Love need Money

cast :
– Kim Yoon Hye
– Cho Kyuhyun
– Lee Hyuk Jae

‘Cinta maupun ketulusan tetap membutuhkan uang…’

—————

‘Nomor yang anda tuju sedang sibuk atau berada diluar service area…’

 

Gadis itu menghembuskan nafas lelah. Ia menatap ponselnya dengan murung. Sudah dua hari ini kekasihnya, Lee Hyuk Jae tidak dapat dihubungi. Akhir-akhir ini laki-laki itu memang sedikit aneh. Tidak pernah menjawab panggilan teleponnya dan sulit sekali ditemui. Ada apa sebenarnya?!

Kim Yoon Hye memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas sambil menghela nafas pelan. Gadis dua puluh empat tahun itu meraih jaket coklatnya lalu beranjak dari duduk setelah mematikan komputer.

“Rae ya, aku pulang dulu! anyeong!!”

“Ne, hati-hati!!” saut seorang gadis berambut lurus pendek dari sebelah tempatnya. Lee Rae Ki, teman satu kantornya.

Musim gugur akan segera berakhir dan musim dingin akan datang. Cuaca menjadi lebih dingin akhir-akhir ini. Gadis itu menatap sebuah pintu pagar yang terbuat dari kayu sambil sesekali menggosok-gosok tangannya karena dingin. Ditekannya bell disamping pintu pagar tapi tidak ada respon sama sekali. Hari sudah malam dan ia ingin menyelesaikan urusan secepatnya.

Ditekannya lagi bell rumah itu tapi tetap saja tidak ada balasan. Dengan raut wajah muram, ia kembali melangkah meninggalkan rumah itu.

“Oppa… Odiga…?” gumamnya pelan.

***

Kamar itu tampak hangat dengan lampu berwarna oranye yang menerangi. Semua perabotnya perpaduan warna putih dan coklat yang sederhana. Kim Yoon Hye sedang duduk di depan meja tulisnya dengan sebuah kotak musik yang terbuka di depannya. Sebuah lagu mengalun lembut dari benda itu. hadiah ulang tahunnya dari Lee Hyuk Jae beberapa tahun lalu. Tangan gadis itu membelai daun-daun dari pot tanaman kecil yang ada di mejanya. Pemberian Hyuk Jae juga.

‘Yoon ah… jika tanaman ini tetap tumbuh, itu artinya cintaku untukmu juga akan tetap tumbuh. Karena itu kau harus merawatnya dengan baik agar tetap tumbuh. Arachi?’

 

Sudah sepuluh tahun mereka berpacaran, tapi Yoon Hye tidak pernah merasa sejauh ini dengan laki-laki itu. Lee Hyuk Jae adalah seorang reporter berita yang sering bertugas di luar kota. Tapi tidak pernah sekalipun laki-laki itu lupa memberitahukan tentang keberadaannya. Tapi sekarang sudah beberapa hari tidak ada kabar tentangnya. Ia seperti orang bodoh yang tidak tau apa-apa. Laki-laki itu lebih sering membatalkan janjinya, juga jarang bisa dihubungi.

Lee Hyuk Jae, adalah satu-satunya orang yang dipercayai Yoon Hye. Gadis itu dari kecil sudah tinggal di panti asuhan. Alasan eomma kandungnya menitipkan ia ke panti asuhan adalah karena tidak mampu untuk merawatnya. Ia pernah mencari eommanya tapi orang-orang bilang wanita itu sudah meninggal karena sakit dan tidak mampu pergi ke rumah sakit.

Kim Yoon Hye gadis yang pintar. Ia masuk kuliah karena mendapatkan beasiswa dan bekerja sampingan untuk hidup. Setelah lulus senior highschool, ia meninggalkan panti dan mencoba hidup sendiri. Tidak benar-benar sendiri sebenarnya karena ia masih punya laki-laki itu. Karena itu sekarang ia merasa begitu takut saat tidak tau apa-apa tentang Hyuk Jae.

“Oppa waegeure…?” gumam Yoon Hye pelan.

***

‘Kau mencari Lee Hyuk Jae?’

 

‘Ne, apa dia ada saat ini?’

‘Dia sudah tidak bekerja sejak seminggu yang lalu. Perusahaan juga sedang mencarinya, agashi. Dia masih berhutang empat puluh juta won pada perusahaan.’

‘Mwo?’

Yoon Hye melangkah dengan gamang melewati pinggir jalan itu. apa benar yang dikatakan orang itu. empat puluh juta won? Untuk apa uang sebanyak itu? Apa yang sebenarnya terjadi? Mendapati kenyataan bahwa Yoon Hye tidak tau apa-apa, membuat gadis itu frustasi.

“Oppa…” panggil Yoon Hye saat melihat sosok itu dari seberang jalan.

Seperti tersentak, gadis itu langsung berlari untuk menyusulnya.

“OPPA!!! HYUKIE OPPA!!!”

TIIIIIIINNN…..

Yoon Hye tersentak kaget hingga otomatis memundurkan langkahnya. Lampu sudah berubah menjadi hijau. Mobil-mobil kembali berjalan.

“OPPAAA!!!”

Gadis itu hanya bisa menatap gelisah. Ia tidak bisa menyeberang dan Hyuk Jae tidak mendengar panggilannya. Air matanya mulai jatuh hingga akhirnya ia berjongkok sambil menangis di pinggir jalan. Ada apa sebenarnya…?

***

“Yaa, kenapa kau hanya mengaduk-aduk makanmu? Apa kau ada masalah?” tanya Rae Ki heran. Tidak biasanya temannya itu terlihat muram. Sekalipun ditinggal kekasihnya untuk bertugas.

“Rae Ki ya… aku_”

Dering ponsel itu memotong kalimat Yoon Hye. Gadis itu mengambil ponsel dari dalam tasnya dan langsung menempelkannya ke telinga setelah melihat siapa yang meneleponnya.

“Oppa??”

“Yoon ah… Ini aku… Bisa kita bertemu sebentar?”

“Oddiga…?”

.

.

Udara malam itu tampak dingin. Yoon Hye berlari begitu ia turun dari bus. Tidak lama, ia sudah sampai di taman itu. taman bermain disebelah bangunan sekolah taman kanak-kanak. Tempat favoritenya dan hyuk jae menghabiskan waktu bersama saat senggang.

“Oppa???” teriaknya ketika tidak melihat satu orang pun di sana, “Oppa oddiga???”

Gadis itu berjalan sambil menatap sekeliling taman. Tapi ia tidak melihat seseorang pun di sana. Tiba-tiba matanya menatap sebuah kotak di atas salah satu ayunan yang ada di sana. Yoon Hye menghampiri kotak itu dan membukanya. Ada berbagai macam barang dalam kotak itu. Barang yang pernah diberikannya pada Lee Hyuk Jae.

Sepasang sarung tangan dan topi berwarna biru yang dirajutnya sendiri sebagai hadiah natal. Gelang karet warna hitam, gantungan ponsel yang sama dengan miliknya, dan semua barang-barang yang pernah diberikannya pada Hyuk Jae. Gadis itu menatap tidak mengerti. Tangannya mengambil sepucuk surat diantara barang-barang itu.

Untuk Kim Yoon Hye yang kucintai…

Maafkan aku karena melakukan ini kepadamu. Aku memang pengecut. Aku lebih dari seorang pengecut karena tidak berani bertemu langsung denganmu. Aku sudah tidak pantas lagi untuk berada di sisimu Yoon ah… Maafkan aku…

Lupakan aku… Hiduplah dengan baik tanpaku. Dan aku pun akan melupakanmu. Aku bukanlah Lee Hyuk Jae yang kau kenal lagi. Aku orang lain yang hanya akan menjadi bebanmu jika kita terus bersama. Jangan mencariku. Berjanjilah untuk hidup dengan baik. Aku mencintaimu…

Lee hyuk jae.

Dua bulir air mata jatuh ke atas surat itu. Mengaburkan tulisannya.

“Oppa waeyo…?” lirih Yoon Hye “Kenapa kau lakukan ini padaku???” teriak Yoon Hye sambil terisak.

Tanpa bertemu. Tanpa menjelaskan apapun. Apakah adil jika Yoon Hye menerima begitu saja semua hal ini. Kenapa meminta berpisah? Apakah hubungan sepuluh tahun ini tidak ada artinya? Gadis itu merasa terluka. Bingung sekaligus tidak mengerti.

Di sisi lain. Dibalik pohon tak jauh dari tempat gadis itu berada. Seorang laki-laki tampak sedang membekap mulutnya. Menahan isaknya agar tidak keluar dengan berjuta permohonan maaf dalam hatinya.

***

Kim Yoon Hye tampak sedang membongkar barang-barangnya. Ia yakin pernah menyimpan benda itu. Dibukanya semua laci dan rak-rak. Akhirnya ditemukannya benda itu di dalam kotak di laci lemari pakaiannya. Kunci rumah Lee Hyuk Jae. Laki-laki itu pernah memberikan duplikatnya pada Yoon Hye dulu saat pertama kali dia tinggal di rumah itu.

Yoon Hye menyambar jaket dan tasnya lalu keluar dari rumah tanpa membereskan barang-barangnya lebih dulu. Ia harus bertemu dengan laki-laki itu. harus mendengar sendiri dari bibirnya. Bagaimana ia bisa paham jika tidak ada penjelasan apapun?!

Dua puluh menit kemudian Yoon Hye sudah ada di depan pintu kayu rumah Hyuk Jae. Dibukanya pintu itu lalu melihat sekelilingnya sebelum masuk rumah. Pot tanaman-tanaman yang mereka rawat bersama masih tumbuh dengan baik di depan rumah sederhana itu. Yoon Hye melangkah pelan menuju pintu rumah berwarna abu-abu itu. Baru saja tangannya akan meraih handle pintu, ia mendengar pintu pagar kayu dibuka.

Mata mereka bertemu.

“Oppa…”

Laki-laki itu terdiam menatap Yoon Hye. Sampai gadis itu menghampirinya, ia masih belum mengeluarkan suara apapun.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Yoon Hye dengan suara parau. Matanya panas ingin menangis. Tapi ia harus menahannya. “Kau terlihat kurus, apa kau makan dengan baik? Matamu juga sedikit bengkak, kau tidak tidur saat malam?”

“Bukankah sudah kubilang untuk tidak mencariku?”

“Kau sudah makan? Ayo kita makan sama-sama!”

“Yoon ah…”

“Apa kau lupa? Ini hari ulang tahuku. Sudah lama sekali kita tidak bertemu, kita makan bersama untuk merayakannya bagaimana?”

“Berhenti mengacuhkanku!!”

“Kau yang mengacuhkanku!!!” teriak Yoon Hye. Air mata gadis itu jatuh, “Waeyo? Kenapa kau melakukan ini padaku? Bahkan dihari ulang tahunku…”

Lee Hyuk Jae menatap gadis di depannya itu dengan tubuh gemetar. Dalam hati ia berteriak memohon untuk jangan menangis. Dengan cepat ia berbalik dan meraih handle pintu kayu tapi Yoon Hye menahan lengannya. Menyentaknya kembali untuk menghadap ke arahnya.

“Kenapa tidak menjawab??” tuntut gadis itu.

“Pulanglah!”

“Kau tidak punya hak untuk menyuruhku pulang!! Kau juga tidak berhak untuk menyuruhku melupakanmu. Kenapa kau lakukan ini kepadaku? Oppa… Jawab aku!!”

Hyuk Jae memalingkan wajahnya agar Yoon Hye tidak melihat air mata yang mengalir di pipinya. Sungguh ia tidak ingin meninggalkan gadis itu. Tapi keadaannya saat ini tidak sama lagi seperti yang dulu.

“Kumohon pergilah…”

Gadis itu menggeleng, “Andwae!” tolaknya, “Aku sama sekali tidak mengerti… Tiba-tiba saja kau meninggalkanku. Memutuskanku tanpa berkata apa-apa. Bagaimana aku bisa memahami perbuatanmu jika aku tidak tau apa-apa? Sepuluh tahun Oppa… Selama itu kita bersama. Kau tau bagaimana aku. Aku juga tau bagaimana dirimu. Tapi kali ini aku tidak mengenalmu. Tidak tau apa yang terjadi padamu. Tidak bisa memahamimu. Apa aku sungguh tidak berarti untukmu…?”

Lee Hyuk Jae berjalan menghampiri sebuah bangku yang terbuat dari kayu lalu duduk di sana. Pandangannya masih menerawang. Gadis itu mengikutinya. Duduk di sebelahnya.

“Appa kalah bermain judi… Dan dia kabur ke luar negeri. Sekarang, orang-orang itu terus mengejarku. Akan sangat berbahaya jika kau bersamaku. Aku memutuskan berpisah dengamu bukan karena aku tidak mencintaimu Yoon ah… Tapi karena aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa melakukan apapun  lagi untukmu. Hanya ini yang bisa kulakukan untukmu. Setidaknya aku bisa melindungmu jika kau tidak berhubungan lagi denganku.”

“Andwae… Aku yakin kita bisa mengatasinya oppa. Aku akan membantumu!”

“Seratus juta won, aku tidak akan bisa melunasinya meskipun kerja seumur hidup. Ini yang terbaik untuk kita Yoon ah… Mengertilah. Sekarang pulanglah…”

“Andwae…” Yoon Hye mulai terisak lagi.

“Kau tidak boleh berada di sini terlalu lama! Kka!!”

“Andwae… Andwae…”

Hyuk Jae memegang lengan gadis itu, menariknya untuk keluar.

“Jebal Oppa…”

“Kau harus pergi sebelum orang-orang itu melihatmu!! Hiduplah dengan baik!” pinta Hyuk Jae dengan suara bergetar.

“Oppa…” Yoon Hye meronta dalam cekalan Hyuk Jae. Laki-laki itu berhasil menariknya keluar melewati pintu kayu.

“Pergilah!!”

“Oppa andwae…”

“YAA!! LEE HYUK JAE!!”

Kedua orang itu tersentak lalu menoleh. Tiga orang berjas hitam sedang berlari ke arah mereka.

“Jangan lari kau!!” teriak salah satunya.

“Pergilah!!” Hyuk Jae mendorong tubuh Yoon Hye lalu berlari pergi.

Apa yang harus dilakukannya?? Yoon Hye merasa bingung saat ini. Saat orang-orang berjas itu melewatinya, ia langsung ikut berlari mengejar Hyuk Jae.

“Oppa changkaman!!” teriaknya.

Hyuk Jae tersentak mendengar suara itu. Ia menoleh tapi kakinya masih terus berlari hingga sebuah cahaya menerpa tubuhnya.

TIIIIIIIIIIIIIIIINNNN

BRAAAK….

“OPPAAAA!!!!”

***

Gadis itu menatap pintu rumah itu dengan muram. Matanya tampak bengkak. Setelah dua hari ia hanya mengurung diri di rumahnya, mengeluarkan segala kesedihannya. Diputarnya handle pintu itu lalu masuk ke dalam. Ruangan itu tampak gelap. Yoon hye menekan saklar di sebelah pintu untuk menyalakan lampu.

Masih rapi seperti biasanya. Hanya tempat tidur itu saja yang tampak sedikit kusut. Yoon Hye merasakan tubuhnya menggigil. Gadis itu menghampiri meja di samping tempat tidur lalu menatap sebuah foto dalam bingkai kayu. Foto dirinya bersama Hyuk Jae saat lulus sekolah dulu. Ada sebuah kotak berhias pita di depan foto itu, bersama sebuah alat perekam. Hadiah dari Yoon Hye saat Hyuk Jae diterima menjadi reporter dulu. Diambilnya kedua benda itu lalu Yoon Hye duduk di lantai bersandar pada ranjang.

Dibuka perlahan kotak itu lalu kertas sampulnya yang tipis. Sebuah gaun berwarna putih bersih yang belum pernah tersentuh siapapun, ada di dalamnya. Air mata yoon Hye jatuh. Ia menekan tombol alat recorder itu lalu mendekatkannya ke telinga.

‘Yoon ah… Selamat ulang tahun… Bagaimana dengan hadiahnya? Kau suka gaunnya? Mungkin ini terlalu mendadak… Tapi… sebelum natal nanti, ayo kita menikah. Kau sangat beruntung laki-laki tampan ini akan menikahimu, jadi kau tidak bisa menolak. Temui aku jam tujuh malam di tempat pertama kali kita bertemu dulu dan kau akan mendapatkan cincinmu. Jangan terlambat, arachi?! Saranghae…’

 

Seharusnya semuanya berjalan dengan lancar. Seharusnya hari itu akan menjadi hari bahagianya. Kenapa tuhan begitu kejam mengubah takdir manusia?!

Yoon Hye menekan lagi tombol alat recorder itu untuk mendengarkan pesan lainnya.

‘Yoon ah… Mianhae…’

 

Terdengar suara Hyuk Jae yang terisak. Selama ia mengenal laki-laki itu, tidak pernah sekalipun Hyuk Jae menangis. Bahkan ketika eommanya meninggal. Tapi laki-laki itu menangis untuknya. Membuat hati Yoon Hye terasa perih. Gadis itu terisak hebat dalam ruang yang legang tanpa penghuni itu. Sunyi yang mencekam dan perih yang mengiris. Tak ada yang bisa dilakukannya. Takdir sudah menuliskan kisahnya.

***

Years later…

“Love need Money…”

Laki-laki tampan itu menarik sebuah senyum ketika membaca artikel dalam majalah itu.

“Bagaimana Hyung? Delapan puluh persen wanita mengatakan hal yang sama dengannya hahahah… wanita memang tidak bisa lepas dari uang.”

“Mungkin dia tidak pernah membaca fairy tale,” laki-laki tampan itu menatap sebuah nama yang tercetak disana “Tipe wanita dengan rambut lurus panjang… Memakai anting besar… Lalu… hmmm… memakai pakaian yang sexy dan sepatu higheels yang pasti bermerek… Berapa banyak pria kaya yang sudah digodanya?!”

Laki-laki manis itu tertawa, “Hyung, bukankah kau akan mengurus kantor selama Appa pergi? Kau bisa melihat seperti apa tampangnya!”

“Kapan appa akan berangkat ke London, Taemin ah?”

“Kurasa lusa…”

“Haah… Membosankan. kenapa aku harus terlibat di perusahaan majalah milik Appa? Aku lebih senang mengelola game center milikku!”

Taemin terkikik sambil memainkan ponselnya, “Setidaknya hobbimu itu bisa jadi bisnis yang menguntungkan Hyung. Kalau tidak appa pasti tidak akan mengijinkannya. Bisa kau bayangkan berapa banyak uang yang dihasilkan tempat game centermu itu tiap harinya. Hampir semua temanku pernah ke sana.”

“Kau sudah pernah mencobanya? Aku mendatangkan game terbaru minggu lalu.”

“Kau tau aku lebih suka menghabiskan waktuku untuk dance daripada bermain game sepertimu,” saut Taemin, “Yaa, Kyuhyun Hyung! Apa kau tidak ingin melakukan hal yang menarik??” tatap Taemin dengan senyum iblisnya. Bisa dipastikan pembaca akan bingung kenapa si polos Taemin yang unyu-unyu bisa berubah menjadi iblis seperti Kyu.

Kyuhyun mengerutkan keningnya. Menatap dongsaengnya itu lalu balas tersenyum. Mengetahui bahwa ada sesuatu dalam otak namja manis itu, “Apa yang kau pikirkan?” tanyanya.

“Hyung, bagaimana kalau kau menyamar menjadi office boy lalu mendekati wanita itu?”

Kyuhyun hanya tercengang sesaat sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak. “Yaa, kau pikir aku akan melakukah hal konyol itu?! Daripada bermain-main dengan gadis sepertinya lebih baik aku menari wanita yang benar-benar tulus mencintaiku tanpa memandang uang.”

“Yeah dan kau belum menemukannya hingga kini Hyung!” cibir Taemin.

“Taemin ah? Kau percaya takdir??” tanya Kyuhyun retoris sambil melepas bathrobe putih yang membungkus tubuhnya. Menyisakan celana pendek yang dipakainya untuk berenang.

“Takdir itu kejam menurutku,” gumam Taemin. Diraihnya majalah yang tadi dibaca Kyuhyun. Sementara sang kakak sudah menceburkan dirinya ke kolam renang.

***

Kyuhyun menatap gedung itu sambil menghembuskan nafas. Harinya akan menjadi membosankan. ia melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Masih terlalu pagi. Biasanya jam sembilan ia masih bermain game di kamarnya sebelum pergi ke kantornya. Laki-laki itu tidak mengenakan pakaian kantor. Ia hanya memakai kaos putih lengan panjang dibalut jaket coklat dengan celana jeans dan sepatu kets.

“Haissh… Benar-benar membosankan…” keluhnya sambil menutup pintu mobil lalu berjalan masuk ke dalam gedung itu.

Dua jam meeting, dua jam mengecek berkas-berkas yang masuk. Dan mengirim laporan pada appanya lewat email, bertemu beberapa klien, akhirnya Kyuhyun bebas setelah hari hampir sore. Masih ada waktu untuk pergi ke kantornya meskipun ia tidak khawatir karena disana ada Changmin patnernya.

Laki-laki itu baru saja dari pantry untuk mengambil kopi. Ia berjalan santai sambil melihat-lihat kantor appanya. Jarang ada yang mengenalinya sebagai putra direktur. Hanya orang-orang tertentu yang memiliki jabatan tinggi seperti sekertaris appanya atau kepala manager.

“Sudah dua tahun… Tapi dia masih seperti itu terus. Aku jadi kasian kepadanya.”

“Dia juga tidak pernah tersenyum seperti dulu dan selalu menyendiri. Kim Yoon Hye benar-benar berubah…”

Cho Kyuhyun menyimak pembicaraan kedua orang wanita yang berjalan di depannya. Bukankah Kim Yoon Hye itu nama si penulis artikel ‘Love need Money’?!

“Cogiyo!!” potong Kyuhyun tiba-tiba, “Apa kau kenal Kim Yoon Hye ssi? Ada yang ingin kutanyakan kepadanya.”

Kedua wanita itu menatap terkejut, tapi kemudian mereka dapat menguasai diri kembali.

“Dia biasanya ada diruangannya. Devisi editing. Lantai dua ruang B,” jawab wanita berambut coklat.

“Apa kau karyawan baru di sini? Aku tidak pernah melihatmu…” gumam wanita satuya yang memiliki mata lebar.

Kyuhyun hanya membalas dengan senyuman, “Kamsahamnida,” ucapnya sambil membungkuk lalu berjalan pergi. Masih sempat didengarnya teriakan kekaguman yang terlontar dari kedua wanita itu. ia tersenyum tipis “Kau memang sangat mempesona Kyuhyun ssi…” gumamnya.

.

.

Sudah hampir satu jam Kyuhyun menatap gadis itu. hingga jam kerja habis dan terus mengikutinya sampai ke halte bus. Tapi ia masih belum bisa menemukan sesuatu yang benar-benar membuatnya merasa yakin bahwa gadis itulah yang menulis artikel ‘Love need Money’.

Penampilannya sangat sederhana. Ia cantik. Rambutnya panjang bergelombang. Matanya menyorotkan tatapan kecewa. Ada luka di sana. Dan sikapnya tidak terlihat seperti gadis yang haus dengan uang. Kyuhyun melihat ada beberapa namja yang menawarinya untuk pulang bersama tapi gadis itu menolaknya.

Seperti apa sebenarnya gadis itu…?

***

To be continue

Mianhaeeee…. jangan bunuh saya karena ngasih ff lain kekekek… ini ff tiba-tiba nyelip gitu aja. dan sekarang saya super-super sibuk. kerjaan numpuk dan hampir nggak ada waktu buat ngetik T_T salahkan saja itu si boss gentayangan diruanganku mulu. ff ini hanya twoshoot. sebenarnya mau oneshoot tapi sepertinya terlalu panjang. sudah hampir selesai kok tenang aja ahahah… makasi buat yang baca, anyeoong…

Ps : Twitter saya ganti baru, ada di about eunve ^^ gomawo