Tags

, ,

Love need Money

cast :
– Kim Yoon Hye
– Cho Kyuhyun
– Lee Hyuk Jae

‘Cinta maupun ketulusan tetap membutuhkan uang…’

—————

Kim Yoon Hye baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Gadis itu melirik jam tangannya, sudah malam. Ia harus lembur untuk menyelesaikan designnya. Sebenarnya waktunya untuk mengerjakan design itu cukup panjang, tapi sepertinya Yoon Hye lebih memilih untuk berkutat dengan pekerjaannya daripada sendirian di rumah kontrakannya.

“Kim Yoon Hye ssi?”

Gadis itu menatap dengan diam. Namun ada kilat waspada di matanya. Siapa laki-laki itu? kenapa bisa masuk ke gedung kantornya? Apa dia dari devisi lain?!

“Kau yang menulis artikel ‘Love is Money’? benar?”

“Nuguseo?”

“Aku hanya ingin sedikit bertanya kepadamu, kau keberatan?” senyum laki-laki itu.

Kim Yoon Hye tidak langsung menjawab. Senyum itu memang tampak ramah, tapi ada kilat menggoda di dalamnya. Ia tidak mengenal laki-laki ini, dan tidak tau apa tujuannya.

“Maaf, aku harus pergi sekarang!!” ucapnya sambil menyambar tas dan jaketnya lalu beranjak dari duduknya. Melangkah dengan cepat melewati laki-laki yang berdiri di depan mejanya itu.

SET

“Menurutmu cinta memerlukan uang, benarkah? Apa bagimu uang adalah segalanya? Haah… Aku kasihan sekali padamu. Kau pasti tidak pernah merasakan yang namanya cinta. Benar?”

Yoon Hye menghentakkan tangan yang menahan lengannya itu dengan kasar. Ditatapnya laki-laki itu dengan tajam, “Aku yang tidak pernah merasakannya, atau kau yang tidak tau apa-apa tentang cinta?” balasnya lalu melangkah pergi sebelum laki-laki itu sempat menjawab.

Cho Kyuhyun menatap gadis itu hingga sosoknya menghilang di balik pintu ruangan. Bibirnya tersenyum. “Kita lihat saja nanti Kim Yoon Hye ssi…” gumamnya sambil mengambil ponsel dari dalam sakunya. “Yeoboseo, Taemin ah… Sepertinya akan sangat menarik!”

***

Cho Kyuhyun menatap bangunan di depannya itu dari dalam mobilnya. Di tangannya tergenggam berkas tentang data diri Kim Yoon Hye.

“Jadi dia tinggal di salah satu apartement itu? Bukan tempat yang mewah…” gumamnya sambil melihat lagi berkas yang ada di tangannya. “Sejak kecil tinggal di panti asuhan… Selalu mendapat peringkat pertama saat sekolah. Juga mendapatkan beasiswa di tempatnya kuliah… Hidupnya lumayan berat juga… Apa karena itu ia berfikir uang adalah segalanya? Ckckck… Gadis ini benar-benar terlihat seperti air tenang menghanyutkan…”

Kegiatan Kyuhyun terhenti saat ada telepon masuk dari kepala manager yang memberitahunya akan ada rapat sebentar lagi. laki-laki itu menyeringai pelan. Meeting kali ini gadis itu akan ada di sana juga karena ia adalah kepala editor. Well ini akan menjadi sangat menarik. Atau mungkin tidak…?

.

.

Laki-laki itu mendengarkan laporan dari manager pemasaran setengah fokus. Matanya beberapa kali melirik ke arah gadis itu. Kyuhyun tidak habis pikir. Bagaimana bisa gadis itu tidak bereaksi apapun saat kepala manager memperkenalkannya sebagai putra direktur?! Apa gadis itu sudah tau sebelumnya?

“Bagaimana menurut anda Tuan Cho?” tanya manager pemasaran di akhir laporannya.

“Kim Yoon Hye ssi? Bagaimana menurutmu?” tanya Kyuhyun. Ia tersenyum menyeringai pada gadis itu, “Dilihat dari artikelmu, sepertinya kau sangat pintar mengatur strategi untuk menghasilkan keuntungan untuk perusahaan? Bukankah kau menyukai uang?”

Semua mata menatap Yoon Hye. Gadis itu mengepalkan jemarinya erat. Ia mengatupkan bibir rapat-rapat sebelum tersenyum. Ia sudah cukup terkejut melihat laki-laki itu ada di sana. Dan sepertinya laki-laki itu sedang menggodanya.

“Sebelumnya saya minta maaf karena sebenarnya ini bukan tanggung jawab saya. Tapi karena pengganti direktur meminta saya menjawabnya, saya akan mengatakannya. Selama ini majalah kita selalu mengungkap sisi untuk wanita dewasa. Bagaimana bila ditambah untuk sesi ibu dan anak juga remaja?”

Gadis itu menjelaskan semuanya dengan lancar. Bukan karena ia pintar dalam meningkatkan keuntungan, tapi karena hal itu sudah dipikirkannya sejak dulu. sisi wanita begitu banyak. Bukan hanya wanita dewasa yang anggun dan elegan. Tapi juga remaja yang cute dan ibu yang penuh kasih. Ada sebagian dari dirinya ingin merasakan hal itu. Sejak kecil ia sendiri. Setidaknya ia ingin memahami sosok bernama wanita. Ah… tidak. Ia ingin memahami dirinya sendiri.

Rapat itu ditutup dengan kepuasan dari semua anggota. Ide Yoon Hye cukup menarik dan Kyuhyun harus terpaksa mengakui bahwa gadis itu memang pintar. Jadi beasiswa yang didapatkannya bukan hanya sekedar kebetulan. Memang karena gadis itu pantas mendapatkannya. Namun ada rasa yang tidak puas dalam diri Kyuhyun. Ia masih merasa aneh dengan sikap gadis itu. Dan ia ingin sekali mengetahuinya.

***

Kim Yoon Hye duduk tercenung di halte bus itu. Hanya ada dirinya disana. Hari sudah malam, hampir jam sebelas. Tapi sepertinya ia enggan pulang. Ia ingin melupakan hari tapi itu tidak mungkin. Ia tahu pasti hari apa besok.

Gadis itu mengambil alat recorder dari dalam tasnya. Menempelkannya ke telinga.

‘Yoon ah… Selamat ulang tahun… Bagaimana dengan hadiahnya? Kau suka gaunnya? Mungkin ini terlalu mendadak… Tapi… Sebelum natal nanti, ayo kita menikah. Kau sangat beruntung laki-laki tampan ini akan menikahimu, jadi kau tidak bisa menolak. Temui aku jam tujuh malam di tempat pertama kali kita bertemu dulu dan kau akan mendapatkan cincinmu. Jangan terlambat, arachi?! Saranghae…’

Air mata gadis itu jatuh “Oppa… Besok adalah hari ulang tahunku yang ke dua puluh tujuh… Kapan kau akan menikahiku…? Hingga hari ulang tahun yang keberapa aku harus menunggu? Aku ingin cincinku…” isaknya.

Lama gadis itu terdiam di sana. Ia sudah berhenti menangis. Matanya hanya menatap kosong ke depan. Tiba-tiba seseorang duduk di sebelahnya tanpa disadarinya.

“Selamat, presentasimu sangat mengagumkan!” ucap laki-laki itu.

“Kau mengikutiku?” tuduh Yoon Hye langsung.

“Yaa, tempat ini bukan hanya milikmu. Aku berhak berada di sini.” saut laki-laki itu.

Yoon Hye baru saja berdiri dan akan pergi saat laki-laki itu berbicara.

“Aku ada penawaran untukmu!!” katanya, “Menikahlah denganku!”

Gadis itu memutar tubuhnya kebelakang dengan terkejut. Menatap tidak percaya pada laki-laki dihadapannya. “Cho Kyuhyun ssi… Berhentilah menggangguku karena kita tidak saling mengenal!”

Kyuhyun ikut berdiri dari duduknya. Menatap gadis itu sambil tersenyum. “Bukankah kau bilang cinta itu membutuhkan uang? Baiklah… Aku akan membeli cintamu, berapa yang kau minta? Aku akan memberikannya asal kau mau menikah denganku!”

PLAK

Satu tamparan itu mengenai telak di pipi Kyuhyun. Laki-laki itu menatap terkejut dengan pandangan tidak percaya.

“Kau benar-benar orang paling brengsek yang pernah kutemui!” kata gadis itu dengan suara bergetar, “Apa salah aku mengatakan bahwa cinta membutuhkan uang jika pada kenyataannya aku tidak mendapatkan cinta dari orang tuaku karena uang! Mereka membuangku kepanti asuhan karena kondisi keuangan mereka buruk. Mengapa melahirkanku jika akhirnya harus membuangku?? Aku putus dengan kekasihku setelah sepuluh tahun berpacaran juga karena uang! Karena appanya tidak bertanggung jawab, dia mendapatkan hutang yang besar. Sekeras apapun aku mempertahankannya dia tetap meninggalkanku.” air mata Yoon Hye mengalir. Kenangan itu berputar lagi dalam memorinya, “Bahkan ia meninggal juga karena uang… Karena tidak mampu membayar hutang dia harus berlari dikejar-kejar penagih hutang hingga mengalami kecelakaan. Jadi apa salah jika aku mengatakan cinta membutuhkan uang?? Bahkan jika kau bertemu dengan wanita yang tulus, menerimamu apa adanya meskipun kau miskin kau juga tetap memerlukan uang untuk menghidupinya. Karena kau mencintainya kau ingin membahagiakannya, mencukupinya. Bukankah begitu Cho Kyuhyun ssi? Apa kau sudah pernah merasakan cinta yang sesungguhnya?”

Cho Kyuhyun berdiri mematung di tempatnya. Gadis itu bukan menampar di pipinya tapi tepat dihatinya. Sebuah bus datang dan berhenti di halte itu. Yoon Hye mengusap air matanya di wajahnya dengan kasar lalu berbalik melangkah pergi.

SET

Lengan Kyuhyun otomatis menahannya. Tapi gadis itu langsung menghentakkan lengan Kyuhyun dengan kasar hingga tasnya terjatuh. Mereka sempat berpandangan beberapa detik sebelum akhirnya Yoon Hye berjalan masuk ke dalam bus dan pergi tanpa mengambil tasnya.

Laki-laki itu masih berdiri, memandang bus itu hingga menghilang. Jadi karena itu alasannya…? Ia memungut tas itu lalu duduk kembali di bangku halte. Melihat isi dalam tas itu. Ada sebuah kotak pensil. Sebungkus tissue, beberapa uang receh, payung lipat dan sebuah buku notes kecil. Dibukanya buku itu. Di halaman pertama ada sebuah foto. Foto Yoon Hye bersama seorang laki-laki yang memakai kaca mata. Di foto itu mereka terlihat sedang tertawa lebar. Kyuhyun mengambil foto itu dan membaliknya. Ada beberapa tulisan di sana.

‘Aku berjanji akan membuat Kim Yoon Hye selalu tertawa. –  Lee Hyuk Jae.’

 

‘Namja tidak boleh mengingkari janjinya…❤ – Yoon Hye‘

Kyuhyun mengembalikan foto itu lalu membuka lembar ke dua. Ada foto Yoon Hye bersama laki-laki itu juga. Mereka terlihat sedang mengenakan seragam yang sama. Mengangkat sebelah tangan mereka masing-masing, menempelkannya ke kepala untuk membuat tanda love. Sepertinya foto itu diambil saat ada festifal di sekolah. Kyuhyun membalik halaman itu dan melihat foto Yoon Hye bersama teman-temannya saat sekolah dulu. lembar selanjutnya ia melihat foto seorang anak perempuan berusia tujuh tahun. Dengan rambut kepang diikat pita merah. Gadis kecil itu sedang memakai seragam sekolah lengkap dengan ranselnya.

Kyuhyun tertegun melihatnya. Ia pernah melihat gadis kecil itu sebelumnya. Sepatu yang dipakai gadis kecil itu… Masih terlihat sama dengan sepatu kecil yang tersimpan aman di kamarnya. Ingatannya langsung kembali ke masa lalu saat ia baru pindah ke Korea.

Cho Kyuhyun memang lahir di amerika. Ia baru kembali ke Korea saat usia delapan tahun. Bahasa koreannya tidak terlalu bagus saat itu. Teman-teman di sekolah barunya banyak yang mengejeknya. Suatu hari, mobil yang menjemputnya datang terlambat. Beberapa anak menjahilinya saat ia menunggu di depan gerbang sekolah barunya. Mereka melepas sepatu Kyuhyun dengan paksa lalu menendang-nendangnya seperti bola hingga hilang sebelah dan pergi begitu saja. Meninggalkan kyuhyun yang menangis.

‘Gwenchana?’

Suara itu membuat Kyuhyun menghapus air matanya. Ia mengerjap pelan melihat seorang gadis kecil berambut kepang dengan pita merah itu.

‘Kemana sepatumu?’

Kyuhyun hanya diam sambil menunduk melihat kakinya yang hanya dibalut kaos kaki putih. Telapak kakinya tampak kotor terkena tanah. Gadis itu mengambil ranselnya lalu mengeluarkan sepasang sandal merah kecil. Gadis itu melepas sepatunya lalu memakai sandal itu. ia mengulurkan sepasang sepatu itu pada kyuhyun.

‘Pakailah… Kaos kakimu kotor. Suster bilang, kalau kaos kaki kita kotor, malaikat akan pergi.’

 

‘Jjinjayo?’

Gadis itu mengagguk pasti. Kyuhyun memakai sepatu itu meskipun tidak muat. Bagian belakang sepatu itu terpaksa dipijaknya. Setelah gadis itu pergi, dan ia tetap berdiri di sana menunggu mobil jemputannya.

‘Eomma… Tadi aku bertemu dengan anak perempuan yang baik,’ celoteh Kyuhyun kecil pada sang eomma.

‘Jjinja?’

 

‘Eum. Dia memberikan sepatunya padaku. Aku akan mengembalikannya nanti.’

 

‘Ne… Kau harus berterima kasih kepadanya, arachi?’

‘Kalau sudah besar, aku akan jadi kuat seperti Appa. Jadi aku tidak akan menangis lagi di depannya. Aku bisa menjaganya.’

‘Aigoo… Uri Kyunie sudah besar ternyata… Ne, nanti kau harus melindunginya. Janji?’

‘Janji!’

TIIIN TIIIIIN

Kyuhyun tersentak dari lamunannya karena bunyi klakson dari bus. Laki-laki itu beranjak perlahan dari duduknya lalu berjalan pelan menuju mobilnya.

‘Aigoo… Uri Kyunie sudah besar ternyata… Ne, nanti kau harus melindunginya. Janji?’

‘Namja tidak boleh mengingkari janjinya…❤ – Yoon Hye‘

***

Semalaman Kyuhyun berada di mobilnya yang diparkir di depan gedung apartement itu. Matanya tidak bisa terpejam. Ia sadar, ia sudah melukai gadis itu dengan cara yang sangat tepat. Beberapa jam kemudian, Kim Yoon Hye terlihat melangkah dari luar dari gedung itu. Ia tidak memakai pakain kerja, melainkan pakaian hitam yang biasanya digunakan untuk pergi ke pemakaman. Di tangannya tergenggam setangkai mawar putih.

Akan kemana gadis itu? Bukankah hari ini ulang tahunnya? Kyuhyun terus mengikuti gadis itu. Ia melihat gadis itu memasuki ruang tempat penyimpanan abu untuk orang yang sudah meninggal. Ia melihatnya berdiri di sana. Menatap sebuah foto seseorang. Di letakkannya bunga mawar itu di depan bingkai foto lalu memejamkan mata sesaat.

“Aku menunggumu Oppa…” lirih gadis itu sebelum pergi.

Kyuhyun menghampiri tempat dimana tadi Yoon Hye berdiri. Ditatapnya foto itu. Foto seorang laki-laki yang berwajah sama dengan yang ada di foto dalam notes itu. Lee Hyuk Jae.

“Aku akan membantumu untuk menepati janji kepadanya. Dia akan selalu tersenyum, seperti janjimu!”

.

.

Gadis itu duduk di sana. di bangku yang terbuat dari semen. Berbentuk lingkaran yang di tengah-tengahnya tumbuh pohon besar. Di taman sebuah sekolah junior highscool. Dia hanya duduk diam dan Kyuhyun hanya memperhatikannya dari jauh, dari dalam mobilnya. Berjam-jam gadis itu duduk di sana tanpa melakukan apapun. Hingga malam gadis itu tetap duduk di sana hingga tertidur.

Laki-laki itu keluar dari mobilnya. Ia berjalan menghampiri Kim Yoon Hye. Gadis itu masih tertidur. Kyuhyun berdiri di depannya, menatapnya. Ada perasaan sedih yang dirasakannya. Matanya menangkap sesuatu dalam genggaman tangan gadis itu. perlahan, diambilnya benda itu tanpa membuat gadis itu bangun. Sebuah alat recorder. Ditempelkannya benda itu ke telinganya.

‘Yoon ah… Selamat ulang tahun… Bagaimana dengan hadiahnya? Kau suka gaunnya? Mungkin ini terlalu mendadak… Tapi… Sebelum natal nanti, ayo kita menikah. Kau sangat beruntung laki-laki tampan ini akan menikahimu, jadi kau tidak bisa menolak. Temui aku jam tujuh malam di tempat pertama kali kita bertemu dulu dan kau akan mendapatkan cincinmu. Jangan terlambat, arachi?! Saranghae…’

Laki-laki itu tertegun mendengarnya.

‘Aku putus dengan kekasihku setelah sepuluh tahun berpacaran juga karena uang! Karena appanya tidak bertanggung jawab, dia mendapatkan hutang yang besar. Sekeras apapun aku mempertahankannya dia tetap meninggalkanku. Bahkan ia meninggal juga karena uang… Karena tidak mampu membayar hutang dia harus berlari dikejar-kejar penagih hutang hingga mengalami kecelakaan. Jadi apa salah jika aku mengatakan cinta membutuhkan uang?? Bahkan jika kau bertemu dengan wanita yang tulus, menerimamu apa adanya meskipun kau miskin kau juga tetap memerlukan uang untuk menghidupinya. Karena kau mencintainya kau ingin membahagiakannya, mencukupinya. Bukankah begitu Cho Kyuhyun ssi? Apa kau sudah pernah merasakan cinta yang sesungguhnya?’

Kyuhyun menatap gadis di depannya dengan sendu. Jemarinya terulur dengan ragu. Perlahan, ia mengusap kepala gadis itu lembut lalu berbalik dengan cepat dan melangkah pergi. Ia tidak bisa lagi melihatnya seperti itu. Ada yang harus dilakukannya.

Kim Yoon Hye tersentak. Tangannya terangkat menyentuh kepalanya. Matanya berputar mencari sosok yang diharapkannya untuk datang. Seperti janji yang diucapkannya dulu. Bahwa ia akan menunggu gadis itu di tempat pertama kali mereka bertemu untuk memberikan cincinnya. Tapi sosok itu tidak terlihat dimatanya juga sosok yang sedang berjalan menjauh.

“Oppa…” lirihnya pelan.

***

“Yoon ah…”

Tubuh Yoon Hye mematung. Tidak ada orang laki-laki yang memanggilnya seperti itu kecuali Lee Hyuk Jae. Dengan cepat gadis itu berbalik dan melihat Cho Kyuhyun sedang berjalan ke arahnya. Ia menatap tajam laki-laki itu. Jemarinya mencengkeram map-map yang dipeluknya lebih erat. Ini di koridor kantor. Mau apa laki-laki itu? Yoon Hye tidak akan bisa melawannya saat ini. Mereka ada di tempat yang tidak tepat.

“Milikmu!” Kyuhyun mengulurkan tas hitam milik Yoon Hye.

Gadis itu masih menatap Kyuhyun menyelidik. Baru beberapa detik kemudian ia menerima tas itu. bibirnya masih terkatup rapat.

“Ini juga, milikmu!!”

Yoon Hye menatap sebuah kotak yang diulurkan Kyuhyun. Ia tidak ingat pernah memilikinya. Tapi diterimanya juga kotak itu. Dibukanya kotak itu dan ia tertegun. Ia kenal sepasang sepatu kecil dalam kotak itu. Sepatu yang selalu dipakainya saat kecil dulu. Yoon Hye tidak pernah lupa karena setiap ia melihat foto kecilnya yang ada di buku notes, ia akan selalu ingat kemana sepatunya itu pergi. Ia memberikannya pada seorang anak laki-laki yang menangis tanpa memakai sepatu saat itu.

Gadis itu mengangkat wajah, menatap Kyuhyun. Laki-laki itu tersenyum, “Bukankah namja harus menepati janjinya…? Aku akan menepatinya, juga membuat kekasihmu menepatinya,” senyum Kyuhyun sebelum ia melangkah pergi. Meninggalkan gadis itu dalam keterdiaman.

.

.

Yoon Hye berjalan gamang. Ia pulang lebih awal hari ini. Apa sebenarnya maksud laki-laki itu? Apa yang Ia inginkan? Selama hidup Yoon Hye baik-baik saja. Tidak pernah terusik. Tapi tiba-tiba saja laki-laki itu datang, membuat banyak tanya di dalam hatinya. Benarkah sebelumnya ia baik-baik saja?

Yoon Hye menghembuskan nafas pelan. Ia tidak tau lagi sebenarnya untuk apa ia hidup. Ia tidak punya tujuan juga tidak punya keinginan apapun. Dan semakin hari kesedihannya semakin menumpuk. Tapi anehnya, sampai kini ia tetap hidup.

Ckiiitt…

Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya. Memotong jalannya. Gadis itu hanya diam saat melihat Kyuhyun keluar dari mobil itu.

“Aku ingin bicara denganmu, masuklah!” pintanya.

Yoon Hye tidak menjawab juga tidak melakukan permintaan Kyuhyun. Membuat laki-laki itu mendesah pelan “Kumohon,” pintanya lagi.

Meskipun tidak tau apa tujuan laki-laki itu, ia setuju untuk ikut bersamanya. Lagipula apalagi yang ia takutkan? Ia sudah tidak punya siapa-siapa lagi, juga tidak punya keinginan untuk hidup. Sampai ia tersadar dari sesuatu. Kyuhyun membawanya ke tempat ia pertama kali bertemu dengan Lee Hyuk Jae. Ke tempat dimana Lee Hyuk Jae berjanji akan memberikan cincin untuk melamarnya. Di tempat ia menunggu laki-laki itu meskipun Lee Hyuk Jae tidak akan pernah datang.

Mereka berdua berdiri di bawah pohon itu. Tidak berniat untuk duduk di bangkunya. Suasana terasa hening. Tidak ada satupun dari mereka yang ingin membuka mulut. Terkadang kesunyian jauh lebih menenangkan daripada ribuan kata yang terucap.

“Apa kau sudah mengingatku…?” tanya Kyuhyun memecah kesunyian.

Yoon Hye tidak menjawab. Gadis itu hanya menatap kyuhyun sekilas. Tapi laki-laki itu tau Yoon Hye sudah mengingatnya.

“Apa kau tau? Saat kau memberikan sepatumu saat itu, aku pernah berjanji akan berterima kasih saat bertemu denganmu lagi. Juga menjadi namja yang kuat, yang bisa melindungimu…” Kyuhyun terdiam sejenak, “Yoon ah… gomawo…”

Gadis itu menatap bangku itu lalu duduk di sana. Masih enggan mengeluarkan suaranya.

“Kau pernah bilang bahwa namja tidak boleh mengingkari janjinya. Aku tidak akan mengingkarinya. Aku juga akan menggantikan janjinya kepadamu. Untuk selalu membuatmu tersenyum,” Cho Kyuhyun mengulurkan tangannya kehadapan gadis itu.

Sebuah benda berkilau ada di telapak tangan itu. Bibir Yoon Hye terasa kelu. Apa maksud sebenarnya laki-laki ini?

“Aku ingin melindungimu seperti janjiku dulu. Aku tidak tau apa aku mencintaimu atau tidak, tapi kau adalah gadis pertama yang ingin kulindungi. Kau gadis pertama yang membuatku menunggumu untuk bertemu. Jadi… Menikahlah denganku!”

“Aku… Tidak akan menikah…” ucap Yoon Hye sambil menatap cincin itu dengan nanar. Gadis itu beranjak dari duduknya lalu melangkah pergi.

Kyuhyun tidak dapat membiarkannya. Ia ikut beranjak dari duduknya lalu menahan lengan gadis itu. disentaknya tubuh Yoon Hye hingga menghadapnya.

“Waeyo…? Bukankah kau sudah menunggu lama untuk mendapatkan cincinmu? Hingga kapan kau akan menunggu Yoon ah? Biarkan aku yang menggantikannya untuk menepati janji kepadamu…”

Gadis itu hanya terdiam. Ia melepaskan lengannya dari cekalan laki-laki itu dengan pelan. Lalu berjalan pergi tanpa berkata apa-apa. Meninggalkan kyuhyun yang menatapnya sendu.

“Akan kubuktikan kepadamu bahwa ada yang lebih dibutuhkan daripada uang…”

***

Gadis itu terlihat pucat hari ini. Matanya sedikit bengkak. Ada keputusan yang sudah di ambilnya. Sebuah amplop tergenggam di tangannya yang kurus. Surat pengunduran dirinya. Sepertinya lebih baik ia berhenti bekerja dan kembali ke panti asuhan tempatnya di besarkan. Membantu suster di sana. Ia sudah tidak punya tujuan hidup sekarang. Juga tidak punya impian.

Kakinya melangkah pelan menuju gedung tempatnya bekerja. Ia berharap setelah ini tidak akan bertemu dengan laki-laki itu lagi. Yoon Hye mendesah pelan. Kenapa hatinya menjadi kalut seperti ini?!

TIIINN

Suara itu membuatnya tersentak. Kakinya sontak berhenti melangkah.

“OPPAAAAA!!!”

Ia mendengar suaranya sendiri yang berteriak begitu keras. Bayangan Hyuk Jae yang menghantam kaca mobil sebelum akhirnya terpental sejauh dua meter terlihat jelas.

SET

Tiba-tiba Yoon Hye merasa tubuhnya dihantam dengan keras. Gadis itu memejamkan mata dan untuk beberapa detik yang terlewat, ia merasa kosong.

Lee Taemin terbelak menatap depan. Jemarinya mencengkeram erat-erat kemudi. Baru saja beberapa menit yang lalu hyungnya menelepon untuk mempercepat laju mobil tanpa alasan yang jelas. Yang membingungkan, bagaimana hyungnya tau kalau ia sedang mengemudi?! Ia tidak menyangka sama sekali kalau ada seorang wanita yang tiba-tiba saja muncul menyeberangi jalan. Kakinya otomatis menginjak rem mendadak. Seolah tersentak, laki-laki manis itu cepat-cepat membuka seatbelnya lalu keluar dari mobil.

“Hyung!!” panggilnya cepat-cepat menghampiri seorang laki-laki yang tengah mendekap wanita itu.

Semuanya terjadi hanya dalam waktu beberapa detik. Lee Taemin membantu laki-laki itu duduk, melepaskan pelukannya pada Yoon Hye. Gadis itu segera bangun begitu rasa terkejutnya hilang.

“Kyuhyun ssi, kepalamu berdarah!” serunya panik.

“Aku…” suara Kyuhyun mengambang begitu saja bersama matanya yang perlahan terpejam.

“Hyung!!” Taemin menggoyang tubuh Kyuhyun panik, “Bantu aku membawanya ke rumah sakit!!”

Kedua orang itu dengan cepat memapah Kyuhyun, memasukkannya ke dalam mobil lalu melesat menuju rumah sakit.

‘Aissh… Sebenarnya apa yang kau pikirkan Hyung?!’ keluh Taemin dalam hati sambil mengemudi.

.

.

“Tidak ada yang serius. Kepalanya terbentur tapi tidak mengakibatkan luka dalam. Hanya lengannya sedikit retak. Mungkin terbentur cukup keras. Beberapa saat lagi Cho Kyuhyun ssi akan terbangun. Semuanya baik-baik saja, Taemin ah.”

Lee Taemin mendesah lega setelah mendengar keterangan dari dokter keluarganya, “Kamsahamnida Park Ajhusi,” ucapnya pada laki-laki tua itu.

Pria itu mengangguk pelan sambil menepuk bahu Taemin pelan sebelum berjalan pergi. Taemin menghela nafas pelan. Tidak sengaja matanya menatap seorang gadis yang masih duduk di kursi tunggu dengan raut wajah pucat. Ia maklum. Mungkin gadis itu takut karena yang menyelamatkannya adalah seorang putra direktur. Dihampirinya gadis itu.

“Cogiyo…” sapa Taemin pelan. laki-laki manis itu mengerutkan kening saat tidak melihat respon dari gadis itu. “Nunna?” ditepuknya bahu gadis itu pelan tapi memberikan efek yang besar.

Kim Yoon Hye terlonjak kaget, “Bagaimana dia??” tanyanya pada laki-laki manis yang berdiri di hadapannya. Ia begitu takut hingga tubuhnya gemetar. Kejadian lalu tidak boleh terulang lagi.

“Hyung baik-baik saja, kau tidak perlu cemas. Kau boleh pergi sekarang.”

Yoon Hye menggeleng pelan, “Aku mau melihatnya!”

Taemin mengeryit pelan, “Kalau boleh tau… Siapa namamu?”

“Kim Yoon Hye imnida. Apa kau keluarganya?” tanya Yoon Hye.

“Lee Taemin imnida. Aku adik tiri Kyuhyun Hyung.”

“Adik tiri?”

“Eomma Hyung meninggal tujuh tahun lalu, kemudian Appa menikah dengan eommaku.”

“Oh… Apa aku bisa melihatnya?”

Taemin mengangguk pelan lalu berjalan menuju kamar rawat Kyuhyun. Membiarkan gadis itu mengikutinya. Ia sedikit penasaran. Bukankah Kim Yoon Hye adalah gadis penulis artikel itu? Gadis itu jauh dari bayangannya dan kenapa hyungnya bersikap seperti itu tadi? Ia harus tau alasannya.

“Hyung, kau sudah sadar?” seru Taemin begitu melihat kyuhyun ingin bangun. Laki-laki manis itu menghampirinya dengan cepat, membantu Kyuhyun untuk bersandar. “Kau membuatku khawatir Hyung, sebenarnya apa yang kau pikirkan?”

“Taemin ah… Apa dia baik-baik saja?” tanya Kyuhyun lemah.

“Dia ada di sini!”

Kyuhyun tersenyum melihat Yoon Hye. Gadis itu terlihat sangat pucat. Matanya memancarkan tatapan khawatir.

“Taemin ah… Bisa kau tinggalkan kami sebentar?” pinta Kyuhyun, “Aku akan memberitahumu nanti,” sambungnya saat menyadari arti tatapan Taemin yang penasaran.

Lee Taemin mengangguk lalu keluar dari ruangan tanpa berbicara apapun. Ia tau ada sesuatu antara hyungnya dengan gadis itu. bukankah dari awal hyungnya ingin bermain-main dengan gadis itu? melihat tatapannya tadi, sepertinya lebih dari sekedar main-main. Kyuhyun jelas tau bahwa ia sedang mengemudi. Kenapa dia tiba-tiba saja menelepon dan menyuruhnya mempercepat laju mobil? Apa kecelakaan itu disengaja olehnya? Apa dia tau kalau Kim Yoon Hye akan menyeberang? Apa dia ingin dibuktikannya? Ia harus bersabar menunggu penjelasan kyuhyun nanti.

“Aku tidak apa-apa. Kemarilah ada yang ingin kukatakan kepadamu,” kata Kyuhyun. Mencoba menenangkan gadis itu.

Yoon Hye berjalan mendekat. Ia melihat kepala Kyuhyun dibalut perban, juga lengannya. Tapi senyum tidak lepas dari bibir laki-laki itu. ia sedikit tersentak saat tangan besar Kyuhyun meraih jemarinya, menggenggamnya.

“Tanganmu sangat dingin, apa kau baik-baik saja?” tanya Kyuhyun pelan, “Yoon ah… Ada yang ingin kuberitahukan kepadamu… Menurutmu cinta dan ketulusan membutuhkan uang, itu benar…”

Laki-laki itu mempererat genggamannya sambil tersenyum, “Tapi bagiku, ada yang lebih dibutuhkan daripada uang. Dan itu adalah eksistensimu. Saat kau mobil tadi melaju ke arahmu, aku tidak ingat kenapa aku berlari menyelamatkanmu. Seberapa banyak uang yang kumiliki, tidak akan ada artinya bila kau tidak ada. Kalaupun aku tidak punya uang, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Meskipun aku harus membanting tulang hingga remuk, akan kupertahankan kau untuk tetap di sisiku. Itu caraku mencintaimu. Sama sepertinya. Dia meninggalkanmu bukan karena dia tidak mencintaimu, dia meninggalkanmu karena ingin melindungimu. Itu adalah caranya untuk mencintaimu. Cinta memang membutuhkan uang tapi cinta lebih berharga daripada uang…”

Air mata gadis itu jatuh. Ia hanya mampu menatap laki-laki itu tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun.

“Kumohon… Biarkan aku belajar bagaimana mencintaimu. Biarkan aku menepati janjiku, juga janjinya… Menikahlah denganku…” Kyuhyun menyelipkan sebuah cincin emas putih pada jari manis itu, “Sekarang kau sudah mendapatkan cincinmu dan kau bisa memakai gaunmu,” senyumnya pada gadis itu.

“Aku salah Kyuhyun ssi. Cinta memang membutuhkan uang. Karena cinta sama dengan uang. Cinta bisa membuat orang meninggalkan uang untuknya, dan uang bisa membuat orang meninggalkan cintanya… Tapi tidak dengan ketulusan. Ketulusan tidak membutuhkan uang. Seperti caranya mencintaiku dan caramu mencintaiku…”

Kyuhyun tersenyum. Ditariknya gadis itu ke dalam pelukannya dengan lengannya yang baik. Gadis itu benar. Ketulusan… ketulusan yang membuat cinderlella menjadi seorang putri. Ketulusan juga yang membangunkan putri aurora dari tidur panjangnya. Kehidupan ini memang bukan dalam lembaran kertas dongeng, namun ketulusan tidak hanya ada di dalam dongeng, melainkan di dalam hati setiap manusia yang bisa menggunakannya.

‘Taemin ah, apa kau percaya takdir…? Aku percaya…’

FIN