Tags

,

Author : Casseiami
Title : Learn to Love
Length : Oneshoot
Rate : PG-17
Cast :
 Kim Rena (OC)
 Lee Donghae (Super Junior)
 Kim Joonmyun a.k.a Su Ho (EXO-K)
BGM :
o Richard Clayderman – Ballade Pour Adeline
o SNSD’s Taeyon – Missing You Like Crazy (OST The King 2 Hearts)
o 2AM – I Wonder If You Hurt Like Me

WARNING!! FF INI MURNI MILIK CASSEIAMI

Rena pov

Pernikahan adalah impian semua wanita. Tidak bisa dipungkiri bahwa ketika seorang perempuan sudah menikah hidupnya sudah sempurna. Pernikahan adalah titik kesempurnaan seorang manusia. Namun, tidak bagiku saat ini. Meskipun aku sudah menikah aku belum merasakan hidupku sempurna.
Naneun Kim Rena imnida. Aku adalah seorang Profesor di Seoul University. Aku sudah menikah dengan seorang mantan super star yang sekarang sudah pensiun dan banting stir menjadi pengusaha multinasional mewarisi perusahaan ayahnya.
Pernikahanku bukanlah jenis pernikahan yang diimpi-impikan setiap wanita. Dimana setiap hari diawali dengan morning kiss dan di akhiri kecupan selamat tidur. Hariku hanya diawali dengan dering jam weker dan ditutup dengan rasa jenuh atas semua penelitian hingga tanpa sadar aku pun terlelap dalam tidur. Kenapa? Yah, karena pernikahanku adalah sebuah kewajiban. Arranged marriage yang harus dilaksanakan sebagai ungkapan rasa patuh pada orang tua. Bukankah semua anak harus menuruti keinginan orang tua?
“Donghae-ssi, bagaimana denganmu? Apakah kau akan menyetujui rencana ini?” tanyaku pada Lee Donghae, namja yang saat itu akan dijodohkan denganku. Saat itu kami sedang menyendiri di taman belakang rumah. Memutuskan untuk berdiskusi sejenak mengenai keputusan yang akan mengubah hidup kami. Bagaimanapun pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa di anggap sepele.
“Mollayo. Aku masih terkejut dengan apa yang dikatakan abeonim tadi. Jujur saja, aku baru menjabat sebagai direktur di perusahaan Appa. Aku masih harus belajar mengenai perusahaan. Tapi di saat aku harus focus pada pekerjaan aku harus dihadapkan pada pernikahan. Asal kau tahu, aku bukan orang yang bisa focus pada banyak hal.”
“Arasseo. Aku paham posisimu. Saat ini aku juga sedang mengerjakan disertasi. Dan aku rasa menjadi seorang istri sekaligus mengerjakan disertasi akan sedikit sulit”
Dan hening pun tercipta. Kami sama-sama larut dalam pikiran masing-masing.
“Cha, aku akan bicara pada Appa. Permisi Donghae-ssi, aku masuk duluan”
Tepp
Tangan itu memegang tanganku. Aku pun menoleh.
“Mwo?”
“Aku akan berusaha focus pada pekerjaan dan pernikahanku”
“Ne?”
“Aku akan menerima perjodohan ini. Bantu aku untuk jadi suami yang baik untukmu”
Senyum itu. Manis sekali.
Sejak saat itu kami menjadi pasangan calon pengantin yang….sedikit aneh menurutku. Tidak seperti pasangan lain yang begitu bersemangat mempersiapkan hari bahagianya, kami justru terkesan tidak peduli satu sama lain.
“Rena-ssi, bisakah kita bertemu besok siang? Kita harus membeli cincin pernikahan”
“Ne, arasseo. Besok siang aku free”
“Baiklah. Kujemput jam 11.30”
Seperti itulah jenis komunikasi kami. Kami hanya akan menghubungi satu sama lain ketika ada keperluan mendesak. Hubungan ini, lebih seperti hubungan bisnis dari pada hubungan pertunangan kurasa. Yah, mungkin ini efek dari pekerjaannya yang menuntut profesionalitas. Ia pun berlaku professional terhadap apa yang kami lakukan saat ini. Menjalani sebuah pernikahan.
Di awal pernikahan. Di saat malam pertama kami tidak melalukan ritual pasangan-pasangan lain. Kami hanya duduk berdua di atas ranjang dengan masing-masing membawa buku untuk menutupi kegugupan di malam pertama. Wajar kan? Aku dengan buku tentang kanker rahim dan Donghae dengan buku entah apa judulnya. Hanya saja aku yakin buku itu tentang motivasi menjadi pebisnis yang sukses. Selama dekat dengannya yang aku tahu dia memang suka membaca buku-buku seperti itu. Bahkan di ulang tahunnya yang ke 26 aku menghadiahkan buku tentang Bill Gates. Dia langsung memelukku. Pelukan asing pertama bagiku.
“Kenapa kau tersenyum seperti itu?”
Suaranya membuyarkan lamunanku.
“Ne? ani. Aku hanya teringat hal yang lucu”
“Kau bahagia dengan pernikahan ini?” tanyanya. Aku terdiam. Apa dia tidak bahagia?
Aku tersenyum.
“Tentu saja bahagia. Aku baru saja menjadi seorang Nyonya Lee. Bahkan pernikahan Romeo dan Juliet tidak seindah pernikahan kita.” Ucapku mencoba mencairkan suasana.
“Bodoh, mereka tidak pernah menikah” ucapnya sambil terkekeh.
“Donghae-ssi..”
“Ne?”
“Ehm, masalah anak…. Aku ingin kita menundanya terlebih dahulu.”
“Mwo?”
“Wae? Bukankah kau juga harus focus dengan pekerjaanmu terlebih dahulu? Aku, ehm aku belum siap. Aku belum lulus dan kau tahu kan aku…”
“Ne arasseo” Donghae memelukku. Meletakkan kepalaku di atas dada bidangnya. Tubuhku menegang. Mau apa dia?
“Tidak usah gugup seperti itu. Aku tidak akan menyerangmu malam ini. Bagaimanapun aku ini suamimu sekarang. jadi kau harus terbiasa”
“Ne”
“Kau ingin jadi dosen kan?”
“Hm”
“Berusahalah”
Mulai saat itu hidupku berubah. Aku bukan lagi wanita karir yang bebas melakukan penelitian hingga larut malam, bahkan sampai tidur di laboratorium atau rumah sakit. Aku kini adalah wanita bersuami yang wajib melayani suaminya.

~^_^~

Hari ini adalah hari kelulusanku. Benar-benar lulus karena tidak ada jenjang pendidikan yang lebih tinggi dari S-3 kan? Upacara kelulusan telah berakhir dan sampai saat ini aku belum melihat tanda-tanda bahwa Donghae akan datang.
Pria itu… entahlah, aku sama sekali belum bisa mengerti jalan pikirannya. Yang aku tahu dia adalah pria bertanggung jawab, pekerja keras dan berbakti pada orang tua. Dan seperti yang ia katakan dulu, ia tidak bisa membagi perhatian antara pekerjaan dan keluarganya.
Sampai bulan ke empat pernikahanku masih terkesan sangat kaku. Bahkan pergi berdua pun kami belum pernah. Entah dia tahu bahwa hari ini hari kelulusanku atau tidak. Ia selalu pulang larut malam. Tidak sempat bagiku untuk sekedar berbicara dengannya setelah ia pulang dari kantor. Apalagi sampai saat ini kami masih tidur terpisah. Pada awalnya aku memang meminta tidur terpisah karena aku harus focus mengerjakan disertasi sampai larut malam, bahkan tidak tidur. Tapi kebiasaan itu terbawa hingga kini. Entahlah, aku merasa tidur dengannya adalah perbuatan yang…. Tabu?
“Chukkae adeul. Hah, akhirnya cita-citamu tercapai. Kau sudah jadi doktor sekarang” Eomma memelukku. Lalu mencium kedua pipiku. Aku merasakan bahu eomma bergetar. Apakah eomma menangis? Inikah rasa bahagia seorang eomma melihat anaknya meraih cita-cita? Hah, kapan aku bisa merasakan itu?
Kulepaskan pelukan eomma. Donghae… tidakkah dia datang memberi selamat untukku?
“Kajja kita pulang. Joonmyun sudah menunggu di mobil”
“Arasseo appa”
~^_^~

“Aniyeyo eomma. Aku harus menunggu Donghae Oppa pulang. Mungkin lain kali saja aku menginap di rumah eomma.”
“Keunde, Donghae tadi memberitahu eomma bahwa ada sedikit masalah di kantor mungkin ia akan pulang telat. Sudahlah kau menginap di rumah eomma saja”
“Tidak eomma. Bagaimanapun seorang istri harus menunggu suaminya di rumah kan?”
“Hah, arasseo. Joonmyun, setelah mengantarkan nuna, kau harus langsung pulang. Ara?”
“Ayey, captain” kata Joonmyun sambil melakukan sikap hormat ala tentara pada eomma. Ah, anak itu selalu bisa jadi andalan untuk menaikkan moodku.

~^_^~

“Su Ho ya, berhenti sebentar di supermarket ne? Nuna harus membeli sesuatu” kataku pada Joonmyun. Hehe. Aku selalu memanggilnya seperti itu bila aku menginginkan sesuatu darinya. Karena memang dongsaengku ini selalu butuh dirayu sebelum dia mau melakukan sesuatu untuk orang lain.
Hari ini aku akan memasak menu special. Aku akan membuat perayaan kecil di apartemen kami untuk merayakan hari ini.
Ketika aku keluar dari supermatket tiba-tiba langkahku terhenti. Aku melihat Donghae sedang berciuman dengan seorang gadis.
“Jadi, ini yang kau sebut ada masalah di kantor?” bisikku.
“Nuna, waeyo? Kenapa berhenti tiba-tiba? Aish, belanjaannya jadi berantakan semua kan?”
Aku pun tersadar.
“Wae?” Su Ho mengikuti pandanganku.
“Eh? Ne? ani ani. Kajja kita pulang”

~^_^~

Sesampainya di apartemen aku segera berganti pakaian dan memasakkan makan malam untuk Donghae. Bagaimanapun dia masih suamiku. Dan makan malamnya masih tanggung jawabku. Setelah itu aku mencetak foto kelulusanku hari ini dan memajang nya di dinding kulkas. Agar suamiku tahu bahwa istrinya ini sudah lulus. Yah, meskipun ia tidak peduli tapi ia masih berhak tahu kan? Kemudian aku pun beranjak tidur. Hari ini benar-benar menguras tenaga. Aku benar-benar lelah.

Rena pov end

~^_^~

Donghae pov

Aku memasuki apartemen. Ah, sepi sekali. Apa Rena menginap di rumah eomonim? Aku pun mengecek kamarnya. Ah, dia sudah tidur rupanya. Dia pasti lelah sekali. Mianhe Rena-ya. Aku tidak bisa datang ke upacara kelulusanmu. Jongmal mianhe.
Aish, aku lapar. Sejak siang tadi bahkan aku belum sempat makan. Masalah peluncuran produk terbaru benar-benar menyita waktu. Aku pun melangkah menuju ruang makan. Seketika aku mencium bau makanan. Rena benar-benar istri yang baik. Ia tidak lupa memasakkan makan malam untukku. Sesibuk apapun dia.
Ketika akan mengambil minum di kulkas aku melihat foto kelulusannya hari ini. Apa dia sengaja ingin memberitahuku? Dia benar-benar hebat. Kini ia sudah resmi menjadi seorang doctor. Semakin dekat dengan impiannya sebagai seorang professor. Aku… benar-benar bangga memiliki istri seperti dia.

~^_^~

Aku terbangun karena cahaya matahari yang tidak sopan masuk ke dalam kamarku melalui celah-celah gorden. Ah, sudah jam 7 ternyata. Kenapa Rena tidak membangunkanku?
Setelah mandi dan bersiap aku pun menuju ke ruang makan untuk sarapan. Tapi sepertinya tidak ada yang berubah sejak terakhir kali aku meinggalkan ruangan ini tadi malam. Apa Rena belum bangun?
Aku pun menuju kamar Rena. Dan benar saja. Kamarnya masih gelap. Kubuka gorden yang menghalangi cahaya matahari masuk ke kamar ini. Seketika aku terkejut. Rena tidur dengan gelisah. Wajahnya pucat.
“Rena-ya? Irona”
“Rena? Apa kau bisa mendengarku?”
Kuguncang badannya. Panas.
Aku pun segera berderap mengambil air hangat dan handuk kecil. Tak lupa menelepon deliveri order untuk memesan bubur. Kulepas jas dan dasi yang kukenakan dan mulai mengompres dahinya. Ia mengigau.
“Enngggh, appo”
“Appo? Rena-ya, bagian mana yang sakit?” tanyaku.
Tapi seolah tak mendengar suaraku, Rena terus mengigau dan terus menggerakkan badannya. Ia sedikit menekuk badannya dan terus memegangi perutnya.
“Appayo, eomma appayo” ia terus mengigau.
Aku panic. Seketika aku mengambil ponsel dan menghibungi dokter Park. Tapi sebelum panggilan tersambung Rena sedikit memiringkan tubuhnya hingga aku bisa melihat noda merah di bagian bawah pakaiannya.
DARAH??
Rena… pendarahan? Atau ia kena wasir? Ani, ani, wasir darahnya tidak sebanyak ini.
Tapi kami kan belum pernah melakukannya? Bagaimana bisa?
Ah, eomma. Aku harus menelepon eomma.
“Yoboseyo. Eomma?”
“Ah, Donghae-ya, bogoshippo. Kau jarang menelepon eomma sekarang. kau terlalu sibuk dengan pekerjaan dan keluargamu? Ah uri Donghae…”
“Eomma, nanti saja kangen-kangenannya ya? Rena……..”

~^_^~

Ding Dong
Aku pun menuju pintu untuk menemui pengantar bubur. Setelah itu aku langsung masuk ke kamar Rena. Mencoba menyuapinya agar ia bisa minum obat.
“Rena-ya, irona. Kau harus makan agar kau bisa minum obat” kataku sambil sedikit mengangkat tubuhnya.
Aku pun memaksa memasukkan sesendok bubur ke dalam mulutnya. Sepertinya Rena sudah setengah sadar karena ia sudah bisa menelan bubur yang kusuapkan. Setelah 5 sendok kusuapi bubur, kumasukkan obat penurun demam ke dalam mulutnya dan kurebahkan lagi agar ia bisa beristirahat. Lalu kuusap-usap perutnya dengan minyak kayu putih agar nyerinya hilang.
Cepatlah sembuh Rena-ya.

Donghae pov end
~^_^~

Rena pov

Perlahan kubuka mataku. Aish, kepalaku berat sekali.
“Ya, gwenchana?”
Suara itu… aku menoleh ke samping kiri.
“Donghae-ssi? Ah, sudah jam berapa sekarang? akkhh….” Aku memegangi kepalaku. Benar-benar berat. Kepalaku pusing sekali. Ah, tidak hanya kepalaku. Perutku pun terasa nyeri dan sepertinya ada yang terasa basah.
“neo gwenchana?” Ia terlihat khawatir. Seketika ingatanku kembali ke saat aku keluar dari super market kemarin. Bayangan Donghae yang tengah mencium seorang gadis.
Kutepis tangannya.
“nan gwenchana. Kau pergi ke kantor saja. Aku bisa mengurus diriku sendiri.”
“Kau masih belum sehat. Bagaimana bisa aku pergi ke kantor?”
“Apa pedulimu?”
“Jelas aku peduli. Kau istriku. Dan kesehatanmu masih tanggungjawabku”
Tanggung jawab? Sebatas itukah arti pernikahan kita?
“Sudah kubilang aku bisa mengurus diriku sendiri. Kau.. keluarlah dari kamarku. Aku mau ganti baju.”
“Ani, ani. Aku akan memapahmu ke kamar mandi”
“Kubilang keluar”
“Andwe”
Aku bangkit, tapi ia mencoba memapahku. Aku berontak.
“Ya! APA YANG KAU LAKUKAN?” bentakku.
Bugh
Aku terjatuh lagi ke ranjang. Perutku semakin sakit. Aku pun meringis.
“Sudah kubilang kan. Kau itu masih sakit. Bahkan berdiri pun tidak bisa kau lakukan dengan benar. Bagaimana bisa kau menyuruhku pergi? Bagaimana jika terjadi apa-apa denganmu?” ceramahnya panjang lebar. Selebar integral y dx dari 0 sampai tak hingga.
“Sudahlah. Jangan sok perhatian padaku. Urusi saja wanita sumber masalahmu di kantor itu.”
“Apa yang kau bicarakan?”
“Kau ingin mengelak tuan Lee? Kau begitu sibuk dengan urusan kantormu. Bahkan aku pun sampai segan untuk mengajakmu bicara hanya untuk memberitahu hari kelulusanku. Aku hanya berharap kau diam-diam mencari tahu dan memberikan surprise untukku. Tapi penantianku ternyata sia-sia. Eomma bilang kau sedang ada masalah di kantor. Tapi apa yang kulihat? Kau menciuM seorang wanita di pinggir jalan. Kau tahu? Rasanya sakit, Lee Donghae. Aku tahu kita menikah bukan atas dasar cinta. Tapi bagaimanapun aku ini istrimu. Rasanya sakit ketika kau melihat suamimu berkhianat di belakangmu. kau bilang….”
Aku tak mampu lagi meneruskan kata-kataku. Air mataku mengalir deras membasahi pipiku. Perlahan kurasakan tangan Donghae bergerak menyentuh punggung tanganku. Kutepis dengan kasar. Ia pun menangkup kedua pipiku. Memaksaku menatap kedua matanya.
“Sudah? Sudah selesai kau memaki ku, hm?”
Perlahan wajahnya mendekat ke wajahku. Kurasakan bibirnya menyentuh bibirku. Ia mengecupnya pelan. Tapi aku diam. Tak membalas sama sekali.
Setelah puas menciumku ia perlahan menjauhkan wajahnya dari wajahku. Kemudian memelukku. Mendekap kepalaku di dadanya yang bidang. Membuatku bisa mendengar detak jantungnya yang cepat dan sedikit.. tak beraturan.
“Mianhe Rena-ya, jongmal mianhe. Kau tahu kenapa aku sibuk belakangan ini? Karena aku ingin membuka perusahaan lagi yang memproduksi alat-alat medis. Kau tahu kenapa? Karena aku ingin selalu dekat denganmu. Aku ingin sebisa mungkin mencukupi kebutuhanmu. Jika aku bisa memproduksi alat medis, kau tidak perlu lagi sibuk melakukan penelitian di laboratorium sampai larut malam. Kau tahu? Aku ingin kau selalu dekat denganku. Dan wanita itu… dia sekretarisku. Entah kau melihatnya dari sisi sebelah mana hingga kau menyimpulkan bahwa kami sedang berciuman. Tapi aku bersumpah, bersentuhan tangan saja belum pernah.”
“Gotjimal”
Dia menatap kedua bola mataku.
“Saranghae, Rena-ya. Jongmal saranghae”
Mata itu. Sama ketika ia memutuskan untuk menikahiku. Yakin tanpa keraguan sedikit pun.
Aku tidak bisa membalas ucapannya. Aku semakin terisak.
Ia pun memelukku lebih erat.
Yah, saat itu ia berhasil meluluhkan hatiku.
10 menit lebih kuhabiskan waktuku untuk terisak di pundaknya. Kepalaku semakin pusing karena terlalu lama menangis.
“Cha, kau harus ganti bajumu dulu dan cuci mukamu. Aish, lihatlah kau benar-benar jelek saat menangis. Ayo ke kamar mandi”
Ia pun memapahku ke kamar mandi kemudian mengambilkan baju ganti. Tapi sepertinya dia tidak ada niatan untuk keluar dari kamar mandi.
“Waeyo? Kenapa tidak ganti?”
“Kau… kenapa kau masih di sini?”
“Aku tidak mungkin meninggalkanmu. Bagaimana kalau kau tiba-tiba pingsan atau terpeleset. Wajahmu itu masih sangat pucat Rena-ya, ditambah lagi kau sedang menstruasi, emosimu sangat labil. Aku akan tetap di sini menunggumu ganti baju.”
BLUSH
Pipiku memanas.
Ck, Lee Donghae, kenapa kau segamblang itu?
“Ya, aku kan malu”
“Aish, ara, ara. Aku akan berbalik. Kau cepatlah ganti baju dan beritahu aku kalau sudah selesai”
Ia pun berbalik dan aku segera berganti baju. Setelah selesai aku diam-diam keluar dari kamar mandi membiarkan Donghae tetap berdiri menungguku di dalam kamar mandi dengan mata masih tetap terpejam.
Aku berjalan sambil berpegangan pada dinding hingga aku mendengar teriakan dari kamar mandi.
“YA! LEE RENA! KAU MENGERJAIKU HAH?”
Kulihat ia berjalan ke arahku dengan tatapan penuh dendam. Entah dapat kekuatan dari mana aku berlari dan terjatuh di atas ranjang. Ditangkapnya tubuhku lalu digelitikinya.
“YAK! OPPA GELI! HENTIKAAN! Appayo, perutku masih sakit”

~FIN~