Tags

, ,

eunhyuk(Ini adalah seri kedua dari From You, To You [fate])

Orang bilang takdir adalah jiwa dari sebuah kehidupan. Semua gadis memimpikan pernikahan yang indah dengan orang yang dicintainya. Semua gadis memimpikan kehidupan yang indah bersama orang yang dicintainya. Namun… Mimpi hanyalah sebuah mimpi yang belum tentu menjadi nyata dalam kehidupan. Lalu… apakah semua ini salah takdir? takdir tidak pernah menyuruhmu untuk bermimpi…

 

Laki-laki itu meraih softdrink dingin di atas meja lalu meminumnya. Matanya tidak lepas dari layar laptop sejak tadi. Sebuah foto memenuhi layar itu. foto seorang gadis dengan tawa yang begitu riang. Lee Hyuk Jae melirik kotak chating di pojok kiri bawah. Membaca lagi pesan dari adik sepupunya.

GaemGyu : Namanya Kim Yoon Hye. Aku ingin hyung menjaganya.

AllRiseSilver : Kau benar-benar ingin melepasnya? Apa kau tidak mencintainya?

GaemGyu : Aku mencintainya. Tapi aku tidak bisa memberinya harapan.

AllRiseSilver : Kau tidak takut menyesal? Bagaimana kalau aku jatuh cinta kepadanya?

GaemGyu : Kalau begitu, jagalah dia seumur hidupmu.

AllRiseSilver : Araseo.

 

***

Lee Hyuk Jae mendesah frustasi. Ia menendang ban mobilnya dengan keras. Bagaimana bisa ia lupa mengisi bensin? Sekarang benda itu tidak mau bergerak sama sekali. Laki-laki itu menarik sedikit lengan jasnya untuk melihat jam tangannya. Sepertinya hari ini ia akan terlambat datang ke kantor. Dengan perasaan kesal, ia mengambil ponselnya di dalam saku jas lalu menghubungi seseorang.

“Yeoboseo…?” sapanya begitu seseorang menjawab teleponenya dari seberang sana, “Donghae ya, ini aku. sampaikan pada appa kalau aku akan datang terlambat. Mobilku kehabisan bensin… mmm, gomawo!”

Hyuk Jae memutuskan panggilan teleponenya lalu menghela nafas sambil menatap mobilnya sekali lagi. Laki-laki itu berkecak pinggang sambil menatap area sekitar. Sepertinya tidak ada pilihan selain menyuruh anak buahnya untuk mengambil mobilnya nanti.

DEG

Matanya tiba-tiba saja menangkap sosok seorang gadis yang sedang berjalan cepat dengan bunga-bunga kertas dalam dekapannya. Rambutnya yang dimainkan angin menutupi sebagian wajahnya. Sepertinya ia pernah melihat gadis itu. Hyuk Jae tidak yakin apakah dia gadis yang sama. Tanpa sadar, kakinya melangkah mengikutin gadis yang sudah masuk ke dalam sekolah TK itu.

Dari kaca jendela sebuah kelas, Hyuk Jae bisa melihat gadis itu meletakkan bunga-bunganya di atas meja. Satu kesimpulan yang didapatnya, gadis itu adalah seorang guru TK.

“Jja. Hari ini seongsaeng membawa bunga-bunga dari kertas. Karena ini adalah Mother Day, seongsaeng ingin agar kalian bercerita tentang ibu kalian. Setelah bercerita, seongsaeng akan memberikan bunga ini pada kalian untuk diberikan pada eomma di rumah. Arachi?”

“Nee…”

Hyuk Jae tersenyum melihatnya. Hangat. Ia merasa gadis itu begitu hangat.

***

“Donghae ya, ayo kita pergi minum setelah ini.”

Lee Donghae tersenyum, “Mianhae. Aku tidak bisa hyuk jae ya. Mungkin lain kali. Aku ingin pulang cepat hari ini.”

“Yaa, apa kau sudah memiliki kekasih huh?”

Laki-laki itu hanya tersenyum “Sampai jumpa besok!” katanya tanpa menjawab pertanyaan Hyuk Jae.

Hyuk Jae hanya bisa menatap temannya itu melangkah pergi. Mereka sudah berteman sejak kuliah. Lee Donghae adalah siswa terbaik di universitas dulu. Sekarang dia menjadi sekretaris direktur yang tidak lain adalah appanya. Sebenarnya malam ini ia sangat malas untuk pulang. Sendirian berada di apartement itu sangat membosankan. akhirnya, Hyuk Jae memutuskan untuk pergi ke club sendirian.

Laki-laki itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia menyelesaikan pekerjaannya lebih awal tadi, jadi ia masih punya banyak waktu. Tanpa sengaja, matanya menangkap seseorang yang sedang duduk di bangku halte bus. Otomatis kakinya menginjak rem. Ia memundurkan kembali mobilnya dan memastikan. Ternyata benar, gadis itu adalah gadis yang dilihatnya di sekolah TK tadi pagi.

Gadis itu duduk sambil menatap ke depan. Hyuk Jae mengerutkan keningnya saat menyadari tatapan kosong gadis itu. Sangat berbeda dengan yang dilihatnya tadi pagi. Saat ini, gadis itu lebih terlihat seperti tidak semangat hidup. Perlahan Hyuk Jae turun dari mobilnya lalu menghampiri gadis itu.

“Cogiyo…” sapanya agar gadis itu sadar akan keberadaannya.

Gadis itu menatapnya dalam diam. Menunggu Hyuk Jae berbicara meskipun wajahnya memperlihatkan bahwa dia akan lebih senang tidak diganggu.

“Bisakah kau tertawa?”

Dia mengerutkan keningnya. Mungkin berfikir bahwa Lee Hyuk Jae adalah laki-laki tidak waras.

“Baiklah, lupakan. Aku hanya ingin memastikan sesuatu tadi,” senyum Lee Hyuk Jae.

Gadis itu masih diam. Tidak ada satu kalimat pun yang keluar dari bibirnya. Hyuk Jae mengeluarkan sapu tangannya lalu mengibaskannya tepat di hadapan gadis itu, membuatnya mengerjap kaget. Tapi sesuatu itu membuat gadis itu tertegun. Sapu tangan itu berubah menjadi setangkai mawar putih. Apakah itu sulap?

“Untuk seorang gadis yang akan menjadi eomma nantinya.”

Gadis itu menerimanya dengan ragu.

“Senang bertemu denganmu, Kim Yoon Hye ssi,” ucap Hyuk Jae sebelum ia berjalan kembali ke mobilnya.

***
Kim Yoon Hye terpaku di tempatnya. Matanya mengikuti sosok yang semakin jauh darinya itu. Ada sesuatu yang membuatnya terdiam. Bagaimana bisa laki-laki itu tau namanya? Ia menatap bunga dalam genggamannya lagi. Setangkai mawar putih. Bunga yang selalu ia berikan pada eommanya saat Mother Day atau saat ulang tahun wanita itu. Bahkan Kyuhyun belum pernah memberinya setangkai bunga-pun. Belum? Tidak… Laki-laki itu tidak akan pernah memberinya bunga lagi. Tidak akan pernah.

Tanpa sadar, air mata gadis itu menggenang lalu menetes. Ia seorang istri saat ini. Bagaimana bisa ia menerima bunga dari laki-laki lain? Bagaimana bisa ia memikirkan mantan kekasihnya? Lalu, apa seharusnya ia hanya memikirkan suaminya? Seorang yang bahkan tidak dikenalnya.

Yoon Hye meletakkan bunga mawar putih itu di bangku yang didudukinya saat bus datang. Kemudian, gadis itu berjalan masuk ke dalam bus dan meninggalkan kejadian yang baru saja di alaminya. Ia tidak percaya lagi dengan takdirnya…