Tags

,

a thousand times

“Yoon ah…”

“Hmm?”

“Jika kau harus memilih antara dua hal yang tidak mungkin kau abaikan salah satunya, apa yang akan kau lakukan?”

Gadis itu mengerutkan kening, menatap namja disebelahnya dengan heran, “Seperti?”

“Seperti aku dan appamu, siapa yang akan kau pilih?”

Ia terdiam sejenak sementara Lee Hyuk Jae masih menatapnya menunggu jawaban, “Aku tidak akan memilih, karena kalian berdua adalah hidupku…” jawab gadis itu akhirnya.

“Jika saat itu harus, apa yang akan kau lakukan?”

“Aku memilih untuk pergi…”

***
“Oppa, kau akan pergi?” tanya gadis itu dengan suara bergetar. Air matanya menggenang hampir jatuh. Rasa sakit itu bahkan terasa amat nyata. Di hatinya.

“Mmm,” Lee Hyuk Jae bergumam pelan sambil memasukkan barang-barangnya ke dalam koper, mencoba untuk mengabaikan gadis yang berdiri di dekatnya.

“Apa ini karena pernikahan appaku dan eommamu? Apa karena kita akan menjadi saudara?” air mata itu jatuh. Ia tidak bisa menahannya lagi. Dadanya terasa semakin sesak.

“Sekarang saatnya aku harus memilih, Yoon ah… Dan aku tidak bisa melakukannya. Kalian, adalah hidupku. Seperti yang kau bilang, aku memilih untuk pergi.” jawab Lee Hyuk Jae lirih. Laki-laki itu menutup kopernya lalu berbalik menatap gadis itu, gadis yang hingga kini masih menjadi kekasihnya. “Mianhae… Tapi aku harus pergi ke tempat dimana aku bisa melupakanmu. Ke tempat dimana aku bisa mengembalikan hatiku hingga saat kita bertemu lagi nanti, aku bisa menatapmu tanpa rasa ini…”

“Oppa…”

“Jaga dirimu dengan baik. Jangan telat makan, jangan makan ice cream di musim dingin. Jangan melupakan hal-hal kecil yang penting. Jangan tidur terlalu malam. Jangan_”

Greep…

“Kkajima…”

Kata-kata Lee Hyuk Jae terputus saat gadis itu mendekapnya erat, terisak hebat. Bahkan untuk menggerakkan lengannya membalas pelukan gadis itu, Lee Hyuk Jae tidak sanggup. Terlalu menyakitkan untuknya, juga untuk gadisnya.

“Apakah ada, sekecil apapun jalan untuk kita kembali bersama?” tanya Yoon Hye berharap, “Walaupun itu sangat sulit untuk dilalui…”

Lee Hyuk Jae terdiam, “Tidak ada…” lirihnya, penuh sarat penyesalan.

Perlahan, pelukan Yoon Hye mengendur. Gadis itu melepaskan pelukannya. “Pergilah…” katanya sambil memalingkan wajah, tidak ingin melihat namja yang begitu dicintainya itu.

Air mata Lee Hyuk Jae jatuh. Ia menarik kopernya lalu berjalan cepat pergi meninggalkan apartementnya. Tidak ingin mendengar isakan gadis itu lagi. Gadis yang hingga kini masih sangat dicintainya. Gadis yang tiba-tiba akan menjadi adik tirinya.

****
Telepon itu terus bordering. Membuat Lee Hyuk Jae mau tidak mau mengangkatnya meskipun di Paris saat ini masih tengah malam, hampir pagi.

Allo?” jawab Hyuk Jae dengan suara serak masih mengantuk.

“Oppa… Na~ya…”

Namja itu tertegun mendengar suara yang sudah lama tidak didengarnya. Suara yang amat sangat dirindukannya sekaligus harus dilupakannya sejak setahun yang lalu.

“Yoon ah…” bahkan untuk menyebut namanya, lidahnya terasa kelu.

“Bagaimana kabarmu? Apa kau baik?”

Hyuk Jae mengangguk pelan meskipun gadis itu tidak bisa melihatnya, “Mmm, aku baik…”

“Syukurlah…”

“Kenapa kau meneleponku? Apa kau baik-baik saja?” tanya Hyuk Jae.

“Oppa… Apa kau sudah bisa melupakanku? Apa kau berhasil melakukannya?”

Hyuk Jae terdiam. Ia tidak tau harus berkata apa.

“Kau belum berani kembali ke Korea, apa itu artinya kau masih belum bisa melupakanku? Kau masih mencintaiku, aniya?”

“Waegeure?”

Hening sejenak sebelum gadis itu menjawabnya, “Appa dan eomma sangat bahagia di sini, jangan khawatir. Oppa, apa kau ingat? Kau pernah bertanya kepadaku, apa yang kulakukan saat aku tidak bisa memilih diantara kalian dan aku menjawab bahwa aku akan pergi… Kau melakukan hal itu bukan? Kau pergi meninggalkan kami. Tapi… pergi yang kumaksud, berbeda dengan pergi yang kau maksud…”

“Yoon ah, kau baik-baik saja?” tanya Lee Hyuk Jae mulai gelisah. Ia mulai mendengar suara isak yang tertahan dari gadis itu.

“Kau memang pergi meninggalkan kami, tapi kau tetap memilih Oppa… Kau memilih kebahagiaan orang tua kita. Tapi aku tidak bisa melakukannya… Aku sudah mencoba, tapi aku tetap tidak bisa.”

“Yoon ah, jangan membuatku takut!”

“Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, aku akan memilih untuk pergi… Benar-benar pergi hingga aku tidak bisa mengingat lagi tentangmu ataupun semua yang sudah terjadi. Aku mencintaimu oppa… hingga kini pun aku masih tetap mencintaimu… Mianhae…”

Tut… tut… tut…

“Yeoboseo? Yoon ah? ”

Namja itu benar-benar takut sekarang. Tangannya menekan tombol telepon dengan gemetar. Ia menunggu tidak sabar. Sekali, dua kali, teleponenya tidak dijawab. Hingga panggilan keempat, seseorang menjawabnya.

“Eomma, ini aku. Yoon Hye baru saja meneleponku, bisakah kau melihatnya? Dia sepertinya tidak baik,” kata Hyuk Jae cepat tanpa henti bahkan sebelum wanita diseberang menyelesaikan kata ‘yeoboseo’nya.

“Yaa, ini masih jam empat pagi, waegeure? Yoon Hye tinggal di apartementnya sekarang. Dua bulan lalu dia memutuskan untuk tinggal di dekat kampus. Waeyo?”

“Mwo? Aku tidak bisa menjelaskannya. Kumohon, pergilah untuk melihatnya. Aku akan pulang ke Korea sekarang juga.”

“Mwoya? Sebenarnya ada apa?”

“Cari dia dulu sekarang eomma, aku mohon…”

****
PRAAANG…

Lee Hyuk Jae menghantam kaca itu dengan kepalan tangannya. Meskipun begitu, rasa sakit itu tidak bisa teredam. Air matanya tidak bisa berhenti mengalir. Ia merasakan lubang di hatinya, yang mungkin tidak akan bisa tertutup.

Gadisnya memilih untuk pergi. Benar-benar pergi… Saat eommanya menemukan gadis itu di apartementnya, mereka sudah terlambat. Darah yang mengalir dari pergelangan tangan itu terlalu banyak dan terlalu lama.

“Kenapa kau meninggalkanku…?”

Bisikan itu terdengar lirih dalam keheningan. Tanpa pernah ada jawaban yang akan didapatnya.

“Aku masih bisa bertahan karena adanya dirimu… Sekarang apa yang harus kulakukan? Bukankah kau ingin selalu disisiku?”

Tubuh itu luruh, seolah semua tenaganya menguap tak berbekas. Ia melepaskan semua yang selama ini ditahannya. Kesedihannya, kemarahannya, dan lukanya.

“Aku mencintaimu, Yoon ah… Hingga kini masih sangat mencintaimu… Bahkan saat kita bertemu lagi nanti, aku akan masih tetap mencintaimu…”

*****

‘Yoon ah…’

 

‘Hmm?’

 

‘Jika kau akan dilahirkan kembali, kau ingin menjadi apa?’

 

‘Aku… Aku ingin menjadi sesuatu yang selalu kau butuhkan…”

 

‘Seperti?’

 

‘Jika kau dilahirkan menjadi sebatang pensil, maka aku akan menjadi kertas untukmu. Jika kau dilahirkan menjadi bulan, aku akan menjadi bintang yang selalu ada disekitarmu… Eothe?’

 

‘Jjinjja? Apa kau tidak takut kalau aku dilahirkan menjadi bulan? Ada banyak bintang disekitarku…’

 

“Yaa!! Kau hanya boleh memilih satu bintang, araseo?”

 

‘Hahah… Araseo.’

 

‘Jika aku harus dilahirkan seribu kalipun, aku akan tetap memilih untuk menjadi bagian dari takdirmu, oppa. Karena aku selalu mencintaimu, sesederhana itu…’

FIN