Tags

, ,

 

blue pearl

 

‘Yoon ah, berjanjilah… Untuk tetap baik- baik saja tanpaku…’

Gadis itu berdiri di depan sebuah rak toko buku. Matanya menatap satu per satu judul buku yang berjajar di sana. Ia suka membaca. Dulu eomma-nya selalu membacakan dongeng sebelum ia tidur. Dongeng tentang kehidupan putri yang selalu berakhir bahagia. Ia ingin kehidupannya seperti itu. Namun semakin ia dewasa, ia semakin tau bahwa tidak semua dongeng itu berakhir bahagia.

Kim Yoon Hye menghela nafas pelan. Ia mengeluh dalam hati. Mengapa ia tidak bisa hidup seperti orang normal lainnya? Haruskah ia pindah keluar negeri? Tapi cepat atau lambat appanya pasti akan tau. Gadis itu kembali menatap jajaran buku pada rak. Tanpa menyadari seseorang yang tengah berdiri di sebelahnya.

“Tiga puluh dua menit lebih dua puluh detik.”

Yoon Hye mengerjap pelan, ia menoleh dan melihat Cho Kyuhyun sedang berdiri di sebelahnya sambil fokus membaca buku. Gadis itu menatap heran. Apa baru saja laki-laki itu berbicara kepadanya? Atau hanya menggumamkan kalimat pada buku yang dibacanya?

Puk

Kyuhyun menutup bukunya tiba-tiba lalu menoleh pada Yoon Hye, “Waktu yang kau gunakan untuk melamun,” tambahnya sambil tersenyum.

“M-mwo?”

“Kau sudah berdiri di sini setengah jam lebih. Aku yakin kau tidak sedang mencari buku apa yang kau suka, lebih tepatnya kau sedang melamun di sini. Apa aku salah?”

Untuk sejenak gadis itu hanya terdiam. Ia menatap laki-laki yang kini sedang melihat-lihat beberapa buku itu. Kim Yoon Hye kebetulan bertemu Kyuhyun di tempat ini. Apakah itu memang sebuah kebetulan? Ia merasa aneh, kenapa akhir-akhir ini laki-laki itu seolah berkeliaran di sekitarnya.

Ctaakk

Mata Yoon Hye reflek mengerjap saat Kyuhyun menjentikkan jari tepat di depan matanya.

“Apa melamun adalah hobimu? Lebih aneh sedikit dari hobi Yesung Hyung yang suka mengoleksi kumbang. Apa kau sudah selesai?”

“Mwo?”

“Kalau kau sudah selesai memilih buku, kita makan di kedai depan. Aku yang traktir.”

Gadis itu tercenung. Mengapa semuanya seolah terjadi begitu cepat? Ia bahkan belum berfikir akan menerima tawaran laki-laki itu. Tapi saat ini, ia sudah duduk di sebuah bangku, di depan laki-laki yang sibuk memanggang potongan daging. Kenapa otaknya selalu lamban untuk menanggapi laki-laki ini dan kenapa ia tidak mengabaikan saja seperti biasa yang ia lakukan pada orang lain. Kenapa?

Cho Kyuhyun mendesah pelan. “Yoon ah, kalau kau seperti ini terus aku tidak yakin bisa meninggalkanmu.”

“Mwo?”

“Akhirnya kau sadar juga dari lamunanmu. Aku tidak bisa meninggalkanmu kalau kau memang punya hobi melamun.”

Yoon Hye mengerjap pelan. Ia masih belum memahami arti kalimat laki-laki itu.

Cho Kyuhyun mendesah lagi, “Bagaimana jika terjadi sesuatu saat kau melamun? Mungkin saja ada orang jahat yang menghampirimu dan kau tidak menyadarinya saat melamun. Seperti yang kulakukan di toko buku tadi. Lalu, bagaimana jika tiba-tiba ada yang menabrakmu saat kau melamun? Atau sebaliknya, seperti kau menabrakku saat itu. Lebih parahnya bagaimana kalau kau melamun di tengah jalan yang penuh dengan mobil berkeliaran? Nyawamu bisa saja melayang.”

Gadis itu tersenyum, “Itu tidak mungkin…”

“Yeppo…”

“Mwo?”

“Kau sangat cantik saat tersenyum,” jawab Kyuhyun sambil memajukan tubuhnya ke tengah meja kecil itu, “Apa kau bisa menjaminnya?”

DEG

Ini pertama kalinya Yoon Hye bertatapan dengan laki-laki begitu dekat. Ia bahkan dapat melihat serat-serat yang ada di mata coklat Kyuhyun. Laki-laki itu tersenyum sambil menarik tubuhnya kembali kebelakang.

“Sudah kuputuskan, aku tidak akan meninggalkanmu!”

DEG

Apa maksudnya itu?

“Gelangmu sangat cantik. Apa itu dari orang yang kau cintai?”

Yoon Hye menggerakkan kepalanya, menatap gelang yang melingkar di pergelangan tangannya. Bibirnya tersenyum. “Ini adalah gelang milik eomma. Kau lihat batu mutiara biru yang hanya separuh ini? Eomma bilang kalau aku menemukan seseorang yang membawa separuh mutiara biru ini, itu artinya orang itu adalah belahan jiwaku…”

“Jadi… Belahan jiwamu itu bukan aku?? Aku tidak punya setengah dari batu itu.”

“Aniya… Eomma bilang itu hanya mitos turun temurun.”

Kyuhyun tersenyum, “Senang rasanya mendengarmu berbicara panjang seperti itu. kau pasti sangat mencintai eommamu. Apa kau tinggal bersamanya saat ini?”

Yoon Hye menggeleng pelan, ”Eomma sudah meninggal saat aku masih kecil.”

“Oh, mianhaeyo… Jadi, kau hanya tinggal dengan appamu sekarang?”

Gadis itu terdiam sejenak, “Cho Kyuhyun ssi, terima kasih sudah mentraktirku. Aku harus pergi sekarang. Kamsahamnida,” ucapnya sambil beranjak dari tempat duduk kemudian berlalu tanpa menunggu jawaban kyuhyun.

Laki-laki itu terkejut beberapa saat. Tanpa berfikir, ia ikut beranjak dari duduknya. Menyusul gadis itu, menahan lengannya.

“Aku minta maaf kalau kata-kataku salah_”

“Aniyo… Bukan itu. Tidak ada yang salah denganmu,” potong Yoon Hye dengan raut wajah gelisah.

“Lalu kenapa kau tiba-tiba pergi?”

Yoon Hye mengangkat wajahnya, menatap mata coklat hangat dibalik kaca mata yang dipakai laki-laki itu, “Kesalahan itu ada padaku,” ucapnya pelan, “Lebih baik kita tidak bertemu lagi.”

“Wae? Setelah aku tau tentangmu apa kau pikir aku akan meninggalkanmu? Aku tidak akan meninggalkanmu Yoon ah. Aku tidak akan membiarkanmu melamun di tengah jalan, aku tidak akan membiarkanmu menabrak orang. Aku tidak akan meninggalkan__”

“Kau tidak tau apa-apa tentangku!!” potong Yoon Hye lagi. Tampak lapisan bening pada mata hitam indah itu.

“Karena itu aku ingin tau semua tentangmu.”

“Wae?”

“Karena aku menyukaimu.”

DEG

“Mianhae… Aku tidak bisa membalas perasaanmu. Kita baru bertemu beberapa kali, kau adalah orang asing untukku jadi tidak ada alasan untukku menerima perasaanmu,” balas Yoon Hye sambil melepaskan pergelangan tangannya yang dipegang laki-laki itu.

Kyuhyun mempererat genggaman tangan itu, “Aku tidak memintamu untuk membalas perasaanku. Aku juga tidak memintamu untuk percaya padaku. Aku hanya ingin melangkah di sebelahmu. Yang selalu ada tanpa kau minta. Kau boleh pergi meninggalkanku sejauh yang kau mau, tapi aku akan selalu mengikutimu kemanapun kau melangkah.”

Air mata gadis itu jatuh. Ia menatap tangan Kyuhyun yang menggenggam tangannya. Ada keyakinan yang dirasakannya dalam genggaman itu. Apakah ia harus mencobanya? Mempercayai seseorang yang sebelumnya tidak pernah hadir. Apakah semuanya akan baik-baik saja? Well, ia tidak akan tau sebelum mencobanya.

Yoon Hye mengangkat wajahnya, menatap laki-laki itu. “Saat menyeberangi jalan ini, apa kau bisa untuk tidak melepaskan genggamanmu?”

Laki-laki itu terdiam sejenak lalu bibirnya mulai tersenyum, “Kau tau, Yoon ah? Aku percaya dengan takdir bahwa pertemuan kita, bukanlah suatu kebetulan… Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Tidak saat menyeberangi jalan ini, tidak saat kau terjatuh, tidak akan pernah.”

“Gomawo, oppa…”

Kyuhyun tertegun mendengar panggilan itu. Bibirnya tersenyum. Ditatapnya dengan lembut gadis di depannya itu, “Kajja! Apa kau ingin makan ice cream?”

****

Kim Yoon Hye berjalan melewati koridor gedung universitas itu dengan gelisah. Kenapa ia merasa ada banyak mata yang menatapnya? Apa ada sesuatu yang aneh di pakaiannya? Atau sesuatu di wajah dan rambutnya? Gadis itu mendekap erat bukunya tanpa menyadari selembar foto jatuh dari dalam salah satu buku. Membuat seorang laki-laki yang kebetulan berpapasan dengannya, berhenti melangkah lalu memungut foto itu.  Laki-laki yang memiliki setengah batu mutiara biru pada kalung yang dipakainya. Blue pearl…

“Yoon ah!!!”

Kim Yoon Hye berhenti melangkah saat seseorang berteriak memanggil namanya. Ia bisa melihat temannya, Lee Rae Ki sedang berlari menghampirinya. Gadis itu berusaha mengatur nafasnya begitu sampai di hadapan Yoon Hye.

“Rae Ki ya, apa ada yang salah denganku? Aku merasa banyak yang menatapku hari ini,” gumam Yoon Hye sambil melirik kanan kirinya.

“Yaa, apa itu benar?”

“Mwo?”

“Aku mendengar kalau semalam, kau sedang makan dengan asisten dosen Cho Kyuhyun ssi. Apa itu benar?”

“Siapa yang mengatakannya?” tanya Yoon Hye terkejut.

“Ada seorang mahasiswi sini yang melihat kalian makan ice cream bersama. Yaa, apa kalian saling kenal? Kenapa kau tidak menceritakannya kepadaku?”

“I-igo…”

“Itu benar!”

Kedua gadis itu mengerjap pelan saat mendengar suara orang lain. Lee Rae Ki menoleh kebelakang dan terbelak melihat Cho Kyuhyun sedang tersenyum padanya.

“Berita itu benar,” ulang Kyuhyun, “dan dia akan menjelaskannya nanti karena sekarang aku akan membawanya dulu,” tambah laki-laki itu sambil menarik tangan Yoon Hye lalu berjalan pergi.

“YAA, kau mau kemana Yoon ah?” teriak Rae Ki.

“Oppa, kau akan membawaku kemana?” tanya Yoon Hye panik sambil berkali-kali menoleh ke arah Rae Ki.

“Temani aku makan. Aku belum makan sejak tadi pagi,” saut Kyuhyun santai.

“Aiiish… Jjinja!” runtuk Lee Rae Ki pelan sambil menatap kedua orang yang semakin menjauh itu, “Sekarang aku harus pergi ke Myeondong sendirian,” gerutunya pelan.

“Myeondong? Bagaimana kalau pergi bersamaku?”

“OMO! Donghae ssi!!” gadis itu terlonjak kaget saat seseorang tiba-tiba berbicara di belakangnya, “Kenapa kau selalu muncul tiba-tiba?”

****

Kim Yoon Hye berjalan pelan menuju gedung universitasnya dengan pelan. Langit mulai terlihat cerah meskipun matahari belum Nampak. Hujan lebat tadi pagi membuat semua menjadi basah. Yoon Hye menikmati aroma tanah dan daun-daun yang basah itu. terasa sejuk. Tangannya mendekap sebuah tas plastik berisi kotak bekal. Sudah sebulan berlalu sejak ia mencoba untuk percaya pada Cho Kyuhyun. Bibirnya tersenyum. Ini pertama kalinya Yoon Hye membawakan kotak bekal untuk seseorang. berlalu Selama hidupnya, ia merasa benar-benar menjadi seorang gadis normal lainnya. Ia berharap agar dapat seperti ini selamanya.

Tiba-tiba langkahnya berhenti. Gadis itu melirik sebuah kaca kecil dibawah gantungan papan iklan sebuah toko. Ia bisa melihat ada beberapa orang mengikutinya. Kemudian, ia mulai berjalan lagi dengan pelan. Tujuannya bukan lagi ke kampus. Gadis itu berbelok di gang pertama yang ditemuinya. Kakinya langsung berlari tepat setelah belok. Ia tau mereka bukan suruhan appanya. Appanya selalu menyuruh Park ajhusi untuk mengawasinya, bukan yang lainnya.

Yoon Hye mendengar suara derap kaki di belakangnya. Gadis itu menoleh ke belakang tanpa berhenti. Benar saja, ada empat atau lima orang sedang mengejarnya. Kakinya terus berlari berusaha menghindari orang-orang di jalan.

Braak…

Kotak bekal yang dibawanya terjatuh, isinya berhamburan di tanah tapi ia sudah tidak bisa berhenti. Bahkan ia tidak mendengar teriakan seseorang yang sekarang juga ikut mengejarnya. Gadis itu terus berlari melewati gang-gang. Dadanya terasa sesak, nafasnya seolah habis. Tapi ia tidak bisa berhenti. Tidak boleh lebih tepatnya. Hingga akhirnya ia belok dan terhenti. Gang buntu. Ia berbalik tapi pria-pria yang mengejarnya itu sudah ada di mulut gang.

Salah satu pria itu maju sambil mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya. Selembar foto. “Jadi kau putri Kim Jang Woo?” tanyanya dengan suara serak.

“Aku bukan putrinya!” saut Yoon Hye dengan suara bergetar.

“Yoon ah!!” teriak Kyuhyun tiba-tiba.

“Andwae oppa!!” teriak Yoon Hye. Gadis itu berlari ke arah Kyuhyun tapi pria yang memegang foto itu langsung menahannya.

Yoon Hye tersentak saat merasakan sebuah benda dingin tertempel di lehernya. Ia tau benda apa itu. sebuah pisau. Nafasnya tercekat. “Oppa KKA!!!” teriaknya saat pria yang lainnya mulai mengelilingi Kyuhyun.

Kyuhyun tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Kenapa pria-pria ini mengejar Yoon Hye. Tapi ia tidak ingin meninggalkan gadis itu.

DOR

“Aaaaaaakhhh…”

Pria yang menahan Yoon Hye seketika limbung sementara gadis itu berjongkok sambil menutup telinganya rapat-rapat.

BOUUGH…

Kyuhyun menendang seorang pria saat beberapa orang berjas hitam datang membantu Kyuhyun. Suara pistol dan pukulan saling terdengar. Tanpa Yoon Hye sadari, pria yang sudah limbung di belakangnya karena terkena tembakan di bahu, perlahan mengambil sebuah pistol dari balik jasnya.

DOOR

Semuanya terjadi dalam hitungan detik. Gadis itu tersentak mendengar suara tembakan dari belakangnya. Gerakan Cho Kyuhyun sontak terhenti ketika sebuah peluru menembus punggungnya, tepat di tempat jantungnya berada.

“OPPAAAA!!!!!”

Ia masih mendengar teriakan itu ketika tubuhnya limbung. Yoon Hye berlari menghampirinya. Memeluk kepalanya erat-erat. Darah Kyuhyun mulai menodai dres putih yang dipakainya, “Oppa…” tangisnya, “PANGGIL AMBULAN!!” teriaknya.

Nafas Kyuhyun tercekat. Ia merasa sesak. Pandangannya mulai memburam. Tapi ada yang ingin dikatakannya pada gadis itu.

“Yoon ah…”

“Oppa bertahanlah…” isak Yoon Hye.

“Yoon ah… A-pa seka-rang kau per-caya pada-ku?” tanyanya dengan suara terputus-putus.

Gadis itu mengangguk sambil terisak. “Jangan bicara lagi oppa, ambulan akan segera datang.”

“Yoon ah… De-ngarkan a-ku…”

“Oppa kumohon jangan bicara lagi… Aku percaya padamu. Aku percaya…”

Nafas Kyuhyun semakin berat, “A-ku senang men-dengarnya. Yoon ah, ber-janji-lah… un-tuk te-tap baik- ba-ik saja tanpaku…”

“Ani… Aniya…”

“Jjebal… Aku mencintai-mu…” lirih Kyuhyun bersamaan dengan kesadarannya yang menghilang.

“Oppa jjebaal… Buka matamu oppa… Jangan pergi!”

****

Ruang ICU itu tertutup rapat. Beberapa orang berpakaian jas sedang berdiri di koridornya. Yoon Hye ada di sana, gadis itu sedang berjongkok dengan tubuh gemetar. Semua permohonan kepada Tuhan ia ucapkan di dalam hatinya tanpa henti.

“Urus masalah ini secepatnya. Temukan pelakunya!” perintah seorang pria dengan rambut yang sudah beruban kepada salah satu anak buahnya. Ada tatapan sedih dalam mata pria itu saat melihat kondisi putrinya.

Detik-detik yang terasa sangat lambat. Hingga akhirnya, dua jam kemudian pintu ruangan itu terbuka. Seorang dokter keluar dari dalam ruangan sambil melepas masker yang dipakainya.

“Dokter bagaimana?” tanya Yoon Hye langsung.

“Jeoseonghamnida…”

Gadis itu tercekat saat mendengar jawaban dokter. Tubuhnya terasa kaku.

“Saya sudah berusaha sebaik mungkin. Tapi pasien mengeluarkan terlalu banyak darah dan peluru menembus jantungnya terlalu dalam. Jeoseonghamnida…”

“Andwae…” gumam Yoon Hye sambil melangkah mundur, “KAU BOHONG!!” teriaknya sambil berlari masuk ke dalam ruang ICU.

Gadis itu mengguncang-guncang tubuh Kyuhyun sambil terisak, “OPPA IRONAA!!! Kau sudah berjanji padaku… Kau sudah berjanji…”

Pria itu melangkah mendekati putrinya, “Soo-ya…”

“KKA!!!” jerit Yoon Hye sambil mendorong pria itu menjauh. “Aku bukan putrimu!! Aku bukan darah dagingmu!! AKU TIDAK PUNYA APPA SEPERTIMU!!”

“Soo-ya, mianhae…”

“Kau membunuh eomma, sekarang kau membunuh oppa. Kenapa kau selalu membunuh semua orang yang kucintai?? Aku tidak ingin melihatmu!! Aku membencimu! Aku bukan putrimuu!!! KKA!!!”

Gadis itu menggenggam tangan Kyuhyun sambil terisak hebat. Semua mimpinya hancur. Mimpi buruknya kembali terjadi. Bukan, ini bukan mimpi. Rasanya seperti ada rongga besar di dadanya. Sangat sakit… Hingga ia ingin mati saja.

‘Yoon ah, berjanjilah… Untuk tetap baik- baik saja tanpaku…’

Suara Kyuhyun berbisik di telinganya seperti sapuan angin. “Kau tidak menepati janjimu, kenapa aku harus menepati janjiku?” isaknya.

‘Jjebal… Aku mencintaimu…’

 

To be continue