Tags

,

on rainy days gone

Hujan itu turun dengan deras. Mengguyur kota Seoul. Membuat cuaca menjadi lebih dingin. Menebarkan perasaan sendu yang dalam.
“Ini tidak lucu yoon ah!!”
“Memang tidak!” jawab gadis itu sambil menatap hujan yang turun dari balik jendela kaca café itu.
“Apa maksudmu sebenarnya?”
“Semuanya sudah jelas Kyuhyun ssi, aku harus pergi!” tanpa menunggu jawaban laki-laki itu, Kim Yoon Hye meraih tasnya di atas meja lalu beranjak dari duduknya dan pergi.
Kyuhyun ikut berdiri dari duduknya. Diletakkannya beberapa lembar uang di atas meja café itu. Lalu ia melangkah cepat menyusul gadis itu.
“Berhenti Yoon ah!!” pintanya sambil melangkah lebih cepat.
Gadis itu tidak mendengarkan. Ia melangkah semakin cepat keluar café.
“Yoon ah!!” laki-laki itu masih mengejarnya.
Gadis itu tidak memperdulikan hujan yang kini sedang turun. Ia tetap melangkah menerobos hujan itu. Dadanya terasa sesak dan air hujan, seolah membekukannya. Membuatnya nyeri menahan air mata yang hampir keluar.
“Kim Yoon Hye!!” tangan laki-laki itu berhasil meraih lengan Yoon Hye. Membuat langkah kaki gadis itu tertahan.
“Semuanya belum jelas!! Belum bagiku!!” mata itu menatap tajam. Menuntut.
Dengan kasar gadis itu menghempaskan lengannya agar terlepas dari cekalan Kyuhyun.
“Aku ingin hubungan kita berakhir! Bukankah sudah cukup jelas?” kata Yoon Hye tercekat. Satu alasannya memilih menerobos hujan. Agar laki-laki di depannya ini tidak dapat melihat air matanya.
Beberapa detik mereka saling menatap. Membiarkan hujan membasahi tubuh mereka dalam keheningan. Yoon Hye mengalihkan pandangannya tiba-tiba. Ia berbalik melangkah pergi. Tapi lagi-lagi tangan Kyuhyun menahannya dan memutar tubuh gadis itu lagi.
“Kenapa?” tanya laki-laki itu “Kenapa harus berakhir? Beri aku satu alasan untuk dapat melepasmu!!”
Rasa sakit itu semakin terasa. Air matanya berjatuhan tersamarkan oleh air hujan. Namun tidak membuatnya untuk mengalihkan tatapan dari laki-laki itu.
“Aku bosan padamu!” jawabnya dengan suara bergetar. Entah karena air hujan yang dingin atau karena emosinya yang tertahan.
“Kau boleh berkencan dengan siapapun yang kau suka!” balas Kyuhyun tanpa keraguan sedikit pun.
“Kau tidak pantas untukku!”
“Aku akan berubah menjadi seseorang yang pantas untukmu!”
“Aku membencimu!”
Kalimat itu membuat bibir Kyuhyun terkatup rapat “Apa salahku?” tanyanya dengan suara tercekat.
Yoon Hye mengalihkan pandangannya. Tangan Kyuhyun meraih wajah gadis itu, menangkupnya di kedua sisi “Aku mencintaimu Yoon ah…”
Kalimat itu hampir saja membuat pertahanannya runtuh.
“Cukup Kyu…” gadis itu meraih tangan Kyuhyun lalu menariknya agar lepas dari wajahnya “Kalau kau mencintaiku, lepaskan aku.” ucapnya kemudian berbalik dan melangkah pergi.
Kyuhyun hanya bisa diam menatapnya. Kakinya terasa kaku, tidak dapat bergerak lagi. Seolah hujan sudah membekukannya. Dan sebanyak apapun ia menangis, gadis itu tidak akan pernah melihatnya. Karena hujan, sudah meleburnya…
***

Hujan itu masih deras. Seolah enggan berhenti untuk membasahi kota Seoul. Gadis yang berwajah pucat itu menatap kaca jendela yang berkabut. Membuatnya tidak jelas menatap hujan di luar sana. Perlahan ia mendekat ke jendela itu mengusap embun itu dengan telapak tangannya.
Memori itu berputar lagi di kepalanya. Saat dokter memberinya vonis kanker stadium akhir. Saat ia meninggalkan orang yang paling berharga dalam hidupnya. Saat hujan, waktu itu. Ia merasa sudah mati meskipun hingga kini jantungnya masih berdetak.
Sudah dua minggu. Ia berada di rumah sakit ini tanpa memberitahu siapapun. Ada keinginan yang menggila dalam hatinya untuk bertemu dengan namja itu. Sekali sebelum ia pergi. Tapi ia tidak bisa. Ditelannya semua keinginan itu. Diredamnya walaupun sakit.
Gadis itu menyentuh kaca dengan ujung jarinya. Terasa dingin, hingga hatinya ikut terasa membeku. Ia memejamkan matanya, membiarkan tetes bening itu jatuh dari kedua kelopak matanya.
“Dan bahkan jika kau pergi sekalipun, biarkan aku untuk tetap mencintaimu…”
Terkejut. Ia membuka matanya lalu menoleh kesamping. Semua sistem saraf tubuhnya seolah terhenti. Namja itu berdiri tidak jauh darinya. Menatap dengan pandangan lukanya.
“Kyu…”
Rasa sesak yang ada seakan meletup keluar. Air mata itu tidak dapat ditahan lagi. Gadis itu membalikkan tubuhnya. Tidak ingin menunjukkan kondisinya.
“Kenapa tidak pernah mengatakannya kepadaku? Kenapa hanya menyimpannya seorang diri? Ini bukan hanya tentangmu. Tapi juga tentangku. Tentang kita. Kenapa begitu egois?”
Kim Yoon Hye membekap mulutnya menahan isak. Lalu sepasang tangan memeluknya dari belakang, merengkuhnya dalam dekapan hangat.
“Biarkan aku tetap mencintaimu Yoon ah… Tidak masalah jika kau bosan kepadaku, tidak masalah jika kau benci padaku. Asal tetap berada di sisimu, semua akan terasa benar bagiku…”
“Kyu…” gadis itu terisak hebat.
Perlahan Kyuhyun melepaskan pelukannya dan membalik tubuh gadis itu pelan “Ayo kita menikah!!”
Yoon Hye menggeleng pelan “Aku tidak bisa…” isaknya.
Kyuhyun memegang wajah gadis itu, mengusap air matanya “Kau hanya perlu percaya kepadaku. Sekali saja dalam hidupku ataupun hidupmu, biarkan kita menjadi satu.”
Air mata itu terus berjatuhan. Yoon Hye mengangguk pelan.
Kyuhyun membuka kaca jendela kamar itu “Biarkan hujan menjadi saksinya.”
Namja itu memegang tangan Yoon Hye erat, menatapnya. “Aku menerima Kim Yoon Hye sebagai pasangan hidupku. Menemaninya hingga akhir dengan cinta…”
“Aku menerima Cho Kyuhyun sebagai pasangan hidupku. Selalu berada di sisinya…”
“Menjaga dan melindunginya,”
“Percaya dan setia,”
“Hingga maut memisahkan kami,”
“Aku bersumpah…” ucap mereka bersama.
Kyuhyun meraih jemari itu, menyematkan sebuah cincin emas putih. Lalu meraih wajah Yoon Hye dan memberikan sebuah ciuman.
Air mata keduanya jatuh saat bibir itu saling menekan lembut. Perasaan bahagia dan duka melebur menjadi satu. Bersama suara hujan…

Kyuhyun memeluk gadis itu erat. Memberinya rasa hangat dari dinginnya udara.
“Yoon ah, apa kau bahagia?”
“Lebih dari itu Kyu…”
“Saranghae…”
Gadis itu memeluk lebih erat. Air matanya bergulir pelan “Nado…” bisiknya lalu memejamkan mata perlahan.
“Kita akan selalu bersama-sama, aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian…”
Hening…
“Yoon ah?” laki-laki itu mengguncang tubuh Yoon Hye pelan “Yoon kau mendengarku?”
Tidak ada jawaban…
Lalu, tangan itu jatuh terkulai dengan nafas yang sudah pergi.
“Kita akan selalu bersama…” bisiknya sambil mengecup puncak kepala itu. Kyuhyun mengeratkan pelukannya lalu memejamkan mata, membiarkan air mata itu jatuh melewati pipinya.
—————

Di luar kamar itu, terlihat seorang suster sedang berjalan menghampiri seorang dokter yang ada di koridor rumah sakit.
“Dokter, ini data dari pasien korban kecelakaan yang tadi pagi tiba. Namanya Cho Kyuhyun,”
“Jam berapa dia meninggal?”
“Lima menit setelah masuk ke ruang ICU, tepatnya pukul 09.48 pagi!”
“Baiklah, letakkan data ini di mejaku. Aku harus memeriksa Nona Kim dulu!”
Suster itu mengangguk lalu pergi sementara dokter itu masuk ke sebuah kamar. Dan ia melihat gadis itu sedang terkulai di tempat tidur dalam damai. Tanpa nafas…