Tags

,

1467412_256782821139046_1044304342_n

Kenapa kau tidak pernah mempertahankanku? Kenapa kau membiarkanku berlari meninggalkanmu? Kenapa kau hanya diam tanpa berkata apapun? Apa cinta ini sebenarnya hanya berada pada satu pihak? Aku membencimu!!”

“Happy anniversary!!” seru gadis itu sambil meniup lilin pada sebuah mini cake diikuti seorang namja di depannya. “Ini hadiahku untukmu, oppa! Aku membuatnya sendiri,” dengan semangat gadis itu melingkarkan sebuah syal berwarna putih motif kotak hitam pada leher namja itu.

 

“Gomawo…” balas namja itu dengan senyum lembutnya, “Jja, ini untukmu!”

 

Gadis itu menatap sebuah kotak yang baru saja diulurkan namjachingunya dengan gembira. Dibukanya kotak itu dengan cepat, “Sepatu?”

 

“Sepatu couple,” senyum namja itu sambil menunjukkan kakinya yang sedang memakai sepatu pasangan dari yang diberikannya pada gadis itu.

 

“Gomawo oppa, Saranghae…”

 

“Arayo…”

 

*****

Butir-butir salju itu melayang turun perlahan. Seorang gadis mendesah pelan sambil menatap pemandangan jalan Myeondong yang ramai oleh orang-orang berjalan. Cangkir café late-nya sudah berkurang setengah. Ia mengambil lagi ponsel putih di dekat cangkir itu, menuliskan pesan singkat pada namjachingunya.

To  : Kyuhyun oppa

‘Oppa, apa kau benar-benar tidak bisa datang? Sudah seminggu kita tidak bertemu,’

Dengan cemas ditunggunya balasan dari namja itu. ia menyesap kembali café late pelan. Lima menit berlalu tanpa ada respon. Ia benci menunggu. Sepuluh menit kemudian sebuah pesan teks masuk ke dalam ponselnya.

From : Kyuhyun oppa

‘Mianhae, aku harus lembur, Yoon ah…”

To : Kyuhyun oppa

‘Tapi ini akhir pekan… Kalau kau tidak datang aku akan pergi bersama Hyuk Jae!’

 

From : Kyuhyun oppa

‘Jangan lupa memakai syal, udara sangat dingin. Dan jangan pulang terlalu malam!’

Kim Yoon Hye mendengus tidak percaya membaca pesan terakhir Kyuhyun, “Kenapa kau tidak melarangku? Apa kau tidak cemburu?” gerutunya sambil menatap layar ponsel itu dengan kesal.

Sudah tiga tahun mereka berpacaran. Saat ini Cho Kyuhyun, namjachingunya sedang magang kerja di sebuah perusahaan otomotif terkenal di Korea. Yoon Hye cukup mengerti bahwa laki-laki itu sibuk. Tapi, ada saatnya ia ingin menghabiskan waktu bersama laki-laki itu. Menurutnya, Cho Kyuhyun adalah laki-laki paling baik yang pernah ditemuinya. Namja itu tidak pernah marah kepada Yoon Hye dan dia selalu percaya semua kata-katanya. Tapi… hal itu justru membuat Yoon Hye semakin ragu dengan hubungan yang mereka miliki.

Apa ia mencintaiku…?

 

Apa ia menginginkanku?

 

Membutuhkanku?

Pertanyaan itu sering muncul dalam benaknya. Karena apapun yang dikatakan oleh gadis itu, Kyuhyun mempercayainya. Gadis itu bebas pergi dengan siapapun. Terkadang, Yoon Hye merasa takut dan bertanya, “Apa kau marah?” namun namja itu hanya menjawab, “Aniyo… Aku percaya padamu.”

Gadis itu mendesah pelan hingga akhirnya beranjak meninggalkan tempat duduknya meskipun café late-nya masih sisa setengah. Ia tidak semangat melakukan apapun hari ini. Termasuk mengerjakan tugas kuliahnya yang sudah ditundanya sejak minggu lalu. Musim dingin kali ini membuatnya semakin dingin karena mod-nya yang turun.

Yoon Hye sampai dirumahnya saat hari menjelang malam. Ia ingin cepat-cepat mandi air hangat lalu tidur. Melupakan si bodoh Cho Kyuhyun itu. “Aku pulaang!!” teriaknya sambil melepaskan sepatu bootnya.

“Oh, kau sudah pulang? Duduklah, kita makan sama-sama,” sambut eomma Kim yang baru saja meletakkan sepanci sup daging di atas meja.

“Aku ingin mandi dulu…” gumam Yoon Hye pelan.

“Duduk dan makanlah, ada yang ingin kubicarakan denganmu setelah ini,” kata seorang pria yang rambutnya sudah beruban.

Gadis itu menuruti permintaan appanya. Ia cukup tau pasti aka nada hal penting yang ingin disampaikan oleh appanya. Appanya adalah tipe orang yang serius, jadi dia tidak akan meminta kalau itu bukan hal yang penting.

Suasana makan malam itu terasa begitu canggung. Orangtuanya tidak berbicara apapun sementara Yoon Hye sendiri tidak ada mod untuk membuka mulut. semua itu karena si bodoh Kyuhyun, tentu saja. Berkali-kali ia meruntuk dalam hati karena sejak tadi ponselnya tidak berbunyi tanda ada panggilan atau pesan dari si bodoh itu.

“Apa yang ingin appa katakan?” tanya gadis itu sambil meletakkan sumpitnya di meja. Tanda sudah selesai makan.

Pria tua itu mengambil segelas air lalu meminumnya. Ia berdeham sejenak sebelum menatap Yoon Hye, “Lusa, pergilah ke kantor appa. Atasan appa ingin bertemu denganmu.”

Gadis itu mengerutkan keningnya, “Aku? Waeyo?”

“Saat kau mengantarkan makan siang appa kemarin, dia melihatmu dan mengatakan bahwa dia menyukaimu. Dia ingin agar kau berkenalan dengan putranya yang baru saja kembali dari Amerika.”

“Mwo??” Yoon Hye menatap tidak percaya, “Appa~ Aku sudah punya namjachingu… Kenapa kau tidak menolaknya?”

“Dia hanya ingin agar kau berkenalan dengan putranya.”

“Itu sama saja dengan kencan buta!!” seru gadis itu putus asa.

“Tidak ada salahnya kau bertemu dengan putranya dulu. Dia anak yang baik dan bertanggung jawab. Appa hanya ingin kau bahagia.”

“Tapi kalian tau kalau aku dan Kyuhyun_”

“Yoon ah…” panggil eomma Kim, memotong kalimat gadis itu, “Apa kau benar-benar yakin bahwa Cho Kyuhyun mencintaimu dan bisa membuatmu bahagia?”

DEG

“Itu…” lidah Yoon Hye terasa kelu. Ia sendiri belum tau.

“Pikirkanlah dulu,” saut appa Kim.

Gadis itu menghela nafas, kenapa hal yang biasanya terjadi dalam drama dan novel yang dianggapnya konyol itu terjadi padanya? Aarrgh… Ia ingin menjerit rasanya.

****

Gadis itu menggigil. Ia menggosok-gosok tangannya yang seperti mati rasa. Hampir lima belas menit ia menunggu Kyuhyun. Suasana taman itu cukup sepi karena cuaca yang tidak begitu bagus. Salju turun dari tadi pagi hingga siang ini. Sebenarnya Yoon Hye tau bahwa Kyuhyun sedang sibuk, tapi ia memaksa agar lak-laki itu datang. Jika Kyuhyun tidak datang, sebaiknya ia menerima tawaran appanya.

“Yoon ah… Waeyo?”

Gadis itu tersentak saat mendengar suara Kyuhyun tiba-tiba. Baru disadarinya bahwa dirinya tadi sedang melamun.

“Duduklah, aku hanya ingin bertemu denganmu…”

“Yoon ah… Aku ada rapat setengah jam lagi. Kupikir terjadi sesuatu padamu karena tadi kau tiba-tiba menutup telepon.”

Yoon Hye tertawa pahit, “Jadi… Kau hanya akan datang saat terjadi sesuatu padaku? Bagaimana kalau memang terjadi sesuatu dan kau terlambat?”

“Mwo?”

“Oppa… Jika saja kau tidak menemuiku saat ini, mungkin hubungan kita akan berakhir…”

“Mwo? Apa yang ingin kau bicarakan? Aku tidak mengerti,” namja itu menatap bingung pada gadis yang duduk di bangku, di depannya.

“Bukan kau… Tapi aku yang tidak mengerti. Aku tidak tau apa artiku untukmu. Apa kau mencintaiku? Apa kau membutuhkanku? Aku tidak mengerti. Hubungan kita… Aku tidak mengerti. Kemarin, appa memintaku untuk berkenalan dengan anak atasannya. Mereka mengatur kencan untuk kami. Sekarang aku sudah paham, kurasa aku akan menerima kencan itu. Karena itu, cukup sampai disini saja… kita putus.”

Hening…

Satu menit yang terasa begitu lama. Yoon Hye berharap bibir itu terbuka dan mengeluarkan kata-kata untuknya. Apapun, ia hanya ingin agar Kyuhyun menahannya. Tapi laki-laki itu hanya diam tanpa berkata apapun.

Gadis itu berusaha menggerakkan tubuhnya yang kaku. Ia beranjak dari duduknya lalu menatap Kyuhyun, “Aku pergi…” ucapnya.

Selangkah… Dua langkah… Tiga langkah…

Air mata gadis itu jatuh. Hatinya terasa begitu sakit. Ia berbalik menatap kyuhyun, “Apa hanya ini?? Apa hanya ini yang kau lakukan ketika aku pergi meninggalkanmu? Kenapa kau hanya diam?? Apa aku benar-benar tidak ada artinya untukmu? Baiklah… Aku benar-benar memahaminya. Aku akan menerima kencan itu. Appa tidak akan mengecewakanku. Dia pasti laki-laki yang lebih keren darimu. Kuharap kita tidak bertemu lagi, selamat tinggal…”

Gadis itu melangkah pergi dengan cepat. IA bahkan tidak menoleh ke belakang lagi. Ia menunduk menatap sepasang sepatu yang sedang dipakainya. Sepatu yang diberikan Kyuhyun kepadanya. Sepatu couple. Dan kini sepatu itu membawa langkahnya pergi meninggalkan Kyuhyun yang masih terdiam di sana.

***

Suasana café itu terlihat romantis dengan alunan lagu jazz-nya. Kim Yoon Hye memilih duduk di samping dinding kaca agar ia bisa menatap keluar. Hari ini ia akan bertemu dengan anak atasan appanya. Sejujurnya ia tidak ingin bertemu dengan laki-laki itu, hanya saja ia masih marah pada Cho Kyuhyun. Gadis itu tidak percaya kalau Kyuhyun akan diam saja saat ia meminta putus. Ia mendesah pelan, meruntuk dalam hati dan berharap laki-laki yang akan ditemuinya kabur begitu melihat penampilannya.

Penampilannya biasa saja, masih tetap sama seperti sebelumnya. Rambut ikal coklat yang dijepit berantakan, swetter cream kekuningan dengan balutan jaket coklat tua tebal, serta celana jeans elastis yang nyaman. Hanya saja matanya terlihat bengkak saat ini. Ia mendesah pelan saat menyadari masih memakai sepatu itu. Sepatu couple hadiah dari Kyuhyun saat anniversary pertama mereka. Yoon Hye heran, sudah tiga tahun ia memakai sepatu itu, tapi kenapa kakinya tidak terasa sesak. Apa ia sudah tidak tumbuh lagi?!

Gadis itu mengeluh dalam hati. Saat ia mengangkat wajahnya, seorang laki-laki tampan sudah ada di hadapannya. Duduk dengan nyaman sambil menatapnya. Gadis itu mengerutkan keningnya.

“Apa aku terlambat? Sepertinya kau sudah menunggu sangat lama, jeoseonghamnida…” ucap laki-laki itu sopan dengan senyum menawannya.

“Ah aniyo… Aku juga baru tiba. Tapi… Bagaimana bisa kau mengenaliku?” tanya Yoon Hye heran. Mereka belum pernah bertemu satu-sama lain tapi laki-laki ini terlihat sangat percaya diri.

“Bagaimana denganmu? Bagaimana bisa kau mengenaliku?” saut namja itu.

Yoon Hye mendengus sambil tertawa pelan.

“Choi Siwon imnida,” ucap laki-laki itu sambil mengulurkan tangan.

“Yoon Hye, Kim Yoon Hye imnida…” balas Yoon Hye menerima uluran tangan itu.

“Wajahmu terlihat gelap sekali, apa kau baru saja bertengkar dengan namjachingumu? Matamu bengkak.”

Yoon Hye mengerjapkan mata terkejut, “Apa aku mudah ditebak?”

Siwon tertawa kecil, “Mungkin aku yang pintar membaca raut wajah orang.”

“Kau benar, aku baru putus dengan namjachinguku kemarin.”

“Apa karena pertemuan kita?”

“Aniyo… Ini masalah kami… Sudah lama, tapi ternyata aku belum cukup memahaminya.” desah gadis itu pelan.

“Jadi karena kau putus, lalu kau bersedia bertemu denganku?”

“Mungkin begitu…” gumam Yoon Hye pelan. Ia sendiri tidak tau. Kalau saat itu Kyuhyun menahannya, mungkin saja saat ini ia tidak berada di tempat ini bersama namja itu.

“Yoon Hye ssi, aku belum punya banyak teman di sini karena aku tinggal di Amerika sejak sekolah. Jadi… Apa kau mau menemaniku? Ada sesuatu yang ingin kulakukan.”

“Apa itu?”

“Kau tau Jjajangmyeon? Aku ingin memakannya, dimana kita bisa mendapatkannya?”

“Jjajangmyeon? Kau ingin makan itu?” tanya Yoon Hye tidak percaya, kemudian tawanya meledak.

“Waeyo?” Siwon mengerutkan kening bingung.

“Kukira kau tipe orang yang modern karena sudah lama tinggal di Amerika. Aku tidak menyangka kau begitu merakyat.”

“Bukankah itu bagus?” tanya Siwon bingung.

Yoon Hye mengangguk-angguk, “Haah… Kau mengingatkanku pada Cho Kyuhyun, si bodoh itu sangat suka Jjajangmyeon…”

“Mwo? Cho Kyuhyun? Kau mengenalnya?”

“Kau juga mengenalnya?”

“Dia masih sepupuku.”

Gadis itu tertawa geli, “Ternyata dunia sangat sempit.”

****

Kim Yoon Hye menikmati waktunya bersama Choi Siwon. Dia laki-laki yang menyenangkan. Disamping laki-laki itu, Yoon Hye sama sekali tidak canggung. Mereka seperti dua teman lama yang tidak bertemu. Gadis itu pulang saat jam menunjukkan waktu hampir sebelas malam. Choi Siwon memaksanya mengunjungi Lotte World dan mencoba permainan disana. Ia benar-benar tidak menyangka namja manly seperti Choi Siwon yang sudah lama tinggal di Amerika sangat bersahabat.

Lampu rumah masih menyala saat Yoon Hye pulang. Gadis itu merasa sedikit aneh saat melihat orangtuanya masih ada di ruang tengah pada jam selarut ini.

“Aku pulang…” sapanya pelan.

“Oh, kau sudah pulang?” tanya Eomma Kim dengan suara seraknya. Ia terlihat seperti baru terbangun dari tidurnya. “Appa… Yoon Hye sudah pulang,” dibangunkannya appa Kim yang tertidur di sampingnya.

“Ada apa?” tanya Yoon Hye sambil duduk di salah satu sofa.

Pria itu mengerjap pelan. Menyesuaikan diri sejenak. Ia menatap Yoon Hye lekat lalu berdehem, “Bagaimana pertemuan kalian?” tanyanya.

“Baik… Choi Siwon ssi sangat bersahabat,” jawab Yoon Hye.

“Appa ingin minta maaf padamu…” pria itu merogoh kantong celananya untuk mengeluarkan sesuatu lalu meletakkannya di atas meja, di hadapannya Yoon Hye, “Semua terserah pada pilihanmu. Appa tidak akan memaksa.”

“Apa ini?” tanya Yoon Hye sambil menatap benda itu bingung. Sebuah cincin.

“Cho Kyuhyun datang ke rumah tadi.”

“Mwo?”

“Dia memberikan ini pada kami.”

Yoon Hye mengerutkan keningnya bingung. Ia menatap orang tuanya penuh tanya.

“Itu adalah cincin milik mendiang eommanya. Dia memohon padaku untuk tidak memaksamu berkenalan dengan namja lain karena dia sangat mencintaimu. Dia akan berusaha keras menjadi orang yang bisa menjaga dan membahagiakanmu. Dia juga berjanji akan menikahimu, karena itu, hingga saatnya tiba, ia menitipkan cincin ini pada kami. Cincin yang hanya akan dipakai oleh pengantinnya. Dan gadis itu adalah kau. Selama ini aku belum tau seperti apa dia, tapi saat dia datang kemari dan meminta padaku, aku tau dia bersungguh-sungguh. Dia laki-laki yang baik. Terlebih dari itu, dia mencintaimu…”

“Kyuhyun oppa datang kemari…?” tanya Yoon Hye dengan suara tercekat, “Dia meminta pada kalian?”

“Ne…” jawab eomma Kim, “Sekarang kami yakin bahwa dia memang benar-benar mencintaimu, Yoon ah…”

“Aku pergi dulu!!” saut Yoon Hye cepat sambil berlari keluar tanpa menunggu ijin orangtuanya.

Butiran salju menyambutnya saat ia keluar dari rumah. Dingin seolah mengikat tubuhnya. Tapi di dalam hatinya, ia merasakan hangat. Begitu hangat hingga membuatnya terasa sesak. Gadis itu berlari menuju bus secepat yang ia bisa. Air matanya mulai mengalir. Kini, sepatu itu membawanya kembali pada namjanya. Namjachingunya.

Apa ia mencintaiku…?

 

Apa ia menginginkanku?

 

Membutuhkanku?

Yoon Hye merasa ia tidak butuh pertanyaan itu lagi. Apa yang dilakukan Cho Kyuhyun sudah lebih dari apa yang diharapkannya. Ia tiba di depan pintu flat Cho Kyuhyun dengan tubuh hampir membeku. Ditekannya bell apartement itu dengan tidak sabar. Tidak lama kemudian, pintu terbuka bersama Kyuhyun di baliknya. Rambut laki-laki itu terlihat kusut, mungkin ia baru saja tidur tadi. Tapi Yoon Hye tidak perduli. Bahkan sebelum namja itu mengatakan sesuatu, ia sudah menghambur pada namja itu, memeluknya dengan kuat hingga Kyuhyun harus mundur beberapa langkah. Gadis itu memeluk leher Kyuhyun erat-erat, membenamkan wajahnya pada leher laki-laki itu dengan isakan.

“Tubuhmu dingin sekali…” gumam Kyuhyun pelan.

“Pabo…” ucap Yoon Hye masih terisak, “KENAPA kau tidak pernah mempertahankanku? Kenapa kau membiarkanku berlari meninggalkanmu? Kenapa kau hanya diam tanpa berkata apapun?” tuntutnya.

“Yoon ah…” Kyuhyun melepaskan pelukan gadis itu lalu menangkup wajahnya, menatap lembut. “Apa kau tau kenapa saat itu aku memberimu sepatu couple? Karena sejauh apapun kau pergi meninggalkanku, sepatu itu akan selalu membawamu kembali padaku. Kembali pada pasangannya. Aku diam bukan berarti aku tidak mencintaimu, tetapi karena aku terlalu terkejut saat kau meminta lepas dariku.”

“Mianhae…”

“Aku tidak butuh kata-kata itu, Yoon ah… Aku hanya memintamu untuk bersabar denganku yang bodoh ini. Hingga saat itu tiba, kumohon, bertahanlah denganku. Karena yang kuinginkan dalam hidupku hanya satu, menjadikanmu pasangan hidupku hingga akhir.”

Yoon Hye mengangguk. Ia kembali memeluk Kyuhyun dengan erat, “Aku akan menunggu…”

Cinta itu tidak butuh kata-kata, juga tidak butuh ribuan janji. ia hanya butuh kepastian. Sesederhana itu…

 

FIN