Tags

, ,

Shocked kisss

Author : Ela Shin Rae byung
Cast:

– Min Seorin
– Cho Kyuhyun
– Lee donghae
– Choi Soo byung

NB : Ini ff bikinan Ela, khusus buat ultahnya changmin. tapi entah kenapa dia malah bikin castnya aku sama kyu ahahahha… apapun, thanks Ela sayang buat ffnya yang manis *kecup*

Don’t Coppas
And Happy reading.

 

“Siapa yang memintamu menciumku? Kau sendiri yang melakukannya tanpa persetujuanku! Dan catat baik-baik, aku tidak termasuk dalam ‘banyak yeoja yang menginginkan ciumanmu’! Dasar setan mesum!” ujarku tegas. Ku ambil Tablet pc dan tasku lalu segera pergi dari namja terkutuk itu.

 

 

_keesokan hari_

Udara di atas atap sekolah memang sangat menenangkan, cocok untukku yang butuh ketenangan karena semalaman aku tidak bisa tidur hanya karena perbuatan si namja mesum yang seenak jidatnya menciumku. Aish, kenapa ingatanku tentang ciuman itu selalu berkelebat di kepalaku. Ku pukul-pukul pelan kepalaku berharap ingatan buruk itu tidak muncul lagi di kepalaku.

“Seorin-ah, waeyo? Apa kepalamu sakit?” segera ku lirik namja di sebelahku, Donghae sunbae.

“Sun..sunbae.. eee,,, anio. Nan gwaenchana.” Aku tersenyum ke arahnya sambil mengangkat kacamataku yang sedikit turun.

“Jeongmalyo?”

“Ne, sunbae.”

Donghae sunbae mengacak-acak rambutku yang terikat rapi seperti biasa.

“Kau ini selalu memanggilku Sunbae. Kau harus panggil aku Oppa. Yaksok?” ia mengacungkan jari kelingkingnya. Aku tersenyum dan menautkan jari kelingkingku pada kelingkingnya.

“Yaksok, Donghae..Oppa?” jawabku ragu.

“Tidak perlu ragu memanggilku seperti itu” ucapnya seakan tau maksudku. Ia menatapku teduh. Kalau dilihat lebih dekat, Donghae Oppa memang tampan. Tidak heran jika memiliki banyak fans di sekolah ini. Pintar bermain basket, mantan ketua osis, selalu juara 1 seangkatan  dan pandai bergaul. Kurasa itu semua tipe yang di sukai para yeoja. Tapi entah mengapa semuanya tidak berpengaruh padaku. Aku langsung menolaknya ketika ia memintaku menjadi yeojachingunya dengan alasan bahwa aku tidak mencintainya. Ia sudah seperti kakak bagiku.

Aku memalingkan wajahku darinya dan menikmati pemandangan dari atap sekolah.

“Oppa, bolehkah aku bertanya?”

“Selama aku bisa menjawab, tentu boleh.”

“Ehmm, kenapa dulu oppa memintaku untuk menjadi yeojachingumu? Aku yeoja jelek, tidak pintar dan tidak pandai bergaul”

“Benarkah kau seperti itu? Menurutku tidak begitu.”

“Maksud oppa?”

“Kata siapa kau jelek? Tidak pintar? Dan tidak pandai bergaul? kau cantik, itu kulihat dari hatimu. Kau pintar, terbukti saat kau menyelesaikan persoalan dengan bijak. Dan kau pandai bergaul, aku merasakannya ketika semua teman yeojamu sedang membicarakan keburukan orang lain, kau malah menjauh. Memutuskan untuk tidak ikut membicarakan kejelekan temanmu agar kau tidak terpengaruh dan tidak tau keburukan-keburukan orang lain juga tetap berfikir positif pada teman-temanmu yang kadang secara terang-terangan membicarakan keburukanmu.”

Well, kata-kata Donghae Oppa sukses membuat mulutku menganga. Kaget dengan perkataannya yang entah dari mana ia dapatkan itu. Apa benar aku seperti itu di matanya?

Donghae oppa mengacak pelan rambutku,,, “Bahkan kau tetap cantik ketika seperti itu.” Tambahnya.

“Aigo, oppa berlebihan. Berada di dekat oppa seperti ini berpotensi membuat kepalaku semakin besar karena sering di puji.” Candaku yang mendapatkan tawa renyah darinya.

“Baiklah, kajja kita kembali ke kelas, jam istirahat sudah habis.” Ajak donghae oppa. Kami bergegas turun dari atap, sesampai di koridor utama, aku berpisah dengan donghae oppa. Kelas kami berbeda. Dia 3A yang terletak di sebelah kiri koridor utama, sedangkan aku kelas 2B yang berada di lantai 2.

_kelas 2B

“Seorin-ah, dari mana saja kau? Aku mencarimu tadi yang tiba-tiba menghilang dari kantin.” Tegur soo byung yang sudah duduk di bangku sebelahku.

“Hanya di atap sekolah. Kau tau kan kalau aku tidak suka keramaian, dan kau malah meninggalkanku sendirian tadi di kantin.” Jawabku yang sedang mengambil buku pelajaran dari tas.

“Aku tidak meninggalkanmu, hanya saja tadi aku harus mengantri untuk mendapatkan makanan di kantin. Oh ya, apa kau tau kalau sekolah kita mengadakan camping di hutan jeju selama empat hari?” tanya soo byung antusias.

“Camping? Empat hari? Dalam rangka apa?”

“Anniversary ekskul pecinta alam. Dan setiap kelas wajib mengeluarkan 2 perwakilan untuk mengikuti acara itu. Berhubung di kelas kita tidak ada perwakilan, jadi aku mendaftarkan diri juga mengajukanmu untuk mewakili acara itu. Kau kan suka sekali menjelajah alam bebas. Eottohke?”

Dia menatapku penuh harap. Aku melengos, dia memang selalu mengambil keputusan tanpa membicarakannya dulu denganku. Tapi dia juga benar, aku sangat menyukai alam bebas.

“Hmm, Kau sudah mengajukan aku untuk ikut, apa aku masih bisa menolak?”

Kedua sudut bibirnya tertarik sempurna membentuk sebuah senyuman, tau apa yang aku maksud. Dia langsung memelukku erat.

“Ya! Aku tidak bernafas, Byung-ah.”

“Ah, mianhae. Gomawo Seorin-ah sudah mau mengikuti acara ini.”

“Jadi kapan acaranya?”

“Besok.”

“Baiklah”

***

Aku  berlari sebisaku menuju sekolah. Aish, bagaimana bisa aku telat bangun. Padahal alarmku sudah ku hidupkan. Semoga saja bisnya belum berangkat.

“Yak! Tunggu aku, yak! Chakkaman, chakkaman.” teriakku saat bis yang akan di pakai untuk pergi ke Jeju mulai berjalan perlahan. Untungnya soo byung melihatku ketika kepalanya muncul dari jendela bis.

“Seorin-ah, palliwa!” teriak Soo Byung, tak kalah nyaring.

Segera aku berlari dan masuk ke dalam bis. Sesampai di dalam aku bingung karena tidak ada kursi yang tersisa kecuali di bagian paling belakang yang hanya berisi dua kursi dan bersebelahan dengan toilet bis. Di kursi sebelah kiri telah terisi oleh siswa yang wajahnya tertutupi topi. Mau tidak mau, aku menempati bangku sebelah kanannya.

Aku melepaskan jaketku yang sedari tadi membatasi gerakku. Aku melirik namja di sampingku, sekilas aku merasa tidak asing dengan wajah itu. Ku geleng-gelengkan kepalaku, mungkin hanya perasaanku saja. pemandangan alam di luar cukup menarik untuk ku lihat. Agar tidak bosan, aku memakai headphone ku dan mermutar lagu slow kesukaanku.

”Seorin-ah, ini daftar nama kelompok nanti. Sayang sekali aku tidak satu kelompok denganmu. Tapi jangan khawatir, kita satu tenda nanti di Jeju.” Soo Byung memberikan selembar kertas padaku.

Aku mengerutkan kening. “Kenapa kelompoknya hanya berisi dua pasang saja?”

“Nado mollayo. Aku berpasangan dengan Sunny Sunbae. Dan kebetulan kau berpasangan dengan Kyuhyun-ssi, siswa 2A. Namja di sebelahmu itu.” Soo Byung menunjuk namja yang katanya bernama Kyuhyun itu dengan dagunya. Soo Byung mendekat dan berbisik kepadaku. “Kau beruntung berpasangan dengannya. Dia namja tampan, pintar, banyak disukai yeoja apalagi Sunbae kita.  Juga menguasai bermacam-macam olahraga. Meski dia sedikit evil.”

“Kyuhyun? Dia setekenal itu? Aku bahkan baru mendengar nama itu.” balasku sambil berbisik juga.

“Aish, kau ini benar-benar ketinggalan berita ternyata. Lain kali sering seringlah berkumpul dengan yang lain.” ucapnya sebelum kembali ke kursinya.

Sekilas namja di sebelahku berrgerak membetulkan topinya, kemudian kembali tidur. Lama membuka mata membuatku sakit, di tambah akhir-akhir ini aku insomnia yang di sebabkan oleh si setan mesum yang lancang merebut first kissku. Ku putuskan untuk membuka kacamataku dan menutup mata, siapa tau aku bisa tidur nyenyak di perjalanan.

Ckiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttt

Bruuukk

Duaaaaaaaaaak

“Aaaaawwwww.. ”

“Omona…”

“Yaakkkkk…”

“Aishhh…”

“Aigooooooooo…”

Semua penumpang terbangun dari tidurnya ketika bis yang mereka tumpangi berhenti mendadak.

“Apa yang terjadi?” Kim Songsaenim yang duduk tepat di depanku berteriak pada sang sopir .

“Mianhamnida, tadi ada kucing menyebrang. Jadi saya mengerem mendadak. Jeongmal mianhamnida” sang sopir merasa bersalah pada penumpangnya.

“Arasseo. Lain kali hati-hati. Anak-anak, kalian Tidak ada yang cedera kan?” kim songsaenim memastikan. Semua penumpang  melihat sekitar. Mengecek apakah teman-temannya ada yang terluka.

“Omo,,, Sunny-ya, kepalamu memar. Gwaenchana?” tanya seorang yeoja, mungkin teman Sunny Sunbae.

“Aish, kalau kepalamu terbentur besi penyangga jendela, bagaimana rasanya? Tentu saja sakit.” rutuk Sunny sunbae pada temannya itu.

“Kim Songsaenim, apa ada es untuk mengompres memar Sunny?”

“Ada.” Kim Songsaenim menghampiri Sunny Sunbae kemudian menyerahkan es pada teman sunny sunbae. “Ini. Bantu Sunny mengompresnya, Jessica.” kata Kim Songsaenim pada teman Sunny Sunbae yang bernama Jessica.

“Apa ada yang terluka lagi?” tanya Kim Songsaenim sambil melihat sekitar.

“Kyuhyun-ah, neo gwaencahana?” Kim Songsaenim menghampiri namja di sebelahku yang sedari tadi menundukkan kepala, topi yang tadi ia gunakan untuk menutupi tubuhnya terjatuh.

“Gwaenchana songsaenim, hanya sedikit perih.” ujarnya tapi masih menunduk.

“Perih? Apa kepalamu terluka?” Kim Songsaenim khawatir. Semua siswi berhamburan ketika mendengar pertanyaan Kim Songsaenim. Apa namja di sebelahku ini memang terkenal ya?

“Kyuhyun-ah, gwaenchana?”

“Apa ada yang terluka?”

“Mani appo, Kyuhyun-ah?”

“Apanya yang sakit?”

Cecar siswi-siswi yang berdatangan ke tempat kami.

Namja itu kemudian mendongak. Dan benar saja, pelipis kanannya mengeluarkan darah segar.

“Omoo,,, Ambilkan es dan sapu tangan.” teriak Kim Songsaenim.

Donghae Oppa mengambilkan es dan sapu tangan kemudian  memberikannya pada Kim Songsaenim.

“Yak! Seorin-ah, kenapa kau diam saja. bantu Kyuhyun! Pegang es ini.” protes Kim Songsaenim saat aku sibuk melihat saja.

“N..ne, songsaenim,” ucapku.

Setelah darahnya selesai di bersihkan, Kim Songsaenim meminta es padaku kemudian mengompreskan pada Kyuhyun. Aku melihat namja itu sedikit meringis saat es itu menyentuh lukanya. Kenapa aku merasa tidak asing dengan wajahnya ya? Ah, molla. Peduli amat!

Lagi pula pandanganku sedikit kabur akibat kurang tidur. Jadi tidak bisa melihatnya dengan jelas.

“Kenapa kalian masih disini? Kembali ke tempat masing-masing!” perintah Kim Songsaenim pada siswi yang masih setia melihat Kyuhyun yang di rawat. Semua mendengus sebal. Aku terkikik melihatnya. Perhatian sekali mereka pada namja ini.

“Seorin-ah, tolong kau kompres luka Kyuhyun. Kalau darahnya sudah berhenti, beri betadine kemudian plaster.” Ujar Kim Songsaenim sambil memberikan es untuk kompres serta betadine dan plaster.

“Ne.”

“Kyuhyun-ssi, bisakah kau menghadap ke arahku? Agar lebih mudah mengompres.” Tawarku. Namja itu menurut, ia bergeser menghadapku dengan kepala yang sedari tadi menunduk. Aku mulai mengompresnya.

“Awwww, yak! Hati-hati, ini luka, bukan tembok!” pekiknya dan mendongakkan kepalanya. Sekilas beberapa siswi menoleh ke arahku sambil melotot. Seperti mengatakan ancaman ‘Sekali-lagi-kau-membuatnya-sakit, nyawamu-melayang.’

Namun aku langsung memalingkan wajahku dari mereka dan berfokus pada pelipis Kyuhyun.

“N..neo?” Kyuhyun tampak kaget dan mengacungkan jari telunjuknya didepanku.

“Ne? Naega? Wae?” tanyaku sopan.

“Kau,,,, tidak mengingat aku?”

“Mengingatmu? Ah, mianhae, pandanganku sedikit kabur hari ini, jadi aku tidak bisa mengenal wajahmu dengan jelas.” Aku menjelaskan.

Namja itu seperti berfikir sejenak. Aku melanjutkan pekerjaanku yang tadi sempat tertunda olehnya. Selesai mengompres, aku memberi sedikit betadine pada lukanya kemudian di beri plaster.

“Sudah selesai.” ucapku senang melihat hasil kerjaku.

“Kau benar-benar tidak bisa melihat wajahku dengan jelas?” lagi-lagi namja itu bertanya.

“Geureom. Tapi kalau di beri obat tetes mata, pasti bisa melihat dengan jelas lagi.”

“Kembali jelas lagi hanya dengan obat tetes mata? Tanpa kacamata? Bukankah matamu minus?”

Aku menepuk jidatku, pertanda lupa akan sesuatu. “Ah,, i..ituuu… maksudku setelah di beri obat tetes mata, aku memakai kacamataku lagi dan pasti aku bisa melihatmu dengan jelas.” bohongku.

“Jeongmal?” rupanya namja di depanku ini belum percaya padaku.

Aku hanya mengangguk ragu.

“Baguslah kalau begitu.”

“Ne?’

“Aniya!”

Berbicara tentang mataku, aku harus segera mengobatinya. Tidak melihat sekitar, sangat mengganggu. Segera ku ambil obat tetes mata di dalam tas.

“Soo Byung-ah..” panggilku pada Soo Byung yang duduk di depan. “Soo Byung.. Soo Byung-ah..” panggilku lagi karena yang di panggil tidak mendengar.

“Ada apa kau memanggilnya?” tanya Kyuhyun yang melirikku sekilas. Mungkin dia merasa terganggu dengan teriakanku pada soo byung.

“Eo? Aku hanya ingin memintanya memberikan obat pada mataku”

Dia mendecak pelan kemudian merebut obat yang ada di tanganku.

“Sini, menghadap ke arahku.”

“Ne?”

“Untuk apa meminta bantuan orang lain kalau disini ada yang bisa membantumu! Sekarang kepalamu mendongak ke atas!”

_author POV_

Dengan patuh, Seorin mendongakkan kepalanya. Kyuhyun memberikan obat tetes mata pada kedua mata yeoja di depannya.

“Tutup matamu supaya obatnya bekerja maksimal!”perintahnya. dan lagi-lagi Seorin mematuhi perintahnya.

Kyuhyun sempat terpaku melihat yeoja yang menutup mata tepat di depannya. Ia merasa jantungnya berpacu lebih cepat tidak seperti biasanya. di tambah posisinya yang berhadapan dengan Seorin. Ingatan tempo hari kembali berkelebat dalam pikirannya. Ia masih ingat dengan jelas bibir lembut dari yeoja di depannya itu. Bibir yang telah menjadi first kissnya. Ia tidak tau kenapa dengan bodohnya ia memberikan first kissnya pada yeoja culun seperti dia. Padahal selama ini ia bertekat memberikan first kissnya pada yeoja yang benar-benar ia cintai.

‘Aish, buang jauh-jauh pikiran itu! Sebentar lagi dia akan mengenalku. Aku penasaran, seperti apa reaksinya jika ia sudah mengenali wajahku?’ pikir Kyuhyun.

_Seorin POV_

Aku mengucapkan terima kasih pada Kyuhyun setelah membantuku mengobati mata dan ia hanya membalas dengan deheman pelan. Cih, pelit sekali dia mengeluarkan kata. Tapi masa bodoh. Aku menutup mataku selama beberapa menit agar obatnya cepat bereaksi.

Beberapa saat kemudian, aku mengerjapkan mataku pelan.

“ Ahhh, jernih sekali.” ujarku lalu mengambil kacamataku dan memakainya. Kulirik kembali namja yang bernama Kyuhyun itu yang lagi-lagi menutup wajahnya dengan topi.

“Kyuhyun-ssi? Apa kau sudah tidur?”

Hening

Tidak ada respon dari namja itu. “ Paboya, mana ada orang tidur akan menyahut.” Gumamku pada diri sendiri.

_Author  POV_

At Jeju_

_hari ke 1_

Ckiiiittt,

Perlahan bis pariwisata itu berhenti di tempat tujuan.

“ Anak-anak,,, Ireona. Kita sudah sampai. Palli… Ireona.” Kim Songsaenim berusaha membangunkan muridnya.

Seorin menggeliat pelan, kemudian menepuk-nepuk kedua pipinya. Berusaha menyadarkan diri. Ia melirik teman sebelahnya. Lalu menepuk pelan pundak Kyuhyun.

“Kyuhyun-ssi, ireona.”

“ Emmm,, kau duluan saja.”

“ Ne. Ehm,,, pelipismu…. gwaenchana?”

Kyuhyun hanya mengangguk di balik topi yang menutupi wajahnya. Senyum miring terukir di wajahnya tanpa seorinketahui.

“ Baiklah, aku turun lebih dulu.”

Selepas Seorin pergi, kyuhyun membuka topinya dan tersenyum evil. “ Sepertinya aku mendapatkan game yang lebih seru dari Starcraft.” gumamnya.

“ Ya! Cho Kyuhyun, apa setelah kepalamu cedera, otakmu bergeser. Tersenyum menakutkan seperti itu.”

Kyuhyun hanya hanya membalas dengan cengengesan dan langsung berjalan keluar dari bis, menyusul yang lain.

_At Night_

Saat ini semua siswa dan siswi berkumpul di depan api tungku yang menjadi penerangan utama dari perkemahan mereka. Kim songsaenim berada di tengah-tengah mereka untuk memberikan arahan.

“ Kalian paham dengan tugasnya?’

“Ndeeeee.”

“Bagus, sekarang kalian cari pasangan kelompok kalian.”

Semua siswa maupun siswi mulai mencari pasangan kelompoknya. Dari perwakilan kelas ada 40 orang dan 10 orang lainnya ialah panitia pencinta alam sendiri.

“Sunny sunbae…” Soo byung melambaikan tangannya pada pasangan kelompoknya.

Jessica menghampiri donghae malu-malu “ Annyeong haseyo sunbae, naneun jessica jung. Pasangan kelompok donghae sunbae.” Namja itu tersenyum ramah pada gadis di depannya.

“ Leeteuk hyung, kita ternyata satu kelompok” ucap namja berambut blonde pada namja yang berlesung pipi sebelah kiri itu.

“Eisshh, padahal aku berharap satu kelompok dengan taeyeon, siswi kelas 1C itu. Kenapa jadi denganmu, Eunhyuk-ah?” ujar Leeteuk sambil melirik taeyeon yang berpasangan dengan shindong.

“Yah, terima saja hyung…” ledek Eunhyuk.

Begitulah kira-kira siswa siswi yang sibuk mencari pasangan kelompoknya. Namun ada seorang gadis di sudut yang terlihat bingung mencari pasangan kelompoknya.

_ Seorin POV_

“Songsaenim.Pasangan kelompokku, Kyuhyun-ssi. Tapi aku kesulitan mencarinya. Apa songsaenim tau dia ada dimana?”

“Oh aku lupa mengatakannya, kyuhyun sekarang ada di tendanya. Tadi ia pamit untuk istirahat. Kau temui saja dia,  sekalian jelaskan padanya tentang tugas besok. Tendanya ada pojok sana.” Kim Songsaenim menunjuk tenda berwarna hijau lumut disebelah kanan.

Dengan ragu aku berjalan menuju tenda yang dimaksud kim songsaenim.

“Kyuhyun-ssi, apa kau ada didalam?”

“Nuguya?”

“Ini aku, Min Seorin.”

“Masuklah.”

Kulangkahkan kakiku memasuki tenda berukuran sedang itu. Aku melihat punggung namja yang kuyakini milik kyuhyun. Tentu saja. Ditenda ini ada hanya ada dia, yang lain masih berada di luar.

“Ehm, aku pasangan kelompokmu. Jadi… aku kemari untuk menjelaskan tugas kita besok.”

Kyuhyun nampak mengangguk-anggukkan kepalanya.

“ Oh, ya. Kita masih belum berkenalan secara resmi. Naneun Min Seorin imnida. Bangapseumnida.” Aku membungkukkan kepala pelan.

“ Cho Kyuhyun Imnida.” Ujarnya singkat dengan posisi membelakangiku.

Eishh, pelit kata-kata.

“Hm, Kyuhyun-ssi bukankah saat berkenalan kita harus saling menatap lawan bicara?” sindirku secara halus.

Ia nampak menghembuskan nafas kasar. “ Baiklah kalau itu maumu.”

Kyuhyun mulai membalikkan badannya.

Seeett

IGE MWOYA????

“NEO? SETAN MESUM?” pekik ku tak percaya. Reflek aku menunjuk wajahnya dengan telunjuk.

Dia? Namja yang bernama Cho kyuhyun? Namja yang tadi duduk disebelahku saat di bis? Yang merebut first kissku??

Ia tersenyum setan dan menyingkirkan telunjukku dari wajahnya. “Tadinya aku ingin memberimu kejutan besok. Tapi…… tak kusangka kau sendiri yang datang kemari.” Aku terlalu syok hingga tak meresponnya. Ia mencondongkan tubuhnya. Reflek aku memundurkan wajah. “Merindukanku, eo?”

PLETAK..

“YA! culun, kepalaku cedera.!” Pekik Kyuhyun sambil memegang pelipisnya yang berdarah. Berdarah? Aish, Seorin pabo. Kepalanya kan masih cedera.

Langsung saja aku mengambil sapu tangan di saku jaketku dan ditempelkan ke pelipisnya. “Mi..mianhae. aku lupa. Lagipula kau membuatku kaget. Jadi aku reflek memukulmu.”

“Aissh, reflekmu itu mengerikan. Bagaimana bisa kau menjitak kepala yang cedera.” Omelnya. Ia meraih sapu tanganku dan mengelap sendiri darah yang sedikit keluar dari pelipisnya.

“Namanya juga reflek! Mana aku tau akan begini jadinya.” Aku merengut kesal.

“Sekarang sudah tau kan akibatnya!”

“Kenapa jadi kau yang marah? Harusnya aku yang marah atas perbuatanmu tempo hari, Setan Mesum!”

“Ya! Namaku CHO KYUHYUN, bukan SETAN MESUM. Bukankah tadi kita berkenalan secara resmi?!!”

“Nama Cho kyuhyun itu terlalu bagus. Aku lebih suka memanggilmu namja mesum.”

Entah aku melakukan hal bodoh atau dia memang sedikit tidak waras? Kenapa ia jadi tersenyum misterius seperti itu?

“Wa…Waeyo?” tanyaku

“Jadi menurutmu nama cho kyuhyun itu sangat bagus? Aigooooo,,, Kau ini mau memujiku saja harus marah lebih dulu.” Ujarnya penuh percaya diri.

Hampir saja aku akan melayangkan jitakan di kepalanya kalau saja aku tidak ingat kepalanya sedang cedera. Alhasil aku hanya bisa mengepalkan tanganku dan berbalik. Segera pergi dari tenda ini bukan ide yang buruk.

“Hey, kau mau kemana? Bukankah kau mau menjelaskan tentang tugas kita besok padaku?”

Aku berhenti sejenak tanpa berbalik.

“Tanya saja pada teman setendamu. Tugasnya sama antar kelompok. Jadi aku tidak perlu mengeluarkan energi lebih hanya untuk menjelaskannya padamu. Aku pergi!”

Kulangkahkan kakiku lagi. Namun sebuah tangan menarik lenganku. Dengan kasar aku berbalik menghadap tepat kearahnya.

Chuuu

Omona?

Belum sempat aku menoleh sepenuhnya, sesuatu yang lembut menempel tepat di pipiku. Bibirnya . Kedua mata kyuhyun sama melototnya dengan kedua mataku.

Terkejut. Buru-buru ia memundurkan kepalanya.

“Ini bukan salahku! Kau sendiri yang berbalik tiba-tiba!”

Tangan kirinya melindungi pelipisnya yang luka ketika tanganku akan memukulnya. Namun aku mengurungkan niatku setelah mendengar suara beberapa siswa yang semakin mendekat ke tempatnya.

“Aiiiiiiiissssssh! Jinja!” umpatku dan langsung pergi dari tempat itu.

To be Continue