Tags

, ,

The one I love…

Aku menghapus air mata yang mengalir di pipi ini. Lagi. Angin yang berhembus melalui jendela, membuat tubuhku menggigil. Aku tidak tau dan tidak dapat membedakan apa yang dingin. Tubuhku, atau hatiku?
Kutatap cincin emas putih yang melingkar di jari manisku. Manis, tapi menyakitkan. Aku tersenyum perih. Sudah hampir setahun. Dan semakin lama, pernikahanku semakin mendekati kehancuran bersama diri dan hatiku. Masih mampukah aku bertahan menyangga keretakan yang ditimbulkannya?
Sudah jam satu pagi. Dia belum pulang. Aku tau semua apa yang dilakukannya diluar sana. Dan aku masih belum mengerti. Masih belum memahami mengapa perasaan itu berubah begitu cepat. Apa yang salah denganku?
Awalnya, kehidupan kami normal bahkan bahagia. Tapi semakin lama, ia semakin jauh. Dan kini aku merasa ia benar-benar jauh. Sebelumnya ia bilang bahwa banyak pekerjaan. Lembur hingga malam. Namun semakin lama, itu hanya digunakannya sebagai alasan saja. Aku tau kemana dia pergi. Aku tau dengan siapa dia bersenang-senang.
Bukan hanya kebiasaannya pergi dan pulang hampir pagi. Sikapnya, juga berubah kepadaku. Menjadi lebih acuh. Menjadi lebih dingin. Dan sekarang, ia berubah menjadi kasar. Semua cacian dan makian yang pernah dikeluarkannya untukku kusimpan di dalam memoriku tanpa bisa kuhapus.
Dan aku hanya diam… diam meredam semuanya. Memasang senyum palsu untuk menutupi goresan luka berdarah ini. dan dengan mudahnya memaafkan saat ia tersenyum untukku.
Bel berbunyi. Menyadarkanku dari lamunan. Aku menutup jendela lalu berjalan pelan ke arah pintu. Membukanya. Seharusnya aku sudah siap dengan apa yang kulihat sekarang. Tapi seberapa aku menyiapkan diri, pisau yang menggores hati ini tetap akan menimbulkan rasa sakit dan perih.
“Oppa… kau sudah sampai…” suara manja itu terdengar menyakitkan telingaku.
“Aku masih ingin bermain dengamu Jjagiyaa…” ucapnya sambil memeluk gadis itu manja.
“Aiiih oppa~”
Dan mereka berciuman tepat di depan mataku. Apakah hal ini pantas??
Gadis itu melepas paksa ciumannya “Besok kita bermain lagi ne? Anyeong Oppa…”
Dia bersandar pada ambang pintu sambil melambaikan tangan sempoyongan. Aku berbalik melangkah masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikannya. Luka ini masih berdarah, dan setiap harinya ia tabur garam di atasnya.
GREEP…
“Anyeong Jjagiya…” bisiknya sambil mempererat rengkuhanya di tubuhku.
Aku diam. Mencoba menghindari nafasnya yang bau alkohol. Kubenarkan posisinya lalu kutuntun ia menuju kamar. Kujatuhkan tubuhnya di tempat tidur lalu kulepas sepatunya. Kucoba untuk melepaskan jasnya tapi tiba-tiba tangannya mencengkeram erat lenganku.
“Aku menginginkanmu jjagi…”
“Kau mabuk Kyu,” tolakku sambil mencoba melepaskan cengkramannya.
“Aaakh…” aku memekik saat tangannya tiba-tiba menjambak rambutku, menariknya mendekat ke wajahnya.
“Kau tidak berhak untuk menolakku Cho Yoon Ra,”
Ditariknya tubuhku hingga terjatuh di atas tempat tidur. Dan hal ini, sudah biasa ia lakukan. Aku istrinya, tapi aku diperlakukan seperti perempuan murahan. Tanpa dia paksa, aku akan memberikan segalanya untuknya. Tapi tidak dengan cara seperti ini. Aku merasa seperti pelacur jalanan. Begitu terhina dan tidak punya harga diri. Puing-puing retak itu mulai jatuh sedikit demi sedikit, menunggu waktunya roboh dan hancur.
***

Aku mengusap bibirku yang sobek di sudutnya karena tamparannya semalam. Kujawab ponselku yang bergetar dengan suara pelan.
“Yeoboseo?” sapaku dengan suara sedikit mendesis karena perih.
“Ra ya, ada dimana kau sekarang?”
“Aku di apartement hyuk ah,”
“Ada apa dengan suaramu? Apa kau terluka?”
“A-aniyo… aku baik-baik saja…”
“Apa dia memukulmu lagi??” laki-laki itu mendesah pelan “Aku tidak mengerti denganmu Ra ya, saat kau mengatakan ‘ya’ dengan senang hati aku akan menghajarnya,”
“Gwenchana hyuk ah, dia sedang mabuk semalam. Oh, dia akan bangun, aku harus memasak sekarang. Nanti kuhubungi kau lagi, anyeong!!”
Kuputuskan panggilan itu tanpa menunggu jawabannya. Lee Hyuk Jae. Sahabat terbaikku. Satu-satunya orang yang tau dengan keadaanku. Tapi kyuhyun akan langsung marah begitu tau aku masih berhubungan dengannya. Aku tidak tau kenapa ia marah. Apakah ia cemburu? Tapi bukankah cemburu itu adalah bagian dari rasa mencintai? Dan aku sama sekali tidak pernah merasakan cinta itu.
Aku memasak sarapan dengan cepat. Dia keluar sudah lengkap dengan jasnya saat aku menata sarapan di meja makan.
“Kau sudah siap? Sarapanlah,”
“Aku tidak ada waktu, pagi ini ada meeting penting,” jawabnya acuh lalu berlalu begitu saja.
Aku termenung menatap meja makan itu. air mataku jatuh begitu saja. Terasa begitu dingin. Dingin yang membekukan. Mengikatmu hingga terasa sesak.
.
.
Ini kesekian kalinya kuhabiskan waktuku di tempat ini. dalam suasana yang legang dihadapannya, aku merasa bebas.
Bundaku… Apa yang harus kulakukan… Lirihku dalam batin. Aku mencintainya… Sangat… Tapi semakin lama rasa ini semakin membunuhku. Semakin menghancurkanku. Katakan apa yang harus kulakukan? Ini terlalu menyakitkan dan aku hanya bisa diam. Mengungkapnya hanya di depanmu…
dia masih orang yang sama, tetapi tidaklah lagi sama. Haruskah aku tetap bertahan mencintainya dalam puing-puing kehancuran?
Berjam-jam aku terdiam dalam gereja itu. Hingga akhirnya, ada seorang Suster yang menghampiriku.
“Anakku, apa yang kau pikirkan?” tanyanya lembut.
“Aku… aku sedang mencari kedamaian Suster…”
Dia tersenyum lembut “apakah kau menemukannya di sini?”
Aku menggeleng pelan. di sini pun aku masih tidak bisa bernafas.
“Kau tau, kedamaian itu tidak akan kau dapatkan di mana pun. Karena letaknya ada di dalam hatimu. Kau harus bisa berdamai dengan hatimu sendiri untuk dapat merasakannya…”
Aku terdiam sejenak merenungi kata-kata itu. “Kau benar, terima kasih Suster…”
“Lakukan yang terbaik, tuhan selalu bersamamu…” balasnya sebelum pergi meninggalkanku.
Aku berfikir lagi. tentang semua kejadian yang telah kualami. Tentang perubahan, rasa sakit ini, dan batinku. Lalu, kuputuskan untuk menghubungi seseorang.
“Yeobseo… Hyuk Jae ya, bisa kau jemput aku di gereja biasanya?”
.
.
“Kau yakin akan kembali? Tinggalah bersamaku Ra ya… Aku tidak ingin melihatmu terluka lagi,” diusapnya sudut bibirku yang membiru dengan jempolnya yang lembut. Membuatku ingin menangis.
“Aku sudah memutuskannya,”
Hyuk Jae menatap sendu kepadaku “Apapun keputusanmu, kuharap kau baik-baik saja…”
tepat saat itu mataku melihat sosok Kyuhyun yang tengah memasuki lobi apartement. Aku tersenyum lagi menatap Hyuk Jae lalu memeluknya “Bersiap-siaplah untuk menampungku kalau aku kabur,” bisikku.
“Aku selalu menantikan hal itu Ra ya,” balasnya pelan.
Kulirik dari sudut mataku, kyuhyun berdiri membatu di sana. Aku mempererat pelukanku pada Hyuk Jae “Mianhae…” bisikku pelan.
SET
BOUGH
PLAK
“YOON!!”
“JANGAN MENYENTUH ISTRIKU!!”
Hyuk Jae mengepalkan jemarinya menatap marah kyuhyun. Aku menahannya “Jangan lakukan apapun, kumohon…” bisikku sambil menahan perih di pipiku bekas tamparannya.
“KAU- IKUT AKU!!”
Kyuhyun menarikku kasar menuju apartement kami. Aku hanya diam mengikutinya. Ia membuka pintu dengan kasar lalu mendorongku masuk.
BLAM
Dibantingnya pintu dengan keras.
“Kau- sudah berapa kali kuperingatkan untuk menjauhinya?!” desisnya pelan. pandangan matanya seakan menggulitiku.
“Bukankah ini yang kau inginkan?” jawabku dingin. Untuk pertama kalinya, aku membalas tatapan angkuhnya.
“Apa maksudmu?”
“Aku sengaja memeluknya di depan matamu!!”
Kudengar ia mengeram marah.
“Kau tidak perlu lagi menyiksa dan mencari-cari kesalahanku kyu. Bukankah selama ini kau selalu saja mencari kesalahanku untuk alasanmu meninggalkanku? Atau alasan untuk berbuat sesukamu. Cukup sampai di sini. Kurasa pernikahan ini sudah tidak berarti lagi di matamu, dan aku tidak bisa menahannya saat kau menghancurkannya. Aku gagal menjadi seorang istri untukmu… Maaf…” air mataku meluncur jatuh. Kubiarkan semuanya mengalir.
“Apa yang kau inginkan? Kau berselingkuh tapi menuduh seolah aku menginginkan hal ini,”
Aku tertawa pahit mendengarnya. “Tidakkah kau lupa apa yang kau lakukan di depanku Cho Kyuhyun ssi? Memeluk, mencium bahkan hampir bercinta dengan gadis lain tepat di depan mataku. Pantaskah kau menuduhku berselingkuh? Yang bahkan dia adalah sahabatku sejak kecil, kau lupa akan hal itu?!”
“Aku sedang mabuk saat itu, jangan menjadikannya alasan untuk menutupi bahwa kau sudah tidak mencintaiku lagi!”
“Aku mencintaimuKyu… Hingga kini aku masih amat sangat mencintaimu,” bibirku bergetar pelan . “TAPI cinta itu perlahan membunuh dan menghancurkanku. Lebih baik aku mencintaimu dalam kesendirian daripada bersamamu. Melihat setiap potong kejadian kau menggores-goreskan pisau beracunmu di hatiku. Sama-sama perih. Namun setidaknya aku dapat merasakan damai,”
“Kalau itu maumu, kita bercerai!!”
“Baik, kita bercerai…” ucapku dengan nafas tercekat. Satu kata yang paling kutakutkan dalam hidupku namun paling kunantikan saat ini juga.
Aku melangkah masuk ke dalam kamar kemudian menutupnya dan kutumpahkan semua isak tangisku. Bukan seperti ini kehidupan yang kuimpikan dulu. Dimana letak kesalahannya hingga pernikahanku runtuh menjadi puing-puing?!
Kuambil ponselku. Kuhubungi seseorang yang nomernya sudah kuhafal. “Yeoboseo… Hyuk Jae ya… Jemput aku sekarang juga di apartement… Kau masih di sana? Baiklah, tunggu aku,” ucapku sambil terus menahan air mata ini. tapi gagal. Sekeras apapun aku menahannya, ia seperti sungai yang terus mengalir.
Kukemas pakaianku dengan cepat dan keluar kamar. Kudapati Kyuhyun sedang duduk di sofa menatapku tajam “Sekali kau pergi dari apartement ini, kau tidak akan pernah bisa kembali,” katanya tajam.
Aku menggigit bibir bawahku. Perih. “Tempat ini tidak lebih baik dari sebuah bangunan yang telah hancur dan tidak ada kehidupan. Yang tidak bisa melindungiku lagi dari hujan dan badai,” air mataku meluncur jatuh lagi “Tapi satu hal yang harus kau tau Kyu, bahkan meskipun kau menghancurkan hatiku menjadi puing-puing tak berbentuk, aku akan tetap mencintaimu dengan puing-puing yang tersisa… Sangat bodoh bukan?!” tanyaku retoris kemudian langsung melangkah keluar dari tempat itu.
Kepalaku terasa pening. Namun kucoba menahannya sambil terus berjalan. Mungkin seperti ini lebih baik. Mencintainya dalam kesendirian. Mencintainya dalam kekosongan. Bukan, bukan untuk melupakannya. Hanya mencintainya dalam kedamaian yang kucari.
***

Sudah satu bulan sejak kejadian itu. Aku tinggal di apartement Hyuk Jae sementara dia tinggal di rumah ibunya. Dan aku tidak tau apa yang dituliskan tuhan untukku sehingga aku tidak bisa benar-benar lepas darinya. Semenjak aku meninggalkan apartement kyuhyun, laki-laki itu belum mengirimkan surat cerai kepadaku dan aku tidak mampu untuk mengirimkan surat cerai kepadanya.
Sungguh aku masih sangat mencintainya hingga kini. Air mataku jatuh mengenai kertas yang sedang kutatap sejak sejam yang lalu. Tubuhku tidak bisa bergerak. Terasa kaku dan beku. Hingga kudengar suara pintu terbuka.
“Ra ya, kubawakan kau kimchi buatan Eomma favoritemu,” sapanya sambil meletakkan sebuah bungkusan di meja. Melihatku bergeming, ia menghampiriku dan berlutut di depanku “Ada apa?” tanyanya lembut.
Aku tidak mampu menjawab. Lidahku terasa kaku. Yang kubisa hanya menangis dalam diam. Dia menatap bingung lalu mengambil kertas yang kupegang dan membacanya.
“Kau hamil?” tanyanya tidak percaya.
“Aku harus bagaimana hyuk ah??” lirihku dalam isak.
“Kim Yoon Ra… menikahlah denganku,”
Aku mengangkat wajah menatapnya dengan terkejut. “Aniyo Hyuk Jae ya… Aku tidak mau membebanimu… Bagaimana dengan yoon hye?”
“Aku tidak keberatan dengan itu,”
Aku menggeleng kuat “Tidak harus seperti ini…”
Hyuk Jae meraih wajahku, merapikan rambutku yang berantakan “Setidaknya hanya sampai anak ini lahir… Dia membutuhkan Appa Ra ya… “
“Aku tidak mau kau mengorbankan dirimu. Bagaimanapun… Ada seseorang yang harus bertanggung jawab mengenai ini,”
“Kau pikir si brengsek itu mau bertanggung jawab?? Jangan bodoh Ra ya. Menjagamu saja dia tidak bisa!!”
Ada yang menusuk ketika dia mengatakan hal itu. bukan, bukan karena kata-katanya. Tetapi karena teringat semua yang dilakukan Kyuhyun kepadaku, memang benar seperti yang dikatakannya.
“Bisakah kau memberiku waktu?” isakku.
“Aku hanya ingin kau bahagia… Kenapa harus laki-laki sepertinya yang kau pilih?!” tatapan matanya begitu sendu menatapku. Membuatku menumpahkan segala air mata ini.
Kupegang perutku. Ada kehidupan di sana, kehidupan dari orang yang kucintai…
.
.
Dua bulan. Waktu terasa berjalan sangat lambat. Kehamilanku tidak seburuk yang kubayangkan. Aku hanya merasa mual di pagi hari dan cepat membaik. Aku memutuskan untuk tetap sendiri. Aku tidak mau mengorbankan perasaan hyuk jae. Aku tau dia sahabat yang baik. Dan sebagai sahabatnya yang baik juga, kurasa menolak menikah dengannya adalah hal yang tepat. Selama ini aku tau dia hanya mencintai satu orang saja. Kim Yoon Hye, sepupuku yang sedang belajar di luar negeri. Aku tau dia menunggu Yoon Hye pulang.
Ponselku berbunyi saat aku berjalan di lorong rumah sakit setelah cek kandungan. Dari Hyuk Jae dan hanya dia satu-satunya orang yang akan meneleponku.
“Yeoboseo?”
“Kau di mana?”
“Aku baru saja memeriksakan kandunganku,”
“Kenapa tidak memberitahuku? Aku bisa mengantarmu. Kau sudah pulang sekarang, mau kujemput?”
“Gwenchana, aku masih bisa sendiri… Jangan lupa kau harus menjemput Yoon Hye sebentara lagi di bandara,”
“Araseoo… Hubungi aku kalau sudah sampai apartement,”
“Araseooo…” aku tertawa kecil menirukan kata-katanya tadi “Baiklah, nanti kuhubungi kau lagi, anyeong!!”
Aku menutup flap ponselku lalu berjalan pelan menuju tempat lift. Tiba-tiba langkahku mendadak berhenti. Aku kembali mundur beberapa langkah dan menengok lorong di sebelah kananku. Jantungku terasa bergemuruh. Aku menatapnya lekat lalu berjalan menghampirinya. Berdiri tepat di depannya.
Seorang suster menatapku dengan bingung. Air mataku sudah jatuh. Dia mengerjap pelan lalu mengangkat wajahnya. Keterkejutan itu terlihat begitu nyata.
“Ra ya…”
Suara yang bahkan selalu datang dalam mimpiku kini kudengar lagi. aku tidak mampu berkata apa-apa. Aku hanya bisa menangis di depannya.
“Suster, antar aku ke kamar sekarang!!” katanya dingin.
Suster itu langsung mendorong kursi roda yang didudukinya melewatiku. Aku berjalan mengikutinya hingga masuk ke kamarnya.
“Kau boleh pergi Suster,”
Tanpa bertanya apa-apa, suster itu pergi meninggalkan kami berdua.
“Kenapa menangis melihatku? Seharusnya kau bahagia… Tuhan sudah menghukumku,” katanya dengan tatapan mata sendu.
Aku membekap mulutku menahan isakku. “A-apa yang terjadi kepadamu…?” tanyaku dengan suara tercekat.
“Kecelakaan saat aku mabuk. Kakiku lumpuh sementara,”
Aku menghambur kehadapannya dan berlutut di depannya yang masih duduk di kursi roda “Maafkan aku…” isakku “Seharusnya aku tidak pergi… Seharusnya aku tidak meninggalkanmu… Maafkan aku…”
“Aku sudah menyakitimu dan sekarang kau meminta maaf kepadaku? Jangan membuat dosaku semakin banyak terhadapmu Ra ya…”
Aku menghapus air mataku dan menatapnya. Tertegun… Benarkah air mata itu keluar dari matanya yang indah??
“Bahkan keadaan ini pun tidak sebanding dengan apa yang sudah kulakukan kepadamu dulu…”
Aku menggeleng pelan mendengarnya.
“Saat keadaanku terpuruk seperti ini, aku sadar betapa berharganya kau untukku… Betapa aku membutuhkanmu… Tapi aku sudah tidak pantas… Aku sudah tidak pantas berada di sisimu…”
Aku menggeleng lagi. Tenggorokanku terasa kering. Tidak bisa mengeluarkan suara apapun.
“Pergilah Ra ya… Carilah kebahagiaanmu… Tinggalkan aku…”
“Ani…” lirihku “Kau tau Kyu… Aku seperti ombak laut… Dan kau pantainya. Ombak akan selalu kembali kepantainya meskipun berkali-kali pasir pantai mengotorinya. Aku pun begitu. Aku akan selalu kembali kepadamu meskipun kau pernah menyakitiku…”
“Aku suami yang gagal Ra ya,”
“Begitu pun aku… Kau benar. Hukumanmu ini masih belum sebanding dengan apa yang telah kau lakukan kepadaku. Karena itu Tuhan memberikan kita hadiah terindah yang harus kau jaga seumur hidupmu,”
Kuraih tangan besarnya yang hangat, kuletakkan di atas perutku “Tiga bulan…” bisikku pelan “Usianya tiga bulan…”
Ia menatapku terkejut kemudian menarikku dalam dekapannya “Maafkan aku Ra ya… Maafkan aku…”
Aku memejamkan mata menikmati pelukannya. Pelukan hangat yang lama kurindukan. “Bahkan setelah hancur menjadi puing-puing, kita masih bisa membangunnya kembali. Bisakah??”
“Tentu… Akan kubangun kembali dan aku akan bertanggung jawab menjaganya seumur hidupku. Terima kasih telah kembali… Aku mencintaimu…”
“Aku lebih mencintaimu Kyu…”
Dering ponsel memecah keheningan. Kulepaskan pelukanku dan merogoh benda itu dari saku mantel. Kutatap kyuhyun sejenak “Hyuki…” bisikku.
Ia tersenyum lalu mengangguk.
“Yeoboseo?” jawabku.
“Ra ya kau ada di mana? Aku dan Yoon Hye sudah di apartement, kau baik-baik saja?”
“Gwenchanae Hyuk Jae ya… Aku masih di rumah sakit saat ini,”
“Mwo? Apa yang terjadi? Apa ada masalah??”
“Aniyo… Aku hanya menemukan kehidupanku… Nanti kuhubungi kau lagi,”
Aku memutuskan teleponeku lalu menatap Kyuhyun.
“Aku tidak mengerti kenapa kau sangat mencintaiku… Bukankah dia lebih baik dariku? Dia mengenalmu begitu lama,”
Aku menggeleng pelan. Kugenggam tangan hangatnya “Kau tau… Aku ini sangat bodoh… Aku terlalu bodoh untuk melihat orang lain selain dirimu. Dia hanya sahabatku Kyu… Lagipula sejak dulu dia sudah punya gadis yang dicintainya, Kim Yoon Hye. Kau ingat?”
Kyuhyun mendesah pelan “Dia pasti akan membunuhku saat tau aku menyakitimu. Aku tidak pernah bisa melupakan tingkah premannya itu,”
Aku tertawa kecil “Kau harus bersiap-siap,”
“Aku merindukan tawamu Ra ya… “ ia menangkup wajahku, membawanya kehadapannya “Aku merindukan semua yang ada di dirimu… Maafkan aku…” bisiknya pelan sebelum melumat bibirku.
Aku memejamkan mata menerima sentuhan lembutnya. Sentuhan yang begitu lama mati. Terima kasih sudah mengembalikan suamiku Tuhan… Aku mencintainya, sangat mencintainya…

FIN