Tags

what is love
– Lee Minho
– Park Hye In

NB : Setelah lama nggak nongol sekarang bawa ff dengan cast bang Minho. Gomenasai yang tidak berkenan… vea hanya sedang mengganti mod hahah… Abisnya lagi kesem-sem sama karakter bang Minho yang rada-rada bad boy hahah… Yang mau baca, baca sajalah… Enjoy ^^

—————————–

Seperti kehidupan remaja lainnya, aku ingin masa mudaku menyenangkan. Bertemu dengan cinta pertamaku, dan menjalankannya dengan penuh kasih. Sederhana bukan? Tapi seperti yang dibilang orang, bahwa takdir itu kejam. Dan manusia-manusia hanyalah tokoh bodoh yang dipermainkan oleh kisahnya. Termasuk aku… [Park Hye In]

.

.

“Hye In ah, boleh aku meminjam buku PR-mu? Aku lupa semalam tidak mengerjakannya.”

 

“Tentu, ini!”

 

“Gomawo, kau yang terbaik!!”

 

“Seunggi ya, apa yang kau lakukan di kelas sendirian?”

 

“Ah, aku ingin mengembalikan bukumu. Dan ini ada hadiah untukmu!”

 

“Jeongmal? Gomawo,”

 

 

“Kau akan pindah ke Seoul?”

 

“Mmm, uri Appa diterima bekerja di sana jadi aku akan ikut.”

 

“Kapan kau akan pergi?”

 

“Besok aku akan berangkat.”

 

“Lalu… bagaimana denganku?”

 

“Jangan khawatir, aku akan menemuimu lagi!”

 

“Janji?”

 

“Janji.”

.

.

“Mwoyaa…? Kau tidak mungkin menyukaiku hingga saat ini bukan?” laki-laki itu menatap tidak percaya, ia tertawa pelan, “apa kau pikir aku masih Lee Seunggi murid sekolahan seperti yang dulu? Semua sudah berubah Hye In ah… Seperti yang kau lihat, aku sedang menikmati kehidupanku di Seoul sekarang.”

“Tapi… kau sudah berjanji untuk menemuiku,” kata gadis itu pelan.

“Yaa, itu sudah lama, setahun? Dua tahun? Aku mengucapkannya hanya untuk basa-basi. Semua orang juga akan melakukan itu. “

“Lalu kenapa kau memberiku sebuah kalung?”

“Kalung? Kalung apa?”

“Kau memberiku sebagai hadiah saat mengembalikan buku PR-ku,” Hye In tidak menyerah.

Laki-laki itu mengernyit pelan. Berusaha mengingat hal yang sudah dilupakannya, “Aaah… Hadiah itu…”

“Kau ingat?”

“Itu bukan dariku.”

“Mwo?”

“Aku menemukannya sudah ada di bangkumu, kupikir itu untukmu jadi aku memberikannya padamu.”

“Oppaa~~ sampai kapan kau akan mengurusinya? Film yang kita tontong sudah dimulai,” rajuk seorang gadis dalam pelukan laki-laki itu.

“Araseo, kkaja!!”

“Seunggi ya…” panggil Hye In lagi saat laki-laki itu akan melangkah pergi. “Saat itu… tidak adakah… tidak adakah sedikit saja rasa suka untukku darimu?”

Lee Seunggi tertawa pelan, “Tentu saja aku menyukaimu. Sama seperti yang lainnya. Arachi? Aku harus pergi sekarang, anyeong!!”

Cinta? Huh? Apa yang mereka tau tentang cinta? mereka selalu mengatakan cinta itu seperti apa… Pada kenyataannya, mereka selalu menertawakan seseorang yang punya keyakinan pada cinta. Bagiku cinta hanyalah pembodohan. Seperti penantianku selama ini. Cinta pertama yang kunanti selama lima tahun lebih, hari ini sudah berakhir tidak bersisa. Dan aku merasa menjadi manusia paling bodoh yang pernah ada. [Park Hye In]

*****

Three years later

“Omo!! Park Hye In!!!”

“Kim Yoon Hye?” gadis itu menatap terkejut seorang gadis yang pernah dikenalnya. Ia baru saja mengusir teman kencannya yang kesekian karena tiba-tiba modnya menurun. Sejak ia tau cinta pertamanya adalah hal bodoh dalam hidupnya, gadis itu menjadi tidak percaya lagi dengan yang namanya cinta. Ia sering berkencan dengan berbagai macam laki-laki yang ternyata sangat mudah untuk ditaklukkannya.

“Aigoo… Sudah lama sekali kita tidak bertemu… Kau tinggal di Seoul sekarang? Bagaimana kabar keluargamu di Daechon? Sudah berapa tahun sejak kita lulus sekolah dulu?”

“Mmm, lima tahun? Entahlah… Duduklah, apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan majalah. Tempatnya tidak jauh dari sini, aku hanya mampir ke café ini untuk makan siang.”

“Geure?”

“Kalau kau?”

“Aku sedang kuliah saat ini.”

“Ah begitu… Omo!! Kalung itu…”

Hye In mengerjap pelan menatap kalung yang digenggamnya. Ia kembali menatap mantan teman sekolahnya dulu dengan bingung.

“Yaa, apa kau masih berhubungan dengan Lee Minho?”

“Lee Minho? Kenapa aku harus bersamanya? Sejak lulus sekolah kami tidak pernah bertemu lagi. Aku juga tidak tau kabarnya.”

“Jadi kalian sudah putus sebelum lulus?”

“Mwo? Kami tidak berpacaran… Kenapa kau menganggapnya begitu?”

“Lalu… Kenapa kalung itu ada padamu? Aku yakin sekali itu kalung yang sama. Dulu Lee Minho pernah datang ke toko appa. Dia memesan sebuah kalung couple. Aku masih ingat karena aku melihat sendiri gambar desain yang dibuatnya. Dia bilang dia akan memberikannya pada cinta pertamanya. Kupikir itu kau.”

Park Hye In terdiam mendengarnya. Tidak mungkin… Jadi selama ini dia salah? Dan Lee Minho tidak mengatakan apapun meskipun laki-laki itu tau. Sudah tiga tahun sejak ia tau kalau kalung itu bukan dari Lee Seunggi. Selama ini ia selalu bertanya-tanya siapa yang memberinya kalung sialan ini.

“Kenapa dia melakukan ini padakuuu???” teriak Hye In tiba-tiba membuat Kim Yoon Hye terlonjak kaget.

.

.

Park Hye In, gadis berambut gelombang dan bermata coklat itu sedang berdiri menatap bangunan besar di depannya. Seoul university. Ia sudah memasuki tahap akhir untuk kuliahnya. Mulai hari ini ia akan berada di universitas ini selama sebulan untuk menyusun tugas akhirnya.

Ia menghembuskan nafas berat sebelum menatap kembali kalung yang ada dalam genggamannya. “Aku benar-benar akan membunuhmu kalau kita bertemu, Minho ya!” desisnya lalu melempar kalung itu kuat-kuat.

****

Mungkin benar apa yang dikatakan orang tentang cinta pertama tidak akan pernah berhasil. Kupikir aku bisa mendapatkannya, tapi ternyata salah. Karena aku tidak ingin menyakiti hatinya, juga perasaannya, aku membiarkannya hidup dalam kebohongan. Jadi sebenarnya mana yang lebih kejam? Melukainya atau membohonginya? [Lee Minho]

.

.

“Minho ya… apa kau punya sesuatu untuk dimakan? Perutku lapar sekali… Aku tidak sempat sarapan tadi karena harus mengerjakan PR.”

 

“Kau membiarkan perutmu kelaparan untuk mengerjakan PR dan kau membiarkannya menyontek begitu saja?”

 

“Wae? Tidak boleh? Kalau tidak punya bilang saja.”

 

“Ada yang ingin kuberikan padamu!”

 

“Apa itu?”

 

“Kau akan tau nanti!”

 

“Cih, tidak usah bercanda denganku! Menyebalkan!!”

.

.

“Kenapa kau senyum-senyum seperti itu? Mengerikan…”

 

“Minho ya… Neo ara? Ternyata Lee Seunggi menyukaiku!”

 

“Mwo?”

 

“Lihat! Dia memberikanku hadiah kalung ini, yeoppo anitji?”

 

“Kau yakin dia yang memberikan?”

 

“Tentu saja… Dia memberikan dengan tangannya sendiri. Ah… benar-benar cantik. Tapi apa yang ada di dalam bandul botol kecil ini? Surat? Bagaimana aku mengambilnya? Sepertinya ini terkunci…”

 

“Paboya!!”

 

“Mwo?? Yaa, kenapa kau mengataiku? Ah, tadi kau ingin memberikan sesuatu padaku, mana?”

 

“……..”

 

“Roti coklat? Yaa, aku kelaparan saat pagi tadi dan kau baru memberiku sekarang? Neo jjinjja!!”

 

“Makan saja!!”

.

.

“Minho ya… jebal… bantu aku…”

 

“Naega wae??”

 

“Kau yang paling pintar di sini! Aku ingin lulus dengan nilai bagus. Jadi aku bisa mendaftar kuliah di Seoul.”

 

“Kenapa Seoul?”

 

“Itu… karena aku ingin bertemu dengan cinta pertamaku…”

 

“Cih, Lee Seunggi?”

 

“Mwo? Darimana kau tau?”

 

“Tertulis jelas di dahimu!!”

 

“Benarkah? Karena itu kau harus membantuku.”

 

“Yaa, apa kau yakin dia menyukaimu?”

 

“Dia sudah berjanji padaku. Aku juga akan berusaha untuknya.”

.

.

PLAK

“Namja brengsek!! Kau anggap apa aku selama ini??” teriak gadis itu dengan muka berantakan karena menangis.

Laki-laki itu hanya mengusap sudut bibirnya yang terluka karena tamparan, “Memang kau ingin kuanggap seperti apa? Kurasa kau lebih mengerti soal itu.”

“Kau benar-benar brengsek!!” teriak gadis itu lagi sebelum berlari pergi.

“Ckckck… Kau benar-benar berani mempermainkannya. Apa kau tidak tau kalau dia adalah putri dari salah satu dosen kita?” tanya seorang laki-laki berkaca mata yang kebetulan melihat kejadian itu.

Lee Minho beranjak dari duduknya. Ia benar-benar kesal gadis tadi sudah mengganggu tidurnya. “Aku tidak perduli dia siapa karena dia juga tidak perduli denganku. Gadis sepertinya siapa yang mau? Dia tidak benar-benar mencintaiku.”

“Kalau kau ingin mendapatkan gadis baik-baik seharusnya kau juga harus menjadi orang baik, bukan playboy seperti ini!”

Lee Minho mengernyit pelan sambil menoleh ke arah temannya, “Yaa, cingu-ah…” dilingkarkan lengannya pada namja di sebelahnya itu, “Neo ara? Aku seperti ini karena aku orang baik. Karena aku menjadi orang baik, aku kehilangan cinta pertamaku. Karena aku menjadi orang baik, aku membiarkan appa meninggalkan eomma untuk wanita selingkuhannya. Karena aku menjadi orang baik, pacarku meminta putus karena sering cemburu padaku. Jadi kenapa aku harus menjadi orang baik kalau aku harus kehilangan semuanya?”

Namja itu mengernyitkan keningnya untuk berfikir. Seolah kata-kata Minho adalah puisi yang harus dipahami maknanya.

Bletak

“YAA!”

“Kau lamban sekali Kim Soohyun!” komentar Minho setelah menggeplak kepala temannya.

“Jangan memukulku seenaknya!!” protes namja itu sambil membungkuk untuk memungut buku yang dijatuhkannya tadi akibat terkejut oleh pukulan Minho.

“Apa ada sesuatu selama aku pergi mendaki?” tanya Minho ikut membungkuk, membantu memungut buku-buku Soohyun. Namun ada sesuatu yang menarik pandangannya. Sesuatu yang berkilau saat terkena cahaya. Benda itu terselip diantara rerumputan tempat terjatuhnya buku-buku itu.

“Kudengar ada mahasiswi baru yang cukup terkenal. Dia sangat cantik dan cukup berani juga. Kurasa dia memiliki rekor yang sama denganmu. Sudah seminggu dia ada disini dan sudah lima namja yang dikencaninya. Namanya… Park… Park… Ah aku tidak ingat…”

Lee Minho tidak terlalu focus pada apa yang diucapkan Soohyun. Matanya menatap benda yang ada dalam genggamannya dengan jantung berdebar. Sebuah kalung berbandul botol kecil dengan gulungan kertas di dalamnya. Kalung yang diberikannya pada cinta pertamanya lima tahun yang lalu.

“Ah Park Hye In!! Namanya Park Hye In!!” seru Soohyun tepat ketika Minho berlari meninggalkannya, “YAA EODIGA???”

Saat kupikir tali itu sudah terputus ternyata aku salah. Takdir masih masih memiliki cara untuk menyambungnya kembali. Apakah aku bisa mengikatnya kembali? Setidaknya untuk mengungkapkan apa yang tidak bisa kuungkapkan di masa lalu… [Lee Minho]

****

“Ah itu dia Minho ya!! Gadis yang sedang menyelesaikan tugas akhirnya. Park Hye In!” bisik Kim Soohyun.

Gadis itu sedang duduk di tempat yang biasanya dipakai Lee Minho. Tepat di samping jendela lebar. Untuk sejenak, Lee Minho masih terdiam menatapnya. Sudah berubah… Gadis itu benar-benar berubah. Dulu dia masih terlihat polos dengan rambut berponi, hitam lurus yang diikat kebelakang semua. Sekarang penampilan gadis itu lebih dewasa. Rambutnya dicat pirang, gelombang meskipun masih tetap berponi. Dia mengenakan gaun putih polos simple sewarna dengan sepatu higheelsnya. Lee Minho bisa melihat nail art pada kesepuluh kukunya. Cantik… Gadis itu semakin cantik.

“Yaa, kuingatkan kau untuk tidak bermain-main dengannya. Dia bukan seperti gadis lain yang bisa kau rayu__”

Lee Minho tidak begitu focus pada apa yang dikatakan temannya. Bibir laki-laki itu menyeringai tipis lalu melangkah mendekati gadis itu.

“Yaa!! Apa yang akan kau lakukan Minho ya??!” teriak Soohyun panik sambil mengikuti laki-laki itu.

Bruuuk…

Gadis itu mengerjap kaget saat sebuah tas tiba-tiba jatuh di atas meja, tepat dihadapannya.

“Kka! Cari tempat lain!”

Suara itu… Park Hye In mengangkat wajahnya, sedikit terkejut saat melihat sosok yang selalu disumpahinya itu sekarang ada dihadapannya. Ia perlahan berdiri sambil tersenyum manis.

BLETAK

“YAA!!” teriak namja itu keras setelah kepalan tangan gadis itu mendarat di kepalanya.

“Apa kau tidak malu mengatakan hal itu setelah sekian lama kau membohongiku?”

“Mwo?” Kim Soohyun mengerjap bingung.

“Sedang apa kau disini?” gerutu Lee Minho.

“Tentu saja untuk membunuhmu! Pabo!”

“Apa salahku?”

“Kau membohongiku selama bertahun-tahun dan masih bertanya apa salahmu? Wae??? Kenapa kau lakukan ini padaku? Kenapa kau tidak bilang kalau kau menyukaiku?”

Semua mata yang ada di dalam cafeteria itu mengarah tepat ke satu titik. Ini sangat jarang terjadi. Lee Minho, mahasiswa yang terkenal suka serampangan dan seenaknya sendiri itu kini tengah berdebat dengan gadis yang baru seminggu berada di universitas ini.

“Kau menyalahkanku karena itu? Memangnya siapa yang dengan bodohnya mengatakan akan menunggu laki-laki itu?”

“Aku tidak bodoh!!!”

“Kau bodoh!!!”

“Kau yang bodoh!! Kenapa tidak berani mengatakannya padaku?”

“Kau juga bodoh karena selalu menunggunya!!”

Kedua orang itu sama-sama terdiam dengan nafas yang memburu. Gadis itu menyambar tas Lee Minho lalu membuangnya ke lantai dengan sikap kekanak-kanakan, kemudian ia melegang pergi begitu saja.

“Yaa, apa hubunganmu dengannya? Mungkinkah… Dia cinta pertamamu?” bisik Soohyun pelan.

Tiba-tiba saja Lee Minho mencengkeram leher kemeja Soohyun, “Dari semua gadis yang ada kenapa harus diaa???” teriaknya frustasi.

****

Club itu terdengar bising karena music berdentum dengan keras. Khusus malam ini, Choi Siwon salah satu mahasiswa paling kaya di kampus mengundang teman-temannya untuk merayakan pesta ulang tahunnya. Lee Minho tampak sedang menyesap minumannya saat seorang gadis duduk di sebelahnya dan merangkul lengannya manja. Namja itu hanya diam karena terlalu malas menanggapi. Bukan salahnya memiliki wajah yang tampan. Namun, tanpa sengaja matanya bertemu dengan mata gadis itu.

Park Hye In menatapnya jijik.

Jijik?

Atau… cemburu?

Gadis yang duduk di salah satu kursi bar di seberang lee Minho itu tampak mendengus pelan lalu mengalihkan pandangan dan tersenyum pada namja di sebelahnya yang kebetulan penyelenggara pesta. Bukan tanpa alasan kenapa gadis itu ada di pesta ini padahal dia bukan mahasiswa universitas itu dan tidak satu jurusan dengan Choi Siwon. Popularitasnya benar-benar bagus bukan? Bahkan Choi Siwon sampai tertarik padanya.

Lee Minho tersenyum samar. Ia mengambil segelas soju lalu meminumnya sekali teguk. Matanya melirik lagi gadis itu yang ternyata juga memperhatikannya. Senyum remeh dari Lee Minho dianggapnya tantangan. Dia juga meraih segelas soju dan meminumnya dalam sekali teguk.

Mendadak, ini menjadi hal yang menarik untuk Lee Minho. Laki-laki itu mengulangi perbuatannya. Mengambil segelas soju lalu menegaknya sekaligus. Gadis itu mengikutinya. Mereka melakukannya berulang kali dengan saling bertatapan. Menimbulkan suatu keganjilan bagi yang lainnya.

Entah sejak kapan orang-orang yang berada di sana menghentikan kegiatan menarinya dan mengalihkan pandangan dari dua orang yang masih bersaing minum itu. Mereka berseru dan saling memberikan semangat pada keduanya seolah itu adalah tontonan paling seru. Kini keduanya bukan hanya meminum lewat gelas, tapi langsung dari botolnya.

Lee Minho tidak menghiraukan larangan Kim Soohyun yang terus mengomelinya. Tiba-tiba saja gadis itu berdiri dari duduknya. Meletakkan botol soju yang sudah kosong di atas meja bar dengan kasar lalu melangkah dengan sempoyongan menuju Lee Minho.

Pipinya tampak memerah. Nafasnya berderu tidak teratur. Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap. Tiba-tiba Hye In merebut botol soju yang masih digenggam Lee Minho lalu menegak sisanya.

Braak…

Diletakkannya botol yang sudah kosong itu di atas meja bar. Lagi, mereka saling bertatapan sebelum gadis itu mulai memejamkan matanya dan jatuh limbung ke pelukan Lee Minho.

*****

“AAAAAAAAAAAAARRRGGGHHHH…..”

BRUUK

“KYAAAAAAAAAAA……………”

“YAA berhenti berteriak!!” teriak namja itu kesal setelah tubuhnya jatuh ke lantai akibat tendangan gadis itu.

Hening…

“KYAAAAAAAAAAAA…………..”

“YAA PARK HYE IN!!”

“KAU TELANJANG BODOH!!”

“MWO??”

Gadis itu menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Ia ingin menangis dan menggeplak laki-laki itu sekaligus. Sementara Lee Minho menyambar celana panjang dari dalam lemari lalu memakainya dengan cepat. Ia menggaruk-garuk tengkuknya saat melihat gadis yang masih bergelung selimut di ranjangnya itu.

“Hueeee… Eommaaaa eothokeeeh…???” ratap gadis itu.

“Yaa, berhenti menangis! Kau seperti gadis saja!” ucap Lee Minho gugup.

Park Hye In langsung duduk dari tidurnya, melotot ke arah laki-laki itu, “Aku memang gadis, bodoh!! Kenapa kau melakukan ini padaku?? Hueeeeeeee…..”

“Yaa… Ini bukan salahku! Kau yang tidak ingin aku pergi!”

“Mwo??” gadis itu mendelik. Mendadak ingatannya tentang kejadian semalam membanjiri otaknya. Saat ia beradu minum dengan Lee Minho. Saat ia dibawa pulang ke apartement laki-laki itu. Saat ia direbahkan di ranjangnya. Saat ia menarik lengan Lee Minho ketika laki-laki itu akan pergi. Saat mereka bertatapan. Saat mereka berciuman. Saat…

“AAAAAAAARRGGH….” teriak Hye In tiba-tiba sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Baru ingat, sekarang?” dengus Lee Minho.

“Saat itu aku sedang mabuk, bodoh!!”

“Yaa, aku ini namja. Mana ada namja normal yang bisa lepas dari situasi itu?!” elak Minho, “bukankah kau dijuluki gadis penakluk?”

“Aku tidak akan melakukan ini dengan namja-namja seperti mereka!!” teriak Hye In, “bukannya yang playboy itu kau?!”

“Aku juga tidak akan melakukannya dengan gadis-gadis seperti mereka!!”

“Kau melakukannya padaku!!!”

“Karena kau bukan mereka!!!”

“………”

“………”

Suasana mendadak hening. Keduanya seketika terdiam. Park Hye In merasakan wajahnya memanas. Ia bisa melihat laki-laki di depannya itu mencoba mengalihkan tatapannya kemana saja asal bukan ke arahnya. Jantungnya berdebar pelan. Ada apa dengannya??

PUK

Gadis itu mengernyit saat sesuatu jatuh di atas selimut yang membungkus tubuhnya. Ia mendelik saat melihat benda itu.

“Yaa! Kenapa kau memberikan benda sialan ini padaku lagi??” tanya Hye In kesal, “aku sudah membuangnya. Gara-gara kalung sialan ini aku menjadi orang bodoh yang menunggu namja brengsek itu!”

“Bagiku itu benda yang berarti…”

Park Hye In tersentak. Gadis itu mengangkat wajahnya, menatap Lee Minho yang juga sedang memandangnya. Mendadak jantungnya berdebar pelan.

“Apa kau tidak penasaran, kenapa benda yang kau buang itu bisa kutemukan dan kembali padamu?”

Gadis itu tidak menjawab. Ia menunduk, menatap kalung dalam genggamannya itu lagi.

“Seperti kau yang dengan bodohnya menunggu Lee Seunggi sialan itu, aku juga menjadi bodoh karena tidak pernah mengatakan kebenarannya padamu sejak dulu. Tapi bukankah Tuhan mempunyai jalannya sendiri? Saat kalung itu kembali padaku, aku merasa ini adalah takdir.”

Tatapan Lee Minho melembut. Namja itu melangkah mendekat pada gadis itu. Berlutut di sisi ranjang. “Kau ingin tau apa yang tertulis pada gulungan kertas kecil di dalamnya? Bukalah…”

Hye In tercenung menatap kalung lain yang ada pada telapak tangan Lee Minho. Kalung berbandul kunci kecil yang selalu dipakai namja itu. Dengan ragu, gadis itu mengambilnya untuk membuka bandul botol kecilnya. Ia mengeluarkan gulungan kertas kecil itu lalu membacanya.

‘Will You Marry Me?’

“Bukan seperti ini urutannya.” kata Lee Minho.

Gadis itu menoleh, menatap penuh tanya.

“Saat itu seharusnya kau tau bahwa aku yang memberimu kalung ini. Lalu kita berpacaran. Setelah kita lulus sekolah, aku akan mencari pekerjaan sampingan sambil kuliah. Pada waktu yang tepat, aku akan menyerahkan kunci ini padamu. Agar kau tau bahwa aku serius dari awal. Tapi melihatmu tersenyum bahagia saat itu, dan mengatakan bahwa itu adalah pemberian Lee Seunggi, aku mendadak menjadi seorang pengecut. Mungkin aku terlalu takut ditolak olehmu jika aku berkata jujur. Tidak, bukan itu… Mungkin aku takut setelah itu, senyummu akan hilang… Aku tidak ingin melukaimu…”

Air mata Hye In jatuh, “Paboya…” lirihnya.

“Kau yang membuatku menjadi orang bodoh, Hye In-ah… Dan aku akan selalu menjadi orang bodoh di hadapanmu. Aku tidak tau apa itu cinta… Apakah cinta itu sepertiku yang membiarkanmu dalam kebohongan hanya karena tidak ingin kehilangan senyummu, ataukah seharusnya aku egois dan memberitau kebenaran agar kau mau menatapku. Yang kutau, aku hanya ingin kau bahagia… Sekarang, egoiskah bila aku ingin berada di sisimu agar bisa membahagiakanmu?”

“Pabo…” isak Hye In, “tidak ada namja yang melamar gadisnya dengan cara seperti ini!! Kau benar-benar tidak romantis!!”

“Mwo?? Yaa!! Aku bahkan tidak merencanakan ini sebelumnya!! Aiiish jjinjja!” balas Lee Minho kesal.

“Hueeee…. Bagaimana bisa kau melamarku dengan cara seperti ini?? Apa yang harus kuceritakan kalau ada yang bertanya?? Tidak mungkin aku menceritakan keadaan kita yang seperti ini!!”

“Jadi kau menolakku hanya karena ini??” tanya Lee Minho tidak percaya. Setelah semua hal tulus yang dikatakannya tadi, gadis di depannya ini benar-benar ingin dilemparnya.

“Kita sudah telanjang begini bagaimana bisa aku menolakmu??” balas Hye In kesal, “aku benar-benar akan membunuhmu kalau sampai kau main mata dengan gadis lain! Dengar itu, aku tidak akan pernah melepaskan__”

Omelan itu teredam oleh ciuman mendadak Minho. ia melumat bibir gadis itu lembut sebelum berbisik, “Bisakah kau diam sebentar? Untuk membiarkanku berada di sisimu, terima kasih…” ucapnya lalu melumat lagi bibir Hye In.

Seperti yang kukatakan, aku tidak tau apa itu cinta. Bagiku, hidup bersamanya sudah lebih cukup dari ribuan ungkapan kata cinta yang ada dalam kamus manusia. Karena yang dapat merasakannya hanya hati… Aku percaya takdir, membawa hatiku pada gadis yang tepat. Gadis yang akan melangkah bersamaku hingga akhir… [Lee Minho]

 

 

Sekarang aku mengerti. Masa-masa indah tidak hanya terjadi saat kita remaja. Takdir menuliskan kisahnya dalam satu jalan panjang. Yang membawa langkahku bersamanya menuju akhir… Apa dan bagaimana itu cinta, aku tidak perduli lagi… Karena cinta hanyalah sebuah kata dengan arti seluas langit yang sebenarnya hanya hati yang bisa mengenali dan merasakannya… [Park Hye In]

END