Tags

, , , ,

url

Orang bilang takdir adalah jiwa dari sebuah kehidupan. Semua gadis memimpikan pernikahan yang indah dengan orang yang dicintainya. Semua gadis memimpikan kehidupan yang indah bersama orang yang dicintainya. Namun… Mimpi hanyalah sebuah mimpi yang belum tentu menjadi nyata dalam kehidupan. Lalu… apakah semua ini salah takdir? takdir tidak pernah menyuruhmu untuk bermimpi…

——————————-

“Mianhae… Tapi aku harus pergi.”

“Oppa… Hajiman…” air mata itu sudah menggenang dan akhirnya jatuh mengalir membuat anak sungai di pipi.

“Ini mimpiku, Yoon ah… Aku tidak mungkin melepasnya.”

“Aku akan menunggumu.”

Gadis itu menatap penuh harap. Seolah hanya pria itu satu-satunya yang dibutuhkannya dalam hidup.

“Berapa lama?” tanya laki-laki itu, “Berapa lama kau akan menungguku? Bahkan aku tidak tau kapan bisa kembali.”

Gadis itu terisak. Ia menunduk pelan. Laki-laki itu benar. Tidak ada yang bisa memastikan berapa lama laki-laki itu kembali. Sejak dulu Kim Yoon Hye tau jika Cho Kyuhyun mempunyai mimpi untuk menjadi seorang penyanyi. Seharusnya ia bahagia saat impian laki-laki itu terwujud. Mengikuti traine di salah satu agency besar yang ada di luar negeri sana. Satu hal yang tidak disadarinya bahwa dengan tercapainya impian Kyuhyun, itu sama saja dengan berakhirnya hubungan mereka.

“Aku mencintaimu, oppa…”

“Ara… Jaga dirimu baik-baik, Yoon ah. Jangan terlalu banyak menangis, arachi?!”

Gadis itu masih terisak saat Kyuhyun melilitkan syal merah tua pada lehernya. Pada akhirnya, laki-laki itu tetap meninggalkannya. Semua janji dan sumpah untuk selalu bersama, kini hanya tinggal kenangan tak bertuan. Takdir memilih sendiri jalannya.

.

.

Kim Yoon Hye melangkah pelan tanpa tujuan. Apakah semua orang yang mengalami patah hati akan sepertinya? Hal ini sudah wajar bukan? Bahkan saat kau berjalan sambil menangis di jalanan, tidak akan ada orang yang peduli padamu. Langkah kaki gadis itu sontak terhenti. Ia mengangkat wajah lalu menatap sekelilingnya. Melihat orang yang berlalu-lalang juga yang sedang ada di dalam café-café.

‘Jika jiwa mereka adalah jiwaku, akankah aku mendapat takdir yang sama seperti ini…?’

Lamunan gadis itu terpecah saat di dengarnya suara dering ponsel. Ia merogoh benda itu pada saku jaket lalu menjawab panggilannya. Ia hanya diam mendengarkan seseorang di seberang sana berbicara. Bahkan tubuhnya tidak dapat bergerak saat mendengar apa yang baru saja di sampaikan oleh seseorang di seberang sana.

BRAAAK

Ponsel itu meluncur dan pecah ketika menghantam tanah saat tangannya tidak kuat bahkan untuk menggenggamnya. Untuk sejenak, pikirannya terasa kosong. Apa takdir sedang mempermainkannya…?

***

‘Orang tua anda mengalami kecelakaan di daerah Daechon. Maaf, kami tidak dapat menyelamatkan eomma anda. Saat ini, appa anda sedang dalam keadaan kritis.’

“Appa…” gadis itu terisak sambil menggenggam tangan hangat appanya. Dalam sekejap, semua orang yang dicintainya pergi.

“Yoon ah…” suara itu terdengar begitu lirih dan rapuh.

Yoon Hye hanya bisa menangis menatap appanya.

“Kau satu-satunya putriku…” pria dengan berbagai peralatan medis yang menempel di tubuhnya itu berusaha berbicara, “Aku tidak akan tenang sebelum- memberikanmu pada orang yang tepat.”

“Appa kumohon… Jangan bicara lagi…” isak Yoon Hye.

“Namanya… Lee-Donghae… Dia- appa ingin kau menikah dengannya sebelum appa pergi…”

“Andwae… Appa tidak boleh meninggalkanku. Tidak boleh!”

“Mian-hae, Yoon ah… Ini permintaan terakhir appa…”

***

lee Donghae menatap gadis itu sendu. Ia baru saja tiba di rumah sakit setelah mendapatkan telepon bahwa Kim Jeong Guk, dosennya saat kuliah dulu mengalami kecelakaan dan ingin bertemu dengannya. Gadis itu benar-benar berbeda dari yang dulu. Ia masih ingat senyum lebar di bibir itu. Tatapan berbinar dari mata hitam indah itu. Sosok yang telah membuatnya jatuh cinta dalam hitungan detik. Saat itu, Lee Donghae tidak berani berharap apapun atas perasaannya. Tapi melihat Kim Yoon Hye yang sekarang, ia merasa tidak mengenalinya. Gadis itu, berbeda dari Kim Yoon Hye yang dikenalnya.

“Donghae ya… Aku memohon kepadamu,” suara pria itu sudah semakin berat dan tersendat-sendat. Tapi ia mencoba untuk tetap melanjutkan permohonannya. “Menikahlah dengan putriku. Bahagiakan dia. Aku percaya kepadamu.”

Saat itu juga, tanpa kisah cinta, tanpa cincin, tanpa gaun, tanpa pesta pernikahan dan di dalam kamar sebuah rumah sakit, bukan gereja yang penuh dengan lilin serta bunga. Kim Yoon Hye mengikatkan hidupnya pada laki-laki yang tidak pernah dilihatnya. Pada laki-laki yang saat ini hanya diketahuinya bernama Lee Donghae.

“Lee Donghae ssi, bersediakah kau menerima Kim Yoon Hye sebagai istrimu, Menjaga dan mengasihinya dalam suka dan duka, Saling menyayangi dan mencintai hingga maut memisahkan kalian?”

“Aku bersedia…”

“Dan anda, Kim Yoon Hye ssi, bersediakah anda menerima Lee Donghae sebagai suamimu, menjaga dan mengasihinya dalam suka dan duka, Saling menyayangi dan mencintai hingga maut memisahkan kalian?”

Gadis itu hanya menatap kosong ke depan. Perlahan bibirnya bergerak bersama air matanya yang jatuh, “Aku bersedia…”

“Dengan ini kalian kunyatakan resmi sebagai pasangan suami istri.”

Pria itu menghembuskan nafas lega. Kemudian, perlahan matanya terpejam dan terdengar suara dengung panjang dari alat penunjuk detak jantung yang menampilkan garis lurus panjang.

“Appa!!! Appa ironaa!! Appa… Jebaal…”

Suara tangisan yang pecah dan lelehan air mata, mengawali kehidupan baru mereka. Kehidupan Lee Donghae bersama Kim Yoon Hye. Bukan dengan perayaan yang membahagiakan. Semua itu berbanding terbalik dengan sebuah pernikahan yang dimimpikan oleh setiap pasangan. Namun, akankah kehidupan mereka juga dipenuhi oleh tangis air mata sementara takdir akan tetap berlanjut menuliskan kisahnya selama waktu terus berjalan.

———————

Lee Donghae agaiiiiiin…
Akhir-akhir ini kyu pensiun. Saya cuma ingin membuktikan dari readers apa opini saya benar kakkakak…
well, let’s see ^^