Tags

, ,

blue pearl

“Yoon Hye ssi, apa kau percaya takdir?”

“Aniyo.”

“Waeyo?”

“Terkadang, takdir membawaku ke jalan yang tidak ingin kulalui.”

Autumn, September 2013

 

Seorang gadis terlihat sedang berjalan pelan sambil memeluk beberapa map. Kakinya tetap melangkah teratur meskipun suasana hatinya sedang buruk saat ini. ada yang mengikutinya, ia tau itu. seseorang tengah memperhatikannya dari jauh dan ia mengabaikannya. Seolah tidak mengenal dan tidak perduli. seolah ia bukan siapa-siapa.

Kim Yoon Hye, gadis yang berusia dua puluh lima tahun itu memiliki nama asli Kim Soo In. nama yang sudah ditinggalkannya sejak dulu. Nama yang begitu dibencinya. Langit masih terlihat mendung setelah menumpahkan air matanya. Membasahi tanah Seoul dan menguarkan aroma sejuk yang dapat membuat hati menjadi tenang. Gadis itu menuruni tangga panjang di jalan gang menuju halte yang ada dipinggir jalan besar. Tiba-tiba saja langkah kakinya terhenti. Matanya menatap tajam seorang pria berusia hampir empat puluhan yang berpakaian jas rapi dan tengah membungkuk padanya.

“Nona…” sapa pria itu penuh hormat.

Yoon Hye masih tidak bergerak dari tempatnya. Bahkan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Ia benci keadaan seperti ini.

“Hari ini tuan besar kembali dari Hong Kong, beliau ingin bertemu dengan anda.”

“Jjeosonghamnida, anda salah orang!” ucap Yoon Hye datar lalu melangkah melewati pria itu, meninggalkannya tanpa menoleh lagi.

Selalu saja seperti ini. Ada yang berdenyut perih saat gadis itu mengingat semuanya. Dan permohonan untuk tidak terlahir menjadi dirinya, terlontar kesekian kali dari hatinya. Ia ingin melupakan semuanya. Jika saja bisa, ia ingin mengakhiri hidupnya saat ini juga. Namun janjinya kepada seseorang, membuatnya harus bertahan dalam kenangan luka yang menyakitinya.

‘Yoon ah… Berjanjilah untuk tetap baik-baik saja tanpaku…’

***

Laki-laki itu tidak beranjak duduknya sejak sejam yang lalu. Matanya masih menatap sebuah foto yang didapatnya saat itu. Foto seorang gadis kecil dalam pelukan seorang wanita cantik.

“Akhirnya aku menemukanmu… Tuhan pasti sudah membantuku. Kau harus membayar setiap tetes air mata yang dikeluarkan oleh eomma,” gumamnya jelas.

Tiba-tiba terdengar ketukan pada pintu. Sontak laki-laki itu langsung menyisipkan lembar foto itu ke dalam sebuah buku miliknya.

“Hyuk Jae ya…” panggil seorang wanita dengan nada lembut dari ambang pintu yang sudah terbuka.

“Ne eomma?” tanya laki-laki itu sambil menoleh ke arah pintu.

“Jja, kita makan malam dulu! Eomma memasak sup daging kesukaanmu.”

“Jeongmal?” Lee Hyuk Jae beranjak dari duduknya dengan raut wajah senang, ia berjalan menghampiri wanita itu, “Jja… Aku tiba-tiba menjadi sangat lapaar…”

****

“Omo Yoon ah… Kau pasti tidak akan percaya…” Lee Rae Ki terus mengembangkan senyumnya bahkan sejak gadis itu membuka mata pagi tadi.

Yoon Hye hanya tersenyum mendengarnya. Ia seolah dapat merasakan kebahagiaan dari temannya itu. Memang, sebelumnya Yoon Hye tidak percaya kalau Rae Ki akan dapat bertahan dengan seorang laki-laki yang menjadi kekasihnya. Gadis itu mudah bosan. Tapi sepertinya kali ini berbeda. Dia dan Lee Donghae sudah menjalin hubungan setahun lebih satu hari jika hari ini juga dihitung. Kemarin adalah anniversary mereka yang pertama. Mengejutkan kalau Lee Rae Ki mampu bertahan selama ini. Mungkin juga karakter Lee Donghae yang tidak tertebak, membuat gadis itu tidak bosan.

“Kau sudah mengatakannya ribuan kali Lee Rae Ki…” Yoon Hye tertawa kecil.

“Bukankah itu sangat romantis? Dia belajar sulap hanya karena ingin memberikan hadiah anniversary padaku dengan cara yang unik. Aah… Bagaimana bisa dia punya pikiran seperti itu…?”

“Terkadang orang memang bisa menjadi gila karena cinta. Apa yang tidak terpikir sebelumnya, tiba-tiba datang sendiri dalam otak. Sama sepertimu yang rela belajar memasak untuknya. Apa aku salah?”

Lee Rae Ki tersenyum lebar, “Kau benar-benar pintar… Kau juga harus mencari pacar secepatnya! Atau jangan-jangan… Kau masih tidak bisa melupakan Cho Kyuhyun?”

Senyum Yoon Hye perlahan meredup. Sampai sekarang rasanya masih sakit saat mendengar nama itu. Tapi ia tidak ingin siapapun tau. Karena itu, dengan cepat Yoon Hye menutupinya. Ia tertawa kecil pada temannya. Ia tau Lee Rae Ki mencemaskannya.

“Aku akan menemukannya kalau waktunya sudah tepat Rae ya… Apa kau tidak pergi sekarang? Lee Donghae ssi pasti sudah menunggumu.”

“Ani… Dia tidak pernah menungguku.”

“Itu benar!”

“Omo!!” Rae Ki terlonjak kaget saat seseorang tiba-tiba saja berbisik di telinganya, “Seharusnya aku sudah terbiasa, tapi aku tetap terkejut saat kau muncul tiba-tiba.”

Lee Donghae tertawa kecil, “Bukankah itu terlihat keren?”

“Kau bisa membunuhku kalau seperti itu terus… Jantungku hanya ada satu.”

Yoon Hye tersenyum mendengarnya, “Cepat pergi, kalian akan terlambat nanti.”

“Mmm,” Rae Ki mengangguk pelan sambil mengemasi barang-barangnya di atas meja cafeteria dibantu oleh Donghae, “Kami pergi dulu Yoon ah..”

“Hati-hati!” saut Yoon Hye sambil melambaikan tangan pada kedua orang itu.

Mendadak suasana terasa sunyi untuknya. Gadis itu kembali menunduk menatap nampan makan siangnya dan mulai melanjutkan lagi makannya yang tertunda. Di dalam hatinya terasa perih. Sekuat tenaga ia menahan air matanya untuk tidak jatuh. Ia pikir air matanya sudah kering karena terlalu banyak menangis. Tapi ia salah. Setiap ia merasakan perih, air matanya akan menggenang dan tidak akan pernah habis.

Terlalu berat untuk ditanggungnya seorang diri. Tapi ia tidak punya siapa-siapa. Ia tidak bisa membiarkan orang lain masuk ke dalam hidupnya. Bahkan Lee Rae Ki teman satu-satunya itu juga tidak pernah tau apapun tentangnya. Tentang keluarganya, tentang kepergian Kyuhyun. Yang Rae Ki tau, eommanya sudah meninggal dan appanya entah ada di mana. Bagaimana ia bisa membiarkan orang lain masuk ke dalam hidupnya jika ia seperti bom waktu yang kapanpun bisa meledak. Ia tidak ingin kehilangan orang yang disayanginya lagi.

.

.

Namja itu masih belum menyentuh makan siangnya. Matanya mengamati gadis yang tengah duduk bersama temannya itu. Sesekali ia tertawa menanggapi ocehan temannya. Lee Hyuk Jae menatap tajam. Gadis itu masih bisa tertawa saat ini, tapi nanti ia tidak bisa menjaminnya. Tidak lama kemudian teman gadis itu pergi bersama Lee Donghae, teman grub dance-nya.

Melihat gadis itu sendirian, Lee Hyuk Jae mengangkat nampan makan siangnya lalu beranjak dari duduknya. Ia menghampiri gadis itu lalu duduk di hadapannya.

“Kau keberatan kalau aku duduk di sini?” tanya Hyuk Jae ramah.

Gadis itu menghentikan gerakan tangannya lalu mengangkat wajah. Menatap Hyuk Jae sekilas kemudian melanjutkan lagi kegiatannya tanpa berbicara apapun. Hyuk Jae tersenyum kecil melihatnya. Laki-laki itu menompangkan dagunya pada kedua tangannya, menatap gadis itu.

“Ternyata benar itu kau,” kata Hyuk Jae, “Aku pernah melihatmu tiga tahun yang lalu saat aku ikut kompetisi dance yang diadakan universitas ini. Dan aku baru beberapa minggu pindah ke universitas ini karena pertukaran pelajar. “

Hyuk Jae terdiam sejenak. Mengamati reaksi gadis itu. Tapi dia tidak memberikan respon apapun. Seolah-oleh Lee Hyuk Jae adalah hantu yang tidak terlihat. Namja itu tersenyum kecil. Ia merogoh saku jaketnya, mengambil sesuatu.

“Kurasa dulu kau menjatuhkan ini,” ujarnya sambil menyodorkan selembar foto ke hadapan gadis itu.

Kim Yoon Hye menghentikan gerakannya saat menatap foto itu. Ia mengangkat wajah dan menatap laki-laki yang ada dihadapannya itu. “Ini… Kenapa ada padamu?”

“Aku melihatmu menjatuhkannya. Saat akan kukembalikan kau sudah pergi. Jadi aku menyimpannya. Beruntung aku bisa bertemu denganmu hari ini. Tidakkah kau merasa ini takdir…?” senyum Hyuk Jae, “Apa itu foto ibumu? Dia sangat cantik, sama seperti putrinya.”

“Kamsahamnida,” ucap Yoon Hye pelan sambil mengambil foto itu lalu beranjak dari duduknya.

“Changkaman!” tahan Hyuk Jae saat gadis itu akan melangkah pergi.

Yoon hye menatap terkejut laki-laki yang menahan lengannya itu. Tapi lebih terkejut lagi saat melihat apa yang dipakai oleh laki-laki itu. Sebuah kalung salib dengan separuh batu mutiara biru ditengahnya yang memiliki ukiran yang sama pada tepinya. Gadis itu terpaku.

‘Halmoni mengatakan kepada eomma kalau ada mitos dalam mutiara itu. Kau lihat, bukankah itu hanya separuh?! Halmonie bilang, siapapun yang membawa separuh dari dari mutiara itu, itu artinya dia adalah belahan jiwamu.’

“Kau baik-baik saja?”

Yoon Hye mengulurkan tangannya akan menyentuh batu mutiara itu. Tapi ia tidak sanggup melakukannya. Ditatapnya Lee Hyuk Jae. Tanpa sadar, air matanya jatuh begitu saja. Tanpa berkata apapun ia melepaskan tangan Hyuk Jae yang menahannya lalu melangkah pergi. Meninggalkan namja itu dalam ketercenungan.

Hyuk Jae melihat banyak luka dalam mata gadis itu. Mata yang sama dengan yang dimiliki eommanya. Mata yang menyiratkan kekosongan dan kepedihan. Apa artinya semua ini…?

*****

“APPAAAA!!!”

Keringat Lee Hyuk Jae bercucuran. Nafasnya memburu. Ia tersengal. Selalu saja mimpi yang sama. Mimpi yang dimilikinya sejak ia kecil. Tangannya mencengkeram selimut dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Namja itu tidak akan pernah lupa dengan apa yang pria itu lakukan pada keluarganya.

Karena pria itu, hyung yang disayanginya harus meninggal karena terlambat operasi. Dan appanya dibunuh tepat dihadapannya saat pemakaman hyungnya. Ia bersumpah akan balas dendam pada pria itu. Pria yang membuat eommanya menangis setiap malam dan membuat dirinya bermimpi buruk. Bukan, itu bukan mimpi. Semuanya adalah nyata.

Akhirnya… Setelah tiga tahun mencari tau,  Lee Hyuk Jae berhasil mendapatkan data tentang gadis itu. Kim Soo In, gadis yang ditemuinya tadi pagi adalah putri dari Kim Jang Woo. Orang yang menghancurkan keluarganya. Gadis itu harus merasakan hal yang sama dengan yang dirasakannya.

****

“Donghae ya, apa kau mengenal Kim Soo In ssi?”

“Mwo? Nuguya?”

“Kim Soo In, teman yeojachingumu.”

Lee Donghae mengerutkan keningnya bingung. Tangannya masih sibuk mengusap keringat di leher dengan handuknya. Mereka sedang latihan dance saat ini. “Aku tidak yakin pernah mendengar nama itu sebelumnya…”

“Bukankah kau mengenalnya? Aku melihat kalian mengobrol di cafeteria kemarin.”

“Aah… Itu Kim Yoon Hye ssi bukan Kim Soo In.”

Hyuk Jae mengerutkan keningnya. Kim Yoon Hye? Ia yakin sekali kalau gadis itu putri Kim Jang Woo. Bahkan gadis itu mengenali foto eommanya. Tidak mungkin dia gadis yang lain. Dia pasti Kim Soo In.

“Donghae ya, apa kau tidak salah? Dia Kim Yoon Hye?”

Namja itu mengangguk, “Waeyo? Kau tertarik padanya huh?”

Hyuk Jae hanya tertawa kecil menanggapinya, “Bukankah dia cantik?”

“Tapi akan sulit mendapatkannya.”

“Waeyo? Apa dia galak?”

“Rae Ki sering bilang padaku kalau dia masih tidak bisa melupakan kekasihnya yang meninggal tiga tahun lalu.”

“Kekasih?”

“Dia pernah menjalin hubungan dengan Cho Kyuhyun, asisten salah satu dosen di sini. Tapi kemudian laki-laki itu meninggal. Penyebab kematiannya kurang jelas. Tapi dari yang kulihat dan yang kudengar, sepertinya Yoon Hye ssi benar-benar mencintainya. Dia bahkan tidak masuk kuliah hingga dua minggu saat itu. Setelahnya dia seperti menutup diri dari siapapun. Hanya dengan Rae Ki gadis itu bisa tertawa atau tersenyum.  Aku sering melihatnya melamun sendirian.”

Hyuk Jae tercenung mendengarnya. Siapa dia sebenarnya? Kim Yoon Hye atau Kim Soo In? Apa mereka orang yang sama? Atau memang berbeda?

“Kau harus berusaha keras jika ingin mendapatkannya. Semoga berhasil!” tambah Donghae sambil menepuk bahu Hyuk Jae pelan sebelum melanjutkan latihannya kembali.

****

Hujan…

Yoon Hye menghela nafas pelan sambil menatap air yang jatuh itu. Ia tidak akan bisa pulang saat ini. Gadis itu membalikkan tubuh lalu berjalan kembali masuk ke dalam cafeteria. Ia duduk di salah satu bangku di dekat jendela. Matanya menatap kembali gelang dengan separuh mutiara berwarna biru sapphire.

Ia sudah menemukan belahan jiwanya yang lain…

Tapi… Apa itu dapat merubah segalanya? Apa takdirnya akan berubah dengan kedatangan laki-laki itu? Apa ia harus percaya pada apa yang sudah dikatakan eommanya? Apakah laki-laki itu benar-benar belahan jiwanya? Ia tidak ingin kehilangan lagi…

“Kau menyukai hujan… tapi kau tidak ingin basah oleh airnya.”

Gadis itu sontak memutar kepalanya, mengalihkan tatapannya dari hujan. Ia melihat laki-laki itu sudah duduk di hadapannya.

“Apa aku salah?” tanya laki-laki itu lagi, “Kau menyukai hujan tapi kau tidak ingin basah oleh airnya…”

Yoon Hye terdiam. Laki-laki itu benar.

“Kim Yoon Hye ssi, apa kau pernah hujan-hujanan sebelumnya?” tanya Hyuk Jae lagi.

Gadis itu terkejut. Bagaimana bisa laki-laki itu tau namanya?

“Hanya sekali…” jawab Yoon Hye pelan, “Setelah itu aku sakit.”

Namja itu tersenyum mendengarnya, “Kau harus sering hujan-hujanan agar kebal terhadap sakitnya.”

Yoon Hye tercenung. Bagaimana bisa ia menyamakan hati dengan hujan…? Hal itu tidaklah sama…

“Oh… Kau memiliki batu mutiara yang sama denganku,” kata Hyuk Jae tiba-tiba. Mata namja itu tengah menatap gelang yang dipakai Yoon Hye.

“Bagaimana kau bisa memilikinya?” tanya Yoon Hye.

Hyuk Jae menggenggam kalung rosarionya, “Ini milik hyungku, dia sudah meninggal saat aku masih kecil. Tumor otak. Kalau kau?”

“Ini hadiah ulang tahun terakhir dari eomma. Dia juga sudah meninggal saat aku masih kecil.”

“Yoon Hye ssi, apa kau percaya takdir?”

“Aniyo.”

“Waeyo?”

“Terkadang, takdir membawaku ke jalan yang tidak ingin kulalui.”

Lee Hyuk Jae tercenung. Sekarang ia merasakan kemiripan antara dirinya dan gadis itu.

****

Lee Hyuk Jae menatap gadis itu dari dalam jendela kaca mobilnya. Ada rasa penasaran yang begitu kuat dari dalam dirinya. Ia ingin tau apa yang sebenarnya terjadi. Sebelumnya ia mengira bila Kim Jang Woo dan putrinya akan hidup senang diatas kehancuran keluarganya. Tapi saat melihat gadis itu, semakin lama ia semakin menemukan kemiripan antara dirinya dan gadis itu.

Ada banyak hal yang ingin ditanyakannya. Kenapa gadis itu tidak memakai nama Kim Soo In? Kenapa gadis itu tidak tinggal bersama Kim Jang Woo? Kenapa gadis itu seolah menutup rapat kehidupannya?

Hyuk Jae mendesah pelan. Matanya masih mengikuti sosok yang sedang berjalan pelan melewati jalan belakang gedung universitas. Cuaca sedang mendung dan daun-daun maple yang berwarna kuning, mulai berguguran.

Tiba-tiba dua buah mobil datang dari arah berlawanan. Berhenti tepat dihadapan gadis itu, memotong jalannya. Beberapa orang berpakaian jas hitam rapi keluar dari sana. Tubuh Lee Hyuk Jae menegang saat matanya melihat pria itu ada diantara mereka. Pria yang ingin dibunuh dengan menggunakan tangannya sendiri. Orang yang menghancurkan keluarganya. Kim Jang Woo. Namja itu memfokuskan pandangannya.

Ia melihat gadis itu diam tidak melakukan gerakan apapun. Raut wajahnya terlihat begitu dingin dan matanya penuh kebencian. Hyuk Jae semakin bertanya-tanya dalam benaknya. Bukankah mereka ayah dan anak? Kenapa lebih terlihat seperti musuh?

“Soo ya…” Kim Jang Woo mendesah pelan. Ada nada lelah dalam suaranya.

“Jeosonghamnida… Anda salah orang tuan,” jawab Yoon Hye dingin.

“Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini pada appa?” tanya pria itu dengan raut lelah, “Tidak bisakah kita berdamai?”

Gadis itu mundur satu langkah, “Setelah semua hal yang sudah terjadi kau ingin aku melupakannya dan berdamai denganmu?”

“Itu sudah menjadi masa lalu_”

“Masa lalu itu menyakitiku!!” potong Yoon Hye, “Sampai sekarang aku masih sakit! Bagaimana bisa aku tinggal denganmu jika kau selalu mengingatkanku pada semua hal itu? Bagaimana bisa aku melihat wajahmu jika mendengar namamu saja kenangan itu kembali berputar dalam ingatanku? Bahkan kenyataan bahwa aku terlahir sebagai putrimu itu sudah cukup menyakitiku!”

Pria itu menatap sedih Yoon Hye. Ia tau semua ini salahnya. Ia tau betapa terlukanya putri satu-satunya itu.

“Sekarang pergilah. Anggap saja putrimu sudah mati!”

“Bagaimana bisa aku melakukan itu?”

“Kenapa kau tidak bisa?? Kau bisa membunuh eomma, kau juga bisa membunuh Kyuhyun oppa, kenapa kau tidak bisa menganggap aku sudah mati??” tanya Yoon Hye dengan suara bergetar. Pipi gadis itu sudah basah oleh air mata.

“KIM SOO IN!!”

“Waeyo??” teriak Yoon Hye “Sampai mati aku tidak akan pernah melupakannya!! Karena menjadi istrimu, eomma meninggal. Karena aku terlahir sebagai putrimu, Kyuhyun oppa meninggal! Kau sudah membunuh semua orang yang kucintai. Kumohon… biarkan aku menjalani hidupku sendiri, biarkan aku memilih takdirku sendiri…” ia terisak, “sekali saja dalam hidupmu, bisakah kau menjadi seorang appa untukku? Bisakah kau membiarkanku hidup normal? Hanya ini permintaanku, jangan muncul kembali di depanku.”

Kim Jang Woo bergeming di tempatnya. Salah satu anak buahnya mengulurkan tangan, menyentuh lengannya. Pria itu membalikkan badan lalu masuk kembali ke dalam mobil dengan termangu. Belum cukupkah semua yang dilihatnya selama ini? Kenapa ia sama sekali tidak memahami putrinya? Kematian Cho Kyuhyun seharusnya cukup untuk membuatnya mengerti, tapi… ia masih tetap berharap gadis itu kembali padanya. Sekarang ia benar-benar merasa bahwa ia seorang diri. Satu-satunya orang yang punya hubungan darah dengannya amat sangat membencinya.

Lee Hyuk Jae tercenung di tempatnya. Semua teriakan Yoon Hye yang didengarnya sudah cukup untuk menjawab semua pertanyaannya. Ia melihat gadis itu masih berdiri di sana sementara tetesan air hujan mulai turun bersamaan dengan perginya kedua mobil itu. Hingga hujan semakin deras, Kim Yoon Hye masih tetap tidak bergerak. Hyuk Jae tau gadis itu sedang menangis. Namja itu kemudian membuka laci dashboardnya lalu mengeluarkan sebuah payung.  Ia keluar dari mobil lalu berjalan menghampiri gadis itu.

Tanpa berkata apapun, hyuk jae membagi payungnya dengan gadis itu. Saat mata mereka bertemu, saat itulah Hyuk Jae melihat luka yang teramat dalam di sana. Mungkin selama ini yang mampu membuat Hyuk Jae bertahan adalah rasa dendamnya pada pria itu. Tapi gadis di hadapannya ini tidak bisa melakukan apapun karena takdirnya terlahir sebagai darah daging pria itu. Jika Hyuk Jae masih memiliki eommanya, gadis ini sendirian. Benar-benar sendiri. Dan saat itu juga perasaan ingin merengkuh gadis itu muncul begitu kuat. Tiba-tiba saja setiap butir air mata yang jatuh dari kelopak mata gadis itu, terasa amat menyakitkan untuknya. Lee hyuk jae tidak ingin melihat air mata itu…

 

To be continue