tumblr_lhhkva0qtb1qdbc9to1_4001

Perasaan itu seperti sebuah ilusi

Yang terkadang tidak dapat mengenali rasa

Seperti air hujan, yang tak tau dimana ia harus jatuh

Gerimis…

Cewek itu melamun sambil menatap keluar pada bunga Krisan dalam pot yang basah oleh tetesan gerimis. Semakin hari, ia semakin merasa ragu pada dirinya sendiri. Apa yang sebenarnya dirasakannya?

‘Lo cuma penasaran sama dia Kis. Karena dari dulu loe belum tau seperti apa Dimas. Loe jadi berusaha pingin deket sama dia. Tapi sekarang hal itu nggak mungkin. Loe tau sendiri dia udah nikah. Dan lo udah punya Rama.’

Kata-kata sahabatnya, Lira, selalu berputar di dalam otaknya. Ada sebagian dari dalam hatinya membenarkan, namun ada pula yang menolak. Ia tau semua tentang laki-laki itu. Ia tau bagaimana dimas. Ia tau apa saja hal yang dimas sukai, atau tidak suka. Ia tau. Tidak ada hal yang membuatnya penasaran, lalu apa?

Kling…

Sebuah pesan masuk dalam ponselnya. Dengan malas, Kisa membukanya. Raut wajahnya berubah begitu tau apa isi pesan itu. Dari Lira.

‘Kis, lo dimana? Gue baru saja dapet kabar kalo tugas dari pak Herman diminta hari ini sebelum jam dua sore. Lo udah selesai belum?’

“Aduh mati gue…” desis Kisa, “Tugas gue ada di Rama,”ucapnya panik sambil mencari nomor telepon cowok itu.

Cewek itu mengigit bibirnya sambil menunggu sambungan teleponenya di jawab. Jemari tangannya mengetuk-ngetuk meja dengan tidak sabar.

“Hallo, Rama?? Kamu di mana sekarang? … Iya, tugasku diminta hari ini. Udah selesai kan bikin covernya? Tolong anterin ke sini ya… Kutunggu di lobi kampus, oke?”

Setelah memutus sambungan telepon itu, Kisa langsung membereskan barangnya di atas meja lalu pergi dari café. Ia harus kembali ke kampus. Beruntung dirinya tadi belum pulang dan hanya mampir ke café favoritenya yang tidak jauh dari kampus.

***

Kisa sedang menatap papan info dengan serius saat seseorang menepuk bahunya.

“Kak Dimas?” sapanya terkejut.

“Kebetulan ketemu di sini. Nih, bukunya udah ketemu. Untung aja nggak ketinggalan di bandung dulu. Di sini ada semua materi statistic yang kita bahas kapan hari. Mau lihat?”

“Tapi aku harus ngumpulin tugas buat Pak Herman, kak,” jawab Kisa ragu.

“Lupa? Asdos Pak Herman kan aku,” Dimas tertawa kecil “Santai aja. Pak Herman nanti sore berangkat ke Australi. Kira-kira seminggu baru balik lagi ke Jakarta. Mangkanya dia minta tolong ke aku buat ngumpulin tugas kalian.”

“Yang bener?”

“Iya. Jadi… Kita ke perpustakaan sekarang?”

“Eng… oke.”

***

42 missed call

Kisa mengernyitkan keningnya heran. Ada empat puluh dua panggilan tak terjawab dari Lira. Memang tadi ia meletakkan tasnya di locker sebelum masuk ke perpustakaan. Dan astaga, ia lupa menghubungi Rama. Tapi kenapa tidak ada panggilan dari cowok itu?

Cewek itu mencoba menghubungi Rama, tapi hanya operator telepon yang menjawab. Tidak biasanya ponsel cowok itu mati. Lalu, ia beralih ke nomor Lira.

“Hallo?”

“Hallo Ra? Kenapa lo nelepon gue?” Tanya Kisa begitu telepon tersambung.

“Udah telat kalau lo tanya sekarang. Urusin aja itu Dimas!”

“Lo kenapa sih?”

“Rama kecelakaan.”

“Apa?”

“Sebenernya yang pacarnya rama itu elo atau gue? Kenapa selalu gue yang tau tentang Rama? Dateng aja ke rumah sakit kalau lo nggak percaya.”

Tut…tut…tut…

Sambungan telepon terputus. Menyisakan gadis itu dalam ketercenungan.

.

.

Kisa berlari. Ia berlari dengan cepat menyusuri koridor rumah sakit itu. Matanya terlihat gelisah dan rambutnya berantakan terkena peluh. Ia melihat Lira sedang berdiri di depan ruangan ICU. Dengan cepat ia berlari menuju gadis itu.

Pikirannya terasa kosong saat matanya menangkap sosok yang sedang terbaring di dalam ruang ICU itu. Dari kaca ruangan itu, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana kondisi Rama juga kedua orangtua cowok itu yang sedang menangis. Cowok itu diam sambil memejamkan matanya. Ada alat bantu pernafasan yang menutupi hidungya. Kepalanya terbalut perban, juga di lengannya.

“Dia kritis.”

Kisa tercekat. Ia bahkan tidak tau harus berkata apa.

“Kondisinya masih lemah setelah sakit typus kemarin. Tapi dia tetep mau ngelakuin apa yang lo minta.”

Lira menyodorkan makalah itu lalu berjalan pergi. Meninggalkan Kisa yang terisak sambil menatap makalah itu. Tugasnya. Ia tidak mungkin menyerahkan makalah itu pada dosen lagi. Tidak setelah darah Rama menodainya. Darah cowok yang tulus menyayanginya.

Cewek itu memeluk erat makalah itu. Meneriakkan berjuta permohonan maaf dalam hatinya. Tidak pernah ia merasakan penyesalan yang begitu dalam seperti saat ini. Bahkan tidak seperti saat ia terlambat mengatakan rasa sukanya pada Dimas empat tahun yang lalu.

***

Hujan…

Cewek itu berdiri di depan rumah Lira sambil terisak. Masih mendekap makalah itu erat-erat. Ia mengangkat wajah saat Lira menghampirinya sambil membawa payung.

“Kenapa lo hujan-hujanan di sini?” tanya Lira. Ada nada cemas dalam pertanyaannya.

“Gue cuma pingin tau, Ra… Gue cuma pingin tau kenapa gue nggak bisa lepas dari Dimas,” ucap Kisa dengan suara bergetar, “Lo bilang kalau gue cuma penasaran. Karena itu, gue pingin deket sama dia. Gue pingin kenal dia lebih dalam. Karena gue ingin menemukan satu alasan yang bisa buat gue benci sama dia. Buat gue bisa ngelupain dia.”

Lira terdiam. Tanpa mengatakan apapun, cewek itu memeluk kisa. Membiarkannya menumpahkan tangisnya.

Aku ingin tau tentangmu…

Ingin mengenalmu lebih dalam…

Untuk dapat menemukan satu alasan

Satu alasan untukku membencimu

Karena aku ingin melupakanmu…