Tags

, ,

 

regret

Bila mata telah terbuka
Hati mereguk sadarnya
Ribuan maaf yang terucap,
tak pernah cukup menebusnya
Tergulung menjadi satu kata
Regret…
————-

Aku bertanya pada rumput
Pernahkah kau merasa sakit saat kaki menginjakmu?
Rumput menjawab,
Tidak, karena angin akan menyapu rasa sakitnya…
Dan aku bertanya pada hatiku,
Bisakah kau seperti rumput yang tidak pernah mengeluh?
Ia menjawab,
Aku juga membutuhkan angin untuk menyapu rasa sakitnya…
————–

Rumah itu terlihat sederhana. Kebanyakan terbuat dari kayu. Khas rumah Jepang. Di dalam ruangan itu terdapat sebuah meja besar yang pendek dengan tatami sebagai alas tempat duduknya. Seorang wanita yang masih tampak cantik di usianya sekarang, mendesah pelan.
“Aku bisa mengerti kalau kau tidak bisa menerimaku… Rasanya menyakitkan melihat setiap penolakanmu. Tapi melihatmu melukai putriku, itu lebih menyakitkan.”
Namja itu menunduk. Dadanya terasa sesak. Ia tau perbuatannya sudah sangat keterlaluan.
“Dia memang bukan putri kandungku, tapi aku menyanyanginya. Dia yang menemaniku selama ini. setelah apa yang kau lakukan kepadanya, sekarang kau meminta untuk bertemu dengannya. Apa yang harus kulakukan? Apa kau harap aku akan memberikan senyuman dan mengijinkanmu bertemu dengannya?”
“Maafkan aku…” lirih Kyuhyun. Laki-laki itu menunduk. Tidak berani menatap mata wanita yang sudah berkali-kali disakitinya itu.
Kim Soo In mendesah pelan “Aku ingin menjadi eomma yang baik untukmu Kyuhyun ah… Aku tau, aku tidak akan pernah dapat menggantikan posisi eommamu, tapi setidaknya ijinkanlah aku untuk menggantikannya merawatmu. Apa itu salah?” tanyanya dengan wajah sendu “Aku tidak mengerti mengapa kau sangat membenci kami… Jika menikah dengan appamu adalah suatu kesalahan, aku mungkin tidak akan pernah melakukannya walaupun aku masih mencintainya hingga kini…”
“Aku membenci Appa!”
Soo In tertegun. Ia mendengar suara laki-laki di depannya itu bergetar.
“Appa tidak pernah memperhatikan eomma seperti dia memperhatikanmu. Bahkan saat eomma meninggal dia datang terlambat. Aku membencinya…”
Soo In menatap iba laki-laki di hadapannya. “Dia sudah tau kesalahannya Kyuhyun ah… Karena itu dia tidak ingin mengulanginya. Tidak bisakah kau memaafkannya? Dia sangat menyesal dan sedih melihatmu seperti ini…”
“Jika aku memaafkannya, apa aku boleh bertemu dengan Yoon Hye?” Kyuhyun menatap Soo In berharap. Ia benar-benar harus bertemu gadis itu.
“Kenapa kau begitu ingin menemuinya? Aku bisa menyampaikan permintaan maafmu untuknya. Dia sudah tidak tinggal lagi bersamaku. Seminggu yang lalu dia sudah menemukan orang tua kandungnya dan aku membiarkannya ikut dengan mereka.”
Kyuhyun menggeleng pelan “Aku akan mengatakannya dengan bibirku sendiri! Beritahu aku dimana dia berada.”
“Aku takut jiwanya akan terluka begitu melihatmu. Dia sangat terguncang Kyuhyun ah…”
“Ini alasanku untuk meminta bertemu dengannya,” Kyuhyun mengulurkan sebuah buku bersampul biru milik Yoon Hye pada Kim Soo In “Karena dia mencintaiku… Dan aku mencintainya…”
“Kau mengatakan bahwa kau mencintainya setelah kau melukainya?”
“Saat itu aku tidak sadar dengan apa yang kulakukan. Aku hanya marah pada diriku sendiri mengapa dia yang harus menjadi putrimu. Menjadi adik tiri yang harus kubenci. Aku marah karena aku sudah jatuh cinta sejak pertama kali melihatnya. Dan untuk menghilangkan perasaan itu, aku harus membencinya. Kalau saja sejak awal aku tau kalau dia bukan putri kandungmu…”
Kim Soo In memijat pelipisnya pelan. “Kembalilah ketika kau sudah menjadi orang yang bertanggung jawab. Selesaikan kuliahmu dan bantu appamu,” jawabnya dengan suara parau “Saat kau sudah dapat hidup di atas kakimu sendiri, aku akan memberitahumu dimana dia. Pulanglah, dan buat aku yakin akan keseriusanmu untuk mencintainya!”
***

Three years latter

“Kau melamun lagi!”
Gadis itu mengerjap pelan “Oh? Kapan kau datang??”
Namja china itu tersenyum sambil memakan buah apel dalam genggamannya “Aku tidak suka kau memikirkannya!”
“Bukan begitu… Aku hanya merindukan Kim Eomma…” Yoon Hye mendesah pelan sambil melanjutkan kegiatannya memotong tangkai bunga.
“Kau ingin pergi ke Jepang? Aku akan menemanimu,”
Gadis itu menggeleng pelan “Mungkin lain kali,” ia tersenyum kecil.
“Bagaimana toko bungamu?”
“Sangat baik. Besok aku harus pergi ke gereja. Mereka memesan mawar putih untuk menghias gereja yang akan dijadikan tempat peragaan gaun-gaun pengantin.”
“Aku akan membantumu!”
“Tidak perlu, bukankah sebagai direktur kau sangat sibuh huh?” senyum Yoon Hye.
“Xiao Ve… Aku ingin menemanimu, titik.”
“Aiishh… Neo jinja!!”
“Berhenti menggunakan bahasa yang tidak kumengerti!!”
“Haolaa…” [baiklah]
“Katakan saja padaku kalau kau ingin ke sana, aku pergi dulu!” laki-laki itu mengecup lembut kening Yoon Hye kemudian melangkah keluar dari toko itu.
Gadis itu masih menatap pintu kaca toko itu. Sudah tiga tahun, namun sepertinya ia masih belum dapat melupakan kenangan buruk itu. Membuatnya sering bermimpi buruk saat tidur. Keadaannya yang sekarang, belum cukup untuk membuatnya membuang semua masa lalunya. Ia lega sudah mendengarkan semua cerita tentang asal usulnya.
Ayahnya adalah orang China dan ibunya adalah orang Korea. Mereka mengalami kecelakaan saat liburan di Chungnam. Ibunya, meninggal dalam kecelakaan itu sementara ia terlempar ke dalam sungai dan menghilang. Ayahnya sempat mengalami depresi hingga akhirnya dia kembali ke negara China dan kemudian menikah lagi dengan seorang wanita yang sudah mempunyai seorang putra. Tan Han Geng. Laki-laki yang menjadi saudara tiri Yoon Hye. Laki-laki yang memberi Yoon Hye nama China ‘Xiao Ve’. Laki-laki yang baru saja datang ke toko Yoon Hye. [nama Xiao ve emang dikasih sama oppa vea, tapi dia bukan han gege heheheh…]
Meskipun ayah kandungnya memiliki hotel dan beberapa rumah makan bintang lima, Yoon Hye lebih memilih untuk membuka toko bunga. Melihat bunga-bunga yang indah membuat suasana hatinya lebih baik. Dan Han Geng sangat mendukungnya.
Gadis itu menghela nafas sejenak lalu mengalihkan pandangannya ke samping. Menatap jalan raya yang ramai. Dan detik itu juga jantungnya terasa berhenti. Sosok itu ada di sana, berdiri sambil menatapnya.
Yoon Hye berbalik dengan nafas berderu. Dadanya tiba-tiba saja terasa sesak. Tidak mungkin dia ada di sana. Kim Eomma sudah berjanji untuk tidak memberi tahu tempatnya berada. Lagipula, apa alasan laki-laki itu untuk datang menemuinya?! Tidak ada.
Yoon Hye menoleh lagi dengan jantung berdebar-debar. Tangannya mencengkeram guting yang dipegangnya dengan erat. Tidak ada. Sosok itu tidak ada di sana. Gadis itu tercenung. Apa ia baru saja berhalusinasi? Tiba-tiba saja hatinya merasa kosong. Ia tidak tau apa yang dirasakannya. Semuanya terasa kosong…
.
.
Kyuhyun termenung saat mobilnya meninggalkan tempat itu. Ia merasa lega melihat gadis itu baik-baik saja walaupun dari seberang jalan. Tiga tahun ia menunggu. Akhirnya Kim Eomma memberitahu dimana gadis itu berada setelah Kyuhyun menjadi orang yang berhasil. Menjadi pimpinan dari perusahaan di Korea yang bisa diandalkan. Kerja kerasnya, membuat Kim Eomma tidak dapat menolaknya. Tapi ia menyadari bahwa di dalam hatinya, ketakutan itu amat besar. Ia takut untuk bertemu dengan gadis itu. Takut bahwa gadis itu tidak akan bisa memaafkannya, takut bahwa gadis itu akan membencinya seumur hidup. Takut bahwa ia tidak punya harapan lagi.
“Kita akan kemana presedir?” tanya sekretarisnya.
“Kita ke hotel!” jawab Kyuhyun singkat. Ia sudah beberapa kali pergi ke negara ini untuk urusan bisnis, dan bahasa mandarinnya juga cukup bagus. Tapi tidak ia sama sekali tidak menyangka bahwa gadis itu ada di sini.
“Presedir, kita sudah sampai!”
Kyuhyun mengerjap pelan. Ia menghela nafas pendek lalu keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam lobi hotel diikuti sekretarisnya.
“Mr Cho??”
Laki-laki itu menghentikan langkahnya saat seseorang menyapanya. Ia menoleh dan mendapati seorang laki-laki China sedang tersenyum sambil berjalan ke arahnya.
“Ah, Mr. Tan, apa kabar?” balas Kyuhyun sambil berjabat tangan.
“Aku sangat baik. Senang sekali kau bersinggah di hotel kami. Apakah ada bisnis di sini?”
“Tidak… Aku kemari untuk menyelesaikan urusan pribadi.”
“Semoga kau nyaman di hotel kami. Aku ingin mengajakmu makan besok, tapi sayang sekali aku ada acara.”
“Tidak apa-apa. Aku juga ada urusan besok,”
“Baiklah, selamat beristirahat.”
“Terima kasih,”
Mereka berjabat tangan sekali lagi sebelum laki-laki yang dipanggil Mr. Tan itu melangkah pergi.
***

“Oppa, kau tidak perlu menemaniku.” Bisik Yoon Hye sambil melihat wanita-wanita yang berjalan memamerkan gaun-gaun pernikahan di dalam gereja itu.
“Sampai kapan kau akan memanggilku seperti itu?” dengus Han Geng tanpa menatap Yoon Hye.
“Selamanya aku akan memanggilmu Oppa karena aku tidak tinggal disana lagi!”
Han Geng mendesah pelan “Bagaimana bisa kau melepas semuanya kalau begitu terus?!”
Yoon Hye terdiam. Kata-kata Han Geng benar. Ia ingin membuang masa lalunya tapi entah mengapa sebagian hatinya tidak rela melepasnya.
“Gaun itu sangat cocok untukmu!”
“Huh?”
“Itu, yang dipakai si rambut ikal. Tidak terlalu banyak variasi dan tidak menjuntai di bagian bawahnya. Hanya ada variasi tali di lengan dan leher. Cocok sekali dengan karaktermu.”
“Ya, aku menyukainya…”
Beberapa jam berlalu. Acara itu sudah berakhir. Hanya tinggal beberapa orang yang mencoba gaun untuk berfoto di sana. Selain menampilkan rancangan-rancangan gaun pernikahan terbaik, tamu yang hadir juga berkesempatan untuk mencoba dan berfoto dengan gaun-gaun itu.
“Kau mau kemana?” tanya Han Geng saat adik tirinya itu akan melangkah pergi.
“Tentu saja pulang. Kasian Yi Tian dan Lili menjaga toko tanpaku.”
“Kau tidak ingin mencoba dulu?”
Yoon Hye menggeleng pelan.
“Tapi aku ingin mencoba!!” saut Han Geng cepat sambil menarik lengan Yoon Hye disertai protesan gadis itu.
.
.
Kyuhyun menatap gereja itu dengan heran. Tadi ia pergi ke toko bunga Yoon Hye tapi salah satu pegawainya bilang kalau Yoon Hye berada di tempat ini. Sedang apa gadis itu di sini? Ia sampai lupa bertanya karena cepat-cepat pergi tadi. Lak-laki itu melangkah pelan menaiki tangga menuju pintu gereja. Ia melihat ada beberapa orang yang sedang membereskan alat-alat di sana. Apa baru ada acara di gereja ini?
“Aku benar bukan? Kau terlihat sangat cantik.”
DEG
Tubuh Kyuhyun membeku. Ia melihat dengan jelas senyum gadis itu. Melihat dengan jelas laki-laki itu mengecup kening gadis itu. Laki-laki yang bertemu dengannya kemarin. Laki-laki yang dikenalnya sebagai pemilik hotel tempatnya menginap. Tan Han Geng. Laki-laki yang sekarang berdiri di depan gadisnya. Kim Yoon Hye.
“Pilihanmu tidak pernah salah,” gadis itu tersenyum lebar.
Ada rasa perih yang mendera saat melihat senyum itu. Senyum yang bukan untuknya. Ada sakit yang amat dalam melihat gadis itu memakai gaun pengantin tanpa ia di sampingnya. Apa sekarang ia sudah terlambat?? Air mata Kyuhyun perlahan jatuh. Laki-laki itu berbalik dan melangkah meninggalkan gereja dengan cepat. Dadanya terasa sesak. Seharusnya ia datang lebih awal. Seharusnya ia lebih keras berusaha.
Sekarang semuanya seolah sia-sia. Mungkin ini balasan untuknya. Balasan atas apa yang telah dilakukannya. Bukankah dulu ia memaksa agar gadis itu pergi dari hidupnya. Keinginannya sudah terkabul kini. Tapi mengapa ia merasakan sakit. Apa ia menyesal sekarang?
***

Hari yang sebelumnya gelap, mulai terlihat terang. Cahaya matahari mulai masuk ke dalam kamar hotel Kyuhyun. Entah berapa lama Kyuhyun duduk termenung di lantai bersandar pada ranjang itu. Berapa lama ia menyesali semuanya. Berapa lama waktu yang dihabiskannya untuk meredam rasa sakit. Semuanya akan tetap seperti ini. Tidak akan ada perubahan apapun. Apa yang harus dilakukannya? Apa ia harus kembali ke Korea seperti ini?
Tidak. Ia tidak bisa melakukannya. Ia harus menemui gadis itu dan berbicara apa yang ingin dibicarakannya. Meskipun semuanya terlambat, satu perbuatan bisa saja mengubah takdir. Setidaknya ia harus meminta maaf. Dengan cepat, laki-laki itu beranjak dari duduknya. Menyambar jas di lantai dan berjalan cepat keluar kamar. Menuju satu tempat dimana takdirnya dipertaruhkan.
.
.
“Ada seorang laki-laki kemari kemarin sore?”
“Mm, dia sangat tampaan…” jawab Lili sambil merangkai bunga Lili di dalam pot.
“Apa yang kalian bicarakan?”
“Oh, kau kemari?”
Han Geng tersenyum menghampiri Yoon Hye lalu mengecup keningnya “Aku punya kabar untukmu,”
“Apa itu?”
“Xia You akan pulang minggu ini!”
“Benarkah??” mata Yoon Hye berkilat senang “Aku sudah tidak sabar bertemu dengannya. Oppa, kapan kau akan menikah dengannya huh?”
“Aku bersiap melamarnya!!”
“Kyaaaaa….” Gadis itu menjerit bahagia sambil memeluk kakak tirinya itu “Selamat…”
“Ah, ini foto-foto kita kemarin. Sudah dikirim ke kantor tadi pagi!” Han Geng memberikan amplop coklat itu pada Yoon Hye “aku mau ke toilet dulu.”
“Mmm!” Yoon Hye mengangguk sambil membuka amplop coklat itu.
Bibir gadis itu tersenyum sambil melihat-lihat foto di dalamnya. Han Geng benar-benar tampan. Sangat cocok dengan Xia You, tunangannya. Gadis manis berambut lurus pendek lancip-lancip yang punya lesung pipi saat tersenyum.
“Yoon…”
DEG
Jantung Yoon Hye terasa berhenti berdetak. Semua sistim sarafnya terasa berhenti total. Suara itu… suara yang masih diingatnya hingga kini. Apa ia baru saja berhalusinasi lagi?
“Yoon ah…”
Yoon Hye tersentak dan langsung mengangkat wajah. Matanya melebar melihat sosok yang ada di hadapannya. Reflek, kakinya melangkah mundur hingga ia menabrak meja kerjanya, membuat beberapa foto dan vas bunga jatuh berantakan.
Sraaak…
Lembaran-lembaran foto itu jatuh ke lantai. Cho Kyuhyun menunduk, melihat lembaran-lembaran itu. Hatinya kembali berdenyut sakit. mereka terlihat sangat bahagia di dalam foto itu.
“C-cho ky-kyu-hyun…” bahkan dibutuhkan usaha yang begitu besar untuk menyembutkan satu nama itu.
“Aku datang Yoon…”
“Ba-bagaimana bisa?”
Air mata Yoon Hye jatuh jatuh. Perih itu meluap semua. Bayangan malam itu membanjiri otaknya.
“Maafkan aku…” lirih Kyuhyun “Aku tau aku sudah terlambat, tapi… aku akan tetap mengatakannya. Maafkan aku…”
BOUGH
“Oppa!!” pekik Yoon Hye saat han geng tiba-tiba melayangkan satu pukulan ke wajah Kyuhyun. Membuat laki-laki itu terjatuh.
“Ternyata kau orangnya?!” marah Han Geng “Kau yang membuat Xiao Ve mimpi buruk setiap malam. Kau yang membuat Xiao Ve trauma. Sekarang kau muncul lagi dihadapannya. Untuk apa? Untuk minta maaf?? Cih”
“Oppa hentikan…” isak Yoon Hye.
Kyuhyun mengusap darah di sudut bibirnya sambil berusaha berdiri “Aku ingin berbicara denganmu!”
“Oppa, tolong tinggalkan kami…” pinta Yoon Hye.
“Kau tau aku tidak akan melakukan itu,” desis Han Geng.
“Kumohon…”
“Aku akan menunggu diluar!” saut Han Geng dingin.
“Kalian juga!” pinta Yoon Hye pada Lili dan Yi Tian.
Suasana hening saat hanya ada mereka berdua. Tapi Yoon Hye tau, kakaknya dan dua pegawainya sedang melihat mereka dari luar dinding kaca toko.
“Apa yang ingin kau katakan?” kata Yoon Hye dingin.
“Maafkan aku…”
“Kau sudah mengatakannya. Aku sudah memaafkanmu. Sekarang pergilah!”
“Aku juga ingin mengembalikan ini!” Kyuhyun mengeluarkan sebuah buku bersampul biru dari dalam jaket panjangnya.
Yoon Hye tercekat melihat buku itu. Memang setelah kejadian malam itu, ia dan eommanya pergi dari rumah tanpa membawa apapun termasuk barang-barangnya.
“Terima kasih sudah meninggalkan buku ini untukku. Buku yang membuatku menyadari semuanya. Buku yang membuatku bertahan. Buku yang membuatku terus menyimpan harapan.”
Tangan Yoon Hye gemetar saat menerima buku itu. Air matanya terus mengalir jatuh.
“Seandainya saja aku tau lebih awal bahwa kau bukan putrinya…” lirih Kyuhyun “Butuh waktu bertahun-tahun untuk meyakinkan Kim Eomma agar memberitahu dimana keberadaanmu. Butuh usaha keras untuk mencapai posisiku saat ini. Dimana aku menjadi seorang laki-laki yang dapat memimpin anak buahnya dengan bijakdan bertanggung jawab seperti yang diminta Kim Eomma sebagai syaratnya. Pada akhirnya, ketika aku berdiri di hadapanmu saat ini, aku tidak lebih dari seorang pecundang.” air mata Kyuhyun jatuh. Dan ia tidak berniat menahannya.
“Pecundang yang awalnya bersikap egois. Menutup mata, telinga juga hati untuk menyadarinya. Mungkin saat ini aku sudah terlambat. Tapi setidaknya aku sudah berusaha hingga akhir. Berusaha hingga batas maksimal yang bisa kulakukan. Meskipun mau mengatakan bahwa kau memaafkanku, aku tau aku tidak akan pernah bisa menyembuhkan luka di hatimu. Mungkin itu adalah hukuman untukku. Melihatmu sakit, aku juga merasa sakit. Bahkan lebih. Menyadari fakta bahwa aku tidak bisa melakukan apapun untukmu. Melakukan untuk orang yang kucintai.”
Yoon Hye tertegun mendengarnya. Air matanya masih mengalir. Ia tidak tau harus berbuat apa. Hatinya kacau saat ini. Antara sakit dan lega. Apa yang sebenarnya ia rasakan ia tidak tau.
“Pecundang ini telah jatuh cinta kepadamu. Bahkan sejak pertama kali ia melihat ke dalam mata coklatmu. Karena ia mencintaimu, dan tau bahwa hubungan kalian tidak boleh, ia berusaha menolak kata hatinya. Karena ia mencintaimu, ia ingin bersikap egois untuk membencimu atas keadaannya. Keadaan dimana kau menjadi adik tirinya. Tapi semuanya itu salah bukan? Kau ternyata bukan adik tirinya. Itulah yang ingin kukatakan kepadamu. Bahwa pecundang seperti diriku, amat sangat mencintaimu…” lirih Kyuhyun.
“Maafkan aku sudah datang kembali ke dalam hidupmu… Setelah ini, aku tidak akan pernah muncul lagi di hadapanmu. Karena ini batas maksimal usaha yang kupunya.” Kyuhyun berbalik pelan. air matanya jatuh. Dengan berat hati ia melangkahkan kakinya untuk pergi.
“Setelah kau berkata panjang lebar seperti itu, kau akan pergi begitu saja?” saut Yoon Hye tiba-tiba.
Langkah kaki Kyuhyun terhenti. Laki-laki itu berbalik kembali menatap Yoon Hye.
“Apa kau tau seberapa besar luka yang kau berikan kepadaku??” tanya Yoon Hye “Kau sudah membaca buku harianku, kau pasti sudah tau kalau aku mencintaimu. Bukankah kau tau rasanya bagaimana dibenci oleh orang yang kau cintai?! Menyakitkan? Benar, seperti itu yang kurasakan kepadamu. Sekarang setelah kau berbicara panjang lebar padaku, kau akan pergi begitu saja? Bahkan tidak memberikanku kesempatan untuk memakimu? Marah atas sikapmu, dan mengeluarkan semuanya yang kupendam selama ini!
“Apa sekarang kau berfikir bahwa aku gadis pendendam?! Benar. Aku sangat dendam kepadamu karena aku amat sangat membencimu. Aku membenci dirimu yang sudah membuatku seperti ini.Setelah semuanya yang telah terjadi kau akan pergi menghilang begitu saja? Yaa, Cho Kyuhyun ssi, dimana rasa tanggung jawabmu? Kau bilang kau sudah berusaha keras menjadi orang yang bertanggung jawab, apa buktinya?”
“yoon…”
“Waeyo? Apa kau takut? Kau tidak ingin bertanggung jawab? Lalu apa artinya semua kata-katamu tadi? Kalau memang begitu, kau benar-benar seorang pecundang! Kau bilang batas maksimal usaha yang kau lakukan? Apa kau benar-benar sudah berusaha keras hingga akhir? Bagaimana bisa kau pergi begitu saja sebelum aku sempat menjawab? Jika kau benar-benar mencintaiku, sembuhkan lukaku…
Bahkan aku tidak bisa menyentuh laki-laki lain setelah kau menyentuhku. Apa kau ingin aku sendirian seumur hidupku? Mengapa kau begitu kejam kepadaku? Apa salahku padamu??”
“Katakan! Katakan apa yang harus kulakukan untuk menyembuhkanmu. Aku akan melakukan apapun untukkmu.”
“Apa kau yakin?”
“Ini termasuk usahaku!”
“Nikahi aku!”
DEG
“Yoon…”
“Waeyo? Apa kau keberatan?”
“Bu-bukankah kau sudah menikah?”
“Aku? Kapan?”
“Kemarin aku melihatmu di gereja, dan foto-foto itu…”
“Kau bodoh!! Apa setelah kejadian itu aku bisa menemukan orang lain dan hidup bahagia??”
“Lalu Tan Han Geng…”
“Dia kakak tiriku! Putra dari eomma tiriku yang sekarang. Istri ayah kandungku!”
Ada perasaan lega yang luar biasa mengisi rongga hati Kyuhyun. Laki-laki itu berjalan menghampiri Yoon Hye, menariknya dalam pelukan. Tidak ada kata-kata yang bisa dikeluarkannya saat ini. ia hanya benar-benar merasa lega.
SET
Yoon Hye melepaskan pelukan itu “Kau masih harus berusaha Tuan Cho. Buat aku percaya lagi padamu dan nikahi aku saat hari itu tiba. Hari dimana kau telah menyembuhkan lukaku.”
Greeep…
“Apapun. Apapun akan kulakukan. Aku mencintaimu Yoon ah… “
Yoon Hye mengangkat tangannya membalas pelukan itu dan membenamkan wajahnya di bahu kyuhyun “Terima kasih… Untuk segala usaha yang sudah kau lakukan untukku. Terima kasih…”

“Waaah… Mereka romantis sekali…” komentar Lili dengan mata berbinar menatap sepasang manusia yang sedang berpelukan di dalam toko bunga itu.
“Aku masih penasaran dengan apa yang mereka katakan. Kenapa mereka harus memakai bahasa Korea??” erang Yi Tian sebal.
Han Geng tersenyum tipis. Sepertinya masalah adiknya sudah selesai. Mungkin benar, Kyuhyun adalah racun bagi Yoon Hye. Tapi hanya laki-laki itu juga yang bisa menjadi penawarnya. Ia berharap, di hari selanjutnya, tidak akan pernah ada penyesalan lagi…

FIN