Tags

,

fgrd

“Aku akan menikah dengan siapapun yang memberiku seribu bunga…”

“Haah… Neomu yeoppo… Aku akan menikah dengan siapapun yang memberiku seribu bunga…” gumam seorang gadis yang sedang memeluk sebuket bunga Lili dalam dekapannya itu. Matanya tampak berseri-seri saat menatap bunga-bunga itu.

“Pffftt… “ Cho Kyuhyun menahan tawanya yang ternyata gagal, “Huahahahha…”

“YAA! Apa yang kau tertawakan?” gadis itu menatap sebal oleh ulah namja di sampingnya.

“Kim Yoon Hye ssi, kalau begitu seumur hidup kau akan menjadi perawan tua. Karena namja yang melakukan hal itu adalah namja paling bodoh sedunia.”

“Mwo? Apa katamu? Apa salahnya berharap? Daripada menertawakan orang lain, kenapa tidak berkencan saja dengan PSPmu itu? Aku masih beruntung punya Jung Yong Hwa, daripada kau yang tidak punya pacar sejak dulu,” gerutu Yoon Hye sambil menata kembali bunga lili dalam dekapannya itu ke sebuah vas besar.

“Aku punya selera tinggi, Nona Kim. Tidak sepertimu,” dengus Kyuhyun yang mulai fokus dengan PSPnya.

“Apa katamu? Yaa, apa kau ingin mengatakan secara tidak langsung kalau Yong Hwa itu tidak bagus huh?”

“Woaa… hari ini kau sangat pintar…” seru Kyuhyun dengan nada kekaguman yang dibuat-buat. Membuat gadis itu semakin kesal.

“Daripada kau, dia jauh lebih baik. Dia sangat dewasa, penyayang, dan lembut. Tidak menyebalkan sepertimu!”

Kyuhyun mendengus, “Juga terlalu baik kepada gadis lain. Aku ragu dia akan bertahan denganmu jika ada gadis yang lebih sexy.”

“YAA!!”

****

Kim Yoon Hye, gadis berusia dua puluh tiga tahun itu memiliki sebuah toko bunga di kawasan Myeondong. Dulu toko itu milik kakaknya, kim Hani. Ia sudah membantu disana sejak kecil. Tapi setelah kakaknya menikah dan ikut dengan suaminya, Yoon Hye mengelola toko itu sendirian. Ia tinggal bersama orang tuanya tapi lebih banyak menghabiskan waktunya di toko. Toko itu memiliki dua lantai. Lantai pertama untuk menjual bunga dan lantai atas berisi ruang tidur, kamar mandi, pantry dan living room yang tidak besar. Appa dan Eommanya adalah pemilik rumah makan yang tidak jauh dari toko bunganya. Saat ini gadis itu sedang menyelesaikan pendidikan akhirnya di Kyunghe University.

Ia memiliki seorang teman, Cho Kyuhyun. Namja itu tinggal tepat disamping toko bunganya. Di salah satu ruangan di gedung apartement sederhana yang tidak terlalu besar. Mungkin hanya ada tujuh ruang apartement di gedung itu. Pertama kali Yoon Hye mengenal Kyuhyun ketika ia masih senior highschool. Namja itu lebih tua setahun darinya.

Saat itu Kyuhyun sedang mengendarai sepedanya. Tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju terlalu dekat dengannya, membuatnya hilang keseimbangan dan akhirnya menabrak kaca depan toko bunga Yoon Hye. Namja itu pingsan dengan banyak luka goresan, membuat orang-orang panik. Saat sadar, Kyuhyun mampu menghabiskan dua mangkuk Ramyeon, sepiring Kimchi dan dua mangkok nasi. Well, pingsannya disebabkan oleh perutnya yang lapar karena dua hari tidak makan. Sejak saat itu, Kyuhyun selalu menghabiskan waktunya di toko bunga milik Yoon Hye. Membuat gadis itu kesal karena Kyuhyun sangat dimanja oleh Kim Hani. Bahkan kakaknya ikut-ikut menyudutkannya saat ia sedang berdebat dengan namja itu.

“Kau akan pergi?” tanya Kyuhyun saat melihat Yoon Hye turun dari tangga dengan mengenakan jaket.

“Ne. Kalau kau lapar, ada sup di dapur. Ambilah sendiri,” kata gadis itu.

Tidak perlu terkejut, Hani pernah memberikan Kyuhyun kunci duplikat toko. Jadi namja itu bisa bebas masuk kapanpun. Seperti yang dikatakan sebelumnya, Hani sangat memanjakan namja yang hobi bermain game itu.

“Kau yakin akan pergi dengan pakaian ajhuma seperti itu?”

Gadis itu mendelik kesal, “Yaa, jangan mengacaukan modku!” gerutunya, tapi sebuah senyuman cepat menggantikannya, “Kau tau Kyu, Rae Ki tadi meneleponku. Dia bertanya apa aku akan segera menikah dengan Yong Hwa. Dia melihat Yong Hwa di toko perhiasan beberapa hari yang lalu. Mungkin saja dia akan segera melamarku…” senyumnya lebar.

BLETAK

“YAA!! Appo, iiish… Waegeure?” kesal Yoon Hye sambil mengusap keningnya yang baru saja dijitak.

“Hanya menyadarkanmu dari mimpi!” saut Kyuhyun acuh sambil berjalan naik tangga menuju lantai atas tanpa peduli Yoon Hye yang sudah melototkan matanya.

***

Malam itu hujan turun deras. Gadis itu masuk ke dalam toko dengan pakaian basah kuyup. Tanpa bicara apapun, ia duduk di sofa. Disebelah Kyuhyun yang ternyata belum meninggalkan tokonya. Namja itu mengernyit. Ia menghentikan permainan PSPnya lalu menatap aneh gadis di sebelahnya.

“Apa kau salah makan?” tanya Kyuhyun.

“Kau benar…” jawab gadis itu pelan dengan pandangan menerawang, “Seharusnya aku bangun dari mimpiku saat kau menyadarkanku…”

“Yaa, apa yang terjadi padamu? Jangan membuatku takut!”

Greep…

“Sebentar saja…”

Kyuhyun masih mematung ditempatnya saat gadis itu tiba-tiba saja membenamkan wajah pada dadanya. Ia cukup tau bahwa gadis itu sedang menangis. Yang bisa dilakukannya, hanyalah membalas pelukan gadis itu.

“Bajumu basah… Kau harus cepat ganti baju agar tidak sakit…”

“Rae Ki benar… Yong Hwa akan menikah…” isak Yoon Hye.

Kyuhyun terdiam mendengarnya.

“Tapi bukan denganku Kyu… Bukan denganku… Dia… Dia menerima perempuan yang dijodohkan oleh orang tuanya…”

***

Yoon Hye menghela nafas untuk yang kesekian saat mengingat hal itu. Bahkan ia masih belum percaya Jung Yong Hwa akan meninggalkannya dengan mudah setelah setahun lebih berpacaran. Selama ini gadis itu merasa bahwa Yong Hwa memang tidak sungguh-sungguh padanya. Ia sering merasa bahwa ia tidak lagi menjadi yang sepesial. Karena Yong Hwa bersikap sama kepada semua gadis. Laki-laki itu baik, ramah dan tidak menolak saat dimintai tolong oleh gadis lain. Bahkan ia membatalkan janjinya untuk bertemu Yoon Hye hanya karena temannya minta tolong untuk diajari materi kuliah.

“Kyuhyun pasti menertawaiku habis-habisan…” keluh gadis itu.

Mengingat soal Kyuhyun, ia belum bertemu lagi dengan laki-laki itu sejak… tiga atau empat hari yang lalu mungkin. Entahlah, Yoon Hye tidak terlalu ingat. Kenapa nasibnya sangat menyedihkan seperti ini?! Malam itu ia menangis di pelukan Kyuhyun semalaman hingga tertidur. Saat terbangun, ia sudah ada diranjangnya dan tidak bertemu dengan Kyuhyun sampai saat ini. Tubuhnya tidak sehat karena tidur dengan memakai pakaian basah.

Apa sebaiknya ia menemui Kyuhyun? Tapi bagaimana kalau namja itu meledeknya? Tapi tidak biasanya Kyuhyun tidak datang ke tempatnya seperti ini. Setelah lama bergulat dengan pikirannya sendiri, akhirnya Yoon Hye memutuskan untuk pergi ke apartement namja itu dengan membawa  Daebokki.

Tidak ada jawaban dari dalam apartement itu saat Yoon Hye mengetuk pintunya. Ponsel Kyuhyun juga tidak aktif. Semua orang meninggalkannya kini. Dengan perasaan sedih, Yoon Hye berjalan pergi meninggalkan apartement Kyuhyun.

“Kim Yoon Hye ssi?”

Gadis itu menoleh ketika suaranya dipanggil. Ia melihat ajhuma pemilik gedung apartement sedang berjalan menghampirinya. Yoon Hye langsung membungkukkan badannya memberi salam.

“Kyuhyun ssi menitipkan sesuatu untukmu…” katanya sambil menyerahkan sebuah kotak pada Yoon Hye.

“Kamsahamnida Ajhuma,” ucapnya pelan.

.

.

Yoon Hye menatap PSP milik Kyuhyun dalam kotak yang diberikan oleh ajhuma tadi. Namja itu hanya berpesan agar menjaga benda itu hingga dia kembali tanpa menjelaskan hal apapun lagi. Ia menghela nafas pelan. Kenapa sekarang ia merasa sendiri? Matanya menatap sekeliling ruang toko bunganya. Begitu banyak warna-warna cantik dari bunga-bunga itu, namun tidak mampu mengusir rasa suram pada dirinya. Setelah eonninya pergi, lalu Jung Yong Hwa dan sekarang Cho Kyuhyun. Ada perasaan sedih yang mengalir dalam dirinya. Ia rindu kata-kata pedas namja itu. Kata-kata yang selalu mengalihkan perhatiannya saat ia merasa sedih.

Tanpa sadar air matanya jatuh. Yoon Hye terkejut dan langsung menghapusnya. Ia tercenung. Bukan… Air mata itu bukan untuk Jung Yong Hwa. Apakah ia sedang merasa kehilangan sekarang? Kehilangan sosok yang selalu ada setiap ia merasa sedih.

***

Sudah sebulan sejak ia putus dengan Jung Yong Hwa dan Kyuhyun yang menghilang. Hari-hari gadis itu terasa sepi. Saat pagi, biasanya ia akan dibuat kesal oleh Kyuhyun yang datang meminta sarapan. Siang hari ia akan bosan melihat Kyuhyun bermain psp di tokonya jika sedang tidak ada jadwal kuliah. Dan malam hari biasanya mereka sering makan bersama. Semua hal menyebalkan yang dilakukan oleh namja itu, entah kenapa sangat dirindukannya. Sepertinya otaknya sudah mulai tidak waras setelah putus dengan Yong Hwa.

Telepon berdering nyaring membuyarkan lamunannya. Dengan malas, Yoon Hye meraih benda itu di atas meja kerjanya.

“Yeoboseo?”

“Yoon ah? Ini aku…”

“Oh Eonni, bagaimana kabarmu?”

“Aku baik, bagaimana denganmu?”

Gadis itu terdiam sejenak. Pertanyaan sederhana, namun ia perlu berfikir untuk menjawabnya “Aku baik… Tapi terasa sepi sekarang. Kau tidak ingin tinggal disini lagi?”

Hani tertawa renyah, “Yaa, lalu bagaimana dengan Jungsoo Oppa dan Soo Eun huh? Tidak mungkin aku meninggalkan mereka. Bukankah kau ada Kyuhyun? Apa dia baik-baik saja?”

“Eonni…”

“Waeyo? Apa ada masalah?”

“Aniyo… Hanya saja… tiba-tiba Kyuhyun menghilang,”

“Mwo? Hilang? Hilang bagaimana maksudmu? Dia diculik? Disandra_”

“Aniyo…” potong Yoon Hye cepat-cepat sebelum kakaknya itu heboh sendiri, “Aku juga tidak tau… dia tidak mengatakan apa-apa. Juga tidak meninggalkan pesan apapun. Hanya menitipkan PSP lewat ajhuma pemilik gedung apartementnya.”

“Apa kau berbuat salah kepadanya? Memakinya? Tidak membuatkannya sarapan atau melempar PSPnya_”

“YAA! Aku tidak melakukan apapun. Hanya saja waktu itu…”

“Waktu itu…?”

“Aku dan Jung Yong Hwa putus_”

“Putuuss??” teriak Hani.

“Aiish… Tidak perlu berteriak seperti itu,” gerutu Yoon Hye.

“Ah, mianhae. Baiklah, lanjutkan. Lewatkan bagian Jung Yong Hwa yang tidak penting itu.”

“Eonni…” Yoon Hye mendesah pelan. Ia tau kakaknya tidak menyukai Jung Yong Hwa. Dan alasannya sangat tidak masuk akal. Wanita itu hanya mengatakan kalau yong hwa terlalu jelek untuknya. Sepertinya dia sudah terkontaminasi oleh pikiran iblis Kyuhyun.

“Ara, ara…”

“Malam itu saat aku putus dengan Jung Yong Hwa, Kyuhyun masih disini. Aku bahkan menangis di depannya. Setelah itu aku tidak bertemu lagi dengannya. Aku pergi ke apartementnya tapi hanya bertemu dengan ajhuma pemilik gedung yang memberikan titipan Kyuhyun.”

Hani berdecak, “Aiish… Neo paboya!!”

“Yaa, kenapa aku yang bodoh?”

“Apa kau benar-benar tidak menyadarinya? Cho Kyuhyun menyukaimu Yoon ah.. Ani, lebih tepatnya mencintaimu!”

“M-mwo..?”

“Sejak bertahun-tahun yang lalu!”

“Ja-jangan bercanda!”

Terdengar desahan Hani diseberang, “Aku benar-benar memiliki dongsaeng yang bodoh! Apa kau benar-benar tidak bisa melihatnya? Lalu untuk apa selama ini dia menghabiskan waktunya di toko kita?! Dia namja yang tampan dan tidak sedikit gadis yang menyukainya. Kau pikir kenapa toko bunga kita ramai dikunjungi gadis-gadis sejak Kyuhyun selalu ada di sana? Aissh… Neo jjinja… Kau tidak pernah melihatnya Yoon ah. Pernahkah kau melakukannya? Dia selalu ada disisimu, selalu memahamimu, tapi kau tidak tau apapun tentangnya. Dia bahkan pernah berjanji padaku kalau___ Mmm… mianhae, aku ragu apakah harus mengatakan hal ini padamu,”

“A-apa… Katakan eonni…”

“Dia berjanji padaku akan menjadikanmu pengantinnya, apapun yang terjadi.”

Yoon Hye terdiam. Air matanya mulai mengenang dan berkumpul. Membuat pandangannya buram. Hingga akhirnya air mata itu jatuh, meleleh dipipinya.

Hani menghela nafas di seberang, “Aku tidak pernah memaksamu Yoon ah…” nada suaranya melembut, “Tapi aku hanya ingin kau melihat siapa yang benar-benar tepat untukmu…”

“Arayo eonni… Ara…“

Gadis itu menangis dalam diam. Mencoba menahan isaknya. Ia baru menyadari bahwa ia tidak tau apapun tentang kyuhyun. Tidak tau siapa sebenarnya namja itu. Tidak tau apakah orang tuanya masih ada. Tidak atau dimana rumahnya. Tidak tau apapun. Namun Kyuhyun mengetahui semua tentangnya. Apa makanan favoritenya, buku favoritenya, semua hal-hal yang disukainya. Meskipun secara tidak langsung ada kalanya Kyuhyun membuatkannya segelas teh, minuman favoritenya saat ia sedang sedih. Atau memberikan hadiah buku novel yang diinginkannya saat ia berulang tahun. Meskipun kyuhyun mengatakan tidak sengaja melihat buku itu di tong sampah dan lebih baik diberikannya pada Yoon Hye daripada terbuang sia-sia. Kata-kata itu memang membuat Yoon Hye langsung memakinya, tapi sebenarnya gadis itu tau kalau Kyuhyun tidak serius.

Ada banyak hal yang sudah dilakukan namja itu untuknya. Seperti yang dikatakan orang-orang. Kau tidak akan pernah menyadari sesuatu yang berharga di dalam hidupmu sebelum kau kehilangan. Dan kini, Kim Yoon Hye sudah kehilangan…

***

Five years later…

“Eomma…” gadis itu mengerang pelan. Sebelah tangannya terangkat, memegang telepon yang sedang menempel pada telinganya. “Berhentilah mengadakan kencan buta untukku…” gerutunya pelan. “Araseo! Nanti kuhubungi lagi, anyeong!!”

Yoon Hye menutup teleponnya dengan sedikit kesal. Ia tau kalau usianya sudah menginjak dua puluh delapan tahun. Dan eommanya sudah mendesaknya agar cepat menikah. Sebenarnya tidak ada alasan untuk Yoon Hye menundanya. Hanya saja ia masih belum ingin menikah.

“Eonni, mianhae aku terlambat!!” seorang gadis berjalan menghampiri mejanya dengan tergesa. Gadis itu bernama Lee Min Young. Dia bekerja di toko bunga Yoon Hye sejak dua tahun lalu.

“Gwenchana… Aku ingin kau memeriksa daftar bunga yang sering dipesan bulan ini, juga mengecek rak nomer sebelas.”

“Ne,” jawab gadis itu semangat.

Yoon Hye tersenyum lalu memfokuskan dirinya pada tumpukan surat yang dipegangnya. Undangan reuni teman sekolahnya dulu, beberapa tagihan, dan matanya tertegun saat melihat sebuah amplop putih dengan alamat yang tidak dikenalnya. Cho Kyuhyun. Nama itu ada pada amplop itu. Cepat-cepat dibukanya amplop itu dan mengeluarkan isinya.

Gadis itu mengerutkan keningnya saat tidak mendapati pesan apapun dari Kyuhyun. Hanya sebuah kertas berisi alamat yang tidak dikenal Yoon Hye. Apa maksudnya? Apa namja itu sedang mengerjainnya? Ia mendesah pelan, menyerah. Diraihnya jaketnya pada sandaran kursi dan meletakkan tumpukan surat lainnya begitu saja di meja.

“Min Young ah, aku pergi dulu!!” teriaknya sambil membuka pintu kaca untuk keluar. Ia tidak tau kenapa ia pergi ke alamat itu. Tapi hanya satu yang dipikirkannya. Mungkin saja Kyuhyun ada di sana.

***

Alamat yang diterima Yoon Hye adalah alamat sebuah rumah kecil di pinggiran kota Seoul. Dekat dengan bukit. Ia bertemu dengan pemiliknya, seorang ajhuma janda yang sepertinya sudah menunggu kedatangannya. Saat Yoon Hye menanyakan tentang kyuhyun, ajhuma itu tidak menjawabnya melainkan mengajak Yoon Hye ke sebuah tempat.

“Sangat indah bukan?” tanya ajhuma itu sambil menatap sekelilingnya.

Yoon Hye merasakan hembusan angin yang sejuk. Membelai dan memainkan rambutnya. Hamparan bunga berwarna-warni memenuhi pandangannya.

“Dia bekerja keras untuk ini.”

Gadis itu menoleh dan menatap penuh tanya pada wanita disampingnya.

“Tanah ini sebenarnya adalah peninggalan appaku,” jelas wanita itu sambil menikmati pemandangan di depannya, “Lima tahun yang lalu, seorang anak laki-laki datang padaku. Karena ketulusan hatinya, aku bersedia menerima permintaannya. Ia bekerja keras untuk membuat padang bunga ini.”

Kening Yoon Hye berkerut tidak mengerti. Ia masih belum memahami kata-kata ajhuma itu.

“Baiklah, aku pergi dulu. Tunggu saja, sebentar lagi dia akan kemari. Kalau ada apa-apa aku ada di rumah,” kata ajhuma itu lalu berbalik melangkah pergi.

Gadis itu ingin bertanya tapi tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibirnya. Matanya kembali memandang hamparan bunga di depannya. Ia tidak bisa menghitung seberapa luas padang bunga itu. Perlahan, kakinya melangkah masuk ke dalam padang bunga yang tingginya hanya sepinggang. Bibirnya tersenyum menatap bunga-bunga yang bermekaran sangat cantik itu. Tangannya sesekali menyentuhnya. Akhirnya ia berhenti dan memejamkan mata, menikmati angin musim semi.

“Kau menyukainya?”

Yoon Hye terkesiap dan langsung berbalik dengan cepat. Di hadapannya, seseorang sedang menatapnya dengan tatapan yang teduh. Gadis itu terlalu terkejut untuk mengatakan sesuatu. Matanya masih menatap sosok itu. Pikirannya menilai bahwa sosok dihadapannya ini sudah berubah banyak. Dia terlihat sangat dewasa kini.

“Bagaimana, apa kau menyukainya?” ulang sosok itu.

Yoon Hye mengerjap pelan, “K-kyu…”

Kyuhyun tersenyum, “Lama tidak bertemu denganmu…”

Lidah Yoon Hye terasa kelu. Ia tidak tau harus berkata apa. Kyuhyun mengulurkan sesuatu padanya. Ia menerima gulungan kertas itu dengan ragu.

“Apa ini?”

“Sertifikat tanah ini. Aku membelinya atas namamu!”

“Mwo?”

“Kuharap kau masih ingat dengan ucapanmu Yoon ah…” Kyuhyun tersenyum lembut sambil menatap gadis di depannya, “Kau akan menikah dengan siapapun yang memberimu seribu bunga.”

DEG

Yoon Hye seperti tidak bisa merasakan denyut jantungnya lagi. Mata coklat itu seolah menyedotnya semakin dalam.

“Aku tidak tau berapa banyak bunga-bunga yang ada disini karena setiap harinya mereka terus tumbuh dan bertambah banyak. Tapi, apakah ini cukup untuk seribu bunga yang kau inginkah itu…?”

“Kyu…” bibir Yoon Hye bergerak memanggil nama namja itu, tapi tidak ada suara yang keluar seolah tersapu angin. Air matanya perlahan meleleh.

“Kau tau? Aku adalah namja paling bodoh sedunia karena bersedia memberikan seribu bunga untukmu. Tapi bukankah semua orang yang jatuh cinta itu memang bodoh?” Kyuhyun tersenyum sambil meraih wajah Yoon Hye, menghapus air matanya, “Saat kau menangis karena Jung Yong Hwa, aku begitu sakit. Aku ingin kau tau bahwa kau lebih dari pantas untuknya. Kau ingat? Seleraku untuk seorang gadis sangat tinggi. Jadi, menikahlah denganku Yoon ah… Aku mencintaimu…”

Greeep…

Tubuh Kyuhyun tersentak kebelakang saat gadis itu tiba-tiba saja memeluknya, “Paboya…” Yoon Hye terisak hebat, “Kenapa baru sekarang…?”

“Mianhae… Aku butuh waktu untuk menanam semua bunga-bunga ini,” Kyuhyun membalas pelukan gadis itu. Mendekapnya.

“Gomawo…”

“Jadi… apa kau menerimaku?”

“Aku sangat menyukai bunga-bunganya…”

Kyuhyun tersenyum. Didekapnya lebih erat gadis itu.

“Ah, aku lupa!” tiba-tiba saja Kyuhyun melepaskan pelukannya. Matanya terlihat mencari sesuatu.

“Waeyo?” tanya Yoon Hye sambil menghapus air mata di pipinya.

“Aku sudah mengikat cincinmu pada salah satu tangkai bunga, tapi aku lupa dimana letak bunga itu.”

“Mwo? Yaa, neo michiseo? Bagaimana bisa kau melupakan barang sepenting itu??”

“Yaa! Memangnya karena siapa aku lupa? Ajhuma menyuruhmu menunggu di tepi padang bunga, bukan disini. Sekarang aku jadi lupa rutenya!”

“Paboya!!”

“Kau yang membuatku bodoh, Nona. Cepat bantu aku mencarinya!”

“Kenapa aku harus membantumu? Itu salahmu sendiri!”

“Kalau cincin itu tidak ketemu, kita tidak akan menikah!”

“Mwo? Apa kau bercanda??”

“Itu cincin mendiang eomma, jadi kau tidak akan memakai cincin lain selain cincin itu. Araseo??”

“Aiish… Neo jjinja!!”

Yoon Hye menggerutu panjang lebar sambil mencari diantara bunga-bunga. Ia salah. Cho Kyuhyun masih sama seperti yang dulu. Benar-benar menyebalkan. Beberapa saat kemudian, mata Yoon Hye tidak sengaja menatap sesuatu pada tangkai bunga. Ada pita putih besar yang terikat pada tangkai itu. Yoon Hye tersenyum saat melihat sebuah cincin melingkar pada ikatan pita itu. Ia melepas ikatan itu, lalu memakai cincinnya kemudian berjalan ke arah Kyuhyun yang masih sibuk mencari.

“Kyu,” panggilnya pelan.

“Hmm?”

“Kenapa kau menitipkan PSPmu padaku?”

“Agar aku dapat berkosentrasi untuk belajar dan bekerja. Juga mengurus padang bunga ini,” jawab namja itu tanpa menoleh.

“Apa tidak ada yang membantumu?”

“Aku menanam semua bunga disini dengan tanganku sendiri Yoon ah… Karena ini untukmu.”

Yoon Hye tersenyum mendengarnya, “Kyu!” panggil gadis itu lagi, “Gomawo…” ucapnya sambil menunjukan cincin yang sedang melingkar di jari manisnya saat Kyuhyun menatapnya, “Sangat pas…”

Kyuhyun ikut tersenyum melihatnya. Namja itu mungkin memang menyebalkan. Tapi hanya dia yang paling tepat untuk Yoon Hye. Yang mempunyai hati seindah padang bunga ini karena ketulusannya. Bukan karena seribu bunga yang didapatkannya, tapi usaha dan kerja keras Kyuhyun-lah hal yang paling berharga yang pernah diterimanya.

“Kyuhyun ah,”

“Hmm?”

“Aku mencintaimu…”

FIN