Tags

,

all about us

 

Hidup ini seperti saat kau berjalan di jalan panjang. Tidak tau apa yang kau pijak selanjutnya terasa halus atau terjal. Hidup juga seperti sebuah roda. Kadang di atas dan kadang di bawah. Kadang kau beruntung, kadang kau sial. Kadang kau bahagia, kadang kau berduka. Semuanya hanya permainan takdir. Dan mengeluh, sama sekali tidak akan pernah membantumu.

Aku mengemasi pakaianku dalam diam. Diam bukan berarti tidak merasakan apapun. Diam bukan berarti tidak terjadi sesuatu. Jauh teramat dalam, hatiku sakit. Perih dan terluka. Dan aku menahannya. Menipu semua mata yang ada agar mereka menganggapku kuat. Karena aku sendiri, aku harus menjadi kuat di mata mereka. Karena aku sendiri, aku harus menjadi tegar. Karena tidak ada tempat untukku berpegang.

“Yoon ah mianhae…” ucapan itu berkali-kali terdengar di telingaku disertai isakan lirih.

Aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Mengasihinya atau mengasihi diriku sendiri. Karena itu aku diam. Dan aku merasa hidupku detik ini sangat menyedihkan.
Kututup koperku setelah barang-barangku masuk ke dalamnya. Kutatap gadis yang tengah menunduk sambil terisak itu. Dada ini terasa sesak saat melihatnya. Orang yang kusayangi, kenapa harus ia?

“Aku pergi Soo In ah… terima kasih sudah menampungku selama ini. Semoga kalian bahagia,”

“Mianhae…” hanya kata itu yang kudengar dari bibirnya.

Aku menarik koperku keluar dari apartement itu. Secepat mungkin aku berjalan meninggalkan tempat itu. Tempat yang tidak ingin kuingat lagi meskipun tak bisa kulupakan.

“Yoon ah!!”

Langkahku terhenti saat mendengar panggilan itu. seorang laki-laki menghampiriku. Laki-laki yang pernah menjadi bagian dari hidupku. Laki-laki yang pernah menjadi bagian dari hatiku. Tapi sekarang tidak lagi.

Aku melepas cincin yang melingkar di jari manisku. Kuraih tangannya lalu kuletakkan benda itu di sana “Jaga Soo In baik-baik,” ucapku sambil tersenyum tipis padanya.

Tanpa menunggu jawabannya aku menarik koperku melangkah pergi. Mengabaikan teriakannya yang memanggilku. Apa semuanya sudah berakhir? Kurasa tidak. Ini akan menjadi awal. Awal untukku bisa mengatasi rasa sakit ini.

Hari sudah gelap, dan aku masih berjalan dengan gamang menyusuri jalan dengan koper dalam genggamanku. Semuanya terjadi begitu cepat dan tanpa kuinginkan. Bahkan aku tidak tau bagaimana bisa tunanganku, Jung Yong Hwa tiba-tiba saja menjadi calon ayah dari sahabatku sendiri, Kim Soo In.

Aku menemukan sebuah bangku di pinggi taman bermain dan duduk di sana. Menatap dua buah ayunan yang kosong. Sama seperti hatiku saat ini. sekarang aku harus kemana? Selama ini aku tinggal bersama soo in di apartementnya semenjak kuliah. Aku tinggal di panti asuhan sejak kecil dan tidak punya satu pun keluarga. Aku juga sudah keluar dari café tempatku bekerja. Café milik keluarga Yong Hwa, dan aku ingin melepas segala sesuatu mengenai mereka.

“Sekarang dimana aku harus bekerja dan menemukan tempat tinggal?” lirihku pelan. Mungkin tabunganku cukup untuk menyewa apartement kecil. Tapi kemana mencarinya malam-malam begini? Atau haruskah aku pergi ke tempat spa dulu?

“Kau mencari pekerjaan?”

Suara itu membuatku terkejut. Dengan cepat kepalaku berputar ke samping dan ternyata aku tidak sendiri. Sejak kapan ada orang lain di dekatku??

“Ye?” aku menatapnya bingung.

“Kau bilang kau membutuhkan pekerjaan. Kau bisa memasak?” tanyanya.

Walaupun masih bingung tapi kujawab juga pertanyaannya “Ne…”

“Bisa membersihkan rumah?”

“Ne,”

“Bisa mencuci?”

“Ne,”

“Kau boleh tinggal di apartementku!!”

Aku mengerjap bingung “Ye?”

“Bekerjalah padaku, aku akan memenuhi segala kebutuhanmu!”

Aku juga tidak memahami kenapa waktu berputar begitu cepat. Apa mungkin aku sudah putus asa hingga menurut saja saat laki-laki itu membawaku pergi? Aku tidak mengerti, seharusnya aku menolaknya. Tapi melihatnya, kurasa ia bukan laki-laki jahat. Usianya tidak lebih dari dua puluh tujuh kurasa. Dia terlihat masih muda. Dan sepertinya juga bukan orang pengangguran dilihat dari jas kerja yang dipakainya.
***

“Masuklah…” ia menekan beberapa digit angka lalu mendorong pintu apartement mewah itu. Semakin membuatku yakin bahwa ia bukan orang sembarangan.

Aku memasuki apartementnya dengan ragu. Kutatap sekeliling apartement itu. Siapa sebenarnya laki-laki ini? Aku melihatnya sedang mengambil segelas air putih lalu kembali kepadaku.

“Duduklah…” ia meletakkan air putih itu di meja sambil duduk di sofa putih itu.

“Cho Kyuhyun imnida. Siapa namamu?”

“Kim-Kim Yoon Hye,” jawabku sedikit gugup sambil duduk di sofa. “Jadi… aku harus menjadi pembantumu? Mengurus apartementmu setiap hari?” tanyaku hati-hati.

“Aniyo…”

Aku mengernyit pelan “Lalu?”

“Pekerjaanmu adalah untuk membantuku melupakan mantan kekasihku!”

“Mwo??” aku membelakkan mata terkejut.

“Kau cukup tinggal di sini menemaniku. Juga mengurus apartementku. Tapi aku tidak menganggapmu sebagai pembantu. Itu terdengar sangat tidak sopan!”

Aku menatapnya tidak mengerti. Ia ingin aku tinggal di sini? Menemaninya? Dan membantunya untuk melupakan mantan kekasihnya? Apa dia sudah gila? Apa dia menganggapku wanita murahan karena menemukanku sendiri di jalan dan sedang membawa koper besar? Apa aku terlihat begitu putus asa??

Tunggu… tapi dia memperlakukanku sangat sopan. Bahkan ia tidak memperlakukanku sebagai pembantu. Jadi apa maksud sebenarnya??

“Aku benci saat harus tinggal sendirian,” ucapnya membuyarkan lamunanku “Saat sendiri aku akan teringat terus kepadanya. Dan aku benci harus mabuk-mabukkan jika ingin melupakannya,”

Aku tercenung mendengarnya. Dia benar… Sendiri akan membuatku ataupun dirinya teringat akan sesuatu yang menyakitkan. Aku menatapnya “Mungkin aku sudah gila…” lirihku.

“Kurasa kita berdua sudah gila…” sautnya.

“Jadi aku harus tinggal di sini bersamamu?”

Ia beranjak dari duduknya “Biar kutunjukkan kamarnya,” katanya sambil menarik koperku.

Aku berdiri dan mengikutinya. Dia memasuki sebuah kamar yang cukup besar. Semuanya terlihat serba putih. Aku menatap sekeliling kamar itu lalu mengernyitkan kening. Kamar itu tidak terlihat seperti kamar tamu. Aku menoleh dan melihat Kyuhyun sedang melepas jasnya sambil melonggarkan dasi.

“Kamar mandinya sebelah sana,” ia menunjuk sebuah pintu dengan dagunya.

“Ini… kamarmu?” tanyaku ragu.

“Kau keberatan berbagi kamar? Di sini hanya ada satu kamar,”

Jantungku terasa berdetak kencang mendengarnya. Kutatap tempat tidur besar itu. Ini sangat gila. Aku tinggal dengan orang asing dan dalam satu kamar?! Dia seorang laki-laki kalau boleh kutegaskan sekali lagi.

“Dan aku benci tidur sendiri, membuatku benar-benar merasa sendiri.” Katanya memperjelas bahwa kami akan tidur bersama dalam satu ranjang.

Ah, sekali lagi dia benar. Tapi kami tidak saling mengenal. Apakah ini mungkin? Sepertinya dunia memang sudah gila.

“Simpan barang-barangmu dulu. Sepertinya lemariku cukup untuk menampung pakaianmu yang hanya sekoper itu. Aku mau mandi dulu,” ucapnya kemudian berjalan memasuki ruangan yang tadi ditunjukkannya sebagai kamar mandi.

Aku menatap kamar itu sekali lagi setelah ia menghilang dibalik pintu kamar mandi. Apakah semuanya akan baik-baik saja? Kuhampiri lemari berwarna cream itu dan membukanya. Isinya gantungan pakaian mulai dari jas, jaket, kemeja, piama hingga kaos-kaos santai dan celana pendek. Lalu kubuka laci dibawah ruang gantung itu. Isinya berbagai macam dasi. Kemudian laci kedua, dan seketika wajahku memanas melihat benda-benda berwarna putih itu terlipat rapi. Pakaian dalamnya.

Kututup laci-laci itu lalu mulai membongkar koperku. Memasukkan pakaianku ke dalam lemari. Ini sangat aneh. Tiba-tiba saja aku harus berbagi segalanya dengan laki-laki asing. Apakah ini hanya mimpi? Mungkin saja saat ini aku masih duduk di bangku itu tertidur. Tapi mimpi ataupun nyata, aku tetap akan menjalaninya bukan? Karena waktu tidak pernah berhenti.
***

Sejak malam itu, semuanya terasa berbeda. Aku seperti hidup lagi dari awal. Sekarang, setiap aku membuka mata di pagi hari, dia orang yang pertama kali kulihat. Begitu juga saat aku menutup mata. Setiap pagi aku membangunkannya lalu memasak untuknya. Setelah ia pergi ke kantor, aku akan membersihkan apartement dan berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari. Aku senang ia memperlakukanku bukan seperti pembantu. Aku juga tidak tau, saat ini aku terlihat seperti istrinya. Tapi sebenarnya kami tidak ada ikatan apapun. Aku hanya bekerja untuk menemaninya.

Tapi semakin lama aku merasa bosan. Aku merasa sendiri ketika ia pergi untuk bekerja. Dan apartement tidak akan selalu kotor setiap harinya. Aku butuh waktu tiga hari sekali untuk membersihkannya meskipun setiap hari aku harus memasak dan dua hari sekali mencuci baju. Entah kenapa aku ingin kembali ke panti asuhan tempatku besar dulu. Aku meminta ijin padanya untuk membantu suster-suster di panti saat ia bekerja dan pulang saat sore hari. Dengan senyum lembutnya dia memperbolehkanku.

Dia begitu baik. Tidak ada lagi rahasia diantara kami. Dia menceritakan segalanya kepadaku. Tentang kehidupannya. Kematian kedua orang tuanya dan perusahaan yang harus dipegangnya begitu ia menyelesaikan pendidikannya. Juga tentang kekasihnya yang pergi meninggalkannya dan lebih memilih mengejar karirnya di luar negeri sebagai model. Termasuk seberapa dekat hubungan mereka saat masih berpacaran. Semuanya tanpa ada yang ditutupi. Begitu juga aku. Aku menceritakan semua kepadanya bagaimana kehidupanku sebelum ini. Termasuk tentang tunanganku yang menghamili sahabatku sendiri. Semuanya. Dan lambat laun, kami semakin saling mengenal.

“Kau mau meminjam bahuku?” tanyanya setelah kami saling menceritakan keadaan masing-masing saat itu.

“Untuk apa?” aku menatapnya bingung.

“Mungkin saja kau ingin menangis,” jawabnya tersenyum.

Aku membalas senyumnya “Lalu, apa aku juga harus meminjamkan bahuku?”

Ia menatapku dengan alis terangkat.

“Mungkin saja kau butuh waktu untuk memejamkan matamu sejenak,”

Ia tertawa kecil mendengarnya “Aku tidak apa-apa,” jawabnya.

“Dan aku baik-baik saja,” balasku tersenyum.

Aku menjadi tau semua yang disukainya dan yang tidak disukainya. Kebiasaan-kebiasaannya. Dia bisa tidur sampai siang bila tidak di bangunkan. Tapi ia tidak sulit dibangunkan. Tidak suka makan sayur dan senang membeli Jjajangmyeon di luar untuk di bawa pulang. Tidak terlalu banyak bicara dan maniak game. Dia selalu menyempatkan waktunya untuk bermain game sebelum tidur dan selalu ada psp di kantong jasnya. Well, dia lebih kekanakan dari yang terlihat.
***

“Kyuhyun ah… Bangunlah, ini sudah pagi,” kuguncang pelan tubuhnya yang masih berbalut selimut.

“Nghh…” ia melenguh pelan, bergerak dari tidurnya sambil mempererat selimutnya.

“kyu… Kau tidak ke kantor?” tanyaku lagi. Aku memang selalu membiarkannya bangun lebih siang bila tidak pergi ke kantor.

“Dingin…” gumamnya pelan.

Aku mengernyitkan dahi. Kusentuh keningnya “Kau demam…”

Aku pergi ke belakang dan kembali lagi dengan membawa seember air dan kompres. Kyuhyun menyuruhku menelepon dokter keluarganya dan sebelum dokter itu datang, aku memasak untuknya.

Dokter bilang ia hanya demam ringan. Mungkin terlalu lelah dengan pekerjaan. Aku membiarkannya tidur lalu pergi untuk mengambil obat dari resep yang di berikan oleh doter. Saat aku pulang, ia sudah membuka matanya dan sibuk dengan ponselnya.

“Sudah lebih baik? Aku baru saja mengambil obatmu. Kau harus makan dulu, biar kuambilkan,”

Aku kembali lagi dengan semangkuk Nasi, semangkuk Sup Ayam dan Tumis Daging untuknya “Makanlah yang banyak, biar kau cepat sembuh,” kataku sambil meletakkan meja kecil itu di atas tubuhnya.

“Aku masih malas…”

“Tapi kau harus,” aku mengambil sesendok nasi lalu memasukkannya kedalam Sup Ayam dan membawanya ke mulut laki-laki itu “Buka mulutmu,” dengan patuh ia memakan makanan yang kusuapkan kepadanya.

“Ternyata kau hanya malas menggerakkan tanganmu kan?!” gerutuku saat melihat mangkok-mangkok itu sudah kosong.

Ia tertawa mendengarnya “Memakan dari tangan orang lain itu berbeda rasanya,”

“Sekarang tidurlah, aku akan mencuci dulu!!” kataku sambil membereskan mangkok-mangkok itu. dia memang seperti anak-anak.

Aku melihatnya masih bermain psp saat keluar dari kamar mandi untuk berganti piama. Kurebut psp itu dari tangannya “Sudah waktunya tidur Tuan Cho!!” ucapku sambil mematikan benda itu dan menyimpannya di laci.

Ia menatap kesal “Sedikit lagi level sembilan,” gerutunya sambil mengambil posisi tidur.

Aku pura-pura tidak mendengar. Kunaikkan selimut ditubuhnya lalu naik ke ranjang dan tidur di sebelahnya. Baru saja aku memejamkan mata saat merasakan sepasang lengan memeluk lenganku. Aku menoleh dengan bingung.

“Rasanya lebih hangat,” jelasnya sambil tersenyum.
Aku tersenyum sambil menggeser tubuhku merapat padanya. Kuusap-usap punggungnya lembut di balik selimut “Tidurlah…” bisikku.
***

“Kau mau kemana? Bukankah masih sakit?” tanyaku saat melihatnya menggunakan pakaian yang rapi namun terkesan santai. Kemeja kotak-kotak biru dengan celana jeans.

“Aku akan pergi ke kantor,” jawabnya sambil duduk di meja makan.

“Sudah akan bekerja? Apa tidak apa-apa?” tanyaku sambil menuang air ke gelas.

“Aku hanya sebentar di sana. Apa rencanamu hari ini?”

“Kalau kau pergi ke kantor aku akan pergi ke panti seperti biasanya. Tapi kalau kau hanya sebentar dan langsung pulang, aku akan ada di apartement. Bukankah kau benci sendirian? Mungkin aku akan keluar untuk berbelanja saja,”

“Tunggulah aku, kita ke panti sama-sama. Aku tidak lama, mungkin dua atau tiga jam,”

“Kau mau pergi ke sana?”

“Apa tidak boleh?”

“Tentu saja boleh.”
***

Aku menatap anak-anak kecil itu. Merasakan masa laluku terulang kembali. Dulu aku sama dengan mereka. Karena itu, sampai sekarang aku selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi panti.

“Anyeong haseo…” sapaku sambil tersenyum dan dibalas oleh mereka “Waah… Kalian sedang belajar apa? Boleh aku bergabung??”

“Eonni kami akan bernyanyi!!” seru seorang gadis kecil berambut kepang.

“Baiklah, kita bernyanyi. Lagu apa yang ingin kalian nyanyikan??” tanyaku sambil memangku seorang balita.

“Bintang kecil…” jawab anak laki-laki kecil bertopi.

Teng teng…
Semua perhatian beralih pada suara denting piano yang baru saja berbunyi itu. Kyuhyun tersenyum di depan piano hitam di sudut ruangan. Lalu jemarinya menekan lagi tuts-tuts itu memainkan nada.

Aku menatap anak-anak itu “Ayo semuanya kita bernyanyi!!” seruku.

Twinkle twinkle little star…

Suara piano itu mengalun mengikuti suara anak-anak. Aku merasa hangat melihatnya. Bersama mereka, aku merasa tidak sendirian.

“Haah… tadi sangat menyenangkan…” aku menikmati sapuan angin musim gugur sambil duduk di atas ayunan. Memperhatikan anak-anak yang tengah bermain di sekitar kami.

“Aku merasa tidak sendirian saat bersama mereka,” saut Kyuhyun sambil meminum sodanya.

“Ne, kau benar… Mereka terlihat polos dan jujur. Jadi aku tidak merasa takut mereka akan melukaiku,”

“Setelah ini kau akan pergi kemana?”

“Kita ke supermarket bagaimana??”

Tidak terasa sudah sebulan lebih aku tinggal bersama Kyuhyun. Dan aku hampir saja dapat melupakan semua kesedihanku. Meskipun dadaku terasa sesak saat teringat kejadian itu, tapi setidaknya sekarang aku tidak sendiri. Aku merasa tenang berada di dekat Kyuhyun.

Jemariku sedang menyusuri kaleng daging itu. Memilih kira-kira mana yang terbaik. Kuambil dua buah kaleng yang menurutku bagus lalu aku berjalan ke balik rak.

“Yoon ah…”

Aku tersentak mendengar panggilan itu. Di sebelahku, berdiri seorang gadis yang sedang membawa troli belanja. Seorang gadis yang hampir saja kulupakan.

Aku tersenyum tipis “Anyeong Soo In ah,”

“Ba-bagaimana kabarmu?” tanyanya dengan gugup.

“Aku baik-baik saja,”

“Kau bohong…” bantahnya pelan “Aku mengenalmu Yoon ah… Maafkan aku…”

Aku menatapnya miris. Dia mengenalku tapi masih menyakitiku. Haruskah aku berteriak akan hal itu?

“Bagaimana kandunganmu? Sehat? Kau harus sering-sering pergi ke dokter, juga harus makan makanan bergizi. Jangan memakan mie instan terus, itu tidak baik,”

“Yoon hentikan…”

“Aku tau kau tidak suka buah, tapi kau harus membiasakan mulai sekarang. Juga jangan telat makan_”

“Kubilang hentikan!!!” bentaknya “Jangan membuat rasa bersalahku semakin besar padamu…”

Aku menatapnya sambil tersenyum tipis “Semuanya sudah terjadi. Tidak akan ada yang berubah jika aku ikut berubah…”

“Soo ya, kau sudah menemukannya?”

Aku masih mengingat jelas suara itu. Suara yang pernah mengisi hari-hariku. Hatiku terasa perih lagi melihatnya.

“Yoon ah… Lama tidak bertemu,” sapanya sambil menghampiri Soo In.

“Bagaimana kabarmu?” senyumku.

“Aku… baik…” jawabnya sedikit ragu “Kami… kami sudah menikah dua minggu yang lalu,” tambahnya.

“Benarkah? Selamat kalau begitu,”

“Dulu aku belum sempat meminta maaf padamu Yoon, maafkan aku…”

Tenggorokanku tercekat. Aku tidak tau harus menjawab apa. Apakah aku bisa memaafkannya? Kenapa aku tidak bisa mengatakannya dengan mudah? Tanganku terkepal erat.

“Ah, kau disini rupanya. Aku mencarimu dari tadi,”

Aku tersenyum pada sosok itu. Merasakan lega ketika ia berada di sebelahku. Seolah menjadi penahanku ketika aku akan jatuh. Ia menggenggam tanganku yang terkepal erat, mencoba untuk melemaskannya dalam genggamannya.

“Ah, kalian teman Yoon Hye?” sapanya riang pada kedua orang di depanku “Cho Kyuhyun imnida.”

“Oh, kau Cho Kyuhyun pemilik Hotel Seoul Art itu? Jung Yong Hwa imnida, dan ini istriku Kim Soo In,”

Aku hanya menatap Kyuhyun bingung. Pemilik hotel? Aku tau dia memegang sebuah perusahaan tapi aku belum pernah bertanya perusahaannya bergerak di bidang apa.

“Benar, senang bertemu dengan kalian, tapi kami harus pergi,” jawabnya ramah. Kemudian tatapannya beralih kepadaku “Ayo pulang, aku sudah lapar sekali. Kau tidak ingin nanti malam perutku bernyanyi saat kita tidur bukan? “

Blussh…
Aku merasakan wajahku memanas. Apa-apaan laki-laki ini? kenapa seolah memberitahu mereka kalau kami tidur bersama? Aku menatap kedua orang itu sambil tersenyum canggung “Aku pergi dulu, anyeong,”

Kyuhyun menunduk sekilas pada mereka lalu merangkul bahuku dan menyeretku pergi. Dia seperti penyelamat untukku.

Aku menatap dengan alis terangkat saat ia meletakkan gelas plastik di hadapanku.

“Kau bilang teh bisa membuatmu tenang, jadi aku membelinya,”

Aku tersenyum lalu meminumnya. Dia mengingatnya…
Suasana café itu tidak terlalu ramai. Meskipun tadi Kyuhyun bilang ingin cepat pulang tapi ternyata dia malah membawaku ke sebuah café untuk makan.

“Ingin menangis?”

Aku mengangkat wajah menatapnya “Aku baik-baik saja,” tawaku.

Ia hanya tersenyum menatapku “Mereka… orang yang kau ceritakan itu bukan? Harusnya aku menciummu saja di depan mereka, dan membuat mereka menyesal sudah mempermainkanmu,”

“Yaa! Apa yang kau bicarakan??” bentakku pura-pura marah. Semoga saja wajahku tidak merah saat ini.

“Bagaimana kalau setelah ini kita nonton? Kau pernah nonton Romeo dan Juliet?”

“Aku pernah mendengar kisahnya. Tapi tidak pernah menonton ataupun membaca bukunya,”

“Bagus kalau begitu!!”

Dan film itu sukses membuatku menangis. Kenapa dua orang yang saling mencintai tidak bisa bersama?

“Yoon ah, waeyo??” Kyuhyun menatapku cemas.

Aku tidak bisa menjawabnya karena masih terisak. Dengan lembut ia mengusap air mataku “Jangan mengatakan baik-baik saja kalau kau merasa sakit,”

Aku menggeleng pelan “Itu sangat mengharukan… Kenapa mereka tidak bisa bersama?” tanyaku sesegukan.

Alis Kyuhyun terangkat sebelah “Kau menangis karena film itu?”

“Lalu?” tanyaku bingung.

Laki-laki itu menggeleng pelan “Saat orang lain menyakitimu kau tidak menangis, tapi saat menonton film…”

Aku cemberut menatapnya “Yaa, itu sangat menyedihkan!! Memangnya salah kalau aku terharu?!”

Ia tertawa sambil mengacak rambutku “Ayo pulang.”

“Haaah…” aku menghempaskan diri di tempat tidur setelah mandi dan berganti piama. Hari ini menyenangkan sekaligus melelahkan.

BUUK…

“Yaa!!” aku berteriak kesal saat sesuatu yang besar menimpa dan mengenai wajahku.

“Jangan pernah merebut gulingku lagi!!”

Aku menatap boneka lumba-lumba besar itu tertegun. Lalu tertawa geli menatap Kyuhyun yang berjalan ke kamar mandi. Ternyata dia menyadarinya. Setiap malam aku selalu merebut guling yang dipakainya. Aku memeluk boneka itu sambil menaikkan selimut. Rasanya hangat dan empuk. Kapan dia membelinya?

Aku memejamkan mataku mencoba tidur sampai kurasakan tempat tidurku bergerak. Sepertinya dia sudah selesai mandi. Lalu aku merasakan ruangan menjadi gelap. Sepertinya ia baru saja mematikan lampu tidur.
Deg…
Jantungku terasa berhenti saat kurasakan ada lengan yang menyusup, melingkar di pinggangku. Tanpa sadar aku menahan nafas. Tubuhku terasa kaku, tidak bisa bergerak sama sekali.

“Kau punya guling sendiri Tuan Cho,” gumamku masih memejamkan mata.

“Seperti ini lebih hangat,” balasnya berbisik sambil merapatkan tubuhnya hingga aku bisa merasakan nafas hangatnya di leherku. Oh dear…
***

“Sedang apa?”

Aku tersentak kaget dan langsung berbalik. Aku menghembuskan nafas melihatnya “Jangan mengagetiku seperti itu lagi,”

Ia hanya tertawa kecil.

“Sudah pulang? Cepatlah mandi, kusiapkan makan malam,”

“Kau baru saja mandi? Baumu wangi…”

Mendadak aku menjadi patung saat ia menempelkan pipinya di pipiku, mencoba menghirup aromaku. Tanganku mencengkeram erat jas di pinggangnya. Jantungku berdetak liar saat aku merasakan sesuatu yang lembut menempel pada kulit leherku.

Lalu, ia menatapku. Aku merasakan waktu berhenti berputar saat merasakan wajahnya semakin dekat. Merasakan jantungku berhenti berdetak saat merasakan hembusan nafasnya yang hangat. Dan merasakan sistem sarafku mati saat bibir lembutnya menekan bibirku.

Ini bukan yang pertama, tapi kenapa rasanya begitu berbeda? Lebih kuat dari sebelumnya. Aku dapat mencium aroma keringatnya yang bercampur parfum. Lembut dan memabukkan. Membuatku mengikuti setiap pergerakannya.

TEEEEETTT…TEEEEETTT….

Suara itu mengangetkanku hingga tanpa sengaja aku mendorongnya. Melepas ciuman kami. Nafas kami tersengal. Aku menunduk malu.

“Mianhae…” ucapku pelan.

Ia hanya tersenyum “Biar aku yang membuka pintu,” katanya sambil berlalu.

Aku menekan dadaku yang terasa masih berdebar. Tuhan… Apa yang baru saja kami lalukan?? Aku menepuk kedua pipiku yang memanas. Tapi, siapa yang memencet bell? Bukankah selama ini tidak pernah ada tamu di apartement ini? Setelah menghela nafas pelan, aku berjalan keluar kamar.

“Oppa… aku kembali…”

Deg…

Aku membatu di ambang pintu. Gadis itu tinggi dan sangat langsing. Rambut panjang hitamnya tergerai indah. Dan saat ini dia sedang memeluk Kyuhyun. Perlahan aku kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintu tanpa suara. Aku masuk ke kamar mandi dan duduk di atas kloset, menekuk lututku.

Apa dia yang bernama Kim Seohyun? Mantan kekasih Kyuhyun? Bukankah Kyuhyun bilang gadis itu sedang mengejar karirnya di Paris? Kalau dia kembali ke Korea untuk kyuhyun bukankah itu artinya gadis itu sangat mencintai Kyuhyun? Lalu… Apakah Kyuhyun masih mencintainya?

Aku terdiam. Selama ini Kyuhyun tidak pernah mengatakan apapun lagi tentang perasaannya. Benar-benar bodoh. Bukankah sejak awal aku hanya bekerja untuk menemaninya? Agar ia lupa dengan gadis itu? Dan kami tidak ada hubungan apa-apa. Tidak ada ikatan apa-apa… Satu kenyataan yang hampir saja kulupakan. Satu kenyataan yang membuatku menyadari siapa diriku. Dan satu kenyataan yang entah kenapa membuat hatiku perih. Satu kenyataan yang mengingatkan bahwa aku masihlah sendiri.

“Yoon??”

Kudengar pintu kamar mandi di ketuk “Ne?” balasku dari dalam tanpa berniat membukanya.

“Aku ada perlu. Kau makanlah dulu, jangan menungguku. Masak saja untuk dirimu, kalau kau tidak mau pesanlah di luar, aku keluar dulu,”

“Ne!!” jawabku.

Dan dia tidak kembali hingga aku tertidur.
***

Aku tidak tau jam berapa dia pulang. Saat aku bangun, dia sudah berada di sebelahku. Tidur masih memakai jasnya. Wajahnya terlihat kusut dengan mata yang memerah. Aku tidak bertanya apapun padanya. Setelah kubangunkan, ia langsung mandi dan aku menyiapkan sarapan. Pagi itu semuanya terlihat berbeda. Sunyi yang mencekam. Kami berdua duduk berhadapan untuk sarapan. Tapi sepertinya aku ataupun dia sama sekali tidak berselera. Jadi kami hanya duduk diam.

“Dia kembali…” ucapnya memecah keheningan “Kim Seohyun, dia kembali.”

Aku tersenyum tipis “Bukankah itu bagus? Kau bilang dia meninggalkanmu untuk mengejar karirnya. Sekarang dia kembali, itu artinya dia sangat mencintaimu,”

Aku menunduk menatap mangkok nasiku. Menghindari tatapannya yang tajam. Kuraih sendok berpura-pura akan makan.

“Lalu bagaimana denganmu?”

Aku terdiam. Tanganku terkepal erat. Kuangkat wajahku untuk menatapnya “Aku kenapa?” tanyaku balik. Kami sama-sama terdiam.

Braaak…
Kyuhyun memukul meja dengan keras “Kenapa kau selalu saja seperti ini?? Kenapa kau selalu saja tersenyum saat kau merasa terluka?? Tanganmu terkepal Kim Yoon Hye! Dan aku tau kau sedang merasa sakit saat ini!! Kenapa tidak pernah jujur dengan perasaanmu??”

Dadaku terasa perih mendengarnya “Kalau aku marah apa yang akan kau lakukan?” tanyaku.

Diam. Tidak ada jawaban.

“Aku marah ataupun tidak, tidak akan ada artinya… Semua keputusan ada ditanganmu. Apa kau ingin aku marah-marah terhadapmu? Aku tidak punya hak untuk itu Kyuhyun ah… Dari awal kau memintaku untuk bekerja bukan? Aku hanya bekerja untuk menemanimu. Tidak ada yang membuatku berhak untuk marah kepadamu karena kita… tidak ada ikatan apapun diantara kita,” dadaku terasa sesak saat mengucapkannya. “Aku hanya menyelamatkan harga diriku, apa kau ingin aku terlihat bodoh di depanmu? Bukankah kau tidak ingin aku bersikap seperti itu??”

“Tidak ada ikatan apapun diantara kita, tapi kenapa kau biarkan aku memelukmu? Menciummu?”

Deg…
Sesak. Dada ini terasa sakit. Dia benar… Kenapa aku membiarkannya? Kenapa?? Bahkan sekarang aku terlihat seperti orang bodoh di depannya.

Hening. Aku tidak dapat berkata apapun kepadanya.

Sraaak…
Tiba-tiba saja Kyuhyun beranjak dari duduknya. Ia menghampiriku lalu menarik tanganku. Membawaku pergi. Aku tidak mengerti apa yang akan dilakukannya. Apa dia akan membuangku di tengah jalan? Aku hanya diam saat ia mendorongku masuk ke dalam mobilnya.

Mobil itu berhenti di sebuah toko. Ia membawaku masuk ke dalam toko itu. dan aku masih bungkam.

“Carikan dia gaun putih yang cocok,” pintanya pada pegawai toko tanpa basa-basi.

Aku membiarkan pegawai wanita itu menarikku sementara kulihat ia sedang mengeluarkan ponselnya.

“Silahkan dicoba nona,” wanita itu mengulurkan sebuah gaun kepadaku. Tanpa banyak bertanya aku masuk kedalam fitting room dan mencobanya.

Gaun itu sangat sederhana. Berwarna putih bersih dan panjangnya hanya sampai di bawah lutut dengan ujung-ujungnya yang lancip-lancip. Bagian lengannya pendek tidak sampai menutupi bahu. Dan ada dua utas tali yang harus di ikat ke belakang leher. Manis.

Aku keluar dari fitting room dan pegawai wanita yang tadi langsung meletakkan sepasang higheels putih di hadapanku. Aku memakainya tanpa banyak bicara. Sepatu itu pas. Tidak terlalu sesak di kakiku.

“Bagaimana tuan??”

Aku menoleh ke arah Kyuhyun. Ia berjalan ke arahku dan menyodorkan sebuket bunga mawar merah. Aku menerimanya masih tanpa membuka mulut.

“Agashi, boleh jepit rambutmu untukku?” pintanya pada pegawai toko itu.

“Ah, tentu,” jawab wanita itu sambil melepaskan jepitan di rambutnya.

“Masukkan semuanya ke dalam tagihanku, aku ambil gaun dan sepatunya,” Kyuhyun menyodorkan selembar kartu lalu meraih label yang ada di pakaian yang kupakai dan mencabutnya. Lalu ia membalikkan tubuhku dan mengikat sebagian rambutku secara asal hingga banyak yang menjuntai di sela-sela telingaku.

“Ini kartu anda tuan, terima kasih,”

Kyuhyun menerima kartunya kembali lalu membungkuk sekilas. Kemudian dia menarikku keluar dari toko itu. Kembali menuju mobilnya dan beberapa detik kemudian, kami sudah meninggalkan tempat itu.

Mobil itu berhenti di sebuah bangunan yang kukenal. Ini adalah gereja panti asuhanku. Belum sempat aku berfikir, pintu di sebelahku tiba-tiba saja terbuka. Kyuhyun mengulurkan tangannya, mengajakku untuk keluar.

Aku menerima uluran tangannya dan membiarkannya membawaku melangkah menaiki anak tangga gereja itu satu per satu. Kemudian, ia membuka pintu besarnya. Aku menatap terkejut ruangan itu. seluruh bangku telah terisi penuh. Bahkan aku melihat para suster dan anak-anak panti ada di sana. Dan semua mata itu kini tertuju kepadaku. Kepada kami lebih tepatnya. Apa kami baru saja mengacaukan acara gereja??

Kyuhyun mempererat genggaman tangannya lalu menarikku untuk berjalan. Aku menundukkan wajah sambil menggigit bibir bawahku. Apa yang laki-laki ini lakukan?? Kami berhenti di tempat pastur berdiri.

“Tuan,” seorang pria berpakaian jas hitam membungkuk ke arah Kyuhyun “Semua pegawai sudah hadir di sini sesuai perintah tuan tadi,”

Kyuhyun mengangguk pelan lalu menatap seorang pendeta tua yang sudah berambut putih “Tolong nikahkan kami pendeta,” ucapnya sopan.

Aku menatap kyuhyun terkejut. Apa aku tidak salah dengar? Kenapa tiba-tiba seperti ini??

“Anda yakin?”

“Tuan Cho, anda serius??” tanya pria berjas itu terkejut.

“Saya yakin,” jawab Kyuhyun.

“Tunggu sebentar, akan kuambil jubahku dulu,” ucap pendeta itu lalu masuk ke dalam.

“Lee Ajhusi, tolong umumkan hal ini pada semua yang sudah hadir, aku akan menikah dengan Kim Yoon Hye,”

“Cho Kyuhyun, apa maksudmu??” tanyaku akhirnya. Apakah ia tidak tau pentingnya arti sebuah pernikahan? Bukan main-main seperti ini.

“Kalian sudah siap??” tanya pendeta yang baru saja kembali dengan jubah kebesarannya.

“Ne,” jawab Kyuhyun lalu menatapku “Sebentar lagi, akan ada ikatan di antara kita. Sebentar lagi, kau punya hak untuk marah padaku. Kesal kepadaku, melarangku dan semua yang kau rasakan kepadaku. Sebentar lagi, aku akan menjadi milikmu dan kau akan menjadi milikku. Simpan semua pertanyaanmu untuk nanti, aku akan menjawab semuanya. Sekarang yang harus kau ingat hanya berkata ‘aku bersedia’ dihadapan pendeta dan tuhan,” katanya sambil meletakkan tanganku di lengannya. Menuntunku pelan menuju hadapan pendeta itu.

“Hadirin sekalian, kita berada di sini untuk menyaksikan pernikahan tuan Cho Kyuhyun dengan nona Kim Yoon Hye,” ucap pria tadi. Dan seketika terdengar bisik-bisik lirih.

Aku tidak tau apakah waktu masih berjalan atau tidak. Dan bahkan tadi pagi saat membuka mata aku tidak pernah berfikir untuk menikah hari ini. Mendengar semua kata-katanya aku ingin menangis. Dulu aku pernah bermimpi seseorang akan melamarku dengan manis, membahagiakanku dan kami menikah lalu hidup bersama.

Aku memang pernah dilamar dengan cara yang romantis. Tapi semua itu tidak menjanjikan kebahagiaan untukku. Namun sekarang, tanpa lamaran, tanpa kata-kata manis, tanpa kata-kata cinta, tanpa janji-janji harapan, ia mengikatku di depan tuhan dengan mengucapkan kata ‘aku bersedia’ dengan penuh keyakinan. Air mataku mengambang. Keyakinannya, membuatku tidak takut lagi. Membuatku yakin dengan mengatakan hal yang sama untuknya.

“Aku bersedia…”

Kalimat itu sederhana, namun mengandung arti sakral berisi sumpah di depan tuhan. Kalimat yang akan membawaku dan membawanya dalam satu kehidupan selamanya.

“Atas nama tuhan, dengan ini kunyatakan kalian resmi sebagai pasangan suami istri. Kau dapat mencium pasanganmu,” ucap pendeta itu.

Air mataku jatuh seketika. Kyuhyun menyentuh bahuku, menghadapkan tubuhku kepadanya. “Kenapa menangis??” tanyanya dengan nada sendu.

“Aku bahagia…” bisikku.

Ia tersenyum “Kau gadis paling aneh yang pernah kutemui. Saat terluka kau tersenyum, dan saat bahagia, kau menangis. Gadis bodoh!!”

Aku hanya terisak sambil mengangguk. Ia mengusap air mata di pipiku lalu perlahan mendekatkan wajah untuk mengecup bibirku. Dan gemuruh tepuk tangan, terdengar seketika.

Bahkan aku tidak ingat sekarang ini hari apa dan tanggal berapa. Aku bahagia karena bagiku, tuhanlah yang memilihkan waktunya. Menyatukan hidupku dan hidupnya dalam sebuah jalan takdirnya…
***

“Ini adalah rumahku…”

Aku menatap bangunan putih itu. Rumah Kyuhyun.

“Aku pergi dari rumah sejak Appa dan Eomma pergi. Aku tidak ingin mengingat mereka jadi aku pergi dari rumah. Tapi sekarang ada kau, dan akan ada anak-anak kita nantinya, jadi aku tidak perlu merasa sendiri di rumah ini.”

Aku tersenyum menatapnya sambil mempererat genggaman tangan kami.

“Ada yang ingin kutunjukkan kepadamu,” ia menarikku masuk ke dalam rumah itu. Rumah yang sederhana dan terlihat nyaman itu.

“Hadiah pernikahan untukmu,” bisiknya sambil membuka sebuah pintu.

Aku terpana menatap ruangan itu. Dindingnya di penuhi rak dengan berbagai macam buku. Ada sofa besar di tengah-tengahnya dengan berbagai bantal lucu, tempat untuk membaca.

“Aku tau kau suka membaca, jadi kubuatkan perpustakaan kecil di sini. Sebagian adalah buku-buku milik eommaku. Dia juga suka membaca sepertimu,”

“Kyuhyun ah…” aku bahkan tidak bisa berkata apa-apa saat ini.

“Kau bisa membaca di sini, dan aku akan bermain psp di sampingmu,” katanya sambil duduk di sofa “Aku menggantung beberapa Anggrek di depan pintu balkon. Kau menyukai bunga itu bukan? Dan aku juga menanam Anggur agar tidak terlalu panas,”

Aku menatap takjub. Di luar pintu balkon itu ada beberapa pot Anggrek gantung dan beberapa tananam. Di atapnya, tanaman Anggur merambat memenuhinya hingga terlihat hijau segar. “Apa aku juga harus membuatkanmu ruangan seperti ini dengan penuh kaset game?” tawaku.

“Aniyo…” jawabnya sambil menarikku untuk duduk di pangkuannya dan memeluk pinggangku “Cukup dengan berada disisiku saat aku membuka mata di pagi hari dan akan menutup mata di malam hari. Itu lebih dari cukup untukku.”

“Aku belum bertanya, bagaimana dengan Seohyun?”

“Dia memintaku kembali, tapi aku menolak. Saat ia memutuskan akan pergi ke Paris, ia sudah membuat takdirnya sendiri. Dan sekarang aku membuat takdirku sendiri. Aku memang tidak pernah mengatakan aku mencintaimu karena aku memang tidak tau perasaan apa yang kumiliki terhadapmu. Bukankah cinta tidak bisa diketahui sebelum kita menjalaninya? Saat ini yang kutau hanya hidup kita sudah menjadi satu. Bukan lagi tentang kau ataupun tentangku. Tapi tentang kita…”

“Dan kita masih akan terus saling mengenal satu sama lain lebih banyak dari ini,” bisikku sambil memeluk lehernya lembut.

Ia balas tersenyum sebelum mendekat dan melumat bibirku lembut…

FIN