Tags

, ,

our autumn

Nb : Ini seri terakhir dari trilogi Autumn setelah One Soul dan Wind and Maple

Aku akan selalu ada…

Sesuai janjiku, aku akan kembali padamu…

Karena aku, Anginmu…

————–

Aku memejamkan mata sejenak meredam perasaanku. Menghembuskan nafas pelan lalu membuka mata perlahan.

Kosong…

Tempat itu kosong. Tidak ada sosok itu di hadapanku. Hanya beberapa daun maple yang terbang tertiup angin. Ah, itu hanya ilusiku. Seketika tubuhku menggigil. Kupeluk erat-erat jaket panjangku lalu pergi meninggalkan taman itu. Meninggalkan semuanya…

2 month later…

Aku tersenyum pada Lee Hyuk Jae yang menungguku di depan mobilnya. Cepat-cepat aku melangkah menghampirinya.

“Mianhae, Mrs. Lorance menambah pekerjaanku hari ini. Sudah lama?” tanyaku begitu sampai ditempatnya.

Dia tersenyum sambil melepaskan syalnya lalu melingkarkan di leherku “Sebentar lagi musim dingin, kenapa kau tidak memakai syal? Pipimu dingin sekali,” ucapnya sambil mendekap kedua sisi pipiku dengan tangannya yang besar.

Aku merasakan hangat dan tersenyum padanya “Mau mampir ke flatku? Aku ingin memasak hari ini.”

“Apa perlu ke supermarket dulu?”

“Kurasa kulkasku masih penuh.”

“Jja!” ia membukakan pintu mobil untukku, mempersilahkan masuk.

“Thanks Mr. Lee,” senyumku.

Kunyalakan lampu flat sederhanaku. Aku melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah. Hyuki melakukan hal yang sama. Ia memakai sandal abu-abunya. Sandal yang memang kusediakan untuknya. Aku melepas jaket dan menyampirkannya di sandaran sofa. Kuhampiri teleponku, kebiasaanku mengecek pesan yang masuk setiap pulang dari kantor.

Sambil mengambil minum kudengarkan pesan-pesan yang masuk. Beberapa dari toko tempatku memesan barang, mengabarkan kalau barang yang kupesan siap dikirim ke flat.

‘Yoon ah, ini aku!’

Aku menatap Hyuk Jae sejenak.

“Rae Ki?” tebak Hyuk Jae yang kujawab dengan anggukan.

‘Bagaimana kabarmu di sana? Kenapa tidak membalas emailku eoh? Kurasa dua bulan lagi kau harus pulang ke Korea. Kau tau, aku tidak akan menikah kalau kau tidak menjadi pendampingku,’

Mataku melebar mendengarnya. Lee Rae Ki akan menikah??

‘Kalau kau ingin tau cerita lengkapnya silahkan membuka emailmu, oke? See you!’

“Aku tidak percaya…” gumamku pelan.

‘Yoon ah…’

Aku mengernyitkan kening seketika mendengar suara itu. Itu suara Eomma. Dan tidak biasanya Eomma meneleponku sendiri. Selama ini dia selalu menyuruh Ra Eonni yang menelepon.

‘Yoon ah, Eomma tidak bisa menjelaskannya lewat telepon. Jika kau mendengar pesan ini, pulanglah secepat mungkin.’

Aku mematung mendengar hal itu. Tiba-tiba kurasakan seseorang meremas bahuku pelan. Aku menoleh, menatap Hyuki.

“Semuanya akan baik-baik saja,” ucapnya sambil tersenyum “Biar nanti kucarikan tiket ke Korea untuk besok dan teleponlah Mrs. Lorance untuk mengambil cuti, aku akan menemanimu,”

“Kau akan ikut? Tidak perlu Hyuki ah_”

“Kau tidak bisa menolak!”

Aku mendesah pelan. Kalau sudah seperti itu aku tidak akan bisa melarang. Terpaksa aku mengangguk pelan “Mianhae…”

“Untuk apa kau meminta maaf? Aku ingin sup ayam, apa aku perlu memotong ayamnya lebih dulu?” tanyanya menggodaku.

Mau tidak mau aku tersenyum mendengarnya “Supermarket tidak menjual ayam yang masih hidup Hyuki ah…” balasku. Aku menyukai dirinya yang selalu bisa membuatku tenang.

***

“Kau sudah menelepon keluargamu?”

Aku mengangguk pelan lalu memperhatikan lagi jalanan Korea yang tidak banyak berubah selama dua tahun ini.

“Eomma memintaku untuk langsung pulang, tidak apa-apa kalau aku tidak mampir?”

“Gwenchana,” senyumku.

Taksi yang kami tumpangi berhenti tepat di depan pintu pagar rumahku. Aku mengernyit pelan ketika laki-laki itu ikut turun.

“Kau bilang tidak akan mampir?!”

“Setidaknya aku harus menyapa orang tuamu,” senyumnya.

Aku membalas senyumnya lalu menekan interkom di depan pintu pagar “Ini aku, Yoon Hye…”

Tidak lama kemudian pintu terbuka. Aku melihat sosok wanita yang amat kurindukan dari balik pintu pagar itu. “Eomma…”

“Yoon ah,” ia memelukku dengan sangat erat.

“Bogoshipo…”

“Oh, kau pulang bersama Hyuk Jae ssi?” tanyanya setelah melihat Hyuki di belakangku.

“Anyeong hasimnika,” ucap Hyuki sambil membungkuk.

“Kalo begitu ayo, cepat masuk ke dalam!”

“Saya hanya mengantar Yoon, Ajhuma. Maaf saya tidak bisa mampir, Eomma sudah menunggu di rumah.”

“Aah… Kalau begitu sampaikan salamku untuk orang tuamu.”

“Ne, saya pergi dulu,” ia membungkuk lagi lalu masuk ke dalam taksi. Melambaikan tangan dan pergi.

Aku membalas lambaiannya lalu mengikuti Eomma untuk masuk ke dalam rumah.

Tidak banyak berubah. Kamarku- kamar kami masih tetap seperti dulu ketika terakhir kali kutinggalkan. Aku melangkah menuju jendela. Memandang keluar. Ke sebuah bangunan di sebelah rumah kami. Rumah Cho Kyuhyun.

Semuanya terlihat sama. Tapi sebenarnya sudah berubah. Kata-kata Eomma beberapa saat lalu, masih berputar-putar dalam kepalaku.

‘Eomma tidak tau apa yang terjadi. Yoon Ra dan Kyuhyun bertengkar hebat. Yoon Ra berlari keluar dari rumah dan Kyuhyun mengejarnya. Saat itu hujan lebat. Dan… dan… mereka mengalami kecelakaan. Yoon Ra mengalami benturan di kepalanya dan beberapa tulang rusuknya patah. Sementara Kyuhyun… Kyuhyun tidak bisa diselamatkan…’

Nafasku tercekat dan menyadari pipiku sudah basah. Sesak itu datang.

‘Yoon Ra melarang kami semua untuk memberitahumu Yoon. Dia yang akan bilang sendiri padamu nanti. Sejak kecelakaan itu, ia sama sekali tidak bicara. Tapi seminggu yang lalu, ia jatuh sakit. Kecelakaan saat itu ternyata melukai hatinya. Ia melarang kami untuk memberitahumu tentang donor hati itu. Hanya kau yang bisa menyelamatkannya, tapi ia menolaknya. Eomma tidak tau apa yang terjadi karena berulang kali dia berkata tidak ingin menyakitimu lagi. Hanya surat ini yang dititipkannya sebelum ia menghembuskan nafas terakhir…’

Aku mencengkeram erat amplop yang diberikan Eomma. Hatiku terasa ngilu. Kedua orang yang kucintai, tiba-tiba saja pergi meninggalkanku.

Eonni… bukankah kita satu jiwa? Kenapa kau menolakku? Jika saja saat itu aku tau, saat ini kau masih akan berada di sini…

Tatapanku beralih ke jendela kamar Kyuhyun yang bisa kulihat dari tempatku kini berada.

Kau bilang kau akan kembali Oppa… Bukankah kau sudah berjanji? Kenapa kau pergi?

Aku terisak. Kuhapus pipiku yang basah oleh air mata. Dengan tangan gemetar, kubuka amplop itu. Aku menemukan sebuah cincin bersama selembar kertas. Kutatap cincin itu.

Kim Yoon Hye…         

Namaku terukir di balik cincin itu. Lalu kubaca apa yang sudah ditulis di kertas itu. Tulisan Yoon Ra Eonni.

Yoon ah mianhae…

Aku bukan kakak yang baik untukmu… Aku selalu mengatakan kalau kita satu jiwa, tapi aku selalu egois…

Saat kau membaca surat ini, berarti aku sudah pergi. Maafkan kebodohanku…

Karenaku, kau harus meninggalkan rumah.

Karenaku, kau harus mengubur semua perasaanmu pada Kyuhyun Oppa.

Karenaku, kau harus kehilangan seseorang yang kau cintai.

Mianhae…

Aku tau mungkin kau tidak akan memaafkanku, tapi aku tetap saja mengatakan kata itu. Mianhae…

Aku tau semuanya. Jauh sebelum kau pergi ke Paris dan jauh sebelum pernikahanku dengan Kyuhyun Oppa.

Kalian saling mencintai. Aku tau itu…

Tatapannya yang berbeda kepadamu, dan tatapanmu padanya.

Saat itu aku iri padamu… Untuk pertama kalinya, aku menyesal telah mempunyai penyakit leukimia. Aku ingin bersamanya meskipun hanya sebentar. Aku ingin menikah seperti gadis-gadis lain. Aku mencintainya Yoon ah…

Tanganku bergetar menutup mulutku. Air mataku semakin berjatuhan tanpa bisa kucegah. Perasaan sesak menyelimuti dadaku.

Aku tau cincin itu sebenarnya adalah milikmu. Tapi kau memberikannya kepadaku, bukankah begitu? Lalu aku berpura-pura tidak tau tentang perasaan kalian. Kami menikah dan aku sangat bahagia meskipun tau umurku tidak lama lagi. Jika aku pergi, kau bisa menjaganya untukku. Tapi kemudian oprasiku berhasil. Dan aku sehat kembali. Ada harapan untukku merubahnya. Membuat Kyuhyun Oppa mencintaiku. Tapi aku tidak bisa…

Dua tahun kepergianmu ke Paris tidak pernah bisa membuatku merebutnya darimu. Dalam tidurnya, ia masih sering menggumamkan namamu. Akhirnya  aku sadar. Walaupun aku tidak punya penyakit leukimia, Kyuhyun Oppa akan tetap memilihmu. Itu menyakitkan Yoon ah. Dan puncaknya ketika aku tau ia masih menyimpan pasangan cincin itu. Cincin yang seharusnya menjadi milikmu yang telah ku ambil, ia tetap menyimpan pasangannya. Dan di sana terukir namamu.

Kami bertengkar. Aku berlari pergi dan dia mengejarku. Malam itu hujan lebat, dan aku tidak begitu memperhatikan jalan. Dia menyelamatkanku dari sebuah mobil yang akan menabrakku. Dia menepati janjinya kepadamu untuk selalu menjagaku. Maafkanlah dia Yoon ah, dia selalu mencintaimu…

Maaf aku sudah membuatnya pergi meninggalkanmu. Maafkan aku…

Alasan kenapa aku tidak ingin memberitahumu adalah karena aku tidak ingin kau terluka. Ini semua salahku Yoon ah, aku tidak ingin kau berkali-kali berkorban untukku. Tulang sum-summu dan Kyuhyun Oppa. Aku tidak mau kau mendonorkan hatimu untukku…

Satu permintaanku, hiduplah dengan bahagia Yoon ah… Jika kau sempat, bukalah email Kyuhyun Oppa di computerku, di folder Draft. Maafkan aku…

Cepat-cepat aku menghampiri komputer di kamar itu. Menghidupkannya. Tanganku gemetar saat mengetik keyboard. Seperti yang dibilang Ra Eonni, aku membuka folder draft-nya. Semua email itu ditujukan kepadaku namun tidak pernah dikirim satu pun. Kubuka dari bagian paling bawah.

‘Kau baru pergi kemarin, tapi pagi ini aku sudah merindukanmu. Apa kau juga merindukanku?’

‘Setiap kali aku menatap mobilku, ada keinginan untukku menyusulmu dan menemuimu. Tapi janjiku kepadamu menahan semuanya. Mengapa begitu sulit untuk kita bersama?’

‘Aku tidak tau apa kekurangan Yoon Ra. Dia baik dan sangat mencintaiku. Tapi kenapa aku tidak bisa melihatnya walaupun aku ingin? Aku tau wajah kalian sama, tapi mengapa terlihat berbeda di mataku?’

‘Mengapa kau tidak pernah meneleponku? Apa kau ingin aku benar-benar melupakanmu? Aku merindukanmu Yoon ah…’

‘Kau tau, dulu saat kau berangkat kerja, aku selalu mengikutimu. Tapi kau tidak tau. Kita ada dalam satu tempat, tapi mengapa seperti berada terpisah?’

‘Apa yang harus kulakukan? Apakah yoon ra benar-benar ditakdirkan untukku? Lalu mengapa tuhan tidak menghapus rasa ini? Yang setiap detiknya selalu bertambah. Kim Yoon Hye, Aku mencintaimu …’

‘Ada begitu banyak hal yang ingin kukatakan kepadamu, tapi aku tidak mampu. Aku takut ini akan semakin membebanimu. Hatiku terluka Yoon ah… Aku menginginkanmu ada di sisiku, tapi takdir berkata lain. Kepada siapa aku harus marah?’

‘Aku selalu melihatnya dalam matamu, tapi aku ingin mendengarnya sendiri dari bibirmu. sekali saja dalam hidupku, aku ingin mendengar bahwa kau juga mencintaiku…’

Kedua tanganku membekap mulutku. Layar itu terlihat kabur oleh pandanganku. Masih banyak emailnya yang belum kubaca dan aku tidak sanggup lagi untuk melanjutkan.

Saranghae Cho Kyuhyun… Saranghae….

Aku tidak tau berapa lama aku terisak. Berapa lama aku duduk mendekap tubuhku sendiri di kursi itu. Berapa banyak kukatakan kalimat itu. Dan berapa lama waktu berjalan. Apakah dia masih bisa mendengarku? Mendengar kalimat itu? Semua bagaikan mimpi untukku. Mengapa harus seperti ini??

Angin dan Maple… Ada dalam satu musim gugur, namun tidak pernah bisa bersama. Suatu saat, Angin akan berhenti menerbangkan Maple dan membiarkannya jatuh ke pelukan tanah. Namun Maple, akan tetap menunggu Angin untuk menerbangkannya kembali…

________

3 years latter…

Kubuka jendela flat pagi itu. angin langsung menyambutku. Membelai sejuk wajah dan rambutku. Aku tau, meskipun mereka pergi, namun mereka selalu di sisiku. Jiwaku dan anginku. Aku menatap pohon-pohon yang mulai berubah warna. Musim gugur sudah tiba. Musim gugurku, musim gugur kami.

Kupejamkan mataku menikmati angin yang membelaiku. Perasaan ini selalu sama. Lalu kurasakan sepasang lengan memelukku perutku dari belakang.

“Merindukan Angin?” bisiknya. Hangat nafasnya menggelitik leherku.

“Tidak boleh?” balasku tanpa berniat membuka mata.

“Apapun untuk Nyonya Lee,” jawabnya sambil mengecup kulit leherku lembut “Karena aku tau, meskipun Angin selalu datang menerbangkan Maple kembali, Maple akan selalu jatuh ke pelukan tanah lagi.”

Aku tersenyum mendengarnya “Aku mencintaimu, Tuan Lee.”

“Aku lebih mencintaimu…”

Seseorang yang menjadi tempat untukku terjatuh. Lee Hyuk Jae, temanku, sahabatku, mitraku, suamiku, juga tanahku. Yang membuat musim gugurku selalu hangat dalam dekapnya. Aku mencintainya…

FIN

 

 

[last edited 18 Jan 2015 ; 01.06 pm]