Tags

, ,

tgfhy(Ini adalah seri ketiga dari From You, To You [Feel])

Orang bilang takdir adalah jiwa dari sebuah kehidupan. Semua gadis memimpikan pernikahan yang indah dengan orang yang dicintainya. Semua gadis memimpikan kehidupan yang indah bersama orang yang dicintainya. Namun… Mimpi hanyalah sebuah mimpi yang belum tentu menjadi nyata dalam kehidupan. Lalu… apakah semua ini salah takdir? takdir tidak pernah menyuruhmu untuk bermimpi…

Lee Donghae menyesap susu coklatnya pelan. Ia melihat gadis itu sibuk mencuci piring bekas sarapan mereka. Hari ini adalah hari minggu. Biasanya Donghae akan pulang ke rumah orangtuanya yang ada di mokpo. Tapi kali ini, ia tidak mungkin meninggalkan gadis itu. Ia ingin bertanya apa yang akan dilakukan oleh gadis itu hari ini. Tapi rasanya sulit sekali untuk mengeluarkan kalimat pertanyaan itu.

Donghae ingin mengenal gadis itu lebih dekat. Tapi sepertinya gadis itu tidak mengijinkan. Dia seolah menutup rapat dirinya. Membuat Donghae tidak berani melangkahkan kakinya untuk mendekat. Satu-satunya hal yang membuat gadis itu tersenyum adalah saat Donghae mengijinkannya untuk bekerja di sekolah TK. Ia benar-benar merindukan tawa itu.

Yoon Hye melakukan tugasnya sebagai seorang istri dengan baik. Menyiapkan makan dan mengurus apartement untuk Donghae. Meskipun gadis itu sudah tidak pernah menangis lagi, tetap saja Donghae merasa sebenarnya dia tidak menginginkan takdirnya seperti ini. Menjadi istri dari seorang Lee Donghae. Ia tidak pernah bertanya sebelumnya apakah gadis itu punya laki-laki lain yang dicintainya atau tidak.

Suara dering telepon mengagetkan donghae dari lamunannya. Sebelum ia beranjak, gadis itu sudah menyambar telepon di meja samping lemari es.

“Yeoboseo?”

Donghae mengernyitkan kening saat melihat wajah bingung gadis itu .

“Ye, itu…” Yoon Hye menatap donghae seperti meminta bantuan.

Dengan cepat, laki-laki itu beranjak dari duduknya kemudian menghampiri Yoon Hye. Mengambil alih telepon.

“Yeoboseo? …Eomma? …I-itu… dia… “ Donghae melihat gadis itu menatapnya dengan gelisah, “Dia istriku.”

Yoon Hye menutup mulutnya menahan tawa saat melihat Donghae menjauhkan gagang telepon dari telinganya. Ekspresi laki-laki itu sangat lucu. Ia bahkan mendengar suara jeritan wanita itu di seberang sana.

“Mianhae eomma… Araseo… Mmm, anyeong.”

Kecanggungan menyelimuti mereka. Keduanya tidak tau harus berkata apa. yang baru saja menelepon adalah eomma lee donghae. Yoon hye sedikit terkejut karena laki-laki itu tidak memberitahu orangtuanya.

“Maaf, aku tidak membertahukan pernikahan kita pada orangtuaku,” kata Donghae tiba-tiba.

Yoon Hye hanya mengangguk pelan. Ia bisa memahami. Pernikahan mereka memang tidak pernah direncanakan sebelumnya. Gadis itu juga menyadari, meskipun ia membenci takdirnya. Tapi semua itu bukan salah laki-laki di sampingnya ini.

“Baru saja… eomma memintaku untuk membawamu ke mokpo. A-apa kau keberatan?” tanya Donghae ragu.

Yoon Hye terdiam sejenak, “Aku tidak keberatan…” jawabnya akhirnya.

***
Ini pertama kalinya Yoon Hye mengunjungi Mokpo. Udara di desa itu masih bersih dan sejuk. Setelah naik subway, mereka naik bus selama satu jam dan turun di daerah pertanian. Hari ini matahari bersinar cerah. Mereka masih harus berjalan kaki melewati daerah pertanian itu. Sepanjang jalan diapit oleh sawah dan pohon-pohon besar berwarna hijau.

Gadis itu meringis pelan. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa mereka harus berjalan kaki. Sepatu wanita yang dipakainya sedikit kekecilan, membuat tungkai kakinya lecet. Luka itu terasa perih.

“Gwenchanae?” tanya Donghae saat menyadari langkah kaki gadis itu semakin lambat.

Yoon Hye tidak menjawab. Gadis itu berjalan ke bawah pohon terdekat lalu melepaskan sepatunya. Tungkainya memerah dan kulitnya lecet.

“Kakimu terluka, tunggu disini sebentar!” Donghae meletakkan tas yang dibawanya di dekat yoon hye lalu berlari pergi.

Beberapa menit kemudian, donghae kembali sambil membawa sebotol air. Gadis itu tidak tau darimana ia mendapatkan air itu. Mungkin minta pada petani yang ditemuinya, atau mengambil air di sungai terdekat.

“Kau punya tissue?” tanya laki-laki itu, “Bersihkan lukamu dulu!”

Yoon Hye mengambil tissue lalu membasahinya. Ia mengusapkan tissue itu pada lukanya perlahan.

“Pakai ini!”

Gadis itu sedikit tercenung melihat donghae melepaskan sepatu dan kaos kakinya lalu menyerahkannya pada gadis itu.

“Bagaimana denganmu?” tanya gadis itu.

“Aku tidak apa-apa. lagipula kita sudah dekat,” jawab Donghae.

Mereka kembali berjalan setelah Yoon Hye selesai memakai sepatu donghae. Gadis itu sering diam-diam melirik laki-laki di sebelahnya yang berjalan tanpa alas kaki itu. Ia tau, pasti sangat nyaman dan terasa sakit saat menginjak batu kerikil. Tapi dia hanya diam tidak berbicara apapun.

***

“Siapa namamu?” tanya seorang pria tua yang rambutnya sudah beruban dengan suara yang dalam.

“Kim Yoon Hye imnida…” jawab gadis itu masih menunduk.

“Jujur saja kami sedikit terkejut saat mendengar kabar ini. Tapi sebelumnya, ada yang ingin kami tanyakan kepadamu. Apa kau mencintai putraku?”

DEG

Yoon Hye tercenung mendengar pertanyaan itu. bibirnya tidak mampu bergerak. Apa yang harus dikatakannya?

“Appa, bisakah kita bicara berdua?” potong Donghae, “Eomma, tolong antarkan Yoon Hye ke kamarnya.”

Appa Donghae menghela nafas sejenak sebelum mengangguk pada istrinya. Wanita yang baru saja menuangkan teh itu beranjak dari duduknya diikuti Yoon Hye. gadis itu berjalan mengikuti eomma donghae. Tangannya terasa begitu dingin. Ia sangat gugup juga takut.

“Aku tidak habis pikir dengan anak itu, kenapa ia tidak memberitahu kami? Pernikahannya adalah hal yang sangat penting. Bagaimanapun, dia masih tetap Lee Donghae kecilku. Mendengarnya sudah menikah, membuatku sedikit cemas.” Kata eomma Donghae sambil berjalan.

Yoon Hye tidak menjawab. Gadis itu merasa bersalah dalam hati. Selama ini ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia tidak memikirkan tentang laki-laki itu. Ia terlalu membenci takdirnya hingga ia tidak menyadari hal yang lainnya. Lee Donghae. Laki-laki itu harus menjadi suaminya karena permintaan appanya. Kenapa laki-laki itu bersedia mengorbankan hidupnya untuk menikahi gadis sepertinya?

“Ini kamar kalian,” kata eomma Donghae, menyadarkan gadis itu. “Donghae sudah menempati kamar ini sejak ia masih kecil hingga pergi ke Seoul. Aku tidak mengubahnya sama sekali karena kamar ini banyak menyimpan kenangan tentang masa kecilnya.”

Yoon Hye menatap kamar itu. Ada sebuah lemari di sebelah kiri kamar, sebuah meja pendek yang digunakan untuk meja belajar. Ada terdapat banyak foto-foto masa kecil Lee Donghae di sana.

“Saat melihatmu tadi, aku yakin kau adalah gadis baik-baik. Aku tidak akan menuntutmu menjadi istri yang sempurna untuk putraku. Aku hanya ingin kau mencintainya dengan sepenuh hati. Karena sebuah keluarga tidak akan sempurna tanpa cinta yang tulus.”

“Ye, omonim…” jawab Yoon Hye pelan.

“Tempat tidurnya ada di dalam lemari. Istirahatlah, aku pergi dulu.”

Gadis itu membungkukkan badannya pelan saat eomma Donghae berjalan keluar kamar, “Kamsahamnida…”

Mencintainya…?

Bisakah Yoon Hye melakukannya jika saat ini perasaan bersalahlah yang lebih mendominasi dirinya. Ia ingin mencintai seseorang dengan tulus, bukan karena perasaan bersalah. Seperti cintanya kepada Cho Kyuhyun.

Tiba-tiba pintu terbuka, membuatnya mengangkat wajah untuk melihat siapa yang baru saja masuk. Lee Donghae tersenyum padanya. Laki-laki itu berjalan menuju lemari lalu mengeluarkan kasur lipat, menatanya.

“Tidurlah, kakimu pasti sakit. kalau kau butuh sesuatu aku ada di luar,” Donghae berjalan lalu membuka pintu geser balkon.

“Kau akan tidur di luar?” Tanya Yoon Hye.

Laki-laki itu tersenyum, “Aku hanya ingin membuatmu nyaman. Jangan mengkhawatirkanku.”

Gadis itu menatap tertegun.

‘Jika kau melakukan semua ini untukku, apa yang bisa kulakukan untukmu Lee Donghae…?’