga memanggilku pelan.
“Aku ingin sendiri Ngga,” lirihku dalam isak tangis. Pantaskah aku menangisinya seperti ini sementara aku telah menjadi istri dari orang lain?!
“Kamu tidak mau ikut ke rumah?” kurasakan remasan tangan Rangga bahuku “Semua orang sudah berkumpul di sana sekarang,”
Dengan berat hari aku terpaksa ikut Rangga untuk pergi ke rumahnya. Aku tidak ingin bertemu siapapun saat ini. Aku tidak ingin pergi ke rumah Rangga dan melihat foto hitam-putihnya ada di sana. Terpajang di atas meja dengan lilin-lilin yang menghiasinya. Aku tidak ingin melihatnya. Aku tidak sanggup. Tapi posisiku tidak mengijinkanku menyendiri. Statusku kini adalah istri dari seorang Rangga Andreas Nugroho. Jadi pantaskah aku meratapi kepergian laki-laki lain yang bukan siapa-siapaku?
“Kamu baik-baik saja Vi?” tanya Ibu Rangga saat aku ada di sana.
Aku mengangguk pelan sambil memaksakan seulas senyum “Saya kebelakang dulu Bu,” pamitku padanya. Alasan untukku agar tidak berada di ruang duka ini.
Aku melangkahkan kakiku menuju dapur saat seseorang memanggilku. “Kamu Mbak Asvia kan?” tanyanya saat aku menatapnya bingung.
Gadis itu menghampiriku sambil tersenyum. Dan aku mengenali senyum itu. Dia, gadis itu, adalah gadis yang kulihat di foto yang ada di buku Dimas saat itu. Gadisnya…
“Kenalin Mbak, aku Mira,” dia mengulurkan tangannya yang kusambut dengan ragu “Aku adiknya Mas Dimas.”
Adik?? Tubuhku langsung membeku mendengarnya. Apa maksudnya? Adik yang seperti apa? “Adiknya?” tanyaku ragu.
“Iya, aku adik kandungnya,”
Nafasku seolah terhenti mendengarnya. Lalu ucapannya saat itu, saat dia mengatakan bahwa gadis ini adalah gadisnya, apa maksudnya??
“Ternyata benar apa yang dibilang Mas Dimas. Mbak Via sangat cantik… Awalnya aku sempat cemburu karena selama ini, sejak dokter bilang Mas Dimas kena kanker stadium akhir, dia tidak pernah dekat dengan gadis manapun. Hanya aku yang menjadi gadisnya. Tapi saat bertemu Mbak Via, dia jadi semangat lagi meskipun dia tau hidupnya tidak akan lama. Dia selalu cerita tentang Mbak Via sama aku,”
Air mataku yang sebelumnya kutahan mati-matian, akhirnya jatuh. Aku berbalik dan berlari menaiki tangga tanpa memperdulikanya. Aku tidak boleh seperti ini. Tapi aku tidak sanggup. Kucari tempat di manapun untuk menyembunyikan diriku. Di mana kamar Rangga?! Kubuka salah satu kamar dan masuk ke dalamnya. Seketika itu juga nafasku tercekat.
Ada banyak kertas-kertas di dalam kamar ini. Ini bukan kamar Rangga. Kamar Rangga selalu rapi tanpa ada kertas-kertas yang berserakan seperti ini. Kupungut selembar kertas yang paling dekat dengan kakiku dan kulihat. Goresan pensil ini… Lukisan ini… Adalah milik Dimas. Ini adalah kamar Dimas.
Dan di sudut kamar di dekat jendela, kulihat ada selembar kertas lukis yang disangga oleh kayu. Itu lukisan seorang gadis. Tanpa sadar, kakiku melangkah pelan menghampirinya. Gadis itu begitu cantik dalam balutan gaun pengantin… Tanganku terangkat akan menyentuh kertas itu, namun jari-jari ini hanya bisa mengambang di udara tanpa sanggup menyentuhnya. Lambat laun, aku mulai mengenali sosok gadis itu. Aku membekap mulutku menahan tangis. Dia, gadis yang ada dalam lukisan hitam putih itu adalah aku.
“Dia sangat mencintaimu Vi…” kudengar suara Rangga di belakangku. Tapi tubuhku ini tidak bisa digerakkan. Terlalu kaku. Semua sistem saraf di tubuhku terasa mati.
“Kami berdua sama-sama mencintaimu… Tapi dia mengalah karena tau sisa hidupnya tidak akan lama lagi. Dan keinginannya yang terakhir hanya ingin melihatmu memakai gaun pengantin rancangannya. Maafkan aku Vi, aku tau sebetulnya kamu suka sama dia, tapi aku sudah berjanji padanya untuk menjagamu,”
Rangga menyentuh bahuku pelan dan aku langsung berbalik menghadapnya. Membenamkan wajahku ke dalam dadanya. Menumpahkan seluruh air mataku. Aku tidak perduli lagi apakah ini pantas atau tidak. Tapi hati ini tidak bisa berbohong bahwa aku memang mencintainya.
Gaun pengantin yang kupakai saat acara pernikahanku itu adalah gaun rancangannya. Dan itu adalah caranya sendiri untuk mengantarkanku ke pintu kebahagiaan. Dengan membuat sesuatu yang akan kukenang seumur hidupku. Aku tau dia tidak akan pergi meninggalkanku begitu saja. Dia akan selalu ada bersama kenangan itu, di hari saat aku menikah.
“Aku berjanji Ngga, gaun itu… Akan menjadi gaun pengantin terakhir yang kupakai… Aku tidak akan pernah memakai gaun pengantin lagi, bantu aku untuk menerimamu seutuhnya Ngga,” isakku.
“Kita jalani bersama pelan-pelan Vi, aku percaya sama kamu…” jawab Rangga sambil mempererat pelukannya.
Terima kasih Dimas… Terima kasih untuk kebahagiaan yang kau berikan kepadaku di saat-saat terakhirmu. Terima kasih untuk segala kenangan-kenangan yang ada. Aku tau kau akan selalu bersamaku, karena kau mencintaiku…