Tags

,

Author : Mona
cast : Jian ren (kangin) and xiao min (mona)


~Prolog~

Di suatu dunia iblis sedang diadakan perkumpulan untuk iblis muda yang belum sempurna menjadi iblis(?)
“Seperti yang kalian ketahui, untuk menjadi iblis sempurna, kalian harus membuat seorang manusia menangis!” ucap menteri kependudukan iblis(?),
“oleh karena itu, kalian masing-masing akan tinggal di dunia manusia bersama sebuah keluarga manusia. Jika kalian berhasil membuat salah satu anggota keluarga tersebut menangis, maka kalian lulus. Jika tidak, kalian akan dieliminasi dari dunia iblis. Khukhukhu…” Kata Menteri Taeyeon.
“Waktu yang kalian punya hanya 1 bulan! Khusus untuk Kangin ada pemotongan waktu untuk ujianmu. Kau hanya diberikan waktu 5 hari (vea rada shock, apalagi kangin) untuk membuat targetmu menangis.” Sambung Menteri Taeyeon sambil menunjuk Kangin.
“Yakk !! Kenapa?” Kangin protes seraya bersiap melempari menteri Taeyeon dengan sendal yang kemarin sempat ia curi dari Shindong.
“Hei.. itu seperti sendalku” Teriak Shindong dari kejauhan.
“DIAM KAU !!!” Bentak Kangin emosi dan berhasil membuat ibu menteri Taeyeon menggeleng kepala melihat tingkah Kangin.
“Aku tidak tahu kenapa kau hanya diberikan waktu beberapa hari. Dan ingat baik-baik untuk semuanya, larangan utama untuk seorang iblis adalah cinta! Jika kalian terkena yang namanya cinta, maka kalian akan gagal. Dan cinta itu ada bermacam-macam jenisnya, rasa suka itu juga termasuk. Pokoknya jika kalian merasa menyukai sesuatu dan tidak ingin menyakiti, merusak ataupun kasihan, maka kalian akan gagal dalam ujian!!”
“Yessss!!”
Bouuugh…
“Yakk, kenapa kau melempariku penghapus??” teriak namja iblis muda yang sekarang berdiri dari duduknya.
“Siapa suruh bermain PSP dan tidak mendengarkan kata-kataku?!” balas bu menteri sebal. Kyuhyun mengusap kepalanya yang tampak sedikit memunculkan benjolan.
“Baiklah ke 13 devilku,jaga baik-baik diri kalian selama di dunia, bersikaplah selayaknya iblis. Kalian berhak menunjukkan identitas kalian, dan tenang saja karena kekuatan kalian tidak akan menghilang. Dan khusus untuk Kangin kekuatanmu akan dihilangkan secara total saat kau di dunia.” Sambung bu menteri Taeyeon. (ngakak puoool -vea)
“Yakk !! Aku lagi? Raja iblis memang ingin menyiksaku saat ujian ini” Runtuk Kangin.
“Hei itu semua juga karna dirimu yang tidak bisa serius saat mengikuti ujian-ujian sebelumnya” Sahut bu menteri.
“Memangnya kapan kami harus berangkat?” tanya Ryewook, devil yang memiliki wajah imut yang bisa menipu lawannya.
“Abad depan!! Tentu saja sekarang bodoh!!” sewot ibu menteri.
“Tapi aku belum berpamitan pada appa dan eomma” sahut Yesung, pemilik skill dead voice.
“Setan tidak butuh itu,” maki ibu menteri kesal.
“tidak perlu memberi salam perpisahan juga!!” sambungnya cepat saat Sungmin akan membuka mulut.
“Wow, pembaca fikiran yang bagus,” gumam Donghae.
“Tentu saja!! Khukhukhu…” Taeyon tertawa setan.
“Oi, jadi kapan kita berangkat?? Be-Te neh dari tadi ngoceh mulu!” maki Heechul yang juga terkenal dengan hotmouthnya.
“Ah benar, aku jadi lupa. Oke semuanya, are you ready??” *ala spongsbob*
“Aya captain!!”
“I can’t hear youuuuu…”
“AYA CAPTAIN!!”
“Berangkaaaaaaatt!!!!”
Bluuuuuuusssssshhhhhhhh…………
Ke 13 devil itu langsung berubah menjadi asap dan menghilang dari pandangan.
“Bagaimana ujiannya?” Tanya seorang devil bertubuh dan bersayap sangat besar yang nampak muncul secara tiba-tiba.
Taeyon tersentak dan mendongak ke atas kemudian tersenyum.
“Sangat lancar yang mulia Lee Soo Man, mereka baru saja berangkat” jawab Taeyeon kepada devil yang bergelantungan di atap seperti kelelawar itu.
“Kemana saja mereka??”
“Hemm… Leeteuk ke Inggris, Shindong ke Ethiopia, Sungmin ke Venezuella, Donghae ke Mesir, Hangeng ke Cina, Heechul ke Brazil, Yesung ke Jepang, Ryewook ke Thailand, Kangin ke Hongkong, Kimbum ke Amerika, Kyuhyun ke Korea dan Eunhyuk ke Indonesia.”
“Hmm… Bagus! Kalau begitu, siapkan para Lucifer untuk ujian bulan depan. Ada berapa orang??”
“5 orang! Onew, Key, Jonghyun, Minho dan Taemin.”
“Baiklah, aku mau pergi main airball dulu, OK. See you!!” raja iblis itu kemudian mengepakkan sayapnya yang hitam dan besar kemudian terbang menembus dinding.

***
1st Day
BUKK!
“Aww,,sakit!” Ringis Ren pelan. Ia jatuh tengkurap di atas tanah. Laki-laki itu segera bangun dan membersihkan pakaiannya. Diusapnya kedua lengannya yang nampak sedikit kotor karna menyentuh tanah tadi.
“aku dimana?” Tanya Ren kepada dirinya sendiri. Diamatinya tempat dimana sekarang ia berada. Sebuah taman dihiasi berbagai macam bunga dengan warna yang berbeda,pemandangan yang sangat indah. Sesaat ia terlena dengan keindahan alam tersebut sampai pada akhirnya Ren teringat sesuatu.
“Ck! Bukankah aku harus mengikuti ujian sekarang? Tapi siapa orang yang harus ku buat menangis?” Lagi-lagi Ren bertanya pada dirinya sendiri.
Sebenarnya Ren adalah iblis yang sedang mengikuti ujian agar bisa menjadi iblis sejati. Dia hanya perlu membuat seseorang menangis untuk lulus ujian tersebut,tapi masalahnya sekarang adalah sampai saat ini Ren tak menemukan orang di taman itu. Keadaan taman sangat sepi,tak ada seorang pun yang terlihat disana. Hal ini membuatnya semakin frustasi.
Ren mencoba berjalan mengelilingi taman,berharap setidaknya ia menemukan apapun yang bisa dibuatnya menangis untuknya. Namun keadaan masih sama,sepi dan hening. Padahal taman itu lumayan bersih dan tampak terawat, Ren bahkan berfikir tidak mungkin jika taman itu tak pernah dikunjungi manusia.
Setelah sekian lama berjalan-jalan di sekitar taman kakinya melemas,peluhnya bercucuran karna kelelahan berjalan sejak tadi. Sampai pada akhirnya ia duduk di bangku taman,lelah yang ia rasakan semakin menjalari tubuhnya. Hatinya semakin putus asa karna tak menemukan siapapun di taman itu. Dalam kegundahannya mata Ren menangkap sesosok gadis yang sedang asyik membaca buku di depan taman tersebut. Senyum manisnya mengembang sempurna dan tanpa aba-aba kakinya berlari menghampiri gadis itu.
“dao bu qi (permisi/maaf)!” Sapa Ren akrab. Gadis yang disapanya menoleh ke arah Ren dan tersenyum ramah.
“ada yang bisa ku bantu?” Tanya gadis itu seraya menutup buku yang dibacanya.
“Tidak. Hanya saja aku sedikit kebingungan disini” Jawab Ren apa adanya. Dia memang tak tahu banyak soal kota ini. Ia hanya tahu jika ia akan menjalani ujian di Negara yang bernama Hong Kong.
“Kalau aku boleh tahu apa kau orang baru disini?” Tanya gadis itu lagi.
“Iya. Aku baru di turunkan dari langit beberapa menit yang lalu” Jawab Ren asal.
Gadis itu nampak mengernyitkan kedua alisnya. Mengisyaratkan jika ia bingung dan tidak mengerti dengan ucapan Ren barusan. Dipandanginya sosok Ren dari ujung rambut sampai ujung kaki kemudian memandang Ren dengan tatapan heran.
“Aku kenapa?” Tanya Ren yang merasa diperhatikan. Sejujurnya ia merasa risih jika ada orang yang memperhatikannya seperti itu.
“Kau bilang kau itu dari langit. Apa maksudmu?” Bukannya menjawab gadis itu malah menanyai Ren.
“Hm~aku ini adalah salah satu iblis yang diturunkan ke bumi untuk mengikuti ujian agar menjadi iblis sejati. Maka dari itu aku perlu bantuanmu” Ungkap Ren dengan nada hati-hati seakan tak ingin gadis itu meninggalkannya begitu mengetahui jika Ren adalah iblis.
“Iblis? Aku tidak mengerti!” balas gadis itu.
“Nanti kau juga mengerti apa maksudku. Oh ya namaku Jiang Ren tapi aku biasa dipanggil Ren. Siapa namamu?” Kata Ren memperkenalkan dirinya sekaligus menanyakan nama gadis itu. Untung saja saat terjatuh dari langit tadi ia sudah mempersiapkan sebuah nama untuknya selama berada di bumi.
“Namaku Xiao Min. Kau bisa memanggilku Min” Sahut gadis itu ramah.
“Nama yang bagus” Puji Ren dan sukses membuat Min tersipu malu

Sejenak keadaan berubah menjadi hening. Keduanya tidak tahu harus berbicara dan membahas soal apa lagi. Min terlihat sedikit menggosok-gosokan kedua telapak tangannya,cuaca memang sangat dingin sekarang. Walaupun musim salju belum waktunya untuk datang namun hembusan angin cukup membuat rasa dingin menembus tulang saat ini.
“Rumahmu dimana?” Tanya Min memecahkan keheningan yang sempat terjadi diantara Ren dengan dirinya tadi.
“Rumah? Ehm,aku tidak tahu! Bolehkah aku tinggal bersamamu?” Tanya Ren dengan wajah polosnya.
Min kembali mengernyitkan kedua alisnya. Mana mungkin dia membawa laki-laki itu ke rumahnya sedangkan mereka baru bertemu beberapa menit yang lalu.
“Kau keberatan?” Tanya Ren lagi saat menyadari jika gadis itu tak menjawabnya.
“Sebenarnya kau ini siapa? Aku tidak mungkin membawa laki-laki ke rumah tanpa asal-usul yang jelas sepertimu” Kata Min.
“Ck! Bukankah aku sudah mengatakan jika aku ini iblis yang sedang menjalani ujian di bumi. Apa itu kurang jelas?” Ucap Ren frustasi.
“Iblis?”
“Perlu ku buktikan? Lihat disana ada sebuah pohon. Aku bisa merubah pohon itu menjadi bunga. Kau mau lihat?”
Min tak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan sambil memperhatikan pohon yang dimaksud oleh Ren. Ren mengarahkan telapak tangannya ke arah pohon dan mulai mencoba merubah seperti apa yang ia maksud. Min memperhatikan tingkah Ren yang sangat lucu menurutnya. Laki-laki itu berulang kali mengarahkan tangannya tapi ternyata pohon itu tetap berdiri pada tempatnya. Tak bergerak sama sekali !!
“Kau bisa mengubahnya?” Ejek Min sambil mengerdip nakal. Ren hanya diam kebingungan,ia memandangi kedua telapak tangannya dengan pandangan heran.
“Aku baru ingat kalau kekuatanku dihilangkan total selama di bumi” Ratap Ren.
“Benarkah?” Tanya Min lagi. Wajahnya masih menunjukkan jika ia sedang mengejek Ren.
“Tolong izinkan aku tinggal di rumahmu. Setidaknya sampai aku berhasil membuatmu menangis. Ku mohon!” Rengek Ren dengan wajah memelas.
Min tak langsung menjawab. Ia memijat pelipisnya seakan tanda jika ia sedang berfikir. Sesaat kemudian ia menghela nafas panjang. Pasrah!! Min tidak mengerti kenapa dirinya harus bertemu dengan laki-laki aneh seperti Ren.
“Baiklah. Kau boleh tinggal di rumahku untuk beberapa saat. Tapi…” Min menggantungkan kalimatnya.
“Tapi?”
“Tapi kau harus menuruti semua peraturan yang kubuat di rumah untukmu. Bagaimana?”
“HAH!”
_____

Min dan Ren memasuki sebuah rumah bergaya eropa klasik. Rumah itu lumayan besar dan indah dengan beberapa pot tanaman yang terletak di sekelilingnya. Batu-batu putih kristal menghiasi sepanjang jalan menuju pintu masuk.
“Rumahmu lumayan besar!” Seru Ren seusai masuk ke dalam rumah Min dan duduk di sofa putih yang ada disana.
“Cukup besar untuk kau dan aku” Sahut Min acuh. Gadis itu berjalan menuju dapur kemudian mengambil 2 gelas orange juice dan membawanya keluar.
“Kau suka orange juice?” Tanya Min sambil menyerahkan salah satu gelas yang ada di tangannya kepada Ren.
“Aku tidak tahu dengan minuman ini tapi sepertinya enak!” Komentar Ren kemudian mulai meneguk minumannya.
“Kau tidak tahu orange juice? Berarti otakmu itu lebih polos daripada anak TK” Min tertawa mengejek.
“Di dunia iblis tidak ada minuman seperti ini. Wajar saja jika aku tidak tahu” Bantah Ren.
“Lagi-lagi kau menganggap dirimu iblis. Aku sampai bingung harus menyadarkanmu seperti apa”
“Untuk apa kau menyadarkanku? Aku memang sudah sadar dari tadi. Oh iya,aku boleh minta minumannya lagi? Ini sangat enak!”
“Kau bisa mengambilnya sendiri. Sekarang aku ingin memasak untuk makan malam.”
Min kembali melangkah ke dapur dan mulai memasak untuk makan malam. Sedangkan Ren menghibur dirinya dengan berjalan-jalan di dalam rumah. Ia pergi melihat keadaan kamar dan beberapa tempat. Sampai ketika ia memasuki kamar Min,kamar yang didominasi cat hitam dan merah. Tak banyak perabot di dalamnya. Hanya ada satu meja rias dan 2 buah lemari dengan ukurang berbeda. Dindingnya juga hampir terlihat polos tanpa tempelan foto siapapun kecuali foto Min sendiri yang terletak di salah satu sudut ruangan. Foto dengan ukuran yang lumayan besar,disana terlihat Min sedang tertawa dengan pandangan mata yang menatap ke arah lain. Senyum yang begitu manis terlihat menghiasi wajah polos milik gadis itu. Indah, mungkin hanya kata itu yang mampu mendeskripsikan sosok Min di foto itu.

“Dia sungguh manis!” Kata-kata itu tergumam dari mulut Ren tanpa ia sadari.
“Sedang apa kau disini!” Bentak Min saat memasuki kamarnya. Sontak Ren pun terkejut dan memandang ke arah pintu.
“Ah~tidak. Aku hanya melihat-lihat keadaan di rumahmu”
“Memangnya ada apa dengan rumahku? Ada aura yang tidak baik,hm~? Atau kau ingin mengatakan jika kau merasakan aura iblis lain sedang menyapamu?”
“Yakk aku tak mengatakan itu”
“Baiklah. Sebaiknya sekarang kita makan. Mungkin otakmu itu akan lebih waras jika perutmu di isi. Jadi kau tidak perlu mengkhayal tentang iblis lagi”
“Hah? Apa maksudmu? Aku tidak mengkhayal. Aku ini benar-benar iblis”
Min tak menanggapi bantahan Ren. Ia berlalu keluar dan pergi menuju ruang makan. Ren hanya bisa mendengus kesal karena gadis itu meninggalkannya. Dipandanginya lagi foto Min dari jauh lalu tersenyum sinis.
“Kau memang manis tapi kau juga sangat menyebalkan!” Ejek Ren sebelum akhirnya ia keluar mengikuti langkah Min.

Min dan Ren makan malam dalam suasana hening. Hanya sesekali terdengar ujung sumpit yang menyentuh dasar mangkuk masing-masing dari mereka. Dua puluh menit berselang makanan habis,mangkuk mereka masing-masing terlihat kosong sekarang. Min meraih gelas berisi air yang terletak di sampingnya dan meminum isinya.
“Min..” Lirih Ren pelan,gadis yang dipanggil hanya membalas dengan tatapan mata seraya terus menghabiskan minumannya.
“Kenapa udara disini panas sekali?” Sambung Ren.
“Panas?” Tanya Min heran. Apa udara di rumah itu benar-benar panas? Bukankah di luar sedang turun salju?
“aku merasa udara sangat panas.” Ren melipat tangannya di atas meja.
“Hm~ tunggu dulu. Itu..”
Min tak melanjutkan perkataannya. Tangannya bergerak ke arah wajah Ren. Laki-laki itu merasa curiga kemudian menjauhkan wajahnya dari jangkauan Min. Melihat semua itu Min mendengus kesal kepada Ren.
“Kesini kan wajahmu! Kenapa kau menjauh?” Bentak Min kesal.
“Mau apa kau?” Selidik Ren.
Min tak menjawab pertanyaan Ren. Ia mendekatkan tangannya lagi dan mengusap pinggiran bibir Ren dengan salah satu jari tangannya. Jantung Ren serasa berlari dari tempatnya sekarang.
“Kau itu seperti anak kecil. Makan pun masih belepotan.” Cerca Min kasar. Ren hanya tersenyum malu sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tak gatal sama sekali. Min menggeser kursinya kemudian berdiri.
“Hari sudah malam. Aku juga sangat lelah,jika kau ingin tidur pergilah ke kamar sana.” Kata Min sambil menunjuk ke arah sebuah kamar.
“Disana ada beberapa baju kakak laki-lakiku untukmu. Jika kau masih merasa kepanasan kau bisa nyalakan AC” Sambung Min lagi kemudian melangkah ke kamar tidurnya.
“ Min..” Ren menahan tangan Min. Sontak gadis itu pun menoleh.
“Ada apa lagi?” Tanya Min acuh. Saat ini dia memang sudah sangat mengantuk.
“Err kira-kira kau akan menangis berapa hari lagi?” Tanya Ren dengan polosnya.
“Menangis? Aku tidak tahu. Memangnya kenapa?” Min bertanya balik
“Aku hanya tak ingin terlalu lama berada di bumi” Sahut Ren dan tak mendapat respon apapun dari Min karna gadis itu melanjutkan niatnya untuk melangkah ke kamar.
‘Kenapa manusia itu menyebalkan?’ Runtuk Ren kesal

2nd Day

Min mengucek-ngucek kedua matanya perlahan. Sinar matahari terlihat menembus pintu kaca yang berada di kamarnya. Membiaskan cahaya yang sangat menyilaukan matanya. Dengan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya Min membuka pintu kamar dan melangkah keluar. Begitu ia melihat keadaan di luar hatinya sedikit terkejut. Ruangan kini sudah bersih. Beberapa tangkai mawar segar sudah ada di vas bunga. Min melangkah lagi ke dapur,dilihatnya disana ada seorang laki-laki sedang menata makanan di meja makan.
“Kau sudah bangun rupanya” Kata Ren sambil terus menata makanan. Min hanya mengangguk pelan lalu menghampiri meja makan dan duduk di salah satu kursinya.
“Kau yang menyiapkan semua ini?” Tanya Min.
“Iya. Memangnya kenapa?” Sahut Ren tanpa menoleh.
“Kau juga yang memetik beberapa tangkai bunga mawar dan meletakkannya di vas?”
“Diluar hanya ada bunga mawar jadi aku memanfaatkan apa yang ada”
“Ya sudah. Aku mandi dulu!” Kata Min seraya beranjak dari tempat duduknya.
“Kau ingin mandi? Bolehkah aku ikut?” Goda Ren
“Kau benar-benar ingin mandi denganku?” Min mengerling mata nakal ke arah Ren dan disambut anggukan semangat oleh laki-laki itu. Dan dalam hitungan detik sebuah sendal rumahan melayang ke wajah Ren dan berhasil membuatnya meringis pelan. Ia memegang salah satu sudut jidatnya yang terkena lemparan sandal tadi sedangkan Min hanya tertawa keras seraya memegangi perutnya.
“Kau masih ingin ikut mandi?” Kini Min berbicara dengan nada mengejek.
“Sepertinya akan lebih baik kau mandi sendiri. Aku tak ingin kehilangan kepalaku jika mandi bersamamu.” Sahut Ren kesal.
Min hanya menggeleng pelan kemudian meneruskan niatnya pergi ke kamar mandi.
_____

“Masakanmu lumayan enak. Dimana kau belajar?” Tanya Min sambil melahap makanannya. Sekarang ia dan Ren memang sedang sarapan.
“Aku tidak belajar. Hanya melihat dari buku resep masakanmu yang ku temukan di lemari.” Jawab Ren. Min hanya mengangguk tanda jika ia mengerti. Beberapa menit kemudian mereka selesai. Min masuk ke kamarnya dan mengambil tas serta seragamnya.
“Kau mau kemana?” Tanya Ren heran.
“Aku ingin ke rumah sakit. Aku bekerja menjadi asisten dokter. Kau di rumah saja tidak usah mengikutiku” Ucap Min.
“Memangnya siapa yang ingin ikut?!” Ren tertawa puas sedangkan Min hanya bisa menghela nafas panjang.
Min menuju pintu luar ditemani oleh Ren. Seusai memastikan jika Min telah pergi laki-laki itu pun kembali ke dalam dan membereskan bekas makan mereka tadi. Ren mencuci piring didampingi musik yang ia dengarkan dari DVD yang ada di rumah itu. Selagi asyik mendengar musik, telepon rumah berdering. Awalnya Ren tak menghiraukan panggilan itu namun telepon berbunyi terus menerus. Dengan langkah malas Ren menghampiri telepon itu kemudian mengangkat telepon.
“Ada yang bisa ku bantu?” Sahut Ren setelah gagang telepon menempel di telinganya.
Hening.
“Apa ada orang disana?” Ren lagi-lagi menyapa namun si penelpon tetap tak bersuara. Laki-laki itu nampak kesal dan langsung menutup teleponnya dengan kasar.
‘jika tak ada apa-apa untuk apa menelpon?’ Ren menggerutu kesal. Ia pun kembali melangkah ke dapur dan melanjutkan pekerjaannya.
_____

“Siang ini kau nampak bersemangat sekali” komentar dokter Han pada asistennya seraya terus membolak-balik berkas yang ada di tangannya. Min hanya tertawa renyah menanggapi komentar dari atasannya itu sambil terus mencatat dalam sebuah buku.
“Mungkin hanya perasaanmu saja. Aku tak merasa ada perbedaan apapun hari ini” Jawab Min sambil tertawa.
“Aku fikir kau sedang jatuh cinta. Kau benar-benar berbeda hari ini Min”
“Benarkah? Bukankah aku ini memang selalu bersemangat?”
“Kepercayadirianmu meningkat drastis. Ya sudah aku ke ruanganku dulu,jangan lupa kau antar jadwal pasien untuk besok ke ruanganku.”
“Siap pak!!”
Dokter Han hanya mengacak-acak rambut gadis yang lebih muda 7 tahun darinya itu sambil tertawa kemudian ia pun melangkah ke luar.
‘Apa aku memang sedang jatuh cinta? Tapi pada siapa?’ guman Min dalam hati. Ia hanya tertawa menanggapi gumaman konyol dari hatinya. Pasalnya sekarang gadis itu sudah mempunyai kekasih dan tak mungkin jika ia jatuh cinta dengan orang lain sementara dirinya merasa sangat mencintai kekasihnya itu.

BRAKK!! Pintu ruangan terdengar dibuka secara kasar oleh seseorang. Min menoleh ke arah pintu dan mendapati seorang lelaki berdiri disana. Lelaki itu mendekat ke mejanya dan tiba-tiba menampar gadis itu. Min yang tak siap mendapat tamparan akhirnya tak bisa menghindarinya. Semburat rona berwarna merah terlihat menghiasi pipi indahnya sekarang. Gusinya terasa berdenyut nyeri hingga membuatnya sedikit mendesis menahan sakit. Min menatap laki-laki itu dengan tatapan heran.

“Jie~bo kenapa kau menamparku?”Tanya Min. Sebelah tangannya masih mengusap pipi yang ditampar oleh Tan.
“Jangan pernah memanggilku dengan sebutan itu lagi.Menjijikan!” Hardik Tan yang tak lain adalah kekasih Min sendiri.
“Apa maksudmu?” Kini Min bertanya dengan nada suara yang lebih tinggi dari sebelumnya. Wajahnya memerah menahan amarah yang hampir meledak. Tan datang begitu saja kemudian menamparnya tanpa ia tahu apa salahnya. Belum lagi beberapa karyawan rumah sakit banyak yang melihat peristiwa memalukan tadi,hal ini sangat keterlaluan menurut gadis berumur 22 tahun tersebut.
“Aku tak menyangka jika kau adalah gadis murahan Min” Ledek Tan dengan wajah sinis.
“Apa maksudmu tuan Tan?” Min berusaha menahan dirinya untuk tetap bersabar.
“Siapa laki-laki yang tinggal bersamamu sekarang heh? Kakakmu? Tadi aku baru saja menelponnya dan kakakmu bilang dia masih ada di Prancis. Atau jangan-jangan itu arwah ayahmu” Kata-kata Tan semakin terdengar mengejek Min. Hati Min tiba-tiba merasa nyeri setelah mendengar perkataan Tan tadi. Begitu sakit bahkan lebih dari yang ia rasakan saat dirinya mendapat tamparan dari salah satu telapak tangan milik kekasihnya itu.
“Dia hanya temanku” Sahut Min ketus.
“Dengan mudahnya kau mengajak teman laki-lakimu tinggal bersama. Lalu apa yang kalian lakukan tadi malam? Ku fikir kau wanita baik-baik Min. Tapi ternyata dugaanku salah besar!” Kini Tan membalas dengan suara yang hampir bisa dikatakan berteriak.
PLAK!
Tanpa bisa dicegah Min melayangkan sebelah tangannya untuk menghantam pipi Tan. Laki-laki itu menatap tajam ke arah Min sambil mendesis pelan.
“Jaga mulutmu tuan. Kau fikir kau siapa? Dengan mudahnya kau mengeluarkan kata-kata seperti itu” Min berkata dengan emosi sambil menunjuk ke wajah Tan. Laki-laki itu tak menjawab,ia hanya tersenyum jahat dan berbalik keluar.
“Ingatlah aku akan membalasmu Min. Kau lihat saja nanti!” Tan berteriak sekeras yang ia bisa sebelum badannya benar-benar keluar dari ruangan itu.
Tangis Min pecah,ia terduduk pelan di kursinya. Air mata Min jatuh terus-menerus. Dadanya terasa sesak hingga gadis itu pun mulai terisak pelan. Dokter Han tiba-tiba masuk ke ruangan itu dan langsung menghampiri Min yang sedang menangis di mejanya.
“Min…Kau kenapa?” Tanya dokter Han saat melihat gadis itu menangis. Mendengar suara dokter Han,Min dengan cepat menghapus air matanya dan menoleh ke arah dokter Han.
“Aku tidak apa-apa dokter.” Jawab Min dengan ekspresi dingin.
“Benarkah? Oh iya tadi ku lihat Tan keluar dari sini sambil berteriak. Kalian bertengkar?”Selidik dokter Han. Min tak menjawab,lagi-lagi airmatanya keluar dengan derasnya.
“Aku sarankan sebaiknya kalian berpisah saja. Kau sudah terlalu banyak mengeluarkan airmata untuknya,apa kalian masih saja memaksa hubungan yang tidak pernah ada kecocokan? Istriku saja sering prihatin jika melihat kau yang selalu bertengkar dengan laki-laki itu.” Dokter Han menatap kasihan pada asistennya itu.
“Mungkin aku yang terlalu mencintainya” Ungkap Min dengan nada pasrah.
“Sebaiknya kau pulang. Lagipula shiftmu hari ini sudah habis. Kau tenangkan hati dan emosimu sekarang di rumah” Saran dokter Han. Min hanya mengangguk lemah kemudian meraih tasnya dan berlalu keluar.

_____

Ren memindah-mindahkan channel televisi yang ada di hadapannya. Hari ini seperti menjadi hari yang paling membosankan menurutnya. Seharian laki-laki itu hanya berdiam diri di rumah tanpa mempunyai ketertarikan untuk melihat atau berjalan-jalan di luar rumah milik Min. Menonton televisi dan membaca buku yang ada di rumah itu tak sedikit pun mengusir rasa bosannya. Diliriknya jam dinding yang ada di atas dinding,jarum pendek jam tersebut sudah menunjuk ke angka 12 sejak beberapa menit yang lalu. Sesaat kemudian ia berjalan ke arah jendela dan membuka tirainya. Keadaan diluar sudah sangat gelap walaupun masih terlihat biasan cahaya rembulan yang nampak menerangi keadaan di sekitar rumah.

‘kenapa dia belum pulang?’ Tanya Ren dalam hati.
Belum sempat pertanyaan hatinya terjawab terdengar suara pintu rumah di ketuk oleh seseorang. Ren bergegas ke ruangan depan untuk membuka pintu. Begitu pintu dibuka,dilihatnya Min berdiri dalam keadaan setengah sadar. Gadis itu masuk dengan langkah terhuyung dan tanpa disadari tubuh gadis itu kehilangan keseimbangan. Untunglah Ren segera menahan tubuh Min sehingga gadis itu tak jadi jatuh ke lantai melainkan jatuh ke pangkuan Ren. Sekarang wajah laki-laki itu berhadapan begitu dekat dengan wajah Min yang tampak memerah,gadis itu membuka matanya dan menatap Ren sambil tersenyum. Aroma alkohol begitu menyengat indra pencium milik Ren. Min terus tersenyum pada Ren tanpa mengatakan sepatah kata pun. Tak lama kemudian Min menangis terisak. Ren yang melihat hal tersebut hanya bisa tersenyum kaku.
“Kau..Kenapa kau tidak berfikir untuk menciumku?” Rancau Min tak jelas. Ren membelalakan matanya mendengar perkataan Min baru saja ia dengar. Ia menatap Min tak percaya seraya menepuk-nepuk pelan pipi Min,berusaha agar gadis itu bisa tersadar dari mabuk yang sekarang dialaminya. Hati Ren sekarang pasti sudah digerogoti dengan banyak pertanyaan soal kata-kata yang diucapkan oleh Min tadi.
“Kenapa kau diam saja? Ayo cepat cium aku.” Sambung Min lagi.
“Sebaiknya kau ku antar ke kamar. Perkataanmu semakin tidak jelas sekarang” Ren menggedong Min ke kamar milik gadis itu. Mulut Min masih merancau tak jelas,nama seorang laki-laki terdengar terus menerus disebutnya diantara isakan tangisnya yang tercipta begitu saja.
Begitu sampai di kamar,Ren menidurkan Min di ranjang dan menyelimutinya. Wajah Min yang begitu polos nampak memerah sekarang,mungkin malam ini dia terlalu banyak minum. Ren merapikan poni Min yang terlihat berantakan sementara gadis itu masih merancau tak jelas. Entah dari mana asalnya tiba-tiba perasaan itu datang lagi! Perasaan yang sama saat Min menyapu bibirnya kemarin. Sebuah perasaan yang begitu ingin memiliki dan membahagiakan. Perasaan yang bisa membuat debar di jantung tak karuan hanya dalam hitungan detik!
‘Ini tidak boleh terjadi. Tugasku hanya membuatnya menangis!’ Gumam Ren dalam hati. Ia pun beranjak dari tempak duduknya dan bersiap melangkah keluar. Namun tangan Min bergerak menahannya. Ren kembali berbalik dan menatap gadis itu bingung.
“Temani aku tidur disini” Ucap Min dengan mata masih terpejam. Ren mengernyitkan dahinya pelan. Apa gadis itu merancau lagi?
“Jie~bo temani aku tidur” Lagi-lagi Min berkata dengan mata terpejam bedanya kali ini ada nada rengekan dalam suaranya.
“Aku bukan Jie~bo. Aku Ren” Jawab Ren singkat. Ia melepaskan tangannya dari pegangan Min dan berniat melanjutkan langkahnya.
“Aku mohon~” Min terisak pelan dalam tidurnya. Butiran airmata keluar dari sela-sela garis yang ada di matanya. Ren memandang kasihan pada gadis itu. Isakan Min terdengar semakin keras. Karna tak tega Ren pun menuruti keinginan Min. Ia melangkah ke ranjang dan merebahkan diri di samping gadis itu. Belum sampai semenit sepasang tangan melingkar di pinggangnya. Min memeluk Ren!
Badan Ren terasa kaku seketika. Jantungnya semakin berdebar lebih cepat dari sebelumnya. Ia menoleh ke samping dan didapatinya wajah Min yang tidur dengan tenang. Hembusan nafas gadis itu menerpa kulit wajahnya dan menimbulkan sensasi keindahan dalam perasaan hatinya.
‘Ujian yang menyenangkan’ Batin Ren sambil tersenyum dan membalas pelukan Min. Ia pun mulai memejamkan mata dan berusaha untuk ikut tidur bersama Min.

3rd Day

Min membuka sepasang matanya perlahan. Sekarang masih jam 6 pagi namun ia sudah terbangun. Benar-benar kejadian yang sangat langka baginya!
Beberapa menit kemudian ia tersadar jika sedang berada dalam pelukan seseorang. Min sedikit mendongak ke atas dan melihat Ren sedang tertidur pulas sambil memeluk tubuhnya. Wajah yang sangat polos ketika tidur. Hembusan nafas tenang dan hangat keluar dari hidung Ren. Min menyentuh pipi laki-laki itu dan membelainya lembut. Ren bergerak pelan dan semakin mengeratkan pelukannya pada Min. Memberikan kehangatan yang lebih dari tadi malam,Min pun merasa jika pelukan Ren berbeda dengan pelukan yang sering ia rasakan dari Tan. Pelukan yang tenang dan penuh kelembutan bukan pelukan yang hanya dilandasi oleh nafsu belaka. Tak berapa lama setelah itu mata Ren terbuka. Min hanya bisa menunduk untuk menahan malu,ia tak menyangka jika Ren akan bangun secepat itu. Pasti wajahnya sudah memerah sekarang!

“Selamat pagi. Bagaimana pelukanku semalam?” Ren bertanya sambil terkekeh kecil dan sukses membuat wajah gadis yang ditanyainya semakin memerah.
“Bisa kau lepaskan pelukanmu? Aku ingin mandi dan membuat sarapan untuk kita” Kata Min singkat. Ia benar-benar tak berani menatap laki-laki itu sekarang!!
“Tidak! Kau harus memberiku morning kiss jika ingin ku lepaskan” Goda Ren.
“Apa? Morning kiss? Tapi kau bukan suamiku” Bantah Min sambil mengerucutkan bibirnya.
“Memangnya kita harus menikah dulu agar aku bisa mendapat ciuman darimu?” Kegilaan Ren semakin meningkat.
“Tapi aku tidak bisa melakukannya”
“Kau cium aku sekarang atau aku yang akan melakukannya” Ren berkata dengan setengah mengancam.
“Tapi a_”
Tanpa banyak basa-basi Ren mencium bibir Min. Gadis itu merasa sedikit shock dengan peristiwa itu. Sampai beberapa detik kemudian Min mendorong tubuh Ren secara paksa dan menghentikan ciuman mereka. Ia segera meraih handuk dan berlari keluar. Melihat kejadian itu Ren tertawa puas.
‘setidaknya ada peningkatan dari tadi malam. Bibirnya manis’ Kata Ren dalam hati. Selanjutnya ia pun berjalan keluar meninggalkan tempat ia dan Min tidur tadi malam.
_____

Min mengaduk-aduk sup yang ia masak di dalam sebuah panci. Terkadang ia tersenyum sendiri saat mengingat kejadian tadi pagi. Dirabanya sedikit bibir merah miliknya,ia sendiri pun masih tak percaya jika bisa melakukan itu.
“Ada apa dengan bibirmu?” Tanya Ren yang baru saja selesai mandi. Min menoleh dan mendapati Ren yang sedang heran melihatnya. Rambut laki-laki itu nampak basah dan acak-acakan sehingga menimbulkan kesan seksi di mata gadis itu.
“Hm~tidak.” Jawab Min singkat. Ia tak ingin Ren merasa besar kepala karna ia mengingat-ngingat kejadian tadi.
“Benarkah? Aku fikir kau memikirkan kejadian tadi pagi. Tenang saja, itu hanya lelucon” Kata Ren sambil menahan tawanya.
“Hey itu first kiss-ku dan kau anggap itu hanya sebuah lelucon.” Min memandang Ren dengan pandangan menyeramkan seakan ia ingin memangsa pria itu saat ini juga.
“Haha.. iya maaf. Aku hanya bercanda” Ren pun melangkah ke kamar dan memasang bajunya. Seusai berpakaian Ren kembali ke dapur. Dilihatnya Min sedang menyiapkan sarapan di meja makan. Wajah gadis itu tampak hangat di pagi yang sesejuk ini
‘Gadis itu benar-benar cantik!’ Gumam Ren. Seulas senyum terlukis di wajah laki-laki itu dan mampu membuat Min menjadi salah tingkah.
“Jangan menatapku seperti itu atau kau akan mati!” Suara hardikan dari mulut Min terdengar merasuk ke dalam telinganya. Ren hanya berdecak kesal kemudian berjalan menuju meja makan. Ia duduk di salah satu kursi lalu meminum segelas air.
“Sekarang ayo makan. Setelah ini aku akan membawamu melihat-lihat kota ini,bagaimana?” Tawar Min seraya duduk di kursinya.
“Kau tidak bekerja?” Tanya Ren singkat.
“Hari ini aku libur. Dokter menyuruhku istirahat” Sahut Min riang.
“Tentu saja kau disuruh istirahat. Tadi malam terlalu banyak alkohol yang kau minum” Sambung Ren seraya menyuapkan potongan roti pertama ke mulutnya.
“Jangan meledekku!”hardik Min kesal.
“Terkadang aku bingung dengan manusia. Kenapa mereka sering melarikan diri dari masalah kepada hal-hal yang lebih sulit,padahal mereka sudah diberi kecerdasan berfikir tapi kenapa masih saja bersikap kekanak-kanakan? Tidak masuk akal” Ren bergumam pelan.
“Kau bingung dengan manusia? Memangnya kau siapa? Bukan manusia?” Ledek Min dengan penuh kemenangan.
“Memang bukan. Aku ini iblis,kau sudah tahu kan?”Ucap Ren singkat.
“Sebaiknya kita makan saja. Sepertinya fikiranmu mulai kemana-mana” Min segera memulai lahapan pertamanya.
‘selalu saja tak percaya dengan apa yang ku katakan” Gerutu Ren dalam hati.
_____

Ren mengenakan sebuah sweeter putih yang diberikan Min padanya. Memang terasa longgar namun hanya sweeter itu yang ada untuk Ren. Laki-laki itu mendatangi Min yang sudah menunggunya di luar.
“Tidak terlalu buruk” Komentar Min ketika melihat penampilan laki-laki itu. Min meraih tangan Ren dan membawa laki-laki itu berjalan.
‘Tidak terlalu buruk? Itu sama saja jika kau mengatakan aku ini buruk” Protes Ren kesal.
“Sudahlah jangan terlalu di fikirkan. Ayoo” Min pun menggandeng tangan Ren.

Cuaca terlihat sedikit lebih cerah hari ini. Walaupun butiran es bernama salju masih saja turun sedikit demi sedikit. Min dan Ren bergandengan tangan dan berjalan bersama melihat-lihat keadaan kota. Terkadang ada canda-tawa yang tercipta diantara mereka. Kebahagiaan yang timbul membuat hati masing-masing dari mereka terasa nyaman dan penuh kehangatan di udara sesejuk sekarang ini.

Mereka sempat singgah di beberapa tempat yang menyenangkan seperti dufan dan toko souvenir. Min dan Ren menyempatkan diri bermain roal coaster dan berbagai macam wahana lainnya sampai tanpa mereka berdua sadari jika hari telah beranjak sore.
“Kau senang?” Tanya Ren sambil terus menggenggam tangan gadis yang sekarang berjalan tepat di sampingnya.
“Sekarang aku merasa lebih baik dari tadi malam” Jawab Min sambil tersenyum ramah dan berhasil membuat hati Ren kembali diterpa perasaan yang tak wajar.
“Tadi malam memangnya kau kenapa? Kau ada masalah?” Lagi-lagi Ren bertanya. Min menghentikan langkahnya kemudian mendengus pelan.
“Sebaiknya kita mencari tempat yang nyaman untuk kau bercerita” Ren menarik tangan Min dan membawa gadis itu ke sebuah kafe yang ada di dekat sana.
Min dan laki-laki itu memasuki sebuah kafe dan duduk di salah satu kursi yang ada di dalam sana. Seorang pelayan kafe menyambut kedatangan mereka dan menanyakan pesanan. Dua cangkir Milkcoffe menjadi pilihan mereka berdua saat ini.
“Pesanan akan segera datang. Permisi” Kata pelayan café dengan ramahnya kemudian meninggalkan Min dan Ren.
“Sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi” Bujuk Ren. Min hanya mendesah pelan dan melipat kedua tangannya di atas meja kemudian menenggelamkan wajahnya di atas tangannya
“Jika kau tak ingin bercerita aku tak memaksamu.” Sambung Ren. Ia mendekatkan wajahnya ke kepala Min. Sedetik kemudian gadis itu mendongak hingga mata mereka pun saling bertatapan.

Gejolak perasaan di dalam dada Ren semakin tak bisa dikendalikan. Begitu pula dengan Min,di hatinya timbul perasaan yang sama dengan Ren. Mata mereka berdua seakan berbicara dan mengungkapkan isi hati masing-masing saat ini. Menyampai bait-bait nada yang ada di hati masing-masing walaupun pada akhirnya mereka tersadar dan Ren menjauhkan wajahnya dari posisinya semula. Keduanya sama-masa tersipu malu dalam hening. Untunglah tak lama kemudian pesanan minuman mereka datang,memecahkan segala keheningan yang tercipta diantara mereka.

“Aku sedang mencintai seseorang. Tapi orang yang ku cintai itu selalu menyakiti hatiku. Mungkin konyol jika kau dengar aku tak berani melepasnya tapi aku memang sangat mencintai laki-laki itu” Curhat Min sesaat setelah menyesap minumannya.
“Siapa dia?” Tanya Ren sambil menghirup aroma minumannya. Harum !!
“Namanya Junjie. Dia dari keluarga Tan,apa kau mengenalnya?”
“Di kota ini aku hanya mengenalmu. Tak ada yang lain”
“Aku sudah lama berpacaran dengannya. Namun akhir-akhir ini aku merasa dia mulai berubah. Sekarang dia menjadi pemarah dan egois. Dia seringkali mengataiku wanita yang tidak baik bahkan kemarin dia sempat menamparku sewaktu aku bekerja.” Kata Min pelan. Dadanya menjadi sesak ketika peristiwa kemarin kembali menghantui fikirannya saat ini. Dinding-dinding dunia serasa menghimpit tubuhnya sekarang. Mungkin hanya satu kata yang bisa menggambarkan suasana hati Min sekarang. Sakit !!

“Menamparmu? Tapi kenapa?” Tanpa sadar Ren berkata emosi setelah mendengar cerita Min. Ingin rasanya ia pergi mencari Tan dan memberi laki-laki itu pelajaran.
“Entahlah. Dia tahu jika kau tinggal di rumahku. Kira-kira dia tahu darimana menurutmu?” Tanya Min. Untuk kesekian kalinya gadis itu menyesap milkcoffe miliknya

Ren tak menjawab ia mengingat-ngingat hal yang menjadi kemungkinan besar membuat Tan tahu jika ia tinggal bersama Min. Tak ada kejadian yang bisa menjadi petunjuk teka teki tersebut. Cukup lama Ren dan Min mengingat-ngingat peristiwa yang terjadi kemarin sampai akhirnya Ren teringat sesuatu dan angkat bicara.

“Eum~kemarin ada seseorang yang menelpon ke rumahmu. Tapi begitu kuangkat dia tak berbicara apapun karna aku kesal ku tutup saja teleponnya” Jelas Ren pelan.
“Apa? Ya Tuhaaann… Sepertinya nasib memang tak berpihak padaku.” Sungut Min kesal.
“Kenapa kau tak menjelaskan saja yang sebenarnya?”
“Aku sudah mencoba untuk menjelaskan padanya tapi ia tak mau mendengarkanku” Sepasang mata milik gadis itu mulai terlihat berkaca-kaca. Ren hanya bisa diam karna ia tak tahu apa yang harus ia lakukan.
“Sudah jangan menangis. Laki-laki tak hanya dia” Lirih Ren pelan. Mencoba memberikan sedikit semangat untuk temannya itu.

Min mendesah kecil dan memandang keadaan di luar kafe lewat sebuah dinding kaca. Butir-butir es turun dengan teratur dan menyisakan keindahan dalam udara sedingin ini. Pucuk-pucuk pohon tampak dihinggapi benda putih bernama salju. Awalnya tak apa-apa, Min terus menikmati keindahan guguran salju namun keadaan berubah saat matanya menangkap sosok seorang laki-laki.
Min sedikit terhenyak ketika ia melihat Tan bersama dengan seorang wanita. Wanita yang bahkan tak pernah ia lihat sebelumnya. Betapa sakitnya hati Min saat menyaksikan wanita itu dengan leluasanya bergelayut mesra di lengan kekar kekasihnya itu. Pemandangan yang sangat menyakitkan !! Ingin rasanya ia menghampiri mereka berdua dan memberitahu betapa sakitnya hati Min saat ini namun hatinya tak cukup kuat untuk berdiri dan berjalan kesana.Sudah terlalu banyak luka yang mematikan hatinya bahkan luka yang ditorehkan Tan kemarin pun belum sembuh sepenuhnya. Seberkas kilatan kecewa hinggap di sepasang mata coklat Min. Perlahan namun pasti dua bulir air mata turun dengan manis dari kedua bola matanya dan menciptakan anak sungai kecil di kedua pipinya. Sebuah jari milik Ren bergerak mengusap pelan pipinya. Mencoba untuk menghapus airmata dari pipi temannya itu. Min menatap Ren dengan pandangan sayu. Ia mengisyaratkan jika ia benar-benar lelah sekarang. Ren mengangguk pelan seakan menjawab kesedihan gadis itu. Lantas keduanya pun segera membayar minuman mereka dan keluar dari kafe. Saat di depan pintu kafe Min memandang ke arah Tan yang masih terlihat sedang asik melihat-lihat souvenir di pinggir jalan bersama wanita yang dirangkul oleh laki-laki itu. Beberapa kali terlihat tawa mesra tercipta halus diantara Tan dan wanita yang sedang menggandengnya itu. Hati Min benar-benar remuk sekarang. Setelah semalam ia ditampar dan dihina,hari ini dengan pasrahnya ia harus menerima kenyataan ia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika kekasihnya menggenggam tangan wanita lain. Benar-benar biadab!!

“Dia Tan?” Tanya Ren yang seakan bisa membaca fikiran Min. Yang ditanya hanya mengangguk lemah tanpa menjawab apapun.
“Kenapa dia bersama wanita lain?”Tanya Ren lagi. Min terisak pelan kemudian berlari menjauh dari sana. Ren yang merasa ditinggalkan akhirnya memutuskan untuk mengejar Min. ia tak mungkin terus berdiam dan membiarkan Min pergi begitu saja sementara dirinya tak tahu jalan pulang!

Min berlari kencang tanpa menoleh ke belakang. Teriakan Ren yang memanggilnya sama sekali tak ia hiraukan sedikit pun. Sesampai di sebuah taman Min mendadak berhenti dan kembali terisak. Kakinya seperti tak bisa menginjak bumi lagi sekarang. Melihat gadis itu berhenti,Ren segera menghampiri Min yang sedang menangis. Dibalikannya tubuh gadis itu dan langsung memeluknya erat. Min menumpahkan seluruh emosinya dalam pelukan Ren. Isakan-isakan kecil seringkali terdengar dan membuat Ren juga ikut merasa sakit. Entah sakit karna sedih atau karna ia hanya prihatin terhadap kehidupan Min yang terlampau menyakitkan dalam pandangannya selama ia tinggal bersama gadis itu.

‘Kenapa kau tidak bisa menangis untukku?’ Tanya Ren dalam hati.

Ren semakin mengeratkan pelukannya. Mencoba memberi ketenangan dan berbagi sedikit kehangatan untuk teman perempuannya itu. Isakan tangis Min mulai sedikit mereda. Perlahan ia melepaskan pelukan Ren dan mengajak laki-laki itu pulang.

4th Day

Min mencorat-coret kertas putih yang ada di atas meja kerjanya sekarang. Fikirannya kalut memikirkan kejadian kemarin,dimana ia melihat Tan dengan wanita lain. Min mulai menyadari jika ia terlalu banyak mengeluarkan air mata untuk laki-laki yang sudah jelas sering menyakitinya. Beberapa saat kemudian desahan lelah terdengar keluar di balik bibir tipis miliknya.
“Kau masih terlihat sangat lelah hari ini Min” Tegur dokter Han. Min menoleh sebentar pada atasannya itu kemudian melanjutkan kegiatan mencoretnya.
“Kalau kau masih tak bisa bekerja untuk beberapa hari kau boleh ambil cuti” Sambung dokter Han.
“Aku masih tak bisa melepas Tan” Jawab Min sekenanya. Dokter Han mengerutkan kedua alisnya hingga bertemu satu sama lain dan membentuk garis lengkung ke bawah yang sangat indah diatas sepasang mata miliknya.
“Kau sangat mencintainya?” Tanya dokter Han serius lalu melepas kacamata yang terpasang di kedua matanya sejak tadi.
“Hampir 3 tahun aku bersamanya. Tidak mungkin aku bisa melupakannya semudah itu.” Min semakin lemas setelah mengatakan kalimat itu. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Terasa sekali kelelahan dalam hatinya saat ini. Gadis itu benar-benar dilema dengan perasaannya sendiri !!
“Lalu laki-laki yang bersamamu kemarin siapa?” Tanya dokter Han lagi. Mendengar itu Min membuka kedua tangan yang menutupi wajahnya.
“Kemarin? Darimana kau tahu?”
“Aku melihatmu sedang berjalan dengan seorang laki-laki kemarin waktu aku hendak pergi ke rumah sakit”
“Benarkah? Dia itu hanya temanku. Namanya Ren”
“Aku rasa dia lelaki yang lembut. Meskipun aku tak melihat wajahnya secara jelas kemarin,aku juga melihat kau begitu nyaman berjalan bersamanya”

Min tak menjawab dan memilih menutup wajahnya lagi. Ia benar-benar lelah saat ini. Tak ada sesuatu apapun yang menarik untuknya sekarang. Bahkan jika boleh memilih Min lebih ingin pergi bersama kakaknya yang sekarang tinggal di Prancis. Namun,keinginan itu menguap begitu saja saat ia teringat jika menjadi asisten dokter adalah pemintaan almarhum ayahnya sejak dulu. Niat untuk membahagiakan ayahnya itulah yang membuat Min lebih memilih untuk tetap bertahan di Hong Kong hingga saat ini.

Tak berapa lama kemudian Min beranjak dari tempak duduknya dan berpamitan pulang dengan dokter Han.
“Maafkan aku Han~bo aku sudah terlalu banyak menyusahkanmu. Aku tak bisa menjadi asisten yang baik di rumah sakit ini” Lirih Min pelan dan disambut dengan senyuman manis dari dokter Han.
“Tenang saja. Rumah sakit ini milik pribadiku,kau bebas bekerja disini. Lagipula kau belum dianggap karyawan tetap jadi kau masih bisa menyelesaikan masalahmu dulu. Sekarang pulanglah,tenangkan fikiranmu” Saran dokter Han. Min hanya mengangguk pelan kemudian melangkah keluar ruangan dan berjalan pulang.

‘Aku rasa dia lelaki yang lembut. Meskipun aku tak melihat wajahnya secara jelas kemarin,aku juga melihat kau begitu nyaman berjalan bersamanya.’

Sepanjang perjalanan ke rumah Min terus dihantui oleh kata-kata dokter Han tadi. Ren memang laki-laki yang lembut dan baik. Walaupun sebenarnya jika dilihat dari sudut pandang Min,laki-laki itu membuat Tan menjauhi Min. Tapi bukankah Ren belum tahu siapa Tan saat ia menerima telepon itu?

‘Apa aku jatuh cinta dengannya?’ Tanya Min dalam hati
_____

Pintu rumah Ellen terdengar diketuk oleh seseorang. Ren yang sedang asik membaca buku pun bergegas berjalan ke arah pintu lalu membukanya. Begitu pintu dibuka tampak seorang laki-laki berdiri manis bersama seorang wanita. Sejenak Ren merasa terkejut dengan kedatangan dua tamunya tersebut namun ia tak ingin banyak bicara dan lebih memilih langsung mempersilahkan kedua orang itu masuk ke dalam rumah. Sebenarnya hati Ren sangat muak melihat wajah mereka,bagaimana tidak? Yang datang itu adalah Tan dan wanita yang digandengnya beberapa hari yang lalu. Dua orang yang sukses membuat Min menangis dalam pelukannya.

“Ada apa kalian kesini?” Tanya Ren singkat. Ia berusaha untuk bersikap sewajarnya kepada dua orang tersebut walaupun hati Ren sesungguhnya ingin meledak sekarang.
“Dimana Min?” Tan bertanya dengan wajah polosnya hingga membuat Ren tambah merasa muak.

‘untuk apa dia menanyakan Min?’ Gerutu Ren dalam hati.

“Min belum pulang. Ku fikir dia masih di rumah sakit. Kenapa kau mencarinya?” Tanya Ren lagi. Ada rasa kekesalan yang memuncak dalam hati Ren ketika Tan menanyakan Min tanpa rasa bersalah padahal beberapa hari yang lalu Tan dengan suksesnya membuat gadis itu patah hati.
“Tidak ada apa-apa. Kami berdua kesini hanya ingin memberikan ini” Tan menyerahkan sebuah kertas tebal kecil berhias pita berwarna merah ke arah Ren.
“Undangan penikahan?” Ren menyambut kertas tersebut. Sesaat kemudian ia terheran seusai menyadari isi kertas itu. Untuk selanjutnya sepasang mata Ren menatap garang ke arah Tan dan gadis yang dibawanya.
“Minggu depan kami berdua akan menikah . Aku harap kau dan Min bisa datang ke pernikahan kami” Kali ini si wanita yang berbicara kepada Ren.

Tanpa bicara apapun lagi Ren mencengkram kerah baju Tan dan menariknya paksa. Tan berusaha mengelak namun sayang tenaga laki-laki yang mencengkramnya itu berlipat-lipat lebih kuat daripada tenaganya. Dalam sekejap sebuah tonjokan manis diterima oleh Tan dan sukses membuat bibirnya sedikit terluka. Wanita yang datang bersamanya hanya bisa berteriak tanpa bisa menolong Tan. Ren semakin kalap pada Tan. Ia memukul,mendorong Tan ke tembok, melemparnya ke lantai dan menendang laki-laki itu kasar. Setelah Ren merasa puas ia melepaskan cengkraman dan menghentikan aksinya. Beberapa bagian tubuh Tan tampak mengalami memar walaupun tak terlalu jelas. Darah segar masih mengucur dari sudut bibirnya.
“Setelah kau membuat Min menangis dengan mudahnya kau ingin menikah dengan wanita lain. Lelaki macam apa kau?” Geram Ren penuh emosi. Ingin rasanya ia memberi pelajaran yang lebih dari itu.
“Memangnya kenapa? Kenapa kau begitu peduli padanya? Kau menyukainya? Jika kau menyukainya kau ambil saja. Aku sudah tak menginginkannya lagi” Tan tertawa sinis seraya berusaha bangun. Ia segera menarik kekasihnya keluar dari rumah Min dan meninggalkan Ren yang masih menatap garang pada mereka berdua. Seusai Tan pergi tanpa disadari kaki Ren melemas dan lantas ia pun terduduk lemah di sofa. Diraihnya kembali undangan itu dan memandangi setiap huruf yang ada disana.

‘Min tak boleh tahu soal undangan ini’ Batin Ren. Laki-laki itu segera melangkah keluar dan melempar undangan itu ke tong sampah.
_____

“Aku pulang” Kata Min pelan. Ia melepas sepatunya dan mengganti dengan sendal rumahan. Min melangkah ke kamarnya dan langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang. Kepalanya tiba-tiba terasa pusing saat ini. Entah kenapa bayangan peristiwa kemarin masih saja menari dalam benaknya. Tak berapa lama berselang seseorang juga ikut berbaring di samping Min dengan nafas yang terdengar lelah.
“Jadi kapan kau menangis untukku Min?” Tanya makhluk yang juga ikut berbaring di samping Min. Gadis itu menoleh dan melihat Ren ada di sana.
“Memangnya kenapa?” Tanya Min dingin.
“Aku sudah tak sabar ingin kembali ke langit. Aku merindukan beberapa iblis wanita disana.” Sahut Ren seadanya dan berhasil membuat sebuah bantal melayang ke wajahnya.
“Aku tidak tahu kapan aku bisa menangis untukmu. Mungkin mataku sudah terlalu banyak mengeluarkan airmata untuk Tan” Ketus Min kasar.

Ren mengubah posisinya dan sekarang ia menindih tubuh Min. Sesaat mata mereka bertemu. Jantung keduanya seperti akan jatuh saat ini. Terlebih Min yang tak pernah di perlakukan seperti itu oleh seorang pria.
“Ku mohon menangislah untukku. Aku sudah terlalu bosan di bumi. Aku bosan dengan masalah-masalah yang menimpamu. Disini hanya ada masalah demi masalah. Tak pernah ku rasakan kebahagiaan yang abadi” Ucap Ren dengan wajah memelas.
“Minggir! Tubuhmu berat. Kau tak sadar jika tubuhmu itu lebih besar dari pada tubuhku?” Titah Min. Ren mendecak kesal dan turun dari tubuh kecil Min.
Min membelakangi Ren kemudian memeluk sebuah guling yang ada di sana. Matanya terpejam dan tak berapa lama kemudian terdengar nafas pelan keluar dari hidung Min. Gadis itu tertidur! Ren menyaksikan wajah polos seorang gadis yang sedang tertidur. Guratan kegundahan tergambar jelas di wajah Min. Ren menghela nafas panjang kemudian menyamakan posisinya dengan gadis itu. Ia memeluk tubuh kecil Min dari belakang dan ikut tertidur bersamanya.
_____

Plakplakplak… Beberapa pukulan kecil terasa mendarat di wajah milik Ren. Laki-laki itu membuka matanya perlahan dan mendapati jika Min sedang menepuk-nepuk pipinya dengan kasar.

“Hey aku sudah bangun.” Elak Ren menghindari pukulan Min yang entah sudah yang keberapa kalinya.
“Pukulanmu sakit sekali” sambung Ren seraya menggerutu kepada gadis yang sekarang duduk di sampingnya. Min hanya menanggapi dengan wajah datar namun terkesan jika gadis itu sangat serius kali ini.
“Aku tadi mimpi buruk” Kata Min tiba-tiba.
“Mimpi? Mimpi apa?” Tanya Ren heran. Tentu saja laki-laki itu terheran seperti apa mimpi yang dialami Min hingga mampu membuat gadis itu memukulinya ketika tersadar dari mimpinya.
“Aku bermimpi jika kau akan meninggalkanku Ren” Ungkap Min pelan dan nyaris tak terdengar.
“Ah~ aku fikir kau bermimpi tentang kiamat. Ck! Itu memang sudah menjadi takdirmu Min. Cepat atau lambat aku akan pergi” Ratap Ren.
“Kau akan pergi? Tapi kenapa?” Min tak percaya jika Ren membenarkan maksud mimpinya tadi.
“Min..sudah berapa kali aku mengatakan jika aku ini hanya iblis yang sedang mengikuti ujian. Aku bukan manusia seperti apa yang kau fikirkan selama ini. Jika aku sudah bisa membuatmu menangis maka aku akan pergi ke alamku” Sahut Ren.
“Jika aku tak pernah menangis bagaimana?” Tanya Ellen.
“Aku akan musnah Min” Kali ini Ren menunduk lemas.
“Tapi selama ini kau tak pernah berusaha membuatku menangis” Bantah Min kesal.

Seketika jantung Ren kembali berdebar. Rasa gugup dan perasaan aneh lainnya merasuki hatinya. Sekarang Ren benar-benar dilema antara membuat Min menangis dan melihat gadis itu sedih atau membiarkan dirinya musnah karna perasaan konyolnya itu.

“Bagaimana mungkin aku bisa membuatmu menangis sedangkan kau selalu saja menangis untuk Tan. Aku sudah berusaha menjalankan rencana yang biasanya dilakukan oleh manusia. Membuatmu jatuh cinta padaku lalu meninggalkanmu. Tapi itu semua tak pernah terjadi karna yang ada di balik kelopak matamu itu hanya Tan,kau juga tak pernah percaya jika aku ini iblis. Jika membuatmu jatuh cinta saja aku gagal bagaimana aku menjalankan rencanaku selanjutnya?” Bentak Ren dengan suara naik. Entah kenapa ia merasa kecewa saat ini. Mungkin ia terlalu egois untuk misinya kali ini tapi walau bagaimana pun bukankah seorang iblis berhak untuk egois?

Min menunduk lemah. Ia tak menyangka jika selama ini yang ada di rumahnya itu benar-benar iblis. Fikirannya kembali kalut. Bukan karna Tan namun kali ini karna Ren yang seakan memang berniat meninggalkan dirinya. Hati Min seakan mengisyaratkan jika ia tak rela itu semua terjadi.
Ren turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar. Ada rasa sakit yang menjalar tiba-tiba di hatinya. Rasa yang menandakan jika ia juga tak ingin berpisah dengan gadis yang selama ini menemaninya di bumi. Ia sudah terlalu nyaman hidup dengan gadis itu. Tapi ia sadar alam manusia dengan alamnya berbeda,sebesar apapun usaha yang dilakukan untuk menyatukan 2 makhluk dari alam berbeda itu takkan pernah bisa.

‘maafkan aku Min’ Batin Ren sedih.

5th Day

“Ren” Lirih Min pelan saat ia dan Ren sedang sarapan. Ren tak menjawab,laki-laki itu terus melahap makanannya tanpa menghiraukan panggilan Min.
“Ren..kau mendengarku?” Tanya Min. Suaranya seperti terkesan ingin menangis lagi.
“Kenapa?” Tanya Ren singkat.
“Maafkan aku” Sahut Min tulus. Kedua sumpit yang digunakannya untuk makan pun diletakkan di samping. Selanjutnya gadis itu melipat kedua tangannya di atas meja.
“Aku sudah memaafkanmu” Sahut Ren singkat seakan malas untuk berbicara. Sejenak Ellen terdiam sebentar lalu melanjutkan kata-katanya.

“Kau mau jalan-jalan denganku?” Tanya Min dengan polosnya.
______

Min berjalan pelan di samping Ren. Ia terus menunduk memandangi setiap langkah yang tercipta di sepasang kaki miliknya. Tak ada obrolan apapun yang timbul diantara mereka berdua. Keadaan yang hening membuat hati masing-masing menjadi dingin. Tidak ada lagi tawa yang menjadi sampul perjalanan mereka kali ini. Keadaan memang terasa sangat canggung dan kaku.
Sesaat kemudian Min mendongak dan menangkap sosok seorang lelaki yang berselisihan dengan mereka berdua. Lelaki yang beberapa hari lalu membuatnya menangis,Junjie Tan. Min berbalik dan berlari mengikuti laki-laki itu. Ren yang sadar Min berlari meninggalkannya pun mengikutinya dari belakang.
Mata Min terus mengintai Tan hingga terlihat jika pria itu memasuki sebuah taman. Gadis itu bersembunyi di belakang sebuah pohon yang jaraknya tak seberapa jauh dat tempat Tan berada dan mengintip apa yang dilakukan oleh kekasihnya itu. Kekasih? Mungkin sekarang tidak. Setelah beberapa hari yang lalu laki-laki itu tega berkhianat di depan mata kepala Min sendiri. Terlihat di sana Tan mendatangi seorang gadis yang dibawanya waktu itu. Tan menghampiri gadis itu kemudian memeluknya mesra dan sangat erat. Sesaat kemudian terlihat Tan melepaskan pelukannya dan mendekatkan wajahnya ke wajah gadis yang dipeluknya tadi. Begitu dekat dan sepertinya mereka akan berciuman dalam waktu beberapa detik ini.

Hati Min remuk melihat itu semua,matanya mulai berkaca-kaca sebelum sebuah tangan menarik tangannya dan membawa gadis itu merapat pada makhluk yang menariknya. Ren mencium bibir Min tanpa ia sadari. Mata Min terpejam,merasakan sensasi sakit di hatinya dan merasakan bibir yang sekarang ini melumat bibirnya *terbayang BBF*.Rasa yang aneh,seperti kita diberi luka oleh orang yang kita cintai lalu orang lain datang mengurangi sakit itu.

“Aku disini” bisik Ren di sela-sela ciumannya. Min tak menjawab. Gadis itu hanya terisak pelan dalam ciuman mereka berdua. Sesaat kemudian Min melepas kontak bibir mereka dan berlari ke arah Tan yang juga asyik dengan ‘kegiatan’nya. Tak perlu waktu lama Min menarik lengan laki-laki itu dengan kasar.
PLAK! Sebuah tamparan manis mendarat di pipi Tan dan berhasil membuat laki-laki itu meringis dan memandangi gadis yang menamparnya dengan pandangan tajam. Sedetik kemudian Tan tertawa sinis saat ia tahu jika gadis yang menamparnya tadi adalah Min.
“Aku tidak menyangka jika kau tega denganku” Kata Min dengan mata yang penuh dengan bola-bola kristal bernama airmata. Tan kembali tertawa meremehkan.
“Kenapa kau masih menangis heh? Apa kau terlalu mencintaiku sampai ketika aku sudah ingin menikah pun kau masih mengejarku?” Ucap Tan konyol.
“Menikah?” Min ternganga seusai mendengar ucapan Tan tadi. Tubuhnya tiba-tiba bergetar hebat.
“Kau tidak tahu? Beberapa hari lagi aku akan menikah. Bukankah aku sudah mengantar undangannya ke rumahmu?” Nada suara Tan semakin terdengar sangat sinis.
“Apa kekasihmu tak memberitahumu tentang pernikahan kami?” Tanya wanita yang menjadi kekasih Tan saat ini. Ia merangkul lengan Tan begitu erat dan memandang iba ke arah Min.
Min tak menjawab,seakan mengerti dengan ucapan gadis itu ia mengalihkan pandangan ke arah Ren yang berdiri tak jauh dari dari mereka bertiga. Ren hanya mengangguk lemah membalas tatapan lemah dariMin. Gadis itu berjalan mendekati Ren dan memandang Ren sekilas kemudian berlari menjauh dari tempat itu.

Hati Min semakin terasa sakit. Ia tak menyangka jika orang yang dipercayanya selama ini pun tega membohonginya. Min berlari ke rumahnya dan melabrak pintu dengan kasar. Seketika kakinya melemas dan dalam hitungan detik gadis itu terduduk lemah. Punggungnya ditopang ke salah satu dinding. Ia memeluk lututnya dalam kekalutannya. Menenangkan emosinya yang begitu memuncak saat ini.

Ren terlihat berlari masuk ke rumah Min dan mendapati gadis itu sedang terdiam di salah satu sudut ruangan. Ren melangkah menghampirinya yang terdengar sedang terisak pelan.
“Min..maafkan aku” Ren menggenggam kedua telapak tangan milik Min. Gadis itu mendongak dan tersenyum pahit ke arah Ren.
“Memang ini kan yang kau inginkan? Kau ingin melihatku menangis karna dirimu kan? Bukankah kau ingin ujianmu cepat tuntas?” Tak terasa air mata Min meleleh walaupun sebenarnya gadis itu tersenyum. Senyuman yang terasa getir dan pahit di mata Ren.
“Min.. aku tak bermaksud__”
“Sekarang aku sudah menangis dan kau bisa pergi” Air mata Min semakin deras mengalir.

Dalam hitungan detik angin bertiup kencang . Daun jendela dan pintu rumah Min berderak keras. Ranting-ranting pohon di luar sana terlepas dari tempatnya dan menghantam kaca-kaca jendela dan mampu menciptakan suara yang memekikkan telinga. Beberapa saat kemudian sepasang sayap berwarna hitam nampak keluar dari punggung Ren. Lelaki itu menunduk lemah kemudian berdiri pelan.

“Aku ingin ini merupakan tetesan air mata terakhirmu Min. Terimakasih karna sudah membantuku untuk lulus ujian. Aku pergi dulu” Kata Ren pelan kemudian mulai mengepakkan sayapnya.
Ren terbang semakin tinggi meninggalkan bumi. Angin yang datang tanpa di undang itu pun berangsur-angsur hilang. Min semakin memeluk erat lututnya dan menunduk lemah.
‘Kenapa kau pergi saat aku mulai menyadari bahwa aku mencintaimu?’ Tanya Min dalam hati.

EPILOG~~~~~

Seorang iblis nampak melamun di teras kerajaan iblis. Ia beberapa kali mendengus kesal. Padahal hari itu di kerajaan iblis sedang diadakan pesta besar-besaran karna keberhasilannya mengikuti ujian. Setelah sebelumnya beberapa rekannya dinyatakan gagal dan harus dilempar kembali ke bumi. Iblis yang tak lain bernama Kangin itu kembali melamun. Ia tenggelam dalam fikirannya yang terbayang wajah Min. Senyuman gadis itu selalu menghantui fikirannya sejak ia kembali ke langit dan hidup bersama iblis yang lain seperti sebelumnya.
“Kau kenapa?” Tanya seorang mantan manusia yang sekarang menjadi iblis wanita karna perbuatan konyol temannya Kim Heechul. (baca seri evil My Heart Evil) Hyojin pun duduk di samping Kangin dan ikut menerawang bersama laki-laki itu.
“Tidak. Aku tidak apa-apa” Sahut Kangin pelan.
“Benarkah? Tapi kenapa kau tak ikut berpesta dengan yang lain di dalam?” Tanya Hyojin lagi.
“Aku merasa tak enak badan. Tiba-tiba ada perasaan menyesal karna aku sudah membuat Min menangis” Jawab Kangin.
“Min? Wanita yang kau buat menangis di bumi?”
“Ya,dia wanita yang ku buat menangis. Entah kenapa aku merasa aku merindukannya” Ujar Kangin pelan.
“Hyojin~ah.. Seperti apa rasanya jatuh cinta?” Sambung Kangin.
“Eoh? Ku fikir cinta itu sangat indah walaupun awalnya begitu menyakitkan seperti yang pernah ku alami bersama Heechul dulu. Memangnya kenapa?”
“Aku mencintainya Hyo~~”
“Apa? Tidak.. Kau tidak boleh mencintainya. Kau jangan konyol kangin~ah,,Kau,,Kau,, Isshh Kau ini !!”
“Apa jatuh cinta sebuah larangan?”
“Tentu saja. Kau tidak mendengar apa peraturan seorang iblis. Dia tidak boleh jatuh cinta !!”
“Tapi aku mencintai Min dan sangat__”

Lantas datanglah cahaya yang menyilaukan kedua iblis itu. Disusul api yang tiba-tiba memercik ke arah Kangin dan membuat sayap indahnya terbakar. Seketika Kangin dan Hyojin panik bukan main. Dalam hitungan detik sosok Kangin pun lenyap dari pandangan Hyojin. Sementara orang-orang yang sedang berpesta, tidak menyadari bahwa sang iblis yang lulus, menjadi tidak lulus lagi. ==a

‘Terlalu banyak iblis yang ceroboh di zaman sekarang” Ucap Hyojin kecewa seraya menepuk jidatnya.

_____

BUK !!

Kangin jatuh tengkurap dengan manis di tanah. Sesaat kemudian ia berusaha bangun dan mengumpulkan kesadarannya. Laki-laki itu meraba-raba seluruh anggota tubuhnya dan tersenyum ketika menyadari jika ia bukan lagi seorang iblis melainkan seorang manusia. Sebenarnya,Kangin pernah mendengar jika iblis yang gagal ujian kali ini bukan dimusnahkan secara keji namun diubah menjadi manusia dan dilempar lagi ke bumi. Semua ini terjadi memang karna sudah di rencakan oleh Kangin.

Kangin mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru. Nampak di depannya terdapat sebuah rumah yang tak asing lagi baginya,rumah milik Min. Kangin memberanikan diri mendekati rumah itu namun belum sampai ia di depan pintu masuk terlihat olehnya seorang wanita keluar. Wanita dengan jaket panjang berwarna putih yang menutupi hampir seluruh tubuh tingginya. Ia juga melilitkan sebuah syal berwarna putih senada di lehernya. Wanita itu berbalik,dirinya dan Ren sama-sama terkejut saat mata mereka bertemu.

“Min” Lirih Ren. Min memandang tak percaya pada sosok Ren yang sedang berdiri di hadapannya kemudian membuang muka.
“Bukankah kau sudah kembali ke alammu? Kenapa masih ada disini?” Tanya Min ketus.
“Aku tidak bisa membohongi perasaanku. Di alam kami iblis tak boleh mencintai seorang manusia jika mereka tak ingin dimusnahkan dari bangsanya dan itu yang terjadi dengan diriku. Aku sadar kalau aku mencintaimu” Kata Kangin dengan penuh kelembutan dan ketulusan. Min sedikit terkejut dengan ungkapan Kangin yang barusan ia dengar. Gadis itu tak menyangka jika seorang Ren juga mencintainya.
“Maafkan aku Min. Aku berjanji takkan membuatmu menangis lagi” Sambung Kangin kemudian menunduk pelan. Senyum Min mengembang manis sempurna. Sedetik kemudian gadis itu berjalan mendekati Jerry.
“Sudahlah lupakan masa lalu kita. Bisakah kita mengulangnya dari awal?” Min mengacungkan satu kelingkingnya. Kangin mendongak dan tersenyum hangat lalu mengaitkan jari kelingkingnya pada kelingking Min. Lantas keduanya pun tersenyum bersama.
“Wǒ ài nǐ shèngguò yíqiè” Ucap Kangin lembut.

Min tak mampu menjawab apapun sekarang. Gadis itu hanya mengangguk pelan kemudian memeluk Kangin lembut. Merasakan setiap kehangatan yang merasuki tubuhnya dan meresapi indahnya kehidupan. Kehidupan yang telah ditakdirkan oleh Tuhan.
Langit berwarna biru cerah memayungi kebersamaan mereka seakan mengisyaratkan sebuah kehidupan yang lebih baik sedang menanti mereka berdua.

END