Tags

,

Stopped

– cho kyuhyun
– kim yoon hye

 

Jika kau sibuk dengan urusanmu,
Aku akan mengerti…
Jika kau tak punya waktu untukku,
Aku akan mengerti…
Jika kau tidak bisa lepas darinya,
Aku akan mengerti…
TETAPI
Jika suatu hari nanti aku berhenti mencintaimu,
Giliranmu untuk mengerti…
___

“Aku menyukaimu Yoon ah,”
“Kyuhyun ah, apa kau yakin?!”
“Tentu,”
“Bukankah kau mencintai Seohyun ssi? Dan keluarga kalian begitu dekat,”
“Sudah saatnya aku memulai lagi Yoon ah, lagipula dia sudah bahagia dengan pilihannya untuk belajar fashion di Paris. Bisakah kau menerimaku untuk berada di sisimu?”
Kim Yoon Hye terdiam sambil menggigit bibirnya “Baiklah…” jawabnya akhirnya.

 

“Yeoboseo?”
“Kyuhyun ah, apa yang kau lakukan?”
“Aku masih di kantor Yoon, wae?”
“Kita makan malam sama-sama bagaimana?”
“Mianhe, aku harus lembur malam ini, ada rapat penting besok pagi, gwenchana?”
Rasa kecewa itu…
“Gwenchanae, semoga sukses,”
“Gomawo, saranghae…”

“Kyuhyun ah, aku bawa makan siang untukmu,”
“Yoon ah mianhae, aku sudah makan dengan klienku tadi…”
Senyum palsu itu…
“Gwenchana,”
“Kau makan siang dengan Rae Ki saja ne?! Aku ada rapat sebentar lagi, saranghae…”
Cup…
Yoon Hye menyentuh pipinya yang baru saja dikecup itu sambil memandang sosok Kyuhyun yang semakin jauh.
Terasa dingin…

 

To: Baby Cho
‘Bisa kau temani aku ke toko buku nanti sore?’

From : Baby Cho
‘Sure Honney, tunggu aku di cafe Larazta jam setengah lima nanti,’

05:26 pm
Untuk yang ke sekian kali, Yoon Hye meminum gelas kedua jus melonnya itu sambil menatap pintu cafe. Hampir sejam dia di sana.
Diraihnya ponsel di atas meja, dihubunginya seseorang.
Tidak dijawab.
Dicobanya lagi.
Masih sama.
Ia tidak menyerah.
“Yeoboseo?” panggilan itu baru dijawab setelah enam kali ia mencoba.
“Kyuhyun ah, kau dimana?”
“Aku dijalan sekarang, maaf tidak mendengar teleponmu,”
“Aku sudah di cafe sekarang, kau masih lama?”
“Omo… Mianhae Yoon ah, aku lupa… Bisa kita tunda ke toko bukunya? Tadi Seohyun memintaku untuk menjemputnya di bandara,”
DEG
“Dia baru saja tiba di Korea,”
God…
“katanya ada riset di butik milik perancang terkenal Korea yang kebetulan menjadi klienku, jadi dia memintaku untuk menemaninya, kau keberatan?”
Tentu saja…
“Aniyo…”
“Gomawo hooney, besok malam kita makan di apartementmu ne?!”
“Ne…”
“Baiklah, kuhubungi kau lagi nanti, saranghae,”
Tut…tut…tut…
Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, mencoba menahan genangan air dipelupuk mata.

 

Beberapa macam makanan sederhana tertata rapi di meja makan. Yoon Hye melirik jam di dinding.
07.08 pm
Gadis itu sedang duduk di sofa, membaca majalah.
09.12 pm
Ia mengerjap kaget dan langsung duduk. Apa ia sedang tertidur tadi?? Dilihatnya ke arah meja makan, keadaannya masih sama. Disambarnya benda yang ada di meja dalam keadaan silent.
From : Baby Cho
‘Honney mianhae, Seohyun memintaku untuk menemaninya keliling Korea, dia bilang dia ingin melihat perubahan Korea, tidak apa-apa bukan?! Kau istirahat saja di apartement, saranghae,”
Matanya memanas membaca pesan itu. Kini sakit itu lebih terasa.
Ditekannya sebuah nomor lalu ditempelkannya ketelinga.
“Yeobseo?”
DEG
Suara wanita…
Dengan cepat diputuskannya panggilan itu. Air matanya jatuh dan dadanya terasa sesak. Kali ini, dibiarkannya air mata itu mengalir tanpa berusaha menahannya. Perih…

 

“Yeoboseo?”
“Morning Honney,”
Bibir itu tersenyum tipis. Tidak pernah sebelumnya laki-laki itu meneleponnya pagi-pagi saat ia baru membuka mata seperti sekarang.
“Morning, ada apa?”
“Hanya ingin mendengar suaramu, rasanya lama sekali tidak melihatmu, bogoshipo…”
Ia tersenyum miris. Sesak itu kembali hadir. Tentu saja lama. Apa laki-laki itu tidak sadar bahwa sudah dua hari mereka tidak berkomunikasi dan hampir seminggu tidak bertemu. Mengingat mereka berada dalam satu kota dengan jarak tidak terlalu jauh, hal itu sangat menyedihkan.
“Mianhae, aku banyak tugas kuliah,” dustanya.
“Gwenchana, aku juga selalu sibuk dengan perusahaan… Jadi apa yang kau lakukan saat ini?”
“Aku masih dalam selimut hangatku,”
“Jjinja? Haah aku jadi ingin memelukmu…”
“Hmm… Kalau begitu cepat datang kemari,”
“Aku ingin tapi aku tidak bisa… Ada janji dengan klien hari ini…”
Lalu… Kenapa memberikan harapan?!
“Tapi nanti malam aku akan pergi ke apartementmu, tunggu aku ne?!”
“Ne, hwaiting!”
Mata itu tidak sengaja melihat calender di meja riasnya saat telepon terputus.
Well, 21 september…
Ini hari jadinya, akankah Kyuhyun memberinya kejutan?!

From : Baby Cho
‘Hooney, really sorry. Appa dan Eomma meminta Seohyun untuk makan malam di rumah dan aku tidak bisa menolaknya. Jangan marah ne?!’

Dalam sunyi ruangan itu, ia terisak tanpa suara. Satu pesan yang sudah menghancurkan harapannya.
Jangan marah? Pantaskah dia melarangnya untuk marah? Dan apakah selama ini ia pernah marah?
Saat Kyuhyun tidak memperdulikannya, saat Kyuhyun mengacuhkannya, saat Kyuhyun tidak punya waktu untuknya, saat Kyuhyun selalu mengingkari janjinya, saat Kyuhyun lebih memilih mantan kekasihnya, apa pernah ia marah?
Tidak sekalipun…
Meskipun mereka jarang makan bersama, jarang berkomunikasi, tidak pernah berkencan, dan bahkan saat seseorang yang penting dalam hidupnya tidak mengingat hari lahirnya, ia tidak mampu marah.
Rasa kecewa itu ditelannya seorang diri, tangis itu didengarnya sendiri. Kini masih sanggupkah ia bertahan?!
Ditekannya dada itu kuat. Terasa amat sakit. Dalam sesak yang menghimpitnya. Perlahan semuanya berubah menjadi gelap.

 

“Apa orang tua anda punya penyakit jantung?”
“Ibu saya meninggal karena penyakit jantung dokter,”
“Ini tidak baik, jantungmu sangat lemah saat ini, dan bisa berhenti kapanpun…”
bisa berhenti kapanpun…”
Deg…
“Maksud anda?”
“Kau tidak boleh lelah, sepertinya ada kelainan pada jantungmu. Jangan berfikir terlalu banyak, aku tidak bisa memprediksi, tapi aku ragu kau bisa bertahan hingga akhir tahun nanti,”
“Apakah separah itu dokter?”
“Seharusnya kau sudah memeriksakan dirimu saat gejala sulit bernafas tiba-tiba muncul, saranku, lakukanlah terapi,”
Dan semuanya menjadi lebih rumit kini…

 

“Apa yang dokter bilang?”
Ia hanya tersenyum pada temannya yang menunggu di luar ruangan dokter itu.
“Aku hanya kelelahan Rae ya,”
“Aigoo… Aku kaget sekali saat melihatmu pingsan. Untung saja aku pergi ke apartementmu tadi. Haah… tadinya aku ingin memberi kejutan kepadamu, tapi justru aku yang terkejut,”
Ia hanya mampu tersenyum “Terima kasih sudah membawaku ke rumah sakit. Jangan beritahu Kyuhyun, aku tidak ingin dia khawatir,”
Akankah dia khawatir??

 

Hari kelima sejak ia mengetahui penyakitnya…
Yoon Hye menatap miris ponselnya. Perlahan diambilnya benda itu lalu dimasukkannya ke dalam gelas yang berisi air hampir penuh.
“Dengan begini aku tidak perlu menunggumu untuk berbunyi…”

Hari kedelapan…
BRAAAK…
Pintu itu terbanting keras. Seorang laki-laki masuk dengan nafas sedikit memburu.
“Yoon ah kenapa ponselmu mati? Kenapa tidak menghubungiku??”
“Kenapa?” jawabnya tetap tenang meskipun mulai merasakan matanya memanas.
“Kau menghilang seminggu lebih!!!” teriak kyu keras.
“Aku menghilang seminggu lebih dan kau baru mencariku sekarang?!” tanyanya sambil tersenyum.
DEG
Kyuhyun terdiam.
Ia tersenyum miris.
“Gwenchanae Kyuhyun ah, kau tidak perlu mencariku lagi,”
“Apa maksudmu?”
“Kau sudah terbiasa bukan? Jadi aku tidak perlu khawatir,” jawabnya mengabaikan pertanyaan Kyuhyun.
“Apa yang kau bicarakan?”
“Dari awal seharusnya aku tau, kau hanya memaksakan diri. Aku tidak pernah mengikatmu Kyu, kau boleh pergi kapanpun kau mau,” ia menutup koper besarnya.
“Kau akan pergi?”
“Ya,”
“Kemana?”
“Kau tidak perlu tau,”
“Tapi aku kekasihmu!”
“Kau bukan kekasihku!!” potongnya cepat. “Untuk saat ini dan seterusnya!”
“Jangan memutuskan sendiri!!”
“Aku lelah Kyu!! Saat kau sibuk dengan urusanmu, aku akan mengerti! Saat kau tidak punya waktu untukku, aku akan mengerti! Saat kau tidak bisa lepas darinya aku akan mengerti! Tapi sekarang saat aku lelah dan ingin pergi, giliranmu yang harus mengerti…”
DEG
Ini pertama kalinya diluapkannya semua yang ada dalam dirinya di depan laki-laki itu. Dibiarkannya air matanya mengalir memperlihatkan sosok rapuhnya.
“Sekarang saat aku berhenti mencintaimu, bisakah kau mengerti?”
Kaki itu melangkah pergi dengan tangannya yang menarik koper tanpa di cegah sama sekali…
Semuanya sudah berakhir…

Kalimat itu menghujam hati Kyuhyun. Laki-laki itu bahkan tidak dapat bergerak untuk menahan langkah kaki itu. Otaknya mengulas lagi apa yang telah dialaminya. Dan benar, ia tidak pernah memberikan waktu sedikitpun pada wanita yang selalu ada di sisinya.
Oh dear…
Seakan tersadar, Kyuhyun segera berbalik akan menyusul wanita itu. Tapi tangannya tidak sengaja menyenggol sesuatu di atas meja dekat pintu kamar.
Dua buah amplop terjatuh. Dipungut lalu dibacanya. Seketika nafasnya tercekat.
“Penyakit jantung?”
Oh dear…
___

 

Salju itu melayang-layang ringan…
Terasa dingin, juga rapuh…
‘Kalau saja bisa tuhan… Aku ingin bertemu dengannya sebelum pergi…’
BRAAK
Mata itu mengerjap kaget lalu menoleh ke arah pintu. Tubuhnya terasa beku melihat seseorang yang baru saja masuk.
“Aku mencarimu… Hampir setahun. Tapi kau seperti angin, menghilang tanpa jejak…”
Air mata itu mengalir menatap sosok tampan yang berjalan menghampirinya.
“Kyuhyun ah…” lirihnya.
“Kenapa kau ada di sini? Kenapa harus memakai infus?”
Isakan itu terdengar lirih.
“Kenapa kau tega meninggalkanku?” air mata itu jatuh dari sosok seorang laki-laki “Dunia terasa kosong saat kau menghilang… Aku membutuhkanmu Yoon ah,” kini dia terisak sambil menggenggam tangan itu.
“Aku membencimu Kyu, sampai-sampai aku ingin memukulmu. Kenapa kau begitu jahat kepadaku?” ia terisak keras “Tapi sekarang aku membuatmu menangis… Jadi maukah kau memaafkanku karena telah membuatmu menangis? Dan aku akan memaafkanmu karena kau sudah jahat kepadaku,”
Tanpa ada kata-kata, namja itu merengkuhnya dalam dekapannya.
“Aku mencintaimu Yoon…” isaknya.
“Terima kasih sudah datang… Mianhae… Aku lelah mencintaimu Kyu, tapi rasa ini tidak bisa berhenti. Karena itu aku meminta kepada tuhan untuk menghentikan segalanya. Mianhae saranghae…”
Pelukan itu bertambah erat bersama isak tangis. Perlahan ia menutup mata dan tuhan benar-benar menghentikan segalanya.
Tubuh kyuhyun membatu saat mendengar suara dengung panjang dari monitor detak jantung. Tangan yang memeluk punggungnya terkulai lemas.
“Yoon??” diguncangnya badan itu “Yoon ah?? Yoon ah bangunlah!! Honney kumohon… Jangan pergi…” lirihnya sambil mendekap tubuh yang sudah kehilangan nafas itu.
Saat tuhan menghentikan segalanya, tidak ada lagi yang bisa kau lakukan. Ingatlah seseorang di sisimu yang masih berdetak jantungnya. Sebelum terlambat, tidak ada salahnya membuat kenangan indah… menjalani waktu bersama. Sebelum semuanya terlambat…ya, sebelum terlambat…

END