Tags

,

 

regret

Mata itu memandang penuh benci
Keangkuhan sikapnya, menutup semua rasa
Kata maaf, tidak pernah tersampaikan pada dengarnya
Dan penyesalan, menjadi pembuka mata hati…
——————————————————————–


Aku membenci tawanya
Membenci senyumnya
Dan membenci segala yang ada padanya
Mengapa harus dia…?

Cho kyuhyun mencengkeram kaleng itu dengan kuat hingga tidak berbentuk lagi. Matanya menatap tajam seseorang di bawah sana yang sedang tertawa riang. Ia benci tawa itu. Tawa yang tidak pernah dirasakannya lagi saat seseorang paling penting dalam hidupnya pergi meninggalkannya.
KLAAANG…
Dilemparnya kaleng itu ke sudut balkon dengan keras. Meluapkan emosinya. Matanya berkilat-kilat tajam.
“Kim Yoon Hye… Aku tidak akan melepaskanmu!!” desisnya.

Gadis itu sedang berjalan pelan keluar dari universitas tempatnya belajar. Kakinya sesekali menghindari genangan air bekas hujan tadi pagi. Aroma basah masih sedikit tercium olehnya.
BREESSSHH…
“AAAKHH…” gadis itu menjerit sambil mengangkat buku besarnya untuk menutupi kepala dan wajahnya.
Sebuah mobil sport biru baru saja lewat itu, melewati genangan air yang cukup besar hingga airnya memuncrat, membasahi dan mengotori tubuh gadis itu.
Kim Yoon Hye, hanya bisa menatap kesal. Ia membersihkan tubuhnya dengan tangan sambil memandang mobil itu menjauh. Ia tau siapa pemilik mobil itu. Seseorang yang begitu membencinya. Untuk pertama kalinya dalam hidup gadis itu, ia merasa sangat direndahkan.
***

PRAAANG…
Gelas itu pecah berkeping-keping di lantai. Membuat seorang wanita menatap terkejut.
“Eomma!!” Kim Yoon Hye beralari menghampiri wanita yang terlihat shock itu “Eomma gwenchanae??”
“A-aku…”
“Kyuhyun ssi, apa yang kau lakukan?” tanya gadis itu pada seorang namja yang sedang berdiri di samping meja makan. Seseorang yang baru saja melempar gelas kaca itu ke lantai.
“Jangan pernah memaksaku untuk makan bersama,” desisnya tajam “Aku tidak suka diatur di rumahku sendiri!!”
“Eomma hanya mencoba memasak apa yang kau sukai!!” balas Yoon Hye.
Namja itu berjalan ke arah gadis itu hingga amat sangat dekat. Bahkan hidung mereka hampir bersentuhan. Ia menatap tajam mata coklat indah itu “Bukankah sudah kubilang kalau aku tidak suka orang asing berbuat sesuatu di rumahku? Seharusnya kalian sadar diri!” bisiknya lalu melangkah pergi.
Gadis itu mengepalkan tangannya. Ia benar-benar muak sikap laki-laki itu. Meskipun hatinya jatuh saat pertama kali menatap mata tajam itu. Ia membenci laki-laki itu, juga sekaligus mencintainya. Dan pertemuan dari dua rasa itu, melukai hatinya. Mengapa harus dia…?
***

“Kyuhyun ah, bagaimana kuliahmu?”
Langkah namja itu terhenti saat suara berat appanya terdengar. Ia berbalik dan mendapati appanya sedang berjalan pelan ke arahnya.
“Kapan Appa pulang?”
“Setengah jam yang lalu. Kau baru pulang dari kampus? Cepat mandi, kita makan bersama!”
“Aku harus pergi setelah ini!”
“Kita makan bersama dulu, eomma sudah memasak makanan enak malam ini.”
Rahang Kyuhyun mengeras mendengarnya “Seharusnya Appa mengatakan hal ini dulu saat Eomma masih hidup! Dia bukan Eommaku!”
“Cho Kyuhyun jaga bicaramu!”
“Sampai kapan pun aku tidak akan bisa menerima mereka menjadi bagian dari keluargaku!! Mereka boleh menginjakkan kakinya di rumah ini tapi tidak dengan hatiku! Seharusnya Appa tau itu!”
“Cho Kyuhyun!!!”
Namja itu urung menaiki tangga. Kakinya kembali melangkah ke pintu keluar dengan kebencian yang meluap.
Dulu, appanya selalu sibuk. Tidak pernah punya waktu buat eomma dan dirinya. Hingga eommanya mengalami kecelakaan, appanya tidak ada disamping mereka. bahkan saat eommanya menghembuskan nafas terakhirnya. Ia benci appanya. Kebenciannya semakin bertambah saat appanya menikah lagi dengan seorang wanita yang sudah mempunyai anak setelah setahun kepergian eommanya.
kyuhyun bisa saja pergi dari rumah kalau ia mau. Tapi itu adalah rumah tempatnya menghabiskan waktu dengan eommanya. Banyak kenangan di rumah itu. Karena itu ia tetap bertahan berada di sana. Dan appanya tiba-tiba saja membawa wanita lain untuk masuk ke rumah itu. Ia marah. Sangat. Apalagi perlakuan appanya pada wanita itu berbeda dengan sikapnya pada eommanya dulu. Karena itu ia tidak akan pernah menerima wanita itu, juga anaknya yang ternyata kuliah di satu universitas dengan Kyuhyun.
***
Gadis itu tersenyum menatap sesuatu di dalam bukunya yang terbuka. Sebuah foto. Foto seorang namja yang sedang tersenyum pada seekor anak anjing. Ia mendapatkan foto itu beberapa hari yang lalu. Saat dirinya akan pulang, tidak sengaja matanya melihat sebuah mobil yang terhenti di tengah jalan. Di depan mobil itu, namja itu sedang menggendong seekor anak anjing. Sepertinya hampir saja tertabrak oleh mobil itu.
Hatinya merasa hangat setiap kali melihat foto itu. Senyum hangat itu, tidak pernah dilihat olehnya. Gadis itu menghela nafas pelan. Ia membalik foto itu lalu menuliskan sesuatu di sana.
Aku menyukai senyummu
Terasa hangat…
Namun dinginmu melukaiku
Membekukan jiwa…
Kadang terasa hangat, kadang terasa beku
Cho kyuhyun, apa yang harus kurasakan…?!
Ia ingat saat pertama kali bertemu dengan laki-laki itu sebulan yang lalu. Senyumannya dibalas oleh tatapan dingin yang menusuk.
‘Jangan harap aku akan menerimamu di rumahku! Tidak akan pernah!!’
Satu kalimat yang menegaskan bahwa ada yang membatasi. Satu kalimat yang menegaskan gadis itu harus menutup hatinya rapat-rapat. Kakak tirinya, ternyata sangat membencinya. Namun ia tidak menyangkal, hatinya jatuh saat pertama kali melihat namja itu. Rambut panjang berantakan, dengan tatapan tajam menyempurnakan keangkuhannya.
“Yoon ah!!”
Dengan cepat gadis itu menutup buku yang ada di pangkuannya. Ia tersenyum menatap temannya yang baru saja datang.
“Rae Ki ya, kau sudah selesai?”
“Ne, ah kenalkan ini teman-temanku!” kata gadis berambut lurus itu.
Yoon Hye beranjak dari duduknya lalu menundukkan kepalanya pada dua orang laki-laki di depannya “Anyeong haseo,” sapanya.
“Lee Donghae imnida,” ucap laki-laki bekemeja coklat itu.
“Lee Hyuk Jae imnida,” sambung namja yang memakai topi dan hodie hitam di sebelah Lee Donghae.
“Ah, Kim Yoon Hye imnida,” balas Yoon Hye sopan.
“Yoon ah, aku harus pergi dengan Donghae ssi. Ada yang harus kami kerjakan, bagaimana kalau Lee Hyuk Jae ssi yang mengantarmu ke toko buku? Dia juga tau tempatnya,”
“Apa kau lama? Aku bisa menunggu!”
“Aku belum tau pasti…”
“Gwenchana, biar kuantar. Lagipula aku tidak ada kelas lagi. tempatnya tidak jauh dari sini, aku juga ingin mencari beberapa buku,”
“Apa tidak merepotkan?”
“Kau tenang saja, dia senang direpotkan,” canda Lee Rae Ki “Baiklah, aku pergi dulu! Donghae ya, jja!”
“Eum, hati-hati…” balas Yoon Hye.
“Kita pergi sekarang?” tanya Lee Hyuk Jae.
Yoon Hye mengangguk pelan sambil tersenyum.

Cho Kyuhyun sedang berdiri di atas balkon lantai dua ruang musik itu. Tempat favoritnya. Sesekali ia meneguk kaleng soda yang sedang di genggamnya. Matanya menatap tajam seorang gadis yang sedang duduk di bangku bawah pohon akasia itu. Gadis itu suka membaca. Dahinya mengeryit pelan saat melihat beberapa siswa menghampiri gadis itu.
Ia tau gadis berambut lurus itu. Dan sepertinya ia pernah melihat dua orang namja itu. Tiba-tiba ia teringat tadi pagi saat ia membeli soda yang sedang diminumnya dari mesin minuman. Kalau tidak salah, dua namja tadi ada di sebelahnya.
‘Bukankah kau mengenal temannya? Bagaimana kalau minta tolong padanya?’
‘Kau benar-benar mengincar gadis itu?’
‘Kurasa dia menarik,’
‘Dia tidak seperti gadis-gadis yang kau ajak tidur!’
‘Karena itu aku ingin sesuatu yang berbeda, dia tidak akan menolak saat kuajak pergi. Kau mau taruhan?’
Kyuhyun tersentak. Ia menatap lagi ke arah gadis itu dan mereka sedang berjalan berdua menuju area parkir motor. Tanpa berfikir, namja itu berlari keluar dari ruang musik. Ia menuruni tangga dengan cepat. Tidak memperdulikan beberapa orang yang sudah ditabraknya. Langkahnya semakin cepat saat melewati bangku tempat gadis tadi duduk.
Langkah Kyuhyun berhenti tidak jauh dari mereka. Ia melihat laki-laki itu mengulurkan helm pada gadis itu. Nafasnya berderu. Kakinya berjalan cepat ke arah gadis itu.
Greep
SET
“Ikut aku!” ucapnya tajam
Gadis itu mengerjap kaget. Belum sempat ia berfikir, Kyuhyun sudah menariknya pergi.
“Cho Kyuhyun ssi, apa yang akan kau lakukan?! Lepaskan aku!!” gadis itu meronta, berusaha melepaskan lengannya yang dicengkeram erat.
Lee Hyuk Jae turun dari motornya dengan cepat. Ia berlari menyusul Kyuhyun dan Yoon Hye “YAA! Dia akan pergi bersamaku!!” ditahannya lengan Kyuhyun.
SET
BOUGH
“Cho Kyuhyun ssi!!” gadis itu memekik kaget saat tangan Kyuhyun yang bebas melayang menghantam rahang namja itu.
“Sekali kau menyentuhnya, aku akan membunuhmu! Hanya aku yang boleh menghancurkannya!!” desis Kyuhyun dingin. Ia berjalan lagi sambil menarik gadis yang masih terkejut itu.

“Cho Kyuhyun lepas!!” Kim Yoon Hye masih meronta dalam cekalan tangan Kyuhyun.
Laki-laki itu tidak perduli sama sekali. Ia terus melangkah membawa gadis itu ke belakang gedung kampus, tempat mobilnya berada. Yoon Hye menghempaskan tangan Kyuhyun dengan kuat hingga terlepas.
PLAK
Tamparan itu membuat hening seketika. Nafas Yoon Hye berderu keras. Ada perasaan sesak di dadanya. Namja itu menatapnya tajam sambil mendecih pelan. Lalu ia mendorong Yoon Hye hingga punggung gadis itu membentur mobilnya. Kedua pasang mata itu saling bertatapan. Nafas mereka sama-sama berderu menahan amarah.
“Kau harus ingat, sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu!” desis Kyuhyun.
“Kau pikir siapa dirimu?” balas Yoon Hye.
Braaak…
Tangan Kyuhyun menghantam kaca jendela mobil di sebelah kepala Yoon Hye hingga retak.
“Gadis murahan sepertimu tidak pantas bertanya padaku! Sebelum aku menghancurkanmu, aku tidak akan melepaskanmu! Sekarang aku tau seperti apa dirimu, kau tidak lebih dari gadis jalang yang mau pada lelaki manapun. Sama seperti eommamu!”
Kata-kata itu membuat emosinya meluap. Yoon Hye mendorong tubuh Kyuhyun kuat.
PLAK
Tamparan itu kembali mendarat di pipi Kyuhyun. Air mata Yoon Hye mengambang. Mati-matian ditahannya. “Setidaknya ia tidak pernah menghina Eommaku!” ucapnya dengan suara bergetar sebelum meninggalkan laki-laki itu.
***

Hujan deras sore itu membuat udara dingin. Gadis itu duduk di atas kursi belajarnya. Memeluk kedua lututnya. Dagunya bertumpu pada lutut itu, matanya menatap keluar dari jendela dihadapannya yang terbuka lebar itu. Angin memainkan kelambu putih tipis di sisi kanan dan kiri jendela. Ia menikmati suara hujan itu.
Dihadapannya, di atas meja, ada beberapa lembar foto Kyuhyun. Satu foto Kyuhyun sedang tersenyum bersama seekor anak anjing. Satu foto Kyuhyun yang sedang menatap lurus ke depan dengan pandangan dingin. Dan satu foto Kyuhyun yang sedang memejamkan mata tertidur.
Yoon Hye tidak tau mengapa ia menyukai ketiganya. Menyukai hangat namja itu, menyukai dingin namja itu, juga menyukai rasa damai dari namja itu. Ia tidak mengerti mengapa Kyuhyun amat sangat membenci ia dan eommanya. Yoon Hye tau, Eomma Kyuhyun meninggal karena kecelakaan. Tapi tidak bisakah ia merelakannya? Untuk kebahagiaan appanya. Kalau saja dia mau mengerti, eommanya adalah wanita terkasih yang pernah ia temui. Gadis itu menggenggam liontin yang melingkar di lehernya. Liontin yang dibaliknya terukir namanya.
Yoon Hye beranjak pelan dari duduknya. Ia menutup jendela lalu naik ke tempat tidur. Merapatkan selimut hangatnya, dan berusaha melupakan ucapan Kyuhyun tadi siang. Ia memejamkan matanya, berharap hari esok akan lebih baik lagi.

Gadis itu terbangun dengan tenggorokan kering. Ia merasa haus. Dengan mata setengah terpejam, dinyalakannya lampu kamar. Jam digital di mejanya menunjukkan pukul satu lewat dua puluh tiga menit. Ia ingin tidur lagi, tapi haus lebih mendominasi. Mau tidak mau ia bangun dari tidurnya dan beranjak dari ranjang hangatnya. Kakinya tersaruk-saruk berjalan keluar kamar menuju dapur.
Matanya memincing saat melihat sosok seseorang yang sedang duduk di sofa ruang tengah. Ia menggosok matanya pelan berusaha melihat lebih jelas. Ia yakin itu bukan appa tirinya, karena pria itu sudah kembali ke Jepang tadi siang. Yoon Hye berjalan mendekat sambil mengerjapkan matanya. Ternyata namja itu Cho Kyuhyun.
Laki-laki itu masih berpakaian sama seperti siang tadi, hanya saja wajahnya terlihat sangat pucat dan nafasnya berderu cepat. Sejenak, Yoon Hye hanya mampu memandangnya.
“Kyuhyun ssi…” panggil gadis itu pelan.
Tidak ada jawaban dari Kyuhyun. Yoon Hye mengulurkan tangannya, memberanikan diri menyentuh bahu namja itu. Ia sedikit terkejut merasakan kaos Kyuhyun yang lembab. Dengan cepat disentuhnya kening Kyuhyun. Matanya melebar saat merasakan tubuh itu panas.
“Kyuhyun ssi, kau dengar aku??” tanyanya sambil menggoyang tubuh namja itu.
“Nghh…” Kyuhyun melenguh pelan. dahinya mengeryit seperti merasakan sakit.
Melupakan rasa hausnya, Yoon Hye meraih lengan itu. Sekuat tenaga berusaha memapah tubuh namja yang terasa panas itu. Beruntung Kyuhyun masih bisa jalan meskipun namja itu sudah dalam keadaan setengah sadar. Dibukanya kamar Kyuhyun lalu membaringkan namja itu di ranjangnya. Ia melepas sepatu Kyuhyun yang basah. Lalu berlari keluar kamar dan kembali lagi dengan membawa air, lap kompres juga handuk kecil yang kering.
Sejenak Yoon Hye menggigit bibirnya. Ia harus mengganti pakaian basah namja itu. Tapi apakah ia harus membangunkan Park Ajhusi malam-malam begini? Karena tidak punya pilihan, Yoon Hye terpaksa meminta tolong pada tukang kebun rumah itu.
“Gomawo Ajhusi, kau boleh tidur lagi. Biar aku yang menjaganya,”
“Ne, kalau ada apa-apa panggil saja saya Nona.”
“Ne,”
Yoon Hye menatap pria tua itu hingga menghilang dibalik pintu kamar. Ia kembali menatap Kyuhyun yang sudah memakai piama dibawah selimut hangatnya. Yoon Hye mengambil lap basah itu lalu menyibak rambut yang menutupi dahi Kyuhyun dan meletakkan lap itu di sana. Diperiksanya suhu badan Kyuhyun dengan termometer. Empat puluh satu derajat celcius. Demamnya cukup tinggi. Pasti namja ini tadi kehujanan dan tidak segera berganti pakaian.
Gadis itu merapatkan selimut Kyuhyun. Sesekali ia mengusap wajah dan leher Kyuhyun dengan lap basah. Ditatapnya wajah yang tampak damai saat ini. Jantungnya berdebar pelan. Jemarinya terulur merapikan anak rambut Kyuhyun dengan hati-hati.
“Nghh…” Kyuhyun bergerak pelan sambil melenguh.
Gadis itu mengusap-usap kepala Kyuhyun menenangkannya. Tiba-tiba saja tangan Kyuhyun memegang lengannya. Membuat Yoon Hye tertegun. Namja itu menarik tangan Yoon Hye dalam dekapannya yang panas.
“Eomma…” lirihnya pelan.
Yoon Hye terdiam menatapnya. Ia membiarkan laki-laki itu memeluk tangannya. “Cho Kyuhyun, seperti apa dirimu yang sebenarnya?” bisiknya yang dijawab oleh keheningan.

Kau peluk aku dalam dinginmu
Kau sakiti aku dengan tajam katamu
Tapi kau hangatkan hatiku dengan senyummu
Manakah jiwa yang harus kulihat?
Karena aku beku sekaligus merasa hangat saat bersamamu…

 To be continue