Tags

, , ,

About Feel
Cast :
– Shim Changmin
– Cho Ah Neul


Saat takdir memulai permainan rasanya…
Saat itu jiwamu akan mengikutinya…

Langit Tokyo itu tidak terlalu cerah. Menurut ramalan cuaca, akan turun hujan nanti malam. Musim gugur akan segera berakhir. Daun-daun Momiji (Maple Japan) yang berwarna merah dan kuning, sudah berguguran dan pohon-pohonnya semakin gundul. Musim dingin akan segera tiba. Udara juga lebih dingin saat ini.
Di depan sebuah toko aksesoris yang menjual berbagai macam boneka Ohinasama (boneka kaisar dan keluarganya yang di susun di meja bertingkat membentuk paramida) tampak seorang gadis bergaun putih yang tengah sibuk menjepretkan kameranya beberapa kali. Cho Ah Neul. Gadis korea itu tampak sangat mengagumi boneka-boneka jaman kekaisaran tersebut. Ini adalah liburan pertamanya ke luar negeri. Ke Jepang lebih tepatnya. Itupun dalam rangka study tur.
Ah Neul hidup di keluarga yang lumayan ketat. Orang tuanya sangat mengkhawatirkan keselamatan dirinya. Karena itu, ia tidak pernah punya kesempatan untuk berpergian kemanapun selama hidupnya sejak dua puluh dua tahun ini. Lalu, mengapa ia bisa pergi ke Jepang sekarang? Jawabannya adalah karena Lee Donghae. Calon tunangannya.
Cho Ah Neul sudah di jodohkan oleh orang tuanya sejak ia lulus senior highschool dengan putra teman dari orang tuanya. Lee Donghae adalah laki-laki yang baik dan sopan. Dan di usianya yang ke 25, Lee Donghae sudah mampu menangani pekerjaan yang diberikan oleh keluarganya. Kebaikan Lee Donghae terbukti dengan caranya membujuk orang tua Ah Neul agar gadis itu diijinkan mengikuti study tur dari kampusnya. Tidak ada alasan untuk Ah Neul menolaknya bukan?!
Well, sudah puluhan menit gadis itu berdiri menatap kagum boneka-boneka yang berjajar rapi itu. Ia mempertimbangkan untuk membelinya sebagai oleh-oleh. Apa kira-kira Donghae akan menyukainya? Bagaimanapun ia harus berterima kasih pada laki-laki itu.
“Yoon ah, bagaimana menurutmu kalau aku memberikan ini pada Donghae Oppa?” tanya Ah Neul.
Tidak ada jawaban.
Kepala Ah Neul berputar ke samping dan terkejut saat menyadari bahwa tidak ada satu orangpun teman di sisinya. Kemana rombongannya pergi? Bukankah tadi mereka ada di sini? Gadis itu berputar sambil menatap sekeliling. Berharap menemukan teman-temannya, tapi nihil. Ia sendiri sekarang. Seolah teringat sesuatu, cepat-cepat ia mengambil ponsel di dalam tas coklat kecilnya. Ah Neul mendesah keras saat melihat benda itu mati. Well, dia lupa mengisi batrainya semalam. Bagaimana sekarang? Ia sama sekali tidak ingat tempat dimana mereka menginap. Juga tidak bisa bahasa Jepang. Setidaknya ia mampu berbicara bahasa inggris sedikit. Tapi Jepang adalah negara yang benar-benar menjaga budaya mereka. Orang-orang Jepang tidak akan berbicara bahasa inggris jika tidak terpaksa atau saat mereka pergi ke luar negeri. Ah Neul menatap orang-orang yang berlalu lalang di depannya dengan gelisah. Mungkin saja teman-temannya masih belum jauh. Ya, sebaiknya ia mencari mereka sebelum benar-benar tersesat. Karena rencananya, mereka akan kembali ke Korea malam ini. Kau dalam masalah sekarang Cho Ah Neul.
***
Gerimis. Sesuai ramalan, malam ini di Tokyo sedang hujan walaupun tidak selebat biasanya. Cho Ah Neul menggigit bibirnya kuat. Ia sedang berdiri di bawah sebuah pohon sambil memeluk dirinya sendiri. Udara sangat dingin dan ia tidak memakai jaket. Gadis itu ingin menangis rasanya. Jam tujuh seharusnya ia sudah ada di bandara untuk menunggu pesawatnya. Tapi saat ini sudah pukul sepuluh malam dan ia masih berdiri di tempat yang tidak di kenalnya. Apa yang harus dilakukannya?
Tiba-tiba matanya menatap sebuah kedai di seberang jalan. Apa sebaiknya ia pergi ke sana untuk makan dan bertanya pada penjualnya? Atau mungkin ia bisa meminta tolong penjualnya untuk menghubungi polisi? Astaga… Kenapa ia tidak berfikir sampai ke sana tadi?!
Ah Neul langsung melangkahkan kakinya berlari menuju kedai itu tanpa berfikir lagi. Benar-benar tanpa berfikir untuk melihat apakah ada mobil sebelum ia menyeberang.
CKIIIIIIIIIT
Bruuuk…
Shock. Itu yang dirasakannya. Gadis itu masih tidak dapat memperoses apa yang terjadi saat tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang datang saat ia menyeberang jalan. Menabrak kakinya hingga ia terjatuh. Ah Neul mengerjap beberapa kali. Kakinya tidak terasa begitu sakit, mungkin ia hanya terkejut hingga terjatuh.
“Anata wa me o motte inai no desuka?!” bentak seseorang. (Apa kau tidak punya mata?!)
Ah neul mengangkat wajahnya lalu mengerjap. Seseorang yang baru saja membentaknya itu adalah seorang laki-laki tinggi dengan rambut panjang yang di jepit ke belakang.
“Boku ni kotae o!!” bentaknya lagi.
Tiba-tiba saja Ah Neul ingin menangis. Ia tidak kenal pria itu tapi kenapa dia sangat menakutkan?!
“Hei!!”
“Berhenti membentakku brengsek!! Apa kau tau aku tidak bisa bahasa Jepang?! Aku tau aku salah! Hiks…”
Shim Changmin. Laki-laki itu memandang terkejut. Ia tidak mengenali bahasa yang diucapkan gadis itu. Apa itu bahasa Thailand? Atau Korea? Dan sekarang dia menangis. Changmin mendecak kesal. Kenapa ia harus terlibat hal seperti ini? Ia sudah telat untuk mengikuti balapan meluncur sekarang ini.
“Hei, are you understand me?”
Ah neul mengerjap mendengar bahasa inggris itu. “Ye-yes,” jawabnya ragu.
“Are you Japaness?”
Ah Neul menggeleng pelan “I am Korean,”
Changmin sedikit menaikkan alisnya ketika mendengar hal itu. “Are you ok?” tanya lagi.
“Yeah,” jawab gadis itu pelan.
Dan selanjutnya Changmin menggunakan bahasa inggris saat berbicara dengan gadis itu “Bagus kalau kau baik-baik saja. Aku sudah terlambat sekarang, jadi aku harus pergi! Bye!” ucapnya kemudian.
“Tu-tunggu!!”
“Apa?”
“Bisa kau membantuku? Aku ingin menghubungi polisi!”
“Nani? (Apa?) Jadi kau ingin melaporkanku??” tanya Changmin tidak percaya.
“No, no… Aku hanya sedang tersesat,“
“Lebih baik aku tidak berurusan denganmu, nona.” saut Changmin kemudian masuk ke dalam mobilnya.
“Tu-tunggu!!” ah neul mencoba untuk berdiri. Kakinya masih terasa ngilu.
Changmin tidak menggubris lagi. Laki-laki itu menghidupkan mobilnya lalu meninggalkan gadis yang masih berusaha berdiri itu.
Ah Neul meringis merasakan kepalanya yang berdenyut. Pakaiannya terasa basah karena terkena gerimis. Tiba-tiba saja pandangannya berputar dan ia jatuh pingsan.
Changmin melirik kaca spionnya untuk melihat apa yang akan di lakukan gadis itu. Kakinya langsung menginjak rem otomatis begitu melihat gadis itu tergeletak di tanah. Laki-laki itu diam. Menganalisis. Dia tidak bisa berbahasa Jepang. Itu artinya dia tidak menetap di Jepang. Dan apa katanya tadi? Dia sedang tersesat? Jangan-jangan dia adalah turis yang sedang hilang dari rombongan. Dia tidak bisa berbicara Jepang jadi dia tidak mungkin pergi sendiri ke negara ini. Changmin mendesah keras. Apa dia harus meninggalkan gadis itu dan pura-pura tidak tahu? Ayolah, meskipun dia berandalan tapi membiarkan seorang gadis sendirian dalam keadaan seperti itu, itu sangat kejam. Siapa tau ada gerombolan perampok, atau lebih berbahaya lagi pemerkosa. Tidak-tidak. Meninggalkan gadis itu sama saja artinya dengan menghancurkan kehidupannya. Sambil mendecak kesal, Changmin kembali pada gadis itu lalu memasukkannya ke dalam mobil.
“Moshi-moshi? (Halo?)… Aku tidak bisa ikut malam ini, ada urusan penting. Kau saja yang menggantikanku! … Wakata! (Aku mengerti!)” laki-laki itu menutup ponselnya lalu melirik gadis itu sejenak. Lagi-lagi ia mendesah sambil mulai menjalankan mobilnya. Terpaksa ia harus pulang ke apartementnya untuk mengobati gadis itu.
***

Ah Neul melenguh pelan. Ia merasa hangat.
“Kau sudah bangun?”
Mata gadis itu mengerjap kaget lalu berusaha duduk “Apa yang terjadi padaku?” tanya Ah Neul dengan suara serak.
“Kau jatuh pingsan!”
“Jadi… Mmm kau yang membawaku kemari?”
“Apa kau berharap aku meninggalkanmu di sana?” tanya Changmin datar.
“Tidak, tentu saja tidak,” balas gadis itu cepat “Terima kasih… err… Aku belum tau namamu,”
“Untuk apa?” tanya Changmin datar “Aku sudah memesankan tiket untukmu, jam delapan malam kau kau akan terbang ke Korea!”
“Benarkah? Terima kasih, aku akan menggantinya_”
“Tidak perlu!” potong Changmin langsung “Lebih cepat kau pergi lebih baik!”
Ah Neul sudah akan membuka mulutnya saat sebuah dering ponsel memotongnya. Laki-laki itu terlihat sedang mengeluarkan ponselnya dari saku lalu menempelkannya ke telinga sambil melangkah pergi keluar kamar.
Ah Neul melihat sekeliling ruangan itu. Apartement sederhana dan minimalis. Terlihat rapi untuk seorang laki-laki yang tinggal sendirian. Gadis itu beranjak bangun lalu mencari-cari dimana kamar mandinya.
Tidak sulit menemukannya. Karena kamar mandi itu berada di sudut kamar. Ah Neul langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menghampiri washtafel. Seketika ia membelak saat melihat pantulan dirinya di cermin.
“GYAAAAAAAAA……”
BRAAAAKK
“Nani?”
Ah Neul terkesiap dan langsung memeluk dirinya sendiri sambil membelak menatap Changmin.
“Apa yang terjadi?” tanya Changmin lagi.
“A-apa kau yang mengganti bajuku?” tanya gadis itu tergagap.
“Kau pikir aku yang melakukannya?” Changmin balas bertanya “Tetangga perempuanku yang melakukannya, kau tenang saja! Baju yang kau pakai itu juga baju putrinya!”
Ah Neul menghembuskan nafas lega. Ia tidak tau harus bagaimana jika laki-laki itu yang… Oh demi tuhan ia tidak akan pernah berani menatap wajah laki-laki itu lagi.
“Aku ada urusan di Shirakawa, kau tunggu saja di sini, sebelum malam aku akan kembali!”
“Aniyo!!” seru Ah Neul tiba-tiba “Oh, sorry. Bisa aku ikut denganmu? Aku berjanji akan berada di mobil saja,”
“Apa kau bercanda?” tanya Changmin tanpa ekspresi.
Ah Neul langsung menggeleng “Ini pertama kalinya aku pergi ke luar negeri. Masih banyak hal yang ingin kulihat sebelum… Sebelum aku kembali ke Korea…” nada kalimat gadis itu memelan di akhir.
“Orang yang sering berpergian tidak akan sampai tersesat sepertimu! Baka! Cepat mandi lalu makan, atau aku akan meninggalmu!!”
Senyum lebar langsung mengembang di bibir gadis itu “Araseo!!” jawabnya semangat kemudian langsung mendorong Changmin keluar dari kamar mandi.
***

Changmin terus melirik gadis yang sedang merekam perjalanan mereka dengan camera digitalnya “Jepang benar-benar indah…” gumam gadis itu dalam bahasa Korea.
Mereka sedang dalam perjalanan ke daerah Shirakawa di Gifu. Ah Neul dapat melihat dengan bebas karena Changmin membiarkan mobilnya terbuka.
“Yaa, apa kau orang Jepang asli?” tanya Ah Neul.
“Bukan urusanmu!”
Ah Neul langsung memberengut mendengarnya. Ia mengalihkan lagi pandangannya ke samping. Menumpukan lengan pada pintu mobil sambil menikmati angin. Sekilas, tanpa Ah Neul sadari ada senyum tipis dari bibir Changmin. Sesekali laki-laki itu melirik spion, melihat gadis yang tengah tersenyum merasakan angin itu. Rambut hitam panjangnya tergerai tersapu angin. Wajahnya memerah karena udara mulai dingin. Manis. Gadis itu manis.
Tiba-tiba saja Changmin tersentak menyadari pikiran konyolnya. Bagaimana mungkin ia… “Hei, singkirkan tanganmu dari pintu!!”
“Eung?” Ah Neul mengerjap kaget lalu duduk dengan benar.
“Kita akan masuk ke Shirakawa. Di sana salju lebih banyak turun dari di Tokyo, udara akan lebih dingin!” jelas Changmin sambil menekan tombol agar atap mobilnya tertutup.
Laki-laki itu benar. Walaupun musim dingin akan tiba, tapi daerah Shirakawa sudah tertimbun salju. Mereka harus melewati hutan pinus kecil untuk sampai di tempat yang dituju Changmin. Setengah jam kemudian, mereka tiba di sebuah pemukiman. Rumah-rumah itu masih bangunan tradisional.
“Tunggu di sini dan jangan kemana-mana!” Changmin menghentikan mobil mereka di pinggir jalan. Laki-laki itu kemudian turun lalu berjalan memasuki pemukiman.
Ah Neul hanya diam saja melihat sosok laki-laki itu hingga menghilang. Kemudian ia mulai mengamati sekitarnya. Well, dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini bukan?! Gadis itu turun dari mobil dan seketika udara dingin berhembus membelai kulitnya. Membuatnya memeluk diri sendiri sambil menggigil. Perhatiannya terpusat pada sungai kecil yang mengalir di belakang mobil itu. Ia berjalan pelan ke sungai itu.
“Woaah… cantik sekali…” gumamnya sambil mengamati ikan-ikan yang berenang di antara bebatuan. Sungai itu tidak dalam, mungkin hanya sebatas lutut dan airnya sangat jernih.
Ah Neul tidak sadar berapa lama ia mengamati ikan-ikan itu. Dan tidak sadar pula saat Changmin sudah ada di belakangnya.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Changmin pelan.
Pelan, namun mampu membuat gadis itu terkejut setengah mati. Dirinya yang sedang berjongkok di batu besar, seketika menoleh tanpa memperhitungkan dimana kakinya berpijak. Batu yang basah, dan agak berlumut itu sudah dipastikan licin.
“Huwaaaaaaa….”
Byuuuur…
Karena hilang keseimbangan, gadis itu terpeleset hingga jatuh ke dalam sungai. Changmin yang masih terkejut hanya mematung sementara gadis itu cepat-cepat berdiri keluar dari sungai sambil menggigil kedinginan. Bajunya basah kuyup.
“YAA kenapa mengagetkanku seperti itu??” bentaknya kemudian mengecek kameranya yang terkena air. Untung saja ia tadi mengangkat tangannya tinggi-tinggi hingga benda itu selamat.
“Bukankah kubilang untuk tidak keluar, itu salahmu sendiri!!” saut Changmin sambil berbalik, berjalan ke mobil.
“Dasar tidak punya perasaan, dia pikir gara-gara siapa aku terjatuh,” gerutu Ah Neul dalam bahasa ibunya.
Bruuk…
Omelan itu terhenti saat sesuatu menimpa kepalanya. Ah Neul meraihnya dengan cepat. Sebuah jaket panjang.
“Pakai itu! kita harus cepat kembali ke Tokyo atau kau akan batal pulang!”
Masih dengan bibir cemberut, Ah Neul memakai jaket itu kemudian segera masuk ke dalam mobil dan mereka kembali ke Tokyo.
***

Salju turun begitu lebat. Disertai angin kencang. bahkan setelah AC dimatikan pun dingin itu masih begitu terasa.
Ah Neul menggigil kedinginan. Ditambah lagi bajunya yang basah. Jemarinya yang terasa kaku, mencengkeram jaket Changmin. Menariknya rapat-rapat.
“Kita harus berhenti. Tidak bisa meneruskan perjalanan dalam kondisi seperti ini,” kata Changmin sambil menepikan mobilnya. Saat ini mereka sedang berada di tengah hutan pinus. Harus melewati beberapa kilometer lagi untuk keluar dari hutan ini. Tapi rasanya itu tidak mungkin karena ada badai salju.
Beberapa saat keduanya hening. Mereka hanya sibuk menggosok tangan untuk menghangatkan badan.
“A-apa kau baik-baik saja?” tanya Changmin dengan suara kaku. Tubuhnya juga sulit di gerakan.
Gadis itu tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata dengan bibir pucat yang bergetar.
“Hei,” Changmin mencoba meraih bahu gadis itu.
“Dingin…” gumam gadis itu dalam bahasa korea yang tidak dimengerti Changmin “Eomma dingin…”
“Hei, kemarilah,” dengan tubuh kaku Changmin pindah ke jok belakang yang lebih lebar, ia menarik Ah Neul juga.
“A-apa yang kau lakukan?” tanya Ah Neul dengan suara gemetar saat Changmin membawanya ke dalam pelukan.
“Kita harus saling menghangatkan agar tidak membeku,” jelas Changmin.
Beberapa menit yang benar-benar mencekam. Mobil Changmin mulai tertimbun salju yang masih lebat di luar sana sementara, di dalam mobil benar-benar dingin.
“Aku tidak bermaksud apa-apa, hanya saja bajumu basah. Itu akan membuatmu semakin dingin. Ini darurat, jadi… bisa kau melepaskan bajumu?”
Ah Neul tersentak. Ia menatap Changmin dengan bibir yang gemetar. Jantungnya terasa berdegup keras. Tapi tubuhnya sudah mati rasa. Karena itu ia terpaksa mengangguk. “Tolong…” bisiknya.
Changmin menatap ragu sejenak. Tapi ia harus kalau tidak ingin mati konyol di tempat ini.Perlahan jemarinya membuka jaket yang dipakaikannya tadi ke gadis itu “Gomene…” bisiknya pelan kemudian mulai melepas pakaian gadis itu.
Setelah melepas pakaian gadis itu, Changmin juga melepaskan pakaiannya kemudian memakai jaketnya, dan ikut menyelubungi gadis itu. Ah Neul melenguh nyaman sambil membenamkan wajahnya dalam lekukan leher Changmin. Ia dapat menghirup aroma maskulin laki-laki itu.
Beberapa menit terlewat dalam diam dan sunyi. Tampaknya badai semakin lebat. Kaca depan mobil changmin sudah tertutup salju sepenuhnya. Laki-laki itu merasa tubuh dalam pelukannya masih bergetar.
“Hei,” bisiknya pelan.
Ah Neul tidak menjawab. Bibirnya terlalu kaku untuk menjawab. Tapi ia masih bisa merasakan Changmin menggosok jemarinya sambil meniup-niupnya.
“Kita tidak bisa diam terus,” bisik Changmin “Kita harus bergerak agar merasa hangat. Hei, kau dengar aku??”
Ah Neul tidak menjawab. Ia hanya semakin merapatkan tubuhnya pada Changmin. Ada debaran tersendiri yang tercipta. Beberapa saat Changmin hanya diam. Tapi kemudian ia melirik Ah Neul yang semakin pucat.
“Gomene…” bisiknya lagi lalu meraih dagu gadis itu kemudian melumat bibirnya lembut.
Ia terus bergerak menghisap dan mengulum bibir itu semakin dalam. Seolah mencari sedikit kehangatan.
“Ngh…” Ah Neul melenguh pelan sambil mulai bergerak membalas ciuman itu.
Suara decakan mulai terdengar abstrak. Nafas itu semakin berderu keras bersama jantung yang menghentak semakin kuat. Hingga merasa gadis itu kehabisan nafas, Changmin melepaskan ciumannya.
Keduanya saling bertatapan dengan nafas yang tersengal. Ah Neul tidak mengerti. Matanya hanya menatap mata itu. Tapi berangsur, ia merasakan hangat lewat desiran darah yang mengalir lebih cepat di tubuhnya. Sekarang ia baru sadar apa yang terjadi. Dan jantungnya menghentak semakin kuat.
Bibir gadis itu sudah tidak biru lagi. Changmin menatap intens mata gadis itu. Pikirannya terusik. Ia menginginkannya lagi. Menginginkan kehangatan yang dapat membuat jantungnya berdebar-debar. Tanpa sadar, wajahnya kembali mendekat. Tepat ketika nafas gadis itu terasa menyapu wajahnya, ia memejamkan mata. Membiarkan naluri menuntunnya untuk bertemu dengan bibir gadis itu.
Ia mengecap lagi rasa manis itu. Menyesapnya dalam kemudian mulai bergerak melumat.
“Nghh…” gadis itu melenguh pelan membuat tubuhnya bergetar. Ia merasakan bibir gadis itu bergerak membalas ciumannya. Ia tau kondisi mereka saat ini. Tapi bagaimanapun, dia adalah laki-laki normal dan sudah pasti akan terbangun.
Ah Neul tidak dapat lagi berfikir. Ia hanya dapat merasakan sentuhan laki-laki itu di tubuhnya. Ia menyukai kehangatan ini. Bibirnya terus membalas ciuman laki-laki itu. Terkadang ia membuka mulutnya, membiarkan lidah laki-laki itu menyapu rongga mulutnya.
“Aaah…” desahnya semakin keras saat merasakan tangan laki-laki itu mengusap pinggangnya lembut, menariknya lebih rapat. Membuat bagian intim mereka bergesekan. Seolah melupakan siapa dirinya, statusnya, tunangannya, juga penerbangannya malam ini, Ah Neul menyerahkan jiwanya pada takdir.
***

Sinar itu membuatnya silau. Gadis itu mengerjap pelan lalu membuka matanya. Sejenak ia diam tanpa berfikir apapun. Kemudian perlahan ia mulai merasakan ada yang berdetak. Ia yakin itu detak jantung… seseorang?
Ah Neul terkesiap dan langsung beranjak bangun. Matanya membelak lebar. Ia… tidur dalam pelukan Changmin?? Gadis itu menutup kedua mulutnya dengan tangan sambil beringsut menjauh. Apa yang sudah terjadi? Mereka berdua tidak berpakaian dan Ah Neul merasakan sakit di daerah intimnya. Oh dear… Gadis itu menyambar jaket untuk menutupi tubuhnya dan menunduk dalam-dalam. Air matanya meleleh. Ia tidak bisa berfikir.
Changmin bergerak pelan. Tubuhnya terasa kaku. Laki-laki itu mengerjap sambil mengucek matanya. Samar, ia melihat sesuatu. Ia mengerjap lagi hingga sesuatu itu menjadi jelas. Gadis itu sedang duduk memeluk lututnya sambil membenamkan wajah di ruang kosong antara kursi belakang dan kursi depan. Seketika Changmin terkesiap menyadari keadaannya. Cepat-cepat ia menyambar kaos dan celananya lalu memakainya.
“Hei,” panggilnya pelan dengan ketakutan yang luar biasa. Oh, ayolah… Meskipun ia berandalan tapi baru kali ini ia tidur dengan seorang gadis. “Apa kau baik-baik saja?” tanya Changmin gugup. Dasar bodoh! Bagaimana mungkin ia baik-baik saja?!
“A-aku keluar membersihkan salju dulu, kita harus kembali secepatnya,” katanya lalu keluar dari mobil sementara Ah Neul masih tidak bergeming dari tempatnya.
***

Sudah setengah jam gadis itu di kamar mandi sejak mereka tiba di apartement Changmin. Ah Neul duduk di bawah shower yang terus mengeluarkan airnya. Menyiram tubuhnya. Gadis itu duduk termenung. Itu adalah yang pertama untuknya, dan dia melakukannya dengan seorang laki-laki yang baru di kenalnya kemarin sementara ia sudah punya calon tunangan. Tidak, tidak, ia bahkan tidak mengenal laki-laki itu. Tidak tau namanya. Dear…
Ah Neul memeluk dirinya sambil memejamkan mata. Bayangan itu terlukis lagi dalam memori ingatannya. Teramat jelas karena saat itu ia dalam kondisi sadar sepenuhnya. Bagaimana Changmin menyentuhnya, setiap kecapan dan desahan keduanya. Ah Neul mengusap wajahnya kasar. Kenapa jantungnya berdegup kencang? Tapi bagaimanapun, ia harus mengambil keputusan.

Changmin duduk dengan gelisah di sofa. Gadis itu belum juga keluar dari kamar mandi. Apa yang dilakukannya? Apa gadis itu baik-baik saja? Apa sebaiknya Changmin mengeceknya? Laki-laki itu benar-benar bingung saat ini. Ia tidak tau harus bersikap seperti apa. Seharusnya kemarin gadis itu tidak ikut bersamanya.
Ckreeek…
Tiba-tiba pintu terbuka. Gadis itu keluar sambil memakai bathroob “Apa kau punya pakaian yang bisa kupakai?” tanyanya.
Sesaat Changmin hanya terdiam “Oh? Tu-tunggu sebentar,” jawabnya kemudian langsung mengambil pakaian Ah Neul yang diloundry-nya kemarin sebelum mereka pergi ke Shirakawa.
“Thanks,” ucap Ah Neul saat menerima bajunya. Gadis itu kembali masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Changmin yang terbengong sendiri.
Beberapa menit kemudian Ah Neul selesai ganti baju dan mereka berdua, tengah duduk di sofa. Diam, tidak tau apa yang harus dibicarakan.
“Gomene…” lirih Changmin sambil menunduk.
“Aku tidak mendengar permintaan maafmu,” saut gadis itu.
Changmin mengangkat wajahnya “So-sorry…” katanya lagi dengan bingung.
“Aku tidak mengenalmu, aku juga tidak tau siapa namamu, dan sebentar lagi aku akan pulang. Sebaiknya… sebaiknya… kita lupakan saja apa yang terjadi…”
“Iie,” (tidak,) jawab Changmin langsung.
Ah Neul mengerutkan kening tanda tanya. Dia tidak mengerti ucapan laki-laki itu. Changmin sendiri tidak mengerti kenapa ia tidak rela untuk melupakannya.
“Itu yang pertama untukku,” kata Changmin “Mungkin kau bisa melupakannya, tapi aku tidak akan bisa…”
Deg…
“Aku bisa berpura-pura menganggapnya tidak pernah terjadi, tapi aku tidak akan pernah bisa melupakannya,”
Astaga… Kenapa jantung Ah Neul kembali berdebar-debar?!
“Kalau kau ingin aku bertanggung jawab… Aku… aku akan menerimanya,”
Ah Neul tercenung “Aku sudah punya calon tunangan… “
Deg…
“Jadi semua itu tidak mungkin,” lirih Ah Neul.
Changmin terdiam. Ia tidak tau harus berkata apa. Jadi dia meniduri calon tunangan orang lain?! Oh damn… Lalu apakah semua ini harus ia yang disalahkan? Saat itu… Changmin menggeleng pelan, menolak memorinya berlanjut. “Makanlah, aku sudah memesankan ramen untukmu. Aku mandi dulu, setelah itu kita ke bandara,” putusnya kemudian.
Gadis itu hanya diam menatap mangkok ramen saat Changmin beranjak dari duduknya lalu pergi ke kamar mandi.
***

‘Itu yang pertama untukku. mungkin kau bisa melupakannya, tapi aku tidak akan bisa… Aku bisaberpura-pura menganggapnya tidak pernah terjadi, tapi aku tidak akan pernah bisa melupakannya…’
Kenapa kata-kata itu terus berputar di otak Ah Neul. Dan setiap kali suara itu bergema dalam memorinya, jantungnya ikut berdegup kencang. Ia memang tidak mengenal laki-laki itu. Tidak tau namanya dan sebentar lagi ia akan kembali ke Korea. Tapi apa kenangannya bersama laki-laki itu apa bisa begitu saja dilupakannya? Jika ia harus melupakan hal itu, ia juga harus melupakan liburannya ke Jepang. Melupakan negara ini. Karena begitu nama negara itu disebutkan, semua hal yang ada di negara ini akan membanjiri otaknya. Dan rasanya mustahil untuk melupakannya.
“Kita sudah sampai, ayo!” kata Changmin sambil melepaskan sabuk pengaman lalu turun dari mobil.
Ah Neul masih tercenung. Tanpa sadar, kepalanya berputar ke belakang, ke tempat ia pernah…
Tok…tok…tok…
Gadis itu tersentak kaget saat Changmin mengetuk kaca pintu mobilnya. Dengan cepat gadis itu melepaskan sabuk pengamannya lalu turun dari mobil. Mengikuti Changmin masuk ke bandara.
‘Aku bisa berpura-pura menganggapnya tidak pernah terjadi…’
Kalimat itu…
Apa yang harus Ah Neul lakukan? Kenapa kakinya terasa semakin berat untuk melangkah? Berpura-pura menganggapnya tidak pernah terjadi… Ia bisa berpura-pura di hadapan orang lain. Menipu semua orang. Tapi ia tidak bisa menipu diri sendiri. Tidak bisa menipu hatinya bahwa ia… Bahwa hal yang pernah terjadi, adalah hal yang tidak bisa dilupakan. Sesuatu yang… Entahlah. Ah neul sendiri tidak yakin pada hatinya.
“Ah Neul ah!!!”
Gadis itu tersentak suara itu…
Seketika ia mengangkat wajah dan melihat seseorang berlari menghampirinya.
Greeep…
“Bogoshipo…” bisik laki-laki itu sambil memeluknya.
“Dong-Donghae Oppa…”
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Donghae sambil menatap Ah Neul dari atas hingga bawah “Bagaimana bisa kau terpisah? Kau tidak tau betapa khawatirnya aku. Apa yang harus kubilang pada orang tuamu. Apa kau baik-baik saja?”
“Oppa… Bagaimana bisa kau ada di sini?”
“Begitu mendengar berita tentangmu aku langsung terbang kemari Ah Neul ah. Aku sudah melaporkanmu pada Polisi dan tadi aku baru saja mengecek daftar penumpang ke Korea, mungkin saja kau ada di salah satunya,”
“Aku baik-baik saja Oppa,”
“Syukurlah…” desah Donghae lega sambil memeluk Ah Neul kembali.
Changmin hanya terdiam melihatnya. Ada yang berdenyut kuat di jantungnya. Dan itu rasanya, sakit!
“Ah Oppa, kenalkan dia…” Ah Neul baru sadar, ia tidak mengetahui nama laki-laki itu “Dia yang sudah menolongku Oppa,”
Donghae mengerjap lalu menoleh. Saat itulah ia melihat Changmin. Laki-laki itu langsung membungkuk “Watashi wa Lee Donghae desu, yoroshiku!”
Changmin membalasnya “Changmin desu,”
“Aku berterima kasih kau sudah menolong tunanganku,” ucap Donghae.
Ah Neul mengerjap. Ia tidak menyangka Donghae bisa berbahasa Jepang. Oh, itu tidak aneh bukan?! Donghae adalah pembisnis muda, tentu saja ia bisa menguasai beberapa bahasa termasuk Jepang dan Inggris.
“Aku tidak melakukan apapun,” balas Changmin.
“Ah Neul ah, sebaiknya kita cepat pulang ke Korea,” kata Donghae pada Ah Neul.
Ah Neul mengangguk pelan.
“Jja!” diraihnya tangan gadis itu “Kami harus pergi Changmin san. Sekali lagi terima kasih atas bantuanmu,” pamit Donghae pada Changmin.
“Hati-hati,” balas Changmin pendek.
Ah Neul tersenyum kaku. Bibirnya tidak mampu mengeluarkan suara apapun. Bahkan saat Donghae menariknya melangkah pergi.
“Oppa…” panggilnya setelah berjalan beberapa meter “Ada hal yang harus kusampaikan padanya, kau duluan saja, nanti aku menyusul,”
Donghae menatap ragu sejenak “Baiklah, aku akan membeli tiket dan mengabari seongsaengnim serta kepolisian,” senyumnya sambil melangkah pergi.
Ah Neul menunggu hingga Donghae hilang dari pandangan. Kemudian gadis itu berbalik dan melihat Changmin masih berdiri di tempatnya, masih menatapnya. Ia berjalan pelan menghampiri laki-laki itu.
“Apa aku masih tidak boleh tau namamu?” tanya gadis itu sambil tersenyum lemah.
“Lebih baik begitu,” jawab Changmin.
“Hei, rambut panjang! Boleh kalung itu untukku?” pinta Ah Neul.
Changmin menunduk melirik kalung yang dipakainya. Rosario dari ibunya. Tanpa banyak bicara, Changmin melepaskan kalung itu lalu memakaikannya pada Ah Neul.
“Ini milik ibuku, jangan menghilangkannya! Semoga ini bisa melindungimu… Kuharap kau bahagia,”
Perasaan itu terasa menyesakkan. Ah Neul merasa tidak mampu berkata lagi. air matanya mengambang. Ia berbalik dengan cepat hendak pergi. Tapi sebuah tangan menahannya, menariknya lagi untuk berbalik.
Cup…
Tubuh itu mematung saat bibir laki-laki itu mengecup bibirnya. Changmin tersenyum sendu “Sayonara…” bisiknya pelan lalu melepaskan Ah Neul dan berbalik berjalan pergi.
Air mata itu jatuh meluncur tanpa bisa ditahannya. Gadis itu terdiam menatap sosok laki-laki yang berjalan menjauh itu. mencoba mengenali keadaan jiwanya.
“Ah Neul ah, sudah waktunya kita pergi,”
Ah neul tersentak dan mengusap air matanya secara otomatis sebelum ia berbalik. Donghae sudah memegang tiket dan tersenyum padanya. Gadis itu mengangguk pelan dan membiarkan Donghae menariknya pergi.
Langkah itu semakin terbentang jauh. Namun permainan takdir belum selesai karena mereka sudah memulainya dengan satu hal. Rasa…
***

“Jjinja?? Ah ne, akan kusampaikan kepadanya… Gomawo,”
Ah Neul sedang melihat Ibunya berbicara di telepon. Tidak lama kemudian wanita itu menutup telepon dan tersenyum kepadanya “Ah Neul ah, ada berita baik,” katanya ringan sambil menarik Ah Neul untuk duduk di kursi ruang tengah itu.
Sudah dua hari sejak kepulangan Ah Neul. Gadis itu mulai menjalani kehidupan normal. Kembali seperti dulu lagi dan melakukan aktifitas sehari-harinya. Ya, sama seperti dulu lagi…
Tidak… Tidak sama seperti dulu lagi. Karena sekarang, ada yang berbeda dengan hatinya. Semuanya terlihat sama, tapi sebenarnya tidak sama. Dan rasa, mulai memainkan hatinya.
“Baru saja lee Ajhuma menelepon. Mereka meminta untuk mempercepat pertunangan karena sebentar lagi Donghae harus mengurus perusahaan cabang di China. Sebelum ia pergi, mereka meminta agar kalian bertunangan dulu,”
“Bu-bukankah seharusnya setelah aku lulus??” tanya Ah Neul. Tanpa sadar, ada kecemasan di dalam perkataannya.
“Kemungkinan Donghae di sana lama Jjagi, jadi mereka ingin pertunangan kalian dipercepat,”
“Ka-kapan?”
“Seminggu lagi,”
“Mwo??”
“Waeyo?”
“A-aniya…” Ah Neul tidak mengerti kenapa hatinya begitu cemas.
“Jja, kita harus mempersiapkannya,”

Mengapa waktu terasa begitu cepat. Bahkan ketika Ah Neul masih menyelami hatinya sendiri. Apa yang harus dilakukannya? Seharusnya semuanya baik-baik saja. Bukankah hidupnya sudah berjalan sebagaimana mestinya?!
“Haah… Aku sangat iri padamu Ah Neul ah…” Yoon Hye, temannya satu kampus tampak sedang mengamati Ah Neul yang berdiri di depan cermin.
“Menurutmu begitu?”
“Tentu saja… Siapa yang tidak mau punya suami sepertinya. Dia sangat baik, tampan dan termasuk golongan atas,”
“Begitu…”
“Tapi… Kulihat sepertinya kau tidak bahagia? Waeyo??”
Ah Neul terdiam melihat bayangannya di cermin “Aku tidak tau Yoon ah…”
“Gwenchanae, kau pasti hanya gugup,” Saut Yoon Hye “Oh, ini kameramu?” tanya gadis itu ketika matanya melihat kamera digital Ah Neul di atas meja.
“Woaa… Bukankah ini foto-foto saat di Jepang itu?”
Deg…
Jepang…
Satu kata itu mampu memutar lagi memorinya tentang negara itu. Semuanya.
“Mm… Kapan kau mengambil ini? Bukankah saat itu masih belum turun salju? Apa kau mengambilnya saat terpisah? Ah, kau belum menceritakan kepadaku apa yang terjadi…”
Gadis itu terus berceloteh tanpa memperhatikan ekspresi Ah Neul yang kacau. Perasaan itu datang lagi. Perasaan sesak ketika melihat sosoknya menjauh. Seolah mencengkeram paru-parunya. Membuatnya sulit bernafas.
Tes…
Ah Neul menatap kalung yang melingkar di lehernya. Sebuah rosario.
‘Ini milik ibuku, jangan menghilangkannya! Semoga ini bisa melindungimu… Kuharap kau bahagia,’
Air mata itu meluncur jatuh melewati pipi yang berlapis make up tipis itu “Aku… Aku mencintainya…” lirih gadis itu tersendat.
Yoon Hye mengerjap, mengalihkan pandangannya pada Ah Neul “Mwo?”
“Aku mencintainya… Aku mencintainya…” isak gadis itu.
Dengan panik Yoon Hye menarik gadis itu agar duduk di tempat tidur “Apa maksudmu Ah Neul ah? Kau mencintainnya? Mencintai Lee Donghae??”
Ah Neul menggeleng “Aku mencintainya Yoon ah… Laki-laki Jepang itu, aku mencintainya…”
“Mwo?”
Dengan kata-kata kacau dan tersendat-sendat, Ah Neul menceritakan semuanya. Semuanya tanpa ada yang tertinggal.
“Aku tidak mengenalnya, aku tidak tau namanya, dan bahkan aku sudah punya calon tunangan, tapi aku mencintainya Yoon ah… aku_”
“Aigooo… Bagaimana itu bisa terjadi?!” Yoon Hye menangkup wajah gadis itu “Dengarkan aku Cho Ah Neul!! Lupakan dia!”
“Tapi_”
“Kau tidak mengenalnya!! Kesempatan untuk bertemu pun belum tentu ada. Dan demi tuhan sekarang hari pertunanganmu. Kau tidak ingin membuat malu keluargamu bukan? Lee Donghae laki-laki yang baik Ah Neul ah, belajarlah untuk mencintainya. Aku yakin kau bisa bahagia bersamanya,”
Hati Ah Neul terasa semakin sakit. benarkah mereka tidak akan bertemu lagi? benarkah ia akan bahagia bersama Lee Donghae?
Tok…tok…tok…
“Ah Neul ah, kau sudah siap Jjagi??” terdengar suara teriakan dari luar pintu.
“Itu eommamu,” bisik Yoon Hye “Ne, Ajhuma!! Kami akan turun sebentar lagi!!!” balas Yoon Hye.
“Yoon…”
“Tidak ada waktu lagi, cepat bersihkan air matamu!!” Yoon hye mengambil tissue dengan cepat lalu membersihkan wajah gadis itu “Jangan berfikir apa-apa lagi, tuhan yang akan menentukan takdirmu, araseo?!” setelah itu Yoon Hye langsung menarik Ah Neul untuk turun ke bawah. Acara pertunangan gadis itu akan segera dimulai.

To : Cho Kyuhyun
Cc :
Re :
Bagaimana kabarmu? Aku akan pergi ke Korea selama beberapa hari. Bisa aku menginap di rumahmu?

To : Changmin
Cc :
Re :
Tentu saja sepupu! kapan kau berangkat? Aku akan menjemputmu di bandara!!

To : Cho Kyuhyun
Cc :
Re :
Tanggal 28 September , pesawatku berangkat jam 07.15 dan akan tiba sekitar 09.45

“Changmin!!”
Seorang laki-laki yang baru saja keluar dari pintu itu melepas kaca mata hitamnya dan melambai pada seseorang yang memanggilnya.
“Selamat datang di Korea!!” laki-laki sebayanya itu tersenyum hangat.
Changmin memberikan pelukan singkat pada laki-laki itu “Bagaimana kabarmu?”
“Aku baik-baik saja! Untuk apa kau ke Korea? Ingin mengunjungi kami atau ada urusan lain?”
“Dua-duanya!!” jawab Changmin.
“Ayo! Ayah dan ibu pasti senang melihatmu,”
Kedua laki-laki itu berjalan bersama keluar dari bandara.

Setengah jam setelah acara berjalan. Ah Neul hanya bisa diam dan tersenyum palsu saat para tamu menyapanya. Donghae tampak tampan disebelahnya.
“Apa kau sakit? wajahmu tampak pucat,” bisik Donghae pelan.
Ah Neul menggeleng sambil tersenyum lemah. Ia tidak tau apa yang dirasakannya. Ia merasa bersalah pada laki-laki ituyang begitu baik padanya tapi juga tidak bisa membohongi hatinya sendiri.
“Baiklah, untuk mempersingkat acara lebih baik kita mulai sekarang saja pertukaran cincinnya!!” kata Ayah Ah Neul.
Yoon Hye tersenyum sambil membawakan sebuah kotak cincin. Dalam hati ia merasa cemas melihat temannya itu.
“Hari ini, kita semua akan menyaksikan pertunangan antara putraku, Lee Donghae, dengan putri dari Tuan Cho, Cho Ah Neul!”
Suara tepuk tangan bergemuruh. Para undangan mendekat, ingin melihat bagaimana proses acara itu.
Dengan senyum hangatnya, Donghae mengambil salah satu cincin. Meraih jari Ah Neul kemudian memasukkan cincin itu ke jari manisnya di iringi tepuk tangan undangan. Kemudian Ah Neul mengambil cincin yang tersisa. Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Tangannya meraih jemari Donghae dengan gemetar. Dadanya terasa sesak. Para undangan mulai berbisik-bisik. Orang tua mereka saling berpandangan bingung.
“Ah Neul ah, ayo cepat lakukan,” bisik Yoon Hye.
“Mianhae Oppa…”
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Donghae cemas.
“Mianhae…” ucap gadis itu lagi sambil meletakkan cincin di telapak tangan Donghae lalu berlari pergi.
“Cho Ah Neul!!!”
Ah Neul mendengar teriakan dari Appanya, tapi ia tidak berhenti. Ia terus berlari keluar dari rumahnya. Dan ia juga merasa bahwa orang tuanya, dan seluruh tamu mengikutinya. Ah Neul membuka pagar rumahnya dan berlari hendak menyetop taksi di seberang. Baru dua langkah kakinya menginjak aspal…
CKIIIIIIIIIIIT….
BRUK….
“AH NEUL!!!”
Semua orang yang mengejar Ah Neul otomatis menghentikan langkahnya diiringi mata yang terkesiap.
Mobil itu berhenti beberapa senti sebelum menyentuh kaki gadis itu. tapi karena terkejut, Ah Neul terjatuh di aspal.
Penumpang mobil itu keluar dan melihatnya “Are you ok?”
Ah Neul tersentak dan langsung mengangkat wajah. Seketika tubuhnya mematung. Air matanya jatuh saat menatap laki-laki itu.
Ayah Ah Neul sudah akan berjalan menghampiri putrinya tapi Donghae menahannya. Ia tersenyum pada pria tua itu meminta untuk membiarkan mereka.
“Kenapa tidak berteriak seperti dulu kepadaku?” tanya Ah Neul dalam bahasa Inggris.
“Kau percaya pada takdir?” Changmin balas bertanya “Baru setengah jam aku ada di Korea untuk mencarimu, dan Tuhan membiarkanmu yang datang padaku!”
“Untuk apa kau mencariku?” tanya Ah Neul terisak.
“Untuk mengatakan apa yang belum kukatakan saat kita berpisah saat itu,” Changmin menghela nafas sejenak “Changmin!! Namaku Changmin, dan kau?”
“Cho-Cho Ah Neul…” air mata Ah Neul semakin deras.
“Ah Neul, kita memang baru berkenalan beberapa detik yang lalu. Tapi, bolehkah aku mengatakan kalau aku mencintaimu? Ini bukan ilusi sesaat karena begitu kau pergi, aku merasa berada dalam ruang kosong. Kau membawa rasaku untukmu, jadi aku datang untuk mengambilnya. Cho Ah Neul, aku mencintaimu…”
“Pabo!! Stupid!! Baka!!! Seharusnya kau mengatakan itu sebelum aku pergi Changmin san!!!” teriak Ah Neul.
“gomenasai…” lirih Changmin sambil mengulurkan tangannya.
Ah Neul menerima uluran tangan itu, membiarkan Changmin menariknya berdiri.
Greeep…
Ia langsung memeluk laki-laki itu “Aku juga mencintaimu… “
Para undangan yang masih berdiri di tepi jalan itu terharu melihatnya. Bahkan ada yang meneteskan air mata.
Prok…prok…prok…
Semua menoleh kaget pada Donghae yang bertepuk tangan. Lalu semua orang ikut memberikan tepuk tangannya.
Seolah tersadar, kedua orang itu saling melepaskan pelukannya. Gadis itu menatap orang tuanya “Appa mianhae… Tapi aku tidak bisa bertunangan dengan orang lain,”
“Sepertinya kebahagiaan Ah Neul bukan ada pada saya Ajhusi,” saut Donghae sambil tersenyum.
“Donghae ya…”
“Gwenchana, yang terpenting adalah kebahagiaannya. Saya harap Ajhusi dan Ajhuma bisa menerimanya. Dia adalah laki-laki yang menolong Ah Neul di Jepang. Dia orang yang baik Ajhusi,”
Ayah Ah Neul mendesah pelan “Baiklah…”
“Appa kau serius?”
“Eheem, you…” katanya pada changmin “Aku hanya punya satu putri, kalau kau benar-benar bisa membahagiakannya, buktikan kepadaku! Buktikan kalau kau mampu menjadi orang yang tepat untuk putriku,”
Changmin tersenyum “Yes sir, saya akan membuktikannya!!” jawabnya sambil menggenggam erat tangan gadis itu. menyambung kembali jarak yang terbentang. Menyatukan sesuatu yang diperlukan dalam kehidupannya. Rasa….

FIN