Tags

,

Tittle : The Second Home
Author : Park Ha Ni
Cast : Kim Jong Woon a.k.a Yesung Super Junior
Han Min Gi (Angel Ran)
Shin Ha Yoo (Yulii Andriani)

Neh ff request dari Ranran chan a.k.a Angel Ran.
Ff ini bukan punyaku, tapi ceritanya bener-bener bagus. semoga kalian juga suka ^^
———————

Salju turun sangat lebat hari ini. Butiran-butirannya yang lembut menutupi hampir semua permukaan kota Seoul. Namun hal itu tidak menghalangi aktivitas manusia yang seolah berlomba dengan waktu untuk menyelesaikan urusannya masing-masing dengan senyum yang terus merekah dari bibir mereka. Namun tidak dengan Han Min Gi, wanita 26 tahun ini berjalan tanpa semangat dengan kepala yang menunduk seolah tengah menghitung butir-butir salju yang melekat di sepatu bot coklat miliknya. Raut wajahnya yang ditekuk membuat siapapun yang melihatnya akan dengan mudah menebak jika wanita itu dalam keadaan mood yang buruk. Min Gi menghembuskan nafasnya dengan kasar dan menghasilkan uap dari mulutnya. Dia menggerutu karena lupa menggunakan syal saat akan keluar rumah di tengah salju tebal seperti saat ini. Ditujunya sebuah bangku terdekat dari tempatnya berdiri kemudian menghempaskan pantatnya dengan kasar. Lagi-lagi dihembuskannya nafas dengan kasar, seolah ada berton-ton beban yang menghimpit dadanya. Min Gi mendongakkan kepalanya saat merasakan matanya yang mulai memanas, berharap dengan cara itu dia bisa mencegah air matanya untuk tidak mengalir. Tapi sepertinya usaha yang dilakukannya sia-sia. Perlahan butiran bening menglir dari sudut matanya membentuk anak sungai kecil di pipi mulusnya. Diremasnya dada sebelah kirinya, berusaha meredam semua rasa sakit yang terus menghimpitnya.

“Oppa… Jeongmal appunda. Benarkah itu dirimu, suamiku????”

Kembali diremasnya dadanya lebih keras. Matanya terus terpejam dan membiarkan butiran salju menerpa wajahnya, menyatu dengan butiran-butiran bening yang terus mengalir di pipinya.

~Flashback~

“Eomma… Susuuuuu…” teriak seorang gadis kecil yang berlari sambil menyeret boneka gajah miliknya. Kakinya yang pendek dan berisi membuat siapapun akan gemas melihatnya.
“Aigo, anak eomma haus ne???” ujar seorang ibu muda sambil menyongsong putri tunggalnya itu.
“Ne.” jawab anak itu dengan wajah polosnya sambil mengangguk.
“Chakamman. Eomma telpon appa dulu, susumu habis chagi.” ujar sang ibu sambil meraih ponselnya yang ada di atas kulkas.

“Jaboseyo.” serunya ketika panggilan telponnya tersambung.
“Ne. Jaboseyo. Waegure??” sahut pria di seberang telpon.
“Yeobo, bisakah kau membelikan susu untuk Ji Hyun?? Aku lupa membelinya saat belanja bulanan kemarin.” lanjut Min Gi.
“Mianhe, tapi aku sedang banyak kerjaan. Bisakah kau membelinya sendiri?? Titipkan Ji Hyun pada Hani noona, dia pasti tidak akan keberatan.”
“Ah, ne. Baiklah, biar aku saja yang membelinya. Mianhe sudah mengganggumu.” Min Gi mengakhiri panggilan telponnya sambil menghembuskan nafas berat. Min Gi menekuk lututnya untuk mensejajarkan tinggi badannya dengan Ji Hyun anaknya.
“Hyunie~ah. Kamu ke rumah Hani ahjumma dulu ne. Eomma harus keluar untuk membeli susu untukmu. Di luar salju sangat tebal, eomma tidak bisa membawamu ke supermarket.” ujarnya sambil membelai rambut putrinya.
“Ne, gwenchana eomma.” Ji Hyun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum yang disambut kecupan ringan dari eommanya. Min Gi sangat bersyukur memiliki Ji Hyun. Dengan adanya Ji Hyun, dia tidak perlu merasa kesepian saat Kim Jong Woon suaminya sibuk dengan bisnisnya atau saat suaminya harus ke luar kota meninggalkan mereka berhari-hari yang lagi-lagi untuk kepentingan bisnisnya.

Min Gi segera mengenakan pakaian tebal pada Ji Hyun setelah dia selesai berkemas. Di antarnya Ji Hyun ke rumah Park Hani, tetangga yang sudah seperti keluarga baginya. Beruntung keluarga Park sangat baik padanya juga sangat menyayangi Ji Hyun sehingga Min Gi tidak segan menitipkan anaknya jika terpaksa harus meninggalkan Ji Hyun sendiri.

“Mianhe eonni, lagi-lagi aku merepotkanmu.” ujar Min Gi saat tiba di kediaman keluarga Park.
“Anniya, gwenchana. Aku tidak merasa direpotkan. Aku malah senang jika Ji Hyun di sini, setidaknya Cheonsa punya teman bermain.” Hani tersenyum untuk meyakinkan Min Gi bahwa dia benar-benar tidak merasa direpotkan.
“Gomawo eonni, kau sungguh baik. Jung Soo oppa sangat beruntung memiliki istri sepertimu.” puji Min Gi tulus.
“Heissshhh… Tidak perlu memujiku Min Gi~ah. Sebaiknya kau segera pergi sebelum Ji Hyun berteriak.” wajah Hani bersemu merah mendengar pujian Min Gi dan itu membuat Min Gi tertawa kecil melihatnya.
“Ne… Ne… Arraseo. Nan khalkke. Annyeong.” pamit Min Gi akhirnya.

Disusurinya jalan yang ditutupi salju tebal. Sesekali dirapatkannya baju hangat yang dikenakannya untuk mengurangi rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang belulangnya. Namun langkah Min Gi terhenti ketika akan menyebrangi jalan ketika melihat suaminya keluar dari supermarket yang akan ditujunya. Refleks Min Gi melambaikan tangannya sambil memanggil nama suaminya. Tapi lagi-lagi aktivitas Min Gi terhenti ketika dilihatnya seorang anak laki-laki yang baru turun dari mobil dan berlari ke arah Jong Woon lalu memeluknya. Min Gi yakin pendengarannya masih bekerja dengan baik ketika anak itu memanggil “appa” pada Jong Woon. Tubuh Min Gi semakin kaku saat seorang wanita anggun keluar dari mobil yang sama dengan anak kecil itu kemudian menghampiri Jong Woon dan tanpa segan Jong Woon mengacak-ngacak rambut wanita itu. Min Gi masih tidak mempercayai apa yang dilihatnya. Dikerjap-kerjapkannya matanya berharap dengan cara itu dia bisa melihat pria lain yang kini tengah merangkul mesra wanita itu. Tapi sayangnya pria itu tetap sama, Kim Jong Woon, suami yang katanya tengah sibuk itu. Min Gi membalikkan wajahnya saat Jong Woon melihat ke arahnya. Diurungkannya niatnya untuk ke supermarket itu. Min Gi kembali menyusuri jalan menuju rumahnya dengan perasaan yang berantakan.

~flash back off~

>>>>>>>>>>>>

~Jong Woon POV~
“Appaaaaaaaaaaaaa…..” Ki Bum berlari ke arahku dan langsung memelukku. “Bogosipho.” lanjutnya dengan dialek khas anak-anak.
“Nado chagi.” kukecup keningnya kemudian menarik pelan hidung mancungnya. Aku hanya terkekeh saat dia menggembungkan pipinya sambil mempoutkan bibirnya tanda protes atas perlakuanku.
“Ki Bum~ah, jangan suka melompat seenaknya dari mobil.” sebuah suara lembut namun tegas membuatku dan Ki Bum menoleh ke sumber suara. Aku tersenyum pada wanita dengan bentuk tubuh nyaris sempurna yang tengah berjalan menghampiri kami. Ha Yoo, wanita yang kini berada di antara aku dan Min Gi. Entah aku harus bersyukur atau menyesali kehadirannya. Tapi satu yang pasti, keberadaannya dan Ki Bum memberikan warna tersendiri dalam hidupku. Aku sangat brengsek. Aku akui itu. Aku mengkhianati Min Gi dan membohonginya bertahun-tahun. Namun, layakkah ini disebut pengkhianatan??
“Apa kau sudah lama menunggu??” pertanyaan Ha Yoo membuyarkan lamunanku.
“Anniya.” kuacak rambutnya perlahan saat dia sudah berada tepat di hadapanku.
“Yaa!! Jangan bermesraan di depan anak kecil!!” pekik Ki Bum yang sontak membuatku dan Ha Yoo tertawa.
“Hahahahaha… Jja, kita pergi makan. Appa sudah membelikan beberapa keperluanmu. Nanti kita cari lagi jika masih ada yang kurang. Otthe??” aku menagkupkan tanganku di wajah mungil milik Ki Bum.
“Mmmm… Kajja…” Ki Bum mengangguk dengan semangat.

Kuraih pinggang Ha Yoo dengan tanganku yang bebas untuk menggandengnya. Namun saat akan memasuki mobil, aku merasa tengah diperhatikan oleh seseorang yang entah siapa. Tepat saat aku menjatuhkan pandanganku ke sebrang jalan, aku melihat sosok itu. Meskipun dia memalingkan wajahnya, tapi entah mengapa keyakinan bahwa sosok itu adalah Min Gi mengaliri perasaanku.

“Appa, kenapa kau tidak masuk??” suara Ki Bum berhasil mengalihkanku dari sosok itu.
“Ne. Appa masuk sekarang.” aku berjalan mengitari bagian depan mobil untuk masuk melalui pintu pengemudi. Kusempatkan untuk kembali mencari sosok itu dengan mataku, namun nihil. Mungkin dia sudah pergi. Perasaanku makin tidak nyaman. Mungkinkah itu benar-benar Min Gi??
“Woonie, apa yang kau cari??” seru Ha Yoo yang berhasil menghentikan aktivitasku.
“Oh, anniya.” aku tersenyum untuk meyakinkannya atas jawabanku.

>>>>>>>

~Author POV~

Jong Woon memasuki rumahnya yang telah lengang. Tentu saja karena sekarang sudah lewat tengah malam dan bisa dipastikan Min Gi dan Ji Hyun telah terlelap dalam mimpi mereka masing-masing. Dengan sangat hati-hati Jong Woon membuka pintu kamarnya dan Min Gi agar tidak mengusik tidur wanita yang telah dinikahinya enam tahun silam itu. Didekatinya tubuh istrinya dan menatap wajah teduhnya. Bahkan dalam keadaan tidur pun Min Gi tetap terlihat cantik. Jong Woon menghela nafas panjang sambil menyapukan tangannya ke wajahnya sendiri. Tampak jelas pria itu tengah menahan perasaannya. Lagi-lagi Jong Woon menghela nafas panjang. Dikecupnya kening Min Gi dengan lembut.

“Mianhe chagi. Jeongmal mianhe.” ujarnya di kening Min Gi.
“Maaf untuk apa oppa???” tiba-tiba saja Min Gi membuka matanya.
“Mi__Min Gi… Ka__Kau belum tidur??” Jong Woon gelagapan dan buru-buru menarik wajahnya menjauh dari wajah Min Gi.
“Anni. Aku sudah tidur sejak tadi tapi terbangun saat oppa menciumku.” Min Gi tersenyum menutupi kebohongannya karena kenyataannya dia tidak bisa tidur setelah apa yang dilihatnya siang tadi.
“Mianhe. Aku telah membangunkanmu.” ujar Jong Woon tulus.
“Gwenchana. Aku juga harus melihat keadaan Ji Hyun.” Min Gi bangun dari tempat tidurnya kemudian beranjak meninggalkan Jong Woon yang tengah menatapnya. Namun saat Min Gi hampir mencapai pintu, tubuh ramping itu kembali berbalik menatap suaminya.
“Chogi, tadi kau meminta maaf untuk apa??” tanya Min Gi setelah beberapa saat.
“Anniya. Lupakan saja.” kilah Jong Woon.
“Begitu?? Hemm… Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu??” lagi-lagi Min Gi bertanya pada pria yang kini duduk di tempat tidur itu.
“Mengatakan sesuatu?? Eobseo. Apa sesuatu telah terjadi??” sangat jelas Jong Woon tengah berusaha mengendalikan suaranya agar tampak biasa. Min Gi yang menyadari jika suaminya sedang berusaha menghindari pembicaraan ini akhirnya menghembuskan nafas berat. Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakan apa yang diliatnya hari ini.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan melihat Ji Hyun dulu. Apa kau ingin kumasakkan sesuatu??” tanya Min Gi lagi sambil memberikan senyum lembutnya dan itu sukses membuat Jong Woon semakin merasa bersalah. Bagaimana mungkin dia tega menyakiti wanita berhati lembut itu??
“Oppa!!” seru Min Gi lagi karena tidak mendapat jawaban dari Jong Woon.
“Oh. Tidak usah. Aku masih kenyang.” tolak Jong Woon halus.
“Heumm… Arraseo.” Min Gi akhirnya membuka pintu kamarnya kemudian melangkah menuju kamar Ji Hyun.
Setelah Min Gi berlalu, Jong Woon menghembuskan nafas dengan keras. Tanpa disadari, dia telah menahan nafas cukup lama saat berbicara dengan Min Gi. Direbahkannya tubuh penatnya di atas kasur yang telah menjadi saksi bisu kehidupan rumah tangganya bersama Min Gi. Suasana kembali lengang, hanya detak jam dinding yang terdengar. Entah apa yang dilakukan Min Gi di kamar Ji Hyun. Yang dia tau saat ini matanya benar-benar menuntut untuk dipejamkan.

Sementara di tempat lain, tepatnya dalam sebuah kamar yang dihiasi ornamen-ornamen khas kamar balita, seorang wanita tengah duduk bersimpuh di depan ranjang putri kecilnya. Digerakkannya jari-jari lentiknya untuk membelai rambut gadis kecil tersebut. Lagi, butiran-butiran bening itu kembali membentuk anak sungai di pipinya. Butiran yang menunjukkan betapa rapuhnya dia saat ini. Harusnya dia bisa lebih tegar, tapi cintanyalah yang membuat hatinya sesakit ini. Bukankah semakin besar rasa sakit yang kau rasakan karena cinta, maka sebesar itu pula rasa cinta yang kau miliki dan Min Gi sangat menyadari itu?? Dia sudah mengenal Jong Woon lebih dari sepuluh tahun dan Min Gi sangat tau bagaimana pria itu mencintainya. Lalu bagaimana mungkin pria itu mengkhianatinya seperti ini??

“Hyunie~ah. Apa kau mencintai eomma?? Apa kau juga akan meninggalkan eomma kelak?? Eomma mohon, jangan pernah meninggalkan eomma ne. Appamu sudah bukan milik kita lagi seutuhnya. Eomma hanya punya kamu sekarang.” Min Gi benar-benar tidak bisa menahan perasaannya. Dikecupnya lembut kening putrinya, menyalurkan segala rasa yang ia miliki untuk anaknya. Setelah menumpahkan segala perasaannya pada Ji Hyun yang masih terlelap, Min Gi merebahkan kepalanya pada tangannya yang ditumpu di atas ranjang Ji Hyun hingga diapun ikut terlelap.

>>>>>>>>

Sejak hari itu, Min Gi tak lagi banyak bicara dengan suaminya dan Jong Woon sangat menyadari perubahan itu. Berkali-kali didapatinya Min Gi tengah menatapnya dengan sorot mata terluka. Namun saat Jong Woon menanyakan hal itu, Min Gi terus saja menghindarinya. Apakah Min Gi telah mengetahui semuanya?? Lalu mengapa dia hanya diam?? Jong Woon mulai memikirkan kembali keputusan yang telah diambilnya beberapa tahun lalu. Shin Ha Yoo, harusnya dia tidak bertemu wanita itu sejak awal. Jong Woon berkali-kali menghela nafas berat sambil menyapukan kedua tangannya ke wajahnya sendiri. Pria itu tak lagi fokus pada file-file yang ada di hadapannya.

Musim dingin telah berlalu. Min Gi selalu berharap apa yang dilihatnya waktu itu hanyalah mimpi buruk musim dinginnya yang akan hilang saat dia terbangun di hari pertama musim semi. Tapi sayangnya Min Gi sekali lagi harus menelan pil pahit kehidupannya ketika dilihatnya pria yang dicintainya tengah bersama wanita itu dan putra mereka tentunya, tertawa bersama di taman bermain. Direngkuhnya Ji Hyun dan membawanya pergi dari tempat itu. Dia tak ingin mata polos putrinya melihat appanya yang tengah berbahagia bersama keluarganya yang lain. Mata Min Gi memanas ketika melihat kondisinya serta anaknya. Dia berada di tempat yang sama dengan suaminya, namun pria itu tidak bersamanya dan Ji Hyun. Dia benar-benar tidak tau harus berbuat apa. Dia tidak ingin mengakui kenyataan bahwa suaminya telah mengkhianatinya meskipun dia telah melihatnya sendiri. Apa dia bodoh?? Ya, Min Gi berfikir bahwa dia adalah wanita paling bodoh karena telah membiarkan suaminya bersama wanita lain sedang dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dia terlalu bodoh karena cintanya pada pria itu.

>>>>>

Ha Yoo tengah memasukkan barang-barang belanjaannya ketika seorang wanita bertubuh mungil menghampirinya. Dahinya berkerut menandakan tengah berfikir siapa wanita tersebut. Namun wanita itu hanya diam dan menatap Ha Yoo intens saat berdiri tepat di hadapan Ha Yoo. Sikap wanita itu benar-benar membuat Ha Yoo merasa jengah.

“Permisi. Ada yang bisa aku bantu??” akhirnya Ha Yoo mendahului percakapan mereka.
“Anniya. Aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat Shi Ha Yoo.” jawab wanita itu
“Kau mengenalku??” dahi Ha Yoo makin berkerut mendengar jawaban wanita di hadapannya ini.
“Bisa dikatakan begitu, karena pria yang menjadi suamimu adalah suamiku.” jawab wanita itu lagi yang sontak membuat Ha Yoo terbelalak. Wanita itu tiba-tiba lupa bagaimana caranya menelan salivanya sendiri.
“Ja___Jadi kau Han Min Gi??” tanya Ha Yoo lagi untuk meyakinkan pendengarannya meskipun tadi dia sudah mendengar dengan jelas apa yang di katakan wanita yang ternyata adalah Han Min Gi itu.
“Ne. Aku Han Min Gi, istri sah dari Kim Jong Woon.” jawab Min Gi dengan tatapan yang semakin tajam menusuk ke dalam mata Ha Yoo yang kemudian membalas tatapan itu dengan dingin.
“Lalu apa urusannya denganku??” Ha Yoo telah berhasil menguasai dirinya. Dari nada bicaranya, Min Gi dapat menangkap bahwa Ha Yoo bukanlah sosok yang ramah. Garis wajahnya menunjukkan wataknya yang keras dan egois. Wanita seperti inikah yang telah merebut hati suamiku?? Pikir Min Gi.
“Eobseo. Tapi seperti yang aku katakan tadi, aku ingin mengenalmu lebih dekat. Bisakah kita minum kopi bersama??” tawar Min Gi.
“Sebaiknya kau ikut ke rumahku dan kita berbicara di sana. Anakku sedang sakit, aku tidak bisa meninggalkannya sendirian di rumah terlalu lama.” jawab Ha Yoo sambil meneruskan memasukkan belanjaannya ke bagasi mobil.
“Baiklah.” Min Gi akhirnya memutuskan untuk mengikuti Ha Yoo.

Ha Yoo melajukan mobilnya menuju pinggiran kota Seoul. Tidak ada percakapan yang terjadi di antara kedua wanita itu. Mereka terlalu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Min Gi menghela nafas berat kemudian mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Sepanjang jalan banyak tumbuhan yang mulai mengeluarkan pucuk-pucuknya. Sebuah senyum terukir di bibirnya, senyum pahit. Dia tidak pernah berfikir akan mampu menemui wanita yang kini bersamanya, bahkan kini mereka duduk bersama dalam mobil Ha Yoo.

“Kita sudah sampai. Turunlah.” suara Ha Yoo membuyarkan fikiran Min Gi yang kemudian turun dari mobil dan mengikuti Ha Yoo yang berjalan masuk ke dalam rumah. Min Gi mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian ruang tamu di rumah Ha Yoo. Ada foto keluarga berukuran besar di ruangan itu, dan tentu saja wajah Jong Woon ada di sana. Lagi. Min Gi tersenyum pahit melihatnya.
“Duduklah. Aku akan melihat keadaan Ki Bum dulu.” lanjut Ha Yoo lagi kemudian masuk ke dalam salah satu kamar setelah menaruh belanjaannya di dapur. Min Gi hanya mengangguk kecil.

Setelah Ha Yoo berlalu, Min Gi kemudian melanjutkan aktivitasnya mengamati ruang tamu tersebut. Matanya tertumbuk pada sebuah album foto yang tergeletak di atas meja lampu yang ada di sudut ruangan. Diraihnya album foto tersebut. Ada perasaan yang terus mendesaknya untuk segera membuka lembaran-lembaran yang ada dalam album. Tangannya bergetar dan matanya mulai memanas ketika didapatinya foto pernikahan suminya dan wanita itu serta foto-foto lain yang menunjukkan kehangatan dalam keluarga itu. Perasaannya sebagai wanita tentu saja terluka melihat itu semua. Namun entah mengapa Min Gi tak bisa berhenti untuk membuka lembaran-lembaran selanjutnya.

Tepat saat Min Gi menutup album tersebut, Ha Yoo keluar dari kamar sambil menggendong Ki Bum yang tampak lemas dan sepertinya masih tertidur. Sisi keibuan Min Gi tersentuh melihat kondisi Ki Bum. Namun dia tetap diam di tempat duduknya menunggu Ha Yoo menghampirinya. Wanita itu kemudian membaringkan Ki Bum di sofa.

“Apa kau ingin minum kopi?? Aku akan membuatkannya untuk kita.” tawar Ha Yoo.
“Ne.” jawab Min Gi yang kemudian bersingut dari tempat duduknya untuk menghampiri Ki Bum. Diamatinya garis wajah polos balita yang ada di hadapannya saat ini untuk beberapa saat.
“Anak yang tampan.” gumam Min Gi.
“Kau tak akan menemukan kemiripannya dengan Jong Woon karena Ki Bum bukanlah anaknya.” suara Ha Yoo yang terdengar tiba-tiba dari arah dapur membuat Min Gi tersentak.
“Apa maksudmu???” Min Gi benar-benar tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Ha Yoo.
“Seperti yang aku katakan tadi, Ki Bum bukanlah anak Jong Woon.” Ha Yoo menghempaskan pantatnya di sofa depan Min Gi. “Minumlah selagi kopinya masih panas.” lanjutnya lagi.

Min Gi kemudian menyesap kopi miliknya. Dia tidak berniat bertanya apapun karena Min Gi yakin Ha Yoo akan menceritakan semuanya tanpa diminta. Dilihatnya Ha Yoo menarik nafas berat setelah menaruh cangkir kopinya di atas meja.

“Aku bertemu dengannya saat dia berusaha menolongku yang sedang berusaha bunuh diri waktu itu.” Ha Yoo memulai ceritanya. “Harusnya dia membiarkanku mati bersama Ki Bum yang masih dalam kandunganku.” Ha Yoo menghembuskan nafas berat.

Untuk beberapa saat hanya deru nafas ketiga anak manusia yang ada dalam ruang tamu tersebut yang terdengar. Min Gi tidak berusaha untuk bertanya. Mungkin ini sangat berat bagi Ha Yoo, pikir Min Gi. Wanita itu berusaha menekan rasa penasarannya atas alasan Ha Yoo untuk bunuh diri dengan meniup kopinya yang sesungguhnya tidak lagi panas. Ha Yoo yang merasakan kegelisahan Min Gi kembali menghembuskan nafas berat.

“Kekasihku, ayah biologis Ki Bum meninggal dalam kecelakaan di hari pernikahan kami. Saat itu aku tidak bisa menerima kenyataan pria yang kucintai direnggut dengan paksa dariku, terlebih ada kehidupan lain dalam rahimku. Satu-satunya hal yang kupikirkan adalah mati. Semua orang pasti menganggapku bodoh, tapi aku tidak perduli. Aku hanya ingin segera berkumpul bersama Hangeng dan anak kami. Tapi ternyata takdir tidak sejalan denganku. Jong Woon datang dan menarik tubuh lemahku karena aku telah mengiris nadiku sebelum memutuskan untuk melompat dari atap gedung.”
Ha Yoo kembali terdiam saat Ki Bum menggeliat kecil. Dielus-elusnya punggung anak itu untuk memberinya rasa nyaman. Min Gi hanya mengamati mereka dari tempat duduknya. Dia tiba-tiba merindukan Ji Hyun yang dititipkan pada keluarga Park.

“Jong Woon kemudian membawaku ke Rumah Sakit setelah itu, memaksa dokter untuk menyelamatkan nyawaku. Tak ada lagi yang kuingat setelah itu. Yang aku tau, saat bangun aku mendapatinya yang tertidur di samping ranjangku. Aku mulai berfikir untuk menahanya di sampingku. Dia sudah menggagalkan rencanaku, maka dia harus bertanggung jawab akan hal itu. Dan yang kupikirkan adalah memintanya menikahiku dan menjadi ayah dari anak yang kukandung. Aku akan memaksanya jika dia tidak mau.”

Min Gi tidak mampu lagi menyembunyikan gejolak hatinya. Ditautkannya kedua tangannya yang gemetar. Meskipun sebelumnya sudah menyangka bahwa Jong Woon telah menikahi wanita yang sekarang ada di depannya, tapi rasanya tetap sakit saat kenyataan itu keluar langsung dari mulut Ha Yoo. Bibirnya semakin kelu. Bahkan untuk bernafas saja rasanya sangat sulit.

“Lalu___???” Min Gi tidak mampu untuk meneruskan pertanyaannya. Meskipun tidak sanggup mendengarnya, tapi Min Gi tidak ingin Ha Yoo menghentikan ceritanya.
“Di luar dugaanku, dia langsung menyetujui saat aku mengungkapkan keinginanku dengan alasan ingin melindungiku dan anakku. Meskipun tidak ada cinta dalam pernikahan kami, tapi aku bersyukur karena dalam kehancuran hidupku Tuhan masih berbaik hati mengirimnya. Aku tau dia sangat mencintaimu. Dia tidak ingin menyakitimu sehingga merahasiakan semua ini darimu. Dia___”
“Tapi kenyataannya aku tetap sakit, terlebih aku mengetahui hal ini sendiri jauh setelah kejadian itu.” Min Gi memotong kalimat Ha Yoo dengan tatapan nanar. “Apa kau tau rasanya berada di posisiku?? Dibohongi oleh orang yang teramat kau cintai dan hormati?? Apa kau tau rasanya dikhianati??” Min Gi benar-benar sudah tidak mampu menahan dirinya. Dia mengasihani wanita yang ada di depannya itu, tapi di sisi lain wanita itulah yang telah merebut suaminya.
“Apa yang kau tau tentang pengkhianatan??” balas Ha Yoo dengan nada suara yang mulai meninggi. “Tuhan mempermainkan takdirku. Dia mengkhianatiku. Merenggut orang yang kucintai di saat kami baru saja akan memulai kehidupan kami. Salahkan juga suamimu yang telah menolongku. Apa aku tidak boleh bahagia??? Apa kau pikir aku tidak tersiksa saat mengetahui bahwa Jong Woon telah memiliki keluarga?? Lalu, apa kau sanggup jika berada di posisiku???”
“Berhenti menyalahkan Tuhan!! Yang terjadi padamu adalah takdirmu. Suamiku sudah menepati janjinya untuk menjagamu. Sekarang anakmu sudah besar. Kembalikan Jong Woon pada kami.” Min Gi mulai memelas.
“Tidak!! Jangan harap!! Sekalipun Jong Woon tidak mencintaiku, tapi aku mencintainya. Lagipula Ki Bum masih membutuhkannya. Jadi tidak ada alasan untukku mengembalikan Jong Woon padamu.” Ha Yoo menatap Min Gi dingin di akhir kalimatnya.
“Kau!! Dasar wanita ja___”
“Apa?? Kau ingin bilang aku wanita jalang?? Bicaralah sesukamu tapi aku tidak akan pernah melepaskan suamiku.”
“Dia suamiku!!!!” pekik Min Gi.
“Eomma….”

Tiba-tiba saja Ki Bum terbangun dan langsung duduk sambil mengucek matanya. Ha Yoo yang ingin membalas kalimat Min Gi mengurungkan niatnya. Dihampirinya anaknya kemudian membawanya dalam pangkuan. Min Gi hanya melihat itu dengan nafas naik-turun akibat menahan emosi. Dia tidak ingin merusak perkembangan mental Ki Bum bila meneruskan perdebatannya dengan Ha Yoo.

“Eomma, nuguya???” tanya Ki Bum polos saat menyadari keberadaan Min Gi.
“Dia Min Gi ahjumma, teman eomma. Beri salam padanya.” perintah Ha Yoo.
“Annyeong ahjumma.” Ki Bum membungkukkan kepalanya. “Apa kau datang untuk menjengukku??” tanya Ki Bum polos.
“Ne, ahjumma datang untuk menjengukmu. Apa kau sudah sehat??” emosi Min Gi benar-benar telah stabil saat melihat Ki Bum.
“Anni. Aku akan sembuh jika sudah bertemu appa.” ujar Ki Bum lagi sambil mempoutkan bibirnya.

Min Gi kembali merasakan nyeri di hatinya mendengar kalimat bocah polos itu. Haruskah dia memisahkan Jong Woon dari anak itu?? Lalu bagaimana denganya juga Ji Hyun?? Anaknya masih membutuhkan ayahnya. Min Gi benar-benar bingung harus bagaimana. Wanita itu masih menatap Ki Bum saat bel rumah Ha Yoo berbunyi.

“Appa!! Itu pasti appa!!” pekik Ki Bum sambil melompat turun dari pangkuan ibunya dan berlari menuju pintu. Wajahnya yang sebelumnya tampak pucat secara drastis berubah menjadi lebih berseri.
“Apa kau tega menyakiti anakku??” bisik Ha Yoo saat Ki Bum sudah jauh dari mereka. Min Gi tidak tau harus menjawab apa. Ingin rasanya dia egois dan mengatakan itu bukan urusannya karena Ki Bum bukanlah anak suaminya. Tapi jiwa keibuannya melarangnya melakukan itu.
“Oh, Min Gi~ah… A__apa yang ka_kau la_ku_kan di si_ni??” suara Jong Woon yang tampak gugup mengalihkan pandangan Min Gi dan Ha Yoo padanya. Jong Woon dapat melihat luka yang sangat dalam dari tatapan mata istrinya. Ki Bum yang ada dalam gendongannya hampir terjatuh karena tiba-tiba saja tulang-tulangnya seolah tidak mampu lagi menopang tubuhnya.
“Aku sedang berkunjung ke rumah keduamu. Apa itu salah??” jawab Min Gi sarkastik.
“A_anniyo. Ba_bagaimana kau bisa ada di sini??” Jong Woon benar-benar belum bisa menguasai dirinya.
“Aku yang mengajaknya kemari.” sahut Ha Yoo mewakili Min Gi.
“Kau___ Bukankah sudah kukatakan untuk tidak mengusik rumah tanggaku??” Jong Woon tidak tau lagi harus berkata apa pada Ha Yoo.
“Bukan aku yang mengusiknya, tapi dia lah yang datang mencarikuku.” Ha Yoo berusaha membela diri.
“Aku sudah tau semuanya sejak lama oppa. Dan hari ini semuanya sudah jelas.” Min Gi bangkit dari duduknya dan menghampiri Jong Woon. “Harusnya kau tidak melakukan ini padaku. Membohongiku sekian lama membuatku ingin memukulmu. Tapi aku masih menghargaimu sehingga aku tidak melakukannya. Mulai sekarang, bisakah kau hanya milik kami, aku dan Ji Hyun?? Kau sudah menjaga mereka selama ini. Sudah saatnya kau kembali pada keluargamu yang sesungguhnya. Pulanglah bersamaku oppa.” Jong Woon menyadari suara Min Gi yang semakin lirih.
“Appa, jangan tinggalkan aku.” rengek Ki Bum dalam gendongan Jong Woon. Seolah mengerti apa yang terjadi, anak itu memeluk erat leher ayahnya.

Jong Woon hanya mampu terdiam. Ditatapnya istrinya dengan penuh rasa bersalah dan penyesalan lalu beralih pada Ki Bum dalam gendongannya. Satu sisi hati Jong Woon menginginkanya untuk memeluk Min Gi dan membawanya kembali ke rumah. Namun di sisi lain, dia sudah sangat menyayangi Ki Bum layaknya dia menyayangi Ji Hyun. Jong Woon tau Min Ji dan Ji Hyun sangat membutuhkannya, tapi Ki Bum dan Ha Yoo juga membutuhkannya. Terlebih saat ini dia tau jika Ki Bum sedang sakit.

“Mianhe chagi~ah. Aku tidak bisa pulang bersamamu saat ini. Ki Bum sedang sakit dan aku tidak bisa meninggalkannya dalam kondisi seperti ini. Aku mohon mengertilah.” dengan terpaksa Jong Woon harus mengambil keputusan. Dia tau ini akan menyakiti Min Gi, tapi dia tetap harus melakukannya.

Butiran halus yang dari tadi berusaha ditahan oleh Min Gi akhirnya keluar juga saat mendengar jawaban suaminya. Yah, seharusnya Min Gi sudah tau seperti apa keputusan Jong Woon mengingat pria itu memiliki hati layaknya malaikat.

“Begitukah??” tanya Min Gi dengan suara yang hampir tidak terdengar. “Baiklah jika itu keputusanmu, aku akan rela menerimanya.” Bohong besar jika Min Gi serius dengan kata-katanya. Jong Woon sangat mengenal Min Gi. Dia akan selalu menutupi perasaannya sendiri demi orang lain. Jong Woon hanya mampu terdiam saat akhirnya Min Gi meninggalkan ruangan itu dan berlari keluar rumah.

Min Gi terus berlari meninggalkan rumah Ha Yoo dan berhenti setelah merasa nafasnya hampir habis. Wanita itu kemudian jatuh terduduk di pinggir jalan sambil meremas dada kirinya. Rasanya sangat sakit saat suami yang dicintainya lebih memilih bersama keluarga barunya dari pada pulang bersamanya.

“Oppaaaaaa…. Jeongmal appeunda. Noe, nappeun namja…” lirih Min Gi di sela-sela tangisnya.

Sepeninggal Min Gi, Jong Woon terduduk di sofa dengan Ki Bum yang masih dalam dekapannya. Perlahan air matanya ikut mengalir.

“Mianhe Min Gi~ah. Mianhe, jeongmal mianhe. Mianhe, aku suami yang tidak berguna. Mianhe.” bibir kecil itu terus bergumam mengucapkan maaf yang tak mungkin akan didengar oleh Min Gi. Ha Yoo hanya menatap iba dengan mata berkaca-kaca pada pria yang ada di hadapannya saat ini. Dibiarkannya pria itu menangis sendiri. Ha Yoo meremas dada kirinya. Rasa nyilu di hatinya semakin menyiksa melihat pria berhati malaikat itu menangis. Semua ini sudah salah sejak awal. Karena keegoisannya, dia telah menghancurkan sebuah keluarga. Jong Woon sudah terlalu baik padanya. Kebaikan pria itu pulalah yang membuatnya tidak ingin melepaskan Jong Woon. Dia tau ini egois, tapi dia dan Ki Bum mencintai pria itu. Dia hanya ingin agar Min Gi bisa menerima kenyataan bahwa Jong Woon bukan hanya miliknya dan Ji Hyun. Min Gi harus terbiasa untuk berbagi suami.

FIN