Tags

,

 

autumn_road-country-3

No End…

By Vea Kim

 

Bukankah sudah berkali-kali kukatakan bahwa hati itu flexible?

Mudah berubah dan tidak tetap…

Cinta itu ada, namun semakin hari bisa saja berkurang ataupun bertambah. Aku masih ingat masa lalu kita. Saat aku, kau dan dia masih bersama. Melewati masa-masa sekolah dengan begitu menyenangkan. Menantang angin seolah tidak ada beban. Dan akupun masih ingat jelas bagaimana tentang perasaanmu kepadanya.

‘Aku menyukainya, Yoon ah…’

Dengan senyum malu kau ungkapkan itu padaku. Menanti komentar apa yang akan terlontar dari bibirku.

Tentu saja aku bahagia mendengarnya. Dapat kulihat bagaimana usahamu saat itu. Dengan nyata, aku dapat melihat bagaimana hati yang sedang jatuh cinta.

Indah…

Hal itu yang selalu kau rasakan bukan? Hari-harimu selalu dipenuhi dia. Hingga akhirnya cincin itu melingkar di jari manis kalian berdua. Mengucap sumpah di depan Tuhan dan di depan semua saksi. Senyuman tidak pernah lepas dari wajahmu. Sinar mata itu terlihat jelas memancarkan kebahagiaan. Melukiskan warna-warna indah pada mimpi masa depan. Memulai rajutan kisah kasih.

Mungkin benar bahwa kisah cinta abadi itu hanya milik Cinderlella dan pangerannya. Milik Sleeping Beauty dan pangerannya pula. Juga mereka semua yang berada dalam lembar buku dongeng. Di antara sekian banyak kisah pengantar sebelum tidur. Ingatkah kalian pada Little Mermaid? Yang memberi gambaran untuk kita bahwa tidak semuanya akan berakhir bahagia seperti mimpi yang sudah dirajut sebelumnya.

Ketidak-cocokan dan ketidakjujuran, membuat semuanya terlihat tidak mudah. Saling meninggikan ego dan tidak mau memahami, menjadi batu yang melukai setiap langkah hari.

Takdir, dapat memainkan kita semua dalam kisahnya. Menyeret kita begitu saja tanpa ijin dan merumitkan hidup semudah merumitkan seutas benang. Dan itulah yang terjadi. Bahwa hidup, tidak akan pernah bisa ditebak jalannya. Seperti hati, yang mengingatkanku pada sebuah kalimat pendek yang kau ucapkan langsung dari bibirmu beberapa waktu lalu.

‘Aku menyukaimu, Yoon ah…’

 

Satu kalimat yang seharusnya tidak pernah terucap dari bibir seorang pria yang sudah memakai cincin ikatan di jari manisnya. Satu kalimat yang dapat merubah segalanya. Dan satu kalimat yang membuktikan bahwa hati itu flexible, tidak tetap…

Kuulang lagi semua memoriku tentang kita. Aku, kau dan dia. Dan kalimat itu serasa mimpi untukku. Bisakah aku percaya dengan apa yang kau ungkapkan kepadaku jika dulu aku dapat melihat dengan jelas bagaimana kau menatapnya. Seolah-olah dia lah pusat rotasimu. Aku ingin percaya, namun begitu sulit. Normalkan bila aku menerima dan mempercayai ini semua dengan mudahnya?

Begitu sering kau datang kepadaku. Meminta dan mengharap sedikit balasan dariku. Aku tidak mengerti dan tidak memahami. Karena itulah bibir ini masih terkatup rapat.

Apa yang menjadi inginmu aku tidak pernah tau. Kau tidak bisa melepas cincin itu namun kau juga tidak dapat melepaskanku. Salah bila kukatakan betapa egoisnya dirimu? Mengapa memberikan harapan bila tidak mampu mewujudkannya? Mengapa mengatakan hal itu bila tidak pernah ada penyelesaiannya?

Aku hanya takut bila suatu saat nanti hatiku terhanyut dan melukai orang-orang terdekatku. Karena itu, hingga saat ini kuikat hatiku kuat-kuat dan memalingkan wajah untuk tidak menatap apa yang ada.

‘Aku terbiasa menangis karena terluka olehnya. Tapi denganmu, aku menangis karena di ujung jalanku, tidak akan ada dirimu…’

 

Mengapa mengharapkan aku berada di ujung jalanmu bila bukan denganku kau memulainya. Saat ini, saat aku berada di seberang, kau berusaha menggapaiku. Haruskah aku meraih tanganmu walau harus tenggelam lebih dulu dalam lautan? Bagaimana bila aku tidak pernah muncul kepermukaan? Akankah kau datang menolongku? Ataukah kau ikut tenggelam bersamaku?

Karenamu aku harus berpura-pura. Seperti orang yang kehilangan ingatannya, melupakan semua yang pernah terucap dan bersikap tidak perduli. Meredam segala keadaan.

Aku tidak tau lagi kini siapa ‘dia’ yang kau maksud. Aku kah? Atau dirinya? Aku tidak tau lagi untuk siapa kata-katamu itu terucap. Aku kah? Atau dirinya?

Saat kuulang memoriku tentang kisah yang sudah kau rajut bersamanya, aku tidak pernah melihat rasa itu di matamu untukku. Rasa yang mengungkapkan segalanya. Atau memang tidak pernah kau perlihatkan kepadaku?

‘Aku menyukaimu… Meskipun dalam keadaan yang tidak layak, tapi aku ingin bilang bahwa aku menyayangimu…’

 

Aku tidak pernah merasa menjadi yang sepesial untukmu. Karena yang terlihat, aku seperti wanita kedua.

Yang kau cintai diam-diam. Yang hanya Tuhan, kau dan aku yang tau. Yang selalu pesan-pesannya dalam ponselmu harus kau hapus. Yang harus tersembunyi dari semua mata dunia.

Dan hal itu tidak pernah kuharapkan untuk terjadi. Salah bila aku tetap menutup bibirku rapat-rapat dan berpura-pura tidak mengerti?

Kutatap air mata langit. Dan membayangkan, bila aku berdiri di sana, akankah hujan menghapus semuanya? Mulai kini, aku akan berdamai dengan hatiku sendiri. Kutatap ponselku, kubaca lagi kalimat yang kau kirimkan untukku.

From : Cho Kyuhyun

 

‘Tuhanku… Jagalah ia karena aku tidak bisa menjaganya. Lindungi ia karena aku tidak bisa melindunginya. Dan bahagiakan ia karena aku tidak pernah bisa menjadi orang yang dapat membahagiakannya. Kutitipkan ia di sisimu bersama hatiku. Berikan yang terbaik untukknya karena aku ingin melihatnya tersenyum…’

 

Jangan kau jelaskan lagi, karena aku sangat paham. Tidak perlu kau menyakinkanku lagi karena semua itu akan menjadi sia-sia. Pada akhirnya, kisah kita tidak pernah berujung…