Tags

, ,

wind and maple

Nb : ini lanjutan dari One Soul [trilogi Autumn]

Kau mencintaiku dalam keterbatasanmu. Dan aku hanya bisa melihatmu dalam keterdiamanku.

Aku bahkan tidak berani menggambarkan perasaan dalam kehidupan kita. Karena yang ku tau, ada kaca yang membatasi.

Aku dapat melihatmu, kau pun dapat melihatku, namun kita tidak akan pernah bisa berada di tempat yang sama.

Tempatku dan tempatmu, itu berbeda kini…

——————

Aku terdiam melihatnya ada di sana. Berdiri sambil tersenyum sebelum berangkat bekerja. Senyum yang bukan untukku. Aku menghela nafas pelan. sudah tiga bulan. Dan hati ini masih terasa sesak melihatnya. Eonni… apa kau merasakannya??

Kurapatkan jaket panjang yang kupakai lalu mulai melangkah keluar pagar. Aku berjalan di jalan yang sama dengannya. Tapi beralawanan arah. Seolah menegaskan bahwa kami tidak akan pernah bisa berjalan bersama dalam hidup ini.

Dua bulan lalu, penyakit Eonni kambuh. Dan dia berhasil melakukan operasi cangkok tulang sum-sum. Kini ia baik-baik saja. Hidup bahagia bersama orang yang ia cintai. Dan aku pun bahagia untuk itu. Bahagia sekaligus sakit. Rasanya seperti tinggal di surga dan neraka sekaligus.

Aku masih melihat rasa itu dalam tatapannya kepadaku. Dan semua hal yang diungkapkannya masih melekat erat di otakku. Tapi, semuanya goyah saat melihat moment diantara mereka. semuanya memudar saat melihat bagaimana sikapnya pada Eonni. Dan kepercayaanku perlahan mulai runtuh.

Mungkin sudah saatnya aku melepasnya. Sudah saatnya aku berjalan di jalanku sendiri tanpa pernah menoleh kebelakang lagi. Angin musim gugur menerpaku, bersama guguran-guguran daun maplenya. Kemudian kurasakan sesuatu yang dingin. Aku mengangkat wajahku menatap langit mendung pagi itu. salju…

Bersama turunnya salju pertama di musim dingin tahun ini. aku melepasnya…
***

“Yoon ah, apa kau yakin akan pergi?”

Aku tersenyum menatap teman satu kantorku itu “Aku ingin melihat Paris,” bisikku.

“Tapi, bukankah sebelum ini kau selalu menolaknya? Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?”

“Aku butuh suasana baru rae ya… Untuk hidup tanpanya…”

Lee rae ki tersenyum padaku “Aku berdo’a untuk kebahagiaanmu Yoon ah…”

“Ah, disini kalian rupanya,” sapa seorang laki-laki yang akan menjadi patnerku nanti. Lee Hyuk Jae. “Aku senang akhirnya kau memutuskan untuk pergi, Yoon ah.” senyumnya.

Aku membalas senyuman itu “Kuharap kita bisa bekerja dengan baik.”

Salju turun dengan lebat. Aku menatap keluar dari jendela kamarku –kamar kami- kamarku dan Eonni. Kututup koperku pelan dan berjalan mendekat ke arah jendela. Aku menatap keluar dalam diam. Sekarang, aku jadi mengerti kenapa Eonni selalu duduk di sofa ini menatap keluar sana. Dari sini, kamar Kyuhyun terlihat jelas.

“Yoon ah?? Hyuk Jae ssi sudah datang.”

Aku berbalik dan mendapati Eomma sudah ada di ambang pintu. Cepat-cepat kuhampiri koperku lalu membawanya turun ke lantai bawah.

Aku tersenyum menatap mereka. Keluargaku. “Aku akan baik-baik saja, jangan khawatir,”

“Sering-seringlah telepon kami,” pinta Eomma.

“Hyuk Jae ssi, berjanjilah untuk menjaga adikku!”

Laki-laki di sebelahku itu tersenyum “Kau bisa pegang janjiku Yoon Ra ssi,” jawabnya pasti.

Kupeluk mereka satu persatu. Hingga aku berada di hadapannya. Seseorang yang sejak dari tadi mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan menatapku dengan tatapan tajamnya. Seolah bertanya lewat matanya.

“Oppa… Tolong jaga Eonniku…” bisikku pelan.

Ia mengulurkan tangannya, menyalamiku sambil menarikku dalam dekapannya. Membuatku sedikit tersentak sekaligus terkejut saat merasakan secarik kertas dalam genggamanku yang ditinggalkannya.

Aku memasang lagi senyumku di hadapan semuanya. Kuucapkan selamat tinggal pada mereka dan mengikuti langkah Hyuk Jae yang membawaku pada mobilnya.

Selamat tinggal Oppa…

***

2 years later…

Aku membuka jendela flatku pagi ini. seketika angin menerpa wajahku. Sejuk. Aku memejamkan mata menikmatinya. Paris terlihat sangat indah dengan daun warna-warninya saat ini. musim gugur sudah datang.

Aku meresapi keheningan ini. Selalu. Seperti biasa. Bayangan itu hadir dalam sunyi. Bersama selembar kertas terakhir darinya. Selembar kertas yang mengungkapkan segalanya, dan selembar kertas yang membuatku kembali kepadanya.

Apa yang terlihat tidak sesederhana itu Yoon ah…

Tetaplah percaya kepadaku…

Dan aku akan menepati janjiku untuk selalu menjaganya.

Semua hal yang kulakukan kepadanya, itu untukmu…

Hingga kini pun aku masih tetap percaya, kita akan bersama dalam satu musim nanti

Karena aku angin, dan kau mapleku…

 Aku mencintaimu Kim Yoon Hye… Selalu, sampai nanti…

Aku membuka mataku pelan dan menatap pemandangan indah di bawah sana. Suatu saat nanti, akankah? Kapan??

***

“Hyuki ya, terima kasih sudah mengantarku.”

“Yoon ah!!”

Aku tertegun melihat tangannya yang menahanku saat akan membuka pintu mobil.

“Masih sore, mau berjalan-jalan sebentar?” senyumnya. Dan aku tidak bisa menolaknya.

Suasana taman itu tampak legang. Tidak banyak orang di sana. Langit memang agak mendung sementara orang Paris lebih menyukai matahari. Hanya ada beberapa orang yang berlalu melewati taman itu tanpa berniat untuk sekedar duduk di bangkunya.

“Aku tau kau suka musim gugur.”

Aku mengerjap dan menoleh pada laki-laki yang duduk di sebelahku “Kau tau?”

“Aku bisa melihatmu menikmatinya Yoon ah… Tapi aku penasaran.”

Aku menatapnya penuh tanya. Lee Hyuk Jae sedang menatap langit.

“Aku melihat sesuatu dalam matamu Yoon ah… Sesuatu yang membuatmu merasa sakit ketika musim gugur tiba.”

Jantungku terasa berhenti mendengarnya. Aku tersenyum pahit sambil ikut menatap langit “Hyuki ya… Apa kau tau? Aku adalah selembar daun maple… Yang terbang bergelung dengan angin…”

Ku tatap daun-daun maple yang berguguran itu “Maple dan angin… Ada dalam satu musim gugur, tapi tidak pernah bisa bersama… Angin, perlahan akan melepaskan maple, membiarkannya jatuh ke tanah. Hyuki ya… Jika angin berjanji akan selalu membawa maple bersamanya, bisakah maple mempercayainya?”

“Kalau memang seperti itu… Aku akan menjadi tanah. Menyambut maple yang terjatuh dalam pelukannya. Hingga akhirnya nanti, maple akan menyatu dengan tanah.”

Aku tersentak mendengarnya. Kutatap ia tidak mengerti.

Ia menoleh dan tersenyum padaku “Bolehkah? Bolehkah aku menjadi tanah untukmu? Yang selalu ada dimana pun saat kau terjatuh.”

“Aku…”

“Sudah lama Yoon ah… Aku selalu menunggumu jatuh kepelukanku. Mendekapmu saat kau merasa lelah terbang bersama angin. Menjadi tempat untukmu mendarat saat kau tidak mampu lagi bergelung dengan angin…”

“Aku… membutuhkan waktu…”
***

‘Yeoboseo?’

“Eonni… Ini aku…”

‘…………’

“Bagaimana kabarmu?”

‘Yoon ah, aku senang mendengar suaramu. Aku baik-baik saja… Bagaimana denganmu?’

“Aku baik… Hanya saja sedang merindukanmu.”

‘Ne, aku juga merindukanmu. Bagaimana Lee Hyuk Jae ssi huh? Dia sepertinya pria yang baik.’

“Dia memang baik… Bagaimana kabar Eomma, Appa dan Kyu oppa?”

‘Mereka baik-baik saja Yoon ah…’

“Eonni… Apa kau bahagia?”

‘………. Ne, aku sangat bahagia… Karena aku memiliki kalian dan Kyu Oppa yang sangat mencintaiku.’

Tes…

Air mataku jatuh begitu saja tanpa tau apa alasannya. Tiba-tiba saja aku sulit bernafas. Dan hembusan angin yang menerpaku, seperti mencengkeramku erat-erat dengan dinginnya.

“Aku… Aku bahagia mendengarnya Eonni. Baiklah, nanti kuhubungi lagi. Anyeong…”

Kututup flap ponselku dalam keterdiaman. Kutatap selembar kertas yang sudah sedikit kusut karena lipatannya. Yang isinya sudah kuhafal di luar kepala. Sudah dua tahun…

Sepertinya itu waktu yang cukup lama… Cukup lama untukku berfikir bahwa aku dan dia tidak akan pernah bisa bersama. Mengapa memberi harapan untuk hal yang tidak bisa terwujud? Mengapa meminta ikatan bila tidak dapat merefleksikan dalam nyata?

Kutatap lagi ponsel dalam genggamanku. Kubuka dan menekan nomor seseorang.

‘Ne, Yoon ah?’

“Hyuki ya… Aku terjatuh…” bisikku.

Hening beberapa saat ‘Terima kasih sudah percaya kepadaku… Malam ini aku ke tempatmu, ne?’

“Ne…”

Aku menatap kertas itu lagi. Tiba-tiba saja angin bertiup lebih kencang hingga membuatnya terlepas dari genggamanku. Terkejut. Reflek aku berdiri. Dan lebih terkejut lagi saat melihatnya ada di sana. Beberapa meter dari tempatku berdiri, dia berdiri di sana sambil menyelipkan kedua tangannya pada saku celana dan menatapku.

“Kyuhyun oppa…”

Oh dear…

 

 

[Last edited 18 Jan 2015 ; 00.59 pm]