Tags

,

cast :
– Lee Donghae
– Choi Hyomi

fgtfg

Aku tidak tau rasa sukaku ini hanya sebagai seorang fansgirl atau sebagai seorang gadis yang menginginkan pasangan hidup. Aku melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan. Bukankah ribuan gadis di seluruh dunia ini juga menyukaimu? Apa yang membuatku berbeda dengan mereka aku belum tau. Jadi, bagaimana bisa aku mengatakan bahwa aku mencintaimu sementara aku belum mengenali hatiku sendiri?

———————-

Gadis dua puluh tiga tahun itu mendesah pelan dari balik dinding kaca café. Hujan mulai turun, membuat sebagian orang mengeluarkan payung dari dalam tas atau mempercepat langkah untuk menghindari tetesan air itu. Ini pertengahan bulan september dan hujan sering turun akhir-akhir ini. mata hitam itu sejak tadi menatap sebuah billboard besar yang terpajang di pinggir jalan. Ah… senyum itu. Ia menyukainya. Senyum polos favoritenya.

Choi Hyomi menggenggam cangkir capucino hangat yang tadi di pesannya. Ia menyesapnya lalu menatap billboard itu kembali. Billboard yang memajang foto seorang laki-laki dengan iklan ponselnya. Lee Donghae. Bahkan suara tawa laki-laki itu terdengar jelas di telinganya saat ini.

“Yaa, hajiman!! Pabo Donghae!!”

Hyomi reflek memutar kepalanya ke samping. Mengalihkan padangannya pada sekumpulan laki-laki yang duduk tidak jauh dari mejanya berada. Ia melihat Lee Donghae tertawa sambil membawa botol saus. Sepertinya laki-laki itu menambahkan saus pada piring Eunhyuk tanpa ijin. Tanpa sadar, bibir Hyomi tertarik membentuk senyum tipis. Member Super Junior selalu saja melakukan hal-hal yang konyol. Mereka mungkin bisa tampil keren saat dance, tapi mereka lebih banyak bermain-main daripada bekerja serius.

DEG

Gadis itu reflek memalingkan wajah saat matanya tidak sengaja bertemu dengan mata coklat hangat itu. Dalam hati ia meruntuk, tidak seharusnya ia melakukan hal itu. Pasti laki-laki itu akan menganggapnya aneh. Lagi, ia menghela nafas pelan sambil menatap billboard itu kembali. Mereka ada dalam satu ruang yang sama, tapi Hyomi lebih memilih menatap replika laki-laki itu daripada aslinya.

“Baiklah, hari ini cukup sampai di sini. Kalian pulanglah dengan hati-hati. Jadwal kita masih penuh besok,” kata Kim sutradara sambil beranjak dari duduknya.

Beberapa orang mulai beranjak dari duduknya masing-masing. Hari sudah hampir tengah malam, namun sepertinya Hyomi masih enggan meninggalkan tempat itu. Ia tidak membawa payung dan tidak ingin pulang dalam keadaan basah. Kepalanya bisa sakit besok jika ia membiarkan dirinya kehujanan. Gadis itu membungkuk kepada teman-temannya yang pergi lebih dulu.

Tiba-tiba saja suasana café itu menjadi legang setelah sebagian besar staf pulang. Mereka baru saja menyelesaikan syuting variety show dan PDnim mengajak seluruh staf juga artisnya makan bersama. Hyomi menatap meja yang tadi ditempati Lee Donghae sudah kosong. Ia mendesah pelan lalu mengalihkan tatapannya kembali pada billboard yang ada di luar sana.

Choi Hyomi mengingat lagi awal pertemuannya dengan Lee Donghae. Saat itu awal september dan sedang hujan deras. Ia hanya seorang gadis biasa yang datang dari Chungnam. Setelah lulus sekolah, ia membantu orangtuanya di sebuah rumah makan kecil. Hingga seorang tetangganya yang bekerja di agency SM Entertaiment, mengajaknya ikut ke Seoul.

Ia tidak mengenal banyak artis karena tidak pernah menonton tivi atau menghadiri acara-acara konser. Hari-harinya sibuk untuk membantu orangtuanya. Lee Donghae, adalah artis pertama yang ditemuinya. Saat itu ia pergi ke gedung agency untuk mulai bekerja. Ia harus bertemu dengan Park Young Sik, manager HRD. Receptionis memberitahukan bahwa ruangan Park Young Sik ada di lantai tujuh.

Gadis itu masuk ke dalam lift lalu menekan angka tujuh. Namun saat di lantai tiga, lift tiba-tiba saja berhenti. Belum sempat memikirkan apapun, pintu lift itu terbuka dan mata mereka bertemu. Laki-laki itu memakai kaos putih dalam balutan jaket hijau lumut serta topi berwarna hitam. Tas ranselnya tergantung di bahu kanannya. Dia tersenyum canggung pada Hyomi sementara gadis itu bergeser memberi ruang untuk laki-laki itu.

Tubuh Hyomi sedikit menggigil karena dingin. Sebagian bajunya basah karena tidak membawa payung tadi. Sampai di lantai tujuh ia langsung keluar dan baru menyadari bahwa receptionist tadi tidak menjelaskan di mana ruangan Park Yong Sik berada. Sambil menggigit bibir putus asa, gadis itu menatap sekitar dengan bingung.

“Cogiyo, apa kau membutuhkan bantuan?”

Tubuh Hyomi sontak berbalik dan mendapati laki-laki itu tengah berdiri di dekatnya. Ia menatap ragu, haruskah ia meminta bantuan pada orang asing di depannya ini?

“Lee Donghae imnida. Apa kau staff baru di sini?”

“Y-ye, Choi Hyomi imnida” jawab Hyomi sambil membungkuk dengan gerakan kaku, “Apa kau tau dimana ruang Park Young Sik ssi?”

“Oh, Young Sik Hyungnim? Kau ingin menemuinya? Aku bisa mengantarmu. Kajja!”

Lee Donghae, laki-laki itu mulai melangkah sementara Hyomi mengikutinya. Tidak ada pembicaraan apapun diantara mereka. Hyomi hanya sibuk menggosok-gosok telapak tangannya untuk mengurangi sedikit dingin yang dirasakannya.

“Ini ruangannya. Kalau dia tidak ada di dalam, kau bisa bertanya pada orang-orang di sana!” Donghae menunjuk sekumpulan orang-orang yang ada dibalik kaca buram sebuah ruangan.

“N-ne, kamsahamnida…” Hyomi membungkukkan sekali lagi pada laki-laki itu tapi tiba-tiba saja sebuah syal berwarna coklat muda meliliti lehernya.

“Kulihat kau kedinginan, pakailah!” senyum Lee Donghae, “Aku harus pergi sekarang, sampai jumpa.”

Gadis itu hanya bisa melihat Lee Donghae berjalan menjauh. Sejak itu matanya tidak bisa lepas dari sosok Lee Donghae. Kebetulan, Park Young Sik menempatkannya dalam tim Super Junior sebagai staf pembantu yang menyiapkan kebutuhan umum staf dan artisnya. Dan saat itulah ia baru tau bahwa Lee Donghae adalah salah satu member dari Super Junior.

***

Hari ini benar-benar melelahkan. Seharian ini ia sudah menemani super junior syuting variety show di daerah Daechon. Setengah jam yang lalu mereka baru saja kembali ke gedung agency. Hyomi melihat jam tangannya sudah menunjukkan angka tujuh. Hari ini ia sama sekali tidak melihat Lee Donghae. Laki-laki itu mendapat jadwal yang berbeda dari ke lima member lainnya. Hyomi mendesah pelan sambil membuka notebooknya. Bibirnya tersenyum saat menatap wallpaper notebooknya. Foto Lee Donghae yang tengah tersenyum lebar. Ah… Ia merasa rasa lelahnya menguap hanya dengan melihat foto itu.

Gadis itu mengecek twitter, weibo, instagram atau jejaringan sosial lainnya yang mungkin saja laki-laki itu meninggalkan pesan di sana. Ia mendesah pelan melihat pesan yang ditinggalkan laki-laki itu di twitter. ELF adalah kekasihnya. Hyomi tau, meskipun sikap Donghae seperti biasa tapi fakta bahwa dia dicintai oleh ribuan wanita di dunia ini tidak bisa terelakkan.

Hyomi meletakkan dagunya di atas lengan yang bertumpu pada meja. Menatap foto laki-laki itu. Ia menyukainya, itu benar. Namun ribuan wanita di sana juga menyukainya. Lalu apakah ia termasuk salah satunya? Apakah ia hanya seorang fansgirl? Ia melakukan hal yang sama dengan yang lainnya. Lalu apa yang membuat rasa sukanya berbeda?

Mendapati kenyataan itu, Hyomi merasa sedih. Ia tidak dapat mengenali hatinya sendiri. Hal itu juga yang menjadi alasannya mengapa ia lebih memilih menatap replika sosok itu daripada menatapnya langsung. Karena ia belum mengenali hatinya. Atau mungkin ia tidak berani? Lee Donghae adalah seorang artis, dan dirinya hanya seorang staf biasa. Orang mengatakan bila menyukai seorang artis itu hanyalah mimpi. Apa kini ia sedang bermimpi?

Kenapa semuanya terasa sulit sekarang? Gadis itu meletakkan kepalanya di atas lengan lalu memejamkan mata. Ia ingin istirahat sejenak saja. Ingin melupakan semuanya sebentar saja. Bahkan dalam mimpinya, laki-laki itu sering datang. Ia berharap dapat mengosongkan pikirannya sejenak. Hingga semua terasa samar. Lambat laun, ia jatuh dalam kegelapan.

Pintu pantry terbuka pelan. seseorang masuk ke dalamnya. Lee Donghae sedikit terkejut melihat gadis itu tertidur di salah satu kursi pantry. Ia hanya berniat membuat kopi tadi, tapi melihat gadis itu, rasa penasaran menyerangnya. Kakinya melangkah pelan mendekati gadis itu. Matanya tertegun saat melihat layar notebook itu. Ada dirinya di sana. Perlahan tanpa suara, ia mengambil notebook itu lalu melihat isinya.

***

Hyomi tersenyum saat melihat Lee Donghae dan Leeteuk sedang bermain dengan kucing di lokasi syuting iklan. Mereka terlihat benar-benar polos. Salah satu hal yang disukai oleh Hyomi. Mereka tidak pernah berpura-pura meskipun di depan kamera. Dunia entertaiment sudah seperti dunia mereka. Mereka menikmatinya. Mungkin itu juga menjadi alasan mengapa banyak fans yang menyukai mereka. Apakah ia salah satunya?

Gadis itu mendesah pelan lalu melanjutkan pekerjaannya merapikan peralatan-peralatan yang akan di gunakan. Setelah ini ia harus memesan katering untuk makan siang para staf.

“Oh kau membawa permen Donghae ya? Berikan padaku satu.”

Hyomi menoleh saat mendengar suara Eunhyuk yang tidak jauh darinya.

“Aku hanya punya ini,” jawab Donghae.

“Aiish… Kau bisa membelinya lagi!” tanpa ijin, Eunhyuk mengambil permen itu. Tapi Donghae langsung menahannya.

“Aniya…”

“Yaa, aku akan menggantinya nanti,” bujuk Eunhyuk.

Laki-laki itu terlihat bimbang. Eunhyuk mengambil kesempatan itu untuk menarik permennya. Donghae tersentak dan reflek menghempaskan tangan Eunhyuk hingga laki-laki yang jago dance itu tidak sengaja menyenggol peralatan kamera yang ada di meja.

Braak… Praang…

“Yaa, ige mwoya?” Leeteuk, sang leader langsung menghampiri keduanya. “Kenapa kalian seperti ini? Yaa Eunhyuk ah, berhentilah mengganggu Donghae. Ini hanya sebuah permen, kenapa kalian sangat kekanakan?”

Hati Hyomi terasa berdenyut. Ia melihat raut wajah Donghae yang begitu buruk. Ia tidak menyangka laki-laki itu begitu menyukai permen. Dulu saat mengembalikan syal yang dipinjami Donghae, gadis itu memberikan sekotak permen lolipop. Lee Donghae menerimanya dengan senang seperti anak kecil. Tapi sekarang, karena permennya laki-laki itu harus dimarahi oleh Leeteuk.

“Hyung, tolong lihat apakah ada yang patah!” kata Leeteuk pada salah satu staf, “Aku akan minta waktu istirahat pada PDnim.”

Lee Donghae berjalan pergi begitu saja sementara Eunhyuk terlihat sangat bersalah. Ia benar-benar tidak bermaksud tadi dan tidak mengerti kalau ternyata Donghae serius dengan ucapannya.

“Hyomi ssi!”

“Ye?”

“Aku sudah menelepon katering jadi kau tidak perlu melakukannya. Bisakah kau membeli softdrink?”

“Ah, ye.”

Gadis itu mengambil jaketnya lalu berjalan keluar dari studio.

.

.

Ia melihat laki-laki itu berdiri di sana. Dibalkon lantai empat, sedang menatap ke bawah. Hyomi ragu apakah ia harus menemui laki-laki itu atau tidak. Tapi ia benar-benar tidak suka melihat raut wajah Lee Donghae tadi.

“Donghae ssi,” panggilnya pelan.

Laki-laki itu memutar tubuhnya, menatapnya. Dengan ragu Hyomi mengulurkan sekotak permen lolipop yang dibelinya tadi saat memesan softdrink.

“Untukmu. Aku tidak tau kalau kau sangat menyukai permen. Ini, kau bisa membaginya dengan yang lain nanti.”

Donghae hanya diam menatap kotak dalam genggaman gadis itu.

“Kau tidak perlu sampai bertengkar dengannya, bukankah kau bisa membelinya lagi?” lanjut Hyomi.

“Tapi permen itu adalah pemberian. Tidak akan sama bila aku membelinya sendiri.”

Hyomi menatap tidak percaya, “Aigo… Kalau kau menginginkannya kau cukup menulisnya di jejaringan sosial dan semua fansmu akan memberimu permen.”

“Apa kau juga akan melakukannya?” tanya Donghae sambil menerima kotak permen yang di ulurkan hyomi.

“Mwo?”

“Apa kau juga akan memberikanku permen jika aku menulisnya di sana?” ulang Donghae.

“Bukankah aku sudah memberimu?”

“Aku hanya ingin permen pemberianmu, bukan dari yang lainnya.”

Gadis itu tertegun. Apa maksud laki-laki itu?

Tiba-tiba saja ponsel Lee Donghae berbunyi. Laki-laki itu melihat nama leeteuk berkedip-kedip di layar ponselnya.

“Aku harus kembali. Kau juga harus melanjutkan pemotretan,” gadis itu membungkuk sedikit kemudian berlalu tanpa memberikan kesempatan pada Donghae untuk membalasnya.

***

Ini sudah lewat tengah malam, namun gadis itu tidak dapat memejamkan matanya. Tubuhnya hanya bergerak tidak jelas dari tadi di atas tempat tidur. Ia mengerang frustasi. Kenapa Lee Donghae harus mengucapkan hal itu kepadanya? Ia tidak ingin berharap dalam mimpinya. Kenapa semuanya menjadi sulit sekarang?

Hyomi mengeluh dalam hati. Apa yang harus dilakukan pada perasaannya sendiri? Ia tidak ingin bermimpi terlalu tinggi. Ia takut terluka saat jatuh. Ia sama seperti mereka yang mencintai laki-laki itu. Ia hanya seorang fansgirl. Dan Lee Donghae tidak mungkin akan tertarik padanya. Laki-laki itu tidak mengatakan apapun. Itu semua hanya halusinasinya.

Gadis itu mencoba memejamkan matanya lagi. Mulai besok, ia akan mengurangi kebutuhannya untuk menatap laki-laki itu. Ia harus lebih memperhatikan yang lainnya. Mungkin saja dengan begitu ia bisa menyukai yang lainnya juga. Mungkin saja dengan begitu ia bisa mengenali hatinya sendiri. Bahwa rasa sukanya hanyalah sebagai seorang fansgirl.

.

.

Lagi-lagi hujan turun. Pemotretan terpaksa dihentikan karena hujan terlalu deras. Mereka harus mengambil di lokasi terbuka, karena itu tidak mungkin mereka melanjutkannya. Langit terlihat cerah, sepertinya hujan akan lama berhenti. Hyomi mengambil notebooknya lalu mengecek jejaringan sosialnya. Ia mendesah pelan saat tidak melihat pesan apapun yang ditinggalkan Lee Donghae.

Gadis itu meruntuk dalam hati. Sudah seminggu ini ia tidak melihat Lee Donghae secara langsung. Ia memilih untuk ikut tim lain yang mendampingi member lainnya. Kalaupun semua member Super Junior sedang ada acara bersama, ia lebih mendahulukan member lain. Seharusnya ini tidak begitu terlihat. Bukan hanya Lee Donghae yang harus diperhatikannya.

“Hyomi ah!”

“Mm?”

“Hyo Joon Sangjangnim memintamu untuk ikut dalam tim-nya besok.”

“Ah ye, gomawoyo In Joo ah,” jawab Hyomi pelan.

Choi Hyomi sama sekali tidak menyangka bahwa Hyo Joon Sangjangnim akan menemani Lee Donghae syuting drama terbarunya. Miss Panda & Hedgehog . Gadis itu meruntuk dalam hati. Berarti seharian ini ia akan bersama laki-laki itu dan hanya akan memperhatikan laki-laki itu karena Lee Donghae adalah satu-satunya artis SM di sana.

Ini pertama kalinya Hyomi melihat Lee Donghae berakting dalam drama. Sebelumnya, saat laki-laki itu syuting drama di Taiwan ia tidak ikut. Melihat laki-laki itu tersenyum pada lawan mainnya, entah mengapa membuat perasaannya menjadi buruk. Hyomi menyibukkan dirinya dengan membantu staf lainnya. Mencoba mengusir pikiran tidak nyamannya.

“CUT!! Baiklah, kita istirahat sepuluh menit!!” teriak Shin sutradara.

Hyomi melihat laki-laki itu duduk di salah satu kursi dengan penata make up yang melakukan tugasnya. Gadis itu kemudian berjalan menuju salah satu mobil berwarna putih lalu mengambil satu dus kecil berisi kopi kaleng dan membagikannya pada para staf.

“Sangjangnim ini kopimu,” ucapnya pada Shin sutradara.

“Ah ye, kamsahamnida… Hyomi ssi, tolong kau berikan perubahan skrip ini pada Lee Donghae ssi.”

“N-ne…”

Mata gadis itu berputar mencari keberadaan laki-laki itu. Ia menghampiri penata rias yang tadi membetulkan make up Lee Donghae.

“Cogiyo, apa kau melihat kemana lee Donghae ssi pergi?”

“Ah, jeoseonghamnida. Aku tidak memperhatikannya tadi.”

“Gwenchanayo, kamsahamnida…” gadis itu menundukkan kepala sedikit lalu kembali mencari Lee Donghae. Ia menghentikan langkah Se Yeon yang kebetulan berpapasan dengannya.

“Se Yeon ah, apa kau melihat Lee Donghae ssi?”

“Sepertinya dia ada di samping rumah,” jawab laki-laki berkacamata yang sedang membawa sekotak peralatan itu.

“Ah, gomawoyo.”

Se Yeon benar. Laki-laki itu ada di sana sedang berdiri di depan sebuah kolam ikan hias. Perlahan, Hyomi berjalan menghampirinya.

“Cogiyo… Lee Donghae ssi, Shin sutradara menyuruhku untuk memberikan perubahan skrip ini padamu.”

Lee Donghae tidak bergerak dari tempatnya. Laki-laki itu masih menatap kolam di hadapannya. “Apa aku melakukan kesalahan padamu?” tanyanya tanpa menoleh.

“Ye?”

Laki-laki itu membalikkan tubuhnya pelan lalu menatap Hyomi, “Kau menghindariku, apa aku melakukan kesalahan padamu?”

“Y-ye? Aniyo… Kau tidak melakukan apapun dan aku tidak menghindarimu.”

“Aku merasa kau menghindariku Hyo ah… Apa karena kata-kataku saat itu?”

Hyomi menatap tanah berumput yang dipijaknya. Ia tidak bisa menatap laki-laki itu langsung. Kenapa dia harus banyak bertanya seperti itu?

“Aku terbiasa denganmu yang selalu berada di sekitarku. Saat kau tidak ada, aku merasa kosong.”

Gadis itu tersentak mendengarnya. Ia mengangkat wajah dan mata mereka bertemu. “Lee Donghae ssi…”

“Apa kurang jelas untukmu?”

“Kumohon jangan bersikap seperti ini. Kau adalah seorang artis,” Hyomi menggigit bibir bawahnya putus asa, “Jangan membuat hal ini semakin sulit.”

“Apa dengan menyukaimu kau merasa sulit? Aku tau kau kau menyukaiku Hyo ah… Kau bahkan menyimpan semua foto-fotoku pada notebookmu.”

“D-darimana kau tau itu?”

“Tidakkah kau merasa ini takdir? ketika pintu lift terbuka dan kau ada di dalamnya aku merasa ini adalah takdir.”

“Semua itu hanya kebetulan.”

“Jadi kau tidak menyukaiku?”

Gadis itu tidak mampu menatap mata coklat yang kini menatapnya dalam. Ia menyukai semua bagian dari laki-laki itu. Tatapannya, senyumnya, kebaikannya. Bagaimana bisa ia tidak menyukai sosok yang berada di hadapannya saat ini?

“Aku tidak mengerti rasa apa yang kurasakan kepadamu Donghae ssi. Aku tidak tau rasa sukaku ini hanya sebagai seorang fansgirl atau sebagai seorang gadis yang menginginkan pasangan hidup. Aku melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan. Bukankah ribuan gadis di seluruh dunia ini juga menyukaimu? Apa yang membuatku berbeda dengan mereka aku belum tau. Jadi, bagaimana bisa aku mengatakan bahwa aku mencintaimu sementara aku belum mengenali hatiku sendiri?” air mata gadis itu mulai menggenang. ditatapnya mata coklat itu sendu, “Kenapa kau harus menjadi seorang artis?”

Lee Donghae terdiam. Ia tidak mampu mengatakan apapun pada gadis di depannya ini. Mengapa ia menjadi artis? Ia sendiri tidak tau. Ia menikmati dunia kerjanya. Tapi ia juga menginginkan seseorang untuk menjadi pasangannya. Apa salah bila seorang artis menginginkan seseorang untuk menemaninya hidup?

“YAA APA YANG KALIAN LAKUKAN DISANA??? CEPAT KEMBALI SYUTING!!”

Kedua orang itu tersentak dan melihat shin sutradara sedang berteriak dengan menggunakan toa-nya.

“Kau harus mempelajarinya dulu!” Hyomi menyodorkan lembaran skrip itu kemudian melangkah pergi.

Laki-laki itu masih diam di sana ketika hyung manager menghampirinya. Perasaannya kacau saat ini. ia tidak tau apa yang harus dilakukannya. Jika sebelumnya ia merasa mudah karena menyukai seseorang, sekarang ia harus memikirkannya lagi. Menyukai seseorang tidak hanya membutuhkan rasa saling suka. Tapi juga melibatkan hal-hal disekitarnya seperti pekerjaan dan untuk menjadi satu, mereka harus berjalan seimbang.

“Yaa, apa terjadi sesuatu? Kau harus melanjutkan syutingnya.”

“Hyung, mianhae. Bisakah kau memintakan waktu lima menit untukku?”

“Hanya lima menit?”

“Mmm.”

“Baiklah.”

***

‘Yeoboseo?’

 

‘Oppa!’

 

“Sudah lama tidak mengobrol.’

 

‘Apa kau baik?’

 

‘Mm.’

 

‘Oppa, aku sedang ada dalam keadaan mendesak. Boleh aku meminta bantuanmu?’

 

‘Apa itu?’

 

‘Uang.’

 

‘Berapa yang kau perlukan?’

 

‘Lima ratus ribu won.’

 

‘Kapan? Sekarang?’

 

‘Aku mungkin tidak bisa mengembalikannya segera.’

 

‘Gwenchana. Kau bisa mengembalikannya kapan pun. Kau juga tidak perlu mengatakan alasannya kepadaku.’

 

‘Mungkin aku tidak akan mengembalikannya.’

 

‘Aiish… Tidak apa-apa meskipun kau tidak mengembalikannya.’

Choi hyomi membenamkan wajahnya dalam lengan. Baru saja ia melihat varety show The Beatles Code 2 dimana artis Jihyun 4minute melakukan panggilan pada Lee Donghae. Siapa yang tidak menyukai Lee Donghae? Siapa yang tidak jatuh cinta pada Lee Donghae? Laki-laki itu sungguh sangat baik. Bahkan ia pernah membantu seorang fans lewat twitter yang membutuhkan kartu donor darah. Ia senang mendapati kenyataan itu, tapi kenapa ia juga merasa sedih? Lee Donghae tidak hanya baik padanya, laki-laki itu baik kepada semua orang.

“Oppa… Rasa apa yang kurasakan kepadamu sebenarnya…?”

***

“CUT!! Ok, bagus sekali. Akhirnya syuting untuk drama ini selesai. Kalian sudah melakukannya dengan sangat baik.”

Para pemain saling membungkuk mengucapkan terima kasih sementara para staf membereskan semua peralatannya.

“Karena kalian semua sudah bekerja keras dan kebetulan hari ini aku berulang tahun, jadi aku akan mentraktir kalian makan dan karaoke. Mari kita pergi!!” teriak produser.

Seluruh staf dan pemain bersorak senang. Setelah bekerja keras, mereka semua berhak untuk bersenang-senang sebentar.

Rumah makan yang tadinya sepi itu mendadak ramai saat semua staf dan pemain datang. Mereka memesan makanan dan minum bersama. Suasana begitu riuh. Tampak semua orang menikmatinya. Choi Hyomi hanya duduk di dekat jendela di dekat pintu keluar. Gadis itu membutuhkan udara untuk menjernihkan pikirannya.

“Yaa, Donghae ya! Nyanyikan sesuatu!!” teriak Shin sutradara sambil mengacungkan gelas birnya.

“Lee Donghae! Lee Donghae! Lee Donghae!” semua orang bertepuk tangan sambil meneriakkan namanya. Memberi semangat pada laki-laki itu untuk menyanyikan sesuatu.

Lee Donghae tersenyum sambil beranjak dari duduknya. Ia berjalan menuju ujung ruangan lalu menerima mix yang diberikan Nona stylis. Laki-laki itu duduk di sebuah kursi bundar sambil memasang mix di tempatnya. Tangannya meraih sebuah gitar lalu memetiknya. Semua orang bersorak, memberikan tepuk tangan kepadanya.

DEG

Hyomi sedikit tersentak karena mata coklat itu menatapnya. Bibir laki-laki itu tersenyum lalu mulai memejamkan mata.

The loneliness of nights alone

The search for strength to carry on

My every hope has seemed to die

My eyes has no more tears to cry

Then like the sun shining up above

You surrounded me with your endless love

Coz all the things I couldn’t see

Are now so clear to me

 

You are my everything…

Nothing your love wont bring

My life is yours alone

The only love I’ve ever known

Your spirit pulls me through

When nothing else will do

Every night I pray

On bended knees

That you will always

Be my everything…

 

[lirik you are my everything – Lee Donghae]

Gadis itu tercenung di tempatnya. Saat petikan gitar Donghae memelan dan suara tepuk tangan bergemuruh, ia beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar dari ruangan. Mendengarkan suara laki-laki itu bernyanyi membuatnya ingin menangis. Dadanya terasa sesak. Karena itu ia keluar untuk mencari udara. Tapi hal itu tidak membuatnya lebih baik.

Jalanan itu terlihat sepi. Angin malam yang sejuk membuatnya sedikit menggigil. Matanya menatap bayangan seseorang yang berjalan di belakangnya. Ia tau laki-laki itu mengikutinya. Tapi Hyomi tetap berjalan pelan sambil merapatkan jaket panjang coklat mudanya.

“Kau pernah bertanya, kenapa aku harus menjadi seorang artis?”

Langkah Hyomi berhenti saat mendengar suara itu. Gadis itu memutar tubuhnya, menatap laki-laki yang saat ini berdiri di hadapannya.

“Jika aku bukan seorang artis, akankah kita bertemu?” sambung laki-laki itu, “Jika aku bukan seorang artis akankah kau mengenalku? Jika aku bukan seorang artis, akankah kau menyukaiku?”

Air mata gadis itu mulai menggenang. Ia memalingkan wajahnya menatap aspal jalanan yang dipijaknya.

“Aku memang seorang artis, tapi aku juga seorang manusia yang membutuhkan Hyo ah… Meskipun aku seorang artis, aku tetaplah seorang Lee Donghae. Laki-laki  yang jatuh cinta kepadamu begitu lift itu terbuka. Apakah harus begitu sulit bagi seorang artis untuk mencintai seseorang? Aku memang menerima banyak cinta dari semua orang yang mendukungku, tapi apakah aku tidak berhak untuk mencintai seseorang? Tidakkah ini terlihat sangat tidak adil?”

Gadis itu menggigit bibirnya pelan, “Hingga kini aku masih belum mengerti dengan hatiku sendiri Donghae ssi. Jika aku seorang fansgirl, mengapa aku merasa sedih saat memikirkan kita ada di satu tempat namun terasa jauh. Jika aku seorang fansgirl, mengapa aku merasa sedih melihatmu baik terhadap gadis lain? Jika aku seorang fansgirl, mengapa aku merasa buruk saat melihatmu tersenyum kepada gadis lain? Jika aku seorang fansgirl, mengapa aku tidak bisa menyukai yang lainnya seperti aku menyukaimu. Jika aku seorang fansgirl, mengapa aku tidak bisa merasakan apa yang kurasakan kepadamu untuk yang lainnya?”

Lee Donghae menatap gadis itu sayang. Ia melangkah kemudian merengkuh gadis itu dalam pelukannya. “Jika kau menjadi milikku, aku tidak akan baik kepada wanita lain lagi. Jika kau menjadi milikku, aku tidak akan tersenyum kepada wanita lain lagi. Yang membuatmu berbeda dari mereka semua adalah kau Hyo ah… Perbedaan itu ada pada dirimu sendiri. Karena kau adalah segalanya untukku.”

Air mata gadis itu meleleh. Ia membenamkan wajahnya pada tubuh laki-laki itu. Menghirup aroma lembut dari Lee Donghae.

“Hingga waktunya tiba Hyo ah… Tetaplah berada di sisiku meskipun publik tidak mengetahuinya.”

“Aku akan tetap berada di sisimu. Bukankah itu yang membuatku berbeda dari yang lainnya? Karena aku memilikimu.”

Lee Donghae tersenyum. Ia merasa amat sangat lega. Ini semua bukanlah akhir, tapi akan menjadi awal dari kisah mereka. kisahnya dan kisah gadisnya. Kisah kehidupan mereka…

FIN

Anyeong ^^ *nyengir dulu*
mianhae buat semua pembaca eunveavers, saya jarang update ff karena kesibukan pekerjaan T___T
ini ff hasil saya mimpiin donghae tiga malam berturut-turut. dan ngetik ffnya juga butuh waktu tiga hari u_u
Apakah ada yang merasa tulisan saya semakin lama semakin ngambang dan garing kayak kerupuk? T___T
maaf ff boyfriend contract harus saya hapus karena saya merasa aneh karena itu karakter castnya memang bukan milik kyu. bukankah sesuatu yang tidak pada tempatnya itu memang tidak bagus? jadi saya putuskan untuk menghapusnya.last, terima kasih banyak untuk yang masih nongkrong di sini. mari bermimpi bersama, see you next time ^^