Tags

, , , ,

WE ARE…

Author- Giana Romanova

we are

Cast:

– Kim Yoon Hye

-Cho Kyuhyun

-Lee Donghae

-Lee Hyukjae

.

Note : FF ini punya sejarah yang panjang. Dimulai dari Shella Rizal Cassiopeia yang membuat remake fanfic yaoi dari fanfic straight dengan judul yang sama, Leaf, Tree, And Wind karya Assri’Elf Luph. Lalu dilanjut dengan Vea yang terinspirasi dari fanfic itu akhirnya menulis Trilogi Autumn dan Another Life Series. Dari karya-karya itulah fanfic ini kemudian hadir dalam bentuk yaoi dengan judul sama, yang akhirnya vea minta untuk buat versi straightnya. Enjoy ^^

.

.

Daun terbang…

Karena pohon tidak mempertahankannya,

Karena angin menerbangkannya,

Atau karena tanah yang ingin menangkapnya ketika jatuh…

 

.

Mereka adalah ikatan yang begitu kuat. Empat serangkai yang selalu bersama dan tak terpisahkan.

Tetapi ikatan itu terkadang justru yang menjadi awal dari sebuah kehancuran.

Lee Donghae. Dia adalah pohon. Simbol sesuatu yang begitu kokoh dan menaungi serta menjaga. Donghae memang sosok yang baik pada semua orang, tetapi yang selalu mendapat perhatian spesial darinya adalah sosok yang senantiasa membuatnya merasa nyaman. Seseorang yang menjadi daun baginya.

Berbeda dengan Cho Kyuhyun. Dia lebih seperti angin yang selalu menghembuskan rasa sejuk dimanapun ia berada. Meskipun mulutnya setajam pisau tapi untuk daun, ia membuat pengecualian. Hingga seseorang yang menjadi daun baginya selalu merasa nyaman.

Tidak seperti yang lainnya. Seorang Lee Hyukjae, dia selalu teridentik dengan tanah. Sebagai sosok yang selalu memberikan tempat untuk daun bersandar. Sosok yang menghadirkan tawa dan menghapus semua sedih yang ada.

Mereka bersama meskipun banyak perbedaan yang hadir.

Dan siapakah daun yang ada di antara pohon, angin dan tanah?

.

.

.

LEE DONGHAE

 

Aku tidak pernah tahu bahwa ikatan persahabatan yang begitu erat bisa menciptakan makna lain. Kami memang begitu dekat.

Begitu banyak alasan yang memperkuat persahabatan kami. Tetapi satu kata yang selalu kutakutkan akan menghancurkan ikatan ini.

Cinta…

Dulu, aku tidak pernah sampai memikirkan hal itu. Aku dan dia adalah sahabat yang lebih dari pada dekat.

Tapi seiring berjalannya waktu. Mengapa perasaan itu berubah. Kenapa aku merasakan sakit saat melihatnya memperhatikan orang lain? Aku akan merasa marah saat melihatnya tersenyum dan tertawa karena orang lain.

Ini sudah menyimpang dari makna sebuah persahabatan.

Perlahan aku tahu apa perasaanku ini.

Suka. Aku menyukainya, sangat menyukainya sampai kurasakan jantungku akan meledak jika selalu di sampingnya.

Sayang. Aku menyayanginya lebih dari pada diriku sendiri sampai kepalaku terasa panas hanya memikirkannya jika tidak sedang bersamaku.

Ini salah. Perasaan cinta dalam sebuah persahabatan. Aku tidak bisa membayangkan jika semua sikap dan perhatian serta keidahan persahabatan kami akan hilang hanya karena cinta.

Aku sudah mencoba berkencan. Tetapi aku selalu merasa tidak pernah tertarik dengan siapapun. Aku juga tidak tertarik dengan teman-teman wanita yang sering mengirimiku hadiah.

Tapi dia berbeda, dan aku sadar jika aku hanya jatuh hati kepada sosoknya, bukan orang lain, tapi dia. Sayangnya…

Aku terlalu takut.

Takut jika persahabatan itu menjadi cinta. Saat cerita cinta itu berakhir.

‘Seorang sahabat bisa menjadi kekasih, tetapi mantan kekasih tidak akan pernah menjadi sahabat….’ Itulah yang Kyuhyun katakan padaku saat ku ceritakan apa yang kurasakan.

“Hey.. Donghae-ah. Kau melamun lagi. Waeyo?” aku menoleh ke arahnya yang selalu tersenyum lembut padaku. Hanya melihatnya tersenyum, darahku sudah berdesir hangat. Aku menggeleng dan melontarkan senyum tipis.

“Aku akan pergi ke London.” Gumanku pelan.

Aku tahu dia terkejut. Sepasang mata hitamnya melebar dan wajahnya yang berubah pucat. “Kenapa mendadak?” tanyanya begitu penuh dengan nada kekecewaan.

“Appa mendadak memberi kabar. Jadi mau tidak mau aku harus tetap pergi kesana.”

Grep

Jantungku seolah ingin meledak saat ini juga ketika tiba-tiba dia memelukku dengan begitu erat.

“Kalau kau pergi, siapa yang akan menjagaku?”

“Bukankah masih ada Kyu dan Eunhyuk?”

Dia menggeleng saat melepas pelukannya padaku. Sepasang bola matanya menatapku dalam.

“Kau salah. Yang bisa menjaga dan melindungi daun hanya pohon. Bukan angin atau tanah, Donghae-ya…”

Aku tertegun oleh ucapannya. Mungkin aku terlalu pengecut, mungkin aku juga terlalu takut. Tapi aku tidak ingin apa yang Kyuhyun katakan berubah menjadi kenyataan.

Aku membutuhkan waktu. Mengenali perasaanku sendiri. Mencari pilihan terbaik yang nanti ku ambil. Sampai saat itu tiba. Biarlah ku timbun perasaan ini.

Sampai aku siap mengubah ikatan ini. Dan menjadikan ikatan persahabatan kami menjadi sesuatu yang lebih. Sampai aku siap menerima konsekuensi apapun atas perasaanku ini. Sampai saat keberanianku tumbuh dan mengatakan padanya bahwa aku mencintainya.

Ya…

Mencintainya.

Kim Yoon Hye, daunku.

.

.

.

 

CHO KYUHYUN

 

Persahabatan dan cinta. Dua hal yang berbeda tetapi tidak bisa jauh.

Aku, Donghae, Eunhyuk dan Yoon Hye.

Aku selalu berfikir jika cinta di antara persahabatan itu akan merusak segalanya. Jadi, ketika Donghae mengatakan alasannya berubah menjadi pendiam akhir-akhir ini adalah kerena ia menyukai Yoon Hye. Aku tidak bisa menerimanya. Kami sudah lebih dari pada saudara, saat dua di antara kami saling mencintai, maka perhatian itu tidak akan sama rata lagi.

Aku takut ketika perhatiannya hanya tertuju pada satu orang. Aku takut kami akan sama-sama terluka.

Jika menghilang adalah jalan terbaik, aku tidak akan pernah menghalangi Donghae untuk menyingkir sementara dari persahabatan kami.

Dia harus berfikir arti sebuah persahabatan tanpa menodainya dengan perasaan terlarang yang di sebut ‘Cinta’.

Aku tahu sangat sulit untuk tidak menyukai seseorang seperti Yoon Hye. Karena ketika Donghae telah pergi, aku justru terombang-ambing dengan perasaan itu.

Perhatiannya, sikapnya, senyumnya, tawanya semua itu membuatku terkesima.

Lalu apa bedanya aku dan Donghae?

Kami sama-sama menyukainya.

Kami sama-sama menyayanginya.

Dan kami sama-sama mencintainya.

Aku masih tertarik menggoda gadis-gadis teman kampusku. Aku juga masih mengagumi gadis-gadis yang berpakaian seksi. Tapi dia berbeda, sosok itu tidak memerlukan pakaian yang seksi agar terlihat menarik. Dia tidak membutuhkan make up untuk terlihat menawan.

Dan aku rasa, aku telah terjatuh ke dalam pesonanya.

Perasaanku.

Bisakah ini ku pendam jauh-jauh saja di dalam lubuk hatiku? Aku tidak ingin ada yang terluka dalam persahabatan kami. Aku tidak ingin menjadi perusak segalanya. Bagaimana jika Donghae mengetahui perasaanku ini. Semua pasti akan hancur dalam sekejap.

Aku tahu, Yoon Hye menyadarinya. Sikapku yang berubah padanya serta keadaan kami yang sering merasa canggung saat bersama. Sampai akhirnya aku mengambil sebuah keputusan besar.

Siang itu dia menghampiriku seperti biasa dengan kotak bekalnya yang selalu di buatnya untuk kami berempat. Yang saat ini harus berkurang karena Donghae tidak bersama kami lagi.

“Kyuhyun-ah. Kenapa kau tidak duduk dengan Eunhyuk saja? Aku sudah membuatkan makanan kesukaanmu dan Eunhyuk. Ah, sekarang jumlah makanan yang harus ku masak berkurang. Semoga Donghae cepat pulang dan kita bisa berkumpul kembali.” Ia berujar sambil membuka kotak bekal makanan di hadapanku.

“Yoon-ah… Kurasa besok kau tidak perlu membuatkan bekal lagi.”

“Wa-waeyo? Apa kau tidak masuk, besok?”

“ Ani… bukan begitu sebenarnya. Aku…”

“Kyuhyun oppa!! Eoh.. Yoon Hye ssi?”

Aku melihatnya membuka mulut tanpa suara saat melihat sosok gadis yang tiba-tiba menghampiri kami. Lalu dia tersenyum dan menutup kembali kotak bekal yang sempat di bukanya.

“Ah. Rupanya Hyorin-ah. Arraseo. Kyuhyun-ah.. aku ke tempat Eunhyuk dulu. Bye…”

Aku tertegun melihatnya pergi. Tapi aku yakin Yoon Hye pasti mengira jika saat ini aku sedang berkencan dengan Jung Hyorin dan dia tidak ingin mengganggu kami. Aku sangat yakin kalau sekarang hatiku benar-benar berdenyut saat melihatnya seperti itu.

Dia yang biasanya akan mendelikkan matanya jika aku mengganggunya. Dia yang akan tertawa ketika aku membuat ulah.

Mungkin inilah yang terbaik. Untuk mempertahankan persahabatan kami. Sebuah cara agar aku tidak terperosok terlalu jauh pada perasaan terlarang ini.

Maaf…

Kim Yoon Hye, daunku.

.

.

.

LEE HYUKJAE

 

“Hyukieee!!”

See..

Dia selalu seperti ini. Datang dan menyandarkan kepalanya di bahuku. Terkadang aku heran dia terlihat dewasa tapi dia selalu bersikap manja kepadaku.

Tapi aku senang. Menjadi seseorang yang bisa di sandarinya. Sebagai sahabat yang di butuhkannya.

Karena aku juga membutuhkannya.

Tapi akhir-akhir ini ia berubah. Lebih pendiam dan sering melamun. Tidak berbeda dengan Donghae beberapa waktu lalu sebelum pergi.

“Hyukie-ah. Apakah tanah akan selamanya memeluk daun setelah jatuh dari pohon dan di terbangkan angin?”

Aku mengerutkan kening. Menutup komik yang kupegang. Ku alihkan semua perhatian pada sosok di sampingku. Tapi belum sempat kujawab apa yang diucapkannya, ia kembali bicara.

“Apakah tanah bisa mengacuhkan daun yang hendak jatuh kepelukannya? Sehingga alih-alih memeluk tanah, daun jatuh dan tersangkut di tempat lain? Apakah ada yang seperti itu?”

“Waegureyo? Kau berfikir aku akan mengacuhkanmu begitu?”

Dia bangkit dari bahuku dan menatapku sambil tersenyum. Lalu ia menggelengkan kepalanya. “Aniya. Tidak mungkin seperti itu. Jja, hari ini kau mendapatkan dua jatah sekaligus. Cho Kyuhyun sedang bersama kekasih barunya.”

Aku terkejut mendengar itu. “Mwo? Kyuhyun berkencan dan menolak bekal yang kau buatkan? Ani bukankah dia, maksudku kita. Aku, Donghae dan Kyuhyun sudah mengucapkan janji bahwa…”

“Ayo buka mulutmu.” Ucapanku terputus begitu saja. Melihatnya mengulurkan suapan padaku, hal itu tidak akan pernah kutolak. Senyumnya saat jerih payahnya tidak di abaikan itu adalah hal yang terindah.

Ku pikir semuanya baik-baik saja.

Tetapi semakin hari aku menyadari perubahan. Perubahan pada diriku sendiri. Ketika apa yang di bicarakannya dan di katakannya membuatku muak.

“Hyukie-ah… kapan Donghae pulang? Aku merindukannya.”

“Hyukie-ah… aku rindu ucapan sadis Kyuhyun.”

“Hyukie-ah, aku merindukan waktu-waktu bersama mereka.”

Aku tidak tahu perasaan apa ini.

Saat ia seperti itu. Aku merasa marah dan kecewa. Apakah selama ini hanya ada mereka berdua. Tidakkah dia melihat bahwa akulah tempatnya bersandar? Akulah yang paling selalu ada saat dia membutuhkan seseorang.

‘Kami. Lee Donghae, Cho Kyuhyun, Lee Hyukjae dan Kim Yoon Hye. Berjanji tidak akan pernah saling menyakiti apalagi mangacuhkan satu sama lain. Sampai kapanpun. Meskipun ada orang lain di antara kami. Tetap satu. Selamanya.’

 

Janji tinggallah janji. Karena pada akhirnya aku bukalah tanah yang sebenarnya. Aku tetaplah manusia yang selalu lalai.

Aku hanya ingin dia mengakui keberadaanku sebagai sahabatnya juga. Tapi perasaan lain yang menyusup itu membuatku menginginkan lebih. Aku ingin tahu apa yang dirasakannya jika aku mengacuhkannya, jika aku tidak lagi bisa di sandarinya.

Seperti inikah?

Sesuatu yang dinamakan cinta?

Keegoisan mengalahkan segalanya. Aku bahkan tidak sadar ketika dengan sengaja selalu menghindarinya dan menolaknya.

Aku melihatnya tertegun di depan kelasku saat makan siang dengan kotak bekal dalam pelukannya. Sudah lebih dari tiga hari aku menghindarinya. Menyibukkan diriku dengan kegiatan kampus dan yang lainnya.

Aku ingin dia menyadari bahwa aku juga akan menjadi orang yang akan dirindukannya.

Orang yang menjadi sandarannya.

Kim Yoon Hye, daunku.

.

.

.

“Kembalilah ke Soul. Tubuhmu di sini, tetapi pikiranmu selalu melayang kesana. Bukankah pesta pernikahan Appamu dan Eommaku sudah selesai tiga hari yang lalu.”

Sepasang mata teduh Lee Donghae mengerjap. Di tatapnya sosok gadis berhasel gelap yang telah resmi menjadi saudara tirinya itu dengan penuh tanya.

“Yaa.. Park Young Eun. Apakah mencintai sahabat sendiri bisa menghancurkan segalanya?” tanyanya pada gadis bersurai panjang itu.

“Tergantung kau menyikapinya.”

Mengerutkan alisnya, Donghae menatap tidak mengerti adik tirinya itu. “Maksudmu?”

“Jangan terlalu mengacu pada esensi sebuah kalimat yang bilang jika sahabat bisa menjadi kekasih, tapi mantan kekasih tidak bisa menjadi sahabat. Itu semua tergantung pada dirimu sendiri. Bukankah dalam cinta semuanya ada. Konsekuensi selalu ada, tapi bukankah itu yang selalu menjadi pilihan manusia.”

Young Eun menarik nafasnya sebelum melanjutkan. “Kau tidak akan pernah tahu jika tidak mencoba. Dan penyesalan terdalam itu adalah saat kau sadar kau telah menyerah sebelum mencoba.”

Mengembangkan senyumnya, Young Eun menepuk bahu saudaranya itu. “Cobalah. Kau akan tahu jawabannya. Apakah cinta bisa menghancurkan persahabatan atau tidak.”

Donghae menarik Young Eun dan memeluk gadis itu. “Terimakasih. Aku pasti akan mencobanya. Dan aku tahu dalam cinta ada semuanya. Jaga Eomma dan Appa.”

Young Eun mengangguk balas memeluk sosok saudara barunya itu, menyalurkan semangat untuk namja yang sedang bimbang itu.

.

.

.

Jung Hyorin berdecak melihat teman satu jurusan dengannya itu lagi-lagi hanya mengaduk-aduk makanan pesanannya.

“Jadi empat serangkai itu sudah bubar?” Hyorin mencoba membuka suara.

“N-nde? Apa maksudmu? Siapa bilang kami sudah bubar. Tidak ada persahabatan yang bubar.”

Sekali lagi gadis bersurai sebahu itu mendesah lelah dan menggelengkan kepala. “Oppa. Akhir-akhir ini aku sering melihat Yoon Hye sendirian duduk di bawah pohon maple di belakang kampus. Bukankah dulu kalian berempat yang selalu berada di sana? Sehingga teman-teman kampus selalu iri melihat kebersamaan kalian.”

“Yoon Hye duduk sendirian? Apa Eunhyuk tidak bersamanya?”

Hyorin menggeleng. “Apa oppa memiliki perasaan selain sahabat pada Yoon Hye?”

Kyuhyun tersentak mendengar pertanyaan itu. Ia menelan salivanya dan menatap gadis di sampingnya. “Kenapa kau berfikir seperti itu?”

“Aku hanya menduga. Dari caramu menatapnya, sikapmu saat berada di sekelilingnya. Dan yang paling jelas adalah karena kau mulai menjauhinya.” Ucapan Hyorin membuat Kyuhyun terkesiap. Namja itu menundukkan kepalanya dan mendorong piring spagety di hadapannya. Ia menghela nafasnya.

“Ini salah. Perasaan yang sangat salah dan tidak seharusnya kumiliki Hyorin-ah. Tidak seharusnya aku mencintai sahabatku sendiri. Cinta yang salah dan pada orang yang salah.” Gumannya.

Jung Hyorin menggeleng. Diraihnya tengan Kyuhyun di atas meja. Hingga namja itu mengangkat wajahnya. “Kau tahu. Cinta itu tiba-tiba muncul. Itu perasaan yang mutlak berada di suatu tempat terdalam hati manusia. Satu hal lagi. Cinta itu tidak memilih, tetapi datang dari hati. Percayalah, tidak ada cinta yang salah dan datang pada orang yang salah. Semua itu datang dari hatimu.”

“Hyorin-ah…”

“Aku kasihan melihat Yoon Hye setiap hari melamun sendirian. Aku tidak tahu kenapa Hyukjae oppa juga tidak bersamanya. Tapi dengan menghindarinya, bukankah itu berarti kau menyakiti sahabatmu sendiri?”

Perkataan Hyorin benar-benar menusuknya.

“Baiklah, sudah cukup aku bertindak bodoh. Aku akan menemui Yoon Hye sekarang.”

Gadis itu tersenyum dan mengangguk. Sepasang turquose miliknya menatap kepergian Cho Kyuhyun sembari menghela nafas.

.

.

.

Cho Kyuhyun menatap marah sosok yang sedang tiduran di atap gedung seni universitasnya. Jadi ini yang dilakukan Eunhyuk saat istirahan siang? Bukannya menemani Yoon Hye, namja itu justru tiduran dan mengacuhkan sosok yang seharusnya di jaganya.

Set

Kyuhyun menepis kasar buku yang terbuka menutupi wajah Eunhyuk hingga terjatuh di lantai atap.

“Yak. Lee Hyukjae! Apa yang kau lakukan disini eoh? Kau membiarkan Yoon Hye sendirian dan memilih tidur di tempat ini? Sahabat macam apa kau?”

CK

Eunhyuk bangkit. Tatapan matanya begitu penuh dengan kemarahan. “Lalu apa dirimu? Apakah kau pantas di sebut sahabat? Bukankah kau juga mengacuhkannya?” teriaknya di depan wajah Kyuhyun.

Keduanya terdiam. Hanya saling menatap tanpa sepatah katapun terucap.

“Kenapa kau mengacuhkannya?”

Seutas kalimat itu bahkan mereka ucapkan secara bersamaan. Kyuhyun dan Eunhyuk sama-sama memalingkan wajah mereka menghindari tatapan dari masing-masing.

“Aku menyukai Yoon Hye.” Ucap Kyuhyun lemah. Tubuhnya terduduk di tempat bekas Eunhyuk berbaring.

“Aku takut perasaan ini akan menghancurkan persahabatan kita.” Ujarnya lagi. Kali ini Eunhyuk ikut duduk di sampingnya setelah menghela nafas beberapa kali. Mereka sama-sama tertunduk.

“Aku rasa, aku juga mulai menyukai Yoon Hye.” Ungkap Eunhyuk pada akhirnya.

Kyuhyun tersenyum kecut mendengar pengakuan itu.

“Jadi kita bertiga memiliki perasaan yang sama? Benar-benar tidak terduga.”

Eunhyuk langsung menoleh cepat ke arah Kyuhyun. Wajahnya menyiratkan keheranan dan keingintahuan. “Maksudmu?”

“Kita. Aku, kau dan Donghae. Kita sama-sama menyukai Yoon Hye.”

“Jadi Donghae juga?”

Keduanya kembali terdiam. Lalu Eunhyuk tertawa miris. “Bukankah sebaiknya kita memperbaiki kesalahan kita? Aku sudah rindu dengan bekal makanan buatan Yoon Hye.”

“Geure. Kajja, kita cari Yoon Hye. Dia sudah terlalu lama menunggu kita.”

.

.

.

Kim Yoon Hye termangu di bawah pohon maple dengan sebuah kotak bekal di hadapannya yang di peluknya.

Sudah tidak ada yang menikmati makanan buatannya. Sudah tidak ada yang menjaganya, tidak ada yang berusaha membuatnya tersenyum dan tidak ada lagi yang di jadikannya tempat bersandar.

Sepasang manic hitamnya mengerjab saat melihat seekor kucing menatap ke arahnya. Yoon Hye mengalihkan maniknya pada sesuatu dalam dekapannya. Ia lantas meletakkan kotak bekal itu dan menghampiri kucing yang masih menatapnya.

“Pussy… apa kau lapar? Jja, kemarilah. Aku tidak bernafsu makan sendirian.” Diraihnya kucing itu ke dalam pelukannya dan membawanya duduk di bawah pohon maple.

Yoon Hye membuka kotak bekalnya dan menaruhnya di hadapan si kucing yang langsung di lahap dengan rakus binatang berbulu itu. Ia membelai puncak kepala kucing itu sembari tersenyum. “Kau tenang saja. Aku akan menemanimu makan. Supaya kau tidak kesepian.”

“Makanlah dengan tenang.”

Tanpa di sadarinya, tetesan bening itu jatuh. Yoon Hye langsung menghapus jejak air mata yang tidak sengaja terjatuh. Meskipun pada akhirnya rintikan kristal bening itu masih saja berjatuhan

“Kau tahu pussy… Tidak ada apapun yang abadi di dunia ini. Bahkan sebuah persahabatan. Bisakah kau memberitahuku apa yang akan terjadi dengan daun jika pohon tak lagi mempertahankannya, jika angin tidak lagi menerbangkannya bahkan tanah tidak akan memeluknya saat terjatuh?”

“Puchiro!!!”

Yoon Hye tersentak saat mendengar suara seseorang. Buru-buru di hapusnya jejak liquit di wajahnya. Ia berpaling dan sepasang haselnya menatap sosok yang sudah di kenalnya berdiri hanya beberapa langkah di hadapannya.

.

.

.

Kyuhyun dan Eunhyuk mematung saat melihat siapa yang saat ini berdiri di hadapan mereka

Iris mata bening dan teduh milik Donghae menatap bergantian dua orang yang menjadi sahabatnya dengan penuh keheranan. Apakah ada yang terjadi saat ia pergi ke London? Wajah kedua sahabatnya itu begitu lain dari pada biasanya.

“Kau sudah pulang Donghae-ah?” Kyuhyun mencoba bersuara.

Lee Donghae mengangguk. Lalu ia tersnyum. “Dimana Yoon Hye? Aku ingin memberi dia kejutan.”

Donghae mengerutkan kening saat melihat wajah salah tingkah kedua sahabatnya.

“Kami juga akan menemuinya.”

“Apakah hari ini memang hari spesial?” tanyanya saat melihat kedua sahabatnya juga membawa sesuatu di tangan mereka. Donghae lalu menatap sebuah boneka di tangannya sendiri. Sebuah oleh-oleh yang di belinya untuk Yoon Hye tentu saja. Sekaligus sesuatu yang akan di berikannya saat ia menyatakan perasaannya nanti pada gadis itu.

Kyuhyun langsung mengusap tengkuknya canggung dan mengangkat sebuket bunga di tangannya. “Ah, hanya sesuatu sebagai permintaan maaf.”

Tidak berbeda jauh dengan Eunhyuk yang menenteng sebuah keranjang coklat. Namja bertubuh jangkung itu hanya mengangguk.

“Permintaan maaf? Untuk apa?”

Eunhyuk langsung maju dan merangkul bahu Donghae. “yaa, bukankah kita memang sering membuat Yoon Hye marah. Tidak ada salahnya sekali-kali kita meminta maaf dengan membawa hadiah untuknya.” Senyum langsung mengembang di bibir Donghae. Ia mengangguk kemudian.

“Kajja kita temui Yoon Hye.” Serunya yang di angguki kedua orang yang lainnya.

Ketiganya sudah sampai di tempat biasanya mereka sering menghabiskan waktu bersama. Donghae, Kyuhyun, dan Eunhyuk sama-sama tersenyum begitu melihat Yoon Hye duduk di bawah pohon bersama seekor kucing di sampingnya.

Tetapi mereka tertegun begitu melangkah lebih dekat lagi. Kim Yoon Hye tidak sendiri. Dia bersama seseorang.

Ketiganya hanya diam.

“Satoh kun, itu kucingmu?” tanya Yoon Hye dan bangkit berdiri sambil menatap laki-laki keturunan jepang itu.

Sosok itu mengangguk dan tersenyum. “Namanya Puchiro. Tidak ada yang menjaganya di rumah, jadi aku membawanya ke kampus.”

“Ahh.. begitu. Puchiro kucing yang sangat manis.” Kata Yoon Hye sambil melihat ke arah kucing berwarna abu-abu gelap itu.

“Kisa-chan, bolehkan aku menjawab pertanyaanmu?”

“kisa?”

“Nama dariku untukmu, Ki dari pohon dan Sa dari pasir (dalam kanji). Setidaknya dua hal itu mengingatkanku padamu. Kau terlihat kuat seperti pohon tapi sebenarnya kau seperti butiran pasir yang mudah tertiup angin.” Takeru satoh tersenyum, “jadi… boleh aku menjawab pertanyaanmu?”

“Hee…?” Yoon Hye mengerutkan kening tidak mengerti. “Pertanyaan yang mana?”

“Apa yang akan terjadi dengan daun jika pohon tak lagi mempertahankannya, jika angin tidak lagi menerbangkannya bahkan tanah tidak akan memeluknya saat terjatuh?”

 

“Keuge…” Yoon Hye mengalihkan tatapannya dari sosok di hadapannya.

“Jika itu aku, aku hanya akan menjadi diriku sendiri. Menjadi seseorang yang akan memetik daun dari pohonnya, sebelum angin menerbangkannya, bahkan menangkap daun sebelum jatuh kepelukan tanah.”

Sosok itu tersenyum. Ia berjalan mendekat ke arah Yoon Hye, membuat gadis pemilik mata hasel itu terkesiap begitu sosok itu meraih tangannya dan menggenggamnya erat. Hangat.

“Jika itu aku, aku hanya akan menjadi diriku sendiri. Menjadi seseorang yang akan mengabadikan daun ke dalam selembar kanvas yang akan mewarnai setiap catatan harian perjalanan hidupku.”

 

Yoon Hye tidak bisa menahan lagi setetes cairan yang lolos dari kelopak matanya.

“Jika itu aku, aku hanya akan menjadi diriku sendiri.Takeru Satoh, seseorang yang akan menyimpan daun sebagai milikku yang terindah.”

Yoon Hye menunduk berusaha menyembunyikan wajah serta isakannya dari sosok namja berkebangsaan asing, mahasiswa peralihan dari Jepang yang selama ini sering sekali tersenyum saat mereka berpapasan. Ia terkesiap saat tiba-tiba Takeru menariknya dalam sebuah pelukan yang hangat.

“Jadi bolehkah aku mengambil daun itu dan menyimpannya?”

Yoon Hye semakin terisak hingga sebuah anggukan berhasil dilakukannya.

Takeru Satoh tersenyum dan mengeratkan pelukannya pada gadis itu. Seseorang yang selama ini di tunggunya dan disukainya sejak pertama kali melihat gadis itu memainkan piano di ruang music.

Terpaku. Ketiga orang yang sedari tadi berdiri di balik pohon itu sama sekali tidak bergerak.

Haruskah mereka merelakan sang daun untuk terbang pergi??

.

.

WE ARE…

The End

Yang belum tau siapa Takeru Satoh, Dia suami baru Vea #digeplak
Pemeran Himura Kenshin di Rurouni Kenshin live action. Banyak yang bilang dia nggak ganteng-ganteng amat, tapi vea langsung jatuh cinta sama aura ini cowok pas pertama kali lihat. bisa dibilang cinta pada pandangan pertama (hoeeeks…). Ini dia orangnya

takeru-satoh

 10441228_383535988463728_7224747379004326360_n10672259_376120239205303_3909506326999286445_n