Tags

tumblr_lhhkva0QTb1qdbc9to1_400

Apa itu cinta…?

Ribuan kata dapat mengungkapnya

Namun tidak dengan perasaan

Bahkan hati terkadang salah mengenalinya…

Hujan…

Gadis itu menghela nafas pelan. Ditatapnya air yang jatuh dari langit itu. Emang sekarang sudah masuk musim hujan. Berkali-kali rama mengingatkannya untuk membawa payung lipat. Tapi emang dasar otak kisa yang susah ingat atau sebenernya males mengingat hal-hal kecil, sampai sekarang tidak ada payung lipat di dalam tasnya.

“Padahal tadi panas banget…” gerutunya pelan sambil mendekap beberapa map besar.

“Hujan lagi…”

Suara itu membuatnya reflek menoleh ke samping. Dia tersenyum saat kisa melihatnya dengan tatapan terkejut.

“Nggak tau kenapa tiap hujan turun, aku selalu ketemu sama kamu,” katanya sambil menatap butiran air yang jatuh itu.

Kisa memalingkan wajahnya sambil tersenyum gugup, “Emang lagi musim kak, coba ketemunya waktu kemarau.”

Dimas tertawa kecil, “Mau pulang?”

“Iya,”

“Mau bareng?”

Gadis itu sontak menoleh dengan terkejut.

“Aku juga mau pulang, mobilku ada di depan situ. Nggak apa-apa kan basah dikit?”

Kisa terdiam sejenak. Tadi dia sudah meminta rama untuk menjemputnya. Tapi Rama sekarang lagi di laboratorium Biologi dan pastinya sibuk.

“Nggak ngerepotin kak?” tanya Kisa ragu.

“Nggak kok. Ayo sini biar nggak basah!” Dimas melepas jaketnya, memakainya untuk menutupi kepala mereka berdua saat berlari menuju mobil putih tidak jauh dari tempat mereka berdiri tadi.

Kisa mengambil ponselnya saat Dimas mulai melajukan mobilnya. Melewati seorang cowok yang berlari cepat berusaha menghindari hujan. Tiba-tiba ponsel cowok itu berbunyi. Dihampirinya pohon terdekat untuk menghindari sedikit air hujan.

“Iya, sayang?”

“Aku barusan ketemu temen, dia nawarin aku pulang bareng jadi nggak apa-apa kalau kamu nggak jemput.”

Cowok itu terdiam sesaat, “Oke kalau gitu. Kamu hati-hati ya!”

“Iya, nanti kutelepon lagi.”

“Mmm…”

Cowok itu menghembuskan nafas sambil membersihkan air yang membasahi rambut, wajah dan lengannya. Tubuhnya mulai menggigil karena sebagian pakaiannya basah. Lebih baik dia cepat-cepat pulang sebelum sakit.

***

Perpustakaan… Gadis itu sudah duduk selama dua jam di sana sambil sesekali memperhatikan keadaan sekitarnya. Mencari sesuatu. Seseorang lebih tepatnya. Ia bisa melihat hujan di luar sana dari jendela kaca perpustakaan. Akhir-akhir ini ia jadi lebih sering ke perpustakaan sejak tau bahwa Dimas juga sering ada di sana.

Gadis itu menghela nafas pelan. Ada apa dengan dirinya? Kenapa hingga kini ia belum bisa membuang bagian dirinya yang mencintai laki-laki itu? Apa yang bisa diharapkannya dari bolpoint yang sudah menemukan kertas, tempatnya menuliskan takdir? Dan kertas itu bukan ia… Apa yang sebenarnya ingin diraihnya? Kisa tidak mengerti. Dimas selalu saja bisa membuatnya bodoh dan tidak mengerti dengan dirinya sendiri.

“Pagi-pagi ngelamun?”

Pertanyaan itu membuatnya kaget. Matanya mengerjap pelan ketika cowok itu sudah duduk di hadapannya.

“Eh?”

Dimas tertawa kecil, “Kemarin katanya mau minta tolong diskusi materi dari dosen?”

“Eh iya…”

Bahkan hanya dengan satu senyuman dari cowok itu, bisa membuat Kisa melupakan apa yang sedang dipikirkannya.

***

“Lo sibuk banget ya akhir-akhir ini?” tanya Lira sambil menjatuhkan tubuhnya pada bangku plastik di depan Kisa.

Kisa yang sedang membaca bukunya sambil menikmati segelas es teh, mengangkat wajahnya, “Ada materi tambahan dari dosen. Gara-gara IP gue cuma 3,00. Paling males sama statistic,” keluhnya.

Lira tidak langsung menjawab karena orang yang membawa pesanan mie ayamnya datang. Gadis itu mengaduk-aduk mienya, “Tapi sekarang kayaknya semangat banget ngerjainnya, sampek gak pernah kelihatan,” lanjutnya setelah orang itu pergi.

“Jangan gila, dari dulu gue nggak ada semangat kalo ngerjain statistic. Bikin kepala pecah,” gerutu Kisa.

“Nggak akan lagi kalo yang nemenin si Dimas,” saut Lira cuek sambil masukin mie ayam ke dalam mulutnya. Mengunyah dengan tenang meskipun temannya itu terlihat kaget. “Gue lihat kalian di perpustakaan kapan hari,” lanjutnya menjelaskan.

“Dia nawarin buat bantu…” kata Kisa pelan. Entah kenapa ada perasaan bersalah yang menyelip di hatinya.

“Dan loe mau!” tandas Lira menyatakan, bukan bertanya.

Kisa menghembuskan nafas pelan, “Gue nggak tau harus gimana saat berhadapan sama dia, Ra…” keluhnya.

“loe cuma penasaran sama dia Kis. Karena dari dulu loe belum tau seperti apa Dimas. Loe jadi berusaha pingin deket sama dia. Tapi sekarang hal itu nggak mungkin. Loe tau sendiri dia udah nikah. Dan loe udah punya Rama.”

Kisa terdiam. Ia sadar kata-kata Lira benar.

“Gue berani taruhan kalo loe juga nggak tau Rama lagi sakit sekarang…”

“Sakit?”

“Udah tiga hari ini. Typus.”

Kisa tercenung, “Tapi dia nggak bilang apa-apa sama gue.”

“Bukannya loe udah kenal Rama? Mana pernah dia ngomong sama loe kalo dia lagi sakit atau sibuk? Dimana saat loe butuh, dia bakal selalu ada meskipun dia lagi sibuk. Cuma loe yang nggak ngerasa kenapa tiga hari ini dia nggak nongol di kampus,” saut Lira santai, masih menikmati mie ayamnya.

Hati Kisa mencelos mendengarnya. Ia bahkan tidak tau harus berkata apa kalau apa yang dibilang Lira benar. Sebesar itukah pengaruh Dimas padanya??

Hati dan perasaan

Kemana inginnya berlabuh…?

Jalan mana yang akan diambilnya?

Tersapu angin dan benturan gelombang

Mengapa aku lebih memilih badai?