Tags

tumblr_lhhkva0QTb1qdbc9to1_400

Masa lalu itu adalah kenangan

Bukan sesuatu yang mengikat hidup kita…

Mungkin benar kau adalah masa lalu

Bukan mengikat hidupku, tapi mengikat hatiku

Hingga saat ini…

Sore itu udara Jakarta terasa lebih dingin. Hujan yang mengguyur kota itu siang tadi membuat semua yang ada terlihat basah. Gerimis masih terasa. Aroma tanah yang basah tercium kuat. Rasanya menyegarkan.

Seorang gadis terlihat sedang duduk di sebuah kursi sofa pendek di teras balkon kamarnya. Angin yang berhembus sedikit kencang, memainkan kelambu putih tipis pintu balkonnya. Gadis bertubuh mungil, berambut hitam gelombang itu tengah termenung menatap ke depan dengan buku notes dan sebuah pena dalam genggamannya. Ia menekuk lututnya dan menumpukan dagunya ke sana. Melamun.

Ia bahkan tidak menyadari kedatangan temannya. Teman kuliah sekaligus teman SMU-nya. Gadis berambut pendek lurus itu tiba-tiba saja menghempaskan diri di ruang kosong sofa, di sebelah gadis itu. Membuat si pemilik kamar terlonjak.

“Elo, ngagetin gue aja sih,” gerutunya.

“Nah lo ngelamun terus sih,” jawab temannya tidak mau kalah.

Gadis itu tidak menjawab lagi. Ia kembali menumpukan dagunya pada kedua lututnya.

“Kenapa sih?” tanya temannya penasaran.

“Hujan…”

Mendengar satu kata itu temannya, Lira langsung paham.

“Lo masih mikirin dia? Udahlah kis, ini tuh udah tiga empat tahun dan lo masih inget sama dia! Dia bahkan udah nikah, apa yang lo harapkan?” cecar Lira, kesal karena tidak ingin teman baiknya itu selalu larut sedih.

“Gue kemarin lihat dia Ra,”

Lira menatap kaget “Di sini? Di jakarta?”

Kisa mengangguk pelan “Dia jadi asisten dosen, Pak Herman.” jawabnya sedikit mengeluh.

Hening, keduanya terdiam.

“Lo udah punya Rama, nggak seharusnya lo masih mikirin dia. Dia udah nikah Kis,” nasihat Lira. Merasa sedih juga melihat sahabatnya terus-terusan seperti itu.

“Gue nggak ingin, tapi gue nggak bisa…” jawab Kisa pelan. Gadis itu menggigil sambil memeluk lututnya lebih erat. Entah karena angin atau karena hatinya yang beku.

Lira menghela nafas pelan. menatap prihatin “Ini semua hanya cinta monyet Kis, jangan terlalu larut sama masa lalu lo. Eh, gue ke sini tadi mau lihat makalah punya lo. Udah bikin kan? Di mana?” tanyanya mengalihkan topik.

“Ada di computer, cari sendiri sana,” balas Kisa malas.

Lira beranjak dari duduknya lalu masuk ke dalam kamar meninggalkan kisa sendiri. Gadis itu menatap daun pepohonan yang masih basah lalu menghela nafas pelan. Ia teringat lagi saat ia melihat Dimas, kemarin siang di kampusnya. Kenapa ia tidak bisa lepas dari laki-laki itu? Kisa mengeluh dalam hati.

***

“Kamu nanti pulang aja duluan, aku masih harus ke ruang praktek. Nggak apa-apa kan Kis?”

Kisa menggeleng sambil tersenyum “Nggak apa-apa, aku kemarin janjian sama Lira mau ke toko buku biasanya.”

“Ya sudah kalo gitu hati-hati.” Rama mengusap pelan rambut kisa sambil tersenyum sebelum cowok itu melangkah melewati tangga ke lantai dua.

Kisa menghela nafas pelan lalu melangkah keluar gedung kampusnya menuju gerbang keluar. Siang itu matahari sama sekali tidak tampak. Langit penuh awan putih. Suatu keberuntungan karena dapat mengurangi udara kering dan panas di Jakarta.

Gadis itu melangkah pelan menyusuri halaman kampus dengan beberapa dokumen dalam pelukannya. Tapi ia tidak menyangka kalau hujan akan turun secepat itu. Tetesan air itu mulai berjatuhan dengan cepat. Membuat Kisa reflek berlari mencari tempat berteduh sebelum semua dokumennya basah. Ia tidak sempat memikirkan di mana ia akan berteduh.

Kakinya berhenti di teras sebuah pos satpam yang kosong. Mungkin Pak Nurdin, satpam itu sedang berada di cafetaria mengingat ini sudah masuk jam makan siang. Diusapnya beberapa butir air yang mengenai mapnya. Untung ada lembaran mika sebagai pelapisnya hingga kertas dalam makalah-makalah itu aman dari air hujan.

“Pakai ini!”

Terkejut, Kisa menoleh dan jantungnya terasa berhenti saat melihat laki-laki itu ada di sebelahnya. Mengulurkan sapu tangan sambil tersenyum kepadanya. Dengan ragu Kisa meraih sapu tangan dalam genggaman laki-laki itu.

Gadis itu menunduk. Membersihkan wajah dan sebagian rambutnya yang basah oleh air hujan. Tubuhnya tiba-tiba saja terasa menggigil. Membeku hingga tidak berani bergerak.

“Nggak nyangka bisa ketemu lagi di sini,”

Kisa tertegun mendengar hal itu. Ia tidak menyangka laki-laki itu masih mengingatnya.

“Aku Dimas. Kamu inget kan? Aku pernah magang jadi guru di sekolahmu dulu.” jelasnya.

“Inget kok kak,” jawab Kisa pelan. Bagaimana mungkin ia bisa lupa pada laki-laki di sebelahnya?

“Pertama kali aku lihat kamu di bandung dulu juga waktu hujan gini. Waktu itu kamu yang minjemin aku sapu tangan, bener nggak?”

Detak jantung gadis itu semakin kuat. Bagaimana mungkin laki-laki di sebelahnya mengingat hal itu.

“Tapi aku nggak tau nama kamu dan nggak sempet mengembalikan sapu tanganmu, kayaknya keselip sama cucian mamaku. Apa perlu kuganti?” tanyanya sambil tertawa kecil. Bercanda.

Kisa menggeleng dengan cepat “Nggak usah kak,”

“Oke, kalau gitu kamu juga nggak perlu balikin sapu tangan itu,”

Kisa menoleh pelan dan langsung memalingkan wajah begitu tatapannya bertemu dengan Dimas. Ia merasa sangat gugup.

“Nama kamu siapa?”

“Panggil aja Kisa…”

“Waah… kayaknya bakal lama hujannya. Kamu kuliah jurusan apa?”

Obrolan itu terus berlanjut tanpa bisa dihindari Kisa. Dalam hati gadis itu mengeluh. Dari sekian banyak tempat, kenapa ia harus berteduh di tempat yang sama dengan laki-laki itu? Laki-laki yang masih membawa sebagian hatinya.

Bila air jatuh dari langit di sebut hujan

Bila bintang jatuh dari langit di sebut meteor

Lalu, harus disebut apa bila hatiku yang jatuh saat melihatmu?

Benarkah ungkapan itu di sebut cinta…?

Atau hanya sekedar kekaguman sesaat…?