Tags

, ,

blue pearl

 

‘Aku melihat salju yang begitu dingin, namun indah…’

‘Setelah salju, aku melihat hujan. Membasahi, sekaligus menenangkan…’

———————

Spring, Agustus 2000

Sebuah mobil meluncur melewati gerbang, meninggalkan rumah besar dibelakangnya. Ada seorang wanita duduk di dalamnya. Ia terlihat cantik diusianya yang sudah tidak muda lagi. Lengannya sedang memeluk seorang gadis muda berumur dua belas tahun yang dengan manja menyandarkan kepalanya pada bahu wanita itu.

Lee Eun Soo dan putrinya, Kim Soo In sedang ada dalam perjalanan menuju super market. Hari ini Kim Jang Woo, suaminya akan pulang dari Jepang. Karena itu ia ingin memasak sendiri makan malam untuk keluarganya nanti.

“Soo ya, apa kau tau kenapa eomma memberikan gelang blue pearl itu saat ulang tahunmu kemarin?”

“Aniyo,”

“Halmoni mengatakan kepada eomma kalau ada mitos dalam mutiara itu. Kau lihat, bukankah itu hanya separuh?! Halmonie bilang, siapapun yang membawa separuh dari dari mutiara itu, itu artinya dia adalah belahan jiwamu.”

“Jeongmal? Apa separuh dari mutiara ini sudah ditemukan?”

“Sampai saat ini belum pernah. Mungkin suatu hari nanti kau yang akan menemukannya,” Eun Soo tersenyum mengusap kepala putrinya dengan sayang.

Ckiiiiiiiittt….

Mobil itu berhenti mendadak. Membuat Eun Soo dan Soo In yang duduk di belakang hampir saja membentur kursi di depannya.

“Lee Ajhusi, waeyo?” tanya Eun Soo khawatir.

“Ada yang menghalangi jalan kita nyonya,”

Beberapa orang berpakaian jas hitam keluar dari mobil yang memotong jalan mobil Eun Soo. Mereka berjalan menghampiri dan mengetuk kaca jendela mobil.

Eun Soo memeluk Soo In erat-erat sementara Lee Ajhusi gemetaran. “A-apa yang harus kita lakukan nyonya??” tanyanya gugup.

Eun Soo tidak menjawab. Matanya memancarkan ketakutan yang luar biasa.

“YAA buka pintunya!!” teriak orang-orang itu dari luar.

PRAAANG

“Aaaaaakkhh….”

Kaca jendela mobil itu pecah berkeping-keping. Seseorang membuka paksa pintu dan menarik Lee ajhUsi keluar.

“Eommaaa …” Soo In menangis ketakutan dalam dekapan Eun Soo.

Pintu disamping mereka terbuka. Seseorang menarik paksa lengan Eun Soo untuk keluar.

“Kau istri Kim Jang Woo?”

“Siapa kalian??” tanya Eun Soo.

“Yaa, aku bertanya kepadamu!” bentak orang itu sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jasnya. Pisau lipat.

“Ma-mau apa kalian??”

“Jawab saja pertanyaanku! Apa kau istri Kim Jang Woo?”

“Aku tidak mengenalnya!!”

“Kau berbohong padaku?”

“To-tolong lepaskan kami…” pinta Lee Ajhusi.

“Jawab pertanyaanku dengan benar, apa kau istrinya? Kalau kau berbohong, aku akan membunuhnya!” pria itu menarik Lee Ajhusi lalu menempelkan pisau lipat itu ke lehernya.

Eun Soo memeluk soo in yang terus menangis dengan erat.

“Apa kau istrinya?”

Eun Soo menutup mulutnya rapat-rapat. Matanya menatap takut sekaligus marah.

“Ternyata kau menginginkannya untuk ma_”

“Benar!!” potongnya dengan lantang “Aku adalah istrinya!!”

“Kalau begitu kau yang harus mati!!”

“Nyonya!!”

Jleb

“Ajhusii!!!”

Sopir keluarga itu memegang perutnya yang mengeluarkan darah. Tubuhnya perlahan merosot ke tanah.

“Kalian berengsek!!” Eun Soo mendorong orang itu dengan kuat, air matanya mengalir.

“Karena suamimu, anakku terlambat untuk dioperasi. Sekarang dia meninggal. Dan dia harus membayar perbuatannya dengan nyawamu!” pria itu mengulurkan tangannya dan salah satu anak buahnya memberikan pistol. “Aku tidak punya pilihan lain!”

DOOR!!

“EOMMAAAA…”

.

.

“DASAR BODOH!!”

BOUGH

“Sudah kubilang untuk mengawal mereka kemanapun mereka pergi!!”

“Maaf tuan besar, Nyonya pergi tanpa sepengetahuan saya,” pria beruban itu membungkuk meminta maaf.

“Bagaimana bisa kau tidak tau?! Bagaimana bisa kau dipercaya untuk menjadi kepala keamanan kalau menjaga dua orang wanita saja tidak bisa?!!”

“Maaf Tuan, saya benar-benar minta maaf…”

Kim Jang Woo memijat keningnya pelan, “Bawa dia!!” perintahnya.

“Tuan maafkan saya Tuan… Saya benar-benar menyesal…” pria beruban itu berlutut memohon ampun saat dua orang bodyguard mencekal lengannya.

“Permintaan maafmu tidak bisa mengembalikan istriku!” jawab Kim Jang Woo dingin.

“Andwae!! Kumohon maafkan sayaTuan… Sayabersedia melakukan apapun asal jangan membunuhku… Kumohon…”

“Bawa dia!!”

Teriakan permohonan belas kasihan menggema dalam rumah besar itu. Kim Soo In menangis sambil memeluk boneka beruang putihnya. Gadis itu duduk disudut ruangan kosong disamping foto hitam putih ibunya. Tanpa disadarinya, perasaan benci itu tumbuh secara perlahan.

***

Winter, Desember 2010

Gadis itu berjalan pelan menyusuri jalan yang tertutup salju. Udara disekitarnya begitu dingin. Ia baru saja pulang dari perpustakaan umum Seoul. sebelah tangannya menjinjing sebuah tas plastik berisi beberapa buku sementara yang lainnya dimasukkan ke dalam saku jaket panjangnya. Baru disadarinya bahwa disetiap deretan toko terpasang ornamen-ornamen natal. Ah… Sebentar lagi hari natal. Langkahnya terhenti saat matanya tanpa sengaja menatap sebuah keluarga yang tengah menikmati makan malam mereka disebuah rumah makan melalui kaca jendelanya yang besar. Tiba-tiba saja ia merasa bagian dalam tubuhnya menggigil. Sekalipun ia tidak pernah mengalami hal itu. gadis itu memalingkan wajah dan melanjutkan langkahnya dengan cepat sebelum air matanya jatuh.

Kim Soo In, gadis dua puluh dua tahun itu kini bukan lagi bernama Kim Soo In. Melainkan Kim Yoon Hye. Hatinya berharap dengan merubah nama, ia bisa merubah kehidupannya. Menjadi seorang Kim Yoon Hye. Bukan Kim Soo In. Tapi sebanyak apapun merubah nama, jiwa itu masih sama. Masih tetap putri seorang Kim Jang Woo. Salah satu mafia besar di Korea Selatan.

Sejak masuk junior highschool, gadis itu tidak pernah punya teman. Semua menjauhinya hanya karena ia anak seorang mafia. Kemana-mana ada yang mengawal. Satu-satunya teman yang ia miliki hanyalah ibunya. Seorang wanita yang melahirkannya. Tapi itupun tidak bertahan lama. Kenangan itu terlalu buruk untuk diingat lagi. Tapi tetap tidak bisa dilupakannya.

Ia membenci Kim Jang Woo. Dulu mungkin ia masih terlalu lugu dan polos, tapi semakin bertambah usia dan pemikiran, ia dapat memahami apa sebenarnya pekerjaan sang appa. Ia juga tau apa yang menyebabkan orang itu membunuh eommanya.

Lee Sung Joo, pria itu meminjam uang kepada Kim Jang Woo. Dan dia tidak bisa mengembalikannya saat waktunya tiba karena putranya yang menderita tumor otak tiba-tiba saja kambuh dan harus dioperasi. Tapi Kim Jang Woo tidak mau tau. Dalam dunia mafia, janji adalah janji. Kalau tidak dapat memenuhinya, nyawa menjadi taruhannya. Putra pria itu meninggal sebelum bisa dioperasi. Membuat Lee Sung Joo memendam dendam dan membalasnya dengan membunuh eommanya.

Ia membenci pekerjaan appanya. Karena appanya, eommanya terbunuh. Karena appanya ia tidak memiliki teman. Karena appanya, ia harus diikuti bodyguard. Karena appanya, ia tidak bisa memiliki kehidupan yang normal. Sampai ia masuk senior highschool, Soo In memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah dan merubah namanya. Ia menyimpan uang tabungannya untuk keperluan sekolah dan bekerja paruh waktu di restauran ayam Han Ajhuma tempatnya menyewa kamar untuk tinggal. Ia tau Kim Jang Woo menyayanginya hingga tidak mampu menghalangi keinginannya untuk pergi dari rumah. Tapi ia sudah muak hidup dalam lingkaran itu.

Hingga saat ini gadis itu hidup sendiri. Ia kuliah di Kyunghee University karena mendapatkan beasiswa di sana. Identitas aslinya tersembunyi rapat. Tidak ada seorang pun yang tau bahwa ia adalah Kim Soo In. Putri satu-satunya Kim Jang Woo, mafia Korea Selatan. Yang mereka kenal adalah Kim Yoon Hye, gadis sebatang kara yang tidak tau siapa orang tuanya karena sejak kecil tinggal dipanti asuhan.

Bruuuuk…

“Ah, jeosonghamnida…Aku tidak sengaja,” laki-laki dalam balutan sweter abu-abu itu memungut tas Yoon Hye yang terjatuh ketika ia menabraknya.

Yoon Hye mengangguk pelan, menerima tasnya lalu kembali melangkah.

“Cogiyo!!”

Gadis itu berhenti lalu menoleh kebelakang. Menatap laki-laki yang sekarang menghampirinya.

“Bukumu tertinggal. Lain kali jangan berjalan sambil melamun,” senyumnya “Atau kau akan menabrak orang lagi nanti.”

Yoon Hye mengerutkan keningnya. Bukankah tadi laki-laki dihadapannya ini yang tidak sengaja… Oh… Ia sadar sekarang, “Jeoseonghamnida…” ucapnya sambil membungkuk setelah menyadari kalau sebenarnya ia yang menabrak dan laki-laki itu hanya menegurnya dengan halus.

“Kim Yoon Hye ssi!”

Yoon Hye mengerutkan keningnya bingung. Darimana laki-laki ini tau namanya?

“Tertulis di bukumu…” tambah laki-laki itu menjelaskan, seolah tadi ia membaca pikiran gadis itu. “Sampai jumpa lagi,” senyumnya lalu membungkuk sejenak sebelum melangkah pergi.

Yoon Hye masih menatap sosoknya yang perlahan menjauh. Lalu dibukanya buku dalam genggamannya. Matanya menangkap sederet tulisan yang sebelumnya tidak pernah ada.

‘Aku melihat salju yang begitu dingin, namun indah…’

Matanya kembali pada sosok yang semakin jauh itu. Perlahan, butiran es itu jatuh melayang-layang di udara. Terasa dingin, namun sekaligus indah…

***

“Dia tampan sekali Yoon ah…”

Gadis manis berambut hitam lurus sebahu itu tengah mengaduk-aduk minumannya tidak jelas. Tatapannya menerawang dan bibirnya tidak berhenti tersenyum sambil menceritakan kejadian tadi saat ia bertabrakan dengan Lee Donghae.

Yoon Hye tersenyum melihat satu-satunya teman yang ia punya di universitas itu. Lee Rae Ki adalah gadis yang baik. Dia tidak pernah bersikap sombong. Meskipun saat ini Yoon Hye bisa berteman dengan siapapun, gadis itu tetap menahan diri. Ia masih sadar siapa ia sebenarnya. Dan ia tidak ingin membuat masalah dengan hal-hal yang tidak perlu. Kehidupan saat ini, baginya lebih dari cukup.

“Setiap siswa jurusan tari kau bilang tampan Rae Ki ya…”

“Tapi dia berbeda…” bela Rae Ki.

Yoon Hye menghentikan kegiatannya memeriksa tugas. Gadis itu menatap temannya lalu memajukan sedikit tubuhnya. “Apa yang membuatmu berfikir kalau dia berbeda hmm…?”

Rae Ki mengerutkan keningnya, berfikir. Itu pertanyaan sederhana tapi kenapa sulit sekali untuk menjawabnya.

“Dia tampan…”

“Sebelumnya juga tampan. Tidak ada yang mengatakan Choi Siwon dan Kim Jong Woon itu jelek Rae Ki ya…”

“Dia baik!” saut Rae Ki cepat.

“Sebelumnya kau juga mengatakan kalau mereka baik,”

“Eng… Itu…”

Yoon Hye tersenyum, “Kau tidak akan tau sebelum kau mengenalnya Rae ya… Jangan terburu-buru. Kenali dia, dan kau bisa memutuskan apakah dia berbeda atau samaseperti yang lainnya…”

“………”

“………”

“Waoo…” Rae Ki ikut memajukan tubuhnya, “Yoon ah, kau tau kenapa aku suka berteman denganmu?”

“Karena aku tidak seperti gadis-gadis centil lainnya, jadi kau tidak perlu merasa takut untuk tersaingi olehku. Kau sudah mengatakan itu ratusan kali,” jawab Yoon Hye acuh.

Rae Ki tertawa pelan, “Aniyo… Sekarang aku punya tambahan. Karena aku merasa nyaman berada disisimu.”

“Kalau begitu kau harus mencari namja yang sepertiku. Yang bisa membuatmu nyaman berada di sisinya. Haruskah aku membantumu untuk masuk ke club tari?!” goda Yoon Hye. Ia kenal betul temannya itu akan mengikuti club yang diambil oleh namja yang disukainya.

“Yaa! Aku tidak bilang ingin masuk ke club itu,” gerutu Rae Ki.

Yoon Hye tertawa kecil, “Cepat atau lambat kau akan melakukannya.”

“Seperti yang kau bilang, aku harus mengenalnya dengan baik,”

Gadis itu tersenyum, pandangannya beralih ke sebuah buku. Dibukanya buku itu lalu dibacanya lagi sebaris kalimat yang tertulis disana.

.

.

Kim Yoon Hye mengalihkan pandangannya dari whiteboard di depan sana yang sudah ditatapnya selama satu jam lebih. Ia memandang hujan dari kaca jendela besar di sisi kirinya yang ada di ruangan itu. Ah… Ia suka hujan. Suara hujan bisa membuatnya lebih tenang.

“Materi hari ini sampai di sini, kalian dapat mengumpulkan tugas minggu lalu pada asisten baruku yang ada di belakang sana,” suara seongsaengnim yang sudah berusia lebih dari lima puluh tahun itu menggema dalam ruang kelas yang besar itu.

Sontak seluruh siswa menoleh kebelakang dan melihat seorang namja berkaca mata dalam balutan sweter rajutan coklat muda dengan syal abu-abu berdiri dari duduknya lalu membungkuk untuk menyapa semua yang ada di sana.

“Cho Kyuhyun ssi, tolong periksa semua tugas-tugas itu dan letakkan laporannya di mejaku!” pinta Kang Seongsaengnim sebelum meninggalkan kelas.

Semua siswa mulai beranjak dari tempatnya untuk menyerahkan laporan sementara Yoon Hye masih menatap hujan di luar sana. Ia terbiasa menjadi yang paling akhir dan tidak suka terburu-buru. Setelah dirasa kelas sudah sepi, gadis itu beranjak dari duduknya lalu menghampiri asisten seongsaengnim yang duduk di baris paling belakang.

“Apa hujan itu lebih menarik dibandingkan orang baru sepertiku, Kim Yoon Hye ssi…?” tanya laki-laki itu saat menerima tugas yang diulurkan Yoon Hye.

Gadis itu mengerutkan keningnya. Ia menatap laki-laki yang sedang menunduk memeriksa tugasnya itu dengan bingung. Tiba-tiba saja laki-laki itu mengangkat wajah. Dan saat itulah Yoon Hye menyadarinya kalau laki-laki yang ada dihadapannya saat ini sama dengan laki-laki yang ditabraknya beberapa hari yang lalu. Sejenak tubuhnya hanya bisa mematung.

Kyuhyun beranjak dari duduknya. Tersenyum menatap Yoon Hye, “Cho Kyuhyun imnida. Senang bertemu denganmu lagi Yoon Hye ssi…”

***

“Apakah benar dia tampan?” tanya Rae Ki semangat saat mereka berjalan pelan menyusuri koridor menuju perpustakaan.

“Kau menyesal tidak mengikuti materi Kang seongsaengnim minggu lalu?”

“Tentu saja… Haiish… Kenapa maghku harus kambuh saat itu…”

“Sebentar lagi kau bisa melihatnya, jadi jangan memasang wajah menyedihkan seperti itu!”

“Aku sudah tidak sabar…”

“Jadi… Kau sudah tidak menyukai Lee Donghae lagi?”

“Yaa, aku tidak mengatakan seperti itu… Aku masih mencari tau tentangnya,”

Yoon Hye tertawa kecil, “Kenapa kau tidak mencoba berkenalan dengannya kalau ingin mengenalnya lebih?”

“Aku terlalu malu untuk melakukannya Yoon ah… Kali ini berbeda… Namja itu cepat sekali menghilang dan muncul mendadak. Saat kau memperhatikannya lalu mengalihkan pandanganmu ke lain tempat, aku berani bertaruh Lee Donghae sudah tidak ada di tempatnya lagi. Tapi saat kau sedang mencari-carinya, ia bisa saja muncul tiba-tiba di sampingmu.”

“Kedengarannya sangat menarik…”

“Ya… Aku sendiri sering bertanya-tanya. Kenapa harus LEE DONGHAE?!”

“Memangnya kenapa kalauLee Donghae??”

Sontak kedua gadis itu langsung berhenti melangkah. Rae Ki yakin, kalimat terakhir itu tadi bukan suara Yoon Hye dan Yoon Hye juga yakin kalau kalimat terakhir itu adalah suara namja. Kedua gadis itu perlahan menoleh kebelakang dan terkejut mendapati seorang namja bertopi hitam yang memakai kaos putih berlapi hodie hitam yang chic, celana longgar tiga per empat dan sepatu kets putih.

“Le-Lee Dong-Hae ssi…” panggil Rae Ki dengan suara tersendat. Matanya masih terbelak menatap namja itu.

“Anyeong haseo, kita bertemu lagi,” sapanya pada Rae Ki, “Kalian keberatan kalau aku berjalan lebih dulu?”

“Aniyo… Silahkan,” jawab Yoon Hye sambil memundurkan tubuhnya. Memberi jalan pada namja tampan itu.

“Sampai jumpa,” senyum Donghae sebelum laki-laki itu berjalan melewati mereka.

“Aigoo… Eotokehhh???” jerit Rae Ki panik sambil mendekap kepalanya sendiri.

Yoon Hye tertawa geli, “Kurasa kau mengenalnya dengan baik Rae ya. Lee Donghae memang bisa muncul secara tiba-tiba.”

.

.

“Anyeong haseo…” sapa seorang laki-laki berkaca mata yang saat ini berdiri di belakang podium tempat seongsaengnim mengajar seperti biasanya.

“Omo… Dia tampan sekali…” jerit Rae Ki tertahan saat melihat laki-laki itu.

Yoon Hye hanya tersenyum sambil mendengus pelan melihat temannya itu.

“Kang seongsaengnim akan sedikit terlambat. Jadi sementara menunggunya, aku akan membagikan tugas yang kalian kumpulkan minggu lalu.” Cho kyuhyun mulai memanggil nama siswa satu per satu sambil menyerahkan lembaran kertas itu. “Dan yang terakhir… Kim Yoon Hye ssi!”

Gadis itu beranjak dari bangkunya lalu berjalan menuju tempat Kyuhyun. Laki-laki itu tersenyum sambil mengulurkan sebuah kertas kepadanya. Yoon Hye menatap kertas itu dan lagi-lagi tertegun mendapati sebaris kalimat di bagian kosong kertas itu paling bawah.

‘Setelah salju, aku melihat hujan. Membasahi, sekaligus menenangkan…’

To be continue…

Advertisements