Saat kaki ini melangkah dalam dekapnya bimbang,

Tak kutemukan tanah tempatku untuk berpijak

Rasa terkadang butakan angan

Tak tertebak apa yang menjadi nyata

Serumit gumpalan benang, tergulung memeluk amarah

Diam kemudian tertawa

Tersadar saat menyadari bahwa bodoh telah membayangi

Kenapa fikiran ini mudah sekali tertipu?

Sejenak terbang melayang tinggi, sedetik kemudian tenggelam dalam asa

Lelah menyenandungkan lagunya, sakit mengukirkan perihnya.

Cukup sudah batin ini terombang-ambing

Mengapa tidak pernah ada akhirnya untuk jalan kedamaian?

Kuhembuskan nafas, kulepas semua,

Dan membiarkan air mata ini mengalir membuang semua hingga tak tersisa.

Aku adalah aku dan aku hanyalah selembar kertas

Kubuka mataku lebar-lebar untuk menghindari api yang dapat membakarku

dalam takdirnya

Bukan berarti diam itu menerima, bukan pula menyerah

Hanya menahan, mengamati, dan mempelajari apa yang tidak bisa terbaca

Dan kini perlahan pemahaman itu terkuak,

Menggores batin, meremas jiwa

Sudah saatnya aku berhenti

Mata ini sudah lelah untuk melihat,

Dan hingga akhirpun,

Kisahku tak pernah kau mengerti meski sudah terangkai dalam ribuan kata…