Tags

, ,

i do

Sebagian orang mengatakan bahwa terkadang ada pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. Namun sebenarnya pertanyaan itu lahir dari sebuah jawaban. Hanya saja terkadang jawaban itu hanya bisa dijawab oleh hati. Bukan kata-kata dalam ribuan kamus manusia…

————————-

“Aku bersedia…”

Kalimat sederhana itu menjadi pengikat antara seorang laki-laki dan seorang gadis di hadapan tuhan. Si laki-laki mengambil cincin lalu memasangkannya ke jari manis si gadis. Layaknya pernikahan umum biasanya, si laki-laki kemudian mencium bibir si gadis dan mereka resmi menjadi pasangan suami istri.

.

.

Sehari sebelum pernikahan…

“Eomma, neo michiseo?? Itu hanya ramalan, ramalaaan!!!” teriak laki-laki itu frustasi.

“Itu bukan ramalan biasa Cho Kyuhyun! Park Seongsaengnim tidak pernah salah. Kau harus menikah atau keluarga kita akan terkena musibah!”

“Tapi kenapa harus besok? Yaa, tidak ada pernikahan yang mendadak seperti ini! lagipula aku masih berumur dua puluh lima tahun! Bagaimana bisa aku menyuruh Lee Hyo Ra yang ada di Paris untuk pulang sekarang juga karena harus menikah hanya karena ramalan konyol itu_”

PLAK

Appo!!”

“YAA! Apa kau tau kecelakaan yang menimpamu saat kau kecil? Kau tercebur ke laut saat pergi wisata dengan teman-temanmu? Sebelumnya Park Seongsaengnim sudah meramalkannya agar kau menjauh dari air, tapi kau tidak memperdulikannya. Beruntung kau bisa ditemukan dan masih hidup hingga sekarang! Aigoo… Aku tidak tau lagi jika saat itu kau ditelan ikan hiu dan tidak pernah kembali.”

“Tapi tetap saja, kenapa harus besok?” protes laki-laki itu.

“Dia mengatakan tepat sebelum bulan purnama, dan itu besok. Kau mau bilang apa lagi? Eomma tidak mau tau, besok kau harus menikah!”

“Tapi Hyo Ra tidak mungkin langsung tiba di sini_”

“Pilihanmu hanya dua!” potong wanita cantik itu, “gadis itu ada di sini untuk menikah besok, atau kau putuskan dia dan menikah dengan pilihan eomma.”

“Mwo?? Eomma… Ini benar-benar gila!!”

“Kenapa masih membuang waktu? Cepat hubungi kekasihmu itu!! Palli!!”

Dengan wajah frustasi, Cho Kyuhyun merogoh ponsel dalam jasnya lalu menekan tombol beberapa kali sebelum menempelkan benda itu ketelinganya.

“Oh Hyo Ra ya… Ini aku. Begini… Memang sedikit sulit menjelaskannya padamu tapi, apa bisa kau kembali ke Korea sekarang juga? …Menurut eommaku ini sangat penting. Kau tau ada seorang guru yang selalu meramalkan nasib keluarga kami dan menurut dia, kita… kita harus menikah besok…. Aku tau, aku tau ini sangat konyol, tapi… Yeoboseo? Hyo Ra ya?” laki-laki itu mengerutkan keningnya saat merasakan suasana sunyi di seberang, “YAA, Lee Hyo Ra??!” teriaknya keras begitu tau sambungan telepon itu diputus.

“Dia tidak mau berarti kita gunakan pilihan kedua!”

Mwo?” Kyuhyun membelak, “eomma akan menikahkanku dengan gadis lain? Eomma… Ayolah… Aku bahkan tidak mencintainya!”

“Itu urusanmu, apapun yang terjadi kau harus menikah besok.”

“Aaarrgh!!! Lebih baik kau membunuhku!!” teriak Kyuhyun kesal.

****

Kyuhyun melirik gadis yang duduk di sebelahnya itu diam-diam. Dia cantik, tentu saja tidak lebih cantik dari kekasihnya, Lee Hyo Ra. Tapi gadis itu sangat pendiam. Tipe-tipe penurut. Ia bahkan yakin gadis itu tidak menolak saat dijodohkan dengannya. Haah… Pasti akan merepotkan hidup bersamanya. Kyuhyun menenangkan dirinya sendiri dengan pikiran ia akan bercerai dengan gadis itu. Setelah ini ia memang akan memikirkan caranya untuk bercerai. Semoga saja Lee Hyo Ra hanya menganggap hal ini hanya bercandaan dan tidak kembali ke Korea sebelum ia bercerai dengan gadis yang beberapa saat lalu resmi menjadi istrinya.

Bergulat dengan pikirannya sendiri, tidak terasa mereka sudah sampai di depan sebuah rumah sederhana dengan pagar yang dililiti bunga. Sangat cantik. Tapi keindahan dalam bentuk apapun, tidak bisa mempengaruhi suasana hati Kyuhyun saat ini. ia membiarkan para orang tua menyeret paksa tubuhnya masuk ke dalam rumah itu.

“ini adalah rumah baru kalian. Hiduplah dengan bahagia disini.”

“Dan cepat berikan appa cucu.”

“Baiklah, kami pergi dulu. Nikmati malam kalian!”

“Kyuhyun ah, ingat jangan terlalu lelah, arachi?!”

JjaEomma akan mengunjungi kalian minggu depan.”

“Kami pergi!!”

Keempat orang tua itu saling melambaikan tangan dengan senyum lebar. Sementara sepasang pengantinya hanya diam saja di depan pintu sambil tersenyum malas. Bahkan untuk membalas lambaian tangan mereka saja keduanya terlalu malas.

Gadis itu menghembuskan nafas panjang setelah mobil-mobil yang dinaiki para orang tua itu menghilang dari jalan. Tanpa bicara apapun, gadis itu berbalik, masuk ke dalam rumah sambil menyeret gaunnya. Kyuhyun mendesah pelan lalu mengikutinya masuk ke dalam rumah.

“Ya-Yaa! Apa yang kau lakukan?” mata Kyuhyun membelak saat melihat gadis itu mencoba melepas gaunnya.

Mwo?” Yoon Hye mengernyit pelan, heran dengan pertanyaan laki-laki itu, “tentu saja melepas gaun sialan ini! Kalau kau sedang menganggur bantu aku membuka resletingnya!”

Kening Kyuhyun berkerut. Oke, ia tarik kata-katanya tentang tipe-tipe penurut tadi. Kali ini gadis itu sama sekali berbeda dengan yang tadi.

“Yaa apa yang kau pikirkan? Palli!!” teriak gadis itu.

Cho Kyuhyun berdecak lalu menghampiri gadis itu, membantu menarik resletingnya. Gadis itu langsung menanggalkan gaun putih itu dilantai membuat Kyuhyun sedikit terkejut karena tampaknya gadis itu tidak merasa malu karena hanya menggunakan tanktop dan celana pendek putih.

“Jangan kau pikir aku akan seperti gadis tertindas yang ada di dalam drama-drama. Selalu menangis karena suaminya tidak mencintainya, na jeongmal shiero! Kita menikah bukan berarti kita pasangan. Kamar tamu jadi milikku. Aku akan tidur di sana. Tapi barang-barangku akan tetap di kamarmu, siapa tau eomma akan berkunjung kemari nanti.”

Wow. Alis Kyuhyun terangkat, “Cantik, manis, pendiam, dan pemalu. Kurasa aku menikah dengan gadis yang salah.”

Yoon Hye mendengus sambil tertawa pelan, “Kau memang salah menikah!”

“Lalu kenapa kau mau?”

“Karena aku tidak menyukaimu,” saut gadis itu enteng sambil menyambar selembar handuk pada gantungan stainless di dekat pintu kamar mandi, “juga karena hidupku membosankan.”

Kyuhyun memijat pelipisnya pelan. Oh, oh… Ini tidak semudah yang dipikirkannya.

****

Gadis itu termenung di depan meja tulis. Tangannya memegang sebuah buku agenda berwarna biru yang terdapat sebuah foto di dalamnya. Foto dua orang gadis yang memakai seragam senior highschool yang sama. Ia masih mengingat jelas kejadian itu. Kejadian yang membuatnya membenci laki-laki yang menjadi suaminya sekarang. Cho Kyuhyun, suaminya juga cinta pertamanya.

= Autumn, seven years ago =

Gadis itu tersenyum sambil berjalan pelan. Matanya menatap wallpaper ponselnya. Kemarin ia berhasil memotret laki-laki itu secara diam-diam di ruang music. Ia menyukai laki-laki itu sejak kelas sepuluh. Tapi hingga ia duduk di kelas sebelas, Kim Yoon Hye tidak pernah mengatakannya. Tidak ada satupun yang tau termasuk lee rae ki, sahabatnya.

Bruuuk…

Gadis itu mengerjap kaget saat ia tidak sengaja menabrak seseorang hingga ponselnya jatuh. Ah… Cho Kyuhyun selalu saja bisa mengalihkan pikirannya.

“Ah, mianhaeyo…” gadis itu membungkukan tubuhnya untuk meminta maaf sementara orang di depannya sedang memungut ponselnya yang terjatuh.

Yaa, neo joahae?”

Kim Yoon Hye tersentak mendengarnya. Ia mengangkat wajah dan mendapati Cho Kyuhyun sedang menatapnya.

“Kau memakai fotoku sebagai wallpaper ponselmu,” lanjut Kyuhyun sambil menunjukkan wallpaper itu, “Apa kau sering mencuri fotoku diam-diam? Aah… Aku tidak ingin mengatakan hal ini tapi hentikan hal itu. Sangat mengganggu, kau tau?! Dilihat dari wajahmu, sepertinya kau gadis yang pendiam. Hidupmu pasti membosankan, bukan? Jangan berharap karena gadis membosankan sepertimu bukan tipeku!”

Cho Kyuhyun menyerahkan ponsel itu kembali lalu melangkah pergi. Meninggalkan gadis yang masih tercenung ditempatnya.

Apa salah jika hati mencintai seseorang…? Dimana letak salahnya?

.

.

“Yoon ah!!” gadis berambut kepang dua itu datang dengan wajah basah. Dia langsung menarik Kim Yoon Hye keluar dari kelas dan mengajaknya ke belakang sekolah.

“Rae ya, waegeure?”

Gadis itu terisak, “Aku benar-benar menyukainya… Eotheokeh?”

Nuguya?”

“Aku sudah mengatakan kalau aku menyukainya, tapi dia menolakku. Bahkan kata-katanya sangat kasar. Cho Kyuhyun pabo!!”

Deg…

Yoon Hye tercenung. Bukan hanya ia yang menyukai laki-laki itu. Bahkan sahabatnya pun sama. Ia tidak pernah tau bahwa mereka menyukai laki-laki yang sama. Sebenarnya hal itu tidak mustahil mengingat Cho Kyuhyun memang siswa populer.

“Aku benar-benar menyukainya, Yoon ah… Aku tidak bisa hidup tanpanya. Aku ingin mati saja rasanya!”

“Yaa, masih banyak laki-laki lain yang lebih tampan. Jangan putus asa seperti ini…”

“Tapi aku hanya ingin dia! Aku akan bicara lagi dengannya!!”

.

.

“Aku tidak tau apa yang terjadi padanya. Kami menemukannya di kamar mandi pagi ini. Dia… Dia mengiris lengannya sendiri…”

Yoon Hye terdiam mendengar kata Lee Ajhuma yang masih terisak itu. Ia masih tidak percaya sahabatnya yang selalu ceria itu sekarang pergi. Bunuh diri hanya karena ditolak oleh laki-laki yang bahkan tidak menganggapnya ada. Gadis itu menggenggam setangkai mawar putih lalu meletakkannya di meja panjang, di depan foto hitam putih gadis itu. Air matanya jatuh meluncur melewati pipinya.

Ada apa dengan cinta…? Apakah mencintai membuat hati menjadi sakit…?

****

Pagi yang cerah. Setidaknya begitulah bagi orang-orang yang merasa harinya menyenangkan saat ini. gadis itu membuka pintu kamar sambil menguap. Ia sedang menggulung rambutnya ke atas lalu menjepitnya dengan jepit rambut berwarna hitam.

“Istri macam apa yang bangun sesiang ini?!” desis Kyuhyun sambil melahap potongan pizzanya saat gadis itu berjalan menuju pantry.

“Istri?” saut gadis itu, menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Kyuhyun heran, “Yaa, Cho Kyuhyun, apa kau berharap aku menjadi istrimu?” Yoon Hye tertawa pelan, “maaf kau bukan tipe suami yang kuinginkan!”

Mwo?”

“Urusi saja hidupmu, sudah kubilang kita bukan pasangan. Jadi jangan berharap aku akan memperdulikanmu!” kata Yoon Hye sambil membuka lemari es lalu mengambil sebotol air mineral dan meneguknya.

“Yaa, bagaimana kalau kita bercerai? Kita tidak saling suka jadi untuk apa kita harus hidup bersama?”

Shiero!” saut gadis itu tenang, “aku tidak akan pernah mau bercerai darimu. Silahkan lakukan apapun yang kau inginkan, aku tidak perduli. Tapi… dengan ikatan ini, kau akan selalu menjadi pihak yang disalahkan.”

Mwo?”

“Cho Kyuhyun benar-benar brengsek. Sudah punya istri cantik dan baik tapi dia malah selingkuh dengan wanita lain…” ucap Yoon Hye dengan nada dibuat-buat, “setidaknya hal itu yang akan dikatakan oleh orang lain. Bukankah itu menarik?”

“Yaa, neo jjinja… Apa kau tidak ingin menikah dan tinggal bersama dengan orang yang kau cintai?”

Yoon Hye tercenung, “Menikah dengan orang yang kucintai…? Hahahha…” gadis itu tertawa pahit, “aku tidak berminat untuk menjalin hubungan dengan siapapun.”

“Jadi kau sengaja membuatku susah eoh?”

“Sudah kubilang, aku tidak menyukaimu Tuan Cho!”

YAA! NEO JJINJA!!”

BLAM

Teriakan Kyuhyun teredam oleh suara bantingan pintu kamar mandi. Laki-laki itu mendecak kesal. Kalau bukan karena ramalan konyol itu, ia tidak akan seperti ini. Eommanya benar-benar gila.

.

.

“Apa kalian sedang bertengkar? Kau baru saja menikah tapi selalu melewatkan malammu ke Club setelah pulang kantor,” tanya seorang laki-laki bertubuh jakung itu sambil menyesap minumannya.

Cho Kyuhyun berdecak pelan, “Kalau bisa aku tidak ingin pulang, tapi eomma akan membunuhku jika tau. Gadis itu seperti siluman rubah yang pandai berakting. Di depan eomma dia menjadi gadis yang lemah lembut, tapi begitu hanya berdua denganku, kau akan tau seberapa liar dia.”

Laki-laki itu menaikkan sebelah alisnya, “Jeongmal? Kedengarannya menarik.”

“Menarik? Yaa, Shim Changmin, neo michiseo?”

“Kau tau, aku menyukai sesuatu yang liar. Itu terlihat sexy. Yaa, kau keberatan jika aku bertemu dengannya?”

“Kau penasaran dengannya?” Kyuhyun tertawa, “dia tipe gadis yang sangat menyebalkan.”

“Kau membuatku semakin penasaran.”

“Baiklah, ambil saja dia kalau kau mau. Aku juga ingin melihat, sampai dimana Kim Yoon Hye bisa bertahan dengan prinsipnya. Tidak ingin menjalin hubungan? Cih, saat dia jatuh cinta, aku tidak akan menceraikannya meskipun dia memohon dengan air mata.”

Shim Changmin mengernyit pelan, “Yaa, kalau kami saling mencintai dan kau tidak mau menceraikannya Lalu bagaimana denganku?”

Laki-laki itu menatap Changmin aneh, “Kau serius ingin mendekatinya?”

“Siapa tau dia memang takdirku,” saut Changmin santai, “kalau sudah begitu apa boleh buat, aku juga akan mencari cara agar kau bisa menceraikannya,” laki-laki itu menyeringai pelan.

Kyuhyun mendengus pelan, “Kita lihat saja nanti, aku yakin dia bukan tipemu!”

“Kau bilang tadi namanya Kim Yoon Hye… Bukankah dia satu sekolah dengan kita dulu?”

Mwo?”

“Benar, aku ingat sekarang. Kim Yoon Hye… Dia teman Lee Rae Ki. Sepupu Lee Hyuk Jae yang meninggal karena bunuh diri.”

“Kau mengenalnya?”

Ani, tapi dulu aku penarasan dengannya. Dia berbeda dengan gadis lainnya. Aku tidak sempat berkenalan dengannya karena setelah kematian Lee Rae Ki, gadis itu pindah sekolah. Yaa, Kyuhyun ah… Berkat kau aku jadi punya kesempatan untuk bertemu lagi dengannya. Gomawo chinguya!”

Kyuhyun mendengus pelan melihat Changmin tersenyum lebar. Mungkin ia tidak menyukai fakta bahwa masih ada yang menyukai gadis itu. Atau… Mungkin juga karena hal lainnya. Dalam hati ia menyesali kata-katanya tadi yang memperbolehkan Changmin bertemu dengan gadis itu.

****

Bel pintu berbunyi saat Yoon Hye sedang mencuci piring. Gadis itu cepat-cepat mengelap tangannya lalu berjalan untuk membukakan pintu. Ia sedikit heran mendapati seorang laki-laki bertubuh jakung ada di depan pintu rumahnya. Tadi Yoon Hye pikir itu adalah Eomma Kyuhyun, tapi ternyata bukan.

Anyeong haseo,” sapa laki-laki itu membuat Yoon Hye otomatis membalas sapaannya, “Aku Shim Changmin, teman Kyuhyun.”

“Oh Jeongmal? Cho Kyuhyun tidak ada di rumah saat ini. Dia belum pulang kerja.”

“Aku tau, aku sudah meneleponnya tadi. Dia masih ada di perjalanan sekarang. Lagipula aku kemari untuk bertemu denganmu bukan dengannya.”

“Denganku?”

“Mm,” laki-laki itu mengangguk sambil tersenyum, “karena aku penasaran dengan Kim Yoon Hye. Kyuhyun bilang Kim Yoon Hye adalah gadis menyebalkan jadi aku ingin melihatnya sendiri.”

Sontak Yoon Hye tertawa mendengarnya, “Masuklah…” gadis itu membuka pintu lebih lebar agar Changmin bisa masuk ke dalam.

“Duduklah, kau ingin minum apa? Kopi? Teh? Softdrink?”

softdrink tidak masalah.”

Yoon Hye berjalan menuju lemari es lalu mengambil beberapa kaleng softdrink dan memberikannya pada Changmin.

“Kau tau? Kita satu sekolah dulu saat Senior Highschool!”

Jeongmal?”

“Mm, aku sekelas dengan Lee Hyuk Jae. Kau mengenalnya bukan? Sepupu Lee Rae Ki, temanmu.”

“Ah… begitu. Maaf, dulu aku tidak terlalu memperhatikan sekitar jadi sedikit sekali yang kukenal.”

“Aku tau. Sebenarnya dari dulu aku sudah penasaran denganmu.”

“Benarkah?”

“Mm, aaah… Kenapa kita tidak bertemu lebih dulu saja?”

Yoon Hye tertawa kecil mendengarnya. Tiba-tiba pintu rumah terbuka dan Cho Kyuhyun muncul dari baliknya.

“Oh kau sudah sampai Kyuhyun ah?” sapa Changmin.

Kyuhyun hanya melambaikan tangan lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ia mengambil sekaleng softdrink di atas meja lalu membuka dan meneguknya.

“Ah, aku baru ingat. Bukankah kau suka membaca novel?” tanya Changmin tiba-tiba.

“Bagaimana kau tau?” seru Yoon Hye heran.

“Aku sering melihatmu duduk di bangku taman belakang sekolah sambil membaca novel. Aku sering berfikir, apa kau tidak lelah membaca buku-buku yang cukup tebal seperti itu?”

Yoon Hye tertawa, “Tergantung isinya. Kalau itu buku pelajaran, mungkin melihatnya saja aku malas.”

Cho Kyuhyun mengernyit pelan. Bagaimana bisa mereka akrab secepat itu? Bukankah mereka baru saja bertemu? Bahkan sekarang keduanya tidak menganggapnya sama sekali.

“Kebetulan sekali, aku punya sepupu yang memiliki toko buku. Kau mau ke sana?”

“Apa aku bisa mendapatkan discount?”

“Tentu saja,” Changmin tertawa, “akan kumintakan discount khusus untukmu!”

Jeongmal? Bisa kita berangkat sekarang?” tanya gadis itu dengan mata berbinar.

“Tentu.”

“Oke tunggu sebentar, aku ganti baju dulu!” kata Yoon Hye sambil beranjak dari tempat duduknya lalu cepat-cepat masuk ke dalam kamar.

TAAK

Kyuhyun meletakkan kaleng sodanya di atas meja dengan kasar. Sedikit tidak menyukai fakta bahwa gadis itu bisa bersikap manis jika bersama orang lain. Ia beranjak dari duduknya tanpa mengatakan apapun lalu melangkah menuju kamar. Membuat laki-laki lainnya tersenyum tipis.

Gadis itu sedang memilih-milih baju di dalam lemari saat Kyuhyun masuk ke dalam kamar. Laki-laki itu membuka jas lalu menarik dasinya supaya lebih longgar.

“Kau benar-benar akan pergi?” tanya Kyuhyun.

“Kesempatan tidak datang dua kali. Siapa tau aku mendapatkan buku baru untuk koleksiku.” jawab Yoon Hye tanpa menatap laki-laki itu. Matanya sibuk memilah baju yang akan dipakainya.

Cho Kyuhyun mendengus pelan. Laki-laki itu berjalan menuju kamar mandi lalu menutup pintunya sedikit keras. “Apanya yang tidak ingin menjalin hubungan?” gerutunya pelan.

.

.

Suasana terasa begitu sunyi. Jalanan terlihat legang. Berbeda jika dibandingkan dengan distrik-distrik pusat perbelanjaan seperti di daerah Myeondong atau Apujadong. Gadis itu masih duduk di bangku halte sejak beberapa jam yang lalu. Ia membiarkan bus lewat begitu saja. tadi ia memang pergi dengan Shim Changmin untuk membeli beberapa buku. Tapi Kim Yoon Hye menolak saat laki-laki itu ingin mengantar pulang. Tiba-tiba saja ia merindukan temannya. Lee Rae Ki. Jadi gadis itu pergi ke makam Lee Rae Ki dulu sebelum dirinya terdampar di bangku halte hingga saat ini.

Sudah dua minggu lebih ia menjadi istri Cho Kyuhyun. Apakah keputusannya ini benar? Yoon Hye sendiri masih belum yakin. Ia ingin membuat laki-laki itu penasaran padanya. Ingin membuktikan bahwa gadis yang membosankan sepertinya bisa menjatuhkan Cho Kyuhyun. Tapi sepertinya rasa yang dimilikinya lebih besar daripada egonya. Karena itulah Yoon Hye membenci laki-laki itu.

“Kenapa aku bisa mencintaimu, Kyuhyun ah…?”

Sebagian orang mengatakan bahwa terkadang ada pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. Namun sebenarnya pertanyaan itu lahir dari sebuah jawaban. Hanya saja terkadang jawaban itu hanya bisa dijawab oleh hati. Bukan kata-kata dalam ribuan kamus manusia…

.

.

Kyuhyun melirik jam digital di atas lemari es. Hampir tengah malam tapi gadis itu belum pulang. Laki-laki itu membuka lemari es lalu mendesah pelan saat melihat berbagai macam bahan makanan mentah yang ada di dalamnya. Untuk urusan dapur, keahliannya jauh dibawah rata-rata. Melihat ada banyak bahan makanan, Kyuhyun mengira gadis itu pasti pintar memasak. Sayangnya dia tidak akan pernah sudi memasak untuk Kyuhyun dan sialnya laki-laki itu ingin sekali tau rasanya. Akhirnya Kyuhyun membuka lemari pantry satu per satu berharap menemukan ramen –satu-satunya makanan yang bisa dimasaknya.

Jam sudah menunjukkan hampir pukul satu malam saat Kyuhyun selesai makan ramennya, yang kebetulan ia temukan di laci pantry paling bawah. Thanks to God ia tidak kelaparan malam ini. Laki-laki itu mengernyit pelan lalu mendengus. Ternyata gadis yang tampak baik belum tentu baik-baik. Ia harus bicara serius dengan eommanya nanti. Mana ada istri yang pergi bersama laki-laki lain hingga lewat tengah malam seperti ini?

‘Istri? Yaa, Cho Kyuhyun, apa kau berharap aku menjadi istrimu?’

Cho Kyuhyun tersentak oleh suara gadis yang tiba-tiba diingatnya itu. Ia menggeleng-geleng mencoba mengenyahkan pikirannya yang tidak waras. “Siapa peduli dengannya?!” dengus laki-laki itu lalu membuka lemari es dan mengambil sebotol air mineral dingin. Langsung diteguknya air itu dari botolnya. Namun seketika ia berhenti minum. Matanya menatap bibir botol itu. Hei, bukankah Kim Yoon Hye juga selalu minum langsung dari botolnya? Apa itu berarti mereka sedang ciuman tidak langsung?

Laki-laki itu menggeleng-gelengkan kepalanya lagi. Sepertinya otaknya butuh istirahat. Ia mengembalikan botol air mineral itu kembali ke dalam lemari es lalu cepat-cepat melangkah menuju kamar.

Ponsel kyuhyun bordering saat ia baru saja masuk kamar. Cepat-cepat diambilnya benda itu dan terkejut melihat siapa yang meneleponnya. Ia baru sadar bahwa beberapa akhir ini dirinya lupa dengan keberadaan gadis itu.

“Oh, Hyo Ra ya… MWO?? Kau ada di Korea???”

To be continue…