Tags

,

page1

Rain always falls so it will repeat again
When it stops, that’s when I will stop as well

“Pergilah…”

Gadis itu menatap dengan raut wajah tidak percaya. Tidak percaya dengan sepatah kata yang baru keluar dari bibirnya. Lee Donghae tau dengan jelas, gadis itu menangis. tapi hujan menghapusnya dengan cepat, menyamarkannya dari pandangan. Sama seperti air matanya.

Sunyi dalam emosi yang tertahan, diam dalam luka basah. Tatapan mata tidak dapat mengungkapkan ribuan kata yang ingin keluar.

Perlahan, gadis itu berbalik. Kakinya melangkah setapak demi setapak semakin jauh darinya. Dan ia hanya terdiam di sana. Membeku dalam rasa sakit. Mengikat semua sistem saraf yang ada di tubuhnya. Menahannya untuk tidak bergerak meskipun hati menjeritkan ribuan kata permohonan agar gadis itu tidak pergi.

Tapi ia hanya berdiri di sana. Ditengah hujan. Hingga gadis itu masuk ke dalam sebuah mobil dan pergi meninggalkannya. memberikan suasana legang pada jalan yang tak berujung itu.

***

Ia melihatnya ada di sana. Berdiri dengan memakai gaun terindahnya. Tersenyum pada setiap orang yang ada di sana. Dengan sebuket mawar putih dalam pelukannya, ia berjalan perlahan. Menuju seseorang yang akan mengikatnya seumur hidup. Dan orang itu bukanlah ia.

‘I do…’

Lee Donghae memejamkan mata saat kalimat itu keluar dari bibir gadisnya. Ia hanya dapat meredam lukanya. Ada keinginan yang menggila di dalam hatinya untuk berlari, membawa pergi gadis itu. Tapi sekali lagi tubuhnya membeku. IA tidak bisa melakukannya. Memori itu berputar dengan jelas dalam gelap pejamnya.

Saat gadisnya datang dengan tangisan, mengatakan bahwa ia harus menikah dengan laki-laki lain untuk menyelamatkan perusahaan keluarganya. Saat ia tau bahwa yang akan menikah dengan gadisnya adalah kakaknya sendiri, lee Sungmin. Orang yang juga disayanginya. Saat lee Sungmin tersenyum bahagia ketika mendengar kabar tentang pernikahan itu.

Segala kekuatannya menguap begitu saja. Tidak ada yang bisa dilakukannya. Ia tidak bisa menyelamatkan gadisnya, menyelamatkan cintanya. Namun ia juga tidak merusak ikatan saudaranya. Kaki itu bergerak melangkah pergi meninggalkan gereja diiringi suara lonceng yang berdenting.

Tetesan hujan mulai berjatuhan. Menyambutnya. Lee Donghae menghentikan langkahnya, merasakan dingin air itu. bersama hujan, ia akan melupakan segalanya…

***

5 years later…

Lee Donghae berdiri di depan jendela kaca itu. Menatap hujan yang mengguyur kota Seoul dari apartementnya yang ada di lantai empat puluh satu.

Hujan…

Bibirnya tersenyum tipis sekilas menatap curahan air dari langit itu. Saat hujan datang, ia menghapus semua tentang gadisnya. Ia pikir saat hujan berhenti semuanya akan baik-baik saja. Semuanya akan menghilang.  Tapi saat hujan datang lagi, ia tau bahwa semua kenangan itu akan kembali hadir. Perlahan, sedikit demi sedikit menyusup lagi dalam relung hatinya. Mengusap luka yang membekas. Mengundang perih.

Ia ingin minum hingga mabuk. Dengan begitu semua memori itu akan hilang. Sekarang, ia tau bahwa semuanya benar-benar berakhir. Jika saja saat itu ia berani mengambil keputusan… Jika saja saat itu ia berani memperjuangkan cintanya… Mungkin sedetik keputusan yang dilakukannya akan merubah segalanya. Mengubah takdirnya, mengubah takdir gadisnya, dan mengubah takdir semuanya.

Sekarang ia hanya bisa menyesali kebodohannya. Menyesali rasa pengecutnya. Senyum itu tak lagi bisa dilihatnya bahkan dari tempat sejauh sekalipun. Tawa itu menguap, melebur bersama hujan. Mengikutinya perlahan. Dan di setiap hujan turun, memori itu akan selalu datang…

Lee Donghae mengusap wajahnya kasar. Tangannya meraih sebotol soju diatas sebuah display, disamping selembar koran yang memuat berita tentang kecelakaan beruntun di jalan tol.

‘…Korban meninggal diketahui bernama Lee Sungmin dan Lee Raeki…’

Rain always falls so it will repeat again
When it stops, that’s when I will stop as well

————————————–

 

Kali ini balada hujan wkakkaka… muter lagunya beast berulang-ulang jadilah drable-drabel gaje ini. enjoy it