Tags

, ,

WARNING : FF INI ASLI CACAT!!

a-minute1

Manusia itu bodoh…
Mereka selalu membuat hal-hal menjadi rumit. Dan aku, tidak akan pernah ingin menjadi bodoh seperti mereka. Salju melayang-layang turun dari langit. Kusesap kopi hangatku pelan. Hangat… Rasa ini menjalar di seluruh tubuhku. Ada sesuatu yang hingga kini tidak kupahami. Dan itu tentang salju yang tidak bisa kuingat…

“Oppa… ayo kita makan, aku sudah lapar…”

Aku menghela nafas pelan mendengar suara itu. benar-benar membosankan. “Kita masih di kantor, Seohyun ssi.”

Aku tidak memperdulikannya yang tengah cemberut. Jika saja dia bukan putri dari Kim Ajhusi, orang kepercayaan Appa yang sudah dianggapnya saudara, pasti aku sudah menggantinya dengan sekretaris pria. Oh jangan salah mengiraku, hanya saja mulut pria tidak seberisik mulut wanita.

“Allright Mr. Cho, can’t we have lunch now, please?!”

Tanpa menjawab, aku mengambil jasku di sandaran kursi lalu memakainya. Kemudian aku berjalan keluar tanpa menunggu gadis itu.
.
.
Inchion Airport.

Aku diam sejenak mengamati tempat itu dari balik kacamata hitamku. Aku tidak ingat pernah tinggal di Korea ini, tapi bahasa koreaku sangat bagus dan sepertinya aku juga mengenali tempat ini. bukan bandara ini, tapi sesuatu hal yang ada di korea. Dan aku tidak ingat itu apa, namun terus mengusik pikiranku.

“Oppa, kau mau langsung ke perusahaan atau istirahat dulu? Kita bisa ke perusahaan nanti setelah jam makan siang jika kau mau,”

“Kita berangkat sekarang,” jawabku datar sambil melangkah keluar dari bandara.

Appa menyuruhku untuk mengurus perusahaan yang ada di korea. Aku tidak tau apa maksudnya, dan kenapa Seohyun juga ikut denganku.

“Selamat datang Tuan Cho, Nona Kim,” sapa seorang pria tua begitu aku tiba di perusahaan.

Aku dan seohyun membungkuk hormat kepadanya.

“Saya yang akan mengurus semua keperluan anda di sini. Saya sudah menyiapkan apartement untuk anda. Saya sudah mendengar dari tuan dan nyonya bahwa anda tidak bisa mengingat saya, karena itu saya memperkenalkan diri sekali lagi pada anda. Panggil saja saya Lee Ajhusi,”

“Mianhaeyo Ajhusi, apa sebelumnya kita pernah kenal?”
Pria itu tersenyum lembut “Tentu saja, dulu sewaktu anda tinggal dengan kakek anda di sini saya yang menemani anda. Hingga beliau meninggal pun saya terus menemani anda,”

Aku tersenyum kepadanya. Meskipun aku tidak mengingatnya, tapi aku merasa mengenalnya.

“Mari saya tunjukan ruangan anda,”

Aku berjalan mengikuti Lee Ajhusi. Kami masuk ke dalam lift dan berhenti di lantai empat. Kemudian kami berjalan menyusuri koridor.

“Ah, itu Kim Yoon Hye ssi. Dia adalah Kepala Editor di sini,” jelas Lee Ajhusi. Aku sedikit mengernyit mendengar nama itu di sebut. Kulihat gadis itu sedang berbicara dengan seseorang sebelum seseorang itu pergi. Sosoknya mengingatkanku pada gadis yang selalu datang dalam mimpiku.

“Kim Yoon Hye ssi!!” Lee Ajhusi memanggilnya. Gadis itu berbalik lalu membungkuk hormat.

“Kenalkan, ini wakil direktur baru kita. Cho Kyuhyun ssi,”

SRAK

BRAAK…

Semua map-map dan kertas-kertas yang dibawanya meluncur begitu saja ke lantai, seolah tangannya begitu rapuh untuk menahannya.
Aku tertegun melihat air mata jatuh dari kelopak matanya. Ada perasaan aneh yang muncul saat melihatnya. Ada apa denganku?

“Yoon Hye ssi, apa anda baik-baik saja?” tanya Lee Ajhushi.

BRUUK…

“Yoon Hye ssi!!”

Kami serentak bergerak ke arahnya begitu tubuhnya jatuh terduduk di lantai. Ku ulurkan tanganku hendak membantunya.

“JANGAN MENYENTUHKU!!”

Aku terlonjak mendengar teriakannya. Ada nada amarah di dalamnya. Juga kesedihan. Aku hanya diam menatapnya tanpa bisa apapun.

Ia mengambil seluruh dokumen miliknya lalu berdiri dengan tertatih. “Aku membencimu!!” katanya sambil menatapku tajam kemudian berbalik dan berjalan pergi dengan cepat.

“Hah, ada apa dengannya?? Benar-benar tidak sopan! Apa semua karyawan di sini seperti dia?” tanya Seohyun sinis.

“Maaf Nona Kim. Saya juga terkejut dengan hal ini. ini, pertama kalinya Yoon Hye ssi bersikap seperti itu setelah lima tahun bekerja di perusahaan ini,”

Aku masih terdiam menatap belokan tempatnya menghilang.

***

Salju itu masih sama. Masih berwarna putih juga sedingin es. Tapi aku merasa berbeda. Salju di amerika dan di korea terasa sangat berbeda. Salju di sini terlihat lebih rapuh. Ringan dan mudah hancur.

“Oppa!! ada yang ingin menemuimu!”

Aku membalikkan badanku dan sedikit terkejut melihat gadis itu ada di sana bersama Seohyun.

“Ini masih di kantor Seohyun ssi,”

Lagi. Seohyun mengerucutkan bibirnya “Kim Yoon Hye Ssi ingin bertemu denganmu,” katanya sinis.

“Kau keluarlah,”

“Tapi_”

“Kau tidak sedang membutuhkanmu!”

Bisa kulihat dia sedang kesal. Dengan wajah tanpa senyuman, dia melangkah pergi lalu menutup pintu. Meninggalkan kami berdua.

“Ada apa?” tanyaku pada gadis itu.

“Lee Sangjangnim memintaku untuk memberikan laporan kerja bulan ini kepada anda. Dia juga memintaku untuk meminta maaf kepada anda untuk kejadian kemarin. Saya minta maaf,”

Aku sedikit menaikkan alisku “Jadi kau meminta maaf karena disuruh?!”

“Lalu… Apa anda mengharapkan itu atas kemauanku?” tanyanya dingin.

Aku diam menatapnya. Mengapa aku seolah melihat kebencian di matanya? “Duduklah, jelaskan kepadaku hasil kerjamu!!”

Tanpa berkata dia berjalan menuju kursi di hadapan mejaku lalu duduk di sana. Aku hanya diam memperhatikannya yang sedang menjelaskan kepadaku tentang isi dokumen yang di bawanya. Rambutnya pendek… Entah mengapa aku merasa pernah melihatnya dengan rambut panjang. Matanya juga menghitam dan sedikit bengkak. Seperti habis menangis semalaman.

“Bisakah kau berhenti menatapku Tuan Cho??”

Aku tersentak. Sejak kapan gadis ini berhenti menerangkan laporan?!

“Jangan menatapku lebih dari satu menit, atau kau tidak akan pernah bisa berpaling dariku lagi!!”

Aku mengerjap kaget. Siapa sebenarnya gadis ini? Mengapa berbicara seolah-olah telah mengenalku?

“Saya rasa anda bisa memeriksanya sendiri, jika ada yang kurang di mengerti bisa anda tanyakan nanti. Saya permisi!!”

“Tunggu!! Apa aku mempunyai salah kepadamu Nona?”

Gadis itu hanya diam menatapku. Kemudian bibirnya mendengus pelan “Salah? Tidak, aku bahkan tidak tau ini salah siapa!”

“Apa maksudmu?”

“Bisakah kau bisa mengingatnya kurang dari satu menit?”

“Mwo?”

“Saya permisi dulu,” jawabnya kemudian langsung keluar ruangan tanpa menunggu ijinku.

Aku tidak mengerti… Waktu bersamanya selalu membekas dalam ingatanku. Ada apa denganku? Aku sudah biasa dengan cepat melupakan hal-hal yang tidak penting bagiku. Atau mungkinkah… dia hal yang penting untukku??

***

“Yoon Hye ssi, kau sudah mau pulang? Bagaimana kalau ku antar??”

Langkahku tiba-tiba saja terhenti saat mendengar pembicaraan itu. Ini sudah malam dan aku terpaksa lembur. Aku baru saja membuat secangkir kopi di pantry dan tanpa sengaja mendengar suara itu saat aku dalam perjalanan kembali ke ruanganku.
Kulihat Yoon Hye sedang membereskan barang-barangnya di mejanya dan ada seorang pria di sana. Sepertinya dia kepala manager pemasaran, aku pernah sekali menemuinya.

“Lee Donghae ssi, aku bisa pulang sendiri,” tolak gadis itu.
Aku masih diam ditempatku berdiri memperhatikan mereka dari jendela kaca di sampingku.

“Kenapa kau selalu menolakku? Apakah kau tidak menyukaiku?”

Yoon Hye menghentikan gerakannya lalu menatap laki-laki itu “Mianhaeyo, aku sudah punya kekasih,”

Aku mengangkat sebelah alisku. Dia sudah mempunyai kekasih? Ini semakin menarik. Oke, aku memang tipe orang yang tidak pernah perduli dengan urusan orang lain. Tapi gadis itu benar-benar misterius untukku. Ada sesuatu yang membuatku tidak bisa menghapusnya seperti hal-hal yang tidak penting selama ini.

****

“Yaa, lihatlah, dia menolak Lee Donghae lagi,”

“heiish ada apa dengannya?”

“Kalau aku jadi dia, aku tidak akan melewatkan kesempatan itu,”

“Kau pikir hanya dirimu saja? Aku juga tidak akan menolak laki-laki setampan dia,”

Aku diam memperhatikan apa yang dibicarakan dari gerombolan wanita-wanita di depanku ini. sepertinya mereka tidak menyadari bahwa aku ada di sini. Kulirik dari sudut mataku gadis itu sedang memakan menu yang di pesannya sendirian. Wajahnya terlihat selalu datar. Ada apa dengannya?

“Kudengar dari temanku, dulu dia sangat dekat dengan seseorang,” Wanita-wanita di depanku ini mulai bergosip lagi. Tapi sepertinya hal itu menarik.

“kau tau dari mana?”

“Temanku itu dulu satu sekolah dengannya. Dia pernah punya kekasih. Kau tau? Kekasihnya itu laki-laki paling populer di sekolah,”

“Itu dulu, kau lihat dia sendirian sekarang! Apa dia dicampakkan?”

“Tapi menolak laki-laki setampan lee Donghae itu menurutku sangat bodoh,”

“Aissh… Aniyo… Dia tidak dicampakan!! Temanku bilang laki-laki itu mengalami kecelakaan hingga meninggal!!”

“jjinja?? Tapi, bukankah dia bisa mencari kekasih lagi? dia masih muda dan yah… sedikit lebih cantik dariku,”

Aku ingin tertawa mendengarnya. Orang bodoh sekalipun pasti tau mana yang cantik dan tidak. Gadis itu jelas-jelas lebih cantik daripada wanita berbedak tebal di depanku ini.

“Sepertinya dia sangat mencintainya. Kau lihat hingga saat ini ia terus bilang bahwa ia sudah memiliki kekasih pada setiap laki-laki yang mendekatinya,”

“Aigoo… Itu hal terbodoh yang pernah kulihat. Terus bertahan untuk laki-laki yang sudah mati? Kenapa dia tidak ikut mati saja?!”

“Benar-benar bodoh…”

Aku melipat koran yang baru saja kubaca dan meletakkannya di meja. Sepertinya aku harus membuktikan sesuatu. Aku beranjak dari dudukku lalu berjalan ke mejanya. Kuhempaskan tubuhku ke kursi di hadapannya. Ia menatapku datar.

“Satu menit!! Biarkan aku duduk di sini satu menit!!” kataku.
Ia menatapku sejenak kemudian menunduk, melanjutkan makannya.
“Kim Yoon Hye ssi, boleh aku mengantarmu pulang nanti?!”

Ia mengangkat wajahnya, menatapku tajam “Kau punya satu menit untuk duduk di situ, bukan untuk berbicara denganku!”

Aku tersenyum mendengar jawabannya. “Bolehkah aku mengatakan bahwa kau sangat menarik, Kim Yoon Hye ssi?”

Gadis itu berhenti bergerak. “Jangan melakukan hal yang sama!!” balasnya kemudian melanjutkan makan lagi.

“Apa aku pernah melakukan hal ini sebelumnya?”

Dia tidak menjawab. Aku semakin ingin tau tentangnya.
“Yoon ah,”

Dia tersentak menatapku. Tatapannya… Tatapan itu seolah-olah berharap.

“Waktumu sudah habis Tuan Cho!!” ucapnya sambil menunduk dengan suara bergetar.

Aku tidak bergeming dari tempatku “Apa kau sudah punya kekasih?” tanyaku.

Dia tidak menjawab.

“Siapa dia? Boleh aku bertemu dengannya?”

Masih tidak ada jawaban.

“Apakah aku perlu meminta ijin darinya jika ingin mengantarmu pulang? Tapi yang ku dengar kekasihmu itu sudah tiada, apa itu benar?”

Aku melihat jari-jari tangan itu gemetar.

“Kalau begitu bukankah sekarang kau bebas?”

“Aku_”

Dia menyaut tanpa menatapku.

“Aku… sampai kapanpun akan tetap menjadi kekasihnya!!”

“Kenapa?” tanyaku.

“Karena aku… karena aku gadisnya yang bodoh!!”

Dengan cepat ia menyambar tasnya di atas meja lalu beranjak dari duduknya dan melangkah pergi begitu saja.

Aku menatapnya semakin jauh. Ada yang aneh padaku. Kenapa rasanya aku menjadi sulit bernafas? Aku yakin melihat butiran air bening itu keluar dari kelopak matanya. Aku tau bahwa manusia itu bodoh. Dan aku tidak ingin menjadi bodoh. Tapi dia… dia bahkan tau apa yang dilakukannya itu bodoh. Tapi tetap saja dijalaninya.

****

‘JANGAN MENYENTUHKU!!’

‘Aku membencimu!!’

‘Jangan menatapku lebih dari satu menit, atau kau tidak akan pernah bisa berpaling dariku lagi!!’

‘Salah? Tidak, aku bahkan tidak tau ini salah siapa!’

‘Bisakah kau bisa mengingatnya kurang dari satu menit?’

‘Mianhaeyo, aku sudah punya kekasih,’

‘Aku… sampai kapanpun akan tetap menjadi kekasihnya!!’

‘Karena aku… karena aku gadisnya yang bodoh!!’

Kuusap wajahku dengan kasar. Kusandarkan punggungku pada sandaran kursi. Kenapa kata-katanya selalu berputar-putar di kepalaku?! Apakah dulu aku mengenalnya? Apa dia pernah menjadi bagian dari masa laluku?

Appa dan Eomma pernah mengatakan kepadaku kalau aku pernah tinggal di korea. Kecelakaan itu… kenapa aku tidak bisa mengingatnya?? Kenapa aku tidak bisa mengingat masa laluku? Well, sebelumnya aku memang sudah memutuskan untuk melupakannya. Tapi… bagaimana jika ada hal penting yang kulupakan? Bagaimana jika dia termasuk ke dalam bagian yang penting itu??

“Oppa!!”

Aku menghembuskan nafas keras “Seohyun ssi, kenapa kau tidak pernah mengingat bahwa kita ada di kantor?!”

“Aku tidak perduli!! Aku sedang kesal padamu! Apa benar kau makan bersama gadis itu??”

“apa maksudmu?”

“Jawab saja benar atau tidak!!”

“Itu bukan urusanmu, kembalilah bekerja!!”

“Kau bahkan baru bertemu dengannya beberapa kali!! Denganku saja kau tidak pernah mengajak makan, kenapa? Kau menyukai gadis itu??”

Aku menatapnya tajam “Kau tau itu bukan hal yang pantas di bicarakan di kantor?!”

“Aku_ aku membencimu Cho Kyuhyun!!”

BRAAK…

Aku memijat pelipisku pelan. Wanita memang membuat sakit kepala. Kuputuskan untuk mencari tau. Aku beranjak dari dudukku lalu mengambil jasku di sandaran kursi.

“Tunda semua pekerjaanku hari ini!!” kataku pada Seohyun yang tengah duduk di mejanya.

“Mwoya? Yaa kau mau kemana??”

Aku terus berjalan tanpa memperdulikan teriakannya. Kulangkahkan kakiku ke tempat ruangan Lee Ajhusi. Setidaknya pria itu pasti tau sesuatu tentangku.

***

‘Terus terang saja, selama kau tinggal di Korea, aku tidak pernah mengunjungi rumah yang kau tempati bersama kakekmu. Aku hanya mengurus keuangan untukmu. Tapi jika kau mau, kau bisa mengunjungi rumah itu. Aku punya kunci duplikatnya,’

Kupandangi rumah itu. Rumah tempatku tinggal dulu. Kuperiksa lagi alamatnya, benar di sini. Sedikit mengejutkan karena rumah itu masih tertata rapi. Mungkin ada orang yang di sewa untuk membersihkannya setiap hari.

Kuputuskan untuk turun dari mobil. Aku berjalan menuju rumah sederhana itu. Kuhela nafas sejenak sebelum aku memasukkan anak kunci ke dalam lubang handle pintu. Kubuka perlahan lalu aku masuk ke dalamnya. Sepi. Rumah itu terlihat begitu sunyi. Kutatap sekeliling ruangan tempatku berdiri. Aku merasa sangat mengenali ruangan ini. mataku terhenti saat menatap sebuah pintu kamar. Kuhampiri pintu itu.

Kim Yoon Hye room’s

Aku mengerutkan keningku melihat papan kayu yang tergantung di pintu itu. Kim Yoon Hye? Bukankah itu nama gadis itu? Kubuka perlahan kamar itu. Sebuah kamar yang penuh dengan aksesoris wanita. Didominasi oleh warna putih dan biru soft. Ada satu rak buku penuh dengan buku novel. Apa dulu aku tinggal bersama dengan orang lain selain kakek? Tapi kenapa tidak ada yang tau?

Creeek…

Aku berbalik saat pintu dibuka seseorang.

Bruuuk…

Buku itu meluncur jatuh ke lantai.

Aku tertegun menatapnya. Bagaimana bisa gadis itu ada di sini? Dia Kim Yoon Hye yang sama dengan yang bekerja di perusahaan.
“Kyu…” lirihnya.

Ada debaran yang menggila saat namaku keluar dari bibirnya yang gemetar.

“Bisa kau jelaskan kepadaku kenapa kau ada di rumah kakekku dulu?” tanyaku.

Tiba-tiba dia tersentak. Raut wajahnya kembali terlihat dingin.

“Pergi!!”

“Mwo?”

“Kuberi kau satu menit untuk pergi dari sini!!” katanya datar sambil membuka pintu lebih lebar.

“Aku tidak akan pergi sebelum mendapat penjelasan darimu!!”

“Kumohon… sudah cukup semuanya…”

“Aku tidak mengerti!!”

Gadis itu berjalan menghampiri lemari lalu membukanya. Diambilnya sebuah foto album, membukanya lalu melemparnya tepat di bawah kakiku. Aku menunduk, memungutnya lalu melihat isinya.

Nafasku langsung tercekat begitu melihat foto-foto yang ada di dalamnya. Apakah benar itu aku?!

“Aku tidak tau siapa dirimu yang sebenarnya…” suara gadis itu membuatku menatapnya.

Tatapan itu begitu sendu. Begitu rapuh. Bukan tatapan dingin yang selama ini kulihat.

“Kau tiba-tiba saja datang dan memberantakan lagi kepingan hatiku yang sudah kususun dengan susah payah. Jika benar dia bukan dirimu, kenapa kalian memiliki wajah yang sama? Sosok yang sama? Dan kenapa kau tau tentang rumah ini?? Tapi jika kau adalah dia, kenapa kau tidak mengenalku? Kenapa dulu meninggalkanku? Kenapa kau begitu egois? Kenapa tidak mengenaliku??”

Aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Hatiku terasa perih melihatnya. Siapa sebenarnya aku? aku tidak bisa mengingat apapun dan itu membuatku seperti orang yang bodoh.
Aku meletakkan album itu di atas meja laci lalu pergi meninggalkan rumah itu. Aku harus tau siapa sebenarnya diriku dan apa arti gadis itu untukku…

***

Ponsel itu beberapa kali berdering membuatku kesal. Aku mencoba untuk mengacuhkannya dan berkosentrasi pada jalan di hadapanku. Hujan sangat lebat dan ternyata benda itu terus saja berbunyi tanpa henti. Akhirnya kuraih ponsel itu di atas dasboard mobil.

“Ye??” jawabku kasar.

“Oppa kau ada di mana??”

Suara ini…

“Aku sedang menyetir Seohyun ah, jangan menggangguku!!” bentakku tidak perduli pada perasaannya. Pikiranku sedang kacau setelah pergi dari rumah itu dan gadis ini benar-benar ingin mengujiku.

“Aku hanya ingin memberitahu kalau orang tuamu saat ini sudah tiba di Korea!! Kenapa kau marah-marah kepadaku?!”

“Mwo?? Untuk apa mereka ke sini??”

“Besok pagi kau harus datang ke hotel mereka, orang tuaku juga ikut. Mereka ingin membicarakan tentang pertunangan kita oppa!!”

“Ige_” aku tidak tau harus berbicara apa. Mengapa semuanya serba rumit sekarang?! “Apa kau bercanda?”

“Tentu saja tidak! Sampai jumpa besok!!”

Klik

Telepon terputus. Aku menatap benda itu tidak percaya “AARRGH DAMN!!” kulempar benda itu dengan kasar ke tempat semula. Tiba-tiba saja cahaya lampu menyorot menyilaukan pandanganku. Aku mengangkat lengan melindungi pandanganku.

TIIIIIIIIINN….

SRAAAK

BRAAAK…

Mobilku berguncang dan aku hanya membeku tanpa dapat berbuat apa-apa. Lalu, aku merasa pernah mengalami ini semua.
Saat itu aku sedang duduk di sebuah kursi yang nyaman. tiba-tiba saja kursi itu berguncang dan terdengar jeritan di mana-mana. Dan semuanya menjadi gelap.

‘Tinggalah bersamaku…’

‘YAA pabo, irona!!’

‘Kau kekasihku!! Apa aku harus mengulanginya??’

‘Kau milikku dan aku milikmu! Kau harus marah jika aku dekat dengan gadis lain dan aku akan marah jika kau dekat dengan laki-laki lain, araseo?!’

‘Berikan aku satu ciuman dan aku akan memaafkanmu!’

‘Aku akan pergi ke amerika,’

‘Bisakah kau berjanji kepadaku? Jika nanti aku menyakitimu, jangan keluarkan air matamu untukku. Aku tidak pantas mendapatkannya,’

‘Tapi… ada saatnya dimana nanti aku akan berbuat salah dan menyakitimu. Jika kubilang karena aku hanya manusia biasa apa kau mengerti?!’

‘Jaga dirimu untukku, berjanjilah…’

‘Saranghae…’

TOK TOK TOK…

Aku tersentak saat mendengar suara keras itu. seolah tersadar dari apa yang baru saja kulihat dalam kegelapan. Cepat-cepat kubuka kaca mobilku dan mendapati seorang ajhusi dengan jas hujan warna birunya sedang mengamatiku.

“Kau baik-baik saja? Mobilmu menabrak trotoar,”

Aku tersentak menyadari apa yang baru saja terjadi. Kubuka sabuk pengamanku lalu turun dari mobil. Hujan masih saja lebat, aku memicingkan mata mengamati keadaan mobilku yang hancur bagian depannya juga goresan dalam di sepanjang body mobil.

“Sepertinya keadaannya parah. Kau tidak mungkin mengemudikannya lagi,” komentar Ajhusi itu.

Aku termangu. Kim Yoon Hye, aku harus kembali menemui gadis itu. Aku sudah sangat terlambat.

“Ajhusi, bisa kau mengantarku ke suatu tempat?”

Ajhusi itu tampak masih ragu. Ia menatap teman-temannya yang sedang berlarian menyelamatkan penumpang truk yang tadi bertabrakan denganku, hampir.

“Baiklah, ayo!!”

Aku mengikuti ajhusi itu masuk ke dalam mobil polisi lalu memintanya untuk mengantarku kembali ke rumah gadis itu. ke rumah kami.

Kuucapkan banyak terima kasih pada ajhusi itu ketika sampai di depan rumah. Lalu, tanpa membuang waktu, aku berlari menghampiri pintunya. Kugedor terus dengan tidak sabar. Aku benar-benar ingin melihat wajahnya, senyumnya lagi, bukan air matanya. Kau bodoh Cho Kyuhyun.

Kraak…

Baru lima senti pintu terbuka, aku sudah menerobos masuk dan memeluknya kuat hingga kami terhuyung kebelakang. Tidak kuperdulikan tubuhku yang basah kuyup oleh air hujan.

“Kyu_” kudengar suaranya tercekat.

Aku tidak mampu berbicara. Kubenamkan wajahku dalam-dalam ke lekuk lehernya. Aroma yang selalu menjadi favoriteku. “Mianhae aku terlambat…” lirihku.

Kurasakan tubuhnya menegang. Tapi tidak ada suara yang keluar.
“seharusnya aku kembali sepuluh tahun yang lalu Yoon ah… Seharusnya aku hanya pergi tiga hari… Seharusnya aku tidak meninggalkanmu selama ini…”

Tubuhnya mulai bergetar pelan. Aku semakin mendekapnya erat “Berikan aku waktu satu menit untuk memelukmu…”

Ia masih belum membalas pelukanku. Aku mengerti ini sangat mengejutkan untuknya. Kulepaskan pelukanku, kutangkup kedua pipinya yang sudah basah oleh air mata, kutatap wajahnya lekat-lekat “Aku selalu menyebutmu bodoh, tapi sebenarnya akulah yang bodoh… aku melupakan aturan waktu hingga terlalu lama meninggalkanmu…”

“Dasar bodoh!!” isakan itu mulai terdengar “Berikan aku satu ciuman dan aku akan memaafkanmu…”

DEG

Air mataku jatuh begitu saja saat mendengar kalimat itu keluar dari bibirnya. Dia masih tetap gadisku… Gadisku yang bodoh…

CHUP…

Kukecup dalam bibirnya “Maaf sudah meninggalkanmu…”

CHUP…

“Maaf sudah membuatmu menangis…”

CHUP…

“Maaf membuatmu hidup sendirian…”

CHUP…

“Maaf baru kembali sekarang…”

CHUP…

“Maaf karena baru mengingatmu sekarang… Maaf…” kutempelkan keningku di dahinya. Merasakan lagi hangat pipinya “Berikan aku waktu satu menit untuk mengulangnya dan selama sisa hidupku untuk menebusnya…” bisikku lalu melumat bibirnya lembut.

Manis itu masih sama… masih menjadi milikku. Membagi semua rasa, mengungkapkan apa yang telah teredam. Satu menit… kuulas semua yang telah terjadi lalu menutupnya, membuka waktu baru…

“Ayo kita menikah yoon ah… Jadikan aku milikmu selamanya…” bisikku pelan.

“Kau akan menyesalinya Tuan Cho,” balasnya.

“Aku selalu mengharapkannya…” kupeluk tubuh rapuhnya lagi. Berjanji tidak akan pernah melepaskannya.

~Epilog~

“Morning…” bisikku pelan saat mata itu mulai terbuka.

“Mmhh…” dia menggeliat pelan menghadapku sambil membenamkan wajahnya ke dadaku. Kupererat pelukanku.

“Kau terlambat…” bisikku.

Dia memundurkan wajahnya, menatapku bingung.

“Morning kiss?!” kataku sambil menepuk-nepuk bibirku dengan jari telunjuk.

Wajahnya memerah seketika. Bibirnya mengerucut kesal. Pemandangan yang sangat kurindukan. Kuraih dagunya lalu mengecup bibirnya. Melumatnya lembut sebentar.

“Kau tidak tidur?” tanyanya sambil mengusap kantong mataku dengan jari-jarinya.

“Aku tidak ingin kehilangan waktu lagi untuk menatapmu,” bisikku.

Ia tersenyum lalu membalikkan tubuhnya “Jangan menatapku, tidurlah!!” katanya.

Aku merengkuh tubuhnya, memeluknya dari belakang. Menikmati kehangatan ini “Kau lebih menarik dari mimpi-mimpiku, jadi aku memilih untuk menatapmu,” jawabku “Tapi sebenarnya dalam mimpiku pun kau selalu datang selama sepuluh tahun ini, hanya saja aku tidak dapat melihat sosokmu dengan jelas,”

“Benarkah?”

“Mmm, dan sekarang semuanya sudah jelas… Yoon ah, kau tau?! Saat aku terbangun di rumah sakit dulu, aku menemukan sebuah cincin dalam kalung yang kupakai,” kuambil benda itu di dalam saku piama lalu menunjukkan kepadanya “Kau tau? Ada yang bilang kalau ukuran jari manis wanita itu sama dengan ukuran jari kelingking pria, maka itu artinya mereka berjodoh. Cincin ini sangat pas di jari kelingkingku. Kau mau mencobanya?”

Ia menatap cincin itu sejenak lalu mengulurkan jarinya. Memasukkan jari manisnya ke dalam cincin yang kupegang itu.

“Sangat pas,” bisikku pelan “Terima kasih karena tetap menjadi gadisku… Kau sangat pintar!!”

“Ini pertama kalinya kau memujiku pintar,”

“Benarkah? Kalau begitu kau pantas mendapat hadiah,”

“Hmm?”

“Bagaimana kalau jam sebelas nanti ikut denganku?”

“Kemana?”

“Membatalkan pembicaraan orang tuaku tentang pertunanganku dengan Kim Seohyun,”

“Mwo??”

“Kau siap mengejutkan mereka semua?”

“Aku tidak sabar untuk melihat ekspresinya,”

Aku tertawa pelan “Kau semakin pintar,” ucapku sambil mengecup pipinya lembut.

FIN