Tags

,

flakes heart

NB : Bisa dibilang ini lanjutan dari drabel if you love her

————————–

Serpihan hati ini kupeluk erat

Akan kubawa sampai ku mati…

“Yaa Kim Yoon Hye! Apa kau tidak risih huh? Namja itu sudah berdiri di sana sejam yang lalu hanya untuk menatapmu! Kenapa tidak kau usir saja dia?”

Gadis itu hanya tersenyum, tangannya tetap bekerja merapikan tanah dalam pot bunga, “Untuk apa? Aku tidak mengenalnya, Rae ya…”

Lee Rae Ki mendengus pelan, “Dia benar-benar makhluk luar biasa. Kenapa masih mencarimu setelah apa yang dilakukannya? Tidak tau malu.”

“Rae ya…”

“Saat itu seharusnya kau memukulnya saja. Paling tidak menamparnya. Dia berselingkuh dibelakangmu selama dua tahun, Yoon ah… Tapi apa? Kau malah bilang padanya untuk bersikap baik pada Han Yoon Ra dan melepasnya begitu saja. Tidak bisa dipercaya… Kalau aku yang jadi kekasihnya, namja itu pasti sudah tidak berbentuk lagi!”

Kim Yoon Hye tertawa geli, “Karena itu dia beruntung pernah memiliki kekasih sepertiku.”

“Dan kau menjadi sial karena pernah memiliki kekasih sepertinya,” dengus Raeki.

Gadis itu diam tidak menanggapi temannya lagi. Ia sudah cukup lelah dengan semua yang terjadi padanya. Sudah dua minggu sejak ia melepas laki-laki itu, Cho Kyuhyun, seharusnya ia merasa lega. Tapi tidak. Sebaliknya, namja itu selalu mengikutinya dan memintanya untuk kembali. Setiap orang memang berhak memperoleh kesempatan kedua, tapi tidak dengan hati. Hati yang sudah hancur, tidak akan pernah bisa kembali lagi meskipun kau menyusunnya dengan sempurna. Cho Kyuhyun tidak bisa meninggalkan sahabatnya, lalu kenapa ia harus kembali pada laki-laki itu? Tidak ada alasan yang membuatnya untuk kembali.

****

Hari ini begitu suram menurut Yoon Hye. Langit mendung sejak pagi tadi dan angin bertiup lebih kencang. Pertengahan musim gugur ini begitu dingin. Sedingin hatinya. Gadis itu mengunci pintu toko bunganya lalu berjalan menuju apartementnya. Cuaca yang tidak baik hari ini membuat sebagian besar orang lebih memilih untuk tidak berpergian. Jalanan menjadi sedikit legang. Bahkan lampu pinggir jalan yang berwarna kuning tidak mampu menghangatkan perasaannya.

Ia melangkah sambil sesekali menunduk. Memperhatikan sepatu baru yang kini dipakainya. Orang mengatakan bahwa sepatu yang indah akan membawamu ke tempat yang indah. Apakah itu benar? Gadis itu semakin merapatkan jaket panjang hitam yang dipakainya. Sedikit menyesal tadi tidak membawa sarung tangan dan topi. Sekarang jemarinya seperti mati rasa. Benar-benar malam yang suram.

“Yoon ah…”

Suara itu menghentikan langkah kakinya secara otomatis. Entah mengapa suara itu seperti air es yang menyiram hatinya dalam cuaca sedingin ini. Membekukannya hingga terasa seperti tercekik. Ia melihat laki-laki itu berjalan menghampirinya. Menatapnya dengan putus asa.

Kenapa…?

Kenapa dia harus seperti ini?

Ada banyak hal yang ingin Yoon Hye tanyakan. Kenapa Cho Kyuhyun mengkhianatinya? Kenapa Cho Kyuhyun bisa melakukan itu hingga dua tahun lamanya? Kenapa Cho Kyuhyun tidak bisa jujur padanya? Kenapa setelah ia melepasnya, Cho Kyuhyun malah tidak ingin pergi? Dan kenapa laki-laki itu selalu datang padanya?

Ada banyak kata kenapa dalam pikirannya. Tapi gadis itu tau, meskipun ia sudah mendapatkan jawabannya, hal itu tidak berarti apa-apa lagi sekarang… Hati dan kepercayaannya yang sudah hancur, tidak akan bisa kembali.

“Yoon ah… Kembalilah kepadaku.”

Gadis itu memejamkan sejenak matanya sambil menghembuskan nafas lelah. Berharap bahwa laki-laki dihadapannya ini hanyalah ilusi. Namun saat kelopak matanya terbuka, dia masih ada di hadapannya. Memandangnya dengan tatapan memohon.

“Apa kau bisa meninggalkannya?” gadis itu balik bertanya.

Pertanyaan itu sangat sederhana. Hanya butuh jawaban ‘bisa’ atau ‘tidak’. Namun laki-laki itu hanya menatapnya putus asa karena tidak bisa menjawabnya.

“Setelah kau hancurkan hatiku menjadi berkeping-keping lalu kini kau meleburnya menjadi serpihan debu. Apa kau juga ingin meniupnya hingga tak berbekas?” gadis itu berusaha menarik nafas dan menahan air matanya, “kau sudah memilihnya, Kyuhyun ah…” lirihnya hamper tidak terdengar.

“Aku mencintaimu…” tatap Kyuhyun nanar.

“Tapi kau tidak bisa meninggalkannya…”

Laki-laki itu meremas rambutnya frustasi, “Kau tidak tau… Gadis itu bisa membunuh dirinya sendiri jika aku meninggalkannya!”

“Lalu apa artinya aku? Apa kau sebegitu bencinya padaku hingga melakukan ini?”

“Apa kau sudah tidak mencintaiku?”

“Aku mencintaimu!!” seru gadis itu langsung. “hingga detik ini aku masih mencintaimu… Karena aku sangat mencintaimu, rasanya benar-benar sakit. Karena aku mencintaimu aku merasa begitu hancur. Kenapa kau belum mengerti juga?”

Sraaak…

Suara itu membuat keduanya menoleh kea rah yang sama. Gadis itu ada di sana, berdiri di seberang jalan. Sedang menatap mereka berdua. Kantong-kantong belanjaannya berserakan di tanah. Dia perlahan melangkah mundur, lalu berbalik dan berlari pergi.

“YOON RA!!!”

Teriakan Kyuhyun seperti sebuah belati yang menyayat hatinya. Laki-laki itu langsung berlari bahkan tanpa mengucapkan apapun. Meninggalkan gadis yang beberapa saat lalu dimintanya untuk kembali.

Kim Yoon Hye terdiam. Tubuhnya terasa kaku. Ia merasakan lelehan air matanya yang hangat meluncur melewati pipinya.

“Jika saat itu kau tau aku melihatmu berciuman dengannya, apa kau akan bersikap seperti sekarang? Apa kau akan meninggalkannya dan berlari padaku?” bisiknya seorang diri dengan mata masih menatap sosok laki-laki yang semakin mengecil itu. “atau mungkin saja tidak. Saat itu ataupun saat ini, kau tetap tidak akan bisa meninggalkannya…”

Gadis itu memejamkan matanya sejenak kemudian melangkah pergi. “Sekarang kau sudah meniup serpihan hatiku, Kyuhyun ah… Angin sudah membawanya hingga tak bersisa dan tidak akan pernah kau temukan lagi meski kau cari seumur hidupmu… Mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama…”

BRUUUK

“Aiiish…”

Gadis itu terhuyung saat sesuatu menghantam keras tubuhnya. Kepalanya terasa pusing. Bahkan pipinya masih basah oleh air mata. Ia melihat seorang namja memakai jas putih di hadapannya sedang kesakitan memegang lengan tangannya.

“Sajangnim!!” teriakan itu terdengar keras entah dari arah mana.

“Aiiish…” namja itu meruntuk lagi. Tiba-tiba ia menggenggam tangan Kim Yoon Hye, menariknya lalu berlari pergi.

Gadis itu bahkan tidak bisa bicara apapun karena kejadian ini sangat cepat untuknya. Pikirannya masih kacau dan tiba-tiba saja laki-laki ini muncul lalu membawanya berlari entah kemana. Yoon Hye menunduk memperhatikan sepatu yang dipakainya. Sepatu yang akan membawanya pada hal yang indah. Itu benar bukan…? Karena takdir memiliki alur untuk kisah setiap tokohnya masing-masing. Sesederhana itu…