Tags

, ,

love-alone-alone-boy-alone-girl-waiting-for-you-images-romantic-love-cute-love-sad-love-images-sad-love-love

‘Sendiri’ hanyalah sebuah kata yang menjelaskan bahwa dirinya sedang tidak bersama siapa-siapa dan tidak ada orang lain disekitarnya

—————-

PS : FF ini pernah aku ikutin lomba di salah satu page. Cuma aku nggak tau masuk apa enggak karena modku sudah turun drastis. Aku juga nggak tau kapan pengumumannya *oktober kalau nggak salah*, aku nggak cek juga. Yah, mungkin nggak masuk karena aku sering protes di sana *maaf ya mbak-mbak admin* tapi aku nggak suka sama pengaturan eventnya yang infonya nyusul-nyusul. aku bukan netizen yang selalu online dan update info hanya untuk satu ff #peace. Mungkin next time aku ogah ikutan lomba di manapun lagi, udah kapok. Lagian ffnya juga nggak bisa di share dengan readers eunveavers. Ada satu tulisanku yang nggak bisa ku publish di sini karena sudah direkrut oleh tim blog superjuniorff2010 untuk dibukukan. kalian bisa order di sini (entah ada di buku BLUELF 1, 2, atau 3 saya juga lupa. Kayaknya si yang 2 dan yang 3). Enjoy it ^^

———————

Sendiri.

Apa definisi dari kata ‘Sendiri’?

Kim Yoon-Hye menghela nafas pelan sambil menatap laptop di atas meja kerjanya. Ia tidak bisa menuliskan satu huruf pun di sana sejak kemarin. Ini sangat menyebalkan karena tidak ada satu hal pun yang melintas di dalam kepalanya tentang kata ‘Sendiri’. Seperti saat ini, meskipun sudah menghabiskan waktu berjam-jam dengan dua cangkir capucino, tetap saja tidak ada yang bisa diketiknya. Menurutnya, kata ‘Sendiri’ itu hanyalah sebuah kata yang menjelaskan bahwa dirinya sedang tidak bersama siapa-siapa dan tidak ada orang lain di sekitarnya. Dan hal itu sama sekali tidak bisa untuk dijadikan bahan tulisan artikelnya.

Kim Yoon-Hye bekerja di sebuah perusahaan majalah ternama di Korea sebagai penulis artikel. Biasanya ia menulis tentang kasus-kasus yang terjadi pada remaja umumnya seperti broken home, narkotika, dan sebagainya. Tapi kali ini ia mendapatkan tema ‘Sendiri’ dari atasannya. Tema yang membuatnya cukup frustasi.

Jemari gadis itu terulur meraih sebuah cangkir berisi capucino favoritenya. Ia mendesah pelan saat menyadari cangkir yang kesekian itu sudah kosong. Tanpa semangat, diletakkannya kembali cangkir itu lalu menutup laptopnya. Menyerah karena tidak ada yang didapatnya selama dua jam lebih menatap benda itu. Setelah meletakkan beberapa lembar uang di meja, Yoon-Hye beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan Café.

Ini sudah memasuki musim gugur. Angin berhembus lebih kencang daripada biasanya. Daun-daun dari pohon Maple dan Ginko mulai berubah warna menjadi kuning dan merah. Gadis itu berjalan pelan menuju halte bus. Hari masih sore tapi langit sudah terlihat gelap karena mendung. Tiba-tiba saja ponsel di dalam jaket abu-abu panjang yang dipakainya bergetar. Berdering dengan suara lagu favoritenya, No Other milik Super Junior. Salah satu boyband yang popular di Korea.Yoon-Hye langsung mengambil benda itu dan melihat nama Cho Kyuhyun sedang berkedip-kedip pada layar ponselnya.

Yeoboseo?” sapa gadis itu begitu menempelkan ponselnya ke telinga. Kakinya kembali melangkah perlahan.

“Ini aku,” jawab suara di seberang sana. “Yoon ah… Mianhaeyo, aku tidak bisa menemuimu malam ini. Orangtuaku memintaku untuk makan malam bersama mereka.”

Jeongmal? Baiklah kalau begitu, kita bisa melakukannya lain kali.”

“Mmm, akan kuhubungi kau lagi  nanti. Sampai jumpa.”

Yoon-Hye menutup flap ponselnya lalu memasukkan benda itu kembali ke dalam saku jaketnya. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah orangtuanya. Mereka sudah lama tidak makan malam bersama. Sejak bekerja menjadi penulis artikel, Yoon-Hye tinggal terpisah dengan orang tuanya. Gadis itu memilih untuk tinggal di sebuah apartement sederhana yang letaknya dekat dengan perusahaan tempatnya bekerja. Lagipula ia sudah berusia dua puluh dua tahun. Sudah cukup dewasa untuk hidup mandiri.

Perjalanan ke rumah orangtuanya tidak memakan waktu lama. Hanya sepuluh menit naik bus untuk pergi ke stasiun dan lima belas menit naik subway. Ini sudah tiga minggu sejak terakhir kali Yoon-Hye mengunjungi rumah orangtuanya. Biasanya ia menghabiskan waktunya untuk tinggal di rumah saat sedang cuti. Ayahnya adalah seorang pegawai di sebuah Pabrik Elektronik. Dan ibunya berjualan sayur di pasar. Ia mempunyai seorang adik yang masih duduk di tingkat tiga Senior Highschool.

“Hmm mashita… Masakan eomma memang yang paling lezat…” seru Yoon-Hye saat merasakan sup ayam gingseng buatan ibunya.

Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu tersenyum, “Benarkah?”

“Mmm.”

Eomma hanya memasak makanan yang enak saat eonni pulang, biasanya kami hanya akan makan Kimchidan sup ikan laut,” saut Kim Hyo-Ra. Adik Yoon-Hye.

“Yaa! Ini karena appa yang memintanya. Lagipula aku selalu memasakan makanan yang enak untuk kita meskipun bukan dengan daging,” balas wanita itu.

Yoon-Hye tersenyum melihatnya, “Itu karena appa sangat mencintaiku.”

“Sudah, lanjutkan makan kalian,” lerai seorang pria yang terlihat kurus namun masih kuat di usianya yang sudah hampir enam puluh.

Inilah yang membuat Kim Yoon-Hye tidak mengenal arti kata sendiri selain tidak sedang bersama siapa-siapa dan tidak ada orang lain disekitarnya. Karena ia tidak pernah merasakan sendiri saat bersama keluarganya. Ia punya keluarga lengkap yang sangat dicintainya dan kekasih yang selalu menemaninya. Cho Kyuhyun, pria yang sudah dua tahun menjadi kekasihnya.

***

Sudah dua minggu sejak atasannyamemberi tema tugas untuk bahan artikel yang harus dikerjakannya. Tapi tetap saja Yoon-Hye belum bisa menyelesaikan artikel itu sementara waktu yang diberikan atasannya hanya sebulan.

Kim Yoon-Hye menoleh ke samping saat mendengar temannya tertawa sendiri. Gadis itu melihat Kang Hye-Sung, temannya sedang tertawa sambil menatap layar komputer di depannya.

“Sepertinya menarik,” komentar Yoon-Hye.

“Aku baru mendapatkan hasil riset yang dikumpulkan oleh Jang Hyuk-Soo ssi. Cukup menarik. Tentang warna-warna cinta pertama.”

“Warna?”

“Mm,”Hye-Sung mengangguk pelan, “Seperti warna pink, itu artinya si gadis mendapatkan cinta pertamanya. Atau warna biru, si gadis hanya bisa menyukai diam-diam.”

Yoon-Hye terdiam. Cinta pertama? Hal itu mengingatkannya pada masa remajanya. Dulu saat ia jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Ia menyukai sunbae-nya, Lee Hyuk-Jae. Sepertinya warna biru cocok untuknya. Karena dulu Yoon-Hye memang hanya bisa menyukainya diam-diam. Tidak pernah ada percakapan diantara mereka. Yoon-Hye ingat ia pernah meminjamkan sapu tangannya kepada laki-laki itu untuk mengusap wajahnya yang basah setelah mencuci muka di washtafel dekat lapangan sekolah. Itu pertama kali Hyuk-Jae melihatnya. Setelah itu hingga lulus, Yoon-Hye tidak pernah menyatakan perasaannya.

“Sudah jam lima lewat, kau tidak pulang?” tanya Hye-Sung menyadarkan Yoon-Hye dari lamunan masa lalunya.

Gadis itu mengerjap pelan. Lalu mengecek jam tangannya sendiri. “Kau masih tinggal di sini?” tanyanya.

Kang Hye-Sung mengangguk pelan sebagai jawaban. Gadis itu kembali sibuk dengan pekerjaannya. Yoon-Hye membereskan barangnya dengan cepat. Ia baru saja akan beranjak dari duduknya saat ponselnya berbunyi.

Yeoboseo?” jawabnya begitu benda itu menempel ke telinga. Gadis itu mengernyit pelan saat mendengar suara tangis dari seberang sana, “Kim Hyo-Ra, tenanglah. Aku tidak bisa mendengar suaramu. Apa yang terjadi? …Pulang? Sekarang? …Mwo? Tunggu aku!”

“Apa ada masalah?” tanya Hye-Sung.

“Aku tidak tau, Hyo-Ra tidak mengatakannya dengan jelas. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi. Aku pergi dulu Hye-Sung ah, anyeong!” pamitnya lalu cepat-cepat melangkah pergi.

***

“Dia terkena PHK dan mempunyai hutang kepada rentenir tapi tidak pernah memberitahukannya kepadaku!” ucap ibu Yoon Hye dengan nada tinggi.

Appa,apakah itu benar?” tanya Yoon-Hye.

“Maafkan aku…” jawab pria itu lirih. Ia memalingkan wajahnya tidak ingin menatap wajah kecewa istri dan putri-putrinya.

“Sekarang rumah ini akan di sita! Apa yang harus kita lakukan?! Ini semua gara-gara dirimu!!” ibu Yoon-Hye kembali marah. Gadis itu hanya bisa menahan ibunya agar tidak memukul ayahnya lagi.

Eomma,tenanglah…”

“Bagaimana aku bisa tenang kalau kita akan kehilangan tempat tinggal karena pria brengsek sepertinya? Katakan padaku darimana kita bisa mendapatkan uang lima puluh juta won dalam waktu dua minggu?”

Yoon-Hye menatap sedih. Kenapa hal ini tiba-tiba saja terjadi pada keluarganya? Gadis itu masih tetap memeluk ibunya agar tenang sementara Hyo-Ra masih menangis disebelahnya. Darimana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu?

***

Jalanan terlihat basah karena hujan deras mengguyur kota Seoul siang tadi. Aroma hujan masih tercium kuat dan langit masih terlihat mendung. Kim Yoon-Hye melangkah pelan tanpa tenaga menuju halte bus. Gadis itu tidak berhasil mendapatkan pinjaman uang dari perusahaan tadi pagi. Pegawai yang belum bekerja selama lima tahun, tidak bisa meminjam uang di atas lima juta won. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Ia belum memberitahu hal ini pada Kyuhyun. Sejak pulang dari rumah orangtuanya kemarin lusa, Yoon-Hye belum bertemu dengan Kyuhyun sama sekali. Mereka hanya beberapa kali mengirim pesan untuk menanyakan kabar dan apa yang sedang dikerjakan.

Gadis itusedang berdiri di pinggir jalan akan menyeberang saat matanya tidak sengaja menatap sosok yang dikenalnya. Ia melihat ibunya sedang berada di dalam sebuah Café bersama seorang pria. Gadis itu tidak dapat memikirkan apapun. ia cepat-cepat menyeberang dan mencari tau apa yang tengah dilakukan oleh ibunya.

Eomma, apa yang kau lakukan di sini?”

Wanita itu tampak terkejut saat melihat Yoon-Hye menegurnya. Sama sekali tidak menyangka bahwa akan bertemu dengan gadis itu.

“Apa dia putrimu?” tanya pria yang sedang duduk berseberangan dengan ibu Yoon-Hye.

“Ah, ye. Aku permisi sebentar,” pamit ibu Yoon-Hye pada pria itu sambil menarik tangan Yoon-Hye agar ikut keluar bersamanya.

Eomma, apa yang kau lakukan dengan pria itu? Siapa dia?” tanya Yoon-Hye lagi saat mereka sudah berada di luar.

“Dia hanya teman lama eomma, kami tidak sengaja bertemu di jalan tadi.”

Gadis itu merasa ragu, sepertinya ada yang disembunyikan oleh ibunya. “Apa dia juga mengenal appa? Kalau begitu biarkan aku menyapanya.”

“Tidak perlu. Lebih baik kau cepat pulang. Aku akan mampir ke tempatmu nanti,” tolak ibunya.

“Tenang saja, aku tidak sedang sibuk.”

Aniyo!”

Waeyo?”

Wanita itu menghela nafas pelan. Ia menatap lurus ke depan. “Kami memutuskan untuk bercerai.”

Mwo?” gadis itu terkejut mendengarnya, “Eomma, bagaimana kalian bisa begitu?”

“Ini keputusannya sendiri.Aku juga tidak bisa berharap banyak lagi padanya.”

“Bagaimana bisa kalian memutuskan hal ini sendiri tanpa aku dan Hyo-Ra tau?”

Mianhae, Yoon ah… Sepertinya ini memang yang terbaik. Pulanglah. Aku akan menemuimu nanti.” Ibu Yoon-Hye melangkah kembali masuk ke dalam Café.

Eomma,mana bisa kalian seperti ini pada kami?!” gadis itu menatap putus asa sekaligus ingin menangis.

***

‘Eonni mianhae… Aku tidak bisa lagi melanjutkan sekolahku. Aku melakukan hal yang membuat kalian kecewa. Aku tau keluarga kita memiliki masalah berat. Tapi aku tidak dapat membantu sama sekali dan semakin membuat kalian susah. Maafkan aku…Aku harus pergi dari rumah. Aku tidak bisa bersama kalian lagi. Aku hamil dan akan ikut calon suamiku pindah ke luar negeri. Maafkan aku tidak memberitahu hal ini padamu. Maafkan aku telah mengecewakanmu. Aku tau kau tidak akan memaafkanku. Tapi kumohon untuk tidak mencariku. Aku akan baik-baik saja. Dia orang yang bertanggung jawab. Karena itu aku ikut pergi bersamanya. Jaga dirimu baik-baik, eonni.Selamat tinggal. Aku menyayangimu. – Kim Hyo-Ra’

 

Tubuh Yoon-Hye terasa lemas seketika setelah membaca surat yang ditemukannya di depan pintu apartementnya tadi pagi. Air matanya bergulir pelan. Gadis itu duduk di lantai bersandar pada ranjangnya. Kepalanya terasa penuh hingga ingin meledak. Bagaimana bisa keluarganya seperti ini? Bagaimana bisa hidupnya tiba-tiba seperti ini? Ia butuh seseorang untuknya berbagi. Gadis itu mengambil ponsel di dalam sakunya lalu menelepon Cho Kyuhyun.

Yeoboseo? Oppa,bisakah kita bertemu hari ini?”

***

Suasana taman siang itu terlihat sepi. Mungkin karena cuaca mendung yang membuat udara menjadi lebih dingin. Hingga sebagian orang malas untuk keluar pada saat-saat seperti ini. Kim Yoon-Hye sendiri tidak mengerti. Mungkin ini hanya kebetulan, tapi suasana langit akhir-akhir ini sangat sesuai dengan suasana hatinya. Mendung.

Gadis itu duduk di sebuah ayunan berwarna biru yang sudah kusam. Tubuhnya merasa menggigil meskipun sudah memakai sebuah jaket panjang selutut berwarna hitam. Ia merasakan dingin di dalam tubuhnya. Dingin yang begitu menusuk hingga membuatnya sulit untuk bernafas.

“Yoon ah!”

Yoon-Hye mengangkat wajahnya saat namanya dipanggil. Ia melihat seorang laki-laki tinggi berkaca mata dengan rambut hitam sedikit panjang sedang berjalan menghampirinya. “Oppa…”

Laki-laki itu duduk di ayunan lain yang ada di sana. Di sebelah gadis itu. Mereka terdiam sesaat. Yoon-Hye tidak tau harus mulai mengatakan dari mana. Ini terlalu tiba-tiba untuknya. Ia berharap Kyuhyun bertanya padanya hingga ia bisa mengatakannya tanpa memulai lebih dulu.

“Yoon ah, ada yang ingin kusampaikan kepadamu.”

“Apa itu?” tanya Yoon-Hye. Ia menatap laki-laki di sebelahnya. Menunggunya untuk berbicara sementara Kyuhyun masih menatap lurus ke depan.

Mianhaeyo…”

Aniyo, oppa. Jangan katakan hal itu.” Yoon-Hye memalingkan wajahnya. Tiba-tiba saja ia merasa jantungnya seperti diremas. Ia tidak ingin mendengar kata maaf lagi. Jika laki-laki itu meminta maaf, artinya akan ada sesuatu yang menyakitkan. “Ini aneh… Kenapa akhir-akhir ini aku sering sekali mendengar kata itu? Dari appa, eomma, bahkan Hyo-Ra.”

“Yoon ah… Aku tidak ingin mengatakan ini. Tapi seminggu yang lalu penyakit jantung eomma kambuh. Dia menginginkanku untuk me_”

“Hentikan!” potong Yoon-Hye sambil menutup kedua telinganya dengan tangan.

“Dia ingin aku menikah dengan gadis pilihannya.”

“Hentikan oppa! Kumohon hentikan…” gadis itu menunduk, masih menutup kedua telinganya. Matanya terasa berair dan hidungnya terasa perih. Ia sulit bernafas. “Bukankah kau mencintaiku? Kita sudah lama bersama. Tidak bisakah kau mempertahankanku?”

“Aku tidak bisa menolaknya.”

“Jangan katakan lagi! Sudah cukup. Aku mengerti…” gadis itu menahan suaranya yang bergetar.

Mianhaeyo, Yoon ah…”

Cho Kyuhyun beranjak dari duduknya lalu melangkah pergi. Meninggalkan Yoon-Hye yang masih ada di sana. Terisak hebat. Ia seperti tak berbentuk lagi. Semua harapannya menguap tak berbekas. Semua yang terjadi menjadi sia-sia. Satu-satunya orang yang ingin dijadikannya tempat berpegang, kini pergi. Ia jatuh menjadi berkeping-keping. Semua rasa sakitnya tumpah menjadi aliran air mata yang tidak bisa berhenti.

Gadis itu memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Ia ingin melihat keadaan ayahnya juga ingin mengetahui tentang perceraian orangtuanya. Matanya terasa bengkak, tapi ia harus pulang. Ia ingin menyelesaikan semuanya satu per satu. Rumah ada dalam keadaan gelap ketika ia tiba. Apakah tidak ada orang di rumah? Hyo-Ra sudah pergi. Kemana orangtuanya?

Yoon-Hye menyalakan lampu ruang tamu sekaligus ruang tengah. Sepertinya memang tidak ada orang. Gadis itu melangkah membuka kamar Hyo-Ra. Semuanya masih rapi seperti biasanya. Ia menutup kembali pintu kamar itu lalu membuka pintu kamar lain. Tangannya terulur menekan saklar lampu, membuat ruangan itu terang dalam sekejap.

Tubuhnya seketika merosot. Tenaganya menguap. Habis tak ada sisa. Air matanya berjatuhan tanpa suara. Ia menatap kosong pada satu titik. Di sana, di tengah-tengah kamar, ia melihat appanya gantung diri dengan meninggalkan sebuah kotak putih dan selembar surat untuknya.

‘Putriku Kim Yoon-Hye, maafkan appa tidak bisa menjadi orangtua yang baik untukmu dan Hyo-Ra. Maafkan appa karena tidak bisa membahagiakan kalian. Maafkan appa karena tidak bisa memberikan yang terbaik untuk kalian. Appa sama sekali tidak berguna. Yang bisa appa berikan hanya rasa cinta untuk kalian. Tapi rasa cinta saja tidak cukup. Ada banyak hal yang diperlukan dalam hidup dan appa tidak bisa memberikannya. Appa hanya bisa meninggalkan gaun ini untukmu. Appa ingin melihatmu memakainya saat kau menikah bersama Cho Kyuhyun nanti. Tapi appa merasa tidak pantas untuk melihatmu. Bahkan menatapmu saja appa merasa malu. Kau ingat kenapa eommamu selalu mengomel karena gaji appa sangat kecil? Itu karena Appa menabungkan seperempatnya tiap bulan untuk membeli gaun ini. Appa ingin kau terlihat cantik saat memakainya. Appa ingin putri appa menjadi pengantin paling cantik yang pernah ada. Maafkan appa karena hanya bisa memberikan ini. Appa terpaksa meminjam uang kepada rentenir untuk menutupi kebutuhan keluarga karena appa tidak ingin menjual gaun ini. Kim Yoon-Hye, putriku. Berjanjilah pada appa kau akan hidup bahagia dengan orang yang kau cintai. Berjanjilah kau akan selalu bahagia. Appa mencintaimu.’

***

Kim Yoon-Hye terdiam menatap lembar artikel di tangannya itu. Waktunya sudah habis dan ia harus menyerahkan artikel itu pada atasannya. Gadis itu menghela nafas sejenak sebelum meletakkan lembar artikel itu di atas meja atasannya. Kemudian ia melangkah ke luar ruangan. Hari ini, Yoon-Hye memang meminta ijin untuk pulang lebih awal. Sudah seminggu sejak semua hal yang menyakitkan datang padanya. Kini ia mengerti tentang apa arti dari kata ‘Sendiri’ itu.

Sendiri bukan hanya sebuah kata yang memiliki arti tidak sedang bersama siapa-siapa atau tidak ada orang lain disekitarnya.

Gadis itu meletakkan setangkai bunga mawar putih di hadapan sebuah foto seorang pria yang amat disayanginya. Seorang pria yang sudah membesarkannya. Seorang pria yang meninggalkannya seminggu lalu.

Tetapi, kata sendiri itu juga berarti saat orang yang kita cintai pergi untuk selamanya…

 

Setelah dari rumah pemakaman ayahnya. Yoon-Hye pergi ke pasar tempat ibunya berjualan. Ia tidak menemui ibunya, hanya menatapnya dari jauh. Ibunya terlihat sedang mengobrol bersama seorang pria yang dilihatnya di Cafédulu. Gadis itu menatap surat Hyo-Ra dalam genggamannya.

Saat kita tidak bisa berkumpul lagi bersama orang-orang yang kita sayangi…

Gereja besar itu terlihat indah. Suasana terasa damai penuh kebahagiaan. Laki-laki yang dicintainya sedang berdiri di sana. Memakai jas putih dengan setangkai mawar tersemat disakunya. Terlihat sangat tampan. Namun bukan ia yang berdiri disisinya. Bukan ia yang memakai gaun pengantin itu. Yoon-Hye merasa dadanya kembali sesak. Gadis itu memalingkan wajahnya lalu pergi meninggalkan gereja.

Dan saat kita tidak dapat hidup bersama orang yang kita cintai…

Gadis itu duduk di sebuah bangku panjang. Berbagai orang berlalu-lalang melintas di depannya. Stasiun itu terlihat ramai seperti biasanya. Tapi ia merasakan kosong dan hampa. Sendiri… Ia merasakan hal itu. Ia berada di tengah-tengah keramaian, namun ia merasa sendiri. Tidak ada satu orang pun yang memperdulikannya. Mereka terlihat sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak ada bedanya, ada atau tidak ada orang disekitarnya.

Sendiri adalah perasaan kosong dan hampa. Rasa sepi, kehilangan, juga rasa sakit ketika tidak ada hal yang bisa kau perjuangkan lagi. Hal yang menjadi alasanmu untuk terus hidup.

 

Sebuah kereta subway tiba di stasiun sesuai jadwal. Seorang laki-laki dengan rambut hitam berantakan, kaos santai abu-abu dan celana jeans ketat lengkap dengan sepatu kets putih keluar ketika pintu keretanya terbuka. Tangannya sedang menenteng sebuah ransel yang bertengger di pundaknya. Ia melangkah mendekati seorang gadis yang duduk di sebuah bangku panjang. Tepat dihadapan pintu kereta yang terbuka tadi.

Cogiyo…”

Yoon-Hye mengangkat wajahnya saat mendengar suara itu. Untuk beberapa saat otaknya seperti berhenti berfikir.

“Kim Yoon-Hye ssi? Ternyata itu benar kau,” dia tersenyum manis. “Apa kau masih mengingatku? Aku Lee Hyuk-Jae. Kita pernah satu sekolah dulu.”

Bagaimana gadis itu bisa melupakannya? Lee Hyuk-Jae, sunbae-nya. Sekaligus cinta pertamanya.

“Oh, apa kau sedang menangis?” Hyuk-Jae menatap terkejut. Ia merogoh saku celananya lalu mengulurkan sesuatu pada Yoon-Hye.

Yoon-Hye bahkan tidak sadar bahwa pipinya basah. Ia menatap sesuatu dalam genggaman tangan Hyuk-Jae. Sesuatu yang amat dikenalnya. Sebuah sapu tangan berwarna biru.

“Milikmu,” senyum Hyuk-Jae, “Terima kasih sudah meminjamkannya padaku.”

Gadis itu menerimanya sambil menatap tercenung.

Namun jika kau tidak pernah merasakan perasaan sendiri, kau tidak akan pernah menemukan sesuatu yang berarti untukmu. Sesuatu yang membuatmu memiliki arti. Sesuatu yang akan menemanimu. Sesuatu yang membuat kau tidak pernah merasa sendiri lagi.Sesuatu yang dapat menjadi alasanmu untuk terus bernafas.

 

Bibir Yoon-Hye mulai tersenyum. Ditatapnya laki-laki itu. “Gomawo, Sunbae…” jawabnya.

Lalu, apa kini ia sudah menemukan sesuatu itu? Waktu yang akan menjawabnya. Karena takdir, tidak pernah tertebak. Sesederhana itu…

FIN