Tags

,

dfdsf

(Ini adalah seri ke empat dari From You, To You [Can I…?])

Orang bilang takdir adalah jiwa dari sebuah kehidupan. Semua gadis memimpikan pernikahan yang indah dengan orang yang dicintainya. Semua gadis memimpikan kehidupan yang indah bersama orang yang dicintainya. Namun… Mimpi hanyalah sebuah mimpi yang belum tentu menjadi nyata dalam kehidupan. Lalu… apakah semua ini salah takdir? takdir tidak pernah menyuruhmu untuk bermimpi…

Suara dentingan piano itu membuat Kim Yoon Hye berhenti melangkah. Setaunya, hanya ia satu-satunya seongsaengnim di sekolah TK itu yang bisa bermain piano. Apa ada seongsaengnim baru? mengabaikan rasa penasarannya, gadis itu melanjutkan langkahnya. Matanya tertegun saat melihat seorang laki-laki duduk di balik piano hitam itu. Dari kaca jendela kelas, ia bisa melihat jelas siapa orang itu. Orang yang pernah memberinya setangkai mawar saat Mother Day.

Ia membuka pintu geser kelas itu perlahan lalu masuk ke dalam tanpa suara. Gadis itu berdiri di sudut belakang kelas, diam tidak ingin mengganggu nada indah yang sedang mengalun itu. Tanpa sadar, bibirnya tersenyum ikut menikmati alunan melody yang seperti menghipnotisnya. Hingga suara tepuk tangan, menyadarkannya tanda permainan sudah usai.

“Jja, seongsaengnim kita yang cantik sudah datang. Kalian harus melanjutkan pelajarannya,” ucap laki-laki itu pada anak-anak yang ada di dalam kelas. “Kalau kalian belajar dengan giat, ajhusi akan datang kembali untuk bermain piano, bagaimana?”

“Nee….” jawab anak-anak kompak.

Kim Yoon Hye masih berdiri di tempatnya saat laki-laki itu melangkah menghampirinya. “Jja, sekarang giliranmu,” senyumnya.

“Kenapa kau ada di sini? Bagaimana kau tau kalau aku bekerja di sini?” tanya Yoon Hye.

“Akan butuh waktu panjang untuk menjelaskannya dan kau tidak punya banyak waktu. Jadi… aku akan menunggumu sampai kelas selesai. Sampai jumpa!” balas laki-laki itu lalu membuka pintu dan langsung keluar tanpa menunggu Yoon Hye menjawabnya.

“Seongsengnim, ajhusi itu seperti pangeran dalam buku gambar milikku. Apa dia datang kemari untuk menjemputmu?” tanya salah satu anak perempuan manis berkepang dua, Lee Daeyoung. Mata bulatnya menatap Yoon Hye menunggu jawaban.

“Jeongmalyo? Dia seperti pangeran?”

“Nee….” Balas anak-anak lainnya, “Aku juga ingin punya pangeran yang tampan seperti ajhusi nanti,” lanjut Daeyoung.

“Kalau begitu kalian harus belajar yang rajin agar bisa menjadi putri yang cantik dan pintar, arachi?”

“Nee…”

****

Dia menyukai ice cream blueberry…

“Cogiyo, kenapa kau datang ke tempat kerjaku? Apa tujuanmu sebenarnya?” tanya Yoon Hye saat berada tepat di hadapan laki-laki yang saat ini sedang bersandar di mobilnya itu.

“Pertama, namaku Lee Hyuk Jae. Kedua, masuklah dulu!” ucap Hyuk Jae sambil membuka pintu mobilnya.

Yoon Hye hanya berdiri di tempatnya. Matanya menatap tajam laki-laki bernama Lee Hyuk Jae di depannya.

“Aku ingin makan ice cream. Kalau kau tidak keberatan, cepat masuk sehingga aku bisa membawamu ke kedai ice cream di ujung jalan dan menjelaskan semuanya kepadamu.”

“…..”

Gadis itu masih diam di tempatnya, membuat Lee Hyuk Jae mendesah keras. Laki-laki itu merogoh bagian dalam jasnya lalu mengeluarkan dompet miliknya. Ia mengeluarkan kartu identitasnya lalu mengulurkan pada gadis itu.

“Aku bukan penipu!” jelasnya, “Kalau kau mau bawa saja. Jadi kau bisa melaporkanku kalau terjadi sesuatu padamu.”

Yoon Hye menatap kartu identitas itu tanpa berniat mengambilnya, “Lebih baik aku pergi saja!” jawabnya pelan sambil berbalik.

SET

Mata gadis itu mengerjap saat Lee Hyuk Jae dengan cepat menahan lengannya, memutar tubuhnya lalu mendorongnya masuk ke dalam mobil.

Blam…

Pintu mobil tertutup disertai suara teriakan Yoon Hye. Laki-laki itu hanya tersenyum melihat gadis yang duduk di sebelahnya itu menatap kesal. Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam. Tidak ada yang berbicara. Lee Hyuk Jae membiarkan gadis itu menikmati pemandangan dari luar kaca jendela mobilnya. Tidak ingin mengganggu.

“Lee Hyuk Jae ssi, kau bilang akan menjelaskannya sambil memakan ice cream?!” tanya Yoon Hye saat laki-laki itu ternyata hanya pesan jalan.

“Memang, tapi aku tidak bilang kalau akan makan di sini. Aku lebih suka udara terbuka, kita ke taman.”

Gadis itu menghela nafas kesal. Kenapa dirinya harus terjebak dengan laki-laki bernama Lee Hyuk Jae ini? Dilihat dari penampilannya, sepertinya dia orang terpelajar. Jadi apa yang dia rencanakan sebenarnya?

.

.

“Blueberry…?” gumam Yoon Hye saat melihat ice cream yang diberikan Lee Hyuk Jae padanya. Ini adalah ice cream favoritenya. Bagaimana laki-laki itu bisa tau? Ini bukan rasa yang umum seperti Coklat, Vanilla atau Strawberry.

“Kau tidak suka?” tanya Lee Hyuk Jae.

Yoon Hye menggeleng pelan. Ia mulai memakan ice creamnya. Sudah lama sekali rasanya dia memakan ice lembut dan dingin dengan rasa blueberry ini. Rasanya seperti saat pertama kali ia memakannya. Mereka saat ini duduk di sebuah bangku taman. Cuaca sedang mendung dan hujan memang sering turun saat musim gugur.

Dia menyukai hujan…

“Jadi… kenapa kau tidak mulai menjelaskannya?” tatap gadis itu.

Lee Hyuk Jae tersenyum mendengarnya, “Apa kau pernah mendengar yang namanya takdir?”

Gadis itu terdiam. Haruskah ia mempercayai takdir setelah semua hal yang terjadi padanya? Takdir bisa membahagiakanmu, membuatmu seperti melambung ke langit. Namun juga bisa menyakitimu, saat ia menghempaskanmu kembali ke bumi dengan begitu keras.

“Saat itu aku sedang mengalami kesialan, dan kau tiba-tiba saja muncul di mataku. Kebetulan saat itu mobilku mogok di depan TK tempatmu bekerja. Aku mengikutimu dan melihatmu mengajar di salah satu kelas. Kau tau? Aku menyukai senyummu…”

Kim Yoon Hye tercenung, “Bagaimana kau tau namaku?”

“Tentu saja aku bertanya. Pernah mendengar istilah malu bertanya sesat di jalan? Bagiku, malu bertanya akan sesat di cerita cinta.”

Gadis itu mendengus sambil tertawa pelan.

“Aku merasa kau adalah takdirku… Karena ini pertama kalinya aku merasa bahwa senyummu adalah hal yang sangat penting untukku. Tapi… aku penasaran. Kenapa saat dihadapan anak-anak kau terlihat bersemangat dan ceria, namun di luar kau seperti ice yang begitu dingin?”

“Tidak ada alasan untukku memberitahumu…”

“Benar. Aku akan mencari tau sendiri.”

“Kenapa kau melakukan itu? Kau tidak tau apa-apa tentangku!”

“Mungkin… Aku lebih banyak tau dari yang kau kira,” gumam Hyuk Jae begitu pelan.

“Mwo?”

Laki-laki itu tersenyum, menatap lembut gadis  di sebelahnya, “Mungkin… karena aku_”

“Ah, hujan!!” potong Yoon Hye tiba-tiba saat merasakan tetesan air yang semakin deras. Gadis itu berdiri lalu berlari ke bawah pohon besar terdekat. Ia membersihkan tetesan air di wajah dan lengannya. “Lee Hyuk Jae ssi, apa yang kau lakukan? Cepat kemari!!” teriaknya saat melihat laki-laki itu hanya duduk diam tanpa berniat beranjak sama sekali.

“Lee Hyuk Jae ssi!!!” sekali lagi gadis itu memanggil namun tidak ada respon. Ia mendesah pelan lalu berlari kembali menghampiri Lee Hyuk Jae dan menarik lengannya, “Ayo pergi!”

SET

Bruuk

Kim Yoon Hye mengerjap saat lengan Hyuk Jae malah menariknya untuk duduk kembali di kursi itu. Membuat mereka berdua basah kuyup.

“Bukankah ini menyenangkan? Apa kau tidak suka hujan?”

Yoon hye terdiam. Suka… ia sangat menyukai hujan. Tapi sejak kyuhyun meninggalkannya, ia tidak pernah hujan-hujanan lagi. Karena hal itu akan mengingatkannya kenapa ia menyukai hujan. Menyukai hal yang terjadi ketika mereka pertama kali bertemu. Di hujan pertama awal musim gugur.

“Aku belum selesai bicara tadi…” kalimat Lee Hyuk Jae memecah lamunan gadis itu.

“Mwo?”

“Mungkin karena aku menyukaimu…”

“Mwo?”

“Kau bertanya padaku kenapa aku melakukannya, mungkin karena aku menyukaimu…”

“Menyukaiku…?”

“Mmm, joahae…”

Tubuh Kim Yoon Hye terasa beku seketika. Ia mulai merasa sesak nafas. Dengan bibir terkatup rapat, gadis itu beranjak dari duduknya, melangkah pergi.

SET

“Waeyo?” tanya Hyuk Jae sambil menahan lengan gadis itu.

“Lepaskan aku…”

“Tidak sebelum kau memberitahuku.”

Air mata gadis itu jatuh bercampur hujan, “Kau menyukai orang yang salah, Lee Hyuk Jae ssi…”

“Apa yang salah?”

“Aku sudah menikah…”

Lee Hyuk Jae tertegun. Kyuhyun tidak pernah bilang sebelumnya. Apakah gadis ini menikah setelah berpisah dengan Kyuhyun? Kenapa?

“Lepaskan aku…” pinta Yoon Hye dengan suara bergetar.

“Apa kau bahagia dengan pernikahanmu?”

DEG

Bibir itu terkatup rapat. Lee Hyuk Jae menatapnya tajam.

“Apa kau bahagia dengannya?”

“Lepaskan aku!!” pinta Yoon Hye terisak, “Apapun yang terjadi padaku, itu adalah hidupku!” ia menyentakkan tangan Lee Hyuk Jae dengan kuat hingga terlepas lalu berlari pergi. Terus berlari tanpa menoleh lagi. Kenapa ada cinta datang kepadanya saat ia harus menyerahkan hatinya pada orang yang sudah mengikat hidupnya? Kenapa tuhan menggodanya dengan ujian dengan cinta yang terasa manis? Apakah ini juga takdir?

.

.

Yoon Hye menutup pintu dengan keras lalu menghempaskan dirinya ke ranjang dan menangis sejadi-jadinya. Ia mengabaikan lantai yang basah karenanya. Mengabaikan ranjangnya basah. Ia hanya ingin menangis. Tanpa tau bahwa seseorang di balik pintu merasa sakit mendengar tangisnya.

****

“Kau kena marah lagi? Kenapa kau selalu membolos akhir-akhir ini? Meskipun kau putra direktur, tetap saja ada aturan dalam perusahaan,” kata Donghae pada laki-laki yang terlihat lesu itu.

“Kenapa aku harus bernasib sial di cinta dan pekerjaan…” erang Hyuk Jae pelan. Ia sudah mencari tau semuanya. Dimana gadis itu tinggal, bagaimana dia bisa menikah, dan siapa suaminya.

Lee Donghae tersenyum tipis menanggapinya. Semua orang pasti pernah merasakannya. Termasuk dirinya.

“Donghae ya…”

“Hmm?”

“Apa kau mencintai istrimu?”

Lee Donghae tertegun mendengarnya. Selama ini tidak ada satu orang pun rekan kerjanya yang tau kalau ia sudah menikah.

“Bagaimana kau bisa tau?” tanya Donghae was-was.

“Karena sepertinya… aku juga mencintai istrimu.”

DEG

Laki-laki itu terdiam mendengarnya.

“Aku suka melihatnya tertawa… dan aku tidak ingin melihatnya menangis. Jadi… kalau dia bisa bahagia bersamaku, apakah kau akan melepasnya?”

“Ya… aku akan melepasnya,”jawab Donghae lalu tersenyum pada Hyuk Jae.

“Kau tidak marah kalau aku mengejarnya? Apa kau tidak mencintainya?”

“Aku melepasnya karena aku mencintainya. Sesederhana itu…”

 

*****